Memahami Manhaj Akidah Muhammadiyah

Selamat datang di kajian komprehensif Manhaj Akidah Muhammadiyah. Laman ini menyajikan pokok-pokok dan kaidah dasar akidah yang menjadi pegangan Persyarikatan sebagai pedoman untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara murni, mencakup aspek tauhid, ibadah, muamalah, dan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi Muslim yang lurus imannya, kokoh keyakinannya, dan selamat dari berbagai bentuk penyimpangan, sebagaimana terangkum dalam Hadis Jibril yang menjadi induk ajaran agama (ummus sunnah).

Prinsip Fundamental Akidah Islam

Prinsip utama akidah Islam terangkum dalam Rukun Iman (Ushul Akidah) dan Rukun Islam (bukti lahiriah keimanan). Keduanya merupakan fondasi tak terpisahkan yang dijelaskan secara gamblang dalam Hadis Jibril.

Dalil Induk: Hadis Jibril tentang Pilar Agama

فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ, قَالَ: الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

"Lalu ia (Jibril) bertanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang **Iman**.’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’ Ia berkata: ‘Engkau benar.’ Ia bertanya lagi: ‘Beritahukan kepadaku tentang **Islam**.’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji jika mampu.’ Ia bertanya lagi: 'Beritahukan kepadaku tentang **Ihsan**.' Beliau menjawab: 'Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.'"

(HR. Muslim)


Penjelasan: Hadis ini merupakan fondasi utama (ummus sunnah) dalam memahami struktur agama Islam yang terdiri dari tiga tingkatan: Islam (aspek lahiriah/syariat), Iman (aspek batiniah/akidah), dan Ihsan (puncak amaliah/akhlak). Muhammadiyah menjadikan hadis ini sebagai rujukan primer dalam merumuskan pilar-pilar keimanan dan keislaman.

Arkan al-Iman (Pokok-Pokok Akidah)

1. Iman kepada Allah

▼

Meyakini dengan pasti keberadaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah (tauhid uluhiyah), Pencipta dan Pengatur alam semesta (tauhid rububiyah), serta meyakini nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang sempurna (tauhid asma wa shifat) tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tanzih). Mengingkari salah satu rukun ini menjadikan seseorang kafir.

Tingkatan Iman dan Kekafiran:
  • Mukmin: Orang yang beriman dalam hati dan membuktikannya dengan lisan serta amalan.
  • Kafir: Orang yang menutup hatinya dari keimanan, baik dalam hati, lisan, maupun perbuatan.
  • Munafik: Orang yang lisannya menyatakan beriman, namun hatinya mengingkari.
  • Musyrik: Orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan lain, baik mengakui tuhan selain Allah atau menyembah Allah sekaligus percaya kekuatan lain.
Iman Dapat Bertambah dan Berkurang:

Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan amal salih, serta dapat berkurang karena kemaksiatan.

Dalil Bertambahnya Iman

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

"Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. Al-Fath: 4)

Penjelasan: Ayat ini menjadi dalil bahwa kualitas iman bersifat dinamis, dapat meningkat melalui amal salih dan ketaatan kepada Allah.

2. Iman kepada Malaikat

▼

Meyakini keberadaan malaikat sebagai makhluk gaib yang diciptakan Allah dari cahaya. Kita tidak dituntut mengetahui hakikatnya, cukup mengimani keberadaan dan sifat-sifatnya yang diterangkan dalam nas.

Sifat-sifat Malaikat Beserta Dalilnya:
  • Diciptakan dari Cahaya:

    خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ

    "Malaikat itu diciptakan dari cahaya." (HR. Muslim)

  • Memiliki Sayap:

    أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

    "...yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat." (QS. Faathir: 1)

  • Selalu Taat dan Tidak Pernah Durhaka:

    لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    "...mereka tidak pernah menentang perintah Allah, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

  • Tidak Makan dan Tidak Minum:

    فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ

    "Maka ketika (Nabi Ibrahim) melihat tangan mereka tidak menjamah hidangan, ia memandang aneh." (QS. Hud: 70)

  • Selalu Bertasbih:

    يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

    "Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." (QS. Al-Anbiya: 20)

3. Iman kepada Kitab-Kitab

▼

Meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab suci (Zabur, Taurat, Injil) dan Suhuf kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk (hidayah). Al-Qur'an adalah kitab terakhir yang membenarkan dan menyempurnakan (muhaimin) kitab-kitab sebelumnya.

Dalil Turunnya Kitab Suci

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ

"Dia menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil, sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia." (QS. Ali 'Imran: 3-4)

4. Iman kepada Rasul-Rasul

▼

Meyakini bahwa Allah telah mengutus para nabi dan rasul sebagai manusia pilihan untuk menyampaikan risalah-Nya. Mereka ma'shum (terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu) dan menjadi teladan bagi umatnya. Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dan rasul.

Dalil Misi Para Rasul

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut'..." (QS. An-Nahl: 16: 36)

5. Iman kepada Hari Akhir

▼

Meyakini akan adanya hari kiamat, kebangkitan setelah mati, hisab (perhitungan), mizan (timbangan), shirat (jembatan), serta adanya surga dan neraka sebagai balasan yang adil atas perbuatan di dunia. Keimanan ini mendorong manusia untuk bertanggung jawab atas tindakannya.

Dalil Kepastian Hari Kiamat

وَاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ

"...dan sesungguhnya hari Kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur." (QS. Al-Hajj: 7)

6. Iman kepada Qadha & Qadar

▼

Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik yang baik maupun yang buruk, adalah atas ilmu, kehendak, dan ketetapan (qadar) dari Allah. Namun, manusia tetap diberi kehendak dan pilihan (ikhtiyar) untuk berusaha, dan atas pilihan itulah ia akan dimintai pertanggungjawaban.

Dalil Ketetapan Takdir

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَبٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

"Tiadalah sesuatu bencana yang menimpa bumi dan pada dirimu sekalian, melainkan sudah tersurat dalam kitab (Lauh Mahfudh) dahulu sebelum kejadiannya." (QS. Al-Hadid: 22)

Arkan al-Islam & Ihsan

1. Syahadat

▼

Mengucapkan dua kalimat persaksian: "Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Ini adalah gerbang utama keislaman, inti dari seluruh ajaran, dan bukti zhahir pertama seorang muslim.

2. Shalat

▼

Mendirikan shalat lima waktu sehari semalam sebagai tiang agama, bentuk ibadah, dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya.

Dalil Perintah Shalat

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ

"Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah: 43)

3. Zakat

▼

Mengeluarkan sebagian harta yang telah mencapai nishab sebagai ibadah maliyah, pembersih harta, dan pilar kepedulian sosial.

Dalil Perintah Zakat

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103)

4. Puasa

▼

Berpuasa di bulan Ramadhan dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk meraih ketakwaan.

Dalil Perintah Puasa

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

5. Haji

▼

Menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Mekkah sekali seumur hidup bagi yang mampu (istitha'ah) secara fisik, finansial, dan keamanan.

Dalil Perintah Haji

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا

"...Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali 'Imran: 97)

6. Ihsan (Puncak Amaliah)

▼

Ihsan adalah sikap merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap perbuatan, yang mendorong seseorang untuk beribadah dan berakhlak dengan kualitas terbaik. Dalam pandangan Muhammadiyah, ihsan diwujudkan dalam bentuk tasawuf akhlaqi (moral), etos kerja, dan kesalehan sosial, bukan sekadar ritual tarekat tertentu.

Landasan Manhaj Ijtihad

Dalam memahami dan merumuskan ajaran Islam, Muhammadiyah berpegang pada otoritas generasi Salaf dan mekanisme Ijmak sebagai landasan ijtihad yang kokoh.

Otoritas Salaf (Sulthah al-Salaf)

Salaf merujuk pada tiga generasi terbaik umat Islam: Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in. Manhaj mereka menjadi rujukan utama dalam tajdid yang bermakna **pemurnian (tajdid salafi)**, khususnya dalam persoalan akidah dan ibadah mahdhah. Ini adalah upaya untuk kembali kepada pemahaman Islam yang murni sesuai ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Dalil Keutamaan Generasi Salaf

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Keabsahan Ijmak

Ijmak adalah kesepakatan seluruh ulama mujtahid setelah wafatnya Rasulullah ﷺ atas suatu hukum syar'i. Jika suatu persoalan telah menjadi ijmak, maka ia menjadi hukum yang wajib ditaati. Muhammadiyah mengakui ijmak sebagai salah satu teknik dalam menentukan hukum, khususnya ijmak para ulama salaf dalam perkara akidah.

Dalil Keterjagaan Umat

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ

"Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan." (HR. Ibnu Majah)

Sumber Penetapan Akidah

Manhaj Muhammadiyah menegaskan hierarki sumber yang otentik dan terpercaya untuk menjaga kemurnian akidah. Sumber-sumber ini memiliki tingkatan kehujjahan yang berbeda.

1. Al-Qur'an & Sunnah Mutawatirah (Dalil Qath'i)

Sumber primer dan tertinggi. Keduanya menghasilkan ilmu yang **qath'i** (pasti dan yakin), sehingga menjadi hujah utama dalam penetapan pokok-pokok (ushul) akidah. Mengingkarinya dapat membatalkan keimanan.

↓

2. Hadis Ahad Maqbullah (Dalil Zhanniy)

Diterima sebagai hujah dalam akidah sebagai penjelas rinci (bayan tafshil) terhadap nas-nas mutawatir. Karena sifatnya **zhanniy** (praduga kuat), mengingkarinya tidak sampai pada kekafiran, namun tetap menjadi pegangan selama sanadnya shahih dan tidak bertentangan dengan dalil qath'i.

Dalil Larangan Mengikuti Prasangka dalam Akidah

إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

"Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran." (QS. Yunus: 36)

Penjelasan: Ayat ini menjadi landasan bahwa akidah harus dibangun di atas keyakinan (dalil qath'i). Dalil zhanni hanya berfungsi sebagai penjelas, bukan sebagai hujah yang berdiri sendiri.

↓

3. Peran Akal (Manhaj Nadzar)

Akal (nadzar) digunakan untuk merenungi ciptaan Allah guna membuktikan keberadaan dan kebesaran-Nya. Kewajiban menggunakan akal ini didasarkan pada perintah syariat (**wajib syar'an**), bukan semata-mata karena akal itu sendiri. Akal berfungsi sebagai penguat, bukan sumber independen dalam menetapkan akidah.

Metodologi Pemahaman Nas Akidah

Dalam memahami nas-nas, terutama ayat mutasyabihat (samar maknanya), Muhammadiyah memegang teguh kaidah-kaidah berikut untuk menghindari penyerupaan (tasybih) dan peniadaan (ta'thil).

Membedakan Masalah Pokok (Ushul) dan Cabang (Furu')

Ushul Akidah (Pokok)

  • Prinsip dasar keimanan (Rukun Iman & Islam).
  • Berdasarkan dalil **Qath'i** (pasti), seperti Al-Qur'an dan Hadis Mutawatir.
  • Menjadi konsensus (ijmak) ulama.
  • Mengingkarinya dapat membatalkan keislaman (kufur).

Furu' Akidah (Cabang)

  • Rincian atau penjabaran dari ushul akidah.
  • Berdasarkan dalil **Zhanniy** (interpretatif), seperti Hadis Ahad.
  • Terbuka untuk ikhtilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama.
  • Menyelisihinya tidak sampai pada kekafiran, namun bisa dianggap bid'ah jika menyimpang.

Kaidah Terkait Dzat dan Sifat Allah

Akal manusia terbatas dan tidak akan mampu mencapai hakikat Dzat Allah dan bagaimana sifat-Nya. Oleh karena itu, manhaj yang benar adalah:

  • Tanzih (التنزيه): Menyucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya.
  • Tidak Membahas Kaifiyah: Tidak membicarakan "bagaimana" hakikat Dzat dan Sifat Allah karena hal itu di luar jangkauan akal.
  • Menetapkan Sifat: Mengimani sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam nas tanpa menolaknya (ta'thil).
Kaidah Emas (Tanzih & Itsbat)

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Penjelasan: Ayat ini menafikan penyerupaan (Tanzih) sekaligus menetapkan sifat (Itsbat) bagi Allah sesuai keagungan-Nya.

Menyikapi Ayat Mutasyabihat

Dalam menghadapi ayat-ayat mutasyabihat (seperti istiwa', 'tangan' Allah), manhaj Muhammadiyah mendahulukan sikap yang paling selamat:

  • Taslim/Tafwidh (التسليم/التفويض): Ini adalah sikap utama dan paling selamat. Yaitu mengimani lafaznya sebagaimana datangnya dan menyerahkan makna hakikinya kepada Allah, sambil meyakini bahwa makna zahirnya tidak dimaksudkan. Contoh: mengimani Allah ber-istiwa' di atas 'Arsy tanpa bertanya 'bagaimana' dan 'di mana'.
  • Takwil (التأويل): Dapat digunakan dengan syarat ketat, yaitu memalingkan lafaz dari makna zahir ke makna lain yang sesuai keagungan Allah berdasarkan qarinah (indikator) yang bisa diterima. Tujuannya untuk menghindari pemahaman tasybih. Contoh: memaknai "Allah bersama kamu" bukan secara zat, tapi dengan ilmu dan pengawasan-Nya.

Rincian Komprehensif Ushul Akidah

Berikut adalah penjabaran lebih detail mengenai beberapa pilar keimanan yang merupakan bagian dari Ushul Akidah, berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih.

1. Sifat-Sifat Kesempurnaan Allah

Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang tak terbatas. Mengetahui sifat Allah harus berdasarkan nas. HPT merinci beberapa sifat wajib yang harus diyakini, di antaranya:

Wajibul Wujud (Wajib Ada)

Allah adalah Dzat yang wajib ada, keberadaannya azali tanpa permulaan.

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ

"Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya." (QS. Yunus: 32)

Al-Awwal wal Akhir

Allah adalah Yang Maha Awal tanpa permulaan dan Maha Akhir tanpa kesudahan.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ

"Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir." (QS. Al-Hadid: 3)

Mukhalafatul lil Hawadits

Allah berbeda dengan seluruh makhluk-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia." (QS. Asy-Syura: 11)

Wahdaniyah (Maha Esa)

Allah Maha Esa dalam Dzat, Sifat, dan Perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas: 1)

Hayat (Maha Hidup)

Allah Maha Hidup, kekal, tidak akan pernah mati atau binasa.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal." (QS. Al-Baqarah: 255)

Qayyum (Berdiri Sendiri)

Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, sementara semua makhluk bergantung pada-Nya.

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia... Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)." (QS. Al-Baqarah: 255)

Sama' & Bashar

Allah Maha Mendengar segala sesuatu dan Maha Melihat segala sesuatu.

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Qudrah (Maha Kuasa)

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang dapat melemahkan-Nya.

وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Mulk: 1)

Iradah (Maha Berkehendak)

Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, tidak ada yang dapat memaksa-Nya.

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَهُ أَن تَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

"Sesungguhnya perkataan Kami... 'kun (jadilah)', maka jadilah ia." (QS. An-Nahl: 40)

Ilmu (Maha Mengetahui)

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, yang lahir maupun yang gaib.

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 29)

Kalam (Maha Berfirman)

Allah berbicara/berfirman, di antaranya kepada para nabi-Nya.

مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ

"Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia)." (QS. Al-Baqarah: 253)

2. Keimanan kepada Nabi dan Rasul

Mengimani semua nabi dan rasul sebagai manusia pilihan yang membawa risalah tauhid. Mereka memiliki sifat wajib beserta dalilnya:

Shidiq (Jujur)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

"Ceritakanlah... kisah Ibrahim... Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi." (QS. Maryam: 41)

Amanah (Terpercaya)

لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُوتُوا أَمَانَاتِكُمْ

"...janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat..." (QS. Al-Anfal: 27)

Tabligh (Menyampaikan)

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

"Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu." (QS. Al-Maidah: 67)

Fathanah (Cerdas)

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ

"Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." (QS. Al-An'am: 83)

3. Keimanan kepada Hari Kemudian

Wajib mempercayai adanya Hari Kiamat sebagai akhir dari kehidupan dunia. Peristiwanya dirahasiakan Allah, namun prosesnya dijelaskan dalam nas, meliputi:

  • Yaumul Ba'ats (Hari Kebangkitan): Manusia dibangkitkan dari kubur setelah tiupan sangkakala kedua.
    Dalil: QS. Yasin: 51
  • Yaumul Mahsyar (Hari Berkumpul): Seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar.
    Dalil: QS. Az-Zumar: 69
  • Yaumul Hisab & Mizan (Perhitungan & Timbangan): Amal perbuatan dihitung dan ditimbang dengan seadil-adilnya.
    Dalil: QS. Al-Insyiqaq: 7-8 & QS. Al-Ghasyiyah: 26
  • Ash-Shirat (Jembatan): Jembatan yang terbentang di atas neraka yang akan dilewati semua manusia.
    Dalil: QS. Maryam: 71 & Hadis Riwayat Bukhari-Muslim
  • Al-Jaza' (Balasan): Surga bagi orang beriman yang dirahmati Allah, dan Neraka bagi orang kafir dan pendosa.
    Dalil: QS. Az-Zumar: 73 & QS. Al-Bayyinah: 6

Konsep-Konsep Kunci Akidah

Beberapa konsep penting yang membentuk kerangka pemikiran akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang dipedomani Muhammadiyah.

Al-Firqah an-Najiyah (Golongan yang Selamat)

Merujuk pada kelompok yang selamat di akhirat karena berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman generasi Salafush Shalih. Jalan ini ditempuh dengan memurnikan tauhid dan menjauhi syirik, bid'ah, serta khurafat.

Dalil Golongan yang Selamat

وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ... وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

"dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan... satu golongan masuk surga, yaitu al-jama'ah." (HR. Abu Dawud)

Konsep Kasb (Keseimbangan Takdir & Ikhtiyar)

Pandangan moderat antara Jabariyah (pasrah total) dan Qadariyah (bebas mutlak). Perbuatan manusia diciptakan Allah (**khalqan**), namun manusia memiliki kuasa dan pilihan (**ikhtiyar**) dalam merealisasikan perbuatan tersebut. Usaha pilihan inilah yang disebut **Kasb**, yang menjadi dasar adanya pahala dan siksa.

Dalil Usaha Manusia

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

"Allah yang telah menjadikan kamu dan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaffat: 96)

Huduts al-'Alam (Kebaharuan Alam)

Keyakinan yang disepakati (ijmak) oleh ulama salaf bahwa alam raya dan segala isinya (selain Allah dan sifat-Nya) adalah **makhluk (hadis)**, artinya diciptakan dari ketiadaan dan akan binasa. Hanya Allah yang bersifat Qadim (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa' (Kekal). Mengimani kebaharuan alam adalah bagian dari ushul akidah untuk membedakan antara Sang Khaliq dan makhluk.

Dalil Penciptaan Alam

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa..." (QS. Hud: 7)