Metode perturbasi =
= metode gangguan metode Simpangan.
Jika seandainya ada sistem dengan Hamiltonian bebas waktu H dan kita tidak mungkin menyelesaikan secara eksak persamaan Schrodinger
Hψn = Enψn (9-1)H hanya berbeda sedikit dengan operator Hamilton H0 dari suatu sistem yang persamaan Schrodinger-nya yaitu:
H0ψn(0) = En(0)ψn(0) (9-2)maka sistem dengan H disebut sistem terperturbasi sedang sistem dengan H0 disebut sistem takterperturbasi.
Sistem perturbasi sebagai sistem osilator takharmonis yang H nya
H = -(ℏ2/2m)(d2/dx2) + (1/2)kx2 + cx3 + dx4 (9-3)Hamiltonian (9-3) tidak berbeda jauh dengan Hamiltonian dari sistem osilator harmonis
H0 = -(ℏ2/2m)(d2/dx2) + (1/2)kx2 (9-4)Jika tetapan c dan d pada (9-3) itu kecil, maka diperkirakan bahwa fungsi dan nilai eigen dari osilator takharmonis tidak terlalu jauh dengan yang harmonis.
Jika perbedaan antara H dan H0 kita sebut H'. Perbedaan Hamiltonian ini kita sebut perturbasi. Perturbasi didefinisikan dengan:
H' = H - H0 (9-5a)jadi
H = H0 + H' (9-5b)Untuk contoh osilator takharmonis dengan Hamiltonian (9-3), perturbasinya dikaitkan dengan osilator harmonis adalah
H' = cx3 + dx4 (9-6)Bagaimana fungsi dan nilai eigen dari sistem yang terperturbasi (yang tidak diketahui) dinyatakan dalam fungsi dan nilai eigen sistem yang takterperturbasi (yang dapat diketahui)?
Secara matematika, caranya dengan memasukkan parameter λ kedalam Hamiltonian dalam bentuk relasi sebagai berikut
H = H0 + λH' (9-7)Jikan ψn(0) adalah fungsi gelombang sebuah partikel takterperturbasi nondegenerate dengan energi En(0)
jika ψn adalah fungsi gelombang terperturbasi menjadi ψn(0), maka untuk sistem terperturbasi, persamaan Schrodinger-nya adalah
Hψn = (H0 + λH') ψn = En ψn (9-8)Karena Hamiltonian (9-8) bergantung pada parameter λ, maka ψn dan En merupakan fungsi λ.
Jadi
ψn = ψn(λ, q) dan En = En(λ) q = koordinat sistem.Ψn dan En diekspansi sebagai deret Taylor dalam λ (artinya deret pangkat λ).
ψn = ∑k=0 ( (dkψn / dλk) |λ=0 ) (λk / k!)Selanjutnya agar penulisannya ringkas, ( (dkψn / dλk) |λ=0 ) (λk / k!) ditulis ψn(k) dan ( (dkEn / dλk) |λ=0 ) (λk / k!) ditulis En(k)
Sehingga untuk k=0, maka:
ψn(0) = (d0ψn / dλ0)|λ=0 (λ0 / 0!) = Ψn|λ=0 (9-11a) En(0) = (d0En / dλ0)|λ=0 (λ0 / 0!) = En|λ=0 (9-11b)dan k=1, 2, 3.....
ψn(k) = (dkΨn / dλk)|λ=0 (1 / k!) k=1, 2.... (9-12a) En(k) = (dkEn / dλk)|λ=0 (1 / k!) k=1, 2,... (9-12b)sehingga (9-9) dan (9-10) dapat ditulis
ψn = ψn(0) + λψn(1) + λ2ψn(2) + λ3ψn(3) +....+ λkψn(k) + ... (9-13) En = En(0) + λEn(1) + λ2En(2) + λ3En(3) +....+ λkEn(k) + ... (9-14)ψn(k) dan En(k) disebut koreksi order k terhadap fungsi gelombang dan energi.
Jika diasumsikan deret (9-13) dan (9-14) konvergen untuk λ=1 dan untuk perturbasi (simpangan) yang kecil, suku-suku awal deret akan memberikan aproksimasi yang bagus bagi fungsi gelombang dan energi yang sesungguhnya.
Jika ψn(0) ternormalisasi, maka <ψn(0) | ψn(0)> = 1 Tanpa harus menganggap bahwa ψn ternormalisasi, kita mensyaratkan agar
<ψn(0) | ψn> = 1ψn tidak mengikuti <ψn(0) | ψn> = 1 , maka hasil kali ψn dengan konstanta 1 / <ψn(0) | ψn> akan menghasilkan fungsi gelombang terperturbasi yang jauh dari properti seharusnya.
Kondisi <ψn(0) | ψn> = 1 ini disebut normalisasi intermediate.
Perlu dicatat bahwa hasil kali Ψn dengan konstanta tidak akan mengubah harga energi dalam persamaan Schrodinger Hψn = Enψn sehingga penerapan normalisasi intermediate tidak berpengaruh terhadap hasil koreksi energi.
Substitusi (9-13) ke dalam normalisasi intermediate <ψn(0) | ψn> = 1 menghasilkan
1 = <ψn(0) | ψn(0)> + λ<ψn(0) | ψn(1)> + λ2<ψn(0) | ψn(2)> +....Karena <ψn(0) | ψn(0)> pasti = 1, maka λ<ψn(0) | ψn(1)> + λ2<ψn(0) | ψn(2)> +....= 0. Karena λ pasti tidak nol, maka
<ψn(0) | ψn(1)> = 0; <ψn(0) | ψn(2)> = 0 dst (9-15)Dari (9-15) itu tampak bahwa koreksi pada fungsi gelombang ψn(k) adalah ortogonal terhadap ψn(0) jika normalisasi intermediate dipergunakan.
Substitusi (9-13) dan (9-14) ke dalam (9-8) menghasilkan:
(H0 + λH') (ψn(0) + λψn(1) + λ2ψn(2) + ...)Suku-suku yang pangkat λ nya sama dikumpulkan, hingga menjadi
H0ψn(0) + λ(H'ψn(0) + H0ψn(1)) + λ2(H'ψn(1) + H0ψn(2)) + ...Jika diasumsikan konvergen maka suku-suku yang berderajat sama dari kedua ruas persamaan (9-16) bernilai sama untuk sembarang harga λ.
Dari suku λ0 diperoleh
H0ψn(0) = En(0)ψn(0)(Ini adalah persamaan Schrodinger takterperturbasi yang sudah kita ketahui)
Dari suku λ1 diperoleh
(H'ψn(0) + H0ψn(1)) = (En(1)ψn(0) + En(0)ψn(1)) (9-17)atau
H0ψn(1) - En(0)ψn(1) = En(1)ψn(0) - H'ψn(0) (9-18) ^ Ke AtasUntuk mendapatkan harga En(1), maka persamaan (9-18) dikalikan dengan ψm(0)* kemudian diintegralkan ke seluruh ruang, sehingga menjadi:
<ψm(0) | H0 | ψn(1)> - En(0)<ψm(0) | ψn(1)>Operator H(0) adalah Hermitian, sehingga suku pertama ruas kiri (9-19) adalah:
<ψm(0) | H0 | ψn(1)> = <ψn(1) | H0 | ψm(0)>* = <ψn(1) | Em(0)ψm(0)>*Substitusi (9-20) ke dalam (9-19) menghasilkan:
Em(0)<ψm(0) | ψn(1)> - En(0)<ψm(0) | ψn(1)>atau
(Em(0) - En(0))<ψm(0) | ψn(1)> = En(1)<ψm(0) | ψn(0)>Jika m = n, maka ruas kiri (9-21) menjadi nol sedang
<ψm(0) | ψn(0)> = <ψn(0) | ψn(0)> = 1jadi
0 = En(1) - <ψn(0) | H' | ψn(0)>atau
En(1) = <ψn(0) | H' | ψn(0)> = ∫ψn(0)* H' ψn(0) dτ ≡ H'nn (9-22)*bKoreksi order pertama terhadap energi diperoleh dengan merata-rata perturbasi H' dengan mengacu pada fungsi takterperturbasi yang bersangkutan.
Jika koreksi terhadap energi sudah diperoleh maka energi sistem terperturbasi En adalah:
En ≈ En(0) + En(1) = En(0) + ∫ψn(0)* H' ψn(0) dτ (9-23)Sebuah partikel dalam kotak 1D (0 sampai a) memiliki fungsi gelombang takterperturbasi ψn(0) = (2/a)1/2 sin(nπx / a). Jika sistem diberi perturbasi H' = V0 (konstanta) untuk 0 ≤ x ≤ a/2 dan H'=0 di tempat lain, tentukan koreksi energi order pertama (E1(1)) untuk ground state (n=1).
Formula umum untuk koreksi energi order pertama adalah (dari Persamaan 9-22):
En(1) = <ψn(0) | H' | ψn(0)> = ∫ ψn(0)* H' ψn(0) dτUntuk ground state (n=1), fungsi gelombangnya adalah:
ψ1(0) = (2/a)1/2 sin(πx / a)Hamiltonian perturbasi H' bernilai V0 hanya dari x=0 sampai x=a/2, dan nol di tempat lain. Oleh karena itu, kita membatasi integral kita pada rentang di mana H' tidak nol:
E1(1) = ∫0a ψ1(0)* H' ψ1(0) dx E1(1) = ∫0a/2 [ (2/a)1/2 sin(πx / a) ] V0 [ (2/a)1/2 sin(πx / a) ] dx + ∫a/2a ... (0) dxKita keluarkan konstanta dari integral:
E1(1) = (2V0 / a) ∫0a/2 sin2(πx / a) dxUntuk mengintegralkan, kita gunakan identitas trigonometri: sin2(θ) = (1/2)(1 - cos(2θ)).
E1(1) = (2V0 / a) ∫0a/2 (1/2) [ 1 - cos(2πx / a) ] dx E1(1) = (V0 / a) [ x - (a / 2π) sin(2πx / a) ]0a/2Sekarang kita evaluasi integral pada batas-batasnya:
Batas Atas (x = a/2):
(V0} / a) [ (a/2) - (a / 2π) sin(2π(a/2) / a) ] = (V0} / a) [ (a/2) - (a / 2π) sin(π) ]Karena sin(π) = 0, suku kedua menjadi nol.
= (V0} / a) [ a/2 - 0 ] = V0 / 2Batas Bawah (x = 0):
(V0} / a) [ 0 - (a / 2π) sin(0) ] = 0Hasil akhirnya adalah (Batas Atas - Batas Bawah):
E1(1) = (V0} / 2) - 0 = V0} / 2Jadi, koreksi energi order pertama untuk ground state adalah V0/2. Ini masuk akal, karena perturbasi V0 diterapkan pada tepat setengah kotak (dan probabilitas untuk ground state sedikit terkonsentrasi di tengah, namun integralnya pas setengah).
Untuk partikel dalam kotak 1D yang sama (0 sampai a), perturbasi yang diberikan adalah H' = c ⋅ x, di mana c adalah konstanta kecil. Hitung koreksi energi order pertama (En(1)) untuk state ke-n.
Kita menggunakan formula yang sama untuk En(1) dengan H' = cx dan fungsi gelombang ψn(0) = (2/a)1/2 sin(nπx / a).
En(1) = ∫0a [ (2/a)1/2 sin(nπx / a) ]* (cx) [ (2/a)1/2 sin(nπx / a) ] dxKeluarkan konstanta:
En(1) = (2c / a) ∫0a x sin2(nπx / a) dxKita dapat menyelesaikan integral ini menggunakan integrasi parsial, atau menggunakan formula integral standar yang ada di apendiks (seperti A.3):
∫ x sin2(bx) dx = x2/4 - (x/4b)sin(2bx) - (1/8b2)cos(2bx)Dalam kasus kita, b = nπ / a. Mari kita terapkan batas integral dari 0 sampai a:
∫0a ... = [ x2/4 - (ax / 4nπ)sin(2nπx / a) - (a2 / 8n2π2)cos(2nπx / a) ]0aBatas Atas (x = a):
[ a2/4 - (a2 / 4nπ)sin(2nπ) - (a2 / 8n2π2)cos(2nπ) ]Karena n adalah bilangan bulat (1, 2, 3, ...), maka sin(2nπ) = 0 dan cos(2nπ) = 1.
= [ a2/4 - 0 - (a2 / 8n2π2) ]Batas Bawah (x = 0):
[ 0 - 0 - (a2 / 8n2π2)cos(0) ] = - (a2 / 8n2π2)Hasil integral = (Batas Atas) - (Batas Bawah):
= [ a2/4 - (a2 / 8n2π2) ] - [ - (a2 / 8n2π2) ] = a2/4Sekarang, substitusikan hasil integral ini kembali ke ekspresi En(1):
En(1) = (2c / a) ⋅ (a2 / 4) = ca / 2Koreksi energi order pertama adalah ca/2 untuk semua state n. Ini adalah nilai rata-rata dari perturbasi (yang linear dari 0 ke ca), yang bernilai ca/2 di tengah kotak (x = a/2).
Sistem osilator harmonis 1D takterperturbasi (H0) diberi perturbasi H' = γx (γ adalah konstanta kecil). Tentukan koreksi energi order pertama (Ev(1)) untuk sembarang state v. (Petunjuk: Gunakan sifat simetri dari ψv(0) dan H'. Apakah integralnya ganjil atau genap?)
Kita akan mengevaluasi integral koreksi energi order pertama:
Ev(1) = <ψv(0) | H' | ψv(0)> = ∫-∞∞ ψv(0)* (γx) ψv(0) dx Ev(1) = γ ∫-∞∞ x |ψv(0)|2 dxKita tidak perlu menyelesaikan integral ini secara eksplisit. Kita dapat menggunakan argumen simetri, seperti yang disarankan oleh petunjuk:
Oleh karena itu, integral tersebut bernilai nol.
Ev(1) = γ × (0) = 0Koreksi energi order pertama adalah nol untuk semua state v. Ini berarti penambahan potensial linear γx tidak mengubah energi sistem pada order pertama. (Secara fisik, ini menggeser titik ekuilibrium potensial sedikit, tetapi tidak mengubah level energi pada aproksimasi pertama).
For the anharmonic oscillator with Hamiltonian (9.3), evaluate E(1) for the ground state if the unperturbed system is taken as the harmonic oscillator.
The perturbation is given by Eqs. (9.3) to (9.5) as
H' = H - H0 = cx3 + dx4and the first-order energy correction for the state with quantum number v is given by (9.22) as Ev(1) = <ψv(0) | cx3 + dx4 | ψv(0)>, where ψv(0) is the harmonic-oscillator wave function for state v. For the v=0 ground state, use of ψ0(0) = (α/π)1/4e-αx2/2 [Eq. (4.53)] gives
E0(1) = <ψ0(0) | cx3 + dx4 | ψ0(0)> = (α/π)1/2 ∫-∞∞ e-αx2(cx3 + dx4)dxThe integral from -∞ to ∞ of the odd function cx3e-αx2 is zero.
Use of the Appendix integral (A.10) with n=2 and (4.31) for α gives
E0(1) = 2d(α/π)1/2 ∫0∞ e-αx2 x4dx = 3d / (4α2) = 3dh2 / (64π4ν2m2)The unperturbed ground-state energy is E0(0) = (1/2)hν and E0(0) + E0(1) = (1/2)hν + 3dh2 / (64π4ν2m2).
Untuk osilator tak harmonis yang hamiltoniannya adalah
H = -(ℏ2/2m)(d2/dx2) + (1/2)kx2 + px3 + qx4,tentukan koreksi order pertama untuk energi ground state.
a) Untuk osilator harmonis, energi ground state adalah E0(0) = (1/2)hv.
Koreksi order pertama untuk energi ground state yang ditanyakan adalah E0(1).
Menurut (9-22):
En(1) = ∫ψn(0)* H' ψn(0) dτjadi
E0(1) = ∫-∞∞ ψ0(0)* H' ψ0(0) dxψ0(0) = fungsi gelombang tak terperturbasi (osilator harmonis) ground state = (α/π)1/4e-αx2/2
H' = H - H0 = (-(ℏ2/2m)(d2/dx2) + (1/2)kx2 + px3 + qx4) - (-(ℏ2/2m)(d2/dx2) + (1/2)kx2) = px3 + qx4jadi
E0(1) = ∫-∞∞ (α/π)1/4e-αx2/2 (px3 + qx4) (α/π)1/4e-αx2/2 dxatau
E0(1) = ∫-∞∞ (α/π)1/2e-αx2(px3 + qx4)dx = (α/π)1/2 ∫-∞∞ e-αx2(px3 + qx4)dx∫-∞∞ px3e-αx2dx
= integral fungsi ganjil dengan batas -∞ s/d ∞ = 0.
jadi
E0(1) = 0 + (α/π)1/2 ∫-∞∞ qx4e-αx2dx = (α/π)1/2 ⋅ 2q ∫0∞ x4e-αx2dxGunakan Tabel A.5 Integrals halaman 663
(Menggunakan (A.10) dengan n=2, b=α):
∫0∞ x4e-αx2dx = (4! / (25 ⋅ 2!)) ⋅ (π / α5)1/2 = (24 / 64) ⋅ (π/α5)1/2 = (3/8) (π/α5)1/2Substitusi kembali:
E0(1) = (α/π)1/2 ⋅ 2q ⋅ (3/8) (π/α5)1/2 = ( (απ) / (πα5) )1/2 ⋅ (6q/8) = (1/α4)1/2 ⋅ (3q/4) = 3q / (4α2)Berikut adalah 3 soal tambahan yang relevan dengan topik teori gangguan, beserta pembahasan rincinya.
Menggunakan Hamiltonian dan gangguan (H' = px3 + qx4) yang sama dari contoh sebelumnya, tentukan koreksi energi orde pertama (E1(1)) untuk keadaan tereksitasi pertama (v=1).
Koreksi energi orde pertama untuk keadaan v=1 diberikan oleh:
E1(1) = <ψ1(0) | H' | ψ1(0)> = ∫-∞∞ ψ1(0)* (px3 + qx4) ψ1(0) dxFungsi gelombang tak terperturbasi untuk keadaan v=1 adalah:
ψ1(0)(x) = (4α3/π)1/4 x e-αx2/2Kita pisahkan integralnya menjadi dua bagian:
E1(1) = p ∫-∞∞ ψ1(0)* x3 ψ1(0) dx + q ∫-∞∞ ψ1(0)* x4 ψ1(0) dxPerhatikan paritas (sifat ganjil/genap) dari fungsi-fungsi tersebut:
Bagian pertama (integral x3):
∫-∞∞ |ψ1(0)|2 (genap) ⋅ x3 (ganjil) dx = ∫-∞∞ (fungsi ganjil) dx = 0Sama seperti pada ground state, suku gangguan x3 tidak memberikan kontribusi pada koreksi energi orde pertama.
Bagian kedua (integral x4):
E1(1) = q ∫-∞∞ |ψ1(0)|2 x4 dx = q ∫-∞∞ [ (4α3/π)1/4 x e-αx2/2 ]2 x4 dx E1(1) = q (4α3/π)1/2 ∫-∞∞ x2 e-αx2 x4 dx = q (4α3/π)1/2 ∫-∞∞ x6 e-αx2 dxIntegran (x6 e-αx2) adalah fungsi genap, sehingga kita bisa mengubah batas integralnya:
E1(1) = q (4α3/π)1/2 ⋅ 2 ∫0∞ x6 e-αx2 dxGunakan kembali integral (A.10) dari apendiks: ∫0∞ x2n e-bx2 dx. Di sini, 2n=6 ⇒ n=3 dan b=α.
∫0∞ x6 e-αx2 dx = ( (2⋅3)! / (22⋅3+1 (3)!) ) ⋅ ( π / α2⋅3+1 )1/2 = ( 6! / (27 ⋅ 6) ) ⋅ ( π / α7 )1/2 = ( 720 / (128 ⋅ 6) ) ⋅ ( π / α7 )1/2 = ( 15 / 16 ) ⋅ ( π / α7 )1/2Substitusikan kembali ke E1(1):
E1(1) = q ⋅ (2α3/2 / π1/2) ⋅ 2 ⋅ ( 15 / 16 ) ⋅ ( π1/2 / α7/2 ) E1(1) = q ⋅ ( (4 ⋅ 15) / 16 ) ⋅ ( (α3/2 π1/2) / (π1/2 α7/2) ) = q ⋅ (60 / 16) ⋅ ( 1 / α2 ) = q ⋅ (15 / 4) ⋅ ( 1 / α2 )Jadi, koreksi energi orde pertama untuk keadaan tereksitasi pertama adalah:
E1(1) = 15q / (4α2)Tinjau sebuah partikel dalam kotak satu dimensi dari x=0 hingga x=L. Sistem tak terpertubasinya adalah kotak potensial biasa (V=0 di dalam kotak). Sekarang, tambahkan gangguan potensial yang "landai" (linear):
H' = V0 (x / L)Tentukan koreksi energi orde pertama (E1(1)) untuk ground state (n=1).
Untuk partikel dalam kotak tak terperturbasi, energi dan fungsi gelombang ground state (n=1) adalah:
E1(0) = (12 h2) / (8mL2) , ψ1(0) = (2/L)1/2 sin(πx / L)Koreksi energi orde pertama dihitung sebagai nilai harapan dari gangguan:
E1(1) = <ψ1(0) | H' | ψ1(0)> = ∫0L ( (2/L)1/2 sin(πx/L) )* ( V0 x/L ) ( (2/L)1/2 sin(πx/L) ) dxKeluarkan konstanta dari integral:
E1(1) = (2/L) ⋅ (V0/L) ∫0L x sin2(πx/L) dx = (2V0/L2) ∫0L x sin2(πx/L) dxUntuk menyelesaikan integral ini, kita gunakan identitas trigonometri sin2(θ) = (1/2)(1 - cos(2θ)):
E1(1) = (2V0/L2) ∫0L x ⋅ (1/2) (1 - cos(2πx/L)) dx E1(1) = (V0/L2) [ ∫0L x dx - ∫0L x cos(2πx/L) dx ]Integral pertama:
∫0L x dx = [ (1/2)x2 ]0L = L2/2Integral kedua: Gunakan integrasi parsial (∫u dv = uv - ∫v du).
Bagian pertama (uv):
[ (L) (L/2π) sin(2π) ] - [ (0) (L/2π) sin(0) ] = 0 - 0 = 0Bagian kedua (−∫v du):
−(L/2π) ∫0L sin(2πx/L) dx = −(L/2π) [ −(L/2π) cos(2πx/L) ]0L = (L2/4π2) [ cos(2πL/L) - cos(0) ] = (L2/4π2) [ cos(2π) - cos(0) ] = (L2/4π2) [ 1 - 1 ] = 0Kedua bagian dari integral kedua adalah nol. Jadi, ∫0L x cos(...) dx = 0.
Substitusikan kembali hasil integral ke E1(1):
E1(1) = (V0/L2) [ (L2/2) - 0 ] = V0/2Secara fisik, ini masuk akal. Gangguan H' bervariasi linear dari 0 hingga V0. Fungsi densitas probabilitas |ψ1(0)|2 simetris di sekitar L/2. Oleh karena itu, koreksi energi orde pertama adalah rata-rata dari gangguan di seluruh kotak, yang bernilai V0/2.
Tinjau kembali partikel dalam kotak satu dimensi dari x=0 hingga x=L. Kali ini, gangguan H' adalah potensial konstan V0 yang hanya ada di setengah kotak pertama:
Tentukan koreksi energi orde pertama (E2(1)) untuk keadaan tereksitasi pertama (n=2).
Fungsi gelombang tak terperturbasi untuk keadaan tereksitasi pertama (n=2) adalah:
ψ2(0) = (2/L)1/2 sin(2πx/L)Koreksi energi orde pertama dihitung dengan mengintegralkan gangguan hanya di wilayah di mana gangguan itu tidak nol (0 hingga L/2):
E2(1) = <ψ2(0) | H' | ψ2(0)> = ∫0L ψ2(0)* H' ψ2(0) dx E2(1) = ∫0L/2 ( (2/L)1/2 sin(2πx/L) )* (V0) ( (2/L)1/2 sin(2πx/L) ) dx + ∫L/2L ... (0) ... dxKeluarkan konstanta:
E2(1) = (2V0/L) ∫0L/2 sin2(2πx/L) dxGunakan lagi identitas sin2(θ) = (1/2)(1 - cos(2θ)):
E2(1) = (2V0/L) ∫0L/2 (1/2) (1 - cos(4πx/L)) dx E2(1) = (V0/L) [ ∫0L/2 1 dx - ∫0L/2 cos(4πx/L) dx ]Integral pertama:
∫0L/2 1 dx = [x]0L/2 = L/2Integral kedua:
∫0L/2 cos(4πx/L) dx = [ (L/4π) sin(4πx/L) ]0L/2 = [ (L/4π) sin(4π(L/2)/L) ] - [ (L/4π) sin(0) ] = (L/4π) sin(2π) - 0 = 0Integral kedua bernilai nol.
Substitusikan kembali hasil integral ke E2(1):
E2(1) = (V0/L) [ (L/2) - 0 ] = V0/2Hasilnya menarik: koreksi energinya adalah V0/2. Ini karena fungsi densitas probabilitas |ψ2(0)|2 = (2/L)sin2(2πx/L) simetris sempurna. Fungsi ini memiliki dua "puncak" yang identik, satu di x=L/4 dan satu lagi di x=3L/4. Karena gangguan V0 hanya menutupi "puncak" pertama (setengah dari total probabilitas), koreksi energinya adalah tepat setengah dari V0.
∫ x sin(bx) dx = (1/b2)sin(bx) - (x/b)cos(bx) (A.1)
∫ sin2(bx) dx = x/2 - (1/4b)sin(2bx) (A.2)
∫ x sin2(bx) dx = x2/4 - (x/4b)sin(2bx) - (1/8b2)cos(2bx) (A.3)
∫ x2sin2(bx) dx = x3/6 - (x2/4b - 1/8b3)sin(2bx) - (x/4b2)cos(2bx) (A.4)
∫ sin(ax) sin(bx) dx = sin[(a-b)x] / 2(a-b) - sin[(a+b)x] / 2(a+b), a2 ≠ b2 (A.5)
∫ xebx dx = (x/b - 1/b2)ebx (A.6)
∫ x2ebx dx = ebx(x2/b - 2x/b2 + 2/b3) (A.7)
∫0∞ xne-qx dx = n! / qn+1, n > -1, q > 0 (A.8)
∫0∞ e-bx2 dx = (1/2)(π/b)1/2, b > 0 (A.9)
∫0∞ x2ne-bx2 dx = ( (2n)! / (22n+1 n!) ) (π / b2n+1)1/2, b > 0, n = 1, 2, 3, ... (A.10)
∫t∞ zne-az dz = (n!/an+1) e-at (1 + at + (a2t2/2!) + ... + (antn/n!)), n=0, 1, 2, ..., a > 0 (A.11)
Untuk m ≠ n, persamaan (9-21) menjadi:
(Em(0) - En(0)) <ψm(0) | ψn(1)> = - <ψm(0) | H' | ψn(0)> m ≠ n (9-24)Untuk memperoleh ψn(1), kita mengekspansinya ke dalam suku-suku yang terdiri atas himpunan fungsi eigen tak terperturbasi ψm(0) dari operator hermitian H0 :
ψn(1) = ∑m anm ψm(0) , dengan anm = <ψm(0) | ψn(1)> (9-25)Dengan menggunakan anm = <ψm(0) | ψn(1)>, persamaan (9-24) menjadi:
(Em(0) - En(0)) anm = - <ψm(0) | H' | ψn(0)> m ≠ natau
anm = <ψm(0) | H' | ψn(0)> / (En(0) - Em(0)) = H'mn / (En(0) - Em(0)) (9-26)Dari persamaan kedua pada (9-25), dapat dinyatakan bahwa ann = <ψn(0) | ψn(1)>
Ingat bahwa pemilihan normalisasi intermediate untuk ψn membuat <ψn(0) | ψn(1)> = 0 [persamaan (9-15)].
Karena itu, ann = <ψn(0) | ψn(1)> = 0, sehingga (9-25) dan (9-26) memberikan koreksi order pertama terhadap fungsi
ψn(1) = ∑m≠n ( <ψm(0) | H' | ψn(0)> / (En(0) - Em(0)) ) ψm(0) (9-27)Lambang ∑m≠n artinya menjumlah semua state tak terperturbasi kecuali state n.
Dengan menggunakan harga λ=1 dalam (9-13) dan menggunakan koreksi fungsi gelombang order pertama, kita mempunyai sebuah aproksimasi terhadap fungsi gelombang perturbasi yaitu:
ψn ≈ ψn(0) + ψn(1) = ψn(0) + ∑m≠n ( <ψm(0) | H' | ψn(0)> / (En(0) - Em(0)) ) ψm(0) (9-28)Secara ringkas dapat ditulis koreksi untuk orde pertama (dengan λ):
En ≈ En(0) + λH'nn = En(0) + λEn(1) ψn ≈ ψn(0) + λ ∑m≠n ( H'mn / (En(0) - Em(0)) ) ψm(0) ψn ≈ ψn(0) + λψn(1)Jika λ=1, maka (termasuk orde kedua untuk energi):
En ≈ En(0) + H'nn + ∑m≠n ( |H'mn|2 / (En(0) - Em(0)) ) (9.36) ^ Ke AtasJika Hamilton Perturbasi H' adalah
H' = (x/a)V1 dan ψn = (2/a)1/2 sin(nπx / a)Dimana V1 adalah ketinggian potensial pada x=a. Koreksi orde pertama pada energi level ke-n persamaan (9-22)*b adalah
En(1) = <ψn | (xV1 / a) | ψn> = (V1 / a) ∫0a (2/a)1/2 sin(nπx / a) ⋅ x ⋅ (2/a)1/2 sin(nπx / a) dxJadi perturbasi orde pertama menaikkan energi semua level sebesar (1/2)V1
Maka
En ≈ En(0) + λH'nn = En(0) + λEn(1) = En(0) + λ(1/2)V1Koreksi orde pertama fungsi gelombang diberikan oleh persamaan (9-26) dan untuk problem ini (dengan k menggantikan n):
amk = ( <ψm(0) | H' | ψk(0)> ) / (Ek0 - Em0) = ( (2V1 / a2) ∫0a x sin(kπx / a) sin(mπx / a) dx ) / (Ek0 - Em0)Denominatornya = (h2 / 8ma2)(k2 - m2) = (k2 - m2)E1(0)
Untuk mengevaluasi integral (numerator, H'mk), kita gunakan relasi trigonometrik
sin θ sin φ = (1/2) [cos(θ - φ) - cos(θ + φ)]Kita substitusikan ke H'km (integral di [254] dinotasikan Hkm, asumsikan H'km)
H'km = (V1/π2) ∫0π y [cos(k-m)y - cos(k+m)y] dy(Setelah evaluasi integral...)
H'km = 0 (jika k-m, k+m genap) H'km = (2/π2)V1 ( 1/(k+m)2 - 1/(k-m)2 ) (jika k-m, k+m ganjil)Misal k=1 (state yang dikoreksi). Kita cari am1 = H'm1 / (E10 - Em0).
Aplikasinya adalah:
(k=1, m=2): k-m=-1 (ganjil), k+m=3 (ganjil)
H'21 = (2/π2)V1 ( 1/32 - 1/12 ) = (2/π2)V1 (1/9 - 1) = -(16/9)(V1/π2) ≈ -0.180 V1(k=1, m=3): k-m=-2 (genap), k+m=4 (genap)
H'31 = 0(k=1, m=4): k-m=-3 (ganjil), k+m=5 (ganjil)
H'41 = (2/π2)V1 ( 1/52 - 1/32 ) = (2/π2)V1 (1/25 - 1/9) = (2/π2)V1 (-16/225) = -(32/225)(V1/π2) ≈ -0.0144 V1 H'51 = 0, dan seterusnya.Perhatikan integral [249], denominatornya adalah:
E10 - E20 = (12 - 22)E10 = -3E10 E10 - E40 = (12 - 42)E10 = -15E10Sehingga koefisien am1:
a21 = H'21 / (E10 - E20) = (-0.180 V1) / (-3 E10) = 0.06 (V1 / E10) a31 = a51 = ..... = 0 a41 = H'41 / (E10 - E40) = (-0.0144 V1) / (-15 E10) = 0.00096 (V1 / E10)Sehingga ψ1 (aproksimasi):
ψ1 ≈ ψ10 + a21ψ20 + a31ψ30 + a41ψ40 + ... ψ1 ≈ ψ10 + 0.06(V1/E10)ψ20 + 0.00096(V1/E10)ψ40 + ...Jika fungsi ψk(0) dan ψm(0) adalah real, integral H'km dan H'mk adalah sama. Ekspresi koreksi energi untuk orde kedua adalah
En(2) = ∑k≠n ( |H'kn|2 / (En0 - Ek0) )Dengan menggunakan harga elemen matriks yang didapat di atas kita dapat memperoleh koreksi E1 orde kedua
E1(2) = ∑k≠1 ( |H'k1|2 / (E10 - Ek0) ) = ( |H'21|2 / (E10 - E20) ) + ( |H'31|2 / (E10 - E30) ) + ( |H'41|2 / (E10 - E40) ) + ... E1(2) = ( (-0.180 V1)2 / -3E10 ) + ( (0)2 / (E10 - E30) ) + ( (-0.0144 V1)2 / -15 E10 ) + ... E1(2) = -0.0108 (V12 / E10) - 0.0000138 (V12 / E10) + ... E1(2) ≈ -0.0108 (V12 / E10)(Suku kedua lebih kecil maka diabaikan)
Energi E1 (total) adalah (sampai koreksi orde kedua):
E1 ≈ E10 + E1(1) + E1(2) E1 ≈ E10 + 0.500 V1 - 0.0108 (V12 / E10)Tuliskan formula umum untuk koreksi energi order kedua, En(2). Jelaskan secara kualitatif mengapa koreksi orde kedua ini (En(2)) hampir selalu bernilai negatif untuk ground state (n=1).
Formula Umum:
Formula umum untuk koreksi energi order kedua, seperti yang ditunjukkan pada (Tab 6), adalah:
En(2) = ∑k≠n ( |H'kn|2 / (En0 - Ek0) )dimana:
Penjelasan Kualitatif untuk Ground State (n=1):
Untuk ground state (n=1), formulanya menjadi:
E1(2) = ∑k≠1 ( |H'k1|2 / (E10 - Ek0) )Kita dapat menganalisis setiap bagian dari suku penjumlahan (term) ini:
Karena E1(2) adalah hasil penjumlahan dari suku-suku yang semuanya negatif (atau nol), total koreksi energi order kedua untuk ground state hampir selalu bernilai negatif. Secara fisik, ini sering diinterpretasikan sebagai sistem yang "menstabilkan diri" sebagai respons terhadap perturbasi dengan "mencampurkan" sedikit karakter dari excited state, yang secara efektif menurunkan energinya.
Untuk osilator harmonis 1D dengan perturbasi H' = γx3 (γ adalah konstanta kecil), kita tahu bahwa Ev(1) = 0. Tentukan ekspresi untuk koreksi energi order kedua, E0(2), untuk ground state (v=0). (Petunjuk: Integral H'k0 = <ψk|x3|ψ0> hanya non-nol untuk k=1 dan k=3).
(Catatan: Ev(1) = 0 karena integran <ψv|γx3|ψv> = γ ∫ |ψv|2 x3 dx adalah ganjil, karena |ψv|2 selalu genap dan x3 adalah ganjil. Integral dari fungsi ganjil pada batas simetris (-∞ ke +∞) adalah nol.)
Kita mulai dengan formula umum untuk E0(2) (n=0):
E0(2) = ∑k≠0 ( |H'k0|2 / (E00 - Ek0) )Dimana H'k0 = <ψk(0) | γx3 | ψ0(0)> = γ <ψk(0) | x3 | ψ0(0)>.
Kita perlu menganalisis paritas (sifat genap/ganjil) dari integral H'k0 untuk menentukan suku mana yang tidak nol:
Petunjuk soal memberi tahu kita untuk hanya mempertimbangkan k=1 dan k=3. (Ini adalah kontributor utama, dan integral untuk k≥5 mungkin nol karena aturan seleksi yang lebih ketat atau diabaikan karena denominasi energinya jauh lebih besar).
Maka, penjumlahan disederhanakan menjadi:
E0(2) ≈ ( |H'10|2 / (E00 - E10) ) + ( |H'30|2 / (E00 - E30) )Energi osilator harmonis takterperturbasi adalah Ev0 = (v + 1/2)ℏω.
Maka, denominasi energinya adalah:
Substitusikan kembali ke ekspresi E0(2):
E0(2) = ( |<ψ1| γx3 |ψ0>|2 / (-ℏω) ) + ( |<ψ3| γx3 |ψ0>|2 / (-3ℏω) )Ekspresi akhirnya adalah:
E0(2) = - ( γ2 / ℏω ) |<ψ1| x3 |ψ0>|2 - ( γ2 / 3ℏω ) |<ψ3| x3 |ψ0>|2Sebuah partikel dalam kotak (0 sampai a) mengalami perturbasi H' = V0 sin(2πx/a). Tentukan koreksi energi order pertama E1(1) untuk ground state (n=1). Kemudian, tentukan koreksi energi order kedua E1(2).
Bagian 1: Koreksi Energi Order Pertama (E1(1))
Kita evaluasi integral E1(1) = <ψ1(0) | H' | ψ1(0)>.
E1(1) = ∫0a [ (2/a)1/2 sin(πx / a) ]* (V0 sin(2πx / a)) [ (2/a)1/2 sin(πx / a) ] dx E1(1) = (2V0} / a) ∫0a sin2(πx / a) sin(2πx / a) dxGunakan identitas trigonometri sin(2θ) = 2sin(θ)cos(θ):
E1(1) = (2V0} / a) ∫0a sin2(πx / a) [ 2 sin(πx / a) cos(πx / a) ] dx E1(1) = (4V0} / a) ∫0a sin3(πx / a) cos(πx / a) dxKita selesaikan integral ini dengan substitusi u = sin(πx / a). Maka du = (π/a)cos(πx / a) dx.
Ubah batas integral:
Karena batas atas dan batas bawah integral menjadi sama (0 sampai 0), hasil integralnya adalah nol.
E1(1) = 0Bagian 2: Koreksi Energi Order Kedua (E1(2))
Karena E1(1) = 0, koreksi energi terendah yang tidak nol berasal dari order kedua:
E1(2) = ∑k≠1 ( |H'k1|2 / (E10 - Ek0) )Kita harus mengevaluasi elemen matriks H'k1 = <ψk(0) | H' | ψ1(0)>:
H'k1 = (2V0} / a) ∫0a sin(kπx / a) sin(2πx / a) sin(πx / a) dxGunakan identitas produk-ke-penjumlahan: sin(A)sin(B) = (1/2)[cos(A-B) - cos(A+B)].
Terapkan pada sin(kπx / a) sin(πx / a):
= (V0} / a) ∫0a [ cos((k-1)πx / a) - cos((k+1)πx / a) ] sin(2πx / a) dxIntegral ∫ cos(mπx/a) sin(nπx/a) dx adalah nol kecuali m+n dan m-n keduanya ganjil (yang terjadi jika m dan n memiliki paritas berbeda, satu genap dan satu ganjil).
Di sini, n=2 (genap). Agar integral tidak nol, m harus ganjil.
Jadi, H'k1 bernilai nol untuk semua k ganjil (k=3, 5, ...). Kita hanya perlu menjumlahkan untuk k genap (k=2, 4, ...).
Suku yang dominan (karena denominasi energinya terkecil) adalah k=2.
Denominator Energi (untuk k=2):
Energi PIB adalah En0 = n2 E10 (dimana E10 = h2/8ma2).
E10 - E20 = (12 - 22) E10 = -3 E10Numerator (untuk k=2):
H'21 = (V0} / a) ∫0a [ cos(πx / a) - cos(3πx / a) ] sin(2πx / a) dxMenggunakan formula integral standar ∫0a cos(mπx/a) sin(nπx/a) dx = (a/π) [ 2n / (n2-m2) ] (untuk n±m ganjil):
Ekspresi E1(2):
Dengan hanya mempertimbangkan suku k=2 yang dominan, kita dapatkan:
E1(2) ≈ ( |H'21|2 / (E10 - E20) ) = ( (32V0} / 15π)2 / (-3 E10) ) E1(2) ≈ - ( 1024 V02 / (225 π2) ) ⋅ ( 1 / 3 E10 ) = - ( 1024 V02 / 675 π2 E10 )Ekspresi umum yang lebih lengkap adalah:
E1(2) = ∑k=2, 4, ... ( |H'k1|2 / (1 - k2)E10 )Baik Metode Variasi maupun Metode Perturbasi (Teori Gangguan) adalah pilar utama dalam kimia kuantum komputasi. Keduanya adalah metode aproksimasi (pendekatan) yang fundamental. Mengapa kita butuh pendekatan? Karena Persamaan Schrödinger Ĥψ = Eψ mustahil diselesaikan secara eksak (analitik) untuk sistem apapun yang lebih rumit dari atom hidrogen. Untuk atom multi-elektron dan molekul, kita *harus* menggunakan aproksimasi.
Keduanya memiliki filosofi yang sangat berbeda untuk memecahkan masalah ini.
Filosofi metode ini adalah "menebak" jawaban terbaik. Metode ini didasarkan pada Prinsip Variasi, yang menyatakan:
"Energi yang dihitung dari fungsi gelombang tebakan ψtrial manapun selalu lebih besar dari atau sama dengan energi ground state sejati Egs."
Secara matematis:
Etrial = (〈ψtrial|Ĥ|ψtrial〉) / (〈ψtrial|ψtrial〉) ≥ Egs
Analogi: Bayangkan Anda berada di sebuah lembah yang berkabut tebal (ini adalah "ruang" dari semua kemungkinan fungsi gelombang) dan Anda ingin menemukan titik terendah di lembah itu (energi ground state sejati, Egs). Prinsip variasi menjamin bahwa kaki Anda (energi Etrial yang Anda hitung) tidak akan pernah menembus dasar lembah. Anda mungkin berada di lereng, tetapi Anda tidak akan pernah berada "di bawah tanah".
Bagaimana cara kerjanya?
Energi minimum yang kita dapatkan adalah pendekatan terbaik untuk energi ground state yang bisa diberikan oleh "tebakan" kita. Semakin "pintar" tebakan awal kita (bentuk ψtrial), semakin dekat kita ke dasar lembah yang sebenarnya.
Filosofi metode ini adalah "memulai dari yang sederhana". Metode ini mengasumsikan bahwa masalah rumit yang ingin kita selesaikan (Hamiltonian Ĥ) mirip dengan masalah sederhana yang sudah kita ketahui solusinya (Ĥ(0)), ditambah "gangguan" (perturbasi) kecil (Ĥ′).
Kita memecah Hamiltonian total:
Ĥ = Ĥ(0) + Ĥ′
Analogi: Bayangkan Anda memiliki senar gitar yang disetel dengan sempurna (ini Ĥ(0)). Anda tahu persis nada dasarnya (E0(0)) dan semua nada harmoniknya (En(0)). Sekarang, Anda menempelkan setetes kecil lem di tengah senar (ini adalah Ĥ′). Nadanya akan bergeser sedikit, bukan? Teori perturbasi adalah cara matematis untuk menghitung pergeseran nada tersebut (koreksi energi E(1), E(2), &dots;) tanpa harus menyelesaikan ulang seluruh masalah fisika senar dengan lem tadi dari nol.
Metode ini menghitung energi dan fungsi gelombang sebagai deret tak hingga (mirip deret Taylor):
Sekarang kita dapat memahami poin-poin perbandingan dalam daftar awal Anda dengan lebih baik. Mari kita susun dalam tabel:
| Fitur | Metode Variasi | Metode Perturbasi |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Hanya Ground State (Keadaan Dasar). Prinsip variasi secara alami hanya berlaku untuk energi terendah (Egs). (Poin 1 Anda) | Semua State (Dasar & Terekstasi). Karena kita mulai dari seluruh set solusi Ĥ(0) (termasuk state tereksitasi), kita bisa menghitung koreksi untuk state manapun. (Poin 2 Anda) |
| Kompleksitas Perhitungan | Tantangannya adalah memilih "tebakan" ψtrial yang baik dan menghitung integral 〈ψ|Ĥ|ψ〉 yang bisa jadi sangat rumit. | Koreksi orde pertama (E(1)) mudah. Tapi koreksi orde kedua (E(2)) dan seterusnya sangat rumit, melibatkan penjumlahan tak hingga atas semua state lain. (Poin 3 Anda) |
| Akurasi vs. Fungsi Gelombang | Bisa menghasilkan energi yang "cukup baik" bahkan dengan ψtrial yang "tidak terlalu akurat". Energi selalu konvergen dari atas. (Poin 5 Anda) | Bisa menghasilkan energi yang sangat akurat. Ada teorema (Teorema Wigner 2k+1) yang menyatakan energi yang dihitung sampai orde 2k+1 akurat hanya dengan fungsi gelombang orde k. (Poin 4 Anda) |
| Batasan / Syarat Utama | Perlu "tebakan" fungsi gelombang yang fleksibel dan dapat diminimalkan. | Sangat bergantung pada Ĥ(0)! Kita harus bisa memecah Ĥ = Ĥ(0) + Ĥ′ DAN Ĥ′ harus "kecil". Jika gangguan terlalu besar, metodenya gagal. |
Seperti yang disebutkan di poin terakhir Anda (Poin 6), hampir semua kalkulasi molekuler modern (seperti metode Hartree-Fock) didasarkan pada Metode Variasi.
Mengapa? Karena untuk molekul, tolakan antar-elektron bukanlah "gangguan kecil". Itu adalah bagian fundamental dari sistem. Sulit untuk mendefinisikan Ĥ(0) yang sederhana namun realistis. Metode variasi jauh lebih fleksibel; kita bisa "membangun" fungsi gelombang dari nol (misalnya, sebagai kombinasi orbital atom) dan langsung meminimalkan energinya.
Jadi, di mana peran Metode Perturbasi?
Metode perturbasi menjadi sangat penting sebagai langkah selanjutnya. Banyak metode canggih (disebut post-Hartree-Fock) bekerja dengan cara ini:
Contoh paling terkenal dari pendekatan hibrida ini adalah metode MP2 (Møller-Plesset perturbation theory of the second order), yang sangat populer dalam kimia komputasi.
Jadi, kesimpulannya, kedua metode ini bukanlah rival yang saling menjatuhkan, melainkan alat fundamental yang seringkali digunakan bersamaan untuk mendapatkan gambaran paling akurat tentang dunia kuantum molekuler.
^ Ke Atas