سُورَةُ الصَّافَّاتِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَالصَّافَّاتِ صَفًّا
Terjemahan
Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya],
Tafsir Ibnu Katsir
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Masruq, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, As-Saddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
Qatadah mengatakan bahwa para malaikat bersaf-saf di langit.
Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fadil,dari Abu Malik Al-Asyja'i, dari Rib'i dari Huzaifah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda: Kami diberi keutamaan di atas manusia dengan tiga perkara, yaitu saf kami dijadikan seperti 'saf para malaikat, bumi ini semuanya dijadikan bagi kami sebagai masjid, dan dijadikan bagi kami tanahnya sarana bersuci bila kami tidak menjumpai air.
Imam Muslim, telah meriwayatkan pula bersama Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah melalui hadis Al-A'masy:
dari Al-Musayyab ibnu Rafi', dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Tidakkah kalian bersaf sebagaimana para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka?” Kami bertanya, "Bagaimanakah para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka?” Beliau Saw. bersabda, "Mereka menyempurnakan saf terdepan dan berhimpitan sejajar di dalam saf (mereka)."
As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan sehubungan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:2) Bahwa para malaikat tersebut adalah yang ditugaskan untuk menggiring awan (hujan).
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:2) Yakni hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur'an. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Malik, dari Zaid ibnu Aslam.
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
Terjemahan
dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),
Tafsir Ibnu Katsir
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Masruq, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, As-Saddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
Qatadah mengatakan bahwa para malaikat bersaf-saf di langit.
Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fadil,dari Abu Malik Al-Asyja'i, dari Rib'i dari Huzaifah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda: Kami diberi keutamaan di atas manusia dengan tiga perkara, yaitu saf kami dijadikan seperti 'saf para malaikat, bumi ini semuanya dijadikan bagi kami sebagai masjid, dan dijadikan bagi kami tanahnya sarana bersuci bila kami tidak menjumpai air.
Imam Muslim, telah meriwayatkan pula bersama Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah melalui hadis Al-A'masy:
dari Al-Musayyab ibnu Rafi', dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Tidakkah kalian bersaf sebagaimana para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka?” Kami bertanya, "Bagaimanakah para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka?” Beliau Saw. bersabda, "Mereka menyempurnakan saf terdepan dan berhimpitan sejajar di dalam saf (mereka)."
As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan sehubungan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:2) Bahwa para malaikat tersebut adalah yang ditugaskan untuk menggiring awan (hujan).
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:2) Yakni hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur'an. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Malik, dari Zaid ibnu Aslam.
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
Terjemahan
dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,
Tafsir Ibnu Katsir
dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. (Ash Shaaffat:3)
As-Saddi mengatakan bahwa para malaikat datang dengan membawa kitab dan Al-Qur'an dari sisi Allah kepada manusia.
Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. (Al Mursalaat:5-6)
إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ
Terjemahan
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya Tuhanmu benar- benar Esa. Tuhan langit dan bumi. (Ash Shaaffat:4-5)
Inilah yang dijadikan subjek pada sumpah di atas, yaitu bahwa Allah Swt. itu tidak ada Tuhan selain Dia.
Tuhan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. (Ash Shaaffat:5)
Yaitu semua makhluk yang ada di antara keduanya.
dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (Ash Shaaffat:5)
Artinya Dialah Raja Yang Mengatur semua makhluk dengan menundukkan semua bintang yang tetap dan bintang yang beredar yang ada padanya terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Dalam hal ini, tidak disebutkan lafaz al-maghrib karena cukup hanya dengan menyebutkan al-masyariq pengertian maghrib sudah mengikut di dalamnya. Tetapi, adakalanya disebutkan dengan jelas seperti yang terdapat pada firman-Nya:
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki Timur dan Barat, sesungguhnya Kami benar-benar maha Kuasa (Al-Maarij : 40)
Dan dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:
Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar-Rahman:17)
Yakni di musim dingin dan di musim panas, bagi mentari dan bulan.
رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ
Terjemahan
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya Tuhanmu benar- benar Esa. Tuhan langit dan bumi. (Ash Shaaffat:4-5)
Inilah yang dijadikan subjek pada sumpah di atas, yaitu bahwa Allah Swt. itu tidak ada Tuhan selain Dia.
Tuhan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. (Ash Shaaffat:5)
Yaitu semua makhluk yang ada di antara keduanya.
dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (Ash Shaaffat:5)
Artinya Dialah Raja Yang Mengatur semua makhluk dengan menundukkan semua bintang yang tetap dan bintang yang beredar yang ada padanya terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Dalam hal ini, tidak disebutkan lafaz al-maghrib karena cukup hanya dengan menyebutkan al-masyariq pengertian maghrib sudah mengikut di dalamnya. Tetapi, adakalanya disebutkan dengan jelas seperti yang terdapat pada firman-Nya:
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki Timur dan Barat, sesungguhnya Kami benar-benar maha Kuasa (Al-Maarij : 40)
Dan dalam ayat lain Allah Swt. berfirman:
Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar-Rahman:17)
Yakni di musim dingin dan di musim panas, bagi mentari dan bulan.
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
Terjemahan
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,
Tafsir Ibnu Katsir
dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. (Ash Shaaffat:6)
Ayat ini dapat dibaca secara idafah atau badal, semuanya bermakna sama. Bintang-bintang yang beredar dan yang tetap sinarnya menembus ruang angkasa yang transparan, maka dapat menerangi penduduk bumi. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala. (Al Mulk:5)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandanginya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat di dengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh sumber api yang terang. (Al Hijr:16-18)
وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ
Terjemahan
dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka,
Tafsir Ibnu Katsir
dan (telah memelihara) sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:7)
Bentuk lengkapnya ialah 'dan Kami memeliharanya dengan sebenar-benarnya'.
dari setiap setan yang sangat durhaka. (Ash Shaaffat:7)
Yakni setan yang membangkang lagi durhaka: apabila ia hendak mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat, maka ia dikejar oleh bintang meteor yang menyala-nyala, lalu membakarnya.
لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِن كُلِّ جَانِبٍ
Terjemahan
syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
Tafsir Ibnu Katsir
sehinga apabila, telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab "(Perkataan) yang benar, "dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. (Saba':23)
Karena itulah maka disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:
dan mereka dilempari dari segala penjuru. (Ash Shaaffat:8)
Mereka dirajam dari semua penjuru langit yang dkuju oleh mereka.
دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ
Terjemahan
Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,
Tafsir Ibnu Katsir
Untuk mengusir mereka. (Ash Shaaffat:9)
Yakni mereka dirajam dan dilempari dengan bintang-bintang yang menyala-nyala itu agar terusir jauh dari tempat yang dituju oleh mereka.
dan bagi mereka siksaan yang kekal. (Ash Shaaffat:9)
Di negeri akhirat kelak mereka akan mendapat azab yang kekal, menyakitkan, lagi terus-menerus. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan Kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala. (Al Mulk:5)
إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
Terjemahan
akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.
Tafsir Ibnu Katsir
tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan). (Ash Shaaffat:10)
Yaitu kecuali setan-setan yang hendak mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat, kemudian setan itu menyampaikannya kepada setan lain yang ada di bawahnya, lalu disampaikan lagi kepada yang di bawahnya lagi, hingga seterusnya. Dan adakalanya setan yang telah berhasil mencuri dengar itu keburu dihantam oleh bintang yang menyala-nyala sebelum ia sempat menyampaikannya kepada setan yang ada di bawahnya. Adakalanya dia sempat menyampaikan apa yang telah dicuri dengarnya itu berkat takdir Allah, sebelum ia dikejar oleh bintang yang menyala dan yang membakarnya. Maka tugasnya dipegang oleh setan lain yang ada di bawahnya hingga sampailah kepada tukang tenung, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis. Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (Ash Shaaffat:10)
Makna saqib ialah terang benderang.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waqi', dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu setan-setan mempunyai pos-pos pengintaian di langit untuk mencuri-curi dengar wahyu, dan dahulu bintang-bintang tidak beredar dan setan tidak dilempari. Apabila mereka mendengar wahyu, lalu mereka turun ke bumi dan menambah-nambahinya dengan kedustaan yang banyak. Ketika Rasulullah Saw. telah diutus, maka bila setan duduk di posnya di langit, maka ada bintang menyala-nyala yang mengejarnya. Bintang-bintang itu tidak pernah meleset dan mengenainya serta membakarnya. Lalu setan-setan melaporkan hal tersebut kepada pemimpin mereka, yaitu iblis la natullah. Iblis berkata, "Hal itu tidak lain terjadi karena ada suatu peristiwa yang baru terjadi." Lalu iblis mengirimkan bala tentaranya (untuk menyelidiki hal yang baru itu), maka utusan iblis menjumpai Rasulullah Saw. sedang berdiri mengerjakan salatnya di antara dua Bukit Nakhlah. Waki' mengatakan bahwa, yang dimaksud ialah lembah Nakhlah. Utusan iblis itu kembali kepada pemimpinnya, lalu menceritakan hal itu kepadanya. Maka iblis berkata, "Memang orang inilah yang mengubah keadaan."
Dan nanti insya Allah akan diketengahkan hadis-hadis berikut asar-asar yang berkaitan dengan makna firman-Nya ini, yaitu pada tafsir firman Allah Swt. yang menceritakan perihal jin, bahwa mereka mengatakan:
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk menembaknya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka mengkehendaki kebaikan bagi mereka. (Al Jin:8-10)
فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَم مَّنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ
Terjemahan
Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Mas'ud r.a. membacanya dengan bacaan am man adadna, karena sesungguhnya mereka mengakui bahwa semuanya itu lebih kuat dan lebih kokoh kejadiannya dari pada diri mereka. Apabila kenyataannya memang demikian, lalu mengapa mereka mengingkari adanya hari berbangkit? Padahal mereka menyaksikan hal-hal lainnya yang lebih besar daripada apa yang diingkari oleh mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar, daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Mu-min: 57)
Allah Swt. menjelaskan bahwa mereka diciptakan dari sesuatu yang lemah. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat. (Ash Shaaffat:11)
Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, dan Ad-Dahhak mengatakan, bahwa lazib ialah tanah liat yang bermutu baik yang sebagiannya dapat disatukan dengan sebagian yang lain.
Ibnu Abbas r.a. dan, Ikrimah mengatakan bahwa lazib adalah tanah liat yang bermutu baik lagi licin.
Qatadah mengatakan bahwa lazib ialah tanah liat yang menempef di tangan bila dipegang.
بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ
Terjemahan
Bahkan kamu menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni bahwa engkau Muhammad merasa heran terhadap kedustaan yang dilakukan oleh para pengingkar hari berbangkit itu, padahal engkau percaya dan membenarkan hal-hal menakjubkan yang diberitakan oleh Allah Swt., yaitu kembali hidupnya tubuh-tubuh sesudah matinya. Keadaan mereka berbeda dengan kami, mereka sangat mendustakan hal tersebut sehingga mereka memperolok-olokkan apa yang kamu beritakan kepada mereka tentang hari kebangkitan itu.
Qatadah mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. merasa heran dan orang-orang yang sesat menghinakannya.
وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ
Terjemahan
Dan apabila mereka diberi pelajaran mereka tiada mengingatnya.
Tafsir Ibnu Katsir
وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ
Terjemahan
Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda kebesaran Allah, mereka sangat menghinakan.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda. (Ash Shaaffat:14)
Yakni tanda yang jelas yang menunjukkan adanya hari berbangkit itu.
mereka sangat menghinakan. (Ash Shaaffat:14)
Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa mereka memperolok-olokkannya.
وَقَالُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ
Terjemahan
Dan mereka berkata "Ini tiada lain hanyalah sihir yang nyata.
Tafsir Ibnu Katsir
Maksudnya, tiada lain yang engkau sampaikan ini hanyalah sihir yang nyata.
أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
Terjemahan
Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)?
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka menganggap mustahil hal itu terjadi dan mendustakannya.
أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ
Terjemahan
Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)"?
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka menganggap mustahil hal itu terjadi dan mendustakannya.
قُلْ نَعَمْ وَأَنتُمْ دَاخِرُونَ
Terjemahan
Katakanlah: "Ya, dan kamu akan terhina"
Tafsir Ibnu Katsir
Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (An Naml:87)
Dan firman Allah Swt.:
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (Al-Mu-min: 60)
فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنظُرُونَ
Terjemahan
Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka meIihatnya.
Tafsir Ibnu Katsir
وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ
Terjemahan
Dan mereka berkata: "Aduhai celakalah kita!" Inilah hari pembalasan.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan mereka berkata, "Aduhai, gelakalah kita!" Inilah hari pembalasan (Ash Shaaffat:20)
هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنتُم بِهِ تُكَذِّبُونَ
Terjemahan
Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.
Tafsir Ibnu Katsir
Ini dikatakan kepada mereka dengan nada kecaman dan cemooh, dan Allah Swt. memerintahkan kepada malaikat untuk memisahkan orang-orang kafir dari orang-orang mukmin dalam tempat pemberhentian mereka.
۞ احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
Terjemahan
(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,
Tafsir Ibnu Katsir
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Sammak, dari An-Nu'man ibnu Basyir ibnu Umar ibnul Khattab r.a. yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka. (Ash Shaaffat:22) Bahwa yang dimaksud dengan azwajahum ialah teman-teman mereka.
Syarik telah meriwayatkan dari Sammak, dari An-Nu'man yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya ini, bahwa ia pernah mendengar Umar membaca firman-Nya: Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama teman sejawat mereka. (Ash Shaaffat:22) Makna yang dimaksud ialah orang-orang yang serupa dengan mereka. Umar mengatakan bahwa para penzina dikumpulkan bersama-sama para penzina lainnya, para pemakan riba dikumpulkan bersama para pemakan riba lainnya, dan para peminum khamr dikumpulkan dengan para peminum khamr lainnya.
Kasif telah meriwayatkan dari Miqsam, dari Ibnu Abbas r.a, bahwa yang dimaksud dengan azwajahum ialah istri-istri mereka: tetapi pendapat ini garib, karena yang terkenal dari Ibnu Abbas adalah pendapat yang pertama tadi, seperti yang diriwayatkan oleh Mujahid dan Sa'id ibnu Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan azwajahum ialah teman-teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, yakni berhala-berhala dan sekutu-sekutu yang mereka sembah-sembah dikumpulkan bersama-sama mereka di suatu tempat khusus buat mereka.
مِن دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ
Terjemahan
selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.
Tafsir Ibnu Katsir
maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka (Ash-Shaffat-23)
Yakni tunjukkanlah mereka jalan menuju ke Jahanam. Makna ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat dengan muka mereka (diseret) dalam keadaan buta, bisu, dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya. (Al-Isra: 97)
وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
Terjemahan
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya:
Tafsir Ibnu Katsir
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya. (Ash Shaaffat:24)
Yakni hentikanlah mereka untuk menjalani pertanyaan tentang amal perbuatan dan ucapan-ucapan yang pernah mereka lakukan selama di dunia, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas, bahwa dikatakan, "Hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan menjalani perhitungan amal perbuatan."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami An-Nufaili, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Lais menceritakan hadis berikut dari Bisyr, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang menyeru kepada sesuatu, maka sesuatu itu dikumpulkan bersamanya sampai hari kiamat tanpa bisa meninggalkannya dan tanpa berpisah darinya. Jika yang diserunya adalah seorang lelaki, maka yang menemaninya adalah seorang lelaki. Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya (Ash Shaaffat:24)
Iman Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Lais ibnu Abu Salim, dan Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ya'qub ibnu Ibrahim, dari Mu'tamir, dari Lais, dari seorang lelaki, dari Anas r.a. secara marfu'.
Abdullah ibnul Mubarak mengatakan bahwa ia pernah mendengar Usman ibnu Zaidah mengatakan bahwa sesungguhnya yang mula-mula dipertanyakan kepada seseorang adalah teman-teman sekedudukannya, kemudian dikatakan kepada mereka dengan nada kecaman dan cemoohan: Mengapa kamu tidak tolong-menolong? (Ash Shaaffat:25) Sebagaimana yang kalian duga bahwa kalian semua mendapat pertolongan.
مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ
Terjemahan
"Kenapa kamu tidak tolong menolong?"
Tafsir Ibnu Katsir
بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ
Terjemahan
Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni taat kepada perintah Allah, tidak berani menentang-Nya dan tidak berani menyimpang dari perintah-Nya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
Terjemahan
Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan.
Tafsir Ibnu Katsir
maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, "Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka?" Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-Nya." (Al-Mu-min: 47-48)
Dan firman Allah Swt.:
Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain, orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, "Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, "Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak) sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.” Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, "(Tidak), sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Saba- 31-33)
قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ
Terjemahan
Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.
Tafsir Ibnu Katsir
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'anilyamin ialah dari pihak kebenaran, ini merupakan perkataan orang-orang kafir yang ditujukan kepada setan-setan yang telah menyesatkan mereka.
Qatadah mengatakan bahwa manusia berkata kepada jin, "Dahulu sesungguhnya kalian datang kepada kami dari arah kebenaran, tetapi pada akhirnya kalian menghalang-halangi kami darinya dan menahan kami darinya.
As-Saddi mengatakan bahwa kalian datang kepada kami dari arah kebenaran, padahal itu adalah kebatilan yang kalian hiasi sehingga kami menganggapnya baik, padahal hakikatnya kalian mencegah dan menghalang-halangi kami dari kebenaran.
Al-Hasan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan. (Ash Shaaffat:28) Yakni Allah datang kepadanya dari arah setiap kebaikan yang disukaiNya, tetapi setan menghalang-halangi manusia dari kebaikan itu.
Ibnu Zaid mengatakan makna ayat ialah bahwa kalian menghalang-halangi antara kami dan kebaikan, dan kalian hambat kami dari Islam, Iman, dan mengerjakan amal kebaikan yang diperintahkan kepada kami, Yazid Ar-Risyk mengatakan, dari arah "Lailaha illallah" (tiada Tuhan melainkan Allah).
Khasif mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah setan-setan datang kepada mereka dari arah kanan mereka.
Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan. (Ash Shaaffat:28) Yakni dari arah yang membuat kami percaya kepada kalian.
قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Terjemahan
Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah yang tidak beriman".
Tafsir Ibnu Katsir
وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ
Terjemahan
Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.
Tafsir Ibnu Katsir
bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. (Ash Shaaffat:30)
Yaitu bahkan sebenarnya pada diri kalian terdapat sikap melampaui batas, karena itulah kalian memenuhi seruan kami dan meninggalkan kebenaran yang didatangkan kepada kalian oleh para nabi, padahal mereka telah mengemukakan alasan-alasan yang membenarkan apa yang disampaikan oleh mereka, tetapi kalian tetap menentang para nabi.
فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ
Terjemahan
Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu).
Tafsir Ibnu Katsir
Para pemimpin mereka berkata kepada mereka yang lemah, "Telah tetap keputusan Allah menyatakan bahwa kami adalah orang-orang yang celaka yang merasakan azab di hari kiamat." Maka kami sesatkan kalian. (Ash-Shaffat: 32) Artinya, kami seru kalian kepada kesesatan. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. (Ash-Shaffat: 32) Yakni maka kami seru kalian untuk melakukan hal seperti kami, dan ternyata kalian memenuhi seruan kami.
Maka Allah Swt. berfirman:
Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. (Ash-Shaffat: 33)
Yakni semuanya berada di dalam neraka mendapat azab yang sesuai dengan kesalahan masing-masing.
فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ
Terjemahan
Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.
Tafsir Ibnu Katsir
Para pemimpin mereka berkata kepada mereka yang lemah, "Telah tetap keputusan Allah menyatakan bahwa kami adalah orang-orang yang celaka yang merasakan azab di hari kiamat." Maka kami sesatkan kalian. (Ash-Shaffat: 32) Artinya, kami seru kalian kepada kesesatan. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. (Ash-Shaffat: 32) Yakni maka kami seru kalian untuk melakukan hal seperti kami, dan ternyata kalian memenuhi seruan kami.
Maka Allah Swt. berfirman:
Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. (Ash-Shaffat: 33)
Yakni semuanya berada di dalam neraka mendapat azab yang sesuai dengan kesalahan masing-masing.
فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ
Terjemahan
Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.
Tafsir Ibnu Katsir
Para pemimpin mereka berkata kepada mereka yang lemah, "Telah tetap keputusan Allah menyatakan bahwa kami adalah orang-orang yang celaka yang merasakan azab di hari kiamat." Maka kami sesatkan kalian. (Ash-Shaffat: 32) Artinya, kami seru kalian kepada kesesatan. sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. (Ash-Shaffat: 32) Yakni maka kami seru kalian untuk melakukan hal seperti kami, dan ternyata kalian memenuhi seruan kami.
Maka Allah Swt. berfirman:
Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. (Ash-Shaffat: 33)
Yakni semuanya berada di dalam neraka mendapat azab yang sesuai dengan kesalahan masing-masing.
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu (Ash Shaaffat:34-35)
Yaitu ketika berada di alam dunia.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Terjemahan
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka sombong, tidak mau mengucapkannya, tidak seperti orang-orang mukmin yang mau mengatakannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan telah menceritakan kepada kami Ubaidillah (Keponakan Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Ibnu Musafir alias Abdur Rahman ibnu Khalid, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah.” Barang siapa yang mengucapkannya, maka sesungguhnya dia telah memelihara harta dan jiwanya dariku kecuali dengan cara yang hak, sedangkan perhitungannya ada pada Allah Swt. Dan Allah Swt. menurunkan di dalam Kitab-Nya hal yang menceritakan tentang kaum yang sombong. Untuk itu Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, "La ilaha illallah" (tiada Tuhan melainkan Allah), mereka menyombongkan diri. (Ash Shaaffat:35)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Sa'id Al-Jariri, dari Abul Ala yang mengatakan bahwa kelak di hari kiamat orang-orang Yahudi dihadapkan, lalu dikatakan kepada mereka, "Apakah yang dahulu kalian sembah?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Allah dan Uzair." Dikatakan kepada mereka, "Pergilah ke arah kiri." Kemudian didatangkan kaum musyrik dan dikatakan kepada mereka, "Tidak ada Tuhan melainkan Allah." Maka mereka menyombongkan diri' Kemudian dikatakan kepada mereka, "Tidak ada Tuhan melainkan Allah," maka mereka menyombongkan diri. Dikatakan lagi kepada mereka, "Tidak ada Tuhan melainkan Allah," maka mereka menyombongkan diri. Akhirnya dikatakan kepada mereka, "Ambillah jalan ke kiri!" Abu Nadrah (perawi) mengatakan bahwa lalu mereka berangkat dengan kecepatan yang lebih kencang daripada terbangnya burung. Abul Ala melanjutkan, bahwa kemudian didatangkanlah kaum muslim, lalu dikatakan kepada mereka, "Apakah yang dahulu kalian sembah?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Allah Swt." Dikatakan kepada mereka, "Apakah kalian mengenal-Nya jika kalian melihat-Nya?" Mereka menjawab, "Ya." Maka Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya kepada mereka, dan Allah menyelamatkan mereka.
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ
Terjemahan
dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?"
Tafsir Ibnu Katsir
dan mereka berkata, "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" (Ash Shaaffat:36)
Yakni apakah kami meninggalkan penyembahan berhala yang merupakan tuhan-tuhan nenek moyang kami hanya karena perkataan seorang penyair gila ini, yang mereka maksud Rasulullah Saw.
بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).
Tafsir Ibnu Katsir
Sebenarnya dia (Muhammad) telah membawa kebenaran. (Ash Shaaffat:37)
Artinya, Rasulullah Saw. itu datang membawa perkara yang hak dalam semua berita dan perintah yang disampaikan olehnya dari Allah Swt.
dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya). (Ash Shaaffat:37)
Yakni Nabi Saw. membenarkan semua yang diberitakan oleh mereka menyangkut perihal dirinya yang antara lain sifat-sifat yang terpuji dan tuntunan-tuntunan yang lurus. Dan bahwa dia telah menyampaikan dari Allah tentang syariat dan perintah-Nya, sebagaimana yang disampaikan oleh para rasul sebelumnya.
Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. (Fussilat: 43)
إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ
Terjemahan
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. (Ash-Shaffat. 38-39)
Dikecualikan dari hal tersebut hamba-hamba-Nya yang mukhlis, sebagaimana firman-Nya::
Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-Asr: 1-3)
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempa, yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-arang yang beriman dan mengerjakan amal saleh (At-Tin: 4-6)
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam:71-72)
dan firman Allah Swt.:
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. (Ai-Muddassir: 38-39)
وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Terjemahan
Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan,
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. (Ash-Shaffat. 38-39)
Dikecualikan dari hal tersebut hamba-hamba-Nya yang mukhlis, sebagaimana firman-Nya::
Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-Asr: 1-3)
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempa, yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-arang yang beriman dan mengerjakan amal saleh (At-Tin: 4-6)
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (Maryam:71-72)
dan firman Allah Swt.:
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan. (Ai-Muddassir: 38-39)
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Terjemahan
tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
Tafsir Ibnu Katsir
أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ
Terjemahan
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu,
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu (Ash-Shaffat: 41)
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa rezeki tersebut di surga, kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:
yaitu buah-buahan (yang beraneka ragam). Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. (Ash-Shaffat: 42)
Maksudnya, dilayani, bersenang-senang, dan bahagia.
di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 43-44)
Mujahid mengatakan bahwa sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdukal Qazuwaini, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Qurasyi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid ibnu Abu Aufa r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui kami, lalu membaca firman-Nya: di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 44) Yakni sebagian dari mereka memandang kepada sebagian yang lain.
Hadis ini garib.
فَوَاكِهُ ۖ وَهُم مُّكْرَمُونَ
Terjemahan
yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan,
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu (Ash-Shaffat: 41)
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa rezeki tersebut di surga, kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:
yaitu buah-buahan (yang beraneka ragam). Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. (Ash-Shaffat: 42)
Maksudnya, dilayani, bersenang-senang, dan bahagia.
di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 43-44)
Mujahid mengatakan bahwa sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdukal Qazuwaini, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Qurasyi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid ibnu Abu Aufa r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui kami, lalu membaca firman-Nya: di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 44) Yakni sebagian dari mereka memandang kepada sebagian yang lain.
Hadis ini garib.
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Terjemahan
di dalam surga-surga yang penuh nikmat.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu (Ash-Shaffat: 41)
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa rezeki tersebut di surga, kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:
yaitu buah-buahan (yang beraneka ragam). Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. (Ash-Shaffat: 42)
Maksudnya, dilayani, bersenang-senang, dan bahagia.
di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 43-44)
Mujahid mengatakan bahwa sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdukal Qazuwaini, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Qurasyi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid ibnu Abu Aufa r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui kami, lalu membaca firman-Nya: di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 44) Yakni sebagian dari mereka memandang kepada sebagian yang lain.
Hadis ini garib.
عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
Terjemahan
di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.
Tafsir Ibnu Katsir
Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu (Ash-Shaffat: 41)
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa rezeki tersebut di surga, kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:
yaitu buah-buahan (yang beraneka ragam). Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. (Ash-Shaffat: 42)
Maksudnya, dilayani, bersenang-senang, dan bahagia.
di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 43-44)
Mujahid mengatakan bahwa sebagian dari mereka tidak dapat melihat tengkuk sebagian yang lain.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdukal Qazuwaini, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu'in, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Al-Qurasyi, dari Sa'id ibnu Syurahbil, dari Zaid ibnu Abu Aufa r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui kami, lalu membaca firman-Nya: di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 44) Yakni sebagian dari mereka memandang kepada sebagian yang lain.
Hadis ini garib.
يُطَافُ عَلَيْهِم بِكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ
Terjemahan
Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.
Tafsir Ibnu Katsir
Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamr dari sungai yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamr itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya. (Ash Shaaffat:45-47)
Seperti yang juga disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas (piala), cerek, dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. (Al Waaqi'ah:17-19)
Allah membersihkan khamr surga dari penyakit-penyakit yang biasanya terdapat di dalam khamr dunia akibat dari meminumnya, misalnya kepala menjadi pening, perut mulas, dan mabuk yang menghilangkan akal sehat. Maka dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamr dari sungai yang mengalir. (Ash Shaaffat:45)
Yakni khamr yang diambil dari sungai yang mengalir di dalam surga, yang airnya tidak pernah habis dan tidak pernah kering.
Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa khamr itu mengalir berwarna putih, yakni warnanya cemerlang, indah, dan baik. Tidak seperti khamr dunia yang kelihatan kotor lagi buruk, ada yang berwarna merah atau kuning atau keruh, dan lain sebagainya yang menjijikkan bagi orang yang berakal sehat.
بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ
Terjemahan
(Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.
Tafsir Ibnu Katsir
sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (Ash Shaaffat:46)
Rasanya enak seperti warnanya, dan wangi baunya, berbeda dengan khamr dunia dalam semua spesifikasinya
لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
Terjemahan
Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.
Tafsir Ibnu Katsir
Tidak ada dalam khamr itu alkohol (Ash Shaaffat:47)
Maksudnya, tidak menjadikan peminumnya merasa mual perutnya.
Demikianlah menurut Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid, tidak sebagaimana khamr dunia yang mempunyai pengaruh tersebut karena mengandung banyak alkohol.
Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan gaul ialah pening kepala. Demikian pula menurut apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dalam pendapat lainnya.
Qatadah mengatakan, gaul adalah kepala pening dan perut mual.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan, makna yang dimaksud ialah khamr surga tidak mengandung penyakit dan tidak pula hal yang tidak disukai.
Pendapat yang sahih adalah yang dikatakan oleh Mujahid, yaitu perut mual.
وَعِندَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ
Terjemahan
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,
Tafsir Ibnu Katsir
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang pandangannya tidak liar. (Ash Shaaffat:48)
Yaitu memelihara kehormatannya, tidak mau memandang kepada selain suami mereka. Demikianlah menurut Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Zaid ibnu Aslam, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya.
Firman Allah Swt.:
dan jelita matanya. (Ash Shaaffat:48)
Yakni memiliki mata yang indah dan jelita.
Suatu pendapat menyebutkan bermata lebar, tetapi pendapat ini merujuk kepada pendapat yang pertama, yaitu bermata jeli dan indah. Jadi, mata bidadari-bidadari itu bukan saja indah jelita, tetapi juga terhormat, yakni memelihara matanya dari memandang kepada suami lain. Seperti yang dikatakan oleh Zulaikha tentang Yusuf a.s. ketika menyuruhnya agar keluar menemui sekumpulan wanita pembesar kerajaannya, lalu mereka kagum dan terpana melihat ketampanan dan kecakapan rupa Nabi Yusuf, sehingga mereka menduga bahwa Yusuf a.s. bukanlah manusia, melainkan salah seorang malaikat yang turun ke bumi karena ketampanan dan keanggunan penampilannya. Maka Zulaikha berkata kepada kaum wanita yang mempergunjingkan dirinya itu yang disitir oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku), tetapi dia menolak. (Yusuf:32)
Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa selain Nabi Yusuf mempunyai rupa yang tampan, dia juga seorang yang memelihara kehormatannya, bertakwa, lagi bersih. Demikian pula sifat dari bidadari-bidadari di surga nanti.
bidadari-bidadari yang baik lagi cantik-cantik (Ar Rahmaan:70)
Dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang pandangannya tidak liar dan matanya jelita. (Ash Shaaffat:48)
كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُونٌ
Terjemahan
seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
Tafsir Ibnu Katsir
seakan-akan mereka adalah telur (burung unta ) yang tersimpan dengan baik. (Ash Shaaffat:49)
Allah Swt., menggambarkan tentang bidadari-bidadari itu, bahwa mereka memiliki tubuh yang sangat cantik dan berkulit sangat indah.
Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (Ash Shaaffat:49) Yaitu tersimpan dengan rapi, tidak pernah tersentuh oleh tangan manusia.
As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah telur yang tersimpan dengan baik di sarangnya.
Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (Ash Shaaffat:49) Maksudnya, bagian dalam telur.
Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah kulit air yang terletak di antara kulit luar dan bagian dalam telur.
As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. (Ash Shaaffat:49) Yakni putih telur bila kulit luarnya telah dikupas.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir karena ada firman-Nya yang mengatakan, "Maknun" yang artinya, tersimpan dengan baik'. Ibnu Jarir mengatakan bahwa bagian luar telur biasa diusap oleh sayap burung, terkena sarang, dan terpegang oleh tangan, lain halnya dengan bagian dalamnya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Faraj As-Sadfi Ad-Dimyati, dari Amr ibnu Hasyim, dari Ibnu Abu Karimah, dari Hisyam, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makna firman-Nya: bidadari-bidadari yang bermata jeli. (Al Waaqi'ah:22) Maka Rasulullah Saw. menjawab, bahwa, artinya bermata jeli, yang putihnya putih sekali dan yang hitamnya hitam sekali dengan bulu mata yang lentik seperti sayap burung elang. Dan ia bertanya lagi tentang makna firman-Nya: seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik (Ash Shaaffat:49). Maka beliau Saw. bersabda, bahwa kulitnya lembut seperti kulit ari yang melindungi bagian dalam telur.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan An-Nahdi, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Harb, dari Lais ibnur Rabi' ibnu Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku adalah orang yang mula-mula keluar (dari kubur) bila mereka dibangkitkan, aku adalah juru bicara mereka bila mereka dihadapkan (kepada Allah), aku adalah orang yang memberikan kegembiraan kepada mereka apabila mereka bersedih hati, aku adalah pemberi syafaat mereka bila mereka ditahan (di perhentian kiamat). Panji 'Pujian' berada di tanganku hari itu, dan aku adalah anak Adam yang paling mulia di sisi Allah Swt. tanpa membanggakan diri, berkeliling di sekitarku seribu pelayan seakan-akan mereka seperti telur yang tersimpan dengan baik, atau seperti mutiara yang tersimpan dengan baik.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenaran.
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
Terjemahan
Lalu sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain sambil bercakap-cakap.
Tafsir Ibnu Katsir
قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ
Terjemahan
Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,
Tafsir Ibnu Katsir
Berkatalah salah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman." (Ash Shaaffat:51)
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qarin ialah setan.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa yang dimaksud adalah teman yang musyrik, dia menjadi teman orang mukmin ketika di dunianya.
Tidak ada pertentangan antara pendapat Mujahid dan Ibnu Abbas, karena sesungguhnya setan itu adakalanya dari makhluk jin yang suka menggoda jiwa manusia, adakalanya pula dari kalangan manusia sendiri yang dapat berkomunikasi dengannya. Kedua qarin itu saling bantu.
Allah Swt. berfirman:
sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al An'am:112)
Masing-masing dari qarin tersebut selalu menggoda, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:
dari kejahatan (bisikan) setan yang bisa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia. (An-Nas: 4-6)
يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ
Terjemahan
yang berkata: "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?
Tafsir Ibnu Katsir
أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ
Terjemahan
Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?"
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abbas r.a. dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan, "Benar-benar akan mendapat pembalasan dari amal perbuatan kita.''
Kedua makna tersebut sahih.
قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ
Terjemahan
Berkata pulalah ia: "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?"
Tafsir Ibnu Katsir
Berkata pulalah ia, "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” (Ash Shaaffat:54)
Yakni menengoknya.
Kalimat ini dikatakan oleh orang mukmin kepada teman-temannya sesama penghuni surga.
Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash Shaaffat:54)
Ibnu Abbas r.a., Sa'id ibnu Jubair, Khulaid Al-Asri, Qatadah, As-Saddi, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka Jahim.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, makna yang dimaksud ialah berada di tengah-tengah neraka seakan-akan rupanya seperti bintang yang menyala-nyala (karena terbakar api neraka).
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa orang mukmin itu menengok temannya, maka ia melihat batok-batok kepala teman-teman kafirnya yang ada di neraka mendidih.
Telah diceritakan pula kepada kami bahwa Ka'bul Ahbar pernah mengatakan, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat jendela pengintai. Apabila seorang ahli surga hendak melihat keadaan musuhnya di neraka, maka ia melongokkan pandangannya melalui jendela itu ke arah neraka. Karena itu, makin bertambahlah rasa syukurnya."
فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ
Terjemahan
Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.
Tafsir Ibnu Katsir
قَالَ تَاللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ
Terjemahan
Ia berkata (pula): "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,
Tafsir Ibnu Katsir
Orang mukmin berkata kepada orang kafir (yang ada di dalam neraka), "Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakan diriku sekiranya aku menuruti kehendakmu."
Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 57)
Yakni sekiranya bukan karena karunia dari Allah, tentulah aku menjadi orang yang senasib denganmu berada di tengah-tengah neraka Jahim, tempat kamu berada dan diseret bersamamu ke dalam azab neraka. Tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya kepadaku, maka Dia memberiku petunjuk kepada iman dan membimbingku ke jalan mengesakan Dia.
Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk kepada kami. (Al-A'raf: 43)
وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ
Terjemahan
jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).
Tafsir Ibnu Katsir
Orang mukmin berkata kepada orang kafir (yang ada di dalam neraka), "Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakan diriku sekiranya aku menuruti kehendakmu."
Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 57)
Yakni sekiranya bukan karena karunia dari Allah, tentulah aku menjadi orang yang senasib denganmu berada di tengah-tengah neraka Jahim, tempat kamu berada dan diseret bersamamu ke dalam azab neraka. Tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya kepadaku, maka Dia memberiku petunjuk kepada iman dan membimbingku ke jalan mengesakan Dia.
Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk kepada kami. (Al-A'raf: 43)
أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ
Terjemahan
Maka apakah kita tidak akan mati?,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)
Ini merupakan kata-kata dari orang mukmin yang merasa kagum dengan pemberian Allah kepada dirinya berupa kehidupan yang kekal di dalam surga dan bertempat di tempat yang terhormat tanpa mati dan tanpa azab. Karena itu, disebutkan oleh firman Allah Swt. selanjutnya:
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar (Ash-Shaffat: 60)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya kepada penduduk surga: (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Tur: 19) Bahwa yang dimaksud dengan Hani-an ialah tidak akan mati lagi di dalam surga. Dan saat itu berkatalah penghuni surga, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka mengetahui bahwa pemutus semua kenikmatan adalah maut. Karena itu, mereka mengatakan: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59). Lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mati lagi. Maka mereka menjawab: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. (Ash-Shaffat: 60)
إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ
Terjemahan
melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?
Tafsir Ibnu Katsir
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)
Ini merupakan kata-kata dari orang mukmin yang merasa kagum dengan pemberian Allah kepada dirinya berupa kehidupan yang kekal di dalam surga dan bertempat di tempat yang terhormat tanpa mati dan tanpa azab. Karena itu, disebutkan oleh firman Allah Swt. selanjutnya:
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar (Ash-Shaffat: 60)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya kepada penduduk surga: (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Tur: 19) Bahwa yang dimaksud dengan Hani-an ialah tidak akan mati lagi di dalam surga. Dan saat itu berkatalah penghuni surga, sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59)
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, mereka mengetahui bahwa pemutus semua kenikmatan adalah maut. Karena itu, mereka mengatakan: Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? (Ash-Shaffat: 58-59). Lalu dikatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mati lagi. Maka mereka menjawab: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. (Ash-Shaffat: 60)
لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ
Terjemahan
Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja"
Tafsir Ibnu Katsir
Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (Ash Shaaffat:61)
Qatadah mengatakan bahwa ini merupakan perkataan penduduk surga.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa ini adalah perkataan Allah Swt. yang artinya 'untuk meraih kenikmatan dan kemenangan seperti ini hendaklah orang-orang di dunia berusaha agar mereka dapat meraihnya kelak di akhirat.'
Mereka mengetengahkan sebuah kisah tentang dua orang lelaki dari kaum Bani Israil yang keduanya terikat dalam suatu perseroan usaha. Kisah keduanya berkaitan dengan keumuman makna surat Ash-Shaffat ini.
Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Habib ibnusy Syahid, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Basyir, dari Khasif, dari Furat ibnu Sa'labah An-Nahrani sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman. (Ash Shaaffat:51), Di masa dahulu ada dua orang lelaki yang terikat dalam suatu perseroan. Keduanya berhasil menghimpun dana sebanyak delapan ribu dinar. Salah seorang dari keduanya mempunyai profesi, sedangkan yang lainnya tidak, pada akhirnya orang yang mempunyai profesi berkata kepada teman seperseroannya yang tidak mempunyai profesi, "Kamu tidak mempunyai profesi, maka tiada pilihan lain bagiku kecuali memecatmu dari perseroan dan memberikan hakmu yang ada pada perseroan ini." Akhirnya keduanya berbagi harta, lalu perseroan keduanya bubar. Kemudian lelaki yang berprofesi membeli sebuah rumah dengan harga seribu dinar. Rumah itu adalah milik seorang raja yang telah mati. Lalu ia mengundang teman bekas seperseroannya itu, lalu memperlihatkan rumah yang baru dibeli itu kepadanya seraya berkata kepadanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang rumah yang baru saya beli dengan harga seribu dinar ini?" Ia menjawab, "Alangkah indah dan mewahnya." Setelah keluar, ia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya temanku ini telah membeli sebuah rumah dengan harga seribu dinar, dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebuah rumah di surga," lalu ia menyedekahkan uangnya sebanyak seribu dinar. Setelah itu ia tinggal selama masa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Kemudian lelaki yang mempunyai pekerjaan kawin dengan seorang wanita dengan mahar sebanyak seribu dinar, dan ia mengundang temannya itu ke perjamuan pernikahannya. Setelah temannya datang, ia berkata, "Sesungguhnya saya telah mengawini wanita ini dengan maskawin seribu dinar." Temannya menjawab, "Alangkah cantiknya dia." Setelah pergi, ia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya temanku baru saja mengawini seorang wanita dengan maskawin seribu dinar, dan sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seorang wanita dari bidadari yang bermata jeli," lalu ia menyedekahkan uangnya sebanyak seribu dinar. Dan ia tinggal selama masa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Kemudian lelaki yang berprofesi itu membeli dua buah kebun seharga dua ribu dinar, lalu memanggil temannya dan memperlihatkan kedua kebun itu kepadanya seraya berkata, "Sesungguhnya aku telah membeli dua kebun ini seharga dua ribu dinar." Maka ia menjawab, "Alangkah indahnya kebun itu." Setelah ia keluar dari temannya itu, berkatalah ia, "Ya Allah, sesungguhnya temanku telah membeli dua kebun seharga dua ribu dinar, dan aku momohon kepada-Mu dua buah kebun di surga," lalu ia menyedekahkan uangnya yang tinggal dua ribu dinar itu. Setelah itu malaikat maut datang kepada kedua lelaki tersebut dan mencabut nyawa keduanya, lalu ia membawa pergi lelaki yang bersedekah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah rumah yang membuatnya kagum. Tiba-tiba di dalamnya ada seorang wanita yang karena cantiknya sehingga bagian bawahnya bersinar terang, kemudian memasukkannya ke dalam dua buah kebun dan dianugerahkan kepadanya sesuatu yang hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.
Perawi mengatakan bahwa alangkah miripnya apa yang disebutkan dalam ayat ini dengan perihal lelaki yang disebutkan dalam riwayat ini.
Selanjutnya malaikat berkata, "Sesungguhnya rumah ini adalah untukmu, begitu pula kedua kebun ini dan wanita cantik itu." Maka lelaki itu berkata, bahwa sesungguhnya dahulu ia pernah mempunyai seorang teman yang mengatakan kepadanya: Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? (Ash Shaaffat:52) Dikatakan kepadanya bahwa temannya itu berada di dalam neraka Jahim. Berkatalah ia, "Maukah kamu meninjau (temanku itu)?" Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash Shaaffat:54-55) Maka pada saat itu ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). (Ash Shaaffat:56-57)
Ibnu Jarir selanjutnya mengatakan bahwa riwayat ini memperkuat orang yang membaca ayat ini dengan bacaan berikut:
Orang-orang yang menyedekahkan (hartamu). (Ash Shaaffat:52)
dengan bacaan memakai tasydid, yaitu al-musaddiqin (bukan al-musdiqin, yang artinya membenarkan hari berbangkit)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdur Rahman Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Abu Hafs yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ismail As-Saddi tentang makna ayat berikut, yaitu firrnan-Nya: Berkatalah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang menyedekahkan (hartamu)-?” (Ash Shaaffat:51-52) " Ismail As-Saddi berkata, "Mengapa kamu tanyakan hal ini-" Aku menjawab, "Aku tadi baru saja membacanya, maka aku ingin menanyakan maknanya kepadamu." Ismail As-Saddi berkata dengan nada tegas, menyuruhnya agar mencamkan kisah berikut. Yaitu bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat dua orang yang berkongsi, salah seorangnya mukmin, sedangkan yang lainnya kafir. Akhirnya perseroan keduanya bubar, dan modal mereka ada enam ribu dinar, maka masing-masing orang mendapat tiga ribu dinar. Keduanya berpisah dan tinggal dalam jarak masa yang dikehendaki oleh Allah, lalu keduanya bersua. Maka yang kafir bertanya kepada yang mukmin, "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu? Apakah engkau tanamkan pada sesuatu ataukah engkau mengembangkannya dalam perniagaan?" Orang yang mukmin berkata kepadanya, "Tidak, lalu apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu?" Si kafir menjawab, "Kugunakan seribu dinar untuk membeli tanah, kebun kurma, buah-buahan, dan mata air." Orang mukmin bertanya, "Benarkah engkau lakukan itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Orang yang mukmin pulang, dan pada malam harinya ia melakukan salat selama apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Setelah menyelesaikan salatnya ia mengambil seribu dinar dan meletakkannya di hadapannya, kemudian berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya si Fulan —yakni temannya yang kafir— telah membeli sebidang tanah, sebuah kebun kurma dan buah-buahan serta mata air dengan harga seribu dinar, yang bila ia mati di kemudian hari ditinggalkannya. Ya Allah, sesungguhnya aku membeli dari-Mu dengan seribu dinar ini sebidang tanah di surga, kebun kurma, dan buah-buahan serta mata airnya." Pada keesokan harinya ia bagi-bagikan uang seribu dinar itu kepada kaum fakir miskin. Setelah beberapa waktu berselang menurut apa yang dikehendaki oleh Allah, keduanya bersua kembali, dan si kafir bertanya kepada si mukmin, "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu, apakah engkau tanamkan pada sesuatu, ataukah engkau kembangkan dalam berdagang?" Si mukmin menjawab, "Tidak. Tetapi kamu, apakah yang telah kamu lakukan terhadap hartamu?" Si kafir menjawab, "Hartaku makin banyak dan sangat berat kulakukan pengurusan dan pembiayaannya, maka kubeli seorang budak seharga seribu dinar, lalu kutugaskan untuk bekerja mengurusnya untuk kepentinganku." Si mukmin bertanya, "Engkau benar lakukan hal itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Si mukmin pulang. Ketika malam hari tiba, ia salat selama yang dikehendaki oleh Allah Swt. Setelah selesai, ia mengambil seribu dinar. lalu diletakkannya di hadapannya, kemudian berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya si Fulan —temannya yang kafir itu— telah membeli seorang budak dengan harga seribu dinar, budak yang ada di dunia ini, yang di kemudian hari bila ia mati pasti budak itu ditinggalkannya, atau bila budak itu mati, maka ia ditinggalkan oleh budaknya. Ya Allah, sesungguhnya aku ingin membeli dari-Mu dengan seribu dinar ini budak yang ada di dalam surga." Kemudian pada keesokan harinya ia bagi-bagikan uangnya itu kepada kaum fakir miskin. Selang beberapa lama kemudian menurut apa yang dikehendaki oleh Allah Swt., keduanya bersua kembali. Maka si kafir bertanya kepada si mukmin, "Apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu, apakah engkau tanamkan pada sesuatu ataukah engkau kembangkan dengan berdagang?" Si mukmin menjawab, "Tidak, lalu apakah yang telah engkau lakukan dengan hartamu itu?" Si kafir menjawab, "Sebenarnya semua urusanku telah sempurna, terkecuali suatu hal, yaitu si Fulanah ditinggal mati oleh suaminya. Lalu kulamar dia dengan seribu dinar, maka dia datang kepadaku sebagai istri dengan membawa seribu dinar dan kelipatannya yang sama jumlahnya (dari hasil warisannya)." Si mukmin bertanya, "Apakah kamu memang lakukan hal itu?" Si kafir menjawab, "Ya." Si mukmin pulang. Dan pada malam harinya ia mengerjakan salat selama yang dikehendaki oleh Allah. Setelah selesai dari salatnya ia mengambil seribu dinar yang terakhir dari hartanya, lalu diletakkannya di hadapannya seraya berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya si Fulan —temannya yang kafir itu—telah mengawini salah seorang wanita di dunia ini dengan maskawin seribu dinar, yang bila ia mati istrinya itu ditinggalkannya, atau bila ia mati di kemudian hari istrinya itu membiarkannya. Ya Allah, sesungguhnya aku melamar kepada-Mu dengan seribu dinar ini bidadari yang bermata jeli di surga." Pada keesokan harinya ia membagi-bagikan hartanya itu kepada kaum fakir miskin. Pada akhirnya si mukmin itu tidak memiliki harta sedikit pun. Lalu ia mengenakan baju gamis dari katun dan jubah dari kain bulu. Selanjutnya ia mengambil cangkul, lalu disandangnya di pundaknya dengan maksud akan menjadi tukang gali yang upahnya nanti untuk biaya hidupnya. Ia didatangi oleh seorang lelaki yang berkata kepadanya, "Hai hamba Allah, maukah engkau menjadi buruh bulananku sebagai tukang pemelihara hewan ternakku, engkau beri makan hewan-hewanku itu dan engkau bersihkan kandangnya setiap harinya?" Si mukmin menjawab, "Saya setuju dan akan saya lakukan pekerjaan itu." Si mukmin itu bekerja padanya dengan gajian bulanan sebagai tukang mengurusi ternak lelaki tersebut. Sedangkan pemilik ternak itu setiap harinya selalu mengontrol hasil pekerjaannya dengan memeriksa ternak-ternaknya. Apabila ia melihat ada seekor hewan yang kelihatan kurus, maka ia pegang kepala si mukmin itu, lalu mencekiknya dengan kuat seraya berkata kepadanya, "Rupanya tadi malam kamu curi gandum makanannya!" Mengalami nasib yang sangat menyakitkan karena bekerja pada lelaki tersebut, akhirnya si mukmin berkata, "Aku akan mendatangi bekas teman seperseroanku yang kafir itu, dan aku benar-benar akan bekerja padanya dengan harapan semoga ia mau memberiku makan setiap hari dan memberiku pakaian yang kukenakan ini bila telah rusak." Maka berangkatlah ia menuju rumah temannya yang kafir itu. Ketika sampai di tempatnya ia mencari-cari temannya itu, ternyata terdapat sebuah bangunan seperti istana yang tinggi menjulang ke langit, dan di sekitar gedung itu terdapat banyak penjaga pintunya. Lalu ia berkata kepada mereka, "Mintakanlah izin masuk kepada pemilik gedung ini untukku, karena sesungguhnya jika kalian sampaikan hal ini kepadanya pasti dia gembira." Mereka menjawab, "Jika kamu benar, pergilah dan tidurlah (menginaplah) di dekat pintu ini, maka pada pagi harinya kamu akan bersua dengannya." Maka si mukmin itu pergi dan menggelarkan separoh dari pakaiannya untuk alas tidurnya, sedangkan separo yang lain ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, lalu ia tidur di tempat tersebut. Pada pagi harinya temannya yang kafir itu keluar. Ketika si kafir melihatnya, ia langsung mengenalnya, lalu ia turun dari kendaraannya dan menjabat tangannya seraya berkata kepadanya, "Mengapa tidak engkau lakukan terhadap hartamu itu seperti yang aku lakukan terhadap hartaku?" Si mukmin menjawab, "Memang benar." Si kafir berkata, "Inilah keadaanku dan itulah keadaanmu." Si mukmin menjawab, "Memang benar." Si kafir bertanya, "Ceritakanlah kepadaku apakah yang telah engkau lakukan terhadap hartamu?" Ia menjawab, "Janganlah engkau menanyakan hal itu kepada diriku." Si kafir bertanya, "Lalu apakah gerangan yang mendorongmu datang kepadaku?" Si mukmin menjawab, "Aku datang kepadamu untuk bekerja di lahanmu ini dengan imbalan engkau beri aku makan setiap harinya dan pakaian seperti ini bila apa yang kupakai ini telah rusak." Si kafir berkata, "Tidak, tetapi aku akan menempatkanmu pada pekerjaan yang lebih baik daripada apa yang kamu katakan itu. Dan kamu jangan berharap aku melakukanmu dengan baik sebelum kamu ceritakan kepadaku apa yang telah engkau lakukan terhadap hartamu itu." Si mukmin menjawab, "Aku mengutangkannya." Si kafir bertanya, "Kepada siapa?" Si mukmin menjawab, "Kepada Yang Mahakaya lagi Maha Memenuhi janji-Nya." Si kafir bertanya, "Siapakah dia?" Si mukmin menjawab, "Allah." Saat itu si kafir masih dalam keadaan menjabat tangannya, lalu mencabut tangannya dan berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya. "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (Ash Shaaffat:52-53) - Menurut As-Saddi, madinima artinya dihisab (untuk diberi pembalasan)- Akhirnya si kafir itu pergi meninggalkannya. Setelah si mukmin melihat si kafir itu bersikap demikian terhadapnya tanpa memberi harapan, maka ia pulang dan tidak menggangu si kafir lagi. Si mukmin hidup sengsara selama suatu masa, dan si kafir hidup mewah dalam suatu masa. Pada hari kiamat nanti manakala Allah telah memasukkan orang mukmin itu ke dalam surga, ia merasa terkejut dengan adanya lahan dan kebun kurma serta buah-buahan dan mata air. Maka ia bertanya, "Kepunyaan siapakah ini?" Dikatakan kepadanya, "Ini semua adalah milikmu." Ia berkata, "Subhanallah", apakah keutamaan amalku sampai kepada tingkatan yang membuatku mendapat pahala seperti ini?" Ia berjalan lagi di dalam surga itu, dan ternyata ia menjumpai banyak budak yang jumlahnya tidak terhitung, lalu ia bertanya, "Untuk siapakah budak-budak ini?" Dikatakan kepadanya," Mereka adalah untukmu." Ia berkata, Subhanallah, apakah keutamaan amalku sampai kepada tingkatan yang menyebabkan aku mendapat pahala seperti ini?" Kemudian ia berjalan lagi, tiba-tiba ia menjumpai sebuah kubah yang terbuat dari yaqut merah yang berongga, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang cantik-cantik lagi bermata jeli. Lalu ia bertanya, 'Untuk siapakah ini?" Dikatakan kepadanya, "Semuanya itu adalah untukmu. Ia berkata "Subhanallah, apakah keutamaan amalku sampai ke tingkatan ini yang menjadikan diriku mendapat balasan seperti ini? Kemudian ia teringat temannya yang kafir itu, lalu berkata: Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata, "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)' Apakah bila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (Ash Shaaffat:51-52) Surga berada di tempat yang tinggi, dan neraka berada di tempat yang paling bawah. Lalu Allah memperlihatkan kepadanya temannya itu berada di tengah-tengah neraka di antara penghuni neraka lainnya. Ketika orang mukmin itu melihatnya, ia langsung mengenalnya dan berkata: Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka). Maka apakah kita tidak akan mati, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (Ash Shaaffat:56-61) Yakni mengerjakan amal perbuatan yang semisal untuk meraih pahala tersebut. Kemudian orang mukmin itu teringat akan penderitaan yang telah dia alami semasa hidup di dunia. Maka sepanjang ingatannya tiada suatu penderitaan di dunia pun yang telah dilaluinya lebih keras bila dibandingkan dengan penderitaan saat mati.
أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ
Terjemahan
(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.
Tafsir Ibnu Katsir
ataukah pohon zaqqum. (Ash-Shaffat: 62)
yang berada di dalam neraka Jahanam. Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah pohon tertentu. Seperti yang dikatatakan oleh sebagian ulama, bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan zaqqum adalah sebuah pohon yang cabang-cabangnya menjalar ke seluruh tempat di neraka Jahanam. Sebagaimana pohon Tuba merupakan sebuah pohon di surga yang tiada suatu gedung pun di dalam surga melainkan terdapat suatu cabang dari pohon tersebut.
Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud ialah jenis suatu pohon yang dikenal dengan nama pohon zaqqum, seperti pengertian yang disebutkan di dalam firman-Nya:
dan pohon kayu keluar dari Tursina yang menghasilkan minyak, dan penyedap makanan bagi orang-orang yang makan. (Al-Mu-minun: 20)
Yakni pohon zaitun. Diperkuat pula dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
Kemudian sesungguhnya kamu, hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum (Al-Waqi'ah: 51-52)
إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. (Ash Shaaffat:63)
Qatadah mengatakan bahwa ketika disebutkan pohon zaqqum, maka orang-orang yang sesat merasa keheranan dan mengatakan, "Teman kalian ini memberitakan bahwa di dalam neraka terdapat pohon, padahal api itu membakar pohon." Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala. (Ash Shaaffat:64)
إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ
Terjemahan
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala.
Tafsir Ibnu Katsir
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. (Ash Shaaffat:63), Abu Jahal la'natullah mengatakan bahwa sesungguhnya zaqqum itu adalah buah kurma yang dicampur dengan mentega, lalu kita santap sebagai makanan.
Menurut hemat kami, makna ayat adalah seperti berikut: Bahwa sesungguhnya Kami ceritakan kepadamu, hai Muhammad, tentang pohon zaqqum tiada lain sebagai batu ujian yang engkau cobakan terhadap manusia, siapa saja di antara mereka yang membenarkannya dan siapa saja di antara mereka yang mendustakannya. Makna ayat ini semakna dengan firman-Nya:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Al Israa':60)
Adapun firman Allah Swt.:
Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala. (Ash Shaaffat:64)
Yakni tempat tumbuhnya berada di dasar neraka.
طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ
Terjemahan
mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan.
Tafsir Ibnu Katsir
mayangnya seperti kepala setan-setan. (Ash Shaaffat:65)
Yaitu mengerikan dan menjijikkan bila disebutkan.
Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa rambut setan itu berdiri tegak menjulang ke langit, dan sesungguhnya pohon tersebut diserupakan dengan kepala setan —sekalipun kepala setan tidak dikenal oleh mukhatab (lawan bicara)— tiada lain karena telah dimaklumi di kalangan mereka bahwa setan itu sangat buruk penampilannya.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah sejenis ular yang kepalanya sangat buruk. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan yang mayangnya sangat buruk rupanya. Akan tetapi, kedua takwil ini masih diragukan. Ibnu Jarir telah menyebutkan kedua pendapat tersebut, tetapi pendapat pertamalah yang lebih kuat: hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ
Terjemahan
Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. (Ash Shaaffat:66)
Allah Swt. menyebutkan bahwa penghuni neraka memakan dari pohon ini yang bentuknya tiada yang lebih mengerikan dan tiada yang lebih buruk darinya, selain dari rasa, bau, dan citranya yang sangat buruk. Mereka terpaksa memakan buah pohon zaqqum ini karena mereka tidak menemukan makanan lainnya kecuali pohon tersebut. Hal yang semakna disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. (Al-Gasyiyah: 6-7)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-A'masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah Saw. membaca ayat ini (Ash Shaaffat:66), kemudian beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Seandainya setetes zaqqum dimasukkan ke dalam laut dunia, tentulah ia merusak (mencemari) penghidupan seluruh penduduk bumi, maka bagaimana pula dengan orang yang pohon zaqqum adalah makanannya?
Iman Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Majah mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيمٍ
Terjemahan
Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas.
Tafsir Ibnu Katsir
Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. (Ash Shaaffat:67)
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah minuman air yang sangat panas sesudah makan buah zaqqum itu. Dan menurut riwayat lain bersumber darinya, dicampur dengan air yang sangat panas. Sedangkan selain Ibnu Abbas mengatakan bahwa minuman air yang sangat panas buat mereka itu dicampur dengan nanah dan keringat busuk yang keluar dari farji dan mata penduduk neraka.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, dan Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepadaku Ubaid, dari Abu Umamah Al-Bahilia r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Disajikan —kepada penduduk neraka— air yang sangat panas, maka ahli neraka yang bersangkutan sangat membencinya, dan apabila air itu didekatkan kepadanya, maka wajahnya terpanggang sehingga kulit kepalanya terkelupas dan terjatuh pada air itu, dan apabila ia meminumnya, semua ususnya hancur sehingga keluar dari duburnya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Rafi', telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Abdullah, dari Ja'far dan Harun ibnu Antrah, dari Sa'id ibnu Jubair yang telah mengatakan bahwa apabila penduduk neraka lapar, mereka meminta agar diberi pohon zaqqum. Lalu mereka memakan sebagian darinya, maka terkelupaslah kulit wajah mereka karenanya. Seandainya seseorang yang kenal bersua dengan mereka, tentulah dia mengetahui mereka melalui kulit wajah mereka yang menempel pada buah zaqqum itu. Kemudian dijadikan mereka merasa haus. Lalu mereka meminta minum, maka mereka diberi minum dengan air yang sangat panas. Apabila air itu didekatkan kepada mereka dan berada di dekat mulut mereka, maka panasnya air itu membakar daging wajah mereka yang kulitnya telah terkelupas, dan isi perutnya hancur luluh. Lalu mereka berjalan sedangkan isi perutnya keluar dalam keadaan hancur dan kulitnya rontok. Kemudian mereka dipukuli dengan gada-gada besi, maka semua anggota tubuhnya berentakan dan mereka menjerit seraya menyerukan kata-kata kecelakaan bagi dirinya.
ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ
Terjemahan
Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.
Tafsir Ibnu Katsir
Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim. (Ash Shaaffat:68)
Yakni selanjutnya tempat kembali mereka sesudah hukuman tersebut benar-benar ke neraka yang menyala-nyala dengan sangat hebatnya. Adakalanya mereka disiksa dengan cara yang pertama, adakalanya pula disiksa dengan cara yang ini. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.:
Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya (Ar Rahmaan:44)
Demikianlah yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan tafsir ayat ini, dan ini merupakan tafsir yang baik lagi cukup kuat.
As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan qiraat Ibnu Mas'ud r.a. tentang firman-Nya: Kemudian sesungguhnya tempat istirahat mereka benar-benar ke neraka Jahim. (Ash Shaaffat:68) Ibnu Mas'ud r.a. pernah mengatakan, -'Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah siang hari mencapai pertengahannya di hari kiamat, melainkan ahli surga telah ditempatkan di dalam surga dan ahli neraka ditempatkan di dalam neraka." Kemudian ia membaca firman-Nya: Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al Furqaan:24)
As-Sauri telah meriwayatkan dari Maisarah, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa belum lagi tengah hari berlalu di hari kiamat, melainkan ahli surga telah berada di tempatnya dan ahli neraka telah berada di tempatnya. Sufyan mengatakan bahwa menurutnya setelah itu Abdullah ibnu Mas'ud r.a. membaca firman-Nya: Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al Furqaan:24) Kemudian tempat peristirahatan mereka adalah neraka Jahim.
Menurut hemat kami, berdasarkan tafsir ini berarti summa adalah huruf ataf yang mengetamkan antara khabar dengan khabar lainnya.
إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ
Terjemahan
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam Keadaaan sesat.
Tafsir Ibnu Katsir
Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. (Ash-Shaffat: 69)
Yakni sesungguhnya Kami balas mereka dengan siksaan tersebut, karena mereka menjumpai bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat, lalu mereka mengikutinya tanpa dalil dan tanpa bukti.
فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ
Terjemahan
Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka itu. (Ash-Shaffat: 70)
Mujahid mengatakan bahwa yuhra'un sama maknanya dengan berlari.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan seperti kerbau dicocok hidungnya, yakni menuruti jejak mereka tanpa pengetahuan.
وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa-dosa tidak akan diazab). (Ash Shaaffat:73-74)
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ
Terjemahan
dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka.
Tafsir Ibnu Katsir
فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنذَرِينَ
Terjemahan
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa-dosa tidak akan diazab). (Ash-Shaffat: 73-74)
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Terjemahan
Tetapi hamba-hamba Allah yang bersihkan (dari dosa tidak akan diazab).
Tafsir Ibnu Katsir
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa-dosa tidak akan diazab). (Ash-Shaffat: 73-74)
وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ
Terjemahan
Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).
Tafsir Ibnu Katsir
Dan dalam kurun waktu yang lama sekali Nabi Nuh a.s. menyeru mereka dan semakin keras pula kedustaan kaumnya terhadap dirinya. Manakala dia menyeru mereka ke jalan Allah, makin bertambahlah keingkaran kaumnya. Lalu Nuh a.s. berdoa kepada Tuhannya, "Bahwa sesungguhnya aku dalam keadaan terkalahkan, maka tolonglah aku." Maka Allah Swt. murka dengan marahnya Nabi Nuh a.s. terhadap kaumnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami, maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (Ash-Shaffat: 75)
Yakni Kamilah yang sebaik-baik memperkenankan seruannya.
وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ
Terjemahan
Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar.
Tafsir Ibnu Katsir
Yaitu dari pendustaan kaumnya dan gangguan mereka yang menyakitkan.
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ
Terjemahan
Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.
Tafsir Ibnu Katsir
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffat:77) Bahwa manusia semuanya berasal dari keturunan Nabi Nuh a.s.
Imam Turmuzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Sa’id ibnu Basyir:
dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah r a dari Nabi Saw. Sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Ash Shaaffat:77) Beliau Saw. bersabda: Sam, Ham, dan Yafis.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, dari Sa'id, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah r.a. yang telah mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Sam menurunkan bangsa Arab, Ham menurunkan bangsa Habsyah, dan Yafis menurunkan bangsa Romawi.
Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui Bisyr ibnu Mu'az Al-Aqdi, dari Yazid ibnu Zurai, dari Sa'id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah sanad yang sama.
Al-Hafiz Abu Umar ibnu Abdul Barr mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari Imran ibnu Husain r.a., dari Nabi Saw.
Yang dimaksud dengan Romawi dalam hadis ini ialah bangsa Romawi terdahulu, yaitu bangsa Yunani yang nasabnya sampai pada Rumi ibnu Liti ibnu Yunan ibnu Yafis ibnu Nuh a.s. Kemudian telah diriwayatkan melalui hadis Ismail ibnu Iyasy, dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa anak Nabi Nuh a.s. itu ada tiga orang, yaitu Sam, Ham, dan Yafis. Dan masing-masing dari mereka beranak tiga orang Sam menurunkan tiga bangsa, yaitu bangsa Arab, bangsa Persia, dan bangsa Romawi. Yafis menurunkan tiga bangsa, yaitu bangsa Turki, bangsa Saqalibah (Sicilia), serta Ya'juj dan Ma'juj. Ham menurunkan bangsa Egypt, bangsa yang berkulit hitam, dan bangsa Barbar. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Wahb ibnu Munabbih. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Terjemahan
Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian;
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Ash-Shaffat: 78)
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebutan yang baik.
Mujahid mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebutan yang baik di kalangan semua nabi.
Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa Allah mengabdikan bagi Nuh a.s. pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pujian yang baik.
سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ
Terjemahan
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam".
Tafsir Ibnu Katsir
"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (Ash-Shaffat: 79)
Sebagai realisasi dari keabadian sebutan baik dan pujian yang baik baginya ialah bahwa dia didoakan sejahtera oleh semua golongan dan semua umat manusia.
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni demikianlah Kami berikan balasan kepada hamba yang berbuat kebaikan dalam ketaatannya kepada Allah Swt. Kami jadikan baginya sebutan dan buah tutur yang baik di kalangan orang-orang yang sesudahnya sesuai dengan tingkatannya masing-masing.
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Tafsir Ibnu Katsir
Maksudnya, membenarkan, mengesakan, dan meyakini kebenaran.
ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ
Terjemahan
Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni Kami binasakan mereka sehingga tiada seorang pun dan mereka yang tersisa, tiada pula peninggalan-peninggalan mereka. Mereka tidak lagi dikenal kecuali hanya sifat-sifat yang buruk.
۞ وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).
Tafsir Ibnu Katsir
Mujahid mengatakan, berada dalam tuntunan dan sunnahnya.
إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Terjemahan
(lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci:
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan 'hati yang suci'" ialah kesaksian yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Auf, bahwa ia pernah bertanya kepada Muhammad ibnu Sirin tentang makna hati yang suci. Muhammad ibnu Sirin menjawab, "Yang bersangkutan mengetahui bahwa Allah adalah hak (benar), hari kiamat pasti akan tiba, tiada keraguan padanya, dan bahwa Allah akan membangkitkan hidup kembali orang-orang yang ada di dalam kubur."
Al-Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'hati yang suci' 'ialah hati yang bersih dari kemusyrikan.
Urwah mengatakan, yang dimaksud dengan hati yang suci ialah hati yang tidak pernah melaknat.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ
Terjemahan
(Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah itu?
Tafsir Ibnu Katsir
(ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Apakah yang kamu sembah itu?” (Ash-Shaffat: 85)
Nabi Ibrahim a.s. memprotes penyembahan mereka kepada berhala dan tandingan-tandingan Allah yang mereka ada-adakan itu.
أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ
Terjemahan
Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong?
Tafsir Ibnu Katsir
Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bagaimanakah dugaanmu terhadap apa yang akan Dia lakukan terhadapmu bila kamu menjumpai-Nya kelak, sedangkan kalian telah menyembah selain-Nya bersama Dia?
فَمَا ظَنُّكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan
Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?"
Tafsir Ibnu Katsir
Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bagaimanakah dugaanmu terhadap apa yang akan Dia lakukan terhadapmu bila kamu menjumpai-Nya kelak, sedangkan kalian telah menyembah selain-Nya bersama Dia?
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ
Terjemahan
Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.
Tafsir Ibnu Katsir
فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ
Terjemahan
Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya aku sakit".
Tafsir Ibnu Katsir
فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِينَ
Terjemahan
Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya aku sakit. (Ash Shaaffat:89)
Yakni lemah.
Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu:
telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepadaku Hisyam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ibrahim a.s. tidak pernah berdusta kecuali dalam tiga perkara, dua di antaranya dalam membela Zat Allah, yaitu ucapannya, "Sesungguhnya aku sakit, " dan perkataannya, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.” Dan perkataannya tentang Sarah, "Dia adalah saudara perempuanku.”
Hadis ini diketengahkan di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab sunah melalui berbagai jalur. Akan tetapi, hal ini bukan termasuk dusta murni yang dicela oleh syariat pelakunya. Tidaklah demikian pada hakikatnya melainkan disebut sebagai dusta dengan ungkapan majaz. Dan sesungguhnya hal itu hanyalah termasuk kata-kata sindiran untuk tujuan yang diperbolehkan oleh syariat dan agama, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:
Sesungguhnya di dalam ungkapan-ungkapan sindiran benar-benar terdapat jalan untuk mengelak dari berkata dusta.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda sehubungan dengan ketiga ucapan Nabi Ibrahim r.a. yang dikatakannya, bahwa tiada suatu kalimat pun darinya melainkan diutarakan untuk membela agama Allah. Pertama yang disebutkan oleh firman-Nya: Kemudian ia berkata, "Sesungguhnya aku sakit.” (Ash Shaaffat:89) Dan yang kedua disebutkan oleh firman-Nya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya. (Al Anbiyaa:63) Dan Ibrahim a.s. berkata kepada raja yang menginginkan istrinya, "Dia adalah saudara perempuanku."
Sufyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya aku sakit. (Ash Shaaffat:89) Yakni terkena penyakit ta’un. Ia mengatakan demikian karena kaumnya takut terhadap penderita ta’un, takut ketularan, karena itu mereka lari meninggalkannya sendirian. Dengan demikian, maka tercapailah keinginan Ibrahim a.s. yang menginginkan agar menyendiri bersama berhala-berhala mereka.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian berkata, "Sesungguhnya aku sakit.” (Ash Shaaffat:88-89) Maka mereka berkata kepadanya yang saat itu sedang berada di tempat peribadatan mereka yang dipenuhi oleh berhala-berhala sembahan mereka, "Keluarlah kamu." Lalu Nabi Ibrahim a.s. menjawab, "Sesungguhnya aku terkena penyakit ta'un." Akhirnya mereka meninggalkannya karena takut ketularan penyakit ta’un.
Qatadah telah meriwayatkan dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa Ibrahim melihat bintang-bintang terbit di langit, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku sakit. (Ash Shaaffat:89) Nabi Ibrahim bermaksud membela agama Allah, untuk itu ia mengatakan hal tersebut, bahwa ia sedang sakit.
Ulama lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kemudian ia berkata, "Sesungguhnya aku sakit.” (Ash Shaaffat:89) dinisbatkan kepada masa mendatang, yakni sakit yang menyebabkan kematian.
Menurut pendapat yang lainnya, sakit di sini adalah sakit hati karena melihat kaumnya menyembah berhala selain Allah Swt.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, bahwa kaum Nabi Ibrahim keluar menuju tempat perayaan mereka, dan mereka menginginkan agar Ibrahim pun ikut keluar bersama mereka. Tetapi Nabi Ibrahim merebahkan dirinya dan berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Sesungguhnya aku sakit. (Ash Shaaffat:89) Lalu ia menatapkan pandangannya ke arah langit, setelah mereka (kaumnya) keluar, maka Ibrahim bangkit menuju kepada berhala-berhala sembahan mereka, lalu menghancurkannya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
Lalu mereka berpaling darinya dengan membelakanginya. (Ash Shaaffat:90)
فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Terjemahan
Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: "Apakah kamu tidak makan?
Tafsir Ibnu Katsir
lalu ia berkata, "Apakah kamu tidak makan?" (Ash Shaaffat:91)
Demikian itu karena mereka telah meletakkan di hadapan berhala-berhala itu makanan dan kurban dengan tujuan ingin dapat berkah dari berhala-berhala itu.
As-Saddi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. memasuki tempat berhala-berhala mereka, dan ternyata ia menjumpai berhala-berhala itu diletakkan di dalam sebuah ruangan besar. Dan berhadapan dengan pintu ruangan itu terdapat berhala yang besar, di sampingnya terdapat pula berhala yang lebih kecil daripadanya, kemudian di sampingnya lagi ada berhala lainnya yang lebih kecil daripada berhala yang kedua, demikianlah seterusnya sampai pada pintu ruangan.tersebut. Dan ternyata mereka telah meletakkan makanan di tangan berhala-berhala itu. Tujuan mereka ialah bila mereka kembali dari tempat perayaannya, berarti sembahan-sembahan mereka telah memberkati makanan tersebut, lalu baru mereka memakannya.
Ketika Nabi Ibrahim menyaksikan pemandangan tersebut, yakni di tangan berhala-berhala itu diletakkan berbagai macam makanan, maka berkatalah Nabi Ibrahim:
Apakah kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak menjawab? (Ash Shaaffat:91-92)
مَا لَكُمْ لَا تَنطِقُونَ
Terjemahan
Kenapa kamu tidak menjawab?"
Tafsir Ibnu Katsir
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ
Terjemahan
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).
Tafsir Ibnu Katsir
Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulinya dengan tangan kanannya (dengan kuat). (Ash Shaaffat:93)
Al-Farra mengatakan bahwa lalu Nabi Ibrahim menghadapinya sambil memukulinya dengan tangan kanannya dengan pukulan yang kuat.
Qatadah mengatakan —juga Al-Jauhari— bahwa lalu Nabi Ibrahim memukuli berhala-berhala itu dengan pukulan tangan kanannya.
Dikatakan tangan kanan karena pukulan tangan kanannya lebih kuat. Semua berhala itu hancur berkeping-keping, kecuali yang paling besar yang sengaja dibiarkannya menunggu mereka kembali. Kisah ini telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Anbiya.
فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ
Terjemahan
Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.
Tafsir Ibnu Katsir
Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. (Ash Shaaffat:94)
Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yaziffuna ialah bergegas-gegas. Kisah ini disebutkan dengan ringkas, lain halnya dengan apa yang ada di dalam surat Al-Anbiya, kisahnya disebutkan dengan panjang lebar.
Ketika mereka kembali ke tempat peribadatan mereka, pada awal mulanya mereka tidak mengetahui siapa pelakunya, melainkan setelah menyelidiki dan mencari berita siapa pelakunya. Akhirnya mereka mengetahui bahwa Ibrahimlah yang melakukan semuanya itu. Ketika mereka datang ke tempat Nabi Ibrahim untuk mencaci maki perbuatannya itu, maka Nabi Ibrahim mengambil persiapan untuk mengecam dan mencela perbuatan mereka.
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ
Terjemahan
Ibrahim berkata: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?
Tafsir Ibnu Katsir
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Terjemahan
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Bukhari dalam kitab “Af’al Ibad” dari Ali bin Al Madini, dari Marwan bin Muawiyah, dari Abu Malik, dari Rib'i ibnu Hirasy, dari Huzaifah r.a. secara marfu :
Sesungguhnya Allah Swt.-lah yang menciptakan semua pekerja dan hasil kerjanya.
Sebagian ulama membacanya dengan bacaan berikut:
Padahal Allah-lah Yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (Ash-Shaffat: 96)
Ketika mereka tidak dapat menyangkal hujjah yang dikemukakan Ibrahim, mereka beralih menyerang dengan tangan dan kekuatan, lalu mereka berkata:
Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim: lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. (Ash-Shaffat: 97)
Perihal urusan mereka telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Anbiya. Dan Allah menyelamatkan Ibrahim dari api itu serta memenangkannya atas mereka, menolongnya, dan meninggikan hujannya. Karena itu, disebutkan oleh firman berikutnya:
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (Ash-Shaffat: 98)
قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ
Terjemahan
Mereka berkata: "Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu".
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Bukhari dalam kitab “Af’al Ibad” dari Ali bin Al Madini, dari Marwan bin Muawiyah, dari Abu Malik, dari Rib'i ibnu Hirasy, dari Huzaifah r.a. secara marfu :
Sesungguhnya Allah Swt.-lah yang menciptakan semua pekerja dan hasil kerjanya.
Sebagian ulama membacanya dengan bacaan berikut:
Padahal Allah-lah Yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (Ash-Shaffat: 96)
Ketika mereka tidak dapat menyangkal hujjah yang dikemukakan Ibrahim, mereka beralih menyerang dengan tangan dan kekuatan, lalu mereka berkata:
Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim: lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. (Ash-Shaffat: 97)
Perihal urusan mereka telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Anbiya. Dan Allah menyelamatkan Ibrahim dari api itu serta memenangkannya atas mereka, menolongnya, dan meninggikan hujannya. Karena itu, disebutkan oleh firman berikutnya:
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (Ash-Shaffat: 98)
فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ
Terjemahan
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Bukhari dalam kitab “Af’al Ibad” dari Ali bin Al Madini, dari Marwan bin Muawiyah, dari Abu Malik, dari Rib'i ibnu Hirasy, dari Huzaifah r.a. secara marfu :
Sesungguhnya Allah Swt.-lah yang menciptakan semua pekerja dan hasil kerjanya.
Sebagian ulama membacanya dengan bacaan berikut:
Padahal Allah-lah Yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (Ash-Shaffat: 96)
Ketika mereka tidak dapat menyangkal hujjah yang dikemukakan Ibrahim, mereka beralih menyerang dengan tangan dan kekuatan, lalu mereka berkata:
Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim: lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. (Ash-Shaffat: 97)
Perihal urusan mereka telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Anbiya. Dan Allah menyelamatkan Ibrahim dari api itu serta memenangkannya atas mereka, menolongnya, dan meninggikan hujannya. Karena itu, disebutkan oleh firman berikutnya:
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (Ash-Shaffat: 98)
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Terjemahan
Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
Tafsir Ibnu Katsir
"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Ash Shaaffat:99-100)
Yakni anak-anak yang taat sebagai ganti dari kaumnya dan kaum kerabatnya yang telah ditinggalkannya.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Terjemahan
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
Tafsir Ibnu Katsir
"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Ash Shaaffat:99-100)
Yakni anak-anak yang taat sebagai ganti dari kaumnya dan kaum kerabatnya yang telah ditinggalkannya.
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
Terjemahan
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Ash Shaaffat:101)
Anak ini adalah Nabi Ismail a.s., karena sesungguhnya dia adalah anak pertamanya yang sebelum kelahirannya, dia telah mendapat berita gembira mengenainya. Dia lebih tua daripada Nabi Ishaq, menurut kesepakatan kaum muslim dan kaum Ahli Kitab, bahkan di dalam nas kitab-kitab mereka disebutkan bahwa ketika Ibrahim a.s. mempunyai anak Ismail, ia berusia delapan puluh enam tahun. Dan ketika beliau mempunyai anak Ishaq, usia beliau sembilan puluh sembilan tahun.
Menurut mereka (Ahli Kitab), Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyembelih anak tunggalnya itu, dan dalam salinan kitab yang lain disebutkan anak pertamanya. Akan tetapi, mereka mengubahnya dan membuat-buat kedustaan dalam keterangan ini, lalu mengganti dengan Ishaq. Padahal hal tersebut bertentangan dengan nas kitab asli mereka. Sesungguhnya mereka menyusupkan penggantian dengan memasukkan Ishaq sebagai ganti Ismail karena bapak moyang mereka adalah Ishaq, sedangkan Ismail adalah bapak moyang bangsa Arab.
Orang-orang Ahli Kitab dengki dan iri hati kepada bangsa Arab, karena itu mereka menambah-nambahinya dan menyelewengkan arti anak tunggal dengan pengertian 'anak yang ada di sisimu,' karena Ismail telah dibawa pergi oleh Ibrahim bersama ibunya ke Mekah. Takwil seperti ini merupakan takwil yang menyimpang dan batil, karena sesungguhnya pengertian anak tunggal itu adalah anak yang semata wayang bagi Ibrahim (saat itu). Lagi pula anak pertama merupakan anak yang paling disayang lebih dari anak yang lahir sesudahnya, maka perintah untuk menyembelihnya merupakan ujian dan cobaan yang sangat berat.
Sejumlah ahlul 'ilmi mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq, menurut apa yang telah diriwayatkan dari segolongan ulama Salaf, sehingga ada yang menukilnya dari sebagian sahabat. Tetapi hal tersebut bukan bersumber dari Kitabullah, bukan pula dari sunnah. Dan saya dapat memastikan bahwa hal tersebut tidaklah diterima, melainkan dari ulama Ahli Kitab, lalu diterima oleh orang muslim tanpa alasan yang kuat. Yang jelas Kitabullah ini merupakan saksi yang menunjukkan kepada kita bahwa putra yang disembelih itu adalah Isma'il. Karena sesungguhnya Al-Qur'an telah menyebutkan berita gembira bagi Ibrahim akan kelahiran seorangputra yang penyabar dan menyebutkan pula bahwa putranya itulah Az-Zabih (yang disembelih).
Setelah itu disebutkan oleh firman-Nya:
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (Ash Shaaffat:112)
Malaikat ketika menyampaikan berita gembira akan kelahiran Ishaq kepada Ibrahim mengatakan:
Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (Al-Hijr:53)
Dan firman Allah Swt.:
maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (Huud:71)
Yakni dilahirkan bagi Ishaq di masa keduanya (Ibrahim dan istrinya) seorang putra yang diberi nama Ya'qub. Dengan demikian, Nabi Ibrahim beroleh keturunan dan cucu.
Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa tidaklah mungkin Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ishaq semasa kecilnya, karena Allah Swt. telah menjanjikan kepada keduanya bahwa kelak Ishaq akan melahirkan keturunannya. Maka mana mungkin sesudah semuanya itu Ishaq diperintahkan agar di sembelih saat ia masih kecil.
Dan lagi Ismail di sini mendapat julukan sebagai orang yang amat sabar, maka predikat inilah yang lebih pantas untuk kedudukan ini (sebagai anak yang rela disembelih).
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Terjemahan
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Tafsir Ibnu Katsir
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. (Ash Shaaffat:102)
Yakni telah tumbuh menjadi dewasa dan dapat pergi dan berjalan bersama ayahnya. Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. setiap waktu pergi menengok anaknya dan ibunya di negeri Faran, lalu melihat keadaan keduanya. Disebutkan pula bahwa untuk sampai ke sana Nabi Ibrahim mengendarai buraq yang cepat larinya, hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani, dan Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ash Shaaffat:102) Maksudnya, telah tumbuh dewasa dan dapat bepergian serta mampu bekerja dan berusaha sebagaimana yang dilakukan ayahnya.
Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! " (Ash Shaaffat:102)
Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu, kemudian ia membaca firman-Nya: Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" (Ash Shaaffat:102)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik Al-Karnadi, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Israil ibnu Yunus, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Mimpi para nabi itu merupakan wahyu.
Hadis ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab Sittah dengan jalur ini.
Dan sesungguhnya Ibrahim memberitahukan mimpinya itu kepada putranya agar putranya tidak terkejut dengan perintah itu, sekaligus untuk menguji kesabaran dan keteguhan serta keyakinannya sejak usia dini terhadap ketaatan kepada Allah Swt. dan baktinya kepada orang tuanya.
Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (Ash Shaaffat:102)
Maksudnya, langsungkanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk menyembelih diriku.
insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash Shaaffat:102)
Yakni aku akan bersabar dan rela menerimanya demi pahala Allah Swt. Dan memang benarlah, Ismail a.s. selalu menepati apa yang dijanjikannya. Karena itu, dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. (Maryam:54-55)
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
Terjemahan
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Tafsir Ibnu Katsir
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (Ash Shaaffat:103)
Setelah keduanya mengucapkan persaksian dan menyebut nama Allah untuk melakukan penyembelihan itu, yakni persaksian (tasyahhud) untuk mati. Menurut pendapat yang lain, aslama artinya berserah diri dan patuh. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengerjakan perintah Allah Swt. sebagai rasa taat keduanya kepada Allah, dan bagi Ismail sekaligus berbakti kepada ayahnya. Demikianlah menurut pendapat Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, Ibnu Ishaq, dan lain-lainnya.
Makna tallahu lil jabin ialah merebahkannya dengan wajah yang tengkurap dengan tujuan penyembelihan akan dilakukan dari tengkuknya dan agar Ibrahim tidak melihat wajahnya saat menyembelihnya, karena cara ini lebih meringankan bebannya.
Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Ad-Dahhak, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya). (Ash Shaaffat:103) Yakni menengkurapkan wajahnya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih dan Yunus. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abu Asim Al-Ganawi, dari Abut Tufail, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa ketika Ibrahim a.s. diperintahkan untuk mengerjakan manasik, setan menghadangnya di tempat sa'i, lalu setan menyusulnya, maka Ibrahim menyusulnya. Kemudian Jibril a.s. membawa Ibrahim ke jumrah 'aqabah, dan setan kembali menghadangnya, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil hingga setan itu pergi. Kemudian setan menghadangnya lagi di jumrah wusta, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil. Kemudian Ibrahim merebahkan Ismail pada keningnya, saat itu Ismail mengenakan kain gamis putih, lalu Ismail berkata kepada ayahnya, "Hai Ayah, sesungguhnya aku tidak mempunyai pakaian untuk kain kafanku selain dari yang kukenakan ini, maka lepaskanlah kain ini agar engkau dapat mengafaniku dengannya." Maka Ibrahim bermaksud menanggalkan baju gamis putranya itu. Tetapi tiba-tiba ada suara yang menyerunya dari arah belakang: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. (Ash Shaaffat:104-105), Maka Ibrahim menoleh ke belakang, tiba-tiba ia melihat seekor kambing gibasy putih yang bertanduk lagi gemuk. Ibnu Abbas mengatakan bahwa sesungguhnya sampai sekarang kami masih terus mencari kambing gibasy jenis itu. Hisyam menyebutkan hadis ini dengan panjang lebar di dalam Kitabul Manasik.
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dengan panjang lebar dari Yunus, dari Hammad ibnu Salamah, dari Ata ibnus Sa'ib, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas. Hanya dalam riwayat ini disebutkan Ishaq. Menurut riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. tentang nama anak yang disembelih, ada dua riwayat. Tetapi riwayat yang terkuat adalah yang menyebutnya Ismail, karena alasan yang akan kami sebutkan, insya Allah.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Al-Hasan ibnu Dinar, dari Qatadah, dari Ja'far ibnu Iyas, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffat:107) Bahwa dikeluarkan untuknya seekor kambing gibasy dari surga yang telah digembalakan sebelum itu selama empat puluh musim gugur (tahun). Maka Ibrahim melepaskan putranya dan mengejar kambing gibasy itu. Kambing gibasy itu membawa Ibrahim ke jumrah ula, lalu Ibrahim melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil. Dan kambing itu luput darinya, lalu lari ke jumrah wusta dan Ibrahim mengeluarkannya dari jumrah itu dengan melemparinya dengan tujuh buah batu kerikil. Kambing itu lari dan ditemuinya ada di jumrah kubra, maka ia melemparinya dengan tujuh buah batu kerikil. Pada saat itulah kambing itu keluar dari jumrah, dan Ibrahim menangkapnya, lalu membawanya ke tempat penyembelihan di Mina dan menyembelihnya.
Ibnu Abbas melanjutkan, "Demi Tuhan yang jiwa Ibnu Abbas berada di tangan kekuasaan-Nya, sesungguhnya sembelihan itu merupakan kurban yang pertama dalam Islam, dan sesungguhnya kepala kambing itu benar-benar digantungkan dengan kedua tanduknya di talang Ka'bah hingga kering."
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim yang mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. berkumpul bersama Ka'b, lalu Abu Hurairah menceritakan hadis dari Nabi Saw., sedangkan Ka'b menceritakan tentang kisah-kisah dari kitab-kitab terdahulu. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya masing-masing Nabi mempunyai doa yang mustajab, dan sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat buat umatku kelak di hari kiamat.
Maka Ka'b bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendengar ini dari Rasulullah Saw.?" Abu Hurairah menjawab, "Ya." Ka'b berkata, "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, atau semoga ayah dan ibuku menjadi tebusannya, maukah kuceritakan kepadamu tentang perihal Ibrahim a.s.?" Ka'b melanjutkan perkataannya, bahwa sesungguhnya ketika Ibrahim bermimpi menyembelih putranya Ishaq, setan berkata.”Sesungguhnya jika tidak kugoda mereka saat ini, berarti aku tidak dapat menggoda mereka selamanya."
Ibrahim a.s. berangkat bersama anaknya dengan tujuan akan menyembelihnya, maka setan pergi dan masuk menemui Sarah, lalu berkata, "Ke manakah Ibrahim pergi bersama anakmu?" Sarah menjawab, "Ia pergi membawanya untuk suatu keperluan." Setan berkata, "Sesungguhnya Ibrahim pergi bukan untuk suatu keperluan, melainkan ia pergi untuk menyembelih anaknya." Sarah bertanya, "Mengapa dia menyembelih anaknya?" Setan berkata, "Ibrahim mengira bahwa Tuhannya telah memerintahkan kepadanya hal tersebut." Sarah menjawab, "Sesungguhnya lebih baik baginya bila menaati Tuhannya."
Lalu setan pergi menyusul keduanya. Setan berkata kepada anak Ibrahim, "Ke manakah ayahmu membawamu pergi?" Ia menjawab," Untuk suatu keperluan." Setan berkata, "Sesungguhnya dia pergi bukan untuk suatu keperluan, tetapi ia pergi untuk tujuan akan menyembelihmu." Ia bertanya, "Mengapa ayahku akan menyembelihku?" Setan menjawab, "Sesungguhnya dia mengira bahwa Tuhannya telah memerintahkan hal itu kepadanya." Ia berkata, "Demi Allah, sekiranya Allah yang memerintahkannya, benar-benar dia akan mengerjakannya."
Setan putus asa untuk dapat menggodanya, maka ia meninggalkannya dan pergi kepada Ibrahim a.s., lalu bertanya, "Ke manakah kamu akan pergi dengan anakmu ini ?" Ibrahim menjawab, "Untuk suatu keperluan." Setan berkata, "Sesungguhnya engkau membawanya pergi bukan untuk suatu keperluan, melainkan engkau membawanya pergi dengan tujuan akan menyembelihnya." Ibrahim bertanya, "Mengapa aku harus menyembelihnya ?" Setan berkata, "Engkau mengira bahwa Tuhanmu lah yang memerintahkan hal itu kepadamu." Ibrahim berkata, "Demi Allah, jika Allah Swt. memerintahkan hal itu kepadaku, maka aku benar-benar akan melakukannya." Setan putus asa untuk menghalang-halanginya, lalu ia pergi meninggalkannya.
Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Yunus ibnu Yazid, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa sesungguhnya Amr ibnu Abu Sufyan ibnu Usaid ibnu Jariyah As- Saqafi pernah menceritakan kepadanya bahwa Ka'b pernah berkata kepada Abu Hurairah, lalu disebutkan hal yang semisal dengan panjang lebar. Dan di penghujung kisahnya disebutkan bahwa lalu Allah menurunkan wahyu kepada Ishaq, bahwa sesungguhnya Aku memberimu suatu doa yang Kuperkenankan bagimu. Maka Ishaq berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berdoa kepada-Mu, semoga Engkau memperkenankannya. Semoga siapa pun di antara hamba-Mu yang bersua dengan-Mu, baik dari kalangan orang terdahulu maupun dari kalangan orang yang terkemudian, dalam keadaan tidak mempersekutukan-Mu dengan sesuatu pun, semoga Engkau memasukkannya ke dalam surga."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah Swt. telah menyuruhku untuk memilih, apakah separo dari umatku mendapat ampunan ataukah doa permohonan syafaatku diterima. Maka aku memilih syafaatku diterima dengan harapan semoga sejumlah besar dari umatku diampuni dosa-dosanya. Seandainya tidak ada hamba saleh yang mendahuluiku, tentulah aku menyegerakan doaku itu. Sesungguhnya ketika Allah Swt. membebaskan Ishaq dari musibah penyembelihan, dikatakan kepadanya, "Hai Ishaq, mintalah, niscaya kamu diberi." Ishaq berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh aku akan menyegerakan doaku ini sebelum setan menggodaku. Ya Allah, barang siapa yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan-Mu dengan sesuatu pun, berilah dia ampunan dan masukkanlah ke dalam surga."
Hadis ini garib lagi munkar, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam daif hadisnya, dan saya merasa khawatir bila di dalam hadis ini terdapat tambahan yang disisipkan, yaitu ucapan, "Sesungguhnya setelah Allah Swt. membebaskan Ishaq dari musibah penyembelihan," hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Jika hal ini terpelihara, maka yang lebih mirip kepada kebenaran dia tiada lain adalah Ismail. Dan sesungguhnya mereka (Ahli Kitab) telah mengubahnya dengan Ishaq karena dengki dan iri terhadap bangsa Arab, seperti alasan yang telah dikemukakan di atas.
Lagi pula mengingat manasik dan penyembelihan kurban itu tempatnya tiada lain di Mina, yaitu bagian dari kawasan tanah Mekah, adalah tempat Ismail berada, bukan Ishaq. Karena sesungguhnya Ishaq berada di tanah Kan'an, bagian dari negeri Syam.
وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ
Terjemahan
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu!" (Ash Shaaffat:104-105)
Yakni sesungguhnya engkau telah mengerjakan apa yang telah dilihat dalam mimpimu itu hanya dengan membaringkan putramu untuk disembelih.
As-Saddi dan lain-lainnya menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. sempat menggorokkan pisaunya, tetapi tidak dapat memotong sesuatu pun, bahkan dihalang-halangi antara pisau dan leher Nabi Ismail oleh lempengan tembaga. Lalu saat itu juga Ibrahim a.s. diseru: sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. (Ash Shaaffat:105)
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Ash Shaaffat:105)
Yakni demikianlah Kami palingkan hal-hal yang tidak disukai dan hal-hal yang menyengsarakan dari orang-orang yang taat kepada Kami, dan Kami jadikan bagi mereka dalam urusannya jalan keluar dan kemudahan. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain, yaitu:
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At-Talaq: 2-3)
Ayat yang menceritakan kisah penyembelihan ini dijadikan dalil oleh sejumlah ulama Usul untuk menyatakan keabsahan nasakh sebelum melakukan pekerjaan yang diperintahkan, lain halnya dengan pendapat segolongan ulama dari kalangan Mu'tazilah. Tetapi penunjukkan makna dalam ayat ini sudah jelas, karena pada mulanya Allah memerintahkan kepada Ibrahim agar menyembelih anaknya, kemudian Allah menasakh (merevisi)nya dan mengalihkannya menjadi tebusan (yakni kurban). Dan sesungguhnya tujuan utama dari perintah ini pada mulanya hanyalah untuk menguji keteguhan dan kesabaran Nabi Ibrahim a.s. dalam melaksanakan perintah Allah Swt.
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
Terjemahan
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Tafsir Ibnu Katsir
dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (An Najm:37)
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Terjemahan
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffat:107)
Sufyan As- Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Abut Tufail dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffat:107) Yakni dengan kambing gibasy yang berbulu putih, gemuk, lagi bertanduk yang telah diikat di pohon samurah. Abut Tufail mengatakan bahwa mereka (berdua) menemukannya dalam keadaan telah terikat di pohon samurah yang ada di Bukit Sabir.
As-Sauri telah meriwayatkan pula dari Abdullah ibnu Usman ibnu Khasyam, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa kambing gibasy itu telah digembalakan di surga selama empat puluh tahun.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Ya'qub As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Daud Al-Attar, dari Ibnu Khasyam' dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa batu besar yang ada di Mina di lereng Bukit Sabir adalah batu tempat Nabi Ibrahim menyembelih tebusan anaknya Ishaq. Kambing gibasy yang gemuk lagi bertanduk turun dari Bukit Sabir menuju ke tempat Nabi Ibrahim seraya mengembik, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya. Kambing itu juga yang dipakai kurban oleh anak Adam, lalu diterima, dan kambing itu disimpan hingga dijadikan tebusan untuk Ishaq.
Telah diriwayatkan pula dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa kambing gibasy itu hidup bebas di dalam surga hingga dikeluarkan dari Bukit Sabir, dan pada leher kambing itu terdapat bulu yang berwarna merah.
Disebutkan dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa nama kambing gibasy yang dijadikan kurban oleh Nabi Ibrahim a.s. adalah Jarir.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa menurut Ubaid ibnu Umair, Nabi Ibrahim menyembelihnya di maqam Ibrahim.
Menurut Mujahid, Nabi Ibrahim menyembelihnya di Mina di tempat penyembelihan kurban sekarang.
Hasyim telah meriwayatkan dari Sayyar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Ibnu Abbas pernah memberikan fatwa kepada orang yang bernazar akan menyembelih dirinya, lalu Ibnu Abbas memerintahkan kepadanya agar menggantinya dengan menyembelih seratus ekor unta. Sesudah itu ia berkata bahwa seandainya dia memberikan fatwa kepadanya agar menyembelih seekor kambing gibasy, tentulah hal itu sudah mencukupi baginya. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman di dalam Kitab-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffat:107)
Menurut pendapat yang sahih, tebusan tersebut berupa seekor kambing gibasy.
As-Sauri telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffat:107) Ibnu Abbas mengatakan bahwa sembelihan itu adalah seekor kambing gunung.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa tidaklah Ismail a.s. ditebus melainkan dengan seekor kambing gunung dari Aura yang diturunkan untuk Ibrahim dari Bukit Sabir.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Mansur, dari pamannya (yaitu Musafi' dan Safiyyah binti Syaibah) yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya seorang wanita dari Bani Salim yang telah melahirkan sebagian besar penduduk perkampungan kami, bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan utusan kepada Usman ibnu Abu Talhah r.a. (pemegang kunci Ka'bah). Wanita itu pernah bertanya kepada Usman, "Mengapa Nabi Saw. memanggilmu ?" Maka Usman menjawab, bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: Sesungguhnya aku melihat sepasang tanduk saat memasuki Ka'bah, dan aku lupa untuk memerintahkan kepadamu agar menutupinya dengan kain. Karena itu, tutupilah sepasang tanduk itu dengan kain, sebab tidak patut bila di dalam Ka'bah terdapat sesuatu yang mengganggu kekhusyukan orang yang salat (di dalamnya).
Sufyan mengatakan bahwa kedua tanduk itu masih tetap tergantung di dalam Ka'bah hingga Ka'bah mengalami kebakaran dan keduanya ikut terbakar.
Hal ini merupakan bukti tersendiri yang menunjukkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Nabi Ismail a.s. Karena sesungguhnya orang-orang Quraisy menerimanya secara turun-temurun dari para pendahulu mereka generasi demi generasi, sampai Allah mengutus RasulNya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Berikut ini sebuah pasal yang mengemukakan asar-asar yang ditemukan dari ulama Salaf tentang siapakah sebenarnya anak yang disembelih itu.
Berikut ini dikemukakan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq a.s.
Hamzah Az-Zayyat telah meriwayatkan dari Abu Maisarah rahimahullah yang mengatakan, bahwa Nabi Yusuf a.s. pernah mengatakan kepada raja dalam alasannya, "Apakah engkau menginginkan makan bersama denganku, sedangkan aku adalah Yusuf ibnu Ya'qub nabiyyullah ibnu Ishaq sembelihan Allah ibnu Ibrahim kekasih Allah."
As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sinan, dari Ibnu Abul Huzail bahwa Yusuf mengatakan hal yang sama kepada raja.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dari ayahnya yang mengatakan, bahwa Musa a.s. pernah mengatakan dalam doanya, "Ya Tuhanku, mereka selalu mengatakan demi Tuhannya Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub. Mengapa mereka selalu mengatakan hal tersebut?" Allah Swt. menjawab "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang tidak membandingkan sesuatu dengan-Ku, melainkan dia pasti memilih-Ku. Dan sesungguhnya Ishaq telah rela demi Aku untuk disembelih, selain itu dia adalah seorang yang lebih dermawan. Dan sesungguhnya Ya'qub itu manakala Kutambahkan kepadanya cobaan, maka makin bertambah pulalah baik prasangkanya kepada-Ku."
Syu'bah telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki membanggakan dirinya dihadapan Ibnu Mas'ud r.a. Lelaki itu berkata, "Aku adalah Fulan bin Fulan bin para tetua yang terhormat." Maka Abdullah ibnu Mas'ud r.a. berkata bahwa orang yang patut mengatakan demikian adalah Yusuf ibnu Ya'qub ibnu Ishaq Zabihullah (sembelihan Allah) ibnu Ibrahim kekasih Allah.
Riwayat ini sahih bersumber dari Ibnu Ma'sud r.a. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa dia adalah Ishaq. Juga telah diriwayatkan dari Al-Abbas dan Ali ibnu Abu Talib hal yang semisal. Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq dan Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Az-Zuhri, dari Abu Sufyan, dan Al-Ala ibnu Jariyah dari Abu Hurairah r.a. dan Ka'bul Ahbar yang telah mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.
Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— semuanya bersumber dari Ka'bul Ahbar. Ketika masuk Islam di masa pemerintahan Khalifah Umar, ia bercerita kepada Umar r.a. tentang apa yang terkandung di dalam kitab-kitab terdahulunya. Dan barangkali Umar r.a. sendiri mau mendengarkannya sehingga orang-orang pun mau mendengarkan apa yang ada pada Ka'bul Ahbar, bahkan menukil darinya segala sesuatu yang ada padanya, baik yang telah dipalsukan maupun yang masih asli.
Akan tetapi, bagi umat ini —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— tidak memerlukan suatu huruf pun dari apa yang ada pada Ka'bul Ahbar itu. Al-Bagawi telah meriwayatkan suatu pendapat yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq, yang menurutnya bersumber dari Umar, Ali, Ibnu Mas'ud, dan Al-Abbas r.a., sedangkan dari kalangan tabi'in bersumber dari Ka'bul Ahbar, Sa'id ibnu Jubair. Qatadah, Masruq, Ikrimah, Ata. Muqatil. Az-Zuhri, dan As-Saddi. Al-Bagawi mengatakan bahwa hal ini dikatakan oleh salah satu di antara dua riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. Dan telah disebutkan mengenai masalah ini dalam sebuah hadis yang seandainya hadis tersebut terbukti kesahihannya, tentulah kita mau mengatakannya dengan penuh kepercayaan, tetapi sayangnya sanad hadis tersebut tidak sahih.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Habbab, dari Al-Hasan ibnu Dinar, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib r.a., dari Nabi Saw. dalam suatu hadis yang di dalamnya disebutkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.
Akan tetapi, di dalam sanad hadis di atas terdapat dua perawi yang daif, yaitu Al-Hasan ibnu Dinar Al-Basri berpredikat matruk, dan Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an hadisnya munkar (tidak dapat diterima).
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya dari ayahnya, dari Muslim ibnu Ibrahim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an dengan sanad yang sama secara marfu'. Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Mubarak ibnu Fudalah telah meriwayatkannya dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf, dari Al-Abbas r.a. Dan sanad riwayat ini lebih sahih ketimbang yang sebelumnya, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Mengenai asar-asar yang menyebutkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail a.s., predikatnya sahih dan dapat dijadikan sebagai pegangan.
Di atas telah disebutkan suatu riwayat dari Ibnu Abbas a.s. yang mengatakan bahwa dia adalah Ishaq a.s. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, Sa'id ibnu Jubair, Amir Asy-Sya'bi, Yusuf ibnu Mahran, Mujahid, dan Ata serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail a.s.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, .telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Qais, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas, bahwa anak yang dikurbankan itu adalah Ismail a.s. Dan orang-orang Yahudi mengira bahwa dia adalah Ishaq, orang-orang Yahudi itu telah dusta.
Israil telah meriwayatkan dari Saur, dari Mujahid, dari Ibnu Umar r.a.yang telah mengatakan bahwa anak yang disembelih adalah Ismail a.s.
Ibnu AbuNajih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa dia adalah Ismail a.s. Hal yang sama telah dikatakan oleh Yusuf ibnu Mahran. Asy-Sya'bi mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail a.s. Dan ia pernah melihat sepasang tanduk gibasy itu di dalam Ka'bah.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Al-Hasan ibnu Dinar dan Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan Al-Basri, ia tidak pernah meragukan masalah ini bahwa anak yang diperintahkan oleh Allah agar Ibrahim menyembelihnya di antara salah seorang dari kedua anaknya adalah Ismail a.s.
Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa anak yang Ibrahim diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyembelihnya di antara kedua putranya adalah Ismail. Dan sesungguhnya kami benar-benar menjumpai keterangan hal ini di dalam Kitabullah. Demikian itu ialah bahwa setelah Allah Swt. selesai mengutarakan kisah anak yang disembelih di antara kedua anak Ibrahim, lalu ia berfirman: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (Ash Shaaffat:112) Dan firman Allah Swt.: maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub. (Huud:71)
Yakni dia akan mempunyai anak, dan anaknya itu akan mempunyai anak. Jadi tidak mungkin Allah memerintahkan kepada Ibrahim agar menyembelih Ishaq, sedangkan Ishaq telah dijanjikan akan mempunyai keturunan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, Dengan demikian, tiada lain putra yang Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya hanyalah Ismail. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa ia mendengar Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi sering mengatakan hal ini.
Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Buraidah ibnu Sufyan Al-Aslami, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, bahwa ia pernah menceritakan hal ini kepada Umar ibnu Abdul Aziz yang saat itu menjabat sebagai khalifah karena saat itu Muhammad ibnu Ka'b ada bersamanya di negeri Syam Lalu Umar ibnu Abdul Aziz berkata, "Sesungguhnya berita ini merupakan suatu berita yang belum pernah saya perhatikan, dan sesungguhnya aku hanya berpendapat seperti apa yang engkau katakan.” Selanjutnya Umar ibnu Abdul Aziz memanggil seorang lelaki Yahudi yang ada di negeri Syam yang telah masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya. Dahulu lelaki itu termasuk salah seorang dari ulama mereka (Yahudi), Lalu Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz bertanya kepadanya, "Manakah di antara kedua putra Ibrahim yang diperintahkan agar disembelih?" Saat itu Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi berada di samping Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz. Lelaki itu menjawab, "Demi Allah, hai Amirul Mu-minin, sesungguhnya orang-orang Yahudi benar-benar mengetahui hal tersebut, tetapi mereka dengki terhadap kalian bangsa Arab bila bapak moyang kalian yang disebutkan dalam perintah Allah dan keutamaan yang dimilikinya saat menghadapi perintah Allah berkat kesabarannya. Mereka berbalik mengingkari hal tersebut dan menduganya bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq, karena Ishaq adalah bapak moyang mereka. Hanya Allah Yang lebih mengetahui mana yang sebenarnya, yang jelas Ishaq adalah seorang yang taat kepada Allah Swt."
Abdullah putra Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang anak yang disembelih itu, Ismail ataukah Ishaq. Maka Imam Ahmad menjawab bahwa putra yang disembelih itu adalah Ismail. Ia menyebutkan hal ini di dalam Kitabuz Zuhud-nya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa anak yang disembelih itu yang benar adalah Ismail a.s.
Telah diriwayatkan dari Ali, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abut Tufail, Sa'id ibnul Musayyab, Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan, Mujahid, Asy-Sya'bi, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Abu Ja'far alias Muhammad ibnu Ali serta Abu Saleh, bahwa mereka telah mengatakan anak yang disembelih itu adalah Ismail.
Al-Bagawi di dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa pendapat yang sama dikatakan oleh Abdullah ibnu Umar, Sa'id ibnul Musayyab, As-Saddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi' ibnu Anas, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Al-Kalbi, juga menurut suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang sama diriwayatkan pula dari Abu Amr ibnul Ala.
Sehubungan dengan hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan sebuah hadis yang garib. Dia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ammar Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ubaid ibnu Abu Karimah, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abdur Rahim Al-Khaltabi, dari Abdullah ibnu Muhammad Al-Atabi (salah seorang putra Atabah ibnu Abu Sufyan), dari ayahnya, bahwa telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Sa'id, dari As-Sanabiji yang mengatakan, bahwa ketika kami berada di tempat Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan, orang-orang yang hadir membicarakan tentang anak yang disembelih, apakah dia Ismail ataukah Ishaq. Lalu Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan berkata, "Kalian bertanya kepada orang yang tepat."
Mu'awiyah melanjutkan bahwa pada suatu hari ketika kami para sahabat berada di tempat Rasulullah Saw., maka beliau kedatangan seorang lelaki yang berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku sebagian dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu sebagai harta fai', wahai putra kedua orang yang disembelih."
Rasulullah Saw. tersenyum mendengar hal itu. Lalu ada yang bertanya (kepada Mu'awiyah), "Wahai Amirul Mu-minin, siapakah kedua orang yang disembelih itu?" Maka Mu'awiyah menjawab, bahwa ketika Abdul Muttalib diperintahkan untuk menggali (ulang) sumur zam-zam, ia bernazar kepada Allah, bahwa jika segala sesuatunya dilancarkan oleh Allah dalam urusannya itu, dia akan menyembelih salah seorang putranya. Mu'awiyah melanjutkan kisahnya, bahwa ternyata setelah dilakukan undian (di antara anak-anaknya) pilihan jatuh kepada Abdullah (ayahanda Nabi Saw.). Tetapi paman-pamannya yang dari pihak ibu melarangnya, dan mereka mengatakan, "Tebuslah anakmu ini dengan seratus ekor unta." Akhirnya Abdul Muttalib menebusnya dengan seratus ekor unta. Dan orang kedua yang disembelih adalah Ismail a.s.
Hadis ini garib sekali, dan Al-Umawi telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab Magazi-nya, telah menceritakan kepada kami sebagian dari teman-teman kami, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ubaid ibnu Abu Karimah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdur Rahman Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Muhammad Al-Atabi (salah seorang anak Atabah ibnu Abu Sufyan), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami As-Sanabiji, bahwa ia pernah menghadiri Majelis Mu'awiyah r.a. Lalu kaum yang hadir membicarakan tentang Ismail ataukah Ishaq anak yang disembelih itu, kemudian disebutkan hal yang semisal. Demikianlah yang saya tulis dari kitab salinan yang kacau.
Dan sesungguhnya Ibnu Jarir melakukan suatu kekeliruan dengan memilih pendapat yang mengatakan Zabih adalah Ishaq terhadap firman Allah Swt.: Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (Ash Shaaffat:101). Ia menakwilkan bahwa kabar gembira ini adalah yang menyangkut kelahiran Ishaq, padahal yang sebenarnya adalah firman Allah Swt.: dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (Az-Zariyat: 28)
Dan ia menjawab tentang berita gembira akan kelahiran Ya'qub dari Ishaq, bahwa hal itu terjadi setelah dia sampai pada usia sanggup berusaha (bekerja). Dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil bila Ishaq mempunyai anak lain selain Ya'qub. Ibnu Jarir mengatakan, 'Adapun mengenai sepasang tanduk yang digantungkan di Ka'bah, bisa saja keduanya (Ibrahim dan Ishaq) memindahkannya dari negeri Kan'an (ke Mekah).'" Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa di antara ulama ada yang berpendapat bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq, dan penyembelihannya dilakukan di Kan'an. '
Apa yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya ini bukan merupakan suatu pendapat yang benar, bukan pula merupakan hal yang pasti. Bahkan jauh sekali dari kebenaran, mengingat apa yang telah disimpulkan oleh Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail, merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih sahih serta lebih terbukti kebenarannya, hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Terjemahan
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
Tafsir Ibnu Katsir
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Terjemahan
(yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
Tafsir Ibnu Katsir
كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Tafsir Ibnu Katsir
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
Terjemahan
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. (Ash Shaaffat:112)
Setelah menyebutkan berita gembira tentang kelahiran anak yang disembelih (yaitu Ishaq), lalu disebutkan mengiringinya berita gembira akan kelahiran saudaranya, yaitu Ishaq. Hal yang sama telah disebutkan di dalam surat Hud dan surat Al-Hijr.
Firman Allah Swt., "Nabiyyan.” berkedudukan menjadi kata keterangan keadaan yang penjelasannya tidak disebutkan. Bentuk lengkapnya ialah, kelak dia akan menjadi seorang nabi yang saleh.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah. dari Daud. dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.
Ibnu jarir mengatakan bahwa firman-Nya: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (Ash Shaaffat:112) Ini merupakan berita gembira tentang kenabiannya. Ibnu Jarir mengatakan bahwa ayat ini semakna dengan firman-Nya:
Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya Harun menjadi seorang nabi. (Maryam:53)
Harun lebih tua daripada Musa, tetapi Musa menginginkan agar Harun pun diangkat pula menjadi nabi, maka kenabian diberikan kepadanya.
Telah menceritakan pula kepada kami Ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Daud menceritakan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (Ash Shaaffat:112) Sesungguhnya ia mendapat berita gembira menjadi nabi hanya pada saat ia merelakan dirinya untuk dijadikan kurban demi karena Allah Swt. Dan berita gembira kenabiannya tidak diberikan saat ia dilahirkan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami AbuNa'im, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Daud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (Ash Shaaffat:112) Bahwa ia mendapat berita gembira ini sejak saat ia dilahirkan dan setelah menjadi nabi.
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh (Ash Shaaffat:112) Hal ini disampaikan kepadanya setelah ia dengan rela dan tulus ikhlas menyerahkan dirinya untuk dijadikan sembelihan.
وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ
Terjemahan
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
Tafsir Ibnu Katsir
Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (Ash Shaaffat:113)
Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:
Difirmankan, "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud:48)
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.
Tafsir Ibnu Katsir
وَنَجَّيْنَاهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ
Terjemahan
Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.
Tafsir Ibnu Katsir
وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ
Terjemahan
Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.
Tafsir Ibnu Katsir
وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ
Terjemahan
Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni dalam semua ucapan dan perbuatan.
وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Terjemahan
Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni dalam semua ucapan dan perbuatan.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ
Terjemahan
Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;
Tafsir Ibnu Katsir
Artinya, Kami lestarikan bagi keduanya —sesudah keduanya tiada— sebutan yang baik dan pujian yang baik.
سَلَامٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
Terjemahan
(yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun".
Tafsir Ibnu Katsir
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Tafsir Ibnu Katsir
وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Ubaidah ibnu Rabi'ah, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Ilyas adalah Idris. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ad-Dahhak. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa dia adalah Ilyas ibnu Nissi ibnu Fanhas ibnul Aizar ibnu Harun ibnu Imran. Allah mengutusnya kepada kaum Bani Israil sesudah Hizqil a.s. (Hezkiel), saat itu kaumnya menyembah berhala yang disebut Ba'l. Lalu Ilyas menyeru mereka untuk menyembah Allah, dan mencegah mereka dari menyembah kepada selain Allah.
Pada mulanya raja mereka telah beriman, kemudian murtad dan terus berkelanjutan dalam kesesatannya bersama kaumnya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang beriman. Maka Nabi Ilyas berdoa kepada Allah untuk memberikan pelajaran terhadap kaumnya, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun. Akhirnya mereka meminta kepada Nabi Ilyas agar melenyapkan hal tersebut dari mereka, dan mereka menjanjikan kepadanya bahwa jika berhasil, maka mereka akan beriman kepadanya, yaitu jika mereka kembali memperoleh hujan. Lalu Nabi Ilyas berdoa kepada Allah memohon hujan, maka turunlah hujan kepada mereka sebagaimana biasanya. Akan tetapi, mereka tetap dalam kesesatannya dan bergelimang dalam kekafirannya seperti semula.
Kemudian Nabi Ilyas memohon kepada Allah agar Dia mencabut nyawanya kembali kepada-Nya, dan saat itu telah dibesarkan oleh Ilyasa" ibnu Akhtub a.s. Maka Allah memerintahkan kepada Ilyas agar pergi ke suatu tempat, bilamana ada sesuatu yang datang kepadanya, janganlah ia takut, dan hendaknya ia menaikinya tanpa ragu-ragu. Maka datanglah kepadanya di tempat tersebut seekor kuda dari api, lalu ia menaikinya, dan Allah Swt. memberi Ilyas pakaian dari cahaya dan memberinya sayap. Sejak itu Ilyas terbang bersama para malaikat, menjadi manusia penghuni langit, adakalanya juga berada di bumi. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Wahb ibnu Munabbih dari Ahli Kitab, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ
Terjemahan
(ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertakwa?
Tafsir Ibnu Katsir
(Ingatlah) ketika ia berkata kepada kautnya,-Mengapa kamu tidak bertakwa?" (Ash Shaaffat:124)
Artinya, mengapa kalian tidak takut kepada Allah Swt. karena kalian menyembah selain-Nya?.
Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta? (As- Saffat:125)
Ibnu Abas r a Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan Ba’l adalah berhala.
Qatadah dan Ikrimah berkata itu menurut dialek Yaman, dalam riwayat lain Qatadah berkata itu menurut dialek suku Sunu’ah.
Ibnu Ishaq mengabarkan dari sebagian ahli ilmu bahwa Ba’l adalah berhala wanita.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan dari Bapaknya, Ba’l adalah nama patung yang disembang orang Madinah, dinamakan dengan Ba’labak terletak di sebelah barat Dimasyq.
أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ
Terjemahan
Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abas r a Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan Ba’l adalah berhala.
Qatadah dan Ikrimah berkata itu menurut dialek Yaman, dalam riwayat lain Qatadah berkata itu menurut dialek suku Sunu’ah.
Ibnu Ishaq mengabarkan dari sebagian ahli ilmu bahwa Ba’l adalah berhala wanita.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan dari Bapaknya, Ba’l adalah nama patung yang disembang orang Madinah, dinamakan dengan Ba’labak terletak di sebelah barat Dimasyq.
Firman Allah Swt.:
Patutkah kamu menyembah Ba'l. (Ash-Shaffat: 125)
Yakni mengapa kamu menyembah berhala?
dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.
Dialah yang pantas disembah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
Terjemahan
(yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?"
Tafsir Ibnu Katsir
فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Terjemahan
Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka),
Tafsir Ibnu Katsir
Yaitu untuk mendapat azab di hari perhitungan amal perbuatan nanti.
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Terjemahan
kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni di antara mereka yang mengesakan Allah, istisna atau pengecualian di sini bersifat munqati' dari musbat.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Terjemahan
Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami abadikan untuk Ilyas di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Ash Shaaffat:129)
Maksudnya, pujian yang baik dan sebutan yang harum.
(yaitu),Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas.” (Ash Shaaffat:130)
Ungkapan ini menurut dialek Bani Asad, misalnya Ismail dikatakan Ismain, sebagian Bani Tamim mendendangkan suatu bait syair berkenaan dengan biawak yang berhasil mereka buru:
Mereka mengatakan ketika kami datang, "Ini, demi Tuhan Baitullah, adalah orang-orang Bani Israil"
Dikatakan Mikal, Mikail, dan Mikain, sebagaimana dikatakan Ibrahim dan Abraham, dan Israil dikatakan Israin, Tursaina dikatakan Tur Sinina. Semuanya itu diperbolehkan dan menunjukkan makna yang sama
Sebagian ulama membacanya Salamun -Ala Idrasin, yang artinya 'kesejahteraan dilimpahkan kepada Idris." Ini menurut qiraat sahabat Ibnu Masud r.a.
Yang lainnya ada yang membacanya Ali Yasin, dengan pengertian keluarga Muhammad Saw.
سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ
Terjemahan
(yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?"
Tafsir Ibnu Katsir
Ungkapan ini menurut dialek Bani Asad, misalnya Ismail dikatakan Ismain; sebagian Bani Tamim mendendangkan suatu bait syair berkenaan dengan biawak yang berhasil mereka buru:
Mereka mengatakan ketika kami datang, "Ini, demi Tuhan Baitullah, adalah orang-orang Bani Israil"
Dikatakan Mikal, Mikail, dan Mikain, sebagaimana dikatakan Ibrahim dan Abraham, dan Israil dikatakan Israin, Tursaina dikatakan Tur Sinina. Semuanya itu diperbolehkan dan menunjukkan makna yang sama
Sebagian ulama membacanya Salamun -Ala Idrasin, yang artinya 'kesejahteraan dilimpahkan kepada Idris." Ini menurut qiraat sahabat Ibnu Masud r.a.
Yang lainnya ada yang membacanya Ali Yasin, dengan pengertian keluarga Muhammad Saw
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir mengenainya telah di sebutkan di atas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir mengenainya telah di sebutkan di atas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَإِنَّ لُوطًا لَّمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.
Tafsir Ibnu Katsir
إِذْ نَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ
Terjemahan
(Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua,
Tafsir Ibnu Katsir
إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ
Terjemahan
kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.
Tafsir Ibnu Katsir
ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ
Terjemahan
Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.
Tafsir Ibnu Katsir
وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِم مُّصْبِحِينَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni mengapa kamu tidak mengambil pelajaran dari mereka, bagaimanakah Allah membinasakan mereka, dan kamu telah mengetahui bahwa bagi orang-orang kafir akan mendapat siksaan yang semisal.
وَبِاللَّيْلِ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Terjemahan
dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni mengapa kamu tidak mengambil pelajaran dari mereka, bagaimanakah Allah membinasakan mereka, dan kamu telah mengetahui bahwa bagi orang-orang kafir akan mendapat siksaan yang semisal.
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,
Tafsir Ibnu Katsir
Dan di dalam Kitab Sahihan disebutkan, bahwa Rasulullah Saw. Telah bersabda:
Tidaklah layak bagi seseorang bila mengatakan bahwa aku ini lebih baik daripada Yunus ibnu Mata. Nisbatnya itu kepada ibunya
dan menurut pendapat lain dinisbatkan kepada ayahnya.
إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
Terjemahan
(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,
Tafsir Ibnu Katsir
(ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan. (Ash-Shaffat: 140)
Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa al-masyhun artinya yang sarat dan penuh dengan muatan.
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
Terjemahan
kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni terkalahkan dalam undian tersebut. Demikian itu karena perahu yang ditumpanginya keberatan muatan hingga hampir tenggelam dan ombak laut masuk ke dalam perahu itu dari semua sisinya. Kemudian mereka mengadakan undian, dengan ketentuan bahwa barang siapa yang namanya keluar dari undian tersebut, maka ia harus dilemparkan ke laut agar beban perahu tidak terlalu berat. Ternyata undian tersebut jatuh kepada Nabi Yunus a.s. sekalipun diulang tiga kali, karena mereka tidak suka bila beliau dilemparkan ke laut. Akhirnya Nabi Yunus terpaksa melepaskan bajunya untuk menceburkan dirinya ke laut. Sekalipun mereka mencegahnya.
Kemudian Allah Swt.memerintahkan kepada ikan besar (ikan paus) dari laut hijau untuk membelah laut dan pergi ke tempat Nabi Yunus berada, lalu menelannya, tetapi tidak boleh melukai dagingnya, dan tidak boleh pula mematahkan tulangnya.
Ikan besar itu telah berada di tempat saat Nabi Yunus menceburkan dirinya ke laut, lalu ia langsung menelannya dan membawanya pergi mengelilingi semua laut.
Ketika Nabi Yunus telah berada di dalam perut ikan, ia mengira bahwa dirinya telah mati. Lalu ia gerakkan kepala dan kedua kakinya serta semua anggota tubuhnya, ternyata dirinya masih hidup. Kemudian ia berdiri dan salat di dalam perut ikan; dan di antara doa yang diucapkannya ialah ''Ya Tuhanku, aku jadikan untuk menyembahmu sebuah masjid di suatu tempat yang tidak dapat dicapai oleh seorang manusia pun."
Para ulama berselisih pendapat tentang lamanya masa Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar itu. Suatu pendapat mengatakan tiga hari, ini menurut Qatadah. Ada yang menyebutkan tujuh hari, ini menurut Ja'far As-Sadiq r.a. Dan menurut pendapat lainnya empat puluh hari, ini menurut Abu Malik.
Mujahid telah meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, bahwa Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar di waktu pagi hari, dan dikeluarkan darinya pada petang hari. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang lamanya dia berada di dalam perut ikan. Di dalam syair Umayyah ibnu Abus Silt disebutkan:
Engkau telah menyelamatkan Yunus berkat karunia dari-Mu, padahal dia telah tinggal di dalam perut ikan itu setelah beberapa malam.
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
Terjemahan
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.
Tafsir Ibnu Katsir
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ
Terjemahan
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (Ash-Shaffat:. 143-144)
Menurut suatu pendapat sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sekiranya dia tidak pernah mengerjakan amal saleh di masa sukanya. Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh Ad-Dahhak ibnu Qais Abul Aliyah, Wahb ibhu Munabbih, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan memang ada hadis yang menerangkan hal tersebut yang akan kami kemukakan, insya Allah, dapat dijadikan sebagai dalil jika memang predikatnya sahih. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas disebutkan:
Kenalilah Allah di masa suka. niscaya Dia mengenalmu di masa duka(mu)
Ibnu Abbas r.a., Said ibnu Jubair,Ad-Dahhak, Ata ibnus Sa'ib As-Saddi, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Yakni orang-orang vang salat: sebagian dari mereka menyebutkan bahwa memang Yunus sebelum itu termasuk orang yang rajin mengerjakan salat. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa dia memang termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah sejak masih berada di dalam perut ibunya.
Pendapat yang lain mengatakan: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Bahwa yang dimaksud adalah apa yang dijelaskan oleh firman-Nya dalam ayat lainnya, yaitu: maka ia menyeru dalam tempat yang sangat gelap, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiya: 87-88)
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair dan lain-lainnya
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah (saudara lelaki Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik r.a. —yang menurutnya Anas pasti me-rafa '-kan hadis ini sampai kepada Rasulullah Saw.— menceritakan hadis berikut: Bahwa Nabi Yunus ketika merasa yakin bahwa dirinya harus mengucapkan doa-doa berikut saat berada di dalam perut ikan besar, yaitu: "Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.” Maka doanya itu menghadap dan merintih di bawah 'Arasy. Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami ini adalah suara yang lemah, tetapi dikenal datang dari tempat yang jauh lagi terasing.” Allah Swt. berfirman, "Tidakkah kalian mengenalnya?” Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami, suara siapakah ini?” Allah Swt. berfirman, "Ini suara hamba-Ku Yunus.” Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus, yang sampai sekarang masih terus-menerus diangkat baginya amal yang diterima dan doa yang diperkenankan.” Para malaikat berkata lagi, "Ya Tuhan kami, tidakkah Engkau mengasihaninya atas apa yang telah dikerjakannya di masa sukanya, maka Engkau selamatkan dia dari cobaan ini.” Allah berfirman, "Baiklah.” Lalu Allah memerintahkan kepada ikan besar itu (untuk mengeluarkannya), maka ikan besar itu mencampakkannya di padang sahara.
Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dari Yunus, dari Ibnu Wahb dengan sanad yang sama.
Ibnu Abu Hatim menambahkan bahwa Abu Sakhr alias Humaid ibnu Ziad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Qasit, dan aku menceritakan hadis ini, bahwa ia mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Yunus dimuntahkan oleh ikan besar itu ke padang sahara. Dan Allah menumbuhkan buah labu di padang itu. Ketika kami bertanya kepada Abu Hurairah tentang buah tersebut, maka Abu Hurairah menjawab bahwa yang dimaksud adalah buah pohon labu.
Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa Allah menyediakan baginya kambing betina liar yang makan dari serangga tanah, lalu kambing liar itu memberinya air minum dari air susunya setiap pagi dan petang hingga Nabi Yunus dapat berdiri dan segar kembali.
Sehubungan dengan kisah ini Umayyah ibnu Abus Silt mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
Maka tumbuhlah buah labu berkat rahmat Allah untuknya. Kalau sekiranya tidak ada pertolongan Allah, tentulah Yunus mati.
Kisah lainnya telah disebutkan pula di dalam hadis Abu Hurairah r.a. yang disandarkan dan di-marfu'-kan (sampai kepada Nabi Saw.), yaitu dalam tafsir surah Al-Anbiya.
لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Terjemahan
niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (Ash-Shaffat:. 143-144)
Menurut suatu pendapat sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa sekiranya dia tidak pernah mengerjakan amal saleh di masa sukanya. Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh Ad-Dahhak ibnu Qais Abul Aliyah, Wahb ibhu Munabbih, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Dan memang ada hadis yang menerangkan hal tersebut yang akan kami kemukakan, insya Allah, dapat dijadikan sebagai dalil jika memang predikatnya sahih. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas disebutkan:
Kenalilah Allah di masa suka. niscaya Dia mengenalmu di masa duka(mu)
Ibnu Abbas r.a., Said ibnu Jubair,Ad-Dahhak, Ata ibnus Sa'ib As-Saddi, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Yakni orang-orang vang salat: sebagian dari mereka menyebutkan bahwa memang Yunus sebelum itu termasuk orang yang rajin mengerjakan salat. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa dia memang termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah sejak masih berada di dalam perut ibunya.
Pendapat yang lain mengatakan: Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. (Ash-Shaffat: 143) Bahwa yang dimaksud adalah apa yang dijelaskan oleh firman-Nya dalam ayat lainnya, yaitu: maka ia menyeru dalam tempat yang sangat gelap, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiya: 87-88)
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair dan lain-lainnya
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidillah (saudara lelaki Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepada kami Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik r.a. —yang menurutnya Anas pasti me-rafa '-kan hadis ini sampai kepada Rasulullah Saw.— menceritakan hadis berikut: Bahwa Nabi Yunus ketika merasa yakin bahwa dirinya harus mengucapkan doa-doa berikut saat berada di dalam perut ikan besar, yaitu: "Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.” Maka doanya itu menghadap dan merintih di bawah 'Arasy. Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami ini adalah suara yang lemah, tetapi dikenal datang dari tempat yang jauh lagi terasing.” Allah Swt. berfirman, "Tidakkah kalian mengenalnya?” Para malaikat berkata, "Ya Tuhan kami, suara siapakah ini?” Allah Swt. berfirman, "Ini suara hamba-Ku Yunus.” Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus, yang sampai sekarang masih terus-menerus diangkat baginya amal yang diterima dan doa yang diperkenankan.” Para malaikat berkata lagi, "Ya Tuhan kami, tidakkah Engkau mengasihaninya atas apa yang telah dikerjakannya di masa sukanya, maka Engkau selamatkan dia dari cobaan ini.” Allah berfirman, "Baiklah.” Lalu Allah memerintahkan kepada ikan besar itu (untuk mengeluarkannya), maka ikan besar itu mencampakkannya di padang sahara.
Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dari Yunus, dari Ibnu Wahb dengan sanad yang sama.
Ibnu Abu Hatim menambahkan bahwa Abu Sakhr alias Humaid ibnu Ziad mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Qasit, dan aku menceritakan hadis ini, bahwa ia mendengar Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Yunus dimuntahkan oleh ikan besar itu ke padang sahara. Dan Allah menumbuhkan buah labu di padang itu. Ketika kami bertanya kepada Abu Hurairah tentang buah tersebut, maka Abu Hurairah menjawab bahwa yang dimaksud adalah buah pohon labu.
Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa Allah menyediakan baginya kambing betina liar yang makan dari serangga tanah, lalu kambing liar itu memberinya air minum dari air susunya setiap pagi dan petang hingga Nabi Yunus dapat berdiri dan segar kembali.
Sehubungan dengan kisah ini Umayyah ibnu Abus Silt mengatakan dalam salah satu bait syairnya:
Maka tumbuhlah buah labu berkat rahmat Allah untuknya. Kalau sekiranya tidak ada pertolongan Allah, tentulah Yunus mati.
Kisah lainnya telah disebutkan pula di dalam hadis Abu Hurairah r.a. yang disandarkan dan di-marfu'-kan (sampai kepada Nabi Saw.), yaitu dalam tafsir surah Al-Anbiya.
۞ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ
Terjemahan
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.
Tafsir Ibnu Katsir
Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus. (Ash Shaaffat:145)
Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al'ara ialah tanah tandus yang tidak ada tetumbuhan dan tidak ada pula bangunannya. Menurut suatu pendapat, tanah tersebut terletak di pinggir Sungai Tigris. Dan menurut pendapat lain adalah suatu tanah yang terletak di negeri Yaman, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
sedangkan ia dalam keadaan sakit. (Ash Shaaffat:145)
Yaitu lemah sekali tubuhnya. Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan bahwa tubuh Nabi Yunus saat itu tak ubahnya seperti itik yang masih belum tumbuh bulunya (yaitu baru menetas). As-Saddi mengatakan bahwa keadaan Nabi Yunus saat itu mirip dengan bayi yang baru lahir. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Zaid.
وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ
Terjemahan
Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.
Tafsir Ibnu Katsir
Hasyim telah meriwayatkan dari Al-Qasim ibnu Abu Ayyub, dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa setiap pohon yang tidak memiliki batang dinamakan yaqtin (labu).
Menurut riwayat lain yang bersumber darinya, setiap pohon yang dikonsumsi dalam sekali tanam dinamakan yaqtin.
Sebagian di antara mereka menyebutkan beberapa keistimewaan dari buah labu ini antara lain cepat pertumbuhannya, rindang pohonnya, besar, dan lembut buahnya. Buah labu tidak pernah dihinggapi oleh lalat, buahnya terasa enak dan dapat dimakan baik dalam keadaan mentah maupun dimasak, berikut kulitnya. Telah disebutkan pula dalam hadis bahwa Rasulullah Saw. Menyukai buah labu dan mencari-carinya di pinggir-pinggir piring (bila sedang makan).
وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ
Terjemahan
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (Ash Shaaffat:147)
Syahr ibnu Hausyab telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa sesungguhnya diutusnya Nabi Yunus a.s. itu hanyalah sesudah ia dimuntahkan oleh ikan besar yang menelannya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abu Hilal, dari Syahr ibnu Hausyab.
Ibnu AbuNajih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Yunus diutus kepada mereka sebelum ditelan oleh ikan besar.
Menurut hemat kami, tidaklah mustahil bila orang-orang yang dahulu Yunus a.s. diutus kepada mereka pada mulanya, memerintahkan kepadanya untuk kembali kepada mereka setelah dikeluarkan oleh ikan besar, lalu mereka semua membenarkannya dan beriman kepadanya.
Al-Bagawi mengatakan dalam riwayat yang diutarakannya, bahwa Yunus diutus kepada umat lainnya sesudah dikeluarkan dari perut ikan besar, jumlah mereka seratus ribu orang atau lebih.
Firman Allah Swt.:
atau lebih. (Ash Shaaffat:147)
Ibnu Abbas dalam suatu riwayat yang bersumber darinya menyebutkan, bahkan lebih dari seratus ribu orang, jumlah mereka adalah seratus tiga puluh ribu orang. Riwayat lain yang bersumber darinya menyebutkan seratus tiga puluh ribu orang lebih beberapa ribu. Menurut riwayat lainnya lagi yang bersumberkan darinya adalah seratus empat puluh ribu lebih beberapa ribu orang, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Sa'id ibnu Jubair menyebutkan lebih dari tujuh puluh ribu orang, yakni seratus tujuh puluh ribu orang.
Makhul mengatakan bahwa jumlah mereka seratus sepuluh ribu orang, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahim Al-Barqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Zuhair menceritakan dari seseorang yang mendengarnya dari Abul Aliyah, ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Ubay ibnu Ka'b r.a. bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makna firman-Nya: Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (Ash Shaaffat:147) Maka beliau Saw. bersabda, bahwa mereka lebih dari dua puluh ribu (dari seratus ribu itu).
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Ali ibnu Hujr, dari Al-Walid ibnu Muslim, dari Zuhair, dari seorang lelaki, dari Abdul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b dengan lafaz yang sama. Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini melalui hadis Zuhair dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ahli bahasa Arab dan kalangan penduduk Basrah mengatakan sehubungan dengan ungkapan ini bahwa yang dimaksud ialah sampai seratus ribu orang, atau jumlah me'reka lebih dari itu menurut kalian. Karena itu, Ibnu Jarir menempuh cara yang sama saat menafsirkan firman-Nya:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu. bahkan lebih keras lagi. (Al Baqarah:74)
tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan rasa takutnya lebih dahsyat dari itu. (An-Nisa:77)
Dan firman Allah Swt.:
maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (An Najm:9)
Makna yang dimaksud ialah tidak kurang dari itu, bahkan lebih.
فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
Terjemahan
Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.
Tafsir Ibnu Katsir
Lalu mereka beriman. (Ash-Shaffat: 148)
Lalu berimanlah seluruh kaum Nabi Yunus a.s.
karena itu, Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. (Ash-Shaffat: 148)
Yakni sampai dengan waktu ajal mereka, seperti pengertian yang terdapat pada ayat lain melalui firman-Nya:
Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (Yunus: 98)
فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ
Terjemahan
Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki,
Tafsir Ibnu Katsir
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (An Nahl:58)
Yakni dia tidak senang dengan kelahiran anak perempuan itu, dan yang dipilih buat dirinya hanyalah anak laki-laki. Allah Swt. berfirman, bahwa mengapa mereka menisbatkan kepada Allah Swt. bagian yang tidak mereka ingini buat diri mereka sendiri. Karena itulah disebutkan oleh firman Allah Swt.:
Tanyakanlah kepada mereka. (Ash Shaaffat:149)
Perintah ini mengandung nada ingkar terhadap perbuatan mereka.
Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki. (Ash Shaaffat:149)
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (An Najm:21-22)
أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ
Terjemahan
atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?
Tafsir Ibnu Katsir
atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? (Ash Shaaffat:150)
Yakni mengapa mereka memutuskan bahwa malaikat-malaikat itu perempuan, padahal mereka tidak menyaksikan penciptaannya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:
Dan mereka menganggap malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban. (Az-Zukhruf 19)
Yaitu mereka akan ditanyai mengenai hal tersebut kelak di hari kiamat.
أَلَا إِنَّهُم مِّنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ
Terjemahan
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:
Tafsir Ibnu Katsir
Allah mempunyai anak, kata mereka.
وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Terjemahan
"Allah beranak". Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.
Tafsir Ibnu Katsir
أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ
Terjemahan
Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni apakah yang mendorong Dia untuk memilih anak-anak perempuan, bukan anak laki-laki. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki, sedangkan Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya). (Al-Isra: 40)
مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Terjemahan
Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?
Tafsir Ibnu Katsir
Maksudnya, kalian ini memang tidak mempunyai akal yang dapat dijadikan sebagai kontrol berfikir sebelum kalian berucap.
أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Terjemahan
Maka apakah kamu tidak memikirkan?
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni alasan yang menguatkan apa yang kamu katakan itu.
أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُّبِينٌ
Terjemahan
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?
Tafsir Ibnu Katsir
Yakni alasan yang menguatkan apa yang kamu katakan itu.
فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Terjemahan
Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.
Tafsir Ibnu Katsir
Yaitu kemukakanlah bukti yang menguatkan hal tersebut dengan bersandar pada suatu kitab yang diturunkan dari langit, dari Allah Swt. yang menyebutkan bahwa Dia mengambil seperti apa yang kamu katakan itu. Sesungguhnya apa yang kamu katakan itu tidak dapat diterima oleh akal yang sehat, bahkan secara mutlak rasio menolaknya sama sekali.
وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Terjemahan
Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),
Tafsir Ibnu Katsir
Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. (Ash Shaaffat:158)
Mujahid mengatakan bahwa orang-orang musyrik menganggap malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Swt. Maka Abu Bakar r.a. bertanya kepada mereka, "Lalu siapakah ibunya?" Mereka (orang-orang musyrik) menjawab, "Anak-anak perempuan jin yang terkemuka." Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash Shaaffat:158)
Yakni orang-orang yang menisbatkan hal tersebut kepada jin, kelak mereka benar-benar akan diseret ke dalam azab di hari penghisaban karena kebohongan mereka dalam hal tersebut yang telah dibuat-buat oleh mereka sendiri dan ucapan mereka yang batil tanpa pengetahuan.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. (Ash Shaaffat:158) Musuh-musuh Allah menduga bahwa Dia dan iblis adalah dua bersaudara, Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
Terjemahan
Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,
Tafsir Ibnu Katsir
Mujahid mengatakan bahwa orang-orang musyrik menganggap malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Swt. Maka Abu Bakar r.a. bertanya kepada mereka, "Lalu siapakah ibunya?" Mereka (orang-orang musyrik) menjawab, "Anak-anak perempuan jin yang terkemuka." Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 158)
Yakni orang-orang yang menisbatkan hal tersebut kepada jin, kelak mereka benar-benar akan diseret ke dalam azab di hari penghisaban karena kebohongan mereka dalam hal tersebut yang telah dibuat-buat oleh mereka sendiri dan ucapan mereka yang batil tanpa pengetahuan.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. (Ash-Shaffat: 158) Musuh-musuh Allah menduga bahwa Dia dan iblis adalah dua bersaudara, Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Terjemahan
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa).
Tafsir Ibnu Katsir
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (Ash Shaaffat:160)
Istisna atau pengecualian di sini bersifat munqati, dan ia berasal dari kalam yang musbat, terkecuali damir yang terdapat di dalam firman-Nya:
Dari apa yang mereka sifatkan (Ash Shaaffat:159)
kembali kepada semua manusia. Kemudian Allah mengecualikan dari mereka hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari dosa-dosanya, mereka adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran yang diturunkan kepada semua nabi yang diangkat menjadi rasul.
Ibnu Jarir menganggap istis'na ini dari firman Allah Swt.: bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash Shaaffat:158) Selanjutnya dikecualikanlah dari mereka: Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (Ash Shaaffat:160)
Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini masih diragukan kebenarannya, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ
Terjemahan
Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala (Ash-Shaffat: 161 -163)
Yakni sesungguhnya yang menuruti pendapat kalian dan kesesatan serta penyembahan batil yang dilakukan oleh kalian hanyalah orang yang lebih sesat daripada kalian, yaitu mereka yang diciptakan untuk menjadi penghuni neraka.
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Inilah predikat manusia yang mengikuti agama kemusyrikan, kesesatan, dan kekufuran. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur'an) orang yang dipalingkan. (Az-Zariyat: 8-9)
Yakni sesungguhnya orang yang sesat karenanya hanyalah orang yang ditakdirkan sesat dan batil.
مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ
Terjemahan
Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,
Tafsir Ibnu Katsir
Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala (Ash-Shaffat: 161 -163)
Yakni sesungguhnya yang menuruti pendapat kalian dan kesesatan serta penyembahan batil yang dilakukan oleh kalian hanyalah orang yang lebih sesat daripada kalian, yaitu mereka yang diciptakan untuk menjadi penghuni neraka.
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Inilah predikat manusia yang mengikuti agama kemusyrikan, kesesatan, dan kekufuran. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur'an) orang yang dipalingkan. (Az-Zariyat: 8-9)
Yakni sesungguhnya orang yang sesat karenanya hanyalah orang yang ditakdirkan sesat dan batil.
إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ
Terjemahan
kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu, sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah, kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala (Ash-Shaffat: 161 -163)
Yakni sesungguhnya yang menuruti pendapat kalian dan kesesatan serta penyembahan batil yang dilakukan oleh kalian hanyalah orang yang lebih sesat daripada kalian, yaitu mereka yang diciptakan untuk menjadi penghuni neraka.
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Inilah predikat manusia yang mengikuti agama kemusyrikan, kesesatan, dan kekufuran. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Qur'an) orang yang dipalingkan. (Az-Zariyat: 8-9)
Yakni sesungguhnya orang yang sesat karenanya hanyalah orang yang ditakdirkan sesat dan batil.
وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَّعْلُومٌ
Terjemahan
Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu,
Tafsir Ibnu Katsir
Tiada seorang pun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan tertentu (Ash Shaaffat:164)
Yaitu kedudukan yang khusus di langit dan tugas-tugas ibadah yang mereka tidak dapat keluar jalur darinya.
Ibnu Asakir di dalam biografi Muhammad ibnu Khalid berikut sanadnya sampai kepada Abdur Rahman ibnul Ala ibnu Sa'd, dari ayahnya, yang merupakan salah seorang yang berbaiat kepada Rasulullah Saw. pada hari jatuhnya kota Mekah, menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. di suatu hari bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam majelisnya:
Langit berdetak, dan sudah sepantasnya baginya berdetak, karena tidak suatu tempat pun untuk meletakkan kaki darinya melainkan padanya ada malaikat yang sedang rukuk atau sedang sujud. Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: Tiada seorang pun di antara kami (para malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah) (Ash Shaaffat:164-166)
Ad-Dahhak telah mengatakan dalam tafsirnya sehubungan dengan makna ayat berikut, yaitu: Tiada seorang pun di antara kami (para malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. (Ash Shaaffat:164) Ia mengatakan bahwa Masruq meriwayatkan dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Tiada suatu tempat pun di langit terdekat ini melainkan terdapat padanya malaikat yang sedang sujud atau sedang berdiri. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya, "Tiada seorang pun di antara kami (para malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu.” (Ash Shaaffat:164)
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Masruq, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya di dalam langit itu benar-benar terdapat suatu langit yang di dalamnya tiada suatu jengkal tempat pun melainkan terdapat kening malaikat atau kedua telapak kakinya. Kemudian Abdullah ibnu Abbas r.a. Membaca firman-Nya: Tiada seorang pun di antara kami (para malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. (Ash Shaaffat:164)
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair.
Qatadah mengatakan, bahwa dahulu kaum pria dan kaum wanita salat bersama-sama, sebelum turun firman-Nya: Tiada seorang pun di antara kami melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu. (Ash Shaaffat:164) Setelah itu kaum pria maju (berada di depan) dan kaum wanita di belakang.
وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ
Terjemahan
dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).
Tafsir Ibnu Katsir
Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya. (Ash Shaaffat:1)
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Al-Walid ibnu Abdullah ibnu Abu Mugis yang mengatakan bahwa pada mulanya mereka tidak bersaf dalam mengerjakan salat, hingga turunlah firman-Nya: dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf (dalam menunaikan perintah Allah). (Ash Shaaffat:165) lalu mereka pun membentuk saf-saf.
Abu Nadrah mengatakan bahwa dahulu Khalifah Umar r.a. apabila iqamah telah dikumandangkan, maka ia terlebih dahulu menghadapkan wajahnya kepada para makmum. Kemudian mereka berkata." Luruskanlah saf-saf kalian dan sejajarkanlah berdiri kalian, Allah menghendaki untuk kalian sikap yang dilakukan oleh para malaikat." Kemudian Khalifah Umar membaca firman-Nya: dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf (dalam menunaikan perintah Allah). (Ash Shaaffat:165) Mundurlah engkau, hai Fulan. Dan majulah kamu, hai Fulan!" Kemudian Umar maju ke muka, lalu bertakbir. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Muzaifah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Kami diberi keutamaan di atas umat (lainnya) dengan tiga perkara, saf-saf kami dijadikan seperti saf-saf para malaikat, dan bumi ini dijadikan bagi kami masjid (tempat bersujud), dan tanahnya suci lagi menyucikan.
وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).
Tafsir Ibnu Katsir
Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah). (Ash Shaaffat:166)
Yakni kami membentuk saf dan bertasbih seraya memuji dan menyucikan-Nya dari semua kekurangan, kami semua adalah hamba-hamba-Nya. berhajat kepada-Nya dan merendahkan diri dihadapan-Nya.
Ibnu Abbas r.a. dan Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tiada seorang pun di antara kami melainkan kedudukan yang tertentu. (Ash Shaaffat:164) Yaitu para malaikat. dan sesungguhnya kami benar-benar bersaf-saf (dalam menunaikan perintah Allah). (Ash Shaaffat:165) Maksudnya, kami para malaikat. Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah) (Ash Shaaffat:166) Yakni para malaikat bertasbih kepada Allah Swt.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah) (Ash Shaaffat:166) Yakni selalu tetap berada di tempat salatnya mengerjakan ibadah kepada Allah.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:
Dan mereka berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak, "Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka mengatakan, "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah, " maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (Al Anbiyaa:26-29)
وَإِن كَانُوا لَيَقُولُونَ
Terjemahan
Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata:
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata "Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)." (Ash-Shaffat: 167-169)
Yakni dahulu mengharapkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad, sekiranya di kalangan mereka ada orang yang mengingatkan mereka kepada perintah Allah, dan mendapatkan apa yang telah didapat oleh umat-umat terdahulu, yaitu diberi Kitab dari sisi Allah. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran). (Fatir: 42)
Dan firman Allah Swt.:
(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” Atau agar kamu (tidak) mengatakan, "Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami. dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling (Al-An'am: 156-157)
لَوْ أَنَّ عِندَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْأَوَّلِينَ
Terjemahan
"Kalau sekiranya di sksi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata "Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)." (Ash-Shaffat: 167-169)
Yakni dahulu mengharapkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad, sekiranya di kalangan mereka ada orang yang mengingatkan mereka kepada perintah Allah, dan mendapatkan apa yang telah didapat oleh umat-umat terdahulu, yaitu diberi Kitab dari sisi Allah. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran). (Fatir: 42)
Dan firman Allah Swt.:
(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” Atau agar kamu (tidak) mengatakan, "Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami. dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling (Al-An'am: 156-157)
لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Terjemahan
benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)".
Tafsir Ibnu Katsir
Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata "Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)." (Ash-Shaffat: 167-169)
Yakni dahulu mengharapkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad, sekiranya di kalangan mereka ada orang yang mengingatkan mereka kepada perintah Allah, dan mendapatkan apa yang telah didapat oleh umat-umat terdahulu, yaitu diberi Kitab dari sisi Allah. Seperti pengertian yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran). (Fatir: 42)
Dan firman Allah Swt.:
(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” Atau agar kamu (tidak) mengatakan, "Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami. dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling (Al-An'am: 156-157)
فَكَفَرُوا بِهِ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Terjemahan
Tetapi mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).
Tafsir Ibnu Katsir
Ini merupakan ancaman yang serius dan peringatan yang keras terhadap kekafiran mereka kepada Tuhannya dan kedustaan mereka kepada rasulNya.
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
Tafsir Ibnu Katsir
Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. (Ash Shaaffat:171)
Yakni telah ditetapkan di dalam Kitab yang pertama (Lauh Mahfuz), bahwa kesudahan yang baik itu bagi para rasul dan orang-orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat. Seperti yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:
Allah telah menetapkan, "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al Mujaadalah:21)
Dan firman Allah Swt.:
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) (Al-Mu-min: 51)
إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ
Terjemahan
(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.
Tafsir Ibnu Katsir
Maksudnya, di dunia dan di akhirat. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa mereka mendapat pertolongan dari Allah atas kaumnya yang mendustakan dan menentang mereka, dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman.
وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
Terjemahan
Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang,
Tafsir Ibnu Katsir
Yaitu kesudahan yang baik hanyalah bagi mereka.
فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Terjemahan
Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika. (Ash Shaaffat:174)
Artinya, bersabarlah kamu dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu, tunggulah sampai batas waktu yang ditetapkan, karena sesungguhnya Kami akan menjadikan bagimu kesudahan yang baik, pertolongan dari Kami dan kemenangan. Karena itulah ada sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa Allah menangguhkan janji-Nya itu sampai hari Perang Badar, sedangkan peperangan lain yang sesudahnya termasuk ke dalam pengertiannya.
وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ
Terjemahan
Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).
Tafsir Ibnu Katsir
Dan terangkanlah kepada mereka (akibat kekafiran mereka), maka kelak mereka akan mengetahui (nya). (Ash Shaaffat:175)
Yakni tunggulah dan perhatikanlah apa yang akan menimpa mereka dari siksaan dan pembalasan disebabkan menentang dan mendustakanmu. Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:
maka kelak mereka akan mengetahui (nya). (Ash Shaaffat:175)
Ungkapan ini mengandung ancaman dan peringatan terhadap mereka.
أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ
Terjemahan
Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?
Tafsir Ibnu Katsir
Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan? (Ash Shaaffat:176)
Yakni sikap mereka yang mendustakan dan mengingkari itu seakan-akan mereka minta disegerakan agar siksaan segera diturunkan kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah Swt. pasti murka terhadap perbuatan mereka itu dan akan menyegerakan siksaan atas mereka. Selain itu karena kekafiran dan keingkaran mereka yang sangat, mereka meminta agar azab dan siksaan segera diturunkan atas diri mereka.
فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنذَرِينَ
Terjemahan
Maka apabila siksaan itu turun dihalaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.
Tafsir Ibnu Katsir
Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. (Ash Shaaffat:177)
Apabila azab diturunkan di tempat mereka, maka seburuk-buruk hari adalah hari turunnya kebinasaan dan kehancuran atas diri mereka.
As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. (Ash Shaaffat:177) Yakni betapa buruklah pagi hari yang dialami oleh mereka.
Karena itulah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Ismail ibnu Aliyyah, dari Abdul Aziz ibnu Suhaib, dari Anas r.a. yang menceritakan bahwa pada pagi hari Rasulullah Saw. (bersama pasukannya) berada di tanah Khaibar, ketika orang-orang Khaibar keluar (dari benteng mereka) dengan membawa cangkul dan alat pertanian mereka (menuju kebun-kebun mereka) melihat pasukan (kaum muslim) itu, maka mereka kembali masuk ke dalam bentengnya seraya berseru (kepada teman-temannya), "Muhammad, demi Tuhan, datang dengan pasukannya!" Maka Nabi Saw! bersabda:
Allah Mahabesar, hancurlah Khaibar. Sesungguhnya kami apabila menyerang halaman suatu kaum, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.
Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini melalui hadis Malik ibnu Humaid, dari Anas.
Imam Ahmad berkata: Rauh menceritakan kepada kami, Sa’id bin Abu Arubah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Abu Talhah r.a. Disebutkan bahwa pada pagi hari Rasulullah Saw. sampai di Khaibar, sedangkan penduduknya telah mengambil peralatan pertanian mereka dan berniat akan berangkat pagi itu menuju lahan dan kebun mereka. Tetapi manakala mereka melihat Nabi Saw. (bersama pasukannya), kembalilah mereka ke belakang (masuk ke dalam benteng mereka). Maka Rasulullah Saw. bersabda: Allahu Akbar, Allahu Akbar! Sesungguhnya kami apabila turun di halaman suatu kaum maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.
Mereka tidak mengetengahkannya melalui jalur ini, tetapi predikatnya sahih dengan syarat syaikhain.
وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Terjemahan
Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, karena mereka juga akan melihat. (Ash-Shaffat: 178-179)
Ayat ini berkedudukan mengukuhkan perintah yang telah disebutkan di atas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ
Terjemahan
Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika. Dan lihatlah, karena mereka juga akan melihat. (Ash-Shaffat: 178-179)
Ayat ini berkedudukan mengukuhkan perintah yang telah disebutkan di atas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Terjemahan
Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.
Tafsir Ibnu Katsir
Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan (Ash-Shaffat 180)
Yakni yang mempunyai keperkasaan yang tidak terbatas.
dari apa yang mereka katakan. (Ash Shaaffat:180)
Yaitu dari apa yang diucapkan oleh orang-orang yang melampaui batas lagi membuat-buat kebohongan itu
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
Terjemahan
Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. (Ash Shaaffat:181)
Artinya, semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada mareka di dunia dan akhirat karena kebenaran dari apa yang dikatakan oleh mereka tentang Tuhannya.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan
Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (Ash Shaaffat:182)
Yakni milik-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat dalam semua keadaan. Mengingat makna tasbih itu mengandung membersihkan dan menyucikan Allah dari segala kekurangan melalui pengertian kebalikannya, sekaligus mengharuskan tetapnya kesempurnaan —sebagaimana pujian pun menunjukkan tetapnya sifat-sifat kesempurnaan melalui pengertian kebalikannya dan sekaligus mengharuskan adanya kesucian dari segala bentuk kekurangan— untuk itulah maka keduanya dibarengkan dalam ungkapan ayat di atas, sebagaimana diungkapkan secara berbarengan pula dalam ayat-ayat lainnya yang cukup banyak. Maka disebutkan oleh firman-Nya.
Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. (Ash-Shaffat 180-182)
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatabah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
Apabila kamu mengucapkan salam kepadaku, maka ucapkanlah pula salam kepada para rasul, karena sesungguhnya aku ini hanyalah salah seorang dari para rasul itu.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Sa'id, dari Qatadah juga.
Ibnu Abu Hatim telah menyandarkannya melalui hadis Sa’id yang juga bersumber dan Qatadah.
Ibnu Abu Hatim rahimahullah telah menyadarkannya, untuk itu ia mengatakan:
telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-A'yan dan Muhammad ibnu Abdur Rahim Sa'iqah, keduanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, dari Abu Talhah r.a., yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Apabila kamu mengucapkan salam kepadaku, maka bersalam pulalah kamu kepada para rasul.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ammar ibnu Khalid Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Syababah, dari Yunus ibnu Abu Ishaq, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Barang siapa yang ingin mendapat timbangan yang sempurna bagi pahalanya kelak di hari kiamat, hendaklah ia mengucapkan di akhir majelisnya saat hendak bangkit, "Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru semesta alam.”
Telah diriwayatkan pula melalui jalur lain secara muttasil hanya sampai pada Ali r.a. Abu Muhammad Al-Bagawi di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Ahmad ibnu Ibrahim Asy-Syuraihi, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq As-Sa'labi, telah menceritakan kepadaku Ibnu Fanjawaih, telah menceritakan kepada'kami Ahmad ibnu Ja'far ibnu Hamdan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sahlawaih, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Sabit ibnu Abu Safiyyah, dari Al-Asbag ibnuNabatah, dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa barang siapa yang ingin mendapat timbangan yang sempurna bagi pahalanya kelak di hari kiamat, hendaklah akhir ucapannya di majelisnya ialah: Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Imam Tabrani telah meriwayatkan melalui jalur Abdullah ibnu Sakhr ibnu Anas, dari Abdullah ibnu Zaid ibnu Arqam, dari ayahnya, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa setiap usai salat (fardu) mengucapkan doa berikut, "Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam," sebanyak tiga kali, maka sesungguhnya ia akan mendapat timbangan pahala yang sempurna dengan timbangan yang besar.
Telah disebutkan pula oleh banyak hadis doa kifarat majelis yaitu:
Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji kepada-Mu, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.
Kami telah membahasnya dalam bagian kitab yang tersendiri secara rinci, maka doa tersebut akan ditulis pula dalam kitab tafsir ini Insya Allah.
Tidak ditemukan hasil untuk kata kunci tersebut.