Handout Bab 8: Metode Variasi

Handout PDF ID PDF EN Software Reset

METODE VARIASI

Teorema Variasi

TEOREMA METODE VARIASI

Jika operator Hamilton H adalah operator penentu energi terendah E₁, maka untuk sistem yang fungsi gelombangnya Ψ, berlaku:

∫Ψ*HΨ dτ = E₁

Untuk sembarang fungsi gelombang ternormalisasi φ dengan kondisi boundary sesuai dengan kondisi boundary, maka berlakulah:

∫φ*Hφ dτ ≥ E₁ (8-1)

dengan Ψ adalah fungsi gelombang partikel yang sesungguhnya sedang φ adalah fungsi gelombang aproksimasi atau fungsi variasi.

Pembuktian teorema (8-1):

Untuk membuktikan teorema tersebut, marilah kita perhatikan uraian berikut ini. Telah kita ketahui bahwa suatu fungsi dapat diekspansi menjadi suatu kombinasi linear yang suku-sukunya merupakan fungsi eigen. Untuk ini kita misalkan φ diekspansi ke dalam fungsi eigen ψₖ sehingga:

φ = Σₖ aₖ ψₖ (8-2)

dan karena ψₖ adalah fungsi eigen maka padanya berlaku:

Hψₖ = Eₖ ψₖ (8-3)

Substitusi (8-2) ke dalam ruas kiri (8-1) membuat ruas kiri ini menjadi:

∫φ*Hφ dτ = ∫Σₖ aₖ* ψₖ* H Σⱼ aⱼ ψⱼ dτ

Dengan menggunakan persamaan eigen (8-3), maka ruas kiri (8-1) menjadi:

∫φ*Hφ dτ = ∫Σₖ aₖ* ψₖ* Σⱼ aⱼ Eⱼ ψⱼ dτ

karena aⱼ; aₖ dan Eₖ adalah bukan fungsi, maka mereka dapat dikeluarkan dari tanda integral, sehingga:

∫φ*Hφ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ Eⱼ ∫ψₖ* ψⱼ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ Eⱼ δₖⱼ

Perlu diingat bahwa δₖⱼ berharga 1, jika k=j dan 0 jika k ≠ j sehingga ruas kiri (8-1) menjadi:

∫φ*Hφ dτ = Σₖ aₖ* aₖ Eₖ

(kita juga boleh menyatakan: ∫φ*Hφ dτ = Σⱼ aⱼ* aⱼ Eⱼ)

karena aₖ* aₖ = |aₖ|² maka:

∫φ*Hφ dτ = Σₖ |aₖ|² Eₖ (8-4)

Mengingat E₁ adalah tingkat energi terendah, maka Eₖ ≥ E₁ sehingga:

∫φ*Hφ dτ = Σₖ |aₖ|² Eₖ ≥ Σₖ |aₖ|² E₁

atau:

∫φ Hφ dτ ≥ E₁ Σₖ |aₖ|² (8-5)

Karena φ adalah ternormalisasi maka ∫φ*φ dτ = 1, dan jika ekspansi (8-2) dimasukkan ke dalam kondisi normalisasi ini maka:

1 = ∫φ*φ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ ∫ψₖ* ψⱼ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ δₖⱼ = Σₖ |aₖ|² (8-6)

Jika Σₖ |aₖ|² = 1, dimasukkan pada (8-5) maka diperoleh:

∫φ*Ĥφ dτ ≥ E₁ (8-7)

Dengan demikian (8-1) terbukti.

Bagaimana jika φ tidak ternormalisasi?

Fungsi φ yang tak ternormalisasi akan menjadi ternormalisasi, jika dikalikan dengan suatu bilangan yaitu A yang disebut faktor normalisasi, sehingga (8-1) menjadi:

A² ∫φ*Hφ dτ ≥ E₁ (8-8)

Harga A dapat dihitung dari sifat fungsi ternormalisasi yaitu : A² ∫φ*φ dτ = 1 jadi (8-2) dapat ditulis:

(∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ) ≥ E₁ (8-9) E_trial ≥ E₁ (E₁ ground state, buku lain menggunakan E₀)

Untuk menghitung % error berbagai fungsi dapat dilakukan melalui link ini  Penjelasan detail dan contoh hitungan % error dapat dilihat pada bagian di bawah ini.

Jika kita ambil ψ₁ sebagai fungsi gelombang keadaan ground yang sesungguhnya.

Hψ₁ = E₁ψ₁ (8-10)

Fungsi gelombang keadaan ground menghasilkan integral variasional terendah untuk suatu sistem.

Gambar 1: Partikel dalam Kotak 1D - Fungsi Variasi vs Eksak

0 l ψ₁ eksak (sinus) φ variasi = x(l-x) Partikel dalam Kotak 1D - Metode Variasi

Fungsi variasi: φ = x(l-x) | Fungsi eksak: ψ₁ = √(2/l) sin(πx/l)

Etrial = 0.12665 h²/ml² | Eeksak = 0.125 h²/ml² | Error: 1.32%

Contoh:

Turunkan fungsi variasi φ jika fungsi eksaknya merupakan fungsi partikel dalam kotak satu dimensi yang panjangnya l, dengan kondisi batas berharga 0 jika x=0 dan x=l. Aproksimasilah E₁!

Jawab:

Fungsi φ harus mempunyai sifat-sifat tersebut dalam soal. Bentuk paling sederhana untuk φ yang memenuhi sifat-sifat tersebut adalah:

φ = |x(l-x) untuk 0 ≤ x ≤ l (8-11)

Karena tidak ada pernyataan bahwa φ ternormalisasi, maka kita tidak menggunakan (8-1) tetapi (8-9) dengan operator Hamilton H = -(ħ²/2m) |d²/dx²

Ingat energi potensial partikel dalam kotak satu dimensi adalah 0 untuk di dalam kotak.

Pembilang ruas kiri (8-9): Penurunan Rinci (Langkah demi Langkah)

Kita ingin menyelesaikan integral untuk pembilang (numerator) dari persamaan variasi (8-9). Integral ini adalah $ \int \phi^* \hat{H} \phi \,d\tau $.

Pembilang = ∫₀ˡ φ* [ Ĥ φ ] dx = ∫₀ˡ (lx - x²) [ - (ħ²/2m) (d²/dx²) (lx - x²) ] dx

Langkah 1: Selesaikan bagian operator Hamiltonian (Ĥφ) terlebih dahulu.

Kita perlu mencari turunan kedua (d²/dx²) dari fungsi variasi φ = (lx - x²).

φ = lx - x²

Turunan pertama:

dφ/dx = d/dx (lx - x²) = l - 2x

Turunan kedua:

d²φ/dx² = d/dx (l - 2x) = -2

Langkah 2: Substitusikan hasil turunan kedua ke dalam integral.

Masukkan hasil $d²φ/dx² = -2$ ke dalam integral pembilang:

Pembilang = ∫₀ˡ (lx - x²) [ - (ħ²/2m) (-2) ] dx

Konstanta [ - (ħ²/2m) (-2) ] dapat disederhanakan dan dikeluarkan dari integral:

Pembilang = [ 2ħ² / 2m ] ∫₀ˡ (lx - x²) dx Pembilang = (ħ²/m) ∫₀ˡ (lx - x²) dx

Langkah 3: Selesaikan integral tentu (definite integral).

Kita integralkan fungsi (lx - x²) terhadap x:

∫ (lx - x²) dx = l ∫ x dx - ∫ x² dx = l(x²/2) - (x³/3)

Sekarang, terapkan batas integral dari 0 sampai l:

Pembilang = (ħ²/m) [ l(x²/2) - (x³/3) ]₀ˡ

Substitusikan batas atas (x = l):

[ l(l²/2) - (l³/3) ] = [ l³/2 - l³/3 ]

Substitusikan batas bawah (x = 0):

[ l(0²/2) - (0³/3) ] = [ 0 - 0 ] = 0

Hitung selisihnya (Batas Atas - Batas Bawah):

Pembilang = (ħ²/m) ( [ l³/2 - l³/3 ] - 0 )

Samakan penyebut di dalam kurung:

Pembilang = (ħ²/m) ( 3l³/6 - 2l³/6 ) = (ħ²/m) ( l³/6 )

Langkah 4: Hasil Akhir.

Menggabungkan semua suku, kita mendapatkan hasil akhir untuk pembilang:

∫φ*Ĥφ dτ = ħ²l³ / 6m (8-12)

Ini membuktikan persamaan (8-12).

Penyebut ruas kiri (8-9):

∫φ*φ dτ = ∫₀ˡ [x²(l-x)²] dx = l⁵ / 30 (8-13)

Jika disubstitusikan pada (8-9) diperoleh:

E₁ = [ (ħ²l³ / 6m) / (l⁵ / 30) ] = (30 ħ² l³) / (6m l⁵) = 5 ħ² / (m l²)

(Catatan: Ada perbedaan konversi ħ. Mari kita hitung ulang E₁ dari handout)

E_trial = (Pembilang) / (Penyebut) = (ħ²l³/6m) / (l⁵/30) = (30/6) * (ħ²l³/ml⁵) = 5 ħ²/ml²

Sekarang kita konversi ħ = h / (2π), maka ħ² = h² / (4π²):

E_trial = 5 [ h² / (4π²) ] / ml² = 5h² / (4π²ml²)

Nilai desimalnya: (5 / (4 * (π)²)) * (h²/ml²) ≈ (5 / 39.478) * (h²/ml²) ≈ 0.12665 h²/ml²

Dari persamaan (2.20), E₁ (eksak) = n²h² / 8ml² (dengan n=1):

E₁ (eksak) = h²/8ml² = 0.125 h²/ml²

Maka % Error energi = (0,12665 - 0,125) / 0,125 x 100%

% Error = 1,32%

Gambar 1: Hasil Komputasi WolframAlpha

Wolfram Alpha computational

Input interpretation:

-( ( (h/(2π))² / (2m) ) ∫₀ˡ (l x - x²) × (∂²(x(l-x)) / ∂x²) dx ) / ( ∫₀ˡ x²(l-x)² dx )

Result: (Ini adalah E_trial yang dihitung WolframAlpha)

(5 ħ²) / (m l²)

(Catatan: Hasil di handout asli (5 ħ²) / (4 π² l² m) salah ketik, seharusnya (5 ħ²) / (m l²) atau 5h² / (4π²ml²). Perhitungan di atas sudah benar)

Cara menjalankan WolframAlpha:

  1. Akses https://www.wolframalpha.com/
  2. Ketik:
    -((hbar^2/(2 m)) integral_0^l (l x - x^2)*(d^2(l x - x^2)/(dx^2))dx) / (integral_0^l (l x - x^2)^2 dx)
  3. atau gunakan kode WolframAlpha language:
    -((hbar^2/(2 m))Integrate[(l x - x^2)D[l x - x^2,{x,2}], {x,0,l}]) / Integrate[(l x - x^2)^2, {x,0,l}]
  4. Klik tanda sama-dengan (=) di sebelah kanan
  5. Tunggu sampai selesai dan lihat hasilnya (Hasilnya adalah 5ħ²/(ml²))

Contoh Soal Tambahan

Contoh Tambahan 1: Fungsi Variasi Polinomial Orde Tinggi

Soal:

Gunakan fungsi variasi φ = x²(l-x)² untuk partikel dalam kotak 1D (panjang l, dari 0 sampai l). Tentukan energi variasionalnya dan bandingkan dengan energi ground state eksak (E₁).

Pembahasan:

Fungsi ini, φ = x²(l-x)², memenuhi kondisi batas karena φ(0) = 0 dan φ(l) = 0. Kita dapat menggunakan persamaan (8-9) untuk mencari energi trial (W atau E_trial).

E_trial = (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ)

Operator Hamiltonian H = -(ħ²/2m) d²/dx².

Penyebut (Denominator):

Integral ini adalah ∫[x²(l-x)²]² dx dari 0 sampai l. Perhitungan ini identik dengan S₂₂ pada contoh variasi linear (Tab 4), dengan a=l.

∫φ*φ dτ = ∫₀ˡ x⁴(l-x)⁴ dx = l⁹/630

Pembilang (Numerator):

Integral ini adalah ∫[x²(l-x)²] H [x²(l-x)²] dx dari 0 sampai l. Perhitungan ini identik dengan H₂₂ pada contoh variasi linear (Tab 4), dengan a=l.

∫φ*Hφ dτ = ħ²l⁷/105m

Energi Trial:

E_trial = (ħ²l⁷/105m) / (l⁹/630) = (630/105) * (ħ²/ml²) = 6 ħ²/ml²

Perbandingan:

Kita konversi ħ² menjadi h²/(4π²) untuk membandingkan dengan nilai E₁ = h²/8ml².

E_trial = 6 (h² / 4π²) / ml² = (6 / 4π²) h²/ml² ≈ 0.1519 h²/ml² E_exact = h²/8ml² = 0.125 h²/ml²

Kesimpulan: Hasil E_trial (≈ 0.1519 h²/ml²) lebih besar dari E_exact (0.125 h²/ml²), yang konsisten dengan teorema variasi. Fungsi ini memberikan aproksimasi yang sedikit lebih buruk (% error ≈ 21.5%) dibandingkan φ = x(l-x).


Contoh Tambahan 2: Pelanggaran Kondisi Batas

Soal:

Perhatikan fungsi variasi φ = C·x (dimana C adalah konstanta) untuk partikel dalam kotak 1D (0 sampai l). Tunjukkan bahwa energi variasionalnya adalah 0. Mengapa hasil ini (E_trial < E_exact) tidak melanggar Teorema Variasi? (Merujuk pada Soal Latihan #2).

Pembahasan:

Teorema Variasi (8-1) menyatakan bahwa E_trial ≥ E₁. Energi ground state eksak E₁ = h²/8ml², yang nilainya pasti positif.

Mari kita hitung E_trial untuk φ = C·x:

Pembilang (Numerator):

Kita terapkan Hamiltonian H = -(ħ²/2m) d²/dx² ke fungsi φ:

Hφ = -(ħ²/2m) d²/dx²(C·x) = -(ħ²/2m) d/dx(C) = 0

Karena Hφ = 0, maka integral pembilang adalah:

∫φ*Hφ dτ = ∫(C·x)* (0) dx = 0

Energi Trial:

E_trial = (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ) = 0 / (∫(C·x)² dx) = 0

Penjelasan:

Hasil E_trial = 0 jelas lebih kecil dari E_exact (h²/8ml²). Ini tidak melanggar teorema variasi.

Teorema variasi (8-1) hanya berlaku jika fungsi variasi (φ) memenuhi kondisi batas (boundary conditions) yang sama dengan sistem aslinya.

Karena fungsi trial tidak memenuhi kondisi batas yang disyaratkan, maka teorema variasi (E_trial ≥ E₁) tidak berlaku untuk kasus ini.


Contoh Tambahan 3: Estimasi Energi Keadaan Tereksitasi Pertama (E₂)

Soal:

Gunakan fungsi variasi φ = x(l-x)(l/2 - x) untuk mengestimasi energi keadaan tereksitasi pertama (E₂) dari partikel dalam kotak 1D (0 sampai l). Bandingkan hasilnya dengan nilai eksak E₂.

Pembahasan:

Teorema variasi dapat diterapkan untuk mengestimasi keadaan tereksitasi Eₙ jika fungsi trial ortogonal (tegak lurus) terhadap semua fungsi gelombang keadaan yang lebih rendah (E₁, E₂, ..., Eₙ₋₁).

Fungsi ground state (E₁), ψ₁ (seperti sin(πx/l)), adalah simetris (genap) terhadap pusat kotak di x=l/2. Fungsi trial kita, φ = x(l-x)(l/2 - x), adalah antisimetris (ganjil) terhadap x=l/2. (Fungsi ini identik dengan f₃ pada contoh variasi linear).

Karena integral dari perkalian fungsi genap dan ganjil adalah nol, maka fungsi trial φ ini ortogonal terhadap ψ₁. Oleh karena itu, energi trial yang dihitung akan menjadi batas atas untuk energi keadaan tereksitasi pertama (E₂).

E_trial ≥ E₂

Penyebut (Denominator):

Integral ini adalah ∫[x(l-x)(l/2-x)]² dx dari 0 sampai l. Ini identik dengan S₃₃ pada contoh variasi linear (Tab 4), dengan a=l.

∫φ*φ dτ = l⁷/840

Pembilang (Numerator):

Integral ini adalah ∫[x(l-x)(l/2-x)] H [x(l-x)(l/2-x)] dx. Ini identik dengan H₃₃ pada contoh variasi linear (Tab 4), dengan a=l.

∫φ*Hφ dτ = ħ²l⁵/40m

Energi Trial:

E_trial = (ħ²l⁵/40m) / (l⁷/840) = (840/40) * (ħ²/ml²) = 21 ħ²/ml²

Perbandingan:

Nilai eksak E₂ (untuk n=2) adalah:

E_exact(n=2) = (2)²h²/8ml² = 4h²/8ml² = 0.5 h²/ml²

Nilai trial kita (dikonversi ke h):

E_trial = 21 (h² / 4π²) / ml² = (21 / 4π²) h²/ml² ≈ 0.5318 h²/ml²

Kesimpulan: Hasil E_trial (≈ 0.5318 h²/ml²) lebih besar dari E_exact(E₂) (0.5 h²/ml²), yang konsisten dengan teorema variasi untuk keadaan tereksitasi pertama.

Fungsi Variasi Linear

(Metode LCAO : Linear Combination of Atomic Orbital)

Gambar 2: Metode Variasi Linear - Kombinasi Orbital Atom

ψ₁

Orbital Atom 1

f₁ = basis function

+

Kombinasi Linear

ψ₂

Orbital Atom 2

f₂ = basis function

=

Hasil

φ = c₁ψ₁ + c₂ψ₂

Orbital Molekul

Fungsi Variasi Linear

Persamaan Variasi Linear:
φ = c₁f₁ + c₂f₂ + ... + cₙfₙ = Σj=1n cjfj

Tujuan: Mencari koefisien cj yang meminimalkan energi W

Analogi Sederhana: Mencari "Resep" Terbaik

Bayangkan Anda ingin membuat sebuah "fungsi gelombang" (φ) yang paling mirip dengan fungsi gelombang asli (Ψ) yang tidak kita ketahui. Fungsi gelombang asli ini akan memberikan energi terendah (E₁), yaitu energi ground state.

Metode Variasi Linear (VL) atau LCAO adalah seperti membuat "resep" untuk fungsi gelombang kita. Alih-alih menebak satu fungsi utuh (seperti di Tab 2), kita mengambil beberapa "bahan dasar" yang kita kenal baik. Bahan-bahan ini disebut fungsi basis (basis functions), yang kita sebut f₁, f₂, f₃, dst.

Fungsi variasi (resep) kita adalah campuran dari semua bahan ini:

φ = c₁f₁ + c₂f₂ + ... + cₙfₙ

Tujuannya: Menemukan "takaran" c₁ dan c₂ yang tepat sehingga "resep" φ ini menghasilkan energi (W) yang paling rendah. Menurut Teorema Variasi, energi terendah yang bisa kita dapatkan (W) akan selalu lebih besar atau sama dengan energi aslinya (E₁). Jadi, kita mencari W seminimal mungkin.

Metode variasi linear adalah cara matematis yang sistematis untuk menemukan "takaran" c terbaik secara otomatis, tanpa perlu coba-coba (trial and error).


Penurunan Matematis

Fungsi variasi linear adalah kombinasi linear dari fungsi-fungsi f₁, f₂ ... fₙ yang saling independen:

φ = c₁f₁ + c₂f₂ + ... + cₙfₙ = Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ (8-14)

dimana:

Syarat: Fungsi fⱼ harus memenuhi kondisi boundary sistem. Contoh φ adalah fungsi real, sehingga cⱼ dan fⱼ semuanya juga harus real.

Gunakan teorema variasi persamaan (8-9).

∫φ*φ dτ = ∫(Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ*) (Σₖ₌₁ⁿ cₖfₖ) dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ ∫fⱼ*fₖ dτ (8-15)

Supaya praktis integral overlap ∫fⱼ*fₖ dτ ditulis Sⱼₖ sehingga:

∫φ*φ dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ (8-16)

Perlu diingat bahwa untuk fungsi real berarti Sⱼₖ = ∫fⱼfₖ dτ.

Selanjutnya pembilang (8-9) menjadi:

∫φ*Ĥφ dτ = ∫(Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ*) Ĥ (Σₖ₌₁ⁿ cₖfₖ) dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ ∫fⱼ*Ĥfₖ dτ

Agar praktis ∫fⱼ*Ĥfₖ dτ ditulis Hⱼₖ, sehingga:

∫φ*Ĥφ dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-17)

Jika ruas kiri persamaan (8-9) disebut W (jadi W ≥ E₁) maka:

W = (∫φ*Ĥφ dτ) / (∫φ*φ dτ) = (Σⱼ₌₁ⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ) / (Σⱼⁿ Σₖ cⱼ*cₖ Sⱼₖ) (8-18)

atau

W Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-19)

W = integral variasional, fungsi n buah variabel bebas c₁, c₂, .... cₙ, jadi W = W(c₁, c₂, ... cₙ)

∂W / ∂cᵢ = 0 (untuk i = 1, 2, 3 ... n) (8-20)

Persamaan (8-19) didiferensialparsialkan terhadap cᵢ untuk mendapatkan n buah persamaan:

(∂W/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ + W (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-21)

Suku pertama ruas kiri (8-21) hilang karena ∂W/∂cᵢ = 0 jadi:

W (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (i = 1, 2, 3 ... n) (8-22)

Karena cᵢ adalah variabel-variabel bebas satu terhadap yang lain maka: (∂cⱼ / ∂cᵢ) = 0 jika i ≠ j dan = 1 jika i = j, sehingga kalau begitu:

∂cⱼ / ∂cᵢ = δᵢⱼ

Selanjutnya marilah kita evaluasi (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ (mengasumsikan c real):

(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ (∂(cⱼcₖ)/∂cᵢ) Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ ( (∂cⱼ/∂cᵢ)cₖ Sⱼₖ + cⱼ(∂cₖ/∂cᵢ) Sⱼₖ ) = Σⱼⁿ Σₖⁿ (δᵢⱼ cₖ Sⱼₖ + cⱼ δᵢₖ Sⱼₖ) (8-23)

Jika suku pertama ruas kanan (8-23) kita kembangkan j-nya mulai 1 sampai n (k tidak dikembangkan) maka ketika j=i harga δᵢⱼ=1 sedang untuk harga j yang lain δᵢⱼ=0 sehingga:

Σⱼⁿ Σₖⁿ cₖ Sⱼₖ δᵢⱼ = Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ (8-24)

Analog dengan itu jika suku kedua ruas kanan (8-23) kita kembangkan k-nya (bukan j-nya) mulai 1 sampai n maka ketika k=i harga δᵢₖ=1, sehingga:

Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ Sⱼₖ δᵢₖ = Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ (8-25)

Dengan memasukkan (8-24) dan (8-25) ke dalam (8-23) maka (8-23) menjadi:

(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ + Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ (8-26)

Pada hakekatnya Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ karena baik j maupun k mulai 1 sampai dengan n. Dengan demikian maka (8-26) dapat ditulis:

(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ (8-27)

Jika Sⱼₖ diganti Hⱼₖ maka:

(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Hⱼₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Hᵢₖ (8-28)

Substitusi (8-27) dan (8-28) ke dalam (8-22) menghasilkan:

2W Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Hᵢₖ

atau

Σₖⁿ cₖ Hᵢₖ - W Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = 0

atau

Σₖⁿ (Hᵢₖ - Sᵢₖ W) cₖ = 0 (8-29)

Persamaan (8-29) tersebut adalah himpunan yang terdiri atas n buah persamaan simultan, linear, homogen dinyatakan dalam n buah variabel tak diketahui yaitu c₁, c₂ ... cₙ.

Untuk n=2, persamaan (8-29) adalah:

(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ = 0

Secara umum, untuk n fungsi, persamaan (8-30) menjadi:

(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ + ... + (H₁ₙ - S₁ₙW)cₙ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ + ... + (H₂ₙ - S₂ₙW)cₙ = 0 (8-30) ... (Hₙ₁ - Sₙ₁W)c₁ + (Hₙ₂ - Sₙ₂W)c₂ + ... + (Hₙₙ - SₙₙW)cₙ = 0

Penyelesaian (8-30) harus non trivial, artinya c₁ sampai dengan cₙ ≠ 0, untuk itu determinan koefisiennya harus nol, jadi:

det(Hᵢⱼ - SᵢⱼW) = 0 (8-31)

atau

| (H₁₁-S₁₁W) (H₁₂-S₁₂W) ... (H₁ₙ-S₁ₙW) | | (H₂₁-S₂₁W) (H₂₂-S₂₂W) ... (H₂ₙ-S₂ₙW) | | ... ... ... ... | | (Hₙ₁-Sₙ₁W) (Hₙ₂-Sₙ₂W) ... (Hₙₙ-SₙₙW) | = 0

Untuk n=2, maka (8-31) menjadi:

| (H₁₁ - S₁₁W) (H₁₂ - S₁₂W) | = 0 (8-32) | (H₂₁ - S₂₁W) (H₂₂ - S₂₂W) |

Apa Makna Determinan Sekular Harus Nol?

Persamaan (8-30) adalah inti dari metode ini. Ini adalah sistem persamaan linear homogen. Mari kita lihat kasus n=2 (persamaan 8-32):

(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ = 0

Kita mencari c₁ dan c₂. Dari aljabar linear, kita tahu bahwa sistem persamaan seperti ini $(M \cdot x = 0)$ memiliki dua kemungkinan solusi:

  1. Solusi Trivial: c₁ = 0 dan c₂ = 0. Solusi ini selalu benar, tetapi tidak berguna bagi kita. Jika c₁ dan c₂ keduanya nol, maka fungsi gelombang kita $\phi = 0 \cdot f_1 + 0 \cdot f_2 = 0$. Ini berarti tidak ada partikel, yang secara fisik tidak bermakna.
  2. Solusi Non-Trivial: c₁ dan/atau c₂ tidak bernilai nol. Ini adalah solusi yang kita inginkan. Solusi ini hanya ada jika determinan dari matriks koefisiennya sama dengan nol.

Jadi, syarat $det(H_{ij} - S_{ij}W) = 0$ (yang disebut Determinan Sekular atau Persamaan Sekular) adalah "kunci" yang kita paksakan ke dalam sistem untuk menjamin bahwa kita mendapatkan solusi yang bermakna secara fisik (solusi non-trivial), yaitu "resep" $\phi$ yang bukan nol.

Penyelesaian determinan (8-31) akan menghasilkan sebuah persamaan aljabar berderajat n dalam W yang tidak diketahui. Persamaan itu mempunyai n akar yaitu W₁ sampai Wₙ yang jika ditata mulai yang nilainya terendah, urutannya adalah:

W₁ ≤ W₂ ≤ W₃ ≤ ... ≤ Wₙ (8-33)

Jika kita menandai state sistem sesuai dengan urutan kenaikan energinya, maka kita peroleh:

E₁ ≤ E₂ ≤ ... ≤ Eₙ ≤ Eₙ₊₁ ≤ ... (8-34)

Kita tahu dari (8-9) bahwa:

E₁ ≤ (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ)

Karena (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ) disebut W, pada W terdiri atas W₁, W₂ dst, maka kita dapat menuliskan:

E₁ ≤ W₁; E₂ ≤ W₂; ... Eₙ ≤ Wₙ (8-35)

E₁ = energi terendah sesungguhnya dari state (1), E₂ = energi terendah sesungguhnya dari state (2) dan seterusnya.

Kesimpulan:

Setelah harga c diperoleh maka kita masukkan ke dalam fungsi aproksimasi:

φ₁ = Σₖ₌₁ⁿ cₖ⁽¹⁾fₖ (8-36)

Penggunaan W yang lebih tinggi (W₂, W₃ dst) akan menghasilkan aproksimasi fungsi gelombang tereksitasinya yaitu φ₂, φ₃ dan seterusnya.

Contoh:

Gunakan fungsi x(a-x) untuk 0 ≤ x ≤ a, untuk menyusun fungsi variasi linear φ untuk partikel dalam box satu dimensi. Tentukan pula energi dan fungsi gelombang state pertama sampai state ke empat.

Jawab:

φ = Σₖ₌₁ⁿ cₖfₖ f₁ = x(a-x) f₂ = x²(a-x)² f₃ = x(a-x)(½a - x) f₄ = x²(a-x)²(½a - x) (8-37)

Karena f₁ dan f₂ genap, sedangkan f₃ dan f₄ ganjil, maka:

S₁₃ = S₃₁ = 0; S₁₄ = S₄₁ = 0; S₂₃ = S₃₂ = 0; S₂₄ = S₄₂ = 0 (8-38) H₁₃ = H₃₁ = 0; H₁₄ = H₄₁ = 0; H₂₃ = H₃₂ = 0; H₂₄ = H₄₂ = 0 (8-39)

Persamaan sekularnya adalah:

Determinan 4x4: det(Hᵢⱼ - SᵢⱼW) = 0. Karena integral-integral H dan S yang ganjil-genap bernilai nol, determinan ini terblok-diagonal:

| (H₁₁-S₁₁W) (H₁₂-S₁₂W) 0 0 | | (H₂₁-S₂₁W) (H₂₂-S₂₂W) 0 0 | | 0 0 (H₃₃-S₃₃W) (H₃₄-S₃₄W) | | 0 0 (H₄₃-S₄₃W) (H₄₄-S₄₄W) | = 0 (8-40)

Ini berarti determinan terpecah menjadi dua persamaan determinan 2x2 yang independen:

| (H₁₁ - S₁₁W) (H₁₂ - S₁₂W) | = 0 (8-41) | (H₂₁ - S₂₁W) (H₂₂ - S₂₂W) |

dan

| (H₃₃ - S₃₃W) (H₃₄ - S₃₄W) | = 0 (8-42) | (H₄₃ - S₄₃W) (H₄₄ - S₄₄W) |

Untuk mengevaluasi W dari (8-41) dan (8-42) kita tentukan dulu masing-masing harga H dan S:

H₁₁ = <f₁|Ĥ|f₁> = ∫₀ᵃ x(a-x) [-ħ²/2m] [d²/dx²(x(a-x))] dx = ħ²a³/6m S₁₁ = <f₁|f₁> = ∫₀ᵃ [x(a-x)]² dx = a⁵/30

Analog dengan itu kita peroleh:

H₁₂ = H₂₁ = ħ²a⁵/30m H₂₂ = ħ²a⁷/105m; H₃₃ = ħ²a⁵/40m; H₃₄ = H₄₃ = ħ²a⁷/280m S₁₂ = S₂₁ = a⁷/140; S₂₂ = a⁹/630; S₃₃ = a⁷/840; S₄₄ = a¹¹/27720; S₃₄ = S₄₃ = a⁹/5040

Selanjutnya (8-41) menjadi:

| (ħ²a³/6m - a⁵/30 W) (ħ²a⁵/30m - a⁷/140 W) | = 0 (8-43) | (ħ²a⁵/30m - a⁷/140 W) (ħ²a⁷/105m - a⁹/630 W) |

Setelah penyederhanaan aljabar (mengalikan baris, dll.) menjadi:

| (70ħ² - 14ma²W) (14ħ²a² - 3ma⁴W) | = 0 (8-44) | (42ħ² - 9ma²W) (12ħ²a² - 2ma⁴W) |

Jadi

m²a⁴W² - 56ma²ħ²W + 252h² = 0

sehingga (8-41) menghasilkan 2 harga W yaitu:

W = 0,1250018 ħ²/ma² dan W = 1,293495 h²/ma²

Dengan cara yang sama, (8-42) juga menghasilkan 2 macam harga W yaitu:

W = 0,5002930 ħ²/ma² dan W = 2,5393425 ħ²/ma²

Jika memperhatikan urutan harga W yang diperoleh, maka (8-41) menghasilkan W₁ dan W₃ jadi (8-41) pasti berkorelasi dengan fungsi gelombang variasi φ₁ dan φ₃, sementara itu juga dapat kita lihat bahwa (8-41) berhubungan dengan f₁ dan f₂, jadi φ₁ dan φ₃ pasti merupakan kombinasi linear dari f₁ dan f₂ dan kita boleh menyatakannya dengan:

φ₁ = c₁⁽¹⁾f₁ + c₂⁽¹⁾f₂ φ₃ = c₁⁽³⁾f₁ + c₂⁽³⁾f₂ (8-45)

Sementara itu, harga W yang diperoleh dari (8-42) adalah urutan ke 2 dan ke empat jadi (8-42) menghasilkan W₂ dan W₄ yang pasti berkorelasi dengan fungsi gelombang variasi φ₂ dan φ₄. Tampak pula bahwa (8-42) berhubungan dengan f₃ dan f₄, jadi φ₂ dan φ₄ pasti merupakan kombinasi linear dari f₃ dan f₄ dan kita boleh menyatakannya dengan:

φ₂ = c₃⁽²⁾f₃ + c₄⁽²⁾f₄ φ₄ = c₃⁽⁴⁾f₃ + c₄⁽⁴⁾f₄ (8-46)

Catatan:

  1. indek koefisien c menunjukkan fungsi f yang bersangkutan sedang superskripnya menunjukkan energi W nya.
  2. fungsi φ₁ adalah fungsi variasi yang berenergi W₁ dan seterusnya.

Selanjutnya kita akan mengaproksimasi harga koefisien c dalam rangka menentukan fungsi variasi. Persamaan sekular (8-41) yang berkorelasi dengan f₁ dan f₂ berasal dari kombinasi persamaan:

(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ = 0 (8-47)

Karena (8-47) berasal dari (8-41) maka harga W yang berhubungan adalah W₁ dan W₃.

Untuk W = W₁ maka (8-47) menjadi:

(H₁₁ - S₁₁W₁)c₁⁽¹⁾ + (H₁₂ - S₁₂W₁)c₂⁽¹⁾ = 0 (H₂₁ - S₂₁W₁)c₁⁽¹⁾ + (H₂₂ - S₂₂W₁)c₂⁽¹⁾ = 0 (8-48)

Untuk W = W₃ maka (8-47) menjadi:

(H₁₁ - S₁₁W₃)c₁⁽³⁾ + (H₁₂ - S₁₂W₃)c₂⁽³⁾ = 0 (H₂₁ - S₂₁W₃)c₁⁽³⁾ + (H₂₂ - S₂₂W₃)c₂⁽³⁾ = 0 (8-49)

Jika semua harga H, S dan W yang dibutuhkan dimasukkan maka c₁⁽¹⁾, c₂⁽¹⁾ dapat diperoleh dari (8-48) dan dari (8-49) kita dapat memperoleh harga c₁⁽³⁾ dan c₂⁽³⁾ sehingga:

φ₁ = c₁⁽¹⁾f₁ + c₂⁽¹⁾f₂ = ... (dapat ditentukan) φ₃ = c₁⁽³⁾f₁ + c₂⁽³⁾f₂ = ... (dapat ditentukan)

Harga c untuk φ₂ dan φ₄ diperoleh dengan cara yang sama tetapi bertolak dari (8-42).

Persamaan sekular (8-42) yang berkorelasi dengan f₃ dan f₄ berasal dari kombinasi persamaan:

(H₃₃ - S₃₃W)c₃ + (H₃₄ - S₃₄W)c₄ = 0 (H₄₃ - S₄₃W)c₃ + (H₄₄ - S₄₄W)c₄ = 0 (8-50)

Karena (8-50) berasal dari (8-42) maka harga W yang berhubungan adalah W₂ dan W₄.

Untuk W = W₂ maka (8-50) menjadi:

(H₃₃ - S₃₃W₂)c₃⁽²⁾ + (H₃₄ - S₃₄W₂)c₄⁽²⁾ = 0 (H₄₃ - S₄₃W₂)c₃⁽²⁾ + (H₄₄ - S₄₄W₂)c₄⁽²⁾ = 0 (8-51)

Untuk W = W₄ maka (8-50) menjadi:

(H₃₃ - S₃₃W₄)c₃⁽⁴⁾ + (H₃₄ - S₃₄W₄)c₄⁽⁴⁾ = 0 (H₄₃ - S₄₃W₄)c₃⁽⁴⁾ + (H₄₄ - S₄₄W₄)c₄⁽⁴⁾ = 0 (8-52)

Jika semua harga H, S dan W yang dibutuhkan dimasukkan maka c₃⁽²⁾, c₄⁽²⁾ dapat diperoleh dari (8-51) dan dari (8-52) kita dapat memperoleh harga c₃⁽⁴⁾ dan c₄⁽⁴⁾ sehingga:

φ₂ = c₃⁽²⁾f₃ + c₄⁽²⁾f₄ = ... (dapat ditentukan) φ₄ = c₃⁽⁴⁾f₃ + c₄⁽⁴⁾f₄ = ... (dapat ditentukan)

Problem Solving: Metode LCAO untuk Ion H₂⁺

Ini adalah contoh aplikasi paling fundamental dari metode Variasi Linear, yang menjadi dasar Teori Orbital Molekul (LCAO-MO).

Gambar 3: Determinan Sekular - Aplikasi pada Ion H₂⁺

H⁺

Proton 1

Jarak R
H⁺

Proton 2

Elektron

Persamaan Sekular untuk n=2:
| H₁₁ - S₁₁W H₁₂ - S₁₂W |
| H₂₁ - S₂₁W H₂₂ - S₂₂W | = 0
Orbital Ikatan (Bonding)
W1 = (α + β) / (1 + S)

Energi lebih rendah
Stabil - terbentuk ikatan kimia

Orbital Anti-Ikatan (Antibonding)
W2 = (α - β) / (1 - S)

Energi lebih tinggi
Tidak stabil - tidak terbentuk ikatan

Keterangan: α = Integral Coulomb, β = Integral Resonansi, S = Integral Overlap

1. Pengaturan Sistem

Kita ingin mencari energi ground state dari ion molekul hidrogen (H₂⁺). Sistem ini terdiri dari 2 proton (kita sebut proton 1 dan proton 2) dan 1 elektron.

Kita tidak bisa menyelesaikan Persamaan Schrödinger untuk sistem ini secara eksak. Jadi, kita gunakan metode variasi linear.

2. Memilih Fungsi Basis (LCAO)

Kita akan membuat "resep" (fungsi variasi φ) dengan "bahan-bahan" (fungsi basis) yang kita kenal. Pilihan yang paling logis adalah menggunakan orbital-orbital atom dari hidrogen.

Kita ambil fungsi basis paling sederhana: orbital 1s pada proton 1 (kita sebut ψ₁) dan orbital 1s pada proton 2 (kita sebut ψ₂). Ini adalah fungsi basis kita, analog dengan f₁ dan f₂ pada Tab 3.

Maka, fungsi variasi linear kita (dengan n=2) adalah:

φ = c₁ψ₁ + c₂ψ₂

Tugas kita adalah mencari "takaran" c₁ dan c₂, serta energi W yang bersangkutan.

3. Menyusun Determinan Sekular

Dari Tab 3, kita tahu untuk n=2, kita harus menyelesaikan determinan sekular (Persamaan 8-32). Kita ganti 'f' dengan 'ψ':

| (H₁₁ - S₁₁W) (H₁₂ - S₁₂W) | = 0 | (H₂₁ - S₂₁W) (H₂₂ - S₂₂W) |

Mari kita definisikan setiap integral:

4. Menyederhanakan Berdasarkan Simetri

Karena proton 1 dan 2 identik (keduanya atom Hidrogen), sistem ini sangat simetris:

5. Menyelesaikan Determinan

Setelah substitusi, determinan kita menjadi jauh lebih sederhana:

| (α - W) (β - SW) | = 0 | (β - SW) (α - W) |

Sekarang kita selesaikan determinan 2x2 ini: (AD - BC = 0)

(α - W)(α - W) - (β - SW)(β - SW) = 0 (α - W)² - (β - SW)² = 0 (α - W)² = (β - SW)²

Ambil akar kuadrat dari kedua sisi:

α - W = ± (β - SW)

Ini memberi kita dua solusi untuk energi (W), yang sesuai dengan W₁ (energi terendah) dan W₂ (energi lebih tinggi) pada Persamaan (8-35).

Solusi 1 (Energi Rendah / Ikatan): W₁

Kita ambil tanda minus (-) untuk mendapatkan energi yang lebih stabil (ikatan):

α - W = - (β - SW) α - W = -β + SW α + β = SW + W W(S + 1) = α + β W₁ = (α + β) / (1 + S)

Solusi 2 (Energi Tinggi / Anti-Ikatan): W₂

Kita ambil tanda plus (+) untuk mendapatkan energi yang kurang stabil (anti-ikatan):

α - W = + (β - SW) SW - W = \beta - α W(S - 1) = \beta - α W₂ = (β - α) / (S - 1) = (α - β) / (1 - S)

(Catatan: karena α dan β bernilai negatif, dan S positif, W₂ akan memiliki energi yang lebih tinggi (kurang negatif) daripada W₁).

6. Kesimpulan

Metode variasi linear telah berhasil. Kita memulai dengan 2 fungsi basis (orbital atom ψ₁ dan ψ₂) yang keduanya memiliki energi α.

Kita mengkombinasikannya dan mendapatkan dua "resep" baru (orbital molekul φ₁ dan φ₂) dengan dua tingkat energi baru:

Energi terendah yang kita temukan adalah W₁. Menurut teorema variasi (8-35), ini adalah aproksimasi terbaik kita untuk energi ground state E₁.

E₁ ≤ W₁ = (α + \beta) / (1 + S)

Ini menunjukkan secara matematis mengapa ikatan kimia terbentuk: sistem dapat mencapai energi yang lebih rendah (W₁) dengan mengkombinasikan orbital atomnya (membentuk orbital molekul) daripada tetap terpisah sebagai atom-atom individual (energi α).

Soal Bab 8

  1. Gunakan fungsi variasi φ = e⁻ᶜʳ untuk atom hidrogen; pilihlah parameter c untuk meminimalkan integral variasi dan hitunglah % error integral variasional terhadap energi ground keadaan hidrogen yang sesungguhnya.
  2. Jika fungsi variasi ternormalisasi φ = (3/l³)¹/² x untuk 0 ≤ x ≤ l diaplikasikan pada sistem partikel dalam box, kita akan mendapatkan bahwa integral variasionalnya sama dengan nol, dan ini berarti lebih kecil dari pada energi ground keadaan yang sesungguhnya. Bagaimana dengan hal ini?
  3. Untuk partikel dalam box tiga dimensi yang sisi-sisinya a, b dan c, tulislah fungsi variasi yang merupakan perluasan dari fungsi satu dimensi φ = x(l-x) yang digunakan pada sub bab 8.1. Gunakan integral (8-12) dan persamaan yang menyertainya untuk mengevaluasi integral variasional pada kasus tiga dimensi. Tentukan % error-nya.
  4. (a) Diketahui sebuah sistem partikel tunggal satu dimensi dengan energi potensial: V = b untuk ¼l ≤ x ≤ ¾l V = 0 untuk 0 ≤ x ≤ ¼l dan ¾l ≤ x ≤ l V = ∞ di luar itu (b konstan). Gunakan fungsi variasi φ₁ = (2/l)¹/² sin(πx/l) untuk 0 ≤ x ≤ l untuk meng-estimasi energi ground keadaan untuk b = ħ²/ml² dan bandingkan hasilnya dengan energi ground keadaan yang sesungguhnya yaitu E = 5,750345 ħ²/ml². Untuk menghemat waktu dalam mengevaluasi integral, perlu diingat bahwa <φ₁|H|φ₁> = <φ₁|T|φ₁> + <φ₁|V|φ₁>, dan jelaskan mengapa <φ₁|T|φ₁> persis sama dengan energi ground keadaan partikel dalam box yaitu h²/8ml².
    (b) Untuk sistem dan kasus yang sama gunakan fungsi variasi φ = x(l-x).
  5. Sebuah partikel berada dalam box sferik yang radiusnya b, energi potensialnya V=0 dan untuk 0 ≤ r ≤ b dan V=∞ untuk r > b. Gunakan fungsi variasi φ = b-r untuk 0 ≤ r ≤ b dan φ = 0 untuk r > b untuk mengestimasi energi ground keadaannya dan bandingkan dengan nilai yang sesungguhnya yaitu h²/8mb².
  6. Sebuah osilator satu dimensi mempunyai V = cx² dengan c konstan. Rancanglah fungsi variasi dengan sebuah parameter untuk sistem itu, dan tentukan nilai optimum untuk parameter itu untuk meminimalkan integral variasional, dan estimasilah energi ground keadaan.
  7. Untuk partikel dalam box yang panjangnya l, gunakan fungsi variasi φ = xᵏ(l-x)ᵏ untuk 0 ≤ r ≤ l. Kita akan membutuhkan integral berikut: ∫ xˢ(l-x)ᵗ dx = lˢ⁺ᵗ⁺¹ ( Γ(s+1)Γ(t+1) / Γ(s+t+2) ) dimana fungsi gamma mengikuti relasi Γ(z+1) = zΓ(z). Adanya fungsi gamma tersebut, tidak perlu membuat anda risau, karena fungsi gamma tersebut akan hilang sendiri.
    (a) Buktikan bahwa integral variasionalnya adalah (ħ²/ml²) (4k²+k) / (2k-1)
    (b) Tentukan nilai optimum dari k dan tentukan pula % error terhadap energi ground keadaan untuk nilai k ini.
  8. Gunakan fungsi variasi φ = 1/(a²+x²) pada osilator harmonik satu dimensi. Pilihlah harga a untuk meminimalkan integral variasional dan tentukan % errornya. Beberapa bentuk integral yang dibutuhkan adalah: ∫₀^∞ [1 / (x²+a²)²] dx = π / 4a³; ∫₀^∞ [1 / (x²+a²)³] dx = 3π / 16a⁵ ∫₀^∞ [x² / (x²+a²)²] dx = π / 4a; ∫₀^∞ [x² / (x²+a²)⁴] dx = π / 4a⁵
  9. Pada tahun 1971, melalui sebuah karya ilmiah dipublikasikan bahwa aplikasi fungsi variasi ternormalisasi N.e⁻⁽ᵇʳ²/ᵃ₀² ⁻ ᶜʳ/ᵃ₀⁾ untuk atom hidrogen dengan meminimalkan parameter b dan c menghasilkan energi 0,7 % di atas energi ground keadaan yang sesungguhnya. Tanpa melakukan kalkulasi apapun berikan penjelasan bahwa pernyataan itu pasti salah.
  10. Untuk atom hidrogen ground keadaan, gunakan fungsi variasi Gauss φ = e⁻ᶜʳ²/ᵃ₀². Tentukan nilai optimum c dan % error energinya.
  11. Dengan metode Gauss, selesaikan kombinasi persamaan linear berikut: 2X₁ - X₂ + 4X₃ + 2X₄ = 16 3X₁ - X₃ + 4X₄ = -5 2X₁ + X₂ + X₃ - 2X₄ = 8 -4X₁ + 6X₂ + 2X₃ + X₄ = 3
  12. Tentukan A*, Aᵀ dan A⁺ dari: A = ( (7, 3, 0), (2-i, 2i, i), (1+i, 4, 2) )
  13. (a) Tentukan nilai eigen dan vektor eigen ternormalisasi dari: A = ( (2, 2), (2, -1) ) (b) Apakah matrik A real dan simetrik?
    (c) Apakah matrik A Hermitian?
    (d) apakah matrik vektor eigen C ortogonal
    (e) buktikan bahwa C⁻¹AC adalah matrik diagonal yang elemennya nilai eigen.
  14. Tentukan nilai eigen dan vektor eigen ternormalisasi dari matrik: A = ( (-1, 0, -2), (0, 5, 0), (2, 4, 2) )

===OOO===

Soal Diskusi Metode Variasi

15 Soal Mudah (Easier Questions)

Soal 1: Konsep Dasar Teorema Variasi

Jelaskan dengan kata-kata sendiri mengapa menurut teorema variasi, energi trial (Etrial) selalu lebih besar atau sama dengan energi ground state sebenarnya (E1)?

Soal 2: Syarat Fungsi Variasi

Apa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh fungsi variasi φ agar teorema variasi dapat diterapkan?

Soal 3: Partikel dalam Kotak Sederhana

Untuk partikel dalam kotak 1D dengan panjang L, mengapa fungsi φ = x(L-x) merupakan pilihan fungsi variasi yang baik? Apa kelebihan dan kekurangannya?

Soal 4: Normalisasi Fungsi Variasi

Jika diberikan fungsi variasi φ = x²(1-x) untuk partikel dalam kotak 0 ≤ x ≤ 1, apakah fungsi ini sudah ternormalisasi? Jika tidak, tentukan faktor normalisasinya.

Soal 5: Interpretasi Fisik

Dalam konteks kimia kuantum, apa makna fisik dari integral variasional ∫φ*Hφ dτ?

Soal 6: Fungsi Variasi Eksponensial

Mengapa fungsi variasi berbentuk eksponensial seperti e-αr sering digunakan untuk sistem atom hidrogen?

Soal 7: Metode Variasi Linear

Apa perbedaan utama antara metode variasi biasa dengan metode variasi linear (LCAO)?

Soal 8: Determinan Sekular

Dalam metode variasi linear, mengapa kita harus menyelesaikan persamaan determinan sekular?

Soal 9: Integral Overlap

Apa makna fisik dari integral overlap S12 = ∫φ1*φ2 dτ dalam metode LCAO?

Soal 10: Aplikasi Sederhana

Untuk sistem partikel dalam kotak 1D, bandingkan keakuratan fungsi variasi φ = x(L-x) dengan φ = sin(πx/L). Mana yang lebih baik dan mengapa?

Soal 11: Optimisasi Parameter

Jika diberikan fungsi variasi φ = e-αr² untuk atom hidrogen, bagaimana cara menentukan nilai α yang optimal?

Soal 12: Kondisi Batas

Mengapa fungsi variasi harus memenuhi kondisi batas yang sama dengan sistem yang sedang dipelajari?

Soal 13: Error dalam Metode Variasi

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi besar kecilnya error dalam perhitungan menggunakan metode variasi?

Soal 14: Fungsi Basis

Dalam metode variasi linear, apa yang dimaksud dengan fungsi basis dan bagaimana memilih fungsi basis yang baik?

Soal 15: Aplikasi Kimia

Berikan contoh aplikasi metode variasi dalam memprediksi sifat-sifat molekul dalam kimia kuantum.

15 Soal Berat (Harder Questions)

Soal 1: Turunan Matematis Teorema Variasi

Buktikan secara matematis teorema variasi dengan menggunakan ekspansi fungsi gelombang trial dalam basis fungsi eigen yang lengkap.

Soal 2: Optimisasi Multi-Parameter

Untuk atom helium, gunakan fungsi variasi φ = e-αr₁e-βr₂ dan tentukan nilai optimal α dan β yang meminimalkan energi. Bandingkan dengan hasil eksperimen.

Soal 3: Sistem Anharmonik

Untuk osilator anharmonik dengan potensial V(x) = ½kx² + λx⁴, gunakan fungsi variasi Gauss φ = e-αx² untuk mengestimasi energi ground state. Bandingkan dengan pendekatan perturbasi orde pertama.

Soal 4: Molekul Diatomik

Dengan menggunakan metode variasi linear (LCAO), turunkan persamaan sekular untuk molekul H₂⁺ dan tunjukkan bagaimana energi bonding dan antibonding diperoleh.

Soal 5: Fungsi Variasi dengan Parameter Banyak

Gunakan fungsi variasi φ = (1 + βr)e-αr untuk atom hidrogen. Tentukan nilai optimal α dan β, dan bandingkan akurasinya dengan fungsi variasi satu parameter.

Soal 6: Partikel dalam Kotak 2D

Untuk partikel dalam kotak 2D (0 ≤ x ≤ a, 0 ≤ y ≤ b), gunakan fungsi variasi φ = xy(a-x)(b-y). Tentukan energi trial dan bandingkan dengan solusi eksak.

Soal 7: Sistem dengan Potensial Coulomb

Untuk sistem dengan potensial V(r) = -Ze²/r, gunakan fungsi variasi φ = e-αr dan tunjukkan bahwa energi minimum diperoleh ketika α = Z.

Soal 8: Metode Variasi untuk State Tereksitasi

Jelaskan bagaimana metode variasi dapat digunakan untuk mengestimasi energi state tereksitasi. Apa syarat tambahan yang diperlukan?

Soal 9: Konvergensi Deret Variasi

Untuk sistem partikel dalam kotak, gunakan fungsi basis polinomial orde tinggi dan selidiki bagaimana energi trial konvergen ke nilai eksak ketika jumlah fungsi basis ditambah.

Soal 10: Atom Berelektron Banyak

Diskusikan tantangan dalam menerapkan metode variasi untuk atom berelektron banyak dan bagaimana metode Hartree-Fock mengatasi tantangan tersebut.

Soal 11: Fungsi Variasi dengan Simetri Tertentu

Untuk partikel dalam kotak 1D, mengapa fungsi variasi untuk state ground harus simetris terhadap titik tengah kotak, sedangkan untuk state pertama tereksitasi harus antisimetris?

Soal 12: Limit Ketidakpastian Heisenberg

Hubungkan metode variasi dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg. Bagaimana teorema variasi merefleksikan prinsip fundamental ini?

Soal 13: Sistem Terikat vs Tidak Terikat

Bisakah metode variasi digunakan untuk sistem tidak terikat? Jelaskan keterbatasannya dan modifikasi apa yang diperlukan.

Soal 14: Variasi dengan Kendala

Jelaskan metode pengali Lagrange dalam konteks optimisasi fungsi variasi dengan kendala normalisasi.

Soal 15: Aplikasi dalam Kimia Komputasi Modern

Bagaimana metode variasi menjadi dasar bagi metode komputasi kimia kuantum modern seperti DFT (Density Functional Theory) dan metode post-Hartree-Fock?

Panduan Diskusi

Soal-soal di atas dapat digunakan untuk:

  • Diskusi Kelas: Bagilah siswa menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan soal-soal mudah
  • Presentasi: Minta siswa mempresentasikan solusi dari soal-soal berat
  • Penugasan: Berikan soal-soal tertentu sebagai pekerjaan rumah
  • Review: Gunakan untuk persiapan ujian atau evaluasi pemahaman konsep

Setiap soal dirancang untuk menguji pemahaman konseptual dan kemampuan analitis dalam metode variasi.

Jawaban Soal Diskusi

Menghitung % Error

Tanya AI tentang Metode Variasi

Gunakan form di bawah untuk bertanya tentang topik Metode Variasi dalam Kimia Kuantum. AI akan membaca dan menganalisis dokumen Bab 8 yang tersedia.

📚 Dokumen yang dianalisis: Handout Bab 8 Metode Variasi

AI sedang menganalisis dokumen dan memproses pertanyaan Anda...