Jika operator Hamilton H adalah operator penentu energi terendah E₁, maka untuk sistem yang fungsi gelombangnya Ψ, berlaku:
∫Ψ*HΨ dτ = E₁Untuk sembarang fungsi gelombang ternormalisasi φ dengan kondisi boundary sesuai dengan kondisi boundary, maka berlakulah:
∫φ*Hφ dτ ≥ E₁ (8-1)dengan Ψ adalah fungsi gelombang partikel yang sesungguhnya sedang φ adalah fungsi gelombang aproksimasi atau fungsi variasi.
Untuk membuktikan teorema tersebut, marilah kita perhatikan uraian berikut ini. Telah kita ketahui bahwa suatu fungsi dapat diekspansi menjadi suatu kombinasi linear yang suku-sukunya merupakan fungsi eigen. Untuk ini kita misalkan φ diekspansi ke dalam fungsi eigen ψₖ sehingga:
φ = Σₖ aₖ ψₖ (8-2)dan karena ψₖ adalah fungsi eigen maka padanya berlaku:
Hψₖ = Eₖ ψₖ (8-3)Substitusi (8-2) ke dalam ruas kiri (8-1) membuat ruas kiri ini menjadi:
∫φ*Hφ dτ = ∫Σₖ aₖ* ψₖ* H Σⱼ aⱼ ψⱼ dτDengan menggunakan persamaan eigen (8-3), maka ruas kiri (8-1) menjadi:
∫φ*Hφ dτ = ∫Σₖ aₖ* ψₖ* Σⱼ aⱼ Eⱼ ψⱼ dτkarena aⱼ; aₖ dan Eₖ adalah bukan fungsi, maka mereka dapat dikeluarkan dari tanda integral, sehingga:
∫φ*Hφ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ Eⱼ ∫ψₖ* ψⱼ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ Eⱼ δₖⱼPerlu diingat bahwa δₖⱼ berharga 1, jika k=j dan 0 jika k ≠ j sehingga ruas kiri (8-1) menjadi:
∫φ*Hφ dτ = Σₖ aₖ* aₖ Eₖ(kita juga boleh menyatakan: ∫φ*Hφ dτ = Σⱼ aⱼ* aⱼ Eⱼ)
karena aₖ* aₖ = |aₖ|² maka:
∫φ*Hφ dτ = Σₖ |aₖ|² Eₖ (8-4)Mengingat E₁ adalah tingkat energi terendah, maka Eₖ ≥ E₁ sehingga:
∫φ*Hφ dτ = Σₖ |aₖ|² Eₖ ≥ Σₖ |aₖ|² E₁atau:
∫φ*Hφ dτ ≥ E₁ Σₖ |aₖ|² (8-5)Karena φ adalah ternormalisasi maka ∫φ*φ dτ = 1, dan jika ekspansi (8-2) dimasukkan ke dalam kondisi normalisasi ini maka:
1 = ∫φ*φ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ ∫ψₖ* ψⱼ dτ = Σₖ Σⱼ aₖ* aⱼ δₖⱼ = Σₖ |aₖ|² (8-6)Jika Σₖ |aₖ|² = 1, dimasukkan pada (8-5) maka diperoleh:
∫φ*Ĥφ dτ ≥ E₁ (8-7)Dengan demikian (8-1) terbukti.
Fungsi φ yang tak ternormalisasi akan menjadi ternormalisasi, jika dikalikan dengan suatu bilangan yaitu A yang disebut faktor normalisasi, sehingga (8-1) menjadi:
A² ∫φ*Hφ dτ ≥ E₁ (8-8)Harga A dapat dihitung dari sifat fungsi ternormalisasi yaitu : A² ∫φ*φ dτ = 1 jadi (8-2) dapat ditulis:
(∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ) ≥ E₁ (8-9)Jika kita ambil ψ₁ sebagai fungsi gelombang keadaan ground yang sesungguhnya.
Hψ₁ = E₁ψ₁ (8-10)Fungsi gelombang keadaan ground menghasilkan integral variasional terendah untuk suatu sistem.
Turunkan fungsi variasi φ jika fungsi eksaknya merupakan fungsi partikel dalam kotak satu dimensi yang panjangnya l, dengan kondisi batas berharga 0 jika x=0 dan x=l. Aproksimasilah E₁!
Fungsi φ harus mempunyai sifat-sifat tersebut dalam soal. Bentuk paling sederhana untuk φ yang memenuhi sifat-sifat tersebut adalah:
φ = |x(l-x) untuk 0 ≤ x ≤ l (8-11)Karena tidak ada pernyataan bahwa φ ternormalisasi, maka kita tidak menggunakan (8-1) tetapi (8-9) dengan operator Hamilton H = -(ħ²/2m) |d²/dx²
Ingat energi potensial partikel dalam kotak satu dimensi adalah 0 untuk di dalam kotak.
Jika disubstitusikan pada (8-9) diperoleh:
E₁ = [5h² / (4π²l²m)] = 0,1266515 h²/ml²Dari persamaan (2.20), E₁ = 0,125 h²/ml²
(dimana E = n²h² / 8ml², n=1,2,3...)
Maka % Error energi = (0,1266515 - 0,125) / 0,125 x 100%
% Error = 1,32%Wolfram Alpha computational
Input interpretation:
-( ( (h/(2π))² / (2m) ) ∫₀ˡ (l x - x²) × (∂²(x(l-x)) / ∂x²) dx ) / ( ∫₀ˡ x²(l-x)² dx )
Result:
(5 ħ²) / (4 π² l² m)
Computation result:
-( ( (h/(2π))² / (2m) ) ∫₀ˡ (l x - x²) × (∂²(x(l-x)) / ∂x²) dx ) / ( ∫₀ˡ x²(l-x)² dx ) = (5 ħ²) / (4 π² l² m)
Fungsi variasi linear adalah kombinasi linear dari fungsi-fungsi f₁, f₂ ... fₙ yang saling independen:
φ = c₁f₁ + c₂f₂ + ... + cₙfₙ = Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ (8-14)dimana:
Syarat: Fungsi fⱼ harus memenuhi kondisi boundary sistem. Contoh φ adalah fungsi real, sehingga cⱼ dan fⱼ semuanya juga harus real.
Gunakan teorema variasi persamaan (8-9).
∫φ*φ dτ = ∫(Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ*) (Σₖ₌₁ⁿ cₖfₖ) dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ ∫fⱼ*fₖ dτ (8-15)Supaya praktis integral overlap ∫fⱼ*fₖ dτ ditulis Sⱼₖ sehingga:
∫φ*φ dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ (8-16)Perlu diingat bahwa untuk fungsi real berarti Sⱼₖ = ∫fⱼfₖ dτ.
Selanjutnya pembilang (8-9) menjadi:
∫φ*Ĥφ dτ = ∫(Σⱼ₌₁ⁿ cⱼfⱼ*) Ĥ (Σₖ₌₁ⁿ cₖfₖ) dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ ∫fⱼ*Ĥfₖ dτAgar praktis ∫fⱼ*Ĥfₖ dτ ditulis Hⱼₖ, sehingga:
∫φ*Ĥφ dτ = Σⱼ₌₁ⁿ Σₖ₌₁ⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-17)Jika ruas kiri persamaan (8-9) disebut W (jadi W ≥ E₁) maka:
W = (∫φ*Ĥφ dτ) / (∫φ*φ dτ) = (Σⱼ₌₁ⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ) / (Σⱼⁿ Σₖ cⱼ*cₖ Sⱼₖ) (8-18)atau
W Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-19)W = integral variasional, fungsi n buah variabel bebas c₁, c₂, .... cₙ, jadi W = W(c₁, c₂, ... cₙ)
Persamaan (8-19) didiferensialparsialkan terhadap cᵢ untuk mendapatkan n buah persamaan:
(∂W/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ + W (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (8-21)Suku pertama ruas kiri (8-21) hilang karena ∂W/∂cᵢ = 0 jadi:
W (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Sⱼₖ = (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ*cₖ Hⱼₖ (i = 1, 2, 3 ... n) (8-22)Karena cᵢ adalah variabel-variabel bebas satu terhadap yang lain maka: (∂cⱼ / ∂cᵢ) = 0 jika i ≠ j dan = 1 jika i = j, sehingga kalau begitu:
∂cⱼ / ∂cᵢ = δᵢⱼSelanjutnya marilah kita evaluasi (∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ (mengasumsikan c real):
(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ (∂(cⱼcₖ)/∂cᵢ) Sⱼₖ = Σⱼⁿ Σₖⁿ ( (∂cⱼ/∂cᵢ)cₖ Sⱼₖ + cⱼ(∂cₖ/∂cᵢ) Sⱼₖ ) = Σⱼⁿ Σₖⁿ (δᵢⱼ cₖ Sⱼₖ + cⱼ δᵢₖ Sⱼₖ) (8-23)Jika suku pertama ruas kanan (8-23) kita kembangkan j-nya mulai 1 sampai n (k tidak dikembangkan) maka ketika j=i harga δᵢⱼ=1 sedang untuk harga j yang lain δᵢⱼ=0 sehingga:
Σⱼⁿ Σₖⁿ cₖ Sⱼₖ δᵢⱼ = Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ (8-24)Analog dengan itu jika suku kedua ruas kanan (8-23) kita kembangkan k-nya (bukan j-nya) mulai 1 sampai n maka ketika k=i harga δᵢₖ=1, sehingga:
Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼ Sⱼₖ δᵢₖ = Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ (8-25)Dengan memasukkan (8-24) dan (8-25) ke dalam (8-23) maka (8-23) menjadi:
(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ + Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ (8-26)Pada hakekatnya Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = Σⱼⁿ cⱼ Sⱼᵢ karena baik j maupun k mulai 1 sampai dengan n. Dengan demikian maka (8-26) dapat ditulis:
(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Sⱼₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ (8-27)Jika Sⱼₖ diganti Hⱼₖ maka:
(∂/∂cᵢ) Σⱼⁿ Σₖⁿ cⱼcₖ Hⱼₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Hᵢₖ (8-28)Substitusi (8-27) dan (8-28) ke dalam (8-22) menghasilkan:
2W Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = 2 Σₖⁿ cₖ Hᵢₖatau
Σₖⁿ cₖ Hᵢₖ - W Σₖⁿ cₖ Sᵢₖ = 0atau
Σₖⁿ (Hᵢₖ - Sᵢₖ W) cₖ = 0 (8-29)Persamaan (8-29) tersebut adalah himpunan yang terdiri atas n buah persamaan simultan, linear, homogen dinyatakan dalam n buah variabel tak diketahui yaitu c₁, c₂ ... cₙ.
Untuk n=2, persamaan (8-29) adalah:
(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ = 0Secara umum, untuk n fungsi, persamaan (8-29) menjadi:
(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ + ... + (H₁ₙ - S₁ₙW)cₙ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ + ... + (H₂ₙ - S₂ₙW)cₙ = 0 (8-30) ... (Hₙ₁ - Sₙ₁W)c₁ + (Hₙ₂ - Sₙ₂W)c₂ + ... + (Hₙₙ - SₙₙW)cₙ = 0Penyelesaian (8-30) harus non trivial, artinya c₁ sampai dengan cₙ ≠ 0, untuk itu determinan koefisiennya harus nol, jadi:
det(Hᵢⱼ - SᵢⱼW) = 0 (8-31)atau
| (H₁₁-S₁₁W) (H₁₂-S₁₂W) ... (H₁ₙ-S₁ₙW) | | (H₂₁-S₂₁W) (H₂₂-S₂₂W) ... (H₂ₙ-S₂ₙW) | | ... ... ... ... | | (Hₙ₁-Sₙ₁W) (Hₙ₂-Sₙ₂W) ... (Hₙₙ-SₙₙW) | = 0Untuk n=2, maka (8-31) menjadi:
| (H₁₁ - S₁₁W) (H₁₂ - S₁₂W) | = 0 (8-32) | (H₂₁ - S₂₁W) (H₂₂ - S₂₂W) |Penyelesaian determinan (8-31) akan menghasilkan sebuah persamaan aljabar berderajat n dalam W yang tidak diketahui. Persamaan itu mempunyai n akar yaitu W₁ sampai Wₙ yang jika ditata mulai yang nilainya terendah, urutannya adalah:
W₁ ≤ W₂ ≤ W₃ ≤ ... ≤ Wₙ (8-33)Jika kita menandai state sistem sesuai dengan urutan kenaikan energinya, maka kita peroleh:
E₁ ≤ E₂ ≤ ... ≤ Eₙ ≤ Eₙ₊₁ ≤ ... (8-34)Kita tahu dari (8-9) bahwa:
E₁ ≤ (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ)Karena (∫φ*Hφ dτ) / (∫φ*φ dτ) disebut W, pada W terdiri atas W₁, W₂ dst, maka kita dapat menuliskan:
E₁ ≤ W₁; E₂ ≤ W₂; ... Eₙ ≤ Wₙ (8-35)E₁ = energi terendah sesungguhnya dari state (1), E₂ = energi terendah sesungguhnya dari state (2) dan seterusnya.
Setelah harga c diperoleh maka kita masukkan ke dalam fungsi aproksimasi:
φ₁ = Σₖ₌₁ⁿ cₖ⁽¹⁾fₖ (8-36)Penggunaan W yang lebih tinggi (W₂, W₃ dst) akan menghasilkan aproksimasi fungsi gelombang tereksitasinya yaitu φ₂, φ₃ dan seterusnya.
Gunakan fungsi x(a-x) untuk 0 ≤ x ≤ a, untuk menyusun fungsi variasi linear φ untuk partikel dalam box satu dimensi. Tentukan pula energi dan fungsi gelombang state pertama sampai state ke empat.
Karena f₁ dan f₂ genap, sedangkan f₃ dan f₄ ganjil, maka:
S₁₃ = S₃₁ = 0; S₁₄ = S₄₁ = 0; S₂₃ = S₃₂ = 0; S₂₄ = S₄₂ = 0 (8-38) H₁₃ = H₃₁ = 0; H₁₄ = H₄₁ = 0; H₂₃ = H₃₂ = 0; H₂₄ = H₄₂ = 0 (8-39)Determinan 4x4: det(Hᵢⱼ - SᵢⱼW) = 0. Karena integral-integral H dan S yang ganjil-genap bernilai nol, determinan ini terblok-diagonal:
| (H₁₁-S₁₁W) (H₁₂-S₁₂W) 0 0 | | (H₂₁-S₂₁W) (H₂₂-S₂₂W) 0 0 | | 0 0 (H₃₃-S₃₃W) (H₃₄-S₃₄W) | | 0 0 (H₄₃-S₄₃W) (H₄₄-S₄₄W) | = 0 (8-40)Ini berarti determinan terpecah menjadi dua persamaan determinan 2x2 yang independen:
| (H₁₁ - S₁₁W) (H₁₂ - S₁₂W) | = 0 (8-41) | (H₂₁ - S₂₁W) (H₂₂ - S₂₂W) |dan
| (H₃₃ - S₃₃W) (H₃₄ - S₃₄W) | = 0 (8-42) | (H₄₃ - S₄₃W) (H₄₄ - S₄₄W) |Untuk mengevaluasi W dari (8-41) dan (8-42) kita tentukan dulu masing-masing harga H dan S:
H₁₁ = <f₁|Ĥ|f₁> = ∫₀ᵃ x(a-x) [-ħ²/2m] [d²/dx²(x(a-x))] dx = ħ²a³/6m S₁₁ = <f₁|f₁> = ∫₀ᵃ [x(a-x)]² dx = a⁵/30Analog dengan itu kita peroleh:
H₁₂ = H₂₁ = ħ²a⁵/30m H₂₂ = ħ²a⁷/105m H₃₃ = ħ²a⁵/40m H₃₄ = H₄₃ = ħ²a⁷/280m S₁₂ = S₂₁ = a⁷/140 S₂₂ = a⁹/630 S₃₃ = a⁷/840 S₄₄ = a¹¹/27720 S₃₄ = S₄₃ = a⁹/5040Selanjutnya (8-41) menjadi:
| (ħ²a³/6m - a⁵/30 W) (ħ²a⁵/30m - a⁷/140 W) | = 0 (8-43) | (ħ²a⁵/30m - a⁷/140 W) (ħ²a⁷/105m - a⁹/630 W) |Setelah penyederhanaan aljabar (mengalikan baris, dll.) menjadi:
| (70ħ² - 14ma²W) (14ħ²a² - 3ma⁴W) | = 0 (8-44) | (42ħ² - 9ma²W) (12ħ²a² - 2ma⁴W) |Jadi
m²a⁴W² - 56ma²ħ²W + 252h² = 0sehingga (8-41) menghasilkan 2 harga W yaitu:
W = 0,1250018 ħ²/ma² dan W = 1,293495 h²/ma²Dengan cara yang sama, (8-42) juga menghasilkan 2 macam harga W yaitu:
W = 0,5002930 ħ²/ma² dan W = 2,5393425 ħ²/ma²Jika memperhatikan urutan harga W yang diperoleh, maka (8-41) menghasilkan W₁ dan W₃ jadi (8-41) pasti berkorelasi dengan fungsi gelombang variasi φ₁ dan φ₃, sementara itu juga dapat kita lihat bahwa (8-41) berhubungan dengan f₁ dan f₂, jadi φ₁ dan φ₃ pasti merupakan kombinasi linear dari f₁ dan f₂ dan kita boleh menyatakannya dengan:
φ₁ = c₁⁽¹⁾f₁ + c₂⁽¹⁾f₂ φ₃ = c₁⁽³⁾f₁ + c₂⁽³⁾f₂ (8-45)Sementara itu, harga W yang diperoleh dari (8-42) adalah urutan ke 2 dan ke empat jadi (8-42) menghasilkan W₂ dan W₄ yang pasti berkorelasi dengan fungsi gelombang variasi φ₂ dan φ₄. Tampak pula bahwa (8-42) berhubungan dengan f₃ dan f₄, jadi φ₂ dan φ₄ pasti merupakan kombinasi linear dari f₃ dan f₄ dan kita boleh menyatakannya dengan:
φ₂ = c₃⁽²⁾f₃ + c₄⁽²⁾f₄ φ₄ = c₃⁽⁴⁾f₃ + c₄⁽⁴⁾f₄ (8-46)Selanjutnya kita akan mengaproksimasi harga koefisien c dalam rangka menentukan fungsi variasi. Persamaan sekular (8-41) yang berkorelasi dengan f₁ dan f₂ berasal dari kombinasi persamaan:
(H₁₁ - S₁₁W)c₁ + (H₁₂ - S₁₂W)c₂ = 0 (H₂₁ - S₂₁W)c₁ + (H₂₂ - S₂₂W)c₂ = 0 (8-47)Karena (8-47) berasal dari (8-41) maka harga W yang berhubungan adalah W₁ dan W₃.
Untuk W = W₁ maka (8-47) menjadi:
(H₁₁ - S₁₁W₁)c₁⁽¹⁾ + (H₁₂ - S₁₂W₁)c₂⁽¹⁾ = 0 (H₂₁ - S₂₁W₁)c₁⁽¹⁾ + (H₂₂ - S₂₂W₁)c₂⁽¹⁾ = 0 (8-48)Untuk W = W₃ maka (8-47) menjadi:
(H₁₁ - S₁₁W₃)c₁⁽³⁾ + (H₁₂ - S₁₂W₃)c₂⁽³⁾ = 0 (H₂₁ - S₂₁W₃)c₁⁽³⁾ + (H₂₂ - S₂₂W₃)c₂⁽³⁾ = 0 (8-49)Jika semua harga H, S dan W yang dibutuhkan dimasukkan maka c₁⁽¹⁾, c₂⁽¹⁾ dapat diperoleh dari (8-48) dan dari (8-49) kita dapat memperoleh harga c₁⁽³⁾ dan c₂⁽³⁾ sehingga:
φ₁ = c₁⁽¹⁾f₁ + c₂⁽¹⁾f₂ = ... (dapat ditentukan) φ₃ = c₁⁽³⁾f₁ + c₂⁽³⁾f₂ = ... (dapat ditentukan)Harga c untuk φ₂ dan φ₄ diperoleh dengan cara yang sama tetapi bertolak dari (8-42).
Persamaan sekular (8-42) yang berkorelasi dengan f₃ dan f₄ berasal dari kombinasi persamaan:
(H₃₃ - S₃₃W)c₃ + (H₃₄ - S₃₄W)c₄ = 0 (H₄₃ - S₄₃W)c₃ + (H₄₄ - S₄₄W)c₄ = 0 (8-50)Karena (8-50) berasal dari (8-42) maka harga W yang berhubungan adalah W₂ dan W₄.
Untuk W = W₂ maka (8-50) menjadi:
(H₃₃ - S₃₃W₂)c₃⁽²⁾ + (H₃₄ - S₃₄W₂)c₄⁽²⁾ = 0 (H₄₃ - S₄₃W₂)c₃⁽²⁾ + (H₄₄ - S₄₄W₂)c₄⁽²⁾ = 0 (8-51)Untuk W = W₄ maka (8-50) menjadi:
(H₃₃ - S₃₃W₄)c₃⁽⁴⁾ + (H₃₄ - S₃₄W₄)c₄⁽⁴⁾ = 0 (H₄₃ - S₄₃W₄)c₃⁽⁴⁾ + (H₄₄ - S₄₄W₄)c₄⁽⁴⁾ = 0 (8-52)Jika semua harga H, S dan W yang dibutuhkan dimasukkan maka c₃⁽²⁾, c₄⁽²⁾ dapat diperoleh dari (8-51) dan dari (8-52) kita dapat memperoleh harga c₃⁽⁴⁾ dan c₄⁽⁴⁾ sehingga:
φ₂ = c₃⁽²⁾f₃ + c₄⁽²⁾f₄ = ... (dapat ditentukan) φ₄ = c₃⁽⁴⁾f₃ + c₄⁽⁴⁾f₄ = ... (dapat ditentukan)