سُورَةُ الأَحۡقَافِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ حم
Terjemahan
Haa Miim.
Tafsir Ibnu Katsir
تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Terjemahan
Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tafsir Ibnu Katsir
مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ
Terjemahan
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar. (Al-Ahqaf: 3)
Yakni bukan main-main, bukan pula secara batil.
dan dalam waktu yang ditentukan. (Al-Ahqaf: 3)
Yaitu sampai dengan masa tertentu yang telah ditetapkan, tiada tambahan dan tiada pengurangan.
Firman Allah Swt.:
Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al-Ahqaf. 3)
Yakni melalaikan hal yang sangat penting buat mereka; Allah telah menurunkan Kitab-Nya kepada mereka dan mengutus kepada mereka seorang rasul, tetapi mereka berpaling dari semuanya itu. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa mereka kelak akan mengetahui akibat dan perbuatannya.
قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Terjemahan
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar"
Tafsir Ibnu Katsir
Katakanlah. (Al-Ahqaf: 4)
kepada orang-orang musyrik yang menyembah Allah dengan yang lainNya.
Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkanlah kepadaku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini. (Al-Ahqaf: 4)
Maksudnya, tunjukkanlah kepadaku tempat di bumi ini yang mereka (sembahan-sembahanmu) ciptakan secara tersendiri.
atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? (Al-Ahqaf: 4)
Yakni tiada andil bagi mereka, baik di langit maupun di bumi barang sedikit pun. Sesungguhnya kerajaan ini dan pengaturan kesemuanya hanyalah berada di tangan kekuasaan Allah Swt., lalu mengapa kalian menyembah Dia bersama yang lain-Nya yang kalian persekutukan dengan-Nya? Siapakah yang memberi petunjuk kalian melakukan hal itu? Dan siapakah yang menyeru kalian melakukannya? Apakah dia telah memerintahkan kepada kalian untuk melakukannya? Ataukah hal tersebut adalah sesuatu yang kalian buat-buat dari diri kalian sendiri? Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
Bawalah kepadaku Kitab yang sebelum (Al-Qur'an) ini. (Al-Ahqaf: 4)
Artinya, datangkanlah sebuah kitab dari kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi, yang di dalamnya terkandung perintah bagi kalian untuk menyembah berhala-berhala ini.
atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu). (Al-Ahqaf: 4)
Yakni bukti yang terang yang menunjukkan jalan yang kamu tempuh itu.
Jika kamu orang-orang yang benar. (Al-Ahqaf: 4)
yakni tidak ada bukti bagi kamu baik yang bersifat dalil naqli maupun dalil 'aqli yang menunjukkan hal tersebut, karena itu ulama lain membacanya "أَوْ أثَرَة مِنْ عِلْمٍ" artinya atau ilmu yang benar yang kamu dapatkan dari seseorang sebelum kamu. Sebagaimana yang dikatakan Mujahid berkenaan dengan firman-Nya: atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu). (Al-Ahqaf: 4) Atau seseorang yang menemukan suatu pengetahuan.
Al-Aufi mengatakan dari Ibnu Abbas r.a. artinya: Atau bukti yang membenarkannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Sufyan, dari Safwan ibnu Salim, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman dari Ibnu Abbas r.a. Sufyan mengatakan, "Saya tidak mengetahui selain dari Nabi Saw. atau pengetahuan dan peninggalan (orang-orang dahulu), yakni berupa prasasti.
Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan, atau sisa peninggalan dari pengetahuan.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, atau sesuatu penemuan yang dikeluarkan, lalu dijadikan sebagai pegangan.
Ibnu Abbas r.a.. Mujahid, dan Abu Bakar ibnu Iyasy telah mengatakan pula sehubungan dengan makna firman-Nya: atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu). (Al-Ahqaf: 4) Yakni berupa prasasti.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu). (Al-Ahqaf: 4) Yaitu ilmu yang khusus; dan semua pendapat yang telah disebutkan di atas pengertiannya berdekatan, dan merujuk kepada apa yang telah kami katakan, yakni pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir rahimahullah.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
Terjemahan
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
Tafsir Ibnu Katsir
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? (Al-Ahqaf: 5)
Maksudnya, tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menyeru selain Allah, yaitu orang yang menyembah berhala-berhala dan meminta kepadanya apa yang tidak dapat ia penuhi sampai hari kiamat, sedangkan berhala-berhala itu lalai dari apa yang dikatakan olehnya, tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, dan tidak dapat membalas karena berhala-berhala itu adalah benda mati alias terbuat dari batu.
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
Terjemahan
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat), niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (Al-Ahqaf: 6)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka, sekali-kali tidak Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam: 81-82)
Yakni berhala-berhala yang mereka puja-puja itu akan mengkhianati mereka di saat-saat mereka sangat memerlukan pertolongannya. Al-Khalil alias Nabi Ibrahim a.s. telah mengatakan, seperti yang disitir oleh firman Allah Swt:
Sesungguhnya berhala-behala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada para penolong bagimu. (Al-'Ankabut:25)
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
Terjemahan
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata".
Tafsir Ibnu Katsir
Ini adalah sihir yang nyata. (Al-Ahqaf: 7)
Yakni sihir yang jelas, padahal mereka dusta dan mengada-ada, dan mereka sesat lagi kafir.
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ ۖ كَفَىٰ بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۖ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan
Bahkan mereka mengatakan: "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)". Katakanlah: "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Tafsir Ibnu Katsir
Bahkan mereka mengatakan, "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur'an).” (Al-Ahqaf: 8)
Yang mereka maksudkan dengan dia adalah Muhammad Saw., bahwa Al-Qur'an itu adalah buatan Muhammad. Maka Allah Swt. berfirman:
Katakanlah, "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. (Al-Ahqaf: 8)
Yakni seandainya aku berdusta terhadap-Nya dan mengaku-aku bahwa Dia telah mengutusku, padahal kenyataannya tidaklah demikian, tentulah Dia menghukumku dengan hukuman yang amat keras. Dan tiada seorang penduduk bumi pun, tidak pula kalian atau selain kalian yang dapat melindungiku dari azab-Nya. Semakna dengan apa yang telah disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
Katakanlah, “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya.” Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. (Al-Jin: 22-23)
Dan firman Allah Swt.:
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (Al-Haqqah: 44-47)
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya dalam surat ini:
Katakanlah, "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al-Qur’an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu. (Al-Ahqaf: 8)
Ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka dan peringatan yang amat keras lagi menakutkan.
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Terjemahan
Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Tafsir Ibnu Katsir
Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Ahqaf:8)
Makna ayat ini mengandung anjuran bagi mereka untuk segera bertobat dan kembali ke jalan-Nya. Yakni sekalipun dengan sikap kalian yang demikian itu, jika kalian kembali kejalan-Nya dan bertobat kepada-Nya niscaya Dia menerima tobat kalian dan memaafkan, mengampuni kalian serta merahmati kalian. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan mereka berkata, "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu diminta supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah "Al-Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) Yang Mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 5-6)
Adapun firman Allah Swt.:
Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al-Ahqaf: 9)
Yakni aku ini bukanlah rasul yang pertama yang diutus di bumi ini bahkan telah datang rasul-rasul sebelumku, dan bukanlah perkara yang kusampaikan ini merupakan perkara yang asing hingga berhak mendapat protes dari kalian dan kalian anggap mustahil aku diutus kepada kalian Karena sesungguhnya Allah Swt. telah mengutus rasul-rasul sebelumku kepada umat-umat yang sebelumku.
Ibnu Abbas r.a., Mujahid dan Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Katakanlah, "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al-Ahqaf: 9) Artinya, aku ini bukanlah rasul Allah yang pertama; baik Ibnu Jarir maupun Ibnu Abu Hatim tidak mengetengahkan pendapat selain pendapat ini.
Firman Allah Swt.:
dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. (Al-Ahqaf: 9)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan ayat ini, bahwa ayat ini diturunkan sebelum firman-Nya:
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (Al-Fath: 2)
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa ayat surat Al-Ahqaf ini di-mansukh oleh firman-Nya:
supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (Al-Fath: 2)
Mereka mengatakan bahwa ketika ayat surat Al-Fath diturunkan, seseorang dari kalangan kaum muslim berkata, "Wahai Rasulullah, ini merupakan penjelasan dari Allah Swt. tentang apa yang akan Dia lakukan terhadapmu, lalu apakah yang akan Dia lakukan terhadap kami?" Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya:
Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Al-Fath: 5)
Demikianlah menurut riwayat ini, tetapi yang telah ditetapkan di dalam kitab sahih menyebutkan bahwa orang-orang mukmin mengatakan, "Selamat untukmu, wahai Rasulullah, lalu apakah yang untuk kami?" Maka Allah Swt. menurunkan surat Al-Fath ini (ayat 5).
Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. (A!-Ahqaf: 9) Yakni aku tidak mengetahui apakah yang diperintahkan kepadaku dan apakah yang dilarang kepadaku sesudah ini?
Abu Bakar Al-Huzali telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya: dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. (Al-Ahqaf: 9) Adapun di akhirat, maka mendapat pemaafan dari Allah, dan telah diketahui bahwa hal itu berarti dimasukkan ke dalam surga. Tetapi Nabi Saw. mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah yang akan dilakukan terhadap dirinya dan tidak (pula) terhadap diri mereka di dunia ini. Apakah beliau Saw. akan diusir sebagaimana para nabi sebelumnya diusir dari negerinya? Ataukah beliau akan di bunuh sebagaimana para nabi terdahulu banyak yang dibunuh? Nabi Saw. bersabda, "Aku tidak mengetahui apakah kalian akan dibenamkan ke dalam bumi ataukah dilempari batu-batuan dari langit?"
Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir, dan bahwa tiada takwiI lain selain ini.
Dan memang tidak diragukan lagi pendapat inilah yang sesuai dengan takwil ayat, karena sesungguhnya mengenai nasib di akhirat sudah dapat dipastikan tempat kembali beliau Saw. adalah surga, begitu pula orang-orang yang mengikutinya. Adapaun apa yang dilakukan terhadap dirinya (Nabi Saw.) di dunia ini, maka beliau tidak mengetahui apakah akibat dari urusannya dan urusan orang-orang musyrik Quraisy, bagaimanakah kesudahannya nanti, apakah mereka akan beriman ataukah mereka tetap pada kekafirannya yang akibatnya mereka akan diazab dan dimusnahkan.
Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu bahwa:
telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ibnu Syihab, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari Ummul Ala salah seorang istri sahabat yang telah menceritakan hadis berikut; dia adalah salah seorang wanita yang ikut berbaiat kepada Rasulullah Saw. Ia menceritakan bahwa ketika dilakukan undian di kalangan orang-orang Ansar untuk memberikan perumahan kepada kaum Muhajirin, maka Usman ibnu Marun segera bergabung bersama mereka. Kemudian dia sakit di rumah kami, maka kami merawatnya. Dan ketika dia meninggal dunia, kami kafani dengan kain bajunya. Lalu Rasulullah Saw. masuk ke dalam rumah kami, bertepatan dengan ucapap kami, "Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepadamu, hai Abus Sa'ib (nama panggilan Usman ibnu Maz'un r.a.), aku bersaksi untukmu, bahwa sesungguhnya Allah Swt. telah memuliakanmu." Maka Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah yang memberitahukanmu bahwa Allah telah memuliakannya?" Aku menjawab, "Saya tidak tahu, demi ayahku dan ibuku yang menjadi tebusanmu." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Adapun dia, maka sesungguhnya telah datang kepadanya perkara yang meyakinkan dari Tuhannya, dan sesungguhnya aku mengharapkan kebaikan baginya. Demi Allah, aku sendiri sebagai utusan Allah tidak mengetahui apa yang bakal dilakukan terhadap diriku. Maka aku berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menyucikan seorang pun sesudahnya buat selama-lamanya," dan peristiwa itu membuatku bersedih hati, lalu aku tidur dan dalam mimpiku aku melihat Usman r a mempunyai mata air yang mengalir. Lalu aku menghadap kepada Rasulullah Saw. dan kuceritakan mimpiku itu kepadanya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Itu adalah berkat amal perbuatannya.
Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini secara tunggal tanpa Imam Muslim. Dan menurut lafaz yang lain dari Imam Bukhari disebutkan:
Aku tidak mengetahui, padahal aku adalah utusan Allah apakah yang bakal dilakukan terhadap diriku.
Hadis ini lebih meyakinkan bila dikatakan bahwa memang inilah yang terkenal, sebagai buktinya ialah adanya ucapan Ummul Ala yang mengatakan, Peristiwa itu membuatku sangat bersedih hati. Dan dengan adanya hadis ini dan yang semisal dengannya, menunjukkan bahwa tidak boleh dipastikan terhadap seseorang yang tertentu yang masuk surga kecuali dengan adanya nas dari Pentasyri' yang menentukannya, seperti sepuluh orang sahabat yang telah mendapat berita gembira masuk surga tanpa hisab, dan juga seperti Ibnu Salam, Al-Umaisa, Bilal, Suraqah Abdullah ibnu Amr ibnu Haram (orang tua Jabir) dan para ahli qurra yang berjumlah tujuh puluh orang yang gugur di sumur Ma'unah dan Zaid ibnu Harisah, Ja'far, dan Abdullah ibnu Rawwahah serta para sahabat lainnya; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka
Firman Allah Swt.:
Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. (Al-Ahqaf: 9)
Yakni sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah kepadaku, berupa wahyu.
dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. (Al-Ahqaf: 9)
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن كَانَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَكَفَرْتُم بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Terjemahan
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
Tafsir Ibnu Katsir
Katakanlah. (Al-Ahqaf: 10)
hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik yang mengingkari Al-Qur’an.
Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur’an ini datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya. (Al-Ahqaf: 10)
Yakin menurut dugaan kalian apakah yang akan dilakukan Allah terhadap diri kalian jika memang Al-Kitab yang aku datangkan kepada kalian ini benar-benar telah diturunkan oleh-Nya kepadaku agar aku menyampaikannya kepada kalian, padahal kalian mengingkari dan mendustakannya.
dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur’an. (Al-Ahqaf: 10)
Yaitu aitu kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumku telah membenarkan dan mengakui keabsahan dari Al-Qur'an Kitab-kitab terdahulu itu telah memberitakan tentangnya, sebagaimana yang diberitakan oleh Al-Qur'an ini.
Firman Allah Swt.:
lalu dia beriman. (Al-Ahqaf: 10)
Maksudnya, orang dari kalangan Bani Israil yang menyaksikan kebenaran Al-Qur'an ini karena dia mengetahui hakikat dan Al-Qur’an.
sedangkan kamu menyombongkan diri. (Al-Ahqaf: 10)
Yakni kamu dan para pengikutmu bersikap angkuh terhadapnya. Masruq mengatakan bahwa lalu berimanlah orang yang menjadi saksi ini kepada nabi dan kitab-Nya, sedangkan kalian kafir kepada nabi kalian dan juga kepada kitab kalian.
Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Ahqaf: 10)
Kata asy-syahid ini adalah isim jinsi yang pengertiannya bersifat menyeluruh mencakup Abdullah ibnu Salam dan lain-lainnya yang beriman. Ayat ini adalah Makkiyyah, diturunkan sebelum masuk Islamnya Abdullah ibnu Salam r.a. Dan pengertiannya sama dengan firman Allah Swt.:
Dan apabila dibacakan (Al-Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya)." (Al-Qashash: 53)
Dan firman Allah Swt.:
Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila dibacakan Al-Qur’an kepada mereka mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji tuhan kami pasti dipenuhi.” (Al-Isra: 107-108)
Masruq dan Asy-Sya'bi mengatakan bahwa orang yang dimaksud bukanlah Abdullah ibnu Salam karena ayat ini Makkiyah, sedangkan masuk Islamnya Abdullah ibnu Salam r.a. adalah di Madinah.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini dari keduanya, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini.
Malik telah meriwayatkan dari Abun Nadr, dari Amir ibnu Sa'd dari ayahnya yang mengatakan, "Aku belum pernah mendengar Rasulullah Saw. berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa sesungguhnya dia termasuk ahli surga kecuali kepada Abdullah ibnu Salam r.a.
Sa'd mengatakan bahwa berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam diturunkan ayat berikut, yaitu firman-Nya: dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur’an. (Al-Ahqaf: 10)
Imam Bukhari dan Imam Muslim serta Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui, hadis Malik dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah Ikrimah Yusuf ibnu Abdullah ibnu Salam, Hilak ibnu Yusaf, As-Saddi As-Sauri' Malik ibnu Anas, dan Ibnu Zaid; mereka semuanya mengatakan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dalam ayat adalah Abdullah ibnu Salam.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
Terjemahan
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: "Ini adalah dusta yang lama".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, "Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya.” (Al-Ahqaf: 11)
Yakni mereka mengatakan tentang orang-orang yang beriman kepada Al-Qur'an bahwa sekiranya Al-Qur'an itu baik, tentulah mereka tidak akan mendahului kami dalam beriman kepadanya. Yang mereka maksudkan adalah Bilal, Ammar, Suhaib, dan Khabbab serta orang-orang mukmin lainnya yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang mukmin yang lemah dan masih menjadi budak.
Tidaklah mereka berpendapat demikian, melainkan mereka mempunyai keyakinan bahwa diri mereka mempunyai kedudukan di mata Allah dan diperhatikan oleh-Nya. Mereka berpandangan keliru dalam hal ini dan jelas parah kekeliruannya, karena disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian lain (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata, "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Al-An'am: 53)
Yakni mereka merasa heran mengapa orang-orang seperti itu mendapat petunjuk, sedangkan diri mereka tidak. Karena itulah disebutkan oleh firman berikutnya:
Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (Al-Ahqaf: 11)
Adapun golongan ahli sunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid'ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya
Firman Allah Swt.:
Dan Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, 'Ini adalah dusta yang lama." (Al-Ahqaf. 11)
Yakni apa yang terkandung di dalam Al-Qur'an itu adalah dusta yang lama. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Al-Quran itu dikutip dan orang-orang dahulu. Mereka mendiskreditkan Al-Qur'an dan orang-orang yang beriman kepadanya. Hal inilah yang dinamakan sifat takabur yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya yang mengatakan:
Menentang perkara yang hak (benar) dan meremehkan orang.
وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ وَهَٰذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَانًا عَرَبِيًّا لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa. (Al-Ahqaf: 12)
Yakni kitab Taurat.
sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang membenarkannya. (Al-Ahqaf: 12)
Maksudnya, membenarkan kitab-kitab yang telah mendahuluinya.
dalam bahasa Arab. (Al-Ahqaf: 12)
Yakni bahasa yang fasih, terang, dan jelas.
untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ahqaf: 12)
Al-Qur'an itu mengandung peringatan buat orang-orang kafir dan berita gembira buat orang-orang mukmin.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Terjemahan
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan " Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap istiqamah. (Al-Anqaf: 13)
Tafsir ayat ini telah dikemukakan dalam tafsir surat Ha Mim Sajdah.
Firman Allah Swt.:
maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. (Al-Ahqaf: 13)
dalam menghadapi masa depan mereka.
dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaf: 13)
terhadap masa lalu mereka.
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Terjemahan
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 14)
Yakm amal-amal perbuatan yang dahulu telah mereka kerjakan yang menyebabkan mereka memperoleh rahmat Allah yang terlimpahkan kepada mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Setelah dalam ayat-ayat terdahulu disebutkan tentang tauhid ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, dan istiqamah, lalu disebutkan perintah Allah yang memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal seperti ini sering disebutkan secara bergandengan di dalam Al-Qur'an, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra: 23)
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang senada.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
Tafsir Ibnu Katsir
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15)
Yakni Kami perintahkan kepada manusia untuk berbakti kepada kedua orang tuanya dan mengasihi keduanya.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepadaku Sammak ibnu Harb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Mus'ab ibnu Sa'd menceritakan berita ini dari Sa’d r.a yang telah mengatakan bahwa Ummu Sa'd berkata kepada Sa’d, "Bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk menaati kedua orang tuanya? Maka sekarang aku tidak mau makan dan, minum lagi sebelum kamu kafir kepada Allah." Ternyata Ummu Sa’d tidak mau makan dan minum sehingga keluarganya terpaksa membuka mulutnya dengan memakai tongkat (lalu memasukkan makanan dan minuman ke dalamnya). Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. (Al-Ahqaf: 15), hingga akhir ayat.
Imam Muslim dan para penulis kitab sunan -kecuali Ibnu Majah- telah meriwayatkan hadis ini melalui Syu'bah dengan sanad yang semisal dan lafaz yang lebih panjang.
ibunya mengandungnya dengan susah payah. (Al-Ahqaf: 15)
Yaitu mengalami kesengsaraan karena mengandungnya dan kesusahan serta kepayahan yang biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil.
dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf: 15)
Yakni dengan penderitaan pula saat melahirkan bayinya lagi sangat susah dan masyaqqat.
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)
Sahabat Ali r.a. menyimpulkan dalil dari ayat ini dan ayat yang ada di dalam surat Luqman. yaitu firman-Nya:
Dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)
Dan Firman Allah Swt.:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al-Baqarah: 233)
Bahwa masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman r.a. dan sejumlah sahabat lainnya.
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma'mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah mengawini seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman r.a. dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku."
Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman r.a., maka Usman r.a. memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali r.a., maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?" Usman menjawab, "Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?" Maka Ali r.a. bertanya kepada Usman, "Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur'an?" Usman menjawab, "Benar." Ali r.a. mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah Swt.: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan Usman r a berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu." Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.
Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma'mar berkata "Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi'."
Ma'mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 81); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah Swt. telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)
sehingga apabila dia telah dewasa. (Al-Ahqaf: 15)
Yakni telah kuat dan menjadi dewasa.
dan umurnya sampai empat puluh tahun. (Al-Ahqaf. 15)
Yaitu akalnya sudah matang dan pemahaman serta pengendalian dirinya sudah sempurna.
Menurut suatu pendapat, biasanya seseorang tidak berubah lagi dari kebiasaan yang dilakukannya bila mencapai usia empat puluh tahun.
Abu Bakar ibnu Iyasy mengatakan dan Al-A'masy, dan Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, "Bilakah seseorang dihukum karena dosa-dosanya?" Masruq menjawab, "Bila usiamu mencapai empat puluh tahun, maka hati-hatilah kamu dalam berbuat."
Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Urwah ibnu Qais Al-Azdi yang usianya mencapai seratus tahun, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Al-Kufi alias Umar ibnu Aus, bahwa Muhammad ibnu Amr ibnu Usman telah meriwayatkan dan Usman r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Seorang hamba yang muslim apabila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila usianya mencapai enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki Inabah (kembali ke jalan-Nya). Dan apabila usianya mencapai tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah Swt. menetapkan kebaikan-kebaikannya dan menghapuskan keburukan-keburukannya. Dan apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan mengizinkannya untuk memberi syafaat buat ahli baitnya dan dicatatkan (baginya) di langit, bahwa dia adalah tawanan Allah di bumi-Nya.
Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, yaitu di dalam kitab Musnad Imam Ahmad.
Al-Hajjaj ibnu Abdullah Al-Hakami, salah seorang amir dari kalangan Bani Umayyah di Dimasyq telah mengatakan, "Aku telah meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa selama empat puluh tahun karena malu kepada manusia, kemudian aku meninggalkannya (sesudah itu) karena malu kepada Allah." Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:
Diturutinya semua yang disukainya sehingga uban telah menghiasi kepalanya.
Dan manakala uban telah memenuhi kepalanya, ia berkata kepada kebatilan, "Menjauhlah dariku!"
Firman Allah Swt.:
Ya Tuhanku, tunjukilah aku. (Al-Ahqaf: 15)
Maksudnya, berilah aku ilham, atau bimbinglah aku.
untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai. (Al-Ahqaf: 15)
Yakni di masa mendatang.
berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. (Al-Ahqaf: 15)
Yaitu keturunanku.
Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku temasuk orang-orang yang berserah diri. (Al-Ahqaf: 15)
Ini adalah panduan bagi yang sudah berusiah empat puluh tahun untuk memperbaharui tobat dan berserah diri kepada Allah.
Telah diriwayatkan oleh Abu daud di dalam kitab sunan-nya, dari Ibnu Mas'ud ra. Bahwa Rasulullah SAW mengajari doa tasyahhud, yaitu:
selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan fahisyah, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Dan berkahilah bagi kami pendengaran kami, penglihatan kami hati kami, istri-istri kami dan keturunan kami. Dan terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, selalu memuji dan menerima nikmat itu, dan sempurnakanlah bagi kami nikmat itu.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ ۖ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Terjemahan
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. (Al-Ahqaf: 16)
Yakni mereka yang menyandang predikat yang telah kami sebutkan yaitu orang-orang yang bertobat dan kembali kepada Allah lagi menanggulangi apa yang telah mereka lewatkan dengan bertobat dan memohon ampun merekalah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal baiknya dan Kami maafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan Kami ampuni dosa-dosa mereka serta Kami terima amal mereka walaupun sedikit.
bersama penghuni-penghuni surga. (Al-Ahqaf: 16)
Yakni mereka termasuk penghuni-penghuni surga. Demikianlah status mereka d. s.si Allah sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya kepada orang-orang yang bertobat dan kembali ke jalan-Nya, oleh karena itu Allah berfirman:
Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub ibnu Ibrahim telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Al-Gatrif, dari Jabir ibnu Yard, dan Ibnu Abbas r.a., dari Rasulullah Saw., dari Ar-Ruhul Amin a.s. yang telah mengatakan: Seorang hamba akan didatangkan kebaikan dan keburukannya, lalu dilakukanlah penghapusan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Jika masih tersisa suatu kebaikan, Allah memberikan keluasan kepadanya di dalam surga. Ibnu Jarir mengatakan, bahwa lalu ia datang kepada Ali Yazdad dan ternyata dia pun meriwayatkan hadis yang semisal. Aku bertanya, "Bagaimana jika kebaikannya habis?" Ali menjawab dengan membacakan firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16)
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Muhammad ibnu Abdul Ala As-San'ani, dari Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman berikut sanadnya yang semisal, tetapi ditambahkan 'dan Ar-Ruhul Amin (Malaikat Jibril a.s.)'. Disebutkan bahwa Allah Swt mendatangkan kepada seorang hamba amal-amal baiknya dan amal-amal buruknya, lalu Allah Swt. mengingatkannya. Hadis ini garib, tetapi sanadnya baik dan tidak mengandung cela.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ma'bad telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim Al-Kala'i, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr Ja'far ibnu Abu Wahsyiyyah dan Abu Wahsyiyyah, dari Yusuf ibnu Sa'd, dari Muhammad ibnu Hatib bahwa ketika Al. beroleh kemenangan atas kota Al-Basrah, Muhammad ibnu Hatib tinggal di rumahku. Dan pada suatu hari ia mengatakan kepadaku, bahwa sesungguhnya ia menyaksikan Khalifah Ali r a yang sedang bersama dengan Ammar, Sa'sa'ah, Asytar, dan Muhammad ibnu Abu Bakar r.a. Lalu mereka menceritakan perihal Khalifah Usman r a dan pada akhirnya pembicaraan mereka mendiskreditkannya. Saat itu Ali r a. sedang berada di atas dipannya, sedangkan tangannya memegang tongkat. Lalu seseorang dari mereka berkata, "Sesungguhnya seseorang di antara kalian ada seorang yang akan memutuskan hal ini di antara kalian. Maka mereka menanyakannya kepada Ali r.a. Lalu Ali menjawab bahwa Usman r.a. termasuk salah seorang yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqaf: 16) Kemudian Ali r.a. berkata, "Demi Allah, Usman dan teman-temannya " Hal ini diulanginya sebanyak tiga kali.
Yusuf ibnu Sa'd berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada Muhammad ibnu Hatib, "Apakah engkau mendengar ini langsung dari Ali r.a?" Muhammad ibnu Hatib menjawab, "Demi Allah, aku benar-benar mendengarnya dari Ali r.a. secara langsung."
وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Terjemahan
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, "Cis bagi kamu keduanya.” (Al-Ahqaf: 17)
Ini umum pengertiannya mencakup semua orang yang mengatakan demikian kepada kedua orang tuanya. Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a., maka pendapatnya lemah. Karena Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a. baru masuk Islam setelah ayat ini diturunkan dan berbuat baik dalam Islamnya sehingga ia termasuk orang yang terpilih di masanya.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan salah seorang putra Abu Bakar r.a. Akan tetapi, kesahihan hadis ini masih perlu diteliti kembali; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Abu Bakar r.a. menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Juraij. Ulama lainnya mengatakan bahwa dia adalah Abdur Rahman ibnu Abu Bakar. Pendapat ini dikemukakan pula oleh As-Saddi. Tetapi sesungguhnya makna ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang menyakiti kedua orang ibu bapaknya; dan mendustakan perkara yang hak, lalu mengatakan kepada kedua orang tuanya, "Sialan kamu berdua."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Zaidah, dari Ismail ibnu Abu Khalid, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnul Madini yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia berada di dalam masjid saat Marwan berkhotbah. Marwan antara lain mengatakan, "Sesungguhnya Allah Swt telah memperlihatkan kepada Amirul Mu’minin perihal Yazid sebagai orang yang baik. Dan jika ia (Mu'awiyah) mengangkatnya menjadi kalifah, maka sesungguhnya Abu Bakar pun pernah mengangkat Umar sebagai khalifah penggantinya." Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a. berkata, "Apakah itu cara Heraklius (kerajaan)? Sesungguhnya Abu Bakar r.a. tidak menyerahkan kekhalifahan itu pada seseorang dari kalangan anak-anaknya dan tidak pula kepada seorang ahli baitnya. Lain halnya dengan Mu'awiyah, dia tidak sekali-kali menyerahkan kekhalifahan kepada anaknya (Yazid) melainkan karena kasihan dan memuliakan anaknya." Marwan menjawab, "Bukankah engkau adalah orang yang telah mengatakan kepada kedua ibu bapakmu, 'Cis bagi kamu keduanya'?" Abdur Rahman r.a. menjawab, "Bukankah engkau pun adalah anak seorang yang terlaknat karena orang tuamu pernah melaknat Rasulullah Saw.?"
Abdullah ibnul Madini melanjutkan kisahnya, bahwa perdebatan itu terdengar oleh Siti Aisyah r.a., maka ia mengatakan, "Hai Marwan, bukankah kamu pernah mengatakan anu dan anu terhadap Abdur Rahman ra Tuduhanmu itu tidak benar, ayat tersebut tidak diturunkan berkenaan dengan dia (Abdur Rahman ibnu Abu Bakar), melainkan diturunkan berkenaan dengan si Fulan bin Fulan."
Kemudian Marwan dipilih sebagai khalifah (pengganti Yazid), lalu ia turun dari mimbar dan langsung menuju ke pintu rumah Siti Aisyah r.a., kemudian berbicara dengan Siti Aisyah r.a. dan sesudahnya ia pergi.
Imam Bukhari telah meriwayatkan atsar ini melalui sanad dan lafaz yang lain. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan Abu Bisyr dari Yusuf ibnu Mahik yang menceritakan bahwa Marwan di saat menjadi amir atas kawasan Hijaz dari pihak Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan ra pernah berkhotbah, lalu mempromosikan Yazid ibnu Mu'awiyah, dengan maksud agar Yazid dibaiat menjadi khalifah sesudah ayahnya (setelah Mu'awiyah). Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a. mengucapkan sesuatu dan mengatakan, "Tangkaplah dia!' Tetapi Marwan masuk ke dalam rumah Siti Aisyah r.a., berlindung di dalamnya sehingga mereka tidak mampu menangkapnya. Lalu Marwan berkata bahwa sesungguhnya orang ini (yakni Abdur Rahman ibnu Abu Bakar) adalah yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?" (Al-Ahqaf: 17) Maka Siti Aisyah r.a. menjawab dari balik tabir, "Allah Swt. tidak pernah menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an sehubungan dengan keluarga kami, selain dari wahyu yang diturunkan Allah mengenai pembersihan namaku."
Jalur lain. Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Umayyah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Muhammad ibnu Ziad yang mengatakan bahwa ketika Mu'awiyah membaiat putranya, Marwan berkata, "Ini adalah sunnah Abu Bakar dan Umar." Maka Abdur Rahman ibnu Abu Bakar r.a. menjawab, "Ini adalah kebiasaan Heraklius dan Kaisar." Marwan berkata, "Orang ini (maksudnya Abdur Rahman ibnu Abu Bakar) lah yang disebutkan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya: Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, 'Cis bagi kamu keduanya' (Al-Ahqaf: 17), hingga akhir ayat." Ketika hal ini terdengar oleh Siti Aisyah r.a., maka ia menjawab, "Marwan dusta, demi Allah, orang yang dimaksud bukanlah dia (Abdur Rahman), seandainya aku berkemauan untuk menyebut nama orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, tentulah aku dapat menyebutkan namanya. Akan tetapi, yang jelas Rasulullah Saw. telah melaknat ayahnya Marwan dan Marwan yang masih berada di dalam sulbinya. Maka Marwan adalah orang yang tercela karena laknat Allah."
Firman Allah Swt.:
apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dikeluarkan. (Al-Ahqaf: 17)
Yakni akan dibangkitkan dari kubur.
padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? (Al-Ahqaf: 17)
Artinya, telah banyak manusia yang telah mati dan ternyata tiada seorang pun dari mereka yang kembali.
Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah. (Al-Ahqaf: 17)
Yaitu memohon pertolongan kepada Allah agar anaknya diberi petunjuk, lalu berkata kepada anaknya:
"Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar.” Lalu dia berkata, "Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang dahulu.” (Al-Ahqaf: 17)
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ
Terjemahan
Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama-sama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. (Al-Ahqaf: 18)
Yakni termasuk ke dalam golongan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan orang-orang kafir yang merugikan dirinya sendiri dan keluarga mereka kelak di hari kiamat.
Firman Allah Swt., "Ula-ika" sesudah firman-Nya, uWal lazi qala," merupakan dalil yang menunjukkan seperti apa yang telah kami kemukakan di atas, yaitu bahwa ini merupakan isim jinis yang pengertiannya mencakup semua orang yang demikian keadaannya.
Menurut Al-Hasan dan Qatadah, yang dimaksud adalah orang kafir, pendurhaka lagi menyakiti kedua orang tuanya, dan mendustakan adanya hari berbangkit.
Al-Hafiz ibnu Asakir mengatakan sehubungan dengan biografi Sahl ibnu Daud melalui jalur Hammam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Khalid Az-Zabarqan Al-Ulaimi, dari Salim ibnu Habib, dari Abu Umamah Al-Bahili r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
Ada empat macam orang yang dilaknat oleh Allah dari atas Arasy-Nya dan diamini oleh para malaikat, yaitu orang yang menyesatkan orang-orang miskin. Khalid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang melambaikan tangannya kepada orang miskin seraya berkata, "Kemarilah kamu, aku akan memberimu." Dan ketika orang miskin itu datang kepadanya, ia mengatakan, "Aku tidak mempunyai sesuatu yang akan kuberikan kepadamu." Orang yang kedua ialah seseorang yang mengatakan kepada seorang tukang, "Bekerjalah," padahal ia tidak memiliki sesuatu pun (untuk membayarnya). Dan orang-orang yang ditanyai oleh seorang lelaki tentang rumah suatu kaum, lalu mereka menunjukkan kepadanya rumah yang lain. Dan seseorang yang memukuli kedua orang tuanya hingga keduanya meminta tolong. Hadis ini garib sekali.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Terjemahan
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Ahqaf: 19)
Yakni masing-masing dari mereka mendapat azab sesuai dengan amal perbuatannya.
dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan mereka tidak dirugikan. (Al-Ahqaf:19)
Mereka tidak dianiaya barang seberat zarrah pun atau yang lebih kecil dari padanya. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa derajat atau tingkatan di neraka mengarah ke bawah, sedangkan derajat di surga mengarah ke atas.
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُم بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنتُمْ تَفْسُقُونَ
Terjemahan
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (Al-Ahqaf: 20)
Dikatakan hal tersebut kepada mereka sebagai kecaman dan cemoohan.
Dan sesungguhnya Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a. menjauhkan dirinya dari kebanyakan makanan dan minuman yang enak-enak dan tidak mau menyantapnya. Dan ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia merasa takut bila dirinya seperti orang-orang yang dicela dan dikecam oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya. (Al-Ahqaf: 20)
Abu Mijlaz mengatakan, bahwa sesungguhnya benar-benar banyak kaum yang kehilangan kebaikan-kebaikan yang mereka miliki semasa di dunia, lalu dikatakan kepada mereka: Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja). (Al-Ahqaf: 20)
Firman Allah Swt.:
maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik. (Al-Ahqaf: 20)
Maka mereka dibalasi dengan pembalasan yang sejenis dengan amal perbuatan mereka. Maka sebagaimana mereka menyenangkan diri mereka sendiri dan bersikap sombong terhadap perkara yang hak tidak mau mengikutinya, dan mereka gemar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang fasik dan durhaka, maka Allah Swt. membalas mereka dengan azab yang menghinakan. Yaitu kehinaan, kerendahan, azab yang sangat menyakitkan lagi sangat pedih, dan penyesalan yang terus-menerus serta tempat tinggal di dasar neraka yang mengerikan. Semoga Allah melindungi kita dari semua siksaan itu.
۞ وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Terjemahan
Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad. (Al-Ahqaf: 21)
Dia adalah Nabi Hud a.s. yang diutus oleh Allah kepada kaum ‘Ad yang pertama; mereka bertempat tinggal di bukit-bukit pasir, menurut Ibnu Zaid.
Menurut Ikrimah, Al-Ahqaf artinya bukit-bukit dan gua-gua.
Ali ibnu Abu Talib r.a. telah mengatakan bahwa Ahqaf adalah nama sebuah lembah yang terletak di Hadramaut, dikenal dengan sebutan Barhut; dilemparkan ke dalamnya ruh orang-orang kafir.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa 'Ad adalah suatu kaum di negeri Yaman, penduduk daerah pesisir di suatu daerah yang dikenal dengan sebutan Asy-Syahr.
Ibnu Majah mengatakan di dalam Bab "Apabila Seseorang Berdoa Hendaklah Memulai untuk Dirinya Sendiri" bahwa:
telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Ali Al-Khallal, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Semoga Allah merahmati kita dan saudara kaum 'Ad (Nabi Hud a.s.).
Adapun firman Allah Swt.:
dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya. (Al-Ahqaf: 21)
Yakni Allah telah mengutus kepada orang-orang yang tinggal di sekeliling (di sekitar) negeri mereka, yakni di kota-kota rasul-rasul yang membawa peringatan kepada mereka. Semakna dengan pengertian yang disebutkan oleh firman-Nya:
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang akan datang kemudian. (Al-Baqarah: 66)
Dan firman Allah Swt.:
Jika mereka berpaling, maka katakanlah, "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Samud.” Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan), "Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Fushshilat: 13-14)
Adapun firman Allah Swt.:
sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. (Al-Ahqaf: 21)
Nabi Hud a.s. mengatakan hal itu kepada mereka, tetapi kaumnya menjawab seperti yang disitir oleh firman-Nya:
Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? (Al-Ahqaf: 22)
yakni untuk menghalang-halangi kami dari menyembah tuhan-tuhan kami?
قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Terjemahan
Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar".
Tafsir Ibnu Katsir
Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (Al-Ahqaf: 22)
Mereka meminta agar azab Allah disegerakan kepada mereka. Hal ini mereka katakan dengan nada menantang dan tidak percaya dengan peringatan dan ancaman tersebut. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan. (Asy-Syura: 18)
قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِندَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُم مَّا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
Terjemahan
Ia berkata: "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh".
Tafsir Ibnu Katsir
Ia berkata, "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah.” (Al-Ahqaf: 23)
Yakni hanya Allah-lah yang mengetahui perihal kalian. Jika kalian memang berhak untuk disegerakan azab-Nya kepada kalian, tentulah Dia akan melakukannya terhadap kalian. Adapun mengenai diriku, maka tugasku hanyalah menyampaikan kepada kalian apa yang diutuskan kepadaku.
tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh. (Al-Ahqaf: 23)
Yaitu tidak berakal dan tidak memahami.
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُم بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahan
Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. (Al-Ahqaf: 24)
Yakni ketika mereka melihat azab itu datang kepada mereka, mereka mengira bahwa itu adalah awan yang menurunkan hujan kepada mereka, maka bergembiralah mereka dengan kedatangannya. Sebelum itu mereka memang sangat memerlukan hujan karena sudah lama tidak turun hujan kepada mereka.
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
Terjemahan
yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.
Tafsir Ibnu Katsir
(Bukan), bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. (Al-Ahqaf: 24)
Itu adalah azab yang kalian inginkan melalui perkataan kalian, "Datangkanlah azab itu kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar."
yang menghancurkan segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 25)
Yakni azab tersebut akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di negeri mereka yang berhak untuk dihancurkan.
dengan perintah Tuhannya. (Al-Ahqaf: 25)
yang dengan seizin Allah Swt. untuk menghancurkan negeri mereka, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:
angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (Adz-Dzariyat: 42)
Yaitu seperti sesuatu yang lapuk. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. (Al-Ahqaf: 25)
karena semuanya telah binasa, tanpa ada seorang pun dari mereka yang hidup.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (Al-Ahqaf: 25)
Yakni demikianlah hukuman Kami terhadap orang yang mendustakan rasul-rasul Kami dan menentang perintah Kami.
Dalam sebuah hadis disebutkan kisah mereka, hadisnya garib sekali dan termasuk salah satu hadis yang berpredikat garib lagi tersendiri.
Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Abul Munzir alias Salam ibnu Sulaiman An-Nahwi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Wa'il, dari Al-Haris Al-Bakri yang menceritakan bahwa ia pergi untuk mengadu kepada Rasulullah Saw. tentang Al-Ala ibnul Hadrami. Dalam perjalanannya ia bersua dengan seorang nenek-nenek dan kalangan Bani Tamim, yaitu Rabzah. Nenek-nenek itu tidak mampu lagi meneruskan perjalanannya. Maka ia berkata kepadaku (Al-Haris Al-Bakri), "Hai hamba Allah, sesungguhnya aku mempunyai suatu keperluan dengan Rasulullah Saw, maka sudikah engkau menyampaikannya kepada beliau Saw.?" Maka aku menaikkannya ke unta kendaraanku dan kuantarkan ia ke Madinah, yang saat itu Masjid Nabawi kelihatan penuh dengan banyak orang. Tiba-tiba kelihatan sebuah panji berwarna hitam berkibar lalu kelihatan sahabat Bilal r.a. menyandang pedangnya berada di hadapan Rasulullah Saw. Lalu aku bertanya, "Ada apa dengan orang-orang banyak ini?" Mereka menjawab, "Rasulullah Saw. akan mengirimkan Amr ibnul As r.a. bersama pasukan kaum muslim ke suatu tujuan."
Al-Haris melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia masuk ke dalam rumah atau kemah Rasulullah Saw. Sebelumnya ia meminta izin untuk bersua dengan beliau, kemudian diberi izin. Lalu masuklah ia dan mengucapkan salam. Maka Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah antara kamu dan Bani Tamim terdapat sesuatu (permusuhan)?" Aku (Al-Haris) menjawab, "Ya, dan kami beroleh kemenangan atas mereka. Dan di tengah jalan saya bersua dengan seorang nenek-nenek dari Bani Tamim yang tidak mampu meneruskan perjalanannya, lalu ia meminta kepadaku untuk membawanya ke hadapan engkau, sekarang dia berada di depan pintu." Lalu nenek-nenek itu diizinkan untuk masuk, maka masuklah nenek-nenek itu.
Lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, sudilah kiranya engkau membuatkan pembatas antara kami dan Bani Tamim. Jika engkau berkehendak, maka buatkanlah padang sahara sebagai pembatasnya." Maka dengan serta merta nenek-nenek itu emosi dan bangkit seraya berkata, "Wahai Rasulullah, apakah yang diinginkan oleh orang yang memintamu dengan mendesak ini?"
Al-Haris melanjutkan kisahnya, maka aku menjawab, "Sesungguhnya nasibku sekarang adalah yang seperti dikatakan oleh pepatah masa dahulu, 'serigala berbulu domba.' Sesungguhnya aku membawa nenek-nenek ini tanpa menyadari bahwa dia adalah musuhku, kukira dia temanku, aku berlindung kepada Allah dan rasul-Nya bila nasibku menjadi seperti utusan kaum ‘Ad."
Rasulullah Saw. bertanya kepadaku, "Bagaimanakah kisah utusan kaum 'Ad itu?" Padahal beliau Saw. lebih mengetahui kisah tersebut daripada dia, tetapi beliau mendesaknya agar menceritakan kisah itu. Maka ia menjawab, bahwa sesungguhnya kaum ‘Ad mengalami musim paceklik yang berkepanjangan, lalu mereka mengirimkan seorang utusan yang dikenal dengan nama Qil. Qil dalam perjalanannya bersua dengan Mu'awiyah ibnu Bakar, lalu Qil tinggal padanya selama satu bulan. Mu'awiyah memberinya minuman Khamr dan menghiburnya dengan dua orang penyanyi yang dikenal dengan julukan Jarradatain.
Setelah berlalu masa satu bulan, Qil berangkat menuju Bukit Mahrah, lalu berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku datang bukan kepada orang sakit yang memerlukan pengobatan dariku, tidak pula kepada tawanan yang perlu aku tebus. Ya Allah, berilah kaum 'Ad hujan selama Engkau akan memberi mereka hujan."
Maka berlalulah iringan awan hitam, lalu ada suara yang berseru dari dalam awan tersebut, "Pilihlah!" Maka Qil mengisyaratkan tangannya ke arah suatu kumpulan awan yang berwarna hitam pekat. Kemudian diseru dari arah awan, "Terimalah awan ini dalam rupa debu dan angin yang sangat kuat, yang tiada menyisakan seorang manusia pun dari kaum 'Ad dapat hidup."
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa menurut berita yang sampai kepadaku tiadalah kadar angin yang dikirimkan kepada mereka melainkan sebesar lubang cincinku, dan mereka semuanya binasa.
Abu Wa'il mengatakan bahwa lalu Nabi Saw. membenarkan kisah tersebut. Dan tersebutlah apabila mereka mengirimkan delegasi yang terdiri dari seorang wanita dan seorang laki-laki, mereka mengatakan, "Janganlah kamu seperti delegasi (utusan) kaum 'Ad."
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam ibnu Majah, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-A'raf.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma'ruf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Abun Nadr pernah menceritakan hadis berikut dari Sulaiman ibnu Yasar, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat Rasulullah Saw. bilamana tertawa kelihatan langit-langitnya, sesungguhnya tertawa beliau hanyalah tersenyum. Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. apabila melihat mendung atau angin yang besar, maka terlihat ada perubahan pada roman muka beliau. Lalu Siti Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang merasa gembira bila mereka melihat awan karena adanya harapan akan turun hujan. Tetapi aku amati apabila engkau melihatnya, ada perasaan kurang senang di wajahmu." Maka Rasulullah Saw. menjawab:
Hai Aisyah, saya merasa khawatir bila di dalam awan itu terdapat azab, karena ada suatu kaum yang telah diazab melalui angin yang besar (awan), kaum itu melihat kedatangan azab tersebut, lalu mereka mengatakan, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Ibnu Wahb.,
Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Al-Miqdam ibnu Syuraih, dan ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. apabila melihat awan muncul di cakrawala langit dan arah mana pun, beliau meninggalkan pekerjaannya. Dan jika beliau berada di dalam salatnya, mengucapkan doa berikut:
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini.
Dan jika ternyata awan itu hilang, maka beliau memuji kepada Allah Swt. Jika hujan turun, maka beliau membaca doa:
Ya Allah, (jadikanlah hujan ini) hujan yang bermanfaat.
Jalur lain. Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar At-Tahir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Juraij menceritakan hadis berikut kepadanya dan Ata ibnu Abu Rabah, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bila ada angin bertiup sangat kuat, beliau mengucapkan doa berikut:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan dari apa yang Engkau kirimkan melaluinya. Dan aku berlindung kepada Engkau dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya serta keburukan dari apa yang Engkau kirimkan melaluinya.
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa apabila langit mendung, roman muka beliau berubah dan melangkah keluar dan masuk serta mondar-mandir. Dan apabila turun hujan, barulah beliau merasa tenang. Hal itu diketahui oleh Siti Aisyah r.a., lalu ia menanyakan kepada beliau tentang sikapnya itu. Maka beliau Saw. menjawab:
Hai Aisyah, barangkali hal itu seperti apa yang dikatakan oleh kaum 'Ad, "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami' (Al-Ahqaf: 24)
Kami telah menyebutkan kisah binasanya kaum 'Ad dalam tafsir surat Hud secara lengkap sehingga tidak perlu diulangi lagi.
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdan Ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Zakaria Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abu Malik ibnu Muslim Al-Mala'i, dari Mujahid dan Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Allah tidak membukakan angin terhadap kaum ‘Ad kecuali hanya semisal dengan lubang tempat cincin. Kemudian angin itu dikirimkan menuju daerah pedalaman mereka, lalu ke daerah perkotaan mereka. Dan ketika penduduk perkotaan melihat datangnya angin itu (yang berupa awan hitam), mereka mengatakan, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami sedang menuju ke lembah-lembah kami." Sedangkan penduduk pedalaman telah berada di dalam angin itu (terbawa terbang), lalu mereka ditimpakan kepada penduduk perkotaan hingga semuanya binasa. Angin itu memporak-porandakan kantung-kantung tempat mereka berada sehingga keluarlah angin itu dari celah-celah pintu-pintu tempat mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
Tafsir Ibnu Katsir
dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna bagi mereka sedikit jua pun, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokannya. (Al-Ahqaf: 26)
Yakni mereka telah diliputi oleh azab dan pembalasan yang dahulunya mereka dustakan dan mereka anggap mustahil kejadiannya. Dengan kata lain, maksud ayat ini ialah memperingatkan kepada orang-orang yang diajak bicara olehnya untuk bersikap hati-hati dan waspada, jangan meniru mereka, karena berakibat akan tertimpa azab dan pembalasan seperti apa yang telah Allah timpakan kepada mereka, yaitu azab di dunia dan akhirat.
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُم مِّنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).
Tafsir Ibnu Katsir
Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu. (Al-Ahqaf: 27)
Yakni penduduk kota Mekah. Allah telah membinasakan umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul Allah yang berada di sekitar Mekah, seperti kaum Ad. Kaum Ad tinggal di Al-Ahqaf di Hadramaut, yaitu negeri Yaman. Dan kaum Samud yang tempat tinggal mereka terletak antara Mekah dan negeri Syam. Demikian pula penduduk Saba yang terletak di negeri Yaman. Juga penduduk kota Madyan yang tempat tinggal mereka berada di tengah jalan yang biasa dilalui oleh penduduk Mekah menuju ke Gazzah (Palestina). Juga kaum Lut yang tempat tinggal mereka telah diubah menjadi danau, mereka (penduduk Mekah) biasa melewatinya pula.
Firman Allah Swt.:
dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang. (Al-Ahqaf: 27)
Yakni Kami telah menerangkan dan menjelaskannya kepada mereka.
فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً ۖ بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ ۚ وَذَٰلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Terjemahan
Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.
Tafsir Ibnu Katsir
supaya mereka kembali (bertobat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. (Al-Ahqaf: 27-28)
Yaitu mengapa sembahan-sembahan mereka itu tidak dapat menolong mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya?”
Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? (Al-Ahqaf: 28)
Maksudnya, pergi dari mereka di saat mereka memerlukan pertolongannya.
Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. (Al-Ahqaf: 28)
Yakni apa yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, yaitu menyembah tuhan-tuhan selain Allah. Sesungguhnya mereka telah merugi dan teramat kecewa karena menyembah banyak tuhan dan berpegang kepada sembahan-sembahan itu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ
Terjemahan
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Tafsir Ibnu Katsir
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid. Nanti akan disebutkan melalui riwayat Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa mereka terdiri dari tujuh jin dari jin penduduk Nasibin.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Attan, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan telah menceritakan kepada kami Imam Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah, bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ali ibnu Ahmad ibnu Abdan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Ismail Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. tidak pernah membacakan Al-Qur'an kepada jin dan tidak pula beliau melihat mereka. Rasulullah Saw. berangkat bersama segolongan sahabatnya menuju pasar Ukaz. Dan saat itu antara setan dan berita dari langit telah dihalang-halangi, karena langit telah dijaga oleh bintang-bintang yang menyala nyala yang melempari setan yang hendak mencuri-curi dengar dari berita langit, maka setan-setan pun kembali kepada kaumnya. Maka kaumnya bertanya, "Mengapa kalian?" Setan-setan itu menjawab, "Telah dihalang-halangi antara kami dan berita dari langit, dan dikirimkan bintang yang menyala-nyala mengejar kami." Kaumnya berkata, "Tiada yang menjadi penyebab kalian dihalang-halangi dari berita langit, melainkan telah terjadi sesuatu peristiwa. Maka berangkatlah kalian ke belahan timur dan barat bumi, lalu carilah penyebab yang menghalang-halangi kalian dari berita langit itu!" Maka berangkatlah mereka menjelajahi belahan timur dan barat bumi untuk mencari orang yang menjadi penyebab yang menghalang-halangi mereka dari berita langit. Serombongan jin berangkat menuju ke arah Tihamah yang saat itu Rasulullah Saw. sedang berada di Nakhlah dalam perjalanannya menuju pasar 'Ukaz. Rasulullah Saw. sedang melakukan salat Subuh mengimami para sahabatnya. Ketika jin-jin itu mendengar bacaan Al-Qur'an, maka mereka mendengarkannya, lalu mengatakan, "Demi Allah, inilah yang menjadi penyebab kalian dihalang-halangi dari berita langit." Dan ketika rombongan jin itu kembali kepada kaumnya, mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami (Al-Jin: 1-2) Dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an) " (Al-Jin: 1) Dan sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi Saw. hanyalah menceritakan tentang ucapan jin kepada kaumnya.
Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini dari Musaddad dengan lafaz yang semisal. Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syaiban ibnu Farukh, dari Abu Uwwanah dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam kitab tafsir melalui hadis Abu Uwwanah.
Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu jin dapat mendengarkan wahyu (mencuri-curi dengar dari berita langit), maka mereka mendengarkan satu kalimat, lalu mereka membubuhinya dengan sepuluh kalimat. Maka apa yang mereka dengar itu adalah benar dan apa yang mereka tambahkan itu adalah batil. Dan pada masa itu bintang-bintang masih belum dilemparkan kepada mereka. Tetapi ketika Rasulullah Saw. diutus, maka tidak sekali-kali seseorang dari mereka menempati tempat kedudukannya (di pengintaian), melainkan dilempar dengan panah yang berapi (bintang yang menyala-nyala) yang membakar semua yang dikenainya. Lalu mereka melapor kepada pemimpin mereka, yaitu Iblis. Maka Iblis berkata, "Ini tidak lain hanyalah karena ada sesuatu perkara yang terjadi." Lalu iblis menyebarkan bala tentaranya, dan tiba-tiba bala tentara iblis bersua dengan Nabi Saw. yang sedang salat di antara kedua Bukit Nakhlah. Lalu mereka mendatanginya, dan sepulang dari itu mereka menceritakan hal itu kepada iblis, lalu iblis berkata, "Itulah yang dimaksud dengan kejadian di bumi."
Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir masing-masing, bagian dari kitab sunnah masing-masing, telah meriwayatkan hadis ini melalui Israil dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ayyub, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa sesungguhnya Nabi Saw. tidak merasakan keberadaan mereka (jin-jin yang mendengarkan bacaannya) sebelum Allah Swt. menurunkan wahyu kepadanya yang menceritakan perihal mereka.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Ruman dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi kisah keberangkatan Nabi Saw ke Taif, seruan Nabi Saw. kepada mereka untuk menyembah Allah dan penolakan mereka terhadap seruannya. Lalu disebutkan kisah ini dengan panjang lebar, antara lain disebutkan sebuah doa yang baik yang dipanjatkan oleh Nabi Saw., yaitu:
Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatanku dan minimnya upayaku serta kecilnya diriku di mata orang lain (musyrik Mekah). Wahai Yang Maha Pemurah di antara para pemurah, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah, Engkaulah Tuhanku, lalu kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Apakah kepada musuh yang jauh yang kelak akan menghinaku ataukah kepada teman yang dekat yang Engkau serahkan urusanku kepadanya? Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli tetapi pemaafan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung kepada cahaya Zat-Mu yang menerangi semua kegelapan dan dapat memperbaiki urusan dunia dan akhirat, Janganlah Engkau turunkan murka-Mu kepadaku atau Engkau timpakan kepadaku murka-Mu, dan hanya kepada Engkaulah memohon rida hingga Engkau rida, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.
Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah Rasulullah Saw. meninggalkan Taif, beliau menginap di Nakhlah, lalu membaca sebagian dari Al-Qur'an di malam itu, dan jin dari penduduk Nasibin mendengarkan bacaannya ini memang benar, tetapi perkataan Muhammad ibnu Ka'b dalam kisahnya ini yang menyebutkan bahwa sesungguhnya pendengaran bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh jin adalah malam itu, masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Karena sesungguhnya pendengaran yang dilakukan oleh jin adalah pada permulaan wahyu sebagaimana yang disimpulkan dari hadis Ibnu Abbas r.a. yang telah disebutkan di atas, sedangkan keberangkatan Nabi Saw. ke Taif adalah sesudah pamannya meninggal dunia, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, seperti yang telah ditetapkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lainnya. Hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui.
Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Asim, dari Zur, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwajin-jin itu turun menemui Nabi Saw. yang saat itu sedang membaca Al-Qur'an di Lembah Nakhlah. Ketika mereka mendengar bacaannya, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengatakan kepada teman-temannya, "Diamlah!" Jumlah mereka adalah sembilan jin, yang salah satu dari mereka berupa zauba'ah (angin puyuh). Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al-Ahqaf: 29) sampai dengan firman-Nya: Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al-Ahqaf: 32)
Riwayat ini beserta riwayat yang pertama yang diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a. menunjukkan pengertian bahwa Rasulullah Saw. tidak merasakan kehadiran jin-jin itu dalam pertemuan kali itu. Sesungguhnya mereka (jin-jin itu) hanya mendengarkan bacaannya saja, lalu mereka kembali kepada kaumnya. Dan sesudah itu mereka mengirimkan delegasi mereka kepada Nabi Saw. serombongan demi serombongan dan delegasi demi delegasi, sebagaimana yang akan diceritakan oleh sebagian dari riwayat dan atsar yang akan kami kemukakan kemudian.
Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara berbarengan dari Abu Qudamah alias Ubaidillah ibnu Sa'id As-Sarkhasi, dari Abu Umamah Hammad ibnu Usamah, dari Mis'ar ibnu Kidam, dari Ma'an ibnu Abdur Rahman yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, "Siapakah yang memberitahukan kepada Nabi Saw. kehadiran jin di malam mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an (Nabi Saw.)?" Masruq menjawab, "Aku telah mendengar ayahmu (yakni Ibnu Mas'ud r.a.) mengatakan bahwa yang memberitahukan kepada beliau Saw. tentang kehadiran mereka (serombongan jin itu) adalah sebuah pohon (kurma)." Barangkali hal ini pada kejadian yang pertama, tetapi pada mulanya beliau Saw. tidak merasakan kehadiran mereka hingga pohonlah yang memberitahukan kepada beliau tentang kehadiran mereka. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Dan barangkali hal ini terjadi pada sebagian pertemuan yang terakhir, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Baihaqi mengatakan bahwa apa yang telah diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a., tiada lain permulaan jin mendengar bacaan Rasulullah Saw. dan mereka baru mengetahui keadaannya. Pada kali itu beliau tidak membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan tidak melihat mereka. Sesudah itu datanglah undangan jin kepadanya, maka barulah beliau membacakan kepada mereka Al-Qur'an dan menyeru mereka kepada Allah Swt. sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Asy-Sya'bi dan Ibnu Abu Zaidah, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Asy-Sya'bi, dari 'Alqamah yang mengatakan bahwa aku bertanya kepada Abdullah ibnu Mas'ud r.a., "Apakah Rasulullah Saw. membawa seseorang dari kalian di malam jin?" Ibnu Mas'ud r.a. menjawab, "Tiada seorang pun dari kami yang menemaninya, tetapi kami merasa kehilangan beliau di suatu malam di Mekah, maka kami mengatakan, 'Beliau diculik.' Aku merasa curiga, dan kami tidak dapat memikirkan apa yang harus kami perbuat."
Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa malam itu kami jalani dengan perasaan tidak menentu. Dan ketika malam menjelang Subuh atau di waktu sahur, tiba-tiba kami melihat beliau Saw. dalam kegelapan datang dari arah Hira. Lalu kami berseru, "Wahai Rasulullah!" Kemudian kami menceritakan kepadanya perihal kecemasan kami terhadap beliau selama beliau tidak bersama kami. Maka beliau Saw. menjawab:
Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan dari jin, maka aku temui mereka dan kubacakan (Al-Qur'an) kepada mereka.
Kemudian Nabi Saw. pergi dan memperlihatkan kepada kami bekas perapian mereka dan jejak-jejak mereka.
Asy-Sya'bi mengatakan bahwa para sahabat menanyakan kepada Rasulullah Saw. mengenai makanan yang dikonsumsi jin. Amir mengatakan bahwa mereka menanyakannya kepada Nabi Saw. di Mekah, dan para jin itu berasal dari jin yang ada di Jazirah Arabia. Maka Nabi Saw. menjawab:
Setiap tulang (hewan) yang disebutkan nama Allah (saat menyembelihnya) yang dibuang dari tangan kalian dalam keadaan masih ada dagingnya, dan setiap kotoran atau tahi ternak kalian. Lalu dalam sabda selanjutnya disebutkan: Maka janganlah kamu bersuci memakai keduanya (tulang dan kotoran hewan yang telah kering), karena sesungguhnya keduanya itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari makhluk jin.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Ali ibnu Hajar, dari Ismail ibnu Aliyyah dengan sanad yang semisal.
Imam Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Daud alias ibnu Abu Hindun, dari Amir yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud r.a., "Apakah ada seseorang dari kalian (para sahabat) yang menemani Rasulullah Saw. di malam jin?" Ibnu Mas'ud r.a. menjawab, "Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya."
Ibnu Mas'ud r.a. melanjutkan bahwa pada mulanya kami bersama Nabi Saw. di suatu malam. Tiba-tiba kami merasa kehilangan beliau, maka kami mencarinya di lembah-lembah dan lereng-lereng sekitar kami berada, hingga ada yang mengatakan bahwa beliau dibawa terbang dan ada pula yang mengatakan diculik. Malam itu kami jalani dengan penuh kecemasan, dan pada pagi harinya tiba-tiba muncullah beliau dari arah Hira.
Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, kami merasa kehilangan engkau, dan kami telah mencari engkau kemana-mana, tetapi kami tidak menjumpai engkau. Akhirnya kami jalani malam ini dengan penuh kegelisahan yang pernah dialami oleh suatu kaum." Beliau Saw. bersabda:
Telah datang kepadaku undangan dari jin, maka aku berangkat bersama mereka dan aku bacakan kepada mereka Al-Qur’an.
Maka Rasulullah Saw. membawa serta kami dan memperlihatkan kepada kami jejak mereka dan bekas perapian mereka. Para sahabat bertanya kepada beliau saw. tentang makanan yang dikonsumsi oleh jin, maka beliau Saw. menjawab:
Semua tulang hewan yang disebutkan nama Allah (saat menyembelihnya) yang berada di tangan kalian dalam keadaan masih ada dagingnya, dan semua kotoran atau tahi hewan ternak kalian. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Maka janganlah kalian beristinja (bersuci) dengan memakai keduanya, karena sesungguhnya keduanya adalah makanan saudara kalian.
Jalur lain diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a.
Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a. pernah mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
Tadi malam aku semalamam membacakan Al-Qur'an kepada jin sambil berdiri di Al-Hujun.
Jalur lain, menyebutkan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud ra di malam yang lain ikut bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdur Rahman ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami pamanku Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab, dari Abu Usman ibnu Syabbah Al-Khuza'i, salah seorang ulama penduduk Syam yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a. pernah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika masih di Mekah:
Barang siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan dengan jin malam ini, ia dapat ikut.
Maka tiada seorang pun dari mereka yang datang selain diriku (Ibnu Mas ud).
Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, "Lalu kami berangkat Ketika kami sampai di dataran yang palingtinggi di Mekah, maka Rasulullah Saw. membuat garis dengan kakinya dan memerintahkan kepadaku untuk duduk di garis itu.
Kemudian Nabi Saw. menjauh dariku dan mulai membaca Al-Qur'an Maka beliau dikerumuni oleh makhluk yang banyak sekali jumlahnya sehingga menghalang-halangi pandanganku untuk dapat melihat beliau Saw. dan aku pun tidak dapat mendengar lagi suaranya. Kemudian mereka bubar bagaikan kumpulan awan yang bergerak pergi sehingga hanya segolongan dari mereka (jin) yang masih ada bersama beliau.
Tetapi Rasulullah Saw. terkejut dengan tibanya waktu fajar, lalu beliau pergi buang air di tempat yang lapang, setelah itu beliau mendatangiku dan bertanya kepadaku, 'Kemanakah rombongan jin itu?' Aku menjawab 'Itulah mereka, wahai Rasulullah,' lalu Rasulullah Saw. memberi mereka tulang dan kotoran hewan yang telah kering sebagai bekal mereka Kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan memakai kotoran hewan yang telah kering atau tulang."
Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadis ini dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, dari Abu Zar'ah dan Wahb ibnu Rasyid, dari Yunus ibnu Yazid Al-Aili dengan sanad yang sama.
Imam Baihaqi telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab Dala'il-nya melalui hadis Abdullah ibnu Saleh juru tulis Al-Lais, dari Yunus dengan sanad yang sama. Ishaq ibnu Rahawaih telah meriwayatkan hal yang sama dengan hadis di atas, dari Jarir, dari Qabus ibnu Zabyan, dan ayahnya, dari Ibnu Mas'ud r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas Al-Hafiz AbuNa'im telah meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah, dari Sa'id ibnul Haris, dari Abul Ma'la, dari Ibnu Mas'ud r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.
Jalur lain. Abu Na’im mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan dan Iknmah, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Tamimah, dari Amr, barangkali dia mengatakan Al-Bakkali Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan, "Rasulullah Saw. pernah membawaku serta pergi, hingga sampailah kami di suatu tempat, lalu beliau membuat sebuah garis di tanah sebagai pembatas untukku seraya bersabda:
'Tetaplah engkau berada di luar garis ini, janganlah engkau keluar darinya; karena sesungguhnya jika engkau keluar darinya, niscaya engkau akan binasa (mati)'.
Lalu disebutkan hadis dengan panjang lebar yang di dalamnya terdapat hal yang sangat aneh.
Jalur lain. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan As-Saqafi bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Mas'ud r.a., "Aku mendengar berita bahwa engkau bersama Rasulullah Saw. di malam delegasi jin." Ibnu Mas'ud menjawab, "Benar." Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan bertanya, "Bagaimanakah ceritanya?" Maka Abdullah ibnu Mas'ud menceritakan hadis ini dan menyebutkan bahwa Nabi Saw. membuat pembatas untuknya berupa sebuah garis seraya bersabda:
Jangan kamu tinggalkan tempat ini!
Lalu ibnu Mas'ud r.a. menyebutkan bahwa ia melihat sekumpulan debu yang berwarna hitam, lalu menutupi diri Rasulullah Saw. dan kumpulan debu itu disingkirkannya sebanyak tiga kali. Ketika waktu sudah dekat fajar, Nabi Saw. mendatanginya dan bertanya, "Apakah engkau tidur?" Aku menjawab, "Tidak, demi Allah, sesungguhnya aku berkali-kali berniat akan meminta tolong kepada orang lain, hingga aku mendengar engkau memukul mereka dengan tongkatmu seraya berkata, "Duduklah kalian!" Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Seandainya kamu keluar dari garis ini, aku tidak dapat menjamin keselamatanmu bila ada sebagian dari mereka yang menyambarmu.
Kemudian Rasulullah Saw. bertanya, "Apakah engkau melihat sesuatu?" Aku menjawab, "Ya, aku melihat banyak kaum lelaki yang hitam mengenakan pakaian yang putih-putih." Rasulullah Saw. bersabda:
Mereka adalah jin dari Nasibin, mereka meminta kepadaku perbekalan, maka aku beri mereka bekal dengan tulang yang menghalang-halangi (jalan) atau kotoran (kambing) atau kotoran (unta).
Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu dapat mencukupi kebutuhan mereka?" Rasulullah Saw. menjawab:
Sesungguhnya mereka tidaklah menemukan tulang, melainkan mereka menemukan daging padanya saat memakannya; dan tidaklah pula kotoran hewan, melainkan mereka menemukan padanya biji-bijian sebagaimana yang dimakan oleh hewan itu. Maka jangan sekali-kali kalian bersuci saat selesai dari membuang air dengan tulang atau dengan kotoran (kambing yang sudah kering), atau dengan tahi (unta yang sudah kering).
Jalur lain. Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman As-Sulami dan Abu Nasr ibnu Qatadah, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad alias Yahya ibnu Mansur Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah alias Muhammad ibnu Ibrahim Al-Busyanji, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali ibnu Rabah, dari ayahnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membawaku pergi, lalu bersabda:
Sesungguhnya segolongan jin berjumlah lima belas jin, mereka adalah anak-anak saudara dan anak-anak sepaman (di kalangan mereka) telah datang kepadaku tadi malam (meminta) agar aku mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka.
Maka aku berangkat bersama beliau Saw. ke suatu tempat yang dituju, lalu beliau membuat sebuah garis untukku dan menyuruhku duduk di dalam garis itu serta bersabda:
Janganlah kamu keluar dari garis ini.
Aku semalaman di dalam garis itu hingga Rasulullah Saw. datang menemuiku bersamaan dengan datangnya waktu sahur, sedangkan di tangan beliau terdapat tulang yang masih terbungkus daging dan kotoran ternak yang telah kering, serta arang. Lalu beliau Saw. bersabda:
Apabila kamu pergi ke tempat buang air, janganlah kamu bersuci dengan memakai sesuatu pun dari benda-benda tadi.
Dan pada pagi harinya aku berkata, "Aku benar-benar akan memeriksa tempat Rasulullah Saw. tadi malam, lalu aku pergi ke tempat itu dan kulihat padanya bekas tempat mendekamnya enam puluh ekor unta.
Jalur lain. Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, dari Asy-Syamir ibnur Rayyan, dari Abul Jauza, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang telah menceritakan bahwa ia pergi bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin. Hingga ketika sampai di Al-Hujun, beliau membuat garis untukku sebagai pembatas. Kemudian beliau Saw. maju menemui mereka (para jin), maka mereka pun berdesak-desakan mengerumuni Nabi Saw. Lalu pemimpin mereka yang dikenal dengan nama Wazdan berkata, "Aku akan membubarkan mereka darimu." Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya aku tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah."
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Fazzarah Al-Absi, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid maula Amr ibnu Hurayyis, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa di malam pertemuan dengan jin, Nabi Saw. bersabda kepadanya: "Apakah kamu membawa air?" Aku menjawab, "Aku tidak punya air, tetapi aku membawa wadah yang berisikan minuman perasan anggur.” Maka Nabi Saw. bersabda, "Itu adalah buah yang baik dan air yang suci.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi serta Imam Ibnu Majah melalui Ibnu Zaid dengan sanad yang sama.
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lalai'ah, dari Qais ibnul Hajjaj, dari Hanasy As-San'ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin. Lalu Rasulullah Saw. bertanya, "Hai Abdullah, apakah engkau membawa air?" Abdullah ibnu Mas'ud r.a. menjawab, "Aku hanya membawa minuman perasan anggur di dalam wadahku." Nabi Saw. bersabda, "tuangkanlah kepadaku," lalu beliau berwudu dengannya. Setelah itu Nabi Saw. bersabda: Hai Abdullah, ini adalah minuman dan penyuci.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid(sendirian) melalui jalur ini; Imam Daruqutni telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dari Ibnu Mas'ud r.a. dengan lafaz yang sama.
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku ayahku dari Maina, dari Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan delegasi jin. Setelah pulang, Rasulullah Saw. bernapas lega. Maka aku bertanya, "Mengapa engkau?" Beliau menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa atas diriku, hai Ibnu Mas'ud."
Demikianlah yang kulihat di dalam kitab Al-Musnad secara ringkas. Tetapi Al-Hafiz Abu Na'im telah meriwayatkannya di dalam kitab Dala'ilun Nubuwwah; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepada kami ayahku, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari ayahnya, dari Maina, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa aku bersama Rasulullah Saw. di malam delegasi jin, lalu beliau bernapas, maka aku bertanya, "Mengapa engkau, ya Rasulullah?" Beliau saw. menjawab: Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas'ud. Ibnu Mas'ud berkata, "Angkatlah seorang khalifah pengganti." Nabi Saw. bertanya, "Siapa yang pantas?' Ibnu Mas'ud menjawab, "Abu Bakar." Nabi Saw. diam, kemudian meneruskan perjalanan sesaat, lalu menarik napas lagi, dan aku bertanya, "Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, mengapa engkau, ya Rasulullah?' Beliau menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas'ud." Aku berkata, "Kalau begitu, angkatlah seorang khalifah pengganti." Nabi Saw. bertanya,' "Siapa?" Aku menjawab, "Umar." Nabi Saw. diam dan melanjutkan perjalanannya sesaat, lalu menarik napas lagi, maka aku bertanya "Mengapa engkau?" Nabi Saw. menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku." Aku berkata, "Kalau begitu, angkatlah khalifah pengganti." Nabi Saw. bertanya, "Siapa?" Aku menjawab, "Ali ibnu Abu Talib." Nabi Saw. bersabda:
Ingatlah, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam kekuasaanNya; sesungguhnya jika kalian menaatinya, niscaya kalian semua benar-benar akan masuk surga.
Hadis ini garib sekali dan sudah selayaknya bila tidak dikenal; dan bila diumpamakan bahwa hadis ini sahih, maka pengertian lahiriahnya menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kedatangan mereka di Madinah kepada Rasulullah Saw., seperti yang akan kami jelaskan kemudian. Karena sesungguhnya di masa itulah akhir dari urusan ini, yaitu setelah Mekah ditaklukkan dan manusia serta jin masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, dan turunlah firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (An-Nasr: 1-3)
Surat inilah yang memberitahukan akan dekatnya masa kewafatan beliau, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas r.a. dalam pendapatnya, lalu disetujui oleh khalifah Umar r.a. Sehubungan dengan peristiwa ini ada sebuah hadis yang menerangkannya, yang akan kami sebutkan dalam tafsir surat yang bersangkutan. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abu Na'im telah meriwayatkan pula hadis ini dari At-Tabrani, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, dari Ali ibnul Husain ibnu Abu Burdah, dari Yahya ibnu Sa'id Al-Aslami, dari Harb ibnu Sabih, dari Sa'id ibnu Salamah, dari Abu Murrah As-San'ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas'ud r.a. Di dalam riwayat ini disebutkan kisah tentang pengangkatan khalifah; sanad hadis ini garib dan teksnya aneh.
Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa' id, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah,dari Ali ibnu Zaid, dari Abu Rafi', dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah Saw. membuat lingkaran garis disekitarnya, dan tersebutlah bahwa seseorang dari jin itu besarnya sama dengan bayangan sebuah pohon kurma. Lalu Nabi Saw. bersabda kepadanya: Janganlah kamu tinggalkan tempat ini dan ajarilah mereka (jin-jin) itu Kitabullah. Ketika Nabi Saw. melihat sekumpulan ternak, yang menurut Ibnu Mas'ud seakan-akan itu adalah mereka (jin), dan Nabi Saw. bersabda, "Apakah kamu membawa air?" Aku menjawab, "Tidak." Nabi Saw. bertanya, "Apakah kamu membawa perasan anggur?" Aku menjawab, "Ya." lalu beliau berwudu dengannya.
Jalur lain yang mursal.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu. (Al-Ahqaf: 29) Ikrimah mengatakan bahwa mereka berjumlah dua belas ribu jin, yang datang dari Al-Mausul. Maka Nabi Saw. bersabda kepada Ibnu Mas'ud r.a., "Tunggulah aku hingga aku datang kepadamu," lalu beliau Saw. membuat lingkaran garis dan bersabda, "Janganlah kamu tinggalkan tempat ini hingga aku kembali kepadamu." Ketika Ibnu Mas'ud r.a. merasa takut dengan mereka, hampir saja ia beranjak dari tempat itu kalau tidak ingat akan pesan Nabi Saw. Akhirnya ia menahan diri dan tidak meninggalkan tempat yang bergaris itu. Dan seusainya Nabi Saw. bersabda kepadanya: Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bersua lagi sampai hari kiamat.
Jalur lain yang juga berpredikat mursal.
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman Allah Swt.: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur'an. (Al-Ahqaf: 29) Telah diceritakan kepada kami bahwa mereka (jin) itu diberangkatkan untuk menemui Nabi Saw. dari Nainawi. Dan Nabi Saw. bersabda (kepada para sahabatnya): Sesungguhnya aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin, maka siapakah di antara kalian yang mau ikut denganku? Mereka menundukkan kepalanya, lalu Nabi Saw. menawari mereka dan mereka hanya menundukkan kepalanya, kemudian ketiga kalinya Nabi Saw. menawari mereka tetapi mereka menundukkan kepalanya. Maka seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang itu (Ibnu Mas'ud) mau menemanimu," Maka Ibnu Mas'ud r.a. saudara Huzail mengikutinya. Nabi Saw. sampai di sebuah lereng yang dikenal dengan nama Lereng Al-Hujun, lalu membuat garis lingkaran sekitar Ibnu Mas'ud r.a. agar Ibnu Mas'ud tetap berada di dalamnya. Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan bahwa lalu ia merasa takut dan melihat bayangan seperti burung elang berjalan (dalam jumlah yang banyak), dan ia mendengar suara kegaduhan yang keras, hingga ia merasa khawatir dengan keselamatan Nabi Saw., kemudian Nabi Saw. terdengar membaca Al-Qur'an. Ketika Rasulullah Saw. kembali kepadanya, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah suara ribut-ribut yang kudengar tadi?" Rasulullah Saw. menjawab: Mereka bersengketa sehubungan dengan kasus pembunuhan, maka diputuskan di antara mereka dengan benar (adil).
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Semua jalur yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. pergi menemui jin dengan sengaja, lalu membacakan (mengajarkan) Al-Qur'an kepada mereka, dan menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt. Dan Allah mensyariatkan bagi mereka melalui lisan Nabi Saw. semua ketentuan hukum yang diperlukan oleh mereka pada masa itu.
Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaan kejadiannya mereka mendengar bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh Nabi Saw., sedangkan beliau sendiri tidak menyadari kehadiran mereka, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Abbas r.a. Kemudian sesudah itu mereka mengirimkan delegasinya kepada Rasulullah Saw., seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Mas'ud r.a.
Adapun sahabat Ibnu Mas'ud r.a. tidaklah bersama Rasulullah Saw. saat beliau berbicara dengan jin dan menyeru mereka untuk menyembah Allah, melainkan ia berada jauh dari Nabi Saw. Dan tiada seorang pun yang menemani Rasulullah Saw. selain dia sendiri, sekalipun demikian ia tidak menyaksikan saat pembicaraan Rasulullah Saw. dengan mereka . Demikianlah menurut analisis yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi.
Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaannya beliau berangkat menemui mereka tanpa ditemani oleh seorang pun, baik Ibnu Mas'ud maupun yang lainnya, seperti yang tertangkap dari makna lahiriah hadis yang disebutkan dalam riwayat pertama melalui Imam Ahmad dan ada pada Imam Muslim. Kemudian sesudah itu beliau Saw. keluar bersama Ibnu Mas'ud di malam yang lain, seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Abu Hatim pada tafsir firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku " (Al-Jin: 1) Melalui hadis Ibnu Juraij, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Juraij mengatakan, Abdul Aziz ibnu Umar telah mengatakan bahwa adapun jin yang menemui Nabi Saw. di Nakhlah, maka mereka dari Nainewi, dan jin yang menemui beliau di Mekah (Al-Hujun) berasal dari Nasibin. Lalu ditakwilkan oleh Imam Baihaqi bahwa Abdul Aziz ibnu Umar mengatakan, "Maka kami jalani malam ini dengan perasaan yang tidak menentu yang pernah dialami oleh suatu kaum (karena merasa kehilangan Nabi Saw.)." Berlainan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Mas'ud r.a. dan yang lainnya yang mengetahui keluarnya Nabi Saw. untuk menemui jin; tetapi takwil ini jauh dari kenyataan, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Abdullah Al-Adib, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Ismaili, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepadaku Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Yahya, dari kakeknya (yakni Sa'id ibnu Amr) yang telah mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. pernah mengikuti Rasulullah Saw. seraya membawa wadah untuk air wudunya dan keperluannya. Dan pada suatu hari Abu Hurairah r.a. menyusul Nabi Saw., lalu bertanya, "Siapa Anda?" Abu Hurairah menjawab, "Saya Abu Hurairah." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Berikanlah kepadaku beberapa buah batu untuk dipakai istinja (bersuci), tetapi jangan kamu berikan kepadaku tulang dan jangan pula kotoran unta yang telah kering." Abu Hurairah mengatakan bahwa lalu ia mencari batu-batuan, kemudian dimasukkan ke dalam kainnya dan ia letakkan batu-batuan itu di dekat Nabi Saw. Setelah Nabi Saw. selesai dari bersucinya dan bangkit, maka aku (Abu Hurairah) mengikutinya, lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa dengan tulang dan kotoran hewan yang sudah kering (tidak boleh dipakai untuk beristinja)?" Rasulullah Saw. bersabda:
Telah datang kepadaku utusan jin dari Nasibin. mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah Swt. Untuk mereka, bahwa semoga tidak sekali-kali mereka menjumpai kotoran hewan dan tidak pula tulang hewan melainkan mereka menjumpai makanan padanya.
Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Musa ibnu Ismail, dari Amr ibnu Yahya berikut sanadnya mirip dengan hadis di atas. Hal ini menunjukkan di samping hadis yang di atas, bahwa mereka (jin) mengirimkan delegasi sesudah itu kepada Nabi Saw. Dan nanti akan kami kemukakan hal-hal yang menunjukkan tentang adanya delegasi jin yang berkali-kali menemui beliau Saw.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. selain riwayatnya yang telah disebutkan di atas melalui berbagai jalur yang baik. Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Arabi, dari Ikrimah, dari ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin. (Al-Ahqaf: 29), hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa jumlah mereka ada tujuh jin dari penduduk Nasibin, lalu Rasulullah Saw. mengangkat mereka menjadi utusannya kepada kaum masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas r.a. telah meriwayatkan dua kisah yang berlainan kejadiannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki yang senama dengannya, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin. (Al-Ahqaf: 29), hingga akhir ayat. Mujahid mengatakan bahwa mereka terdiri dari tujuh jin; tiga jin di antara mereka dari Harran, dan empat jin dari mereka dari Nasibin. Nama mereka adalah Hissi, Hasa, Mansa, Sasir, Nasir, Al-Ardubian, dan Al-Ahtam.
Abu Hamzah As-Samali menyebutkan bahwa rombongan jin ini dikenal dengan sebutan Bani Syisban, mereka adalah jin yang paling banyak bilangannya dan paling terhormat nasabnya; bala tentara iblis sebagian besarnya terdiri dari kalangan mereka.
Sufyan Asu-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dariZar, dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwa mereka terdiri dari sembilan jin, yang salah satunya adalah (berupa) Zauba 'ah (angin puyuh) yang mendatangi Nabi Saw. dari pohon kurma.
Dalam riwayat terdahulu telah disebutkan bahwa mereka berjumlah lima belas jin. Menurut riwayat yang lainnya, jumlah mereka enam puluh jin yang berkendaraan unta. Dalam riwayat terdahulu telah disebutkan bahwa nama pemimpin mereka adalah Wardan. Menurut pendapat yang lainnya lagi mereka terdiri dari tiga ratus jin. Dan dalam riwayat yang lalu dari Ikrimah dikatakan bahwa jumlah mereka adalah dua belas ribu jin. Barangkali perbedaan riwayat ini menunjukkan adanya kejadian yang berulang-ulang dalam pengiriman delegasi mereka kepada Rasulullah Saw.
Hal yang menunjukkan adanya pengulangan tersebut adalah apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa Salim pernah bercerita kepadanya dari Abdullah ibnu Umar r.a. yang mengatakan, "Tidak sekali-kali aku mendengar Umar r.a. (ayahnya) mengatakan sesuatu yang menurut dugaanku berpendapat lain kecuali keadaan hal itu sesuai dengan apa yang dikatakannya." Ketika Umar r.a. sedang duduk, tiba-tiba lewatlah seorang lelaki yang tampan, lalu Umar berkata, "Kalau tidak salah, lelaki ini dahulu di masa Jahiliah memeluk Islam atau dia adalah tukang tenung (peramal) mereka. Panggillah lelaki itu untuk menghadap kepadaku!"
Maka lelaki itu dipanggil ke hadapannya dan mengatakan perihal dirinya di masa silam, lalu berkata, "Aku belum pernah merasa bahagia seperti sekarang sebagai seorang muslim." Umar berkata, "Aku akan menahanmu kecuali jika engkau bercerita kepadaku tentang masa lalumu."
Lelaki itu bercerita, "Aku dahulu di masa Jahiliah menjadi tukang tenung mereka." Umar bertanya, "Apakah hal yang sangat menakjub-kanmu yang didatangkan oleh jin yang menjadi temanmu?" Lelaki itu menjawab, "Ketika aku sedang berada di pasar di suatu hari, tiba-tiba jin datang kepadaku dengan roman muka yang ketakutan, lalu berkata: 'Tidakkah engkau melihat kejahatan dan keputusasaan jin setelah dijungkirkan ia lari terbirit-birit memacu unta kendaraannya'?”
Umar berkata, "Dia benar." (Lelaki itu melanjutkan), "Ketika aku sedang tidur di dekat berhala-berhala mereka, tiba-tiba datanglah seorang lelaki membawa anak sapi, lalu ia menyembelihnya (sebagai kurban berhala-berhala mereka), dan terdengarlah suarajeritan dari anak sapi itu, jeritan sangat keras yang belum pernah kudengar sebelumnya. Jeritan itu mengatakan, 'Hai Julaih, suatu perkara yang hebat telah terjadi, yaitu seorang lelaki yang fasih mengucapkan kalimat tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah'."
Maka kaum yang ada bangkit, dan aku sendiri berkata, "Aku tidak akan pergi sebelum mengetahui dengan jelas hal yang melatarbelakangi kejadian ini." Kemudian terdengar lagi seruan yang mengatakan, "Hai Julaih, suatu urusan besar terjadi." Seorang lelaki fasih mengatakan , "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah." Maka tidak lama kemudian dikatakan bahwa telah ada seorang nabi. Demikianlah menurut teks hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.
Imam Baihaqi meriwayatkan hadis ini melalui Ibnu Wahb dengan lafaz yang semisal. Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa riwayat ini mengandung takwil bahwa Umar sendirilah yang mendengar suara jeritan dari anak lembu itu yang disembelih. Hal yang sama disebutkan pula dengan jelas di dalam suatu riwayat yang bersumber dari Umar r.a. Tetapi kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa si tukang tenunglah yang menceritakan hal tersebut mengenai kisah mimpinya dan apa yang didengarnya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Analisis yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi ini cukup beralasan, dan lelaki tersebut adalah Sawad ibnu Qarib. Saya telah menyebutkan perihalnya di dalam Sirah Umar r.a. Bagi yang menginginkan keterangan yang lebih lengkap dipersilahkan untuk merujuk ke kitab tersebut.
Al-Hafiz Abu Na'im telah meriwayatkannya melalui hadis Baqiyyah ibnul Walid. lelah menceritakan kepadaku Narrtir ibnu Zaid Al-Qanbur, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Quhafah ibnu Rabi'ah, telah menceritakan kepadaku Az-Zubair ibnul Awwam r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. menjadi imam kami dalam salat Subuh di masjid Madinah. Setelah selesai, beliau Saw. bertanya, "Siapakah di antara kalian yang ikut denganku menemui delegasi jin malam ini?" Semua kaum yang hadir diam. Nabi Saw. mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali. Akhirnya beliau Saw. berlalu di hadapanku dan memegang tanganku. Maka aku berjalan bersamanya hingga sampailah kami di daerah pegunungan Madinah, lalu kami menempuh jalan yang lapang. Tiba-tiba bersualah kami dengan banyak kaum lelaki yang tinggi-tinggi seakan-akan tinggi mereka seperti tombak, sedangkan kain yang mereka pakai dililitkan ke belakang melalui kedua kaki mereka. Ketika aku melihat mereka, tubuhku bergetar karena takut. Kemudian disebutkan hal yang semisal dengan hadis Ibnu Mas'ud yang telah disebutkan di atas. Dan hadis ini garib, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abu Na'im mengatakan bahwa As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Asy-Sya'bi, dari seorang lelaki dari Saqif hal yang semisal dengan hadis di atas. Dan Abdullah ibnu Ahmad serta Az-Zahrani telah meriwayatkan dari Safwan ibnul Mu'attal, dialah yang turun dan yang mengubur ular tersebut di antara para sahabat. Mereka mengatakan bahwa ular itu adalah salah satu jin di antara sembilan jin yang pernah datang kepada Rasulullah Saw. mendengarkan bacaan Al-Qur'annya.
Abu Na'im telah meriwayatkan melalui hadis Al-Lais ibnu Sa'd, dari Abdul Aziz ibnu Abu Salamah Al-Majisyun, dari pamannya, dari Mu'az ibnu Abdullah ibnu Ma'mar yang telah menceritakan bahwa ketika ia berada di hadapan Usman ibnu Affan r.a., datanglah seorang lelaki menemuinya, lalu mengatakan, "Hai AmiruI Mu’minin, sesungguhnya ketika aku berada di padang sahara." Lalu ia menyebutkan bahwa ia melihat dua ekor ular berkelahi, kemudian salah seekornya membunuh yang lainnya. Ia melanjutkan bahwa lalu ia pergi melihat ke tempat perkelahian kedua ular itu. Ternyata ia menjumpai banyak ular yang terbunuh. Dan dari salah seekornya tercium bau minyak kesturi, lalu ia menciumnya seekor demi seekor sehingga menjumpai ular kuning yang merupakan sumber dari bau kesturi itu. Ularnya agak kecil, lalu ular itu dibungkusnya dengan kain serbannya dan ia kubur.
Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa ketika ia melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki, tiba-tiba ia mendengar suara yang menyerukan, "Hai Abdullah, sesungguhnya engkau telah bertindak benar, ular-ular tadi adalah jin dari Bani Syu'aiban dan Bani Qais. Mereka berperang, dan di antara yang terbunuh adalah seperti yang kamu lihat sendiri. Salah seekor darinya yang kamu kubur adalah yang mati syahid, dia adalah salah satu jin yang pernah mendengar wahyu dari Rasulullah Saw."
Maka Usman berkata kepada lelaki itu, "Jika kamu benar dalam kisahmu itu, maka sesungguhnya engkau telah menyaksikan peristiwa yang ajaib. Dan jika engkau dusta, maka kemudaratan dustamu menimpa dirimu."
Firman Allah Swt.:
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin yang mendengarkan Al-Qur'an; maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), lalu mereka berkata, "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” (Al-Ahqaf: 29)
Yakni dengarkanlah bacaan ini dengan penuh perhatian, ini menggambarkan etika dan sopan santun mereka kepada apa yang didengarnya.
Al-Hafiz Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imam Abut Tayyib Sahl ibnu Muhammad ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Muhammad ibnu Abdullah Ad-Daqqaq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim Al-Busyanji, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Zuhair ibnu Muhammad Al-Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca surat Ar-Rahman hingga selesai, kemudian beliau bersabda: Mengapa aku lihat kalian diam, sungguh jin lebih baik daripada kalian dalam hal jawabannya, karena tidak sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini, yaitu firman-Nya, "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” Melainkan mereka menjawab, "Tiada sesuatu pun dari tanda kebesaran atau nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan kami, segala puji bagi Engkau.
Firman Allah Swt.:
Ketika pembacaan telah selesai. (Al-Ahqaf: 29)
Yakni telah rampung dan selesai, semakna dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
Apabila telah ditunaikan (diselesaikan) salat itu. (Al-Jumu’ah: 10)
Maka Dia menyelesaikannya menjadi tujuh langit dalam dua masa. (Fushshilat: 12)
Firman Allah Swt:
Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu. (Al-Baqarah: 200)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ}
mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al-Ahqaf: 29)
Yakni mereka kembali kepada kaumnya dan memberikan peringatan kepada mereka sesuai dengan apa yang mereka dengar dari bacaan Rasulullah Saw.
Pengertian ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ}
agar mereka memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)
Tersimpulkan dari makna surat Al-Ahqaf ayat 29 ini bahwa di kalangan makhluk jin hanya terdapat pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari kalangan mereka. Dan memang tidak diragukan bahwa Allah Swt. tidak pernah mengirimkan seorang rasul pun kepada jin dan kalangan mereka sendiri, karena ada firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan seorang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)
{وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ}
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (Al-Furqan: 20)
Dan firman Allah Swt. tentang Al-Khalil Nabi Ibrahim a.s.:
{وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ}
dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya (Al-Ankabut: 27)
Setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. sesudah Ibrahim a.s. adalah dari keturunannya. Adapun mengenai firman Allah Swt. yang disebutkan di dalam surat Al-An'am, yaitu:
{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ}
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri? (Al-An'am: 130)
Makna yang dimaksud ialah keseluruhan dari kedua makhluk itu, yang pengertiannya ditujukan kepada salah satu dari kedua jenis tersebut, yaitu manusia. Seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:
{يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ}
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (Ar-Rahman: 22)
Yakni salah satunya.
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ
Terjemahan
Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka berkata, "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa." (Al-Ahqaf: 30)
Mereka tidak menyebutkan Isa karena Isa a.s. diturunkan kepadanya kitab Injil yang isinya hanya mengandung nasihat-nasihat, hal-hal keutamaan, tetapi sedikit mengandung perkara halal dan haram. Pada hakikatnya merupakan syariat yang menyempurnakan kitab Taurat, dan hal ini berarti yang dipegang adalah kitab Taurat. Karena itulah jin mengatakan, "Yang diturunkan sesudah Musa."
Hal yang sama telah dikatakan oleh Waraqah ibnu Naufal ketika Nabi Saw. menceritakan kepadanya kisah turunnya Jibril a.s. pada yang pertama kali, lalu Waraqah ibnu Naufal berkata, "Beruntunglah, dia adalah An-Namus (malaikat) yang pernah datang kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku dapat hidup sampai di masa itu dan dalam keadaan kuat."
yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. (Al-Ahqaf: 30)
Yaitu kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.
Firman Allah Swt. menyitir kata-kata jin:
lagi memimpin kepada kebenaran. (Al-Ahqaf: 30)
Yakni dalam hal akidah dan pemberitaan.
dan kepada jalan yang lurus. (Al-Ahqaf: 30)
dalam beramal. Karena sesungguhnya Al-Qur'an itu mengandung dua perkara, yaitu berita dan perintah. Beritanya benar dan perintahnya adil, seperti disebutkan dalam firman-Nya:
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. (Al-An'am: 115)
dan Allah Swt. telah berfirman:
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar. (At-Taubah: 33)
Petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat dan agama yang benar artinya amal yang saleh. Demikianlah kata jin yang disitir firman-Nya: lagi memimpin kepada kebenaran. (Al-Ahqaf: 30) dalam hal akidah (keyakinan). dan kepada jalan yang lurus. (Al-Ahqaf: 30) dalam hal amal perbuatan.
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Terjemahan
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.
Tafsir Ibnu Katsir
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah. (Al-Ahqaf: 31)
Makna ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus kepada dua makhluk, jin dan manusia, mengingat Nabi Saw. menyeru mereka untuk menyembah Allah dan membacakan kepada mereka Al-Qur'an yang di dalamnya terkandung perintah dan taklif buat kedua jenis makhluk ini; juga mengandung janji dan ancaman, yaitu surat Ar-Rahman. Untuk itulah maka disebutkan: terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya. (Al-Ahqaf: 31)
Adapun firman Allah Swt.:
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu. (Al-Ahqaf: 31)
Menurut suatu pendapat, kata min dalam ayat ini merupakan zaidah (tambahan), tetapi pendapat ini masih diragukan karena penambahannya dalam kalam yang isbat (positif) jarang terjadi. Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya huruf min di sini merupakan huruf asal, yaitu bermakna tab'id (sebagian).
dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (Al-Ahqaf: 31)
Maksudnya, melindungi kalian dari azab-Nya yang pedih. Sebagian ulama menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa jin yang mukmin itu tidak dapat masuk surga. Dan bahwa balasan bagi yang saleh dari kalangan mereka ialah diselamatkan dari azab neraka pada hari kiamat. Karena itulah mereka mengatakan sehubungan dengan ungkapan ini, bahwa ini adalah ungkapan diplomasi dan mubalagah. Seandainya bagi mereka ada balasan pahala karena keimanan mereka, lebih dari apa yang telah disebutkan, pastilah mereka pun akan menyebutkannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah menerima hadis dari Jarir, dari Lais, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa jin yang mukmin tidak dapat masuk surga, karena mereka adalah keturunan iblis, dan keturunan iblis itu tidak dapat masuk surga.
Tetapi sebenarnya jin yang mukmin sama dengan manusia yang mukmin, yakni mereka dimasukkan ke dalam surga. Seperti yang dianut oleh Mazhab segolongan ulama Salaf, yang sebagian dari mereka memperkuat pendapatnya dengan dalil firman Allah Swt. yang mengatakan:
tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. (Ar-Rahman: 56 dan 74)
Akan tetapi, penyimpulan dalil ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Dan dalil yang lebih baik daripada itu adalah firman Allah Swt. yang menyebutkan:
dan bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannya ada dua surga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 46-47)
Allah Swt. telah menganugerahkan kepada dua jenis makhluk-Nya pahala surga bagi mereka yang berbuat baik dari kalangan keduanya. Dan jin telah menjawab ayat ini dengan ungkapan rasa syukur yang lebih kuat daripada manusia. Mereka mengatakan, "Tiada sesuatu pun dari tanda-tanda kebesaran dan nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji."
Dan Allah Swt. tidak sekali-kali menjanjikan pahala bagi mereka yang kemudian tidak mereka terima. Sesungguhnya apabila Allah membalas jin yang kafir dengan neraka sebagai keadilan dari-Nya, maka terlebih lagi bila Dia membalas jin yang mukmin dengan surga sebagai karunia dari-Nya.
Dan dalil lainnya yang menunjukkan kepada pengertian di atas adalah keumuman makna yang terkandung di dalam firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal (Al-Kahfi: 107)
Dan ayat-ayat lainnya yang semakna cukup banyak. Kami telah membahas masalah ini secara rinci dalam karya tulis yang lain.
Surga yang dijanjikan ini yang terus-menerus penuh dengan karunia dari-Nya hingga Dia menciptakan baginya makhluk yang baru, mengapa tidak layak bila dihuni oleh orang yang beriman kepada-Nya dan beramal saleh karena-Nya. Dan apa yang disebutkan oleh mereka dalam tafsir ayat ini yang menyebutkan balasan keimanan —yaitu dihapuskan dosa-dosanya dan diselamatkan dari azab yang pedih— memastikan yang bersangkutan dimasukkan ke dalam surga. Karena sesungguhnya di akhirat itu tidak lain hanyalah ada surga atau neraka. Barang siapa yang diselamatkan dari neraka, pasti dimasukkan ke dalam surga.
Dan belum pernah sampai kepada kami suatu nas pun, baik yang sarih (jelas) maupun yang tegas dari Pentasyri', yang menyatakan bahwa jin yang beriman tidak dapat masuk surga, sekalipun mereka diselamatkan dari azab neraka. Seandainya pendapat tersebut benar, tentulah kami pun akan mengatakannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Dan ini Nabi Nuh a.s. berkata kepada kaumnya, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:
Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. (Nuh: 4)
Tidak diperselisihkan lagi bahwa orang-orang yang beriman dari kalangan kaumnya dimasukkan ke dalam surga, maka demikian pula halnya dengan mereka (jin).
Tetapi sehubungan dengan jin, banyak pendapat yang garib menceritakannya. Disebutkan dari Unu;r ibnu Abdul Aziz r.a. bahwa mereka (jin) tidak dapat memasuki kehidupan yang mewah di dalam surga. Sesungguhnya mereka hanya menempati taman dan daerah sekitarnya. Dan di antara ulama ada yang mengira bahwa mereka (jin) berada di dalam surga dapat dilihat oleh Bani Adam, tetapi kebalikannya mereka tidak dapat melihat Bani Adam, sebagai kebalikan dari keadaan mereka ketika di dunia. Dan sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa di dalam surgajin tidak makan dan tidak pula minum, melainkan diilhamkan kepada mereka bacaan tasbih, tahmid, dan taqdis sebagai ganti dari makanan dan minuman; sama halnya dengan para malaikat, karena sesungguhnya mereka sejenis dengannya.
وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Terjemahan
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi. (Al-Ahqaf: 32)
Bahkan kekuasaan Allah mencakup dan meliputi mereka.
dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. (Al-Ahqaf: 32)
Yakni tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab
Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al-Ahqaf: 32)
Ini mengandung ancaman dan peringatan; jin menyeru kepada kaumnya untuk menyembah Allah dengan cara targib dan tarhib (anjuran dan peringatan), karena itulah seruannya itu berhasil terhadap sebagian besar dan mereka, dan mereka datang kepada Rasulullah Saw. delegasi demi delegasi, seperti yang telah disebutkan di atas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Terjemahan
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Tafsir Ibnu Katsir
bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya. (Al-Ahqaf: 33)
Yakni tidak susah payah dalam menciptakannya, bahkan hanya tinggal mengatakan terhadapnya, "Jadilah kamu!" Maka jadilah ia tanpa dapat dicegah atau ditolak, melainkan tunduk patuh memenuhi perintah-Nya dengan rasa takut. Bukankah Tuhan yang demikian dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati? Semakna dengan apa yang telah disebutkan oleh firman Allah Swt. dalam ayat lain:
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu’min: 57)
Karena itulah dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:
Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Ahqaf: 33)
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Terjemahan
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (dikatakan kepada mereka): "Bukankah (azab) ini benar?" Mereka menjawab: "Ya benar, demi Tuhan kami". Allah berfirman "Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar".
Tafsir Ibnu Katsir
Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (dikatakan kepada mereka), "Bukankah (azab) ini benar?” (Al-Ahqaf: 34)
Dikatakan hal ini kepada mereka dengan nada kecaman, "Bukankah azab ini benar, apakah ini sihir ataukah kalian tidak melihat?'
Mereka menjawab, "Ya benar, demi Tuhan kami.” (Al-Ahqaf: 34)
Yakni tiada jalan lain bagi mereka kecuali mengakui kebenarannya.
Allah berfirman, "Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar.” (Al-Ahqaf: 34)
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ
Terjemahan
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar. (Al-Ahqaf: 35)
Yaitu bersabar dan berteguh hati dalam menghadapi kaum masing-masing yang mendustakan mereka.
Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan jumlah ulul 'azmi ini dengan perbedaan yang cukup banyak. Tetapi menurut pendapat yang paling terkenal, mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan penutup semua para nabi (yaitu Nabi Muhammad Saw.). Allah Swt. telah mewahkan nama-nama mereka di antara nabi-nabi lainnya dalam dua ayat yang terdapat di dalam surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.
Dapat pula ditakwilkan bahwa yang dimaksud dengan ulul 'azmi adalah semua rasul. Berdasarkan pengertian ini, berarti kata min yang terdapat dalam ayat ini adalah untuk menerangkan jenis. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hajjaj Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Hayyan, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Abbad, telah menceritakan kepada kami Mujalid ibnu Sa'id, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Aisyah r.a. pernah menceritakan kepadanya hadis berikut: Bahwa Rasulullah Saw. melakukan puasanya terus-menerus, lalu berbuka. Kemudian berpuasa lagi terus-menerus, lalu berbuka. Kemudian berpuasa lagi terus-menerus, lalu bersabda: Hai Aisyah, sesungguhnya dunia itu tidak layak bagi Muhammad dan juga bagi keluarga Muhammad. Hai Aisyah, sesungguhnya Allah tidak rela terhadap ulul 'azmi dari para rasul kecuali menghendaki dari mereka sabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai dan teguh hati dalam menghadapi kesenangan dunia. Kemudian Dia tidak rela dariku kecuali Dia membebankan kepadaku apa yang telah Dia bebankan kepada mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman, "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (Al-Ahqaf: 35). Dan sesungguhnya aku, demi Allah, benar-benar bersabar sebagaimana para rasul ulul 'azmi bersabar dengan sekuat kemampuanku, dan tiada kekuatan (dalam mengerjakan ketaatan) kecuali hanya dengan (pertolongan) Allah.
Firman Allah Swt.:
dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. (Al-Ahqaf: 35)
Yakni janganlah kamu meminta agar azab ditimpakan kepada mereka dengan segera. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. (Al-Muzzammil: 11)
Karena itu, beri tangguhlah orang-orang kafir itu, yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar. (At-Tariq: 17)
Adapun firman Allah Swt.:
Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Al-Ahqaf: 35)
Semakna dengan firman-Nya:
Pada hari mereka melihat hari berbangku itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (An-Nazi'at: 46)
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. (Yunus: 45)
Adapun firman Allah Swt.:
(Inilah) suatu pelajaran yang cukup. (Al-Ahqaf: 35)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa ayat ini mengandung dua takwil, salah satunya ialah mengandung makna bahwa masa tinggal itu adalah masa yang cukup. Makna yang lain ialah bahwa Al-Qur'an ini adalah pelajaran yang cukup.
Firman Allah Swt.:
maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al-Ahqaf:35)
Artinya, tiada yang dibinasakan oleh Allah kecuali hanyalah orang yang binasa. Ini merupakan keadilan dari-Nya, yaitu bahwa Dia tidak mengazab kecuali hanya orang-orang yang berhak mendapat azab. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Tidak ditemukan hasil untuk kata kunci tersebut.