Proposal Riset untuk Memetakan Masa Depan Dakwah di Era Cyber-Islamic Environments.
Lanskap keberagamaan global tengah mengalami pergeseran tektonik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban Islam. Kita tidak lagi sekadar berbicara tentang perpindahan alat komunikasi dari lisan ke tulisan atau dari analog ke digital, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara otoritas keagamaan dikonstruksi, dipelihara, dan ditransmisikan.
Fenomena ini, yang oleh Gary Bunt dikonseptualisasikan sebagai Cyber-Islamic Environments (CIE), menandai era di mana ruang digital bukan lagi sekadar suplemen bagi kehidupan beragama, melainkan telah menjadi habitat utama bagi sebagian besar umat Islam, khususnya generasi muda. Di Indonesia, realitas ini terkonfirmasi oleh data statistik yang mencengangkan.
Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di Indonesia pada tahun 2025 telah mencapai angka 80,66%, yang setara dengan 229,4 juta jiwa dari total populasi.
Implikasi sosiologis dari data ini sangat mendalam. Generasi Z (kelahiran 1997-2012) dan Milenial (1981-1996) mendominasi demografi pengguna internet. Perilaku konsumsi informasi mereka tidak lagi berpusat pada mimbar-mimbar masjid fisik, melainkan pada layar gawai yang menyajikan konten on-demand. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengambil alih fungsi "mimbar" tradisional. Dalam ekosistem ini, algoritma menjadi "mufti baru" yang menentukan konten mana yang layak dilihat dan diviralkan.
Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam modernis terbesar, menghadapi tantangan eksistensial. Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah melalui program "Sekolah Tabligh" berupaya mencetak 1.200 da'i baru. Namun, terdapat kesenjangan (gap) antara kompetensi lulusan dengan tuntutan medan dakwah digital. Banyak lulusan yang kuat secara turats namun gagap menghadapi logika "ekonomi atensi" digital. Jika 306 lulusan Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah tidak dilengkapi dengan strategi konten kreatif yang adaptif, maka narasi Islam Berkemajuan berisiko tenggelam oleh konten-konten populis yang lebih lincah secara visual namun dangkal secara substansi.
Ketersediaan infrastruktur riset berupa sistem survei digital terintegrasi dan dasbor analisis data real-time memberikan momentum emas bagi penelitian ini untuk tidak hanya memotret masalah, tetapi memberikan basis data presisi bagi perumusan kebijakan strategis.
Berdasarkan latar belakang dan kesiapan instrumen penelitian, rumusan masalah difokuskan pada:
Dakwah pada hakikatnya adalah upaya transformatif untuk menyeru manusia kepada jalan Allah (fi sabilillah). Di era kontemporer, paradigma dakwah mengalami pergeseran signifikan dari dakwah bil lisan (ceramah konvensional) menuju dakwah bil qalam dalam bentuk digital (cyber-dakwah). Media sosial bukan lagi sekadar alat pelengkap, melainkan menjadi "mimbar baru" yang menuntut kompetensi spesifik. Fenomena ini menuntut perubahan peran da'i dari sekadar komunikator satu arah menjadi komunikator interaktif yang mampu menavigasi ekosistem algoritma. Kegagalan beradaptasi dalam ruang ini dapat menyebabkan marginalisasi pesan-pesan moderasi beragama di tengah banjir informasi (information overload).
Konsep literasi media tradisional yang berfokus pada kemampuan membaca dan menulis tidak lagi memadai untuk menjelaskan kompleksitas interaksi digital saat ini. Penelitian ini mengadopsi kerangka kerja New Media Literacy (NML) yang digagas oleh Henry Jenkins et al. (2009). Jenkins mendefinisikan NML sebagai seperangkat kompetensi budaya dan keterampilan sosial yang diperlukan untuk berpartisipasi penuh dalam lanskap media baru. Dalam konteks dakwah, penelitian ini melakukan adaptasi dan penyederhanaan terhadap indikator Jenkins agar relevan dengan kebutuhan praktis seorang da'i. Literasi di sini dimaknai bukan hanya sebagai konsumsi pasif, melainkan kemampuan prosumption (gabungan production dan consumption). Da'i dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen konten nilai-nilai Islam yang kreatif dan kritis.
Penelitian ini mengoperasionalisasikan NML ke dalam 4 dimensi utama dengan 10 indikator kompetensi praktis:
Untuk menganalisis perilaku penerimaan da'i terhadap teknologi digital, penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) (Davis, 1989). Fokus analisis pada:
Peneliti menelaah studi terdahulu untuk memetakan kebaruan (novelty):
Novelty: Belum ada penelitian yang mengintegrasikan New Media Literacy (teknis creation & advanced tech) dengan TAM untuk mengukur performa da'i. Riset ini mengisi kekosongan tersebut.
Kerangka pemikiran dibangun atas asumsi bahwa kompetensi NML berkolerasi dengan persepsi kemudahan dan kegunaan dalam TAM, yang menentukan kualitas dakwah digital. Da'i dengan skor NML tinggi cenderung memiliki Perceived Ease of Use tinggi, mendorong adopsi dakwah profesional.
Bantu kami memetakan data dengan mengisi kuesioner singkat ini.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif Deskriptif dengan dukungan sistem informasi berbasis web.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner digital (custom-coded) yang diakses melalui: https://kasmui.cloud/survey/.
Struktur Instrumen terdiri dari 4 bagian utama:
Data diolah otomatis dan real-time. Prosedur meliputi:
Penelitian ini memiliki keunggulan metodologis karena menggunakan platform mandiri (kasmui.cloud) yang menjamin:
Indikator seperti Copywriting dan Pemanfaatan AI merupakan respons terhadap "lubang" dalam kurikulum konvensional Sekolah Tabligh. Data survei akan menjadi bukti empiris apakah materi modern ini perlu menjadi mata pelajaran wajib atau suplemen.
Berdasarkan logika sistem analisa, hasil penelitian diproyeksikan menyajikan:
Diproyeksikan terlihat pola indikator B_verifikasi (Tabayyun) dan B_etika tinggi (basis agama kuat), namun B_video (Editing), B_desain, dan B_algoritma rendah. Ini mengonfirmasi hipotesis bahwa lulusan adalah "Konsumen Kritis" namun belum menjadi "Produsen Kreatif".
Dominasi WhatsApp diprediksi pada Gen X dan Boomers, sementara TikTok/Instagram didominasi Gen Z. Dakwah digital masih terjebak di "kolam sendiri" dan belum menjangkau "samudra luas".
Jika mayoritas memilih "Editing Video Cepat" atau "Pelatihan AI", maka program kerja Majelis Tabligh harus bergeser dari "Pelatihan Pidato Mimbar" menjadi "Workshop Content Creator".
Penelitian ini bukan sekadar survei akademik, melainkan audit kompetensi menyeluruh terhadap aset SDM dakwah Muhammadiyah Jawa Tengah. Integrasi teknologi dalam metodologi riset ini adalah simbol semangat "Islam Berkemajuan".
Agustina, H., Suryanto, T. L. M., & Pratama, A. (2023). Analisis Penerimaan E-learning Madrasah Menggunakan Metode Technology Acceptance Model (TAM). KLIK: Kajian Ilmiah Informatika dan Komputer, 4(1), 173–181.
ANTARA News. (2025). APJII catat tingkat penetrasi internet Indonesia capai 80,66 persen. Diakses pada 20 Januari 2026.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2025). Pengguna Internet RI 2025 Tembus 229,4 Juta, Gen Z Mendominasi. Cloud Computing Indonesia.
Azhar, A. (2025). Swipe, Like, Buy: A Netnographic Study On The Impulse Buying Behavior In Tiktok Shop Ecosystem. Journal of Management, Economic, and Accounting, 4(2), 663–672.
Balaban-Sali, J. (2012). New Media Literacies of Communication Students. Contemporary Educational Technology, 3(4), 265–277.
Castrawijaya, C. (2023). Da'i Technology Literacy in Perspective of the Qur'an. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, 17(1), 1–20.
Hasanah, U., & Sukri, M. (2025). Etika Digital Dalam Perspektif Pendidikan Islam: Integrasi Nilai Tabayyun Dan Literasi Media. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 123–138.
Jenkins, H. (2007). Media Literacy—Who Needs It? Dalam The Future of Learning Institutions in a Digital Age. Blackwell Publishing.
Kurniawan, D., & Ghulam, Z. (2025). Da'wah about Politics Carried Out by Islamic Groups in the Cyber Islamic Environment. Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 11(1).
Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2024). Kurikulum Pendidikan Muhammadiyah Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah. (n.d.). Arsip Majelis Tabligh PWM Jateng. Diakses pada 20 Januari 2026.
Panigoro, A. N. M. (2025). Islam Digital dan Negosiasi Otoritas Keagamaan. Alhamra Jurnal Studi Islam, 6(1), 71–90.
Prabowo, N. A., Che Pee, A. N., & Ahmad, I. (2024). Investigating Technology Acceptance Model (TAM) for E-Da'wah: A Systematic Literature Review. E3S Web of Conferences, 500, 01012.
Prasetianingsih, L., & Sokarina, A. (2023). Socio-Cultural Interaction of TikTok Users on Stock Investment Content: A Netnographic Study. East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2(12).
Sam, S. (n.d.). How to Give Da'wah in the Age of TikTok and Memes. MOP Academy.
Sulthon, M., Musthofa, M. Y., & Zuhri, M. K. (2025). Decentering Islamic Authority in The Digital Sphere: Gus Baha's Al-Hikam and The Reconfiguration of Vernacular Sufism in Indonesia. Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, 36(2), 401–430.
Tijani, A., & Banyal, A. M. (2024). Repositioning Religious Organization Activism in The Digital Era. Al-Albab, 13(1), 33–52.
Kompetensi Produksi: Desain Grafis, Editing Video, Copywriting, Live Streaming.
Kompetensi Informasi: Riset Digital, Pemanfaatan AI.
Kompetensi Kritis: Verifikasi (Tabayyun), Algoritma, Keamanan Digital, Etika & Hukum.
Silakan gunakan tautan di bawah ini untuk mengisi survei atau melihat hasil analisis data secara real-time.