1
KASMUI
SEKOLAH TABLIGH KMM PDM KOTA SEMARANG
2025
2
Dakwah Digital Berkemajuan
Panduan Mubaligh Muhammadiyah di Era Society 5.0
Materi Sekolah Tabligh KMM PDM Kota Semarang 2025
Penyusun: Kasmui
Website: https://kasmui.cloud/
3
Kata Pengantar
Bismillāhirramānirraīm
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menurunkan wahyu pertama
dengan perintah Iqra’sebuah seruan abadi untuk membaca, menelaah, dan
memahami zaman. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan
utama kita, Nabi Muhammad SAW, yang risalahnya relevan melintasi setiap medium dan
peradaban.
Kita tengah hidup di sebuah era yang belum pernah terbayangkan sebelumnya: era
disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI). Mimbar dakwah yang dahulu terikat oleh
ruang dan waktu kini telah bertransformasi menjadi piksel-piksel gawai yang
menjangkau jutaan umat dalam hitungan detik. Pergeseran fundamental ini, dari mimbar
fisik ke mimbar digital, menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang bersifat
eksistensial bagi para mubaligh. Di satu sisi, terbuka ladang dakwah yang tak terbatas.
Di sisi lain, kita dihadapkan pada banjir informasi, hoaks, pendangkalan makna, hingga
pergeseran otoritas keagamaan.
Menjawab tantangan inilah, buku "Panduan Dakwah Digital Muhammadiyah Era AI"
hadir di hadapan para pembaca. Buku ini bukanlah sekadar manual teknis, melainkan
sebuah panduan komprehensif yang dirancang untuk membekali para mubaligh
Muhammadiyah dengan fondasi ideologis yang kokoh, keterampilan praktis yang
relevan, dan kerangka etis yang kuat untuk menavigasi medan dakwah di era Society 5.0.
Perjalanan dalam buku ini dimulai dengan meletakkan fondasi konseptual dan ideologis,
menegaskan bahwa dakwah digital bukanlah sekadar aktivitas teknis, melainkan
manifestasi dari ruh gerakan pencerahan Muhammadiyah yang berlandaskan pada
paradigma Islam Berkemajuan dan Manhaj Tarjih. Pembaca kemudian akan dibimbing
untuk menguasai literasi digital sebagai "sistem imun" dalam menghadapi patologi sosial
seperti hoaks dan ujaran kebencian, seraya mengedepankan strategi komunikasi
wasathiyyah yang moderat dan menyejukkan.
Memasuki bagian praktis, buku ini mengurai secara detail cara mentransformasikan
keterampilan dari mimbar konvensional ke layar digital. Mulai dari teknik penulisan
naskah khutbah yang terstruktur sesuai tuntunan Tarjih , hingga metode riset dan
verifikasi dalil menggunakan perangkat modern seperti Maktabah Syamilah dan situs
verifikasi hadis. Tak berhenti di situ, panduan ini merambah ke dunia visual dengan
tutorial pembuatan flyer, infografis, hingga video dakwah pendek untuk platform seperti
TikTok dan Reels yang digandrungi generasi muda.
Puncak dari pembahasan buku ini adalah eksplorasi pemanfaatan Kecerdasan Buatan
(AI) sebagai asisten riset dan penulisan. Disajikan panduan etis dan teknis yang
4
mendalam mengenai penggunaan perangkat canggih seperti NotebookLM dan Gemini
untuk menyusun naskah dakwah yang otentik, kredibel, dan dapat
dipertanggungjawabkan. Buku ini juga diperkaya dengan berbagai artikel pendalaman
yang mengupas fenomena pergeseran otoritas, spiritualitas, dan komersialisasi Islam di
ruang digital, memberikan lensa kritis bagi para pegiat dakwah.
Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa di tengah deru
inovasi teknologi, pesan dakwah Muhammadiyah tetap mencerahkan, otentik, dan
relevan. Harapan kami, panduan ini dapat menjadi bekal berharga bagi para mubaligh,
kader, dan seluruh pegiat dakwah Persyarikatan untuk menjadi agen pencerahan yang
andal di mimbar-mimbar digital, menyebarkan nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai
rahmatan lil ‘alamin.
Selamat membaca dan berkarya.
Nashrun min Allāh wa fatun qarīb.
Kasmui
5
Daftar Isi
Kata Pengantar ................................................................................................................................................... 3
Bab I: Fondasi Konseptual dan Ideologis Dakwah Digital ............................................................... 10
1.1 Konteks Dinamika Dakwah Era Digital ....................................................................................................... 10
1.2 Definisi, Hukum, dan Karakteristik Dakwah Digital .............................................................................. 11
1.3 Paradigma Dakwah Muhammadiyah: Islam Berkemajuan (Tajdid) ............................................... 13
1.4 Rujukan Materi Dakwah: Manhaj Tarjih dan Paham Agama dalam Muhammadiyah.............. 14
1.5 Standar Kredibilitas Sumber dan Kutipan Materi Dakwah ................................................................. 16
Bab II: Literasi Digital dan Strategi Komunikasi Wasathiyyah ..................................................... 18
2.1 Kompetensi dan Literasi Digital Muballigh ............................................................................................... 18
2.2 Tantangan Patologi Sosial Digital: Hoaks, Ujaran Kebencian, dan Radikalisme ........................ 19
2.3 Pendekatan Dakwah Virtual: Literasi, Kolaborasi, dan Moderasi (Wasathiyyah) .................... 21
Bab III: Produksi Konten Tekstual: Dari Mimbar ke Layar Digital .............................................. 22
3.1 Teknik Penulisan Naskah Khutbah dan Ceramah ................................................................................... 22
3.2 Struktur dan Rukun Khutbah (Perspektif Tarjih Muhammadiyah) ................................................ 23
3.3 Metode Pengumpulan Data dan Dalil ........................................................................................................... 24
3.4 Penulisan Artikel Digital (Dakwah bil Qalam) .......................................................................................... 26
Bab IV: Praktik Produksi Konten Visual dan Pemasaran Media Sosial ...................................... 27
4.1 Produksi Produk Visual (Flyer dan Infografis) ........................................................................................ 27
4.2 Produksi Video Dakwah Pendek (TikTok & Reels) ................................................................................ 29
4.3 Pemanfaatan dan Strategi Media Sosial (Multiplatform)..................................................................... 30
4.4 Optimalisasi YouTube dan Live Streaming ................................................................................................ 33
Bab V: Inovasi, Kecerdasan Buatan, dan Dakwah Inklusif .............................................................. 34
5.1 Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Dakwah ......................................................................... 34
5.2 Pengembangan Dakwah Digital Spesifik dan Inklusif ........................................................................... 36
5.3 Manajemen Dakwah Digital dan Cyber Public Relations ..................................................................... 39
Referensi ........................................................................................................................................................... 41
Works cited..................................................................................................................................................................... 41
Muslim Modern: Hijrah dari Gua ke Laboratorium Super Komputer ......................................... 59
Mimbar Digital: Bagaimana Media Sosial Membentuk Ulang Otoritas, Spiritualitas, dan
Komersialisasi Islam di Indonesia ........................................................................................................... 64
Pendahuluan: Dari Mimbar Masjid ke Piksel Gawai, Era Baru Dakwah Indonesia .......................... 64
Bab 1: Anatomi Dakwah Digital: Platform, Audiens, dan Konten Viral ................................................. 65
Ekosistem Multi-Platform yang Saling Menguatkan ................................................................................. 65
6
Ummah Digital: Kebutuhan Spiritual Generasi Milenial dan Z .............................................................. 66
Membedah Anatomi Konten Viral ...................................................................................................................... 67
Bab 2: Otoritas Baru: Profil Pendakwah Digital Paling Berpengaruh di Indonesia ......................... 70
Para Raksasa: Daya Tarik Massa dan Operasional Profesional ........................................................... 70
Renaisans Tradisionalis Daring: Otentisitas di Era Digital ....................................................................... 71
Sang Pembisik Generasi Hijrah: Dakwah bagi Kaum Muda Urban .................................................... 71
Humor Populis: Dakwah yang Menghibur dan Merakyat ....................................................................... 72
Adaptasi Institusional: Strategi Digital Nahdlatul Ulama ......................................................................... 72
Bab 3: Mediatisasi Iman: Kerangka Sosiologis dan Teoretis ..................................................................... 75
Mediatisasi: Ketika Logika Media Membentuk Agama ............................................................................ 75
Hipermediasi: Kaburnya Batas Dunia Daring dan Luring ........................................................................ 76
Populisme Agama dan Tantangan terhadap Otoritas Tradisional..................................................... 76
Bab 4: Ekonomi Politik Kesalehan: Komersialisasi, Perdagangan, dan Kontestasi .......................... 77
Komodifikasi Agama: Ketika Dakwah Menjadi Produk ............................................................................ 78
"Pendangkalan Makna": Konsekuensi dari Logika Pasar ......................................................................... 78
Kebangkitan Influencer Religius dan Industri Halal ................................................................................... 79
Dakwah dalam Arena Kontestasi Politik ......................................................................................................... 79
Bab 5: Menavigasi Medan Ranjau Digital: Hoaks, Ujaran Kebencian, dan Krisis Kredibilitas ..... 80
Proliferasi Hoaks Berbasis Agama ..................................................................................................................... 80
Ujaran Kebencian dan Polarisasi ......................................................................................................................... 81
Krisis Kredibilitas dan Kebutuhan Mendesak akan Literasi Digital .................................................... 81
Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis: Masa Depan Iman di Indonesia yang Terhubung
Jaringan ............................................................................................................................................................................ 83
Works cited..................................................................................................................................................................... 85
Pengembangan Dakwah Era Digital ........................................................................................................ 89
Panduan Komprehensif dan Etis Penyusunan Naskah Dakwah Menggunakan Kecerdasan
Buatan ................................................................................................................................................................ 96
Pendahuluan: Fajar Baru Dakwah di Era Kecerdasan Buatan ...................................................... 96
Bagian I: Landasan Fundamental Menavigasi AI dengan Kerangka Etika Islam ................. 97
1.1 Perspektif Islam tentang Inovasi dan Teknologi ..................................................................................... 97
1.2 AI sebagai Alat Bantu Dakwah: Peluang dan Tinjauan Fikih .............................................................. 99
1.3 Prinsip Amanah Intelektual: Peran Manusia sebagai Verifikator Utama ................................... 100
Bagian II: Perangkat Da'i Modern Tutorial Lengkap NotebookLM & Gemini .................. 101
7
2.1 Fase 1: Riset Terpandu dengan NotebookLM Membangun Fondasi Pengetahuan .... 101
2.2 Fase 2: Elaborasi dan Komposisi dengan Gemini Merangkai Naskah Komprehensif 104
3. Iterasi dan Penyempurnaan ........................................................................................................ 106
Bagian III: Menjaga Otentisitas dan Integritas Proses Verifikasi Kritis ............................ 106
3.1 Urgensi Sanad dalam Tradisi Ilmu Islam ................................................................................................ 107
3.2 Panduan Praktis Takhrij dan Verifikasi Dalil ......................................................................................... 107
Tabel 1: Alur Kerja Verifikasi Naskah Dakwah Berbasis AI (Checklist Wajib) ............................. 110
Bagian IV: Strategi Tingkat Lanjut dan Wawasan Masa Depan ............................................... 112
4.1 Seni Prompt Engineering untuk Konten Dakwah ............................................................................. 112
4.2 Studi Kasus: Dari Ide Menjadi Mimbar ................................................................................................... 113
4.3 Masa Depan AI dalam Dakwah: Proyeksi dan Refleksi .................................................................. 115
Kesimpulan: Teknologi sebagai Pelayan Iman, Bukan Tuan ..................................................... 116
Lampiran: Perangkat Esensial untuk Da'i Digital ........................................................................... 117
A. Direktori Situs & Aplikasi Verifikasi ............................................................................................................ 117
B. Template "Master Prompt" Khutbah Jumat (Dapat Diadaptasi) ................................................ 118
C. Glosarium .............................................................................................................................................................. 119
AI-Digital Library untuk Riset dan Dakwah Ke-Islaman................................................................ 125
Dakwah Digital Guncang Mimbar: Tren Konten dan Dominasi Pendakwah di Indonesia 130
Eksplorasi Materi Al-Islam Menggunakan Generative Artificial Intelligence (GenAI) ....... 134
Pengantar ..................................................................................................................................................................... 135
Memahami Peran Prompt dalam GenAI .......................................................................................................... 136
Penerapan GenAI dalam Eksplorasi Materi Al-Islam: ................................................................................ 138
Contoh Prompt yang Baik, Benar, dan Tepat untuk Eksplorasi Tema-tema dalam Kajian Islam:
.......................................................................................................................................................................................... 141
Penutup: ........................................................................................................................................................................ 145
Menavigasi Eksplorasi Pengetahuan Islam dengan Kecerdasan Buatan Generatif ............. 146
Abstrak .......................................................................................................................................................................... 146
Bagian I: Cakrawala Baru Pengetahuan Islam ............................................................................. 146
Seksi 1: Pendahuluan - Dari Manuskrip ke Pembelajaran Mesin.................................................... 146
Seksi 2: Janji AI dalam Pendidikan dan Keilmuan Islam ...................................................................... 147
Bagian II: Aplikasi AI dalam Ilmu-Ilmu Inti Islam ......................................................................... 149
Seksi 3: Menafsirkan Teks Suci: AI dalam Studi Al-Qur'an dan Hadis......................................... 149
8
Seksi 4: Panduan Praktis GenAI untuk Peneliti Muslim Modern ..................................................... 151
Bagian III: Dampak Lebih Luas pada Praktik dan Otoritas Islam ............................................... 154
Seksi 5: Mimbar Algoritmik: Kecerdasan Buatan Generatif dan Masa Depan Dakwah ............... 154
Seksi 6: AI, Ijtihad, dan Pertanyaan tentang Fatwa Digital ...................................................................... 155
Bagian IV: Landasan Etis dan Kerangka Kerja untuk Masa Depan ..................................... 158
Seksi 7: Kompas Etis: Maqasid al-Shari'ah di Era AI ............................................................................. 158
Seksi 8: Kesimpulan - Merintis Jalan ke Depan: Rekomendasi untuk Inovasi yang Bertanggung
Jawab .............................................................................................................................................................................. 161
Menyusun Naskah Khutbah Jumat / Artikel Ceramah dengan Bantuan AI ............................. 167
Pengantar ..................................................................................................................................................................... 167
Prompt AI untuk Menyusun Buku dengan Mudah dan Cepat ...................................................... 174
Dakwah Digital Guncang Mimbar: Tren Konten dan Dominasi Pendakwah di Indonesia 179
Demografi Audiens dan Preferensi Konten .................................................................................................... 179
Metodologi Skor Viralitas .................................................................................................................................. 180
Analisis Tematik Konten Dakwah Viral ........................................................................................................... 180
Profil Pendakwah Digital Paling Berpengaruh ............................................................................................. 181
Pendakwah Generasi Muda: ................................................................................................................................. 182
Analisis Platform dan Implikasi Strategis ....................................................................................................... 182
7 Skill Akselerasi Dakwah Digital .......................................................................................................... 184
Pendahuluan: Mimbar Baru di Ruang Digital - Menavigasi Dakwah di Lanskap Indonesia
Kontemporer .............................................................................................................................................................. 184
Bagian I: Memahami Medan Dakwah Digital ..................................................................................... 185
Bab 1: Pergeseran Otoritas Keagamaan di Era Media Sosial .................................................................. 185
Bab 2: Profil Audiens Digital Indonesia: Menyelami Psikografi Gen Z dan Milenial ..................... 186
Bab 3: Imam Algoritmik: Tantangan dan Peluang AI dalam Wacana Keagamaan ......................... 189
Bagian II: 7 Skill Akselerasi: Panduan Strategis untuk Dai Digital ............................................ 191
Bab 4: Skill 1 - Fondasi Adaptif: Menginternalisasi Growth Mindset ................................................ 191
Bab 5: Skill 2 - Visi Strategis: Merancang Model Dakwah dengan Da'wah Business Model
Canvas .......................................................................................................................................................................... 193
Bab 6: Skill 3 - Membangun Otoritas: Seni Menjadi Digital Thought Leader ................................ 195
Bab 7: Skill 4 - Penguasaan Konten: Meracik Pesan yang Resonan dan Bertanggung Jawab ... 196
Bab 8: Skill 5 - Arsitektur Komunitas: Membangun Ummah Digital yang Terlibat ...................... 199
Bab 9: Skill 6 - Dakwah Berbasis Data: Memanfaatkan Analitik untuk Mengukur Dampak ...... 201
Bab 10: Skill 7 - Navigasi Etis: Menjaga Adab dan Integritas di Ruang Publik Digital ................ 202
9
Kesimpulan: Masa Depan Dakwah - Panggilan untuk Keterlibatan Digital yang Strategis,
Etis, dan Empatis .......................................................................................................................................... 204
Review GPT Tools: Memperkenalkan Asisten Al-Quran dan Hadis Islam (Versi Awal) ..... 209
Apa Itu GPT Tools (My GPT)?  ....................................................................................................................... 209
Siapa di Balik Asisten Al-Quran dan Hadis Islam? 󰆵󰆶󰆷󰆸󰆹󰆺 ............................................................................... 209
Batasan Penting: Apa yang TIDAK Bisa Dilakukan AI Ini 󱛻󱛼󱛽 ................................................................. 210
Kemampuan Saat Ini: Apa yang BISA Anda Lakukan? 󰁒󰁓󰁔󰁕 ....................................................................... 210
Filosofi Dasar: Berakar pada Tauhid  ........................................................................................................... 211
Ingin Tahu Lebih Lanjut? 󱵒󱵓󱵔󱵕󱵖󱵗󱵘󱵙󱵚 ............................................................................................................................... 212
Resume Eksekutif Laporan Penelitian Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Dakwah
Islam Berkemajuan ..................................................................................................................................... 213
Latar Belakang Singkat ........................................................................................................................................... 213
Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 213
Metode Penelitian ..................................................................................................................................................... 214
Hasil Penelitian dan Diskusi ................................................................................................................................. 214
Kesimpulan dan Rekomendasi ............................................................................................................................ 215
Riset Eksklusif Website Majelistablighpwmjateng.com ................................................................ 217
Analisis Konten & Keterkaitan Views ............................................................................................................... 217
Pengantar ..................................................................................................................................................................... 217
Analisis Kuantitatif: Distribusi dan Performa Konten ............................................................................... 218
Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis ......................................................................................................... 220
Tindak Lanjut Strategis untuk Pengembangan Konten Dakwah .......................................................... 220
Pengembangan Format Multimedia: ................................................................................................................ 221
Karena Saya Membaca maka Saya Menulis, AI Hanya Membantu Mempercepat ............... 223
Membaca adalah Napas, Menulis adalah Gema: Siklus Vital Sang Penjaga Kata ............................ 223
Membaca sebagai Fondasi Intelektual: Menjelajahi Samudra Pengetahuan ................................... 224
Menulis sebagai Gema Pengetahuan: Mentransformasi Ide Menjadi Realitas Kata...................... 225
Dampak Multifaset dari Siklus Membaca-Menulis ...................................................................................... 226
Peran AI: Mempercepat Bukan Mengganti ..................................................................................................... 227
Semangat Iqra: Membaca dan Menulis ............................................................................................................ 228
Bab Penutup: Dari Mimbar Digital ke Gerakan Pencerahan ........................................................ 231
10
Dakwah Digital Berkemajuan
Bab I: Fondasi Konseptual dan Ideologis Dakwah
Digital
Bab ini meletakkan dasar filosofis, teologis, dan ideologis bagi seorang mubaligh
Muhammadiyah untuk menavigasi lanskap digital. Pembahasan ini tidak hanya
bertujuan untuk mendefinisikan ulang dakwah dalam konteks era baru, tetapi juga
secara kokoh mengaitkannya dengan identitas, paradigma, dan metodologi pemikiran
Persyarikatan Muhammadiyah. Dengan memahami fondasi ini, dakwah digital tidak lagi
dipandang sebagai sekadar aktivitas teknis, melainkan sebagai manifestasi dari
gerakan pencerahan yang menjadi ruh Muhammadiyah.
1.1 Konteks Dinamika Dakwah Era Digital
Dunia kontemporer ditandai oleh perubahan fundamental yang didorong oleh
kemajuan teknologi, melahirkan era yang dikenal sebagai era disrupsi, era milenial, dan
Society 5.0. Era ini, yang diusung sebagai "Masyarakat Cerdas" (Society of
Intelligence), secara fundamental mengintegrasikan dunia nyata (physical space) dan
dunia maya (cyberspace).
1
Pergeseran ini bukan sekadar perubahan alat, melainkan
transformasi mendalam dalam struktur sosial dan cara manusia berinteraksi,
berkomunikasi, dan mencari makna. Perilaku sosial masyarakat, khususnya generasi
muda yang tumbuh sebagai digital native, semakin bergeser dari interaksi fisik ke
interaksi di ranah maya, menjadikan media sosial sebagai ruang utama untuk sosialisasi
dan pencarian informasi, termasuk informasi keagamaan.
1
Era disrupsi ini memiliki beberapa karakteristik utama: perubahan terjadi dengan
sangat cepat, masa depan menjadi tidak pasti, banyak faktor tak terlihat yang
memengaruhi pengambilan keputusan, dan ketidakjelasan hubungan sebab-akibat
antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.
1
Society 5.0 hadir sebagai jawaban atas
tantangan Revolusi Industri 4.0, dengan memanfaatkan berbagai inovasi seperti
11
Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan Big Data untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia.
4
Konteks ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang sangat besar bagi dakwah
Islam.
1
Bagi Persyarikatan Muhammadiyah, tantangan ini bersifat multifaset, meliputi
aspek sosial-politik seperti krisis moral, infiltrasi nilai-nilai melalui globalisasi, tuntutan
adaptasi terhadap modernisasi, kompleksitas masyarakat yang plural, dan ancaman
radikalisasi yang semakin menguat di ruang digital.
5
Semua tantangan ini dipercepat
dan diperkuat oleh platform digital, yang telah menjadi arena utama pertarungan narasi
global. Globalisasi menyebarkan nilai-nilai asing melalui media sosial, sementara
kelompok radikal memanfaatkannya untuk propaganda dan rekrutmen.
5
Polarisasi opini
dan terbentuknya "ruang gema" (echo chambers) di dunia maya semakin memperumit
tantangan pluralitas.
8
Oleh karena itu, rekonseptualisasi kaderisasi mubaligh menjadi sebuah keniscayaan.
Dakwah tidak bisa lagi dipahami sebatas aktivitas penyampaian pesan satu arah. Ia
harus bertransformasi menjadi sebuah proses dialogis, personal, dan terintegrasi
dengan solusi kehidupan nyata yang ditawarkan oleh teknologi. Strategi dakwah digital
Muhammadiyah harus secara sadar dirancang sebagai strategi kontra-narasi terhadap
tantangan-tantangan tersebut, dengan tujuan menghadirkan narasi Islam yang
mencerahkan di tengah hiruk pikuk informasi digital.
1.2 Definisi, Hukum, dan Karakteristik Dakwah Digital
Secara fundamental, dakwah () berasal dari kata da'a () yang berarti menyeru,
mengajak, atau memanggil.
9
Dalam terminologi Islam, dakwah adalah upaya sistematis
untuk menyampaikan dan menjelaskan ajaran Islam kepada individu atau kelompok,
baik melalui perkataan, tulisan, maupun perbuatan nyata (dakwah bil hal).
10
Kewajiban
berdakwah melekat pada setiap Muslim, sebagai tugas kolektif untuk menyeru kepada
kebaikan (al-khair), memerintahkan yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar.
12
Landasan teologis utama kewajiban ini termaktub dalam firman Allah SWT:















12



Terjemahan: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.
Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran : 104).
Ayat ini menjadi dasar bagi gerakan dakwah yang terorganisir.
14
Menurut Tafsir Ibnu
Katsir, yang dimaksud dengan "kebaikan" (al-khair) adalah mengikuti Al-Qur'an dan
Sunnah Nabi.
19
Dalam konteks Muhammadiyah, "segolongan umat" (ummah) ini
diwujudkan dalam bentuk Persyarikatan, yang menjadikan dakwah amar ma'ruf nahi
munkar sebagai esensi dan pilar utama gerakannya.
24
Memasuki era digital, medium dakwah mengalami perluasan signifikan. Dakwah digital,
atau sering disebut cyber dakwah, adalah pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi, khususnya internet dan media sosial, untuk menyebarkan ajaran Islam.
8
Ia
merupakan sebuah keniscayaan dan solusi efektif untuk menjangkau audiens yang
lebih luas tanpa terhalang oleh batas geografis dan waktu.
2
Dari perspektif Fiqh
Dakwah, penggunaan media baru ini diperbolehkan selama konten yang disampaikan
sejalan dengan syariat dan tujuannya adalah untuk kemaslahatan umat.
9
Dakwah digital memiliki karakteristik yang khas, yang membedakannya dari dakwah
konvensional:
1. Interaktif: Komunikasi tidak lagi bersifat satu arah (dari dai ke mad'u), melainkan
multi-arah, di mana audiens dapat memberikan umpan balik, bertanya, dan
berdiskusi secara langsung.
10
2. Jangkauan Luas dan Cepat: Pesan dakwah dapat menyebar secara viral dalam
hitungan detik ke seluruh penjuru dunia.
2
3. Konvergen: Menggabungkan berbagai format media, seperti teks, gambar, audio,
dan video dalam satu platform.
11
4. Personal: Konten dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan spesifik audiens
melalui analisis data dan algoritma.
10
Karakteristik ini secara fundamental mengubah relasi antara dai dan mad'u. Otoritas
seorang dai di dunia digital tidak lagi datang secara otomatis dari status atau
lembaganya, melainkan harus dibangun melalui kredibilitas, relevansi konten, dan
kemampuan berinteraksi secara otentik. Ini menuntut mubaligh untuk bertransformasi
dari sekadar penceramah menjadi kreator konten, narator (storyteller), dan manajer
13
komunitas digital yang andal.
1.3 Paradigma Dakwah Muhammadiyah: Islam Berkemajuan (Tajdid)
Dakwah Muhammadiyah tidak bergerak dalam ruang hampa ideologi. Ia didasarkan
pada sebuah paradigma yang kokoh, yaitu Islam Berkemajuan. Konsep ini merupakan
DNA gerakan Muhammadiyah yang mencerminkan semangat pencerahan (tanwir),
reformasi (islah), dan pembaruan (tajdid) dengan tetap berpegang teguh pada nilai-
nilai otentik Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
27
Islam Berkemajuan adalah pemahaman Islam yang mendorong pendekatan kontekstual
dan inklusif dalam menafsirkan ajaran agama, sehingga senantiasa relevan dengan
kebutuhan dan tantangan zaman.
29
Ia dibangun di atas fondasi rasionalisme yang
tercerahkan, pragmatisme yang berorientasi pada kemaslahatan, dan keterbukaan
terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
30
Esensi dari Islam Berkemajuan
adalah spirit Tajdid, yang memiliki dua dimensi:
1. Pemurnian (Purifikasi): Dalam bidang akidah dan ibadah mahdhah (ritual murni),
tajdid berarti mengembalikan amaliah keagamaan pada kemurniannya sesuai
dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang maqbulah, membersihkannya
dari praktik-praktik bid'ah, takhayul, dan khurafat.
2. Pendinamisasian (Modernisasi): Dalam bidang muamalat duniawiyah (urusan
sosial-kemasyarakatan), tajdid berarti mendinamisasikan kehidupan dengan
semangat kreatif dan inovatif sesuai tuntutan zaman, dengan tetap berlandaskan
pada prinsip-prinsip syariat.
32
Dakwah digital, sebagai sebuah metode dan sarana, termasuk dalam ranah muamalat
duniawiyah. Oleh karena itu, paradigma Islam Berkemajuan memberikan legitimasi
ideologis yang sangat kuat bagi Muhammadiyah untuk tidak hanya menggunakan
teknologi digital, tetapi juga memimpin dalam inovasi dakwah di ruang siber. Adaptasi
dan inovasi dalam metode dakwah digital bukanlah sebuah pilihan, melainkan
implementasi logis dari ideologi dasar Persyarikatan. Hal ini memposisikan mubaligh
Muhammadiyah sebagai agen pembaruan (mujaddid) di era digital, yang bertugas
menerjemahkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan ke dalam bahasa dan format yang
dipahami oleh masyarakat kontemporer.
14
1.4 Rujukan Materi Dakwah: Manhaj Tarjih dan Paham Agama dalam
Muhammadiyah
Untuk memastikan bahwa materi dakwah yang disampaikan tetap otentik, kredibel, dan
sejalan dengan koridor pemikiran Persyarikatan, seorang mubaligh Muhammadiyah
harus berpegang pada Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Manhaj ini adalah sebuah
sistem atau metodologi yang terstruktur dalam memahami ajaran agama dan
menetapkan hukum Islam, yang berfungsi sebagai "sistem operasi" dalam berpikir dan
beristinbat hukum.
32
Manhaj Tarjih Muhammadiyah dibangun di atas beberapa pilar utama yang dirangkum
dalam tabel berikut.
Komponen
Manhaj
Deskripsi Rinci
Implikasi untuk
Dakwah Digital
Sumber Ajaran
1. Al-Qur'an:
Sumber utama
dan pertama
ajaran Islam.
2. As-Sunnah Al-
Maqbulah:
Sunnah yang
diterima sebagai
hujjah, yaitu hadis
dengan kualitas
shahih dan hasan.
Muhammadiyah
sangat berhati-
hati dalam
penggunaan
hadis dhaif
Menuntut
mubaligh untuk
selalu merujuk
pada dalil primer
yang valid. Setiap
konten harus
berbasis pada
ayat Al-Qur'an
atau hadis yang
statusnya jelas
dan kuat,
menghindari
kutipan yang tidak
terverifikasi yang
banyak beredar di
media sosial.
15
(lemah).32
Wawasan/Sema
ngat
1. Tajdid:
Semangat
pemurnian
(ibadah) dan
pendinamisasian
(muamalat).
2. Toleransi:
Putusan Tarjih
tidak mengklaim
sebagai satu-
satunya
kebenaran mutlak
dan menghargai
pandangan lain
yang juga memiliki
dasar argumen
yang kuat.33
3. Keterbukaan:
Siap menerima
kritik dan
mengoreksi
putusan jika
ditemukan dalil
atau argumen
yang lebih kuat.
4. Wasathiyyah:
Mengambil jalan
tengah, moderat,
dan tidak ekstrem
(baik ekstrem
kanan/radikal
maupun ekstrem
kiri/liberal).34
Mendorong
pembuatan
konten yang
moderat, rasional,
dan
mencerahkan.
Menghindari gaya
dakwah yang
menghakimi,
mengkafirkan,
atau menimbulkan
perpecahan.
Mendorong dialog
yang konstruktif
di kolom
komentar, bukan
debat kusir.
Pendekatan
Ijtihad
1. Bayani:
Pendekatan
tekstual berbasis
analisis
kebahasaan
terhadap nas-nas
Al-Qur'an dan
Sunnah.
2. Burhani:
Pendekatan
rasional-ilmiah
yang
menggunakan
logika dan temuan
ilmu pengetahuan
modern sebagai
Mengharuskan
konten dakwah
tidak hanya kuat
secara dalil
(bayani), tetapi
juga logis,
didukung data
dan fakta
(burhani), serta
disampaikan
dengan hikmah
dan menyentuh
hati (irfani).
16
alat bantu dalam
memahami nas
dan konteksnya.
3. Irfani:
Pendekatan
intuitif-spiritual
yang menekankan
pada kepekaan
nurani dan
pengalaman batin
dalam
menghayati
ajaran agama.32
Manhaj Tarjih ini berfungsi sebagai sistem filter internal yang paling efektif bagi
mubaligh Muhammadiyah untuk menghadapi banjir informasi di era digital. Di tengah
maraknya konten agama yang dangkal, tidak terverifikasi, dan bahkan ekstrem, manhaj
ini menyediakan metodologi yang menuntut verifikasi sumber, rasionalitas, dan
keterbukaan. Seorang mubaligh yang memegang teguh Manhaj Tarjih secara otomatis
akan menjadi agen literasi digital dan moderasi, karena metodologinya sendiri
menuntut kehati-hatian ilmiah dan sikap yang tidak merasa paling benar.
1.5 Standar Kredibilitas Sumber dan Kutipan Materi Dakwah
Salah satu tantangan terbesar dalam dakwah digital adalah validitas informasi.
Potongan ayat tanpa konteks dan kutipan hadis tanpa sanad beredar dengan sangat
masif, sehingga berpotensi menyesatkan umat. Oleh karena itu, seorang mubaligh
memiliki tanggung jawab intelektual dan spiritual yang besar untuk memastikan setiap
materi yang disampaikannya berasal dari sumber yang kredibel (tsiqah).
1
Hal ini terutama berlaku dalam penggunaan hadis. Dalam tradisi keilmuan Islam, tidak
semua riwayat yang mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW dapat diterima begitu
saja. Terdapat klasifikasi ketat yang harus dipahami, khususnya mengenai hadis dhaif
17
(lemah) dan maudhu' (palsu).
Hadis Maudhu' (Palsu): Ini adalah perkataan dusta yang sengaja dibuat lalu
disandarkan kepada Rasulullah SAW. Para ulama sepakat (ijma') bahwa hukum
meriwayatkan hadis maudhu' adalah haram, kecuali dengan tujuan untuk
menjelaskan kepalsuannya kepada umat. Hadis jenis ini sama sekali tidak boleh
dijadikan landasan untuk hal apa pun, baik akidah, hukum, maupun nasihat.
37
Hadis Dhaif (Lemah): Ini adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu atau
beberapa syarat hadis shahih atau hasan, misalnya karena ada kelemahan pada
ingatan perawi atau keterputusan dalam sanad. Mengenai penggunaannya,
terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama
40
:
Sebagian kecil ulama, seperti Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-
nya, menolak penggunaannya secara mutlak.
Mayoritas ulama (jumhur) memperbolehkan penggunaan hadis dhaif dengan
syarat-syarat yang sangat ketat, yaitu: (1) Hanya untuk ranah fadhail a'mal
(keutamaan amal), motivasi (targhib), dan peringatan (tarhib), bukan untuk
penetapan akidah atau hukum (halal-haram). (2) Tingkat kelemahannya tidak
parah (syadid). (3) Hadis tersebut berada di bawah naungan dalil lain yang
shahih atau hasan. (4) Ketika mengamalkannya, tidak diyakini secara pasti
bahwa itu bersumber dari Nabi SAW, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian
(ihtiyath).
40
Sesuai dengan Manhaj Tarjih yang menjadikan As-Sunnah Al-Maqbulah (hadis shahih
dan hasan) sebagai sumber ajaran kedua setelah Al-Qur'an, maka sikap dasar
Muhammadiyah adalah sangat berhati-hati dan tidak menjadikan hadis dhaif sebagai
hujjah atau landasan utama dalam berdalil. Penekanan pada Sunnah Maqbulah ini
menjadi prinsip etis fundamental dalam dakwah digital Muhammadiyah. Bagi seorang
mubaligh, kewajiban untuk memverifikasi status hadis sebelum membagikannya bukan
sekadar anjuran, melainkan bagian integral dari penerapan manhaj. Ini adalah bentuk
dakwah bil hal yang mengajarkan metode ilmiah dan kritis dalam beragama kepada
audiens di ruang digital.
18
Bab II: Literasi Digital dan Strategi Komunikasi
Wasathiyyah
Setelah meletakkan fondasi ideologis yang kokoh, bab ini berfokus pada
pengembangan kompetensi praktis dan sikap mental yang dibutuhkan seorang
mubaligh untuk beroperasi secara efektif dan etis di ruang digital. Penekanan utama
diberikan pada penguasaan literasi digital dan implementasi pendekatan moderasi
(wasathiyyah) sebagai ciri khas dan strategi utama dakwah Muhammadiyah dalam
menghadapi kompleksitas dunia maya.
2.1 Kompetensi dan Literasi Digital Muballigh
Era digital menuntut seorang mubaligh untuk memiliki kompetensi yang melampaui
kemampuan retorika lisan semata. Terdapat tiga pilar kompetensi yang harus dimiliki:
penguasaan keilmuan agama yang mendalam, penguasaan informasi
kontemporer, dan penguasaan keterampilan teknologi.
3
Ketiga pilar ini ditopang
oleh satu fondasi utama, yaitu literasi digital.
Literasi digital bukanlah sekadar kemampuan teknis mengoperasikan gawai atau
aplikasi media sosial. Ia adalah sebuah kecakapan hidup (life skill) yang mencakup
kemampuan untuk:
Berpikir Kritis: Mampu menganalisis, mengevaluasi, dan memverifikasi informasi
yang diterima dari berbagai sumber digital.
Kreatif dan Inovatif: Mampu menciptakan dan mengemas pesan dakwah ke
dalam format-format digital yang menarik dan relevan.
Komunikatif dan Kolaboratif: Mampu berinteraksi secara efektif dan
membangun jaringan dakwah di lingkungan digital.
Beretika dan Bertanggung Jawab: Memahami etika digital (netiquette), menjaga
privasi, dan menyadari dampak dari setiap konten yang disebarkan.
44
Bagi seorang mubaligh, literasi digital berfungsi sebagai "sistem imun" atau filter
personal yang melindunginya dari dampak negatif dunia maya, seperti informasi palsu
(hoaks), ujaran kebencian, dan radikalisme.
46
Penguasaan literasi digital adalah
19
perwujudan dari prinsip tajdid dan pendekatan burhani dalam Manhaj Tarjih
Muhammadiyah. Ia merupakan bentuk ijtihad kontemporer yang memastikan pesan
Islam tidak hanya tersampaikan, tetapi juga relevan, akurat, dan beradab. Seorang
mubaligh yang literat digital tidak hanya menyampaikan nash (teks suci), tetapi juga
memahami konteks digital di mana nash tersebut disampaikan, termasuk cara kerja
algoritma, psikologi audiens online, dan dinamika interaksi di media sosial.
2.2 Tantangan Patologi Sosial Digital: Hoaks, Ujaran Kebencian, dan
Radikalisme
Ruang digital, selain menawarkan peluang dakwah yang luas, juga merupakan
ekosistem yang dipenuhi berbagai "penyakit" atau patologi sosial. Tiga di antaranya
yang paling berbahaya dan relevan dengan dunia dakwah adalah hoaks, ujaran
kebencian (hate speech), dan propaganda radikalisme.
5
Islam, melalui sumber
utamanya, telah memberikan panduan yang sangat jelas untuk menghadapi fenomena-
fenomena ini.
1. Hoaks dan Perintah Tabayyun (Klarifikasi)
Hoaks, atau berita bohong, merupakan ancaman serius terhadap keharmonisan sosial
dan kebenaran ajaran agama. Al-Qur'an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk
bersikap kritis dan melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang datang,
terutama dari sumber yang tidak dapat dipercaya. Perintah ini dikenal dengan istilah
tabayyun.




















Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang
kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak
mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu
menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat : 6).
Ayat ini merupakan fondasi utama etika informasi dalam Islam.
50
Dalam konteks digital,
"orang fasik" dapat diartikan sebagai akun anonim, portal berita yang tidak kredibel,
atau sumber mana pun yang rekam jejaknya meragukan. Perintah fatabayyanu (maka
20
telitilah) harus menjadi refleks otomatis seorang Muslim, terutama mubaligh, sebelum
menekan tombol "bagikan" (share). Perintah ini bukan hanya etika pasif untuk tidak
menyebar hoaks, melainkan mandat untuk melakukan dakwah aktif melawan
disinformasi. Seorang mubaligh yang melakukan verifikasi silang, memeriksa sumber
primer, lalu membagikan hasil klarifikasinya kepada publik, pada hakikatnya sedang
menjalankan perintah tabayyun sekaligus melakukan nahi munkar (mencegah
keburukan). Ini mengubah peran mubaligh dari sekadar penceramah menjadi edukator
literasi media bagi jamaah digitalnya.
2. Ujaran Kebencian dan Larangan Mencela
Ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), dan caci maki adalah patologi
yang merusak ukhuwah dan bertentangan secara diametral dengan akhlak dakwah. Al-
Qur'an dengan sangat indah melarang praktik-praktik tersebut.











































Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-
olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-
olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik
dari mereka. Dan janganlah kamu saling mencela dirimu sendiri dan janganlah saling
memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujurat : 11).
Ayat ini secara eksplisit melarang sukhriyah (mengolok-olok), lamz (mencela), dan
tanabuz bil alqab (pemberian gelar buruk), yang merupakan inti dari ujaran kebencian
dan perundungan di dunia maya.
56
Konten dakwah harus bersih dari praktik-praktik ini
dan justru harus menjadi garda terdepan dalam mempromosikan bahasa yang santun,
dialog yang beradab, dan penghargaan terhadap sesama.
21
2.3 Pendekatan Dakwah Virtual: Literasi, Kolaborasi, dan Moderasi
(Wasathiyyah)
Sebagai respons terhadap tantangan patologi digital, dakwah Muhammadiyah harus
secara konsisten mengusung dan memanifestasikan spirit Islam Wasathiyyah.
Wasathiyyah adalah konsep Islam sebagai jalan tengah, yang moderat, seimbang, dan
berkeadilan.
61
Ini bukanlah sikap kompromistis yang mengorbankan prinsip, melainkan
sebuah pendekatan dakwah yang dicirikan oleh:
Tawassuth (Moderat): Menghindari sikap ekstrem dalam beragama.
Tawazun (Seimbang): Menjaga keseimbangan antara dalil naqli (wahyu) dan dalil
aqli (akal), antara urusan dunia dan akhirat.
I'tidal (Adil): Bersikap adil dan proporsional dalam menilai suatu perkara.
Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan pendapat (khilafiyah) selama masih
dalam koridor argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.
65
Pendekatan Wasathiyyah ini diimplementasikan melalui tiga strategi utama dalam
dakwah virtual:
1. Literasi: Secara proaktif mengedukasi masyarakat tentang etika bermedia sosial,
cara mengidentifikasi hoaks, dan pentingnya dialog yang sehat. Mubaligh
Muhammadiyah berperan sebagai agen literasi digital.
2. Kolaborasi: Menjalin kerja sama dengan berbagai pihakpemerintah, organisasi
masyarakat sipil, platform media sosial, dan influenceruntuk mengamplifikasi
pesan-pesan moderasi dan bersama-sama melawan narasi kebencian dan
radikalisme.
5
3. Moderasi Konten: Fokus pada produksi dan penyebarluasan konten dakwah yang
menyejukkan, mencerahkan, rasional, dan solutif. Konten ini harus menghindari
bahasa provokatif dan lebih mengedepankan ajakan yang persuasif dan penuh
hikmah.
Strategi ini secara inheren merupakan kontra-narasi terhadap radikalisme. Dengan
membekali kader dan mubaligh kemampuan untuk menciptakan konten kreatifseperti
video pendek, artikel, dan infografisyang mempromosikan nilai-nilai toleransi,
persaudaraan, dan kemanusiaan, Muhammadiyah dapat secara efektif mengisi ruang
digital dengan narasi Islam yang damai dan berkemajuan.
7
Akun media sosial resmi
seperti @lensamu, misalnya, secara konsisten menyajikan konten visual yang
informatif dan inklusif, yang mencerminkan praktik dakwah wasathiyyah di dunia
22
maya.
68
Pendekatan ini sangat strategis karena ia "mengisi kekosongan" di pasar konten digital.
Banyak audiens, terutama kalangan terdidik, yang merasa jenuh dengan konten agama
yang ekstrem di kedua kutub (radikal-konservatif dan liberal-sekuler). Mereka mencari
panduan spiritual yang otentik, rasional, dan relevan dengan kehidupan modern.
Karakteristik Islam Wasathiyyah Muhammadiyah sangat cocok untuk memenuhi
kebutuhan audiens ini, memposisikan dakwah Persyarikatan sebagai "suara penengah"
yang kredibel, intelektual, dan solutif.
Bab III: Produksi Konten Tekstual: Dari Mimbar ke
Layar Digital
Bab ini menyajikan panduan teknis dan praktis bagi para mubaligh untuk
mentransformasikan keterampilan dakwah lisan dan tulisan konvensional ke dalam
format yang efektif dan relevan untuk berbagai platform digital. Fokusnya adalah pada
penguasaan teknik penulisan naskah, pemahaman rukun khutbah sesuai perspektif
Tarjih, metode riset dalil yang akurat, hingga adaptasi gaya penulisan untuk media
online.
3.1 Teknik Penulisan Naskah Khutbah dan Ceramah
Kemampuan menyampaikan pesan secara lisan adalah inti dari kegiatan tabligh.
Namun, penyampaian yang efektif berawal dari naskah yang terstruktur dengan baik.
Seni berpidato atau retorika (ilmu balaghah) modern menekankan pada kejelasan,
persuasi, dan kemampuan untuk terhubung dengan audiens.
70
Seorang khatib atau
penceramah harus mampu menguasai teknik-teknik dasar penyusunan naskah yang
memikat.
Struktur Naskah yang Efektif:
1. Pembukaan (Muqaddimah): Bagian ini krusial untuk menarik perhatian
jamaah dalam beberapa menit pertama. Mulailah dengan salam, pujian kepada
23
Allah, shalawat, dan pengait yang relevan dengan topik, seperti pertanyaan
retoris, kutipan ayat yang menggugah, atau cerita pendek yang relevan.
2. Isi (Materi Pokok): Sampaikan argumen secara logis dan sistematis. Gunakan
dalil Al-Qur'an dan Hadis sebagai fondasi, lalu perkuat dengan data faktual,
contoh-contoh konkret, analogi, dan storytelling (kisah-kisah inspiratif) untuk
membuat pesan lebih mudah dipahami dan diingat.
72
3. Penutup (Khatimah): Rangkum poin-poin utama yang telah disampaikan,
berikan kesimpulan yang kuat, dan akhiri dengan ajakan untuk bertindak (call
to action) serta doa.
Gaya Bahasa dan Diksi: Gunakan bahasa yang jelas, lugas, dan sesuai dengan
tingkat pemahaman audiens. Hindari istilah-istilah teknis yang rumit tanpa
penjelasan. Pilihan kata (diksi) yang tepat dapat membangkitkan emosi dan
menyentuh hati pendengar.
71
Teknik Penyampaian (Delivery): Meskipun ini terkait praktik lisan, naskah dapat
diberi catatan untuk membantu penyampaian, seperti penekanan pada kata
tertentu (intonasi), jeda (pause), dan pengaturan volume suara. Naskah yang baik
adalah yang "enak dibacakan" dan terdengar alami, bukan kaku.
71
3.2 Struktur dan Rukun Khutbah (Perspektif Tarjih Muhammadiyah)
Untuk ibadah formal seperti shalat Jumat dan Id, pelaksanaan khutbah harus
memenuhi syarat dan rukun tertentu agar sah. Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih
dan Tajdid, telah merumuskan panduan pelaksanaan khutbah berdasarkan dalil-dalil
hadis yang dianggap kuat. Pemahaman ini penting bagi khatib di lingkungan
Persyarikatan.
Berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih (HPT), rukun khutbah Jumat yang harus
dipenuhi adalah sebagai berikut
75
:
1. Membaca Tahmid: Memulai khutbah dengan pujian kepada Allah SWT, misalnya
dengan lafaz Alhamdulillah.
2. Membaca Syahadatain: Mengucapkan dua kalimat syahadat.
3. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
4. Wasiat Taqwa: Memberikan nasihat dan ajakan untuk meningkatkan ketaqwaan
kepada Allah SWT.
24
5. Membaca Ayat Al-Qur'an: Membaca satu atau beberapa ayat Al-Qur'an yang
relevan dengan tema khutbah.
6. Berdoa untuk Kaum Mukminin: Khususnya pada khutbah kedua.
Adapun tata cara teknis pelaksanaan khutbah Jumat sesuai tuntunan Tarjih adalah
75
:
Khatib naik ke mimbar ketika waktu zuhur telah masuk, lalu mengucapkan salam
kepada jamaah.
Setelah salam, khatib duduk sementara muazin mengumandangkan azan (satu kali,
sesuai praktik di zaman Nabi SAW).
Khutbah dilaksanakan sebanyak dua kali, dengan posisi khatib berdiri jika mampu.
Di antara dua khutbah, khatib duduk sejenak tanpa ada doa khusus yang
disunnahkan.
Materi khutbah hendaknya disampaikan secara ringkas, padat, dan jelas, tidak
bertele-tele. Hal ini didasarkan pada hadis yang menyebutkan bahwa pendeknya
khutbah dan panjangnya shalat adalah tanda pemahaman agama seseorang.
Memahami rukun dan tata cara ini penting untuk menjaga keabsahan ibadah Jumat
sekaligus menjadi ciri khas pelaksanaan di lingkungan Muhammadiyah, yang mungkin
sedikit berbeda dengan praktik umum yang mengikuti mazhab Syafi'i dalam beberapa
detailnya.
77
3.3 Metode Pengumpulan Data dan Dalil
Konten dakwah yang berkualitas dan kredibel harus ditopang oleh dua pilar: dalil yang
shahih dan data yang faktual. Di era digital, kemampuan untuk melakukan riset materi
secara cepat dan akurat menjadi keterampilan esensial bagi seorang mubaligh.
Riset Data Faktual dan Kontekstual: Untuk membuat dakwah relevan, seorang
dai harus mampu menghubungkan ajaran Islam dengan realitas kehidupan
masyarakat.
81
Ini memerlukan riset data dari sumber-sumber terpercaya seperti
badan statistik pemerintah, lembaga riset, jurnal ilmiah, dan media massa yang
kredibel. Memahami data demografi, kondisi ekonomi, dan isu-isu sosial yang
sedang berkembang akan membantu dai menyusun materi yang "membumi" dan
solutif.
82
Pencarian dan Verifikasi Dalil Berbasis Teknologi: Teknologi digital
25
menyediakan alat yang sangat powerful untuk mencari dan memverifikasi dalil Al-
Qur'an dan Hadis. Mubaligh tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada ingatan
atau pencarian manual di kitab-kitab tebal.
Maktabah Syamilah: Perangkat lunak ini adalah perpustakaan digital Islam
terlengkap yang berisi ribuan kitab klasik dalam berbagai bidang ilmu. Seorang
mubaligh dapat menggunakannya untuk:
Mencari hadis berdasarkan satu atau beberapa kata kunci dari matan (isi)
hadis.
Melacak sebuah hadis di berbagai kitab induk (kutubut tis'ah dan lainnya).
Melihat sanad (rantai perawi) hadis dan memeriksa biografi serta
kredibilitas (jarh wa ta'dil) setiap perawi.
Membandingkan berbagai syarah (penjelasan) atas sebuah hadis dari para
ulama. Penguasaan Maktabah Syamilah adalah keterampilan fundamental
untuk memastikan keakuratan dalil yang digunakan.87
Situs Verifikasi Hadis Online: Untuk verifikasi yang lebih cepat, beberapa
situs web menyediakan layanan pengecekan status hadis. Salah satu yang
paling terkemuka adalah dorar.net. Dengan memasukkan potongan teks hadis
berbahasa Arab, situs ini akan menampilkan hasil takhrij (pelacakan sumber)
dan penilaian status hadis (shahih, hasan, dhaif, dll.) menurut para ulama hadis
terkemuka.
93
Berikut adalah panduan cepat untuk verifikasi dalil sebelum digunakan dalam konten
digital.
Jenis Dalil
Langkah Verifikasi & Alat Bantu
Ayat Al-Qur'an
1. Cek Teks & Terjemahan: Pastikan
teks Arab dan terjemahan akurat
menggunakan situs resmi seperti
quran.kemenag.go.id atau aplikasi Al-
Qur'an terpercaya. 2. Pahami Konteks:
Baca tafsir ayat tersebut dari beberapa
sumber (misalnya Tafsir Ibnu Katsir,
Tafsir Al-Misbah) melalui situs seperti
tafsirweb.com untuk menghindari
pemahaman yang parsial.
26
Hadis
1. Pencarian Awal: Gunakan mesin
pencari dengan kata kunci matan hadis
untuk menemukan sumber awalnya. 2.
Verifikasi Status: Masukkan potongan
matan hadis berbahasa Arab ke situs
dorar.net/en/hadith. Perhatikan kolom
Muhaddith (ahli hadis) dan Hukm
(hukum/status). 3. Analisis Mendalam
(Jika Perlu): Gunakan Maktabah
Syamilah untuk melacak hadis di kitab
aslinya, memeriksa sanad, dan
membaca syarahnya.
3.4 Penulisan Artikel Digital (Dakwah bil Qalam)
Tradisi menulis (dakwah bil qalam) memiliki akar yang kuat dalam sejarah intelektual
Muhammadiyah. Di era digital, tradisi ini menemukan medium baru yang lebih luas
melalui blog, portal berita online, dan catatan di media sosial. Namun, menulis untuk
media digital memerlukan adaptasi gaya dan teknik agar efektif.
Teknik Penulisan untuk Media Digital
98
:
Judul yang Memikat: Buat judul yang singkat, jelas, dan mengandung kata
kunci yang relevan. Judul harus mampu menarik perhatian pembaca yang
sedang menjelajahi lautan informasi.
Paragraf Pembuka (Lead): Paragraf pertama harus langsung menyajikan inti
atau gagasan utama tulisan untuk "mengikat" pembaca.
Keterbacaan (Readability): Gunakan paragraf-paragraf pendek (2-3
kalimat), manfaatkan sub-judul untuk memecah tulisan menjadi bagian-bagian
logis, dan gunakan daftar bernomor atau poin-poin (bullet points) untuk
menyajikan informasi secara ringkas.
Gaya Bahasa: Tulisan digital cenderung lebih personal dan dialogis. Gunakan
bahasa yang lebih santai namun tetap santun dan berbobot.
Pengenalan SEO (Search Engine Optimization) untuk Dakwah:
SEO adalah serangkaian teknik untuk mengoptimalkan konten agar mudah
27
ditemukan oleh mesin pencari seperti Google. Menguasai dasar-dasar SEO bukan
lagi sekadar teknik pemasaran, melainkan strategi dakwah yang proaktif. Jika
dakwah konvensional menunggu jamaah datang ke majelis, dakwah dengan SEO
adalah "menjemput bola" dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah
ada di benak umat, yang mereka ketikkan di Google setiap hari.
Riset Kata Kunci: Gunakan alat bantu (seperti Google Trends atau fitur saran
pencarian Google) untuk menemukan topik-topik atau pertanyaan seputar
Islam yang paling sering dicari oleh masyarakat (misalnya, "cara shalat
tahajud", "hukum pinjaman online dalam islam").
Optimasi On-Page: Setelah menulis artikel yang menjawab pertanyaan
tersebut, pastikan kata kunci utama muncul di judul, beberapa sub-judul, dan
di dalam isi artikel secara alami. Tujuannya adalah agar ketika seseorang
mencari topik tersebut, artikel dakwah dari Muhammadiyah muncul di halaman
pertama hasil pencarian, sehingga menyajikan jawaban yang mencerahkan dan
sesuai dengan Manhaj Tarjih.
104
Bab IV: Praktik Produksi Konten Visual dan Pemasaran
Media Sosial
Bab ini berfokus pada transisi dari konten berbasis teks ke konten visual, yang
mendominasi lanskap media sosial modern. Mubaligh akan dibekali keterampilan
praktis dalam menciptakan produk dakwah digital yang menarik secara visualseperti
flyer dan video pendekserta strategi untuk menyebarkannya secara efektif melalui
berbagai platform, dengan merujuk pada praktik-praktik yang telah dijalankan oleh
lembaga media Muhammadiyah.
4.1 Produksi Produk Visual (Flyer dan Infografis)
Dalam komunikasi digital, pesan visual diproses oleh otak jauh lebih cepat daripada
teks. Sebuah desain yang baik tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu
menyampaikan pesan dakwah secara efektif dan dalam sekejap. Oleh karena itu,
28
pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar desain grafis menjadi penting bagi seorang
dai digital.
Prinsip-Prinsip Dasar Desain Grafis yang Efektif
110
:
1. Kesatuan (Unity): Semua elemen desain (teks, gambar, warna) harus terasa
saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang harmonis.
2. Keseimbangan (Balance): Komposisi visual harus seimbang, baik secara
simetris (formal dan statis) maupun asimetris (dinamis dan modern), agar
nyaman dipandang.
3. Penekanan (Emphasis): Harus ada satu elemen utama (misalnya, judul atau
kutipan ayat) yang menjadi pusat perhatian untuk menonjolkan pesan kunci.
4. Kontras (Contrast): Penggunaan elemen yang berbeda secara signifikan
(misalnya, warna terang di atas latar gelap, atau font tebal untuk judul dan font
tipis untuk isi) untuk menciptakan daya tarik visual dan meningkatkan
keterbacaan.
5. Irama dan Pengulangan (Rhythm & Repetition): Mengulang elemen tertentu
(seperti warna atau bentuk) secara konsisten untuk menciptakan alur visual
yang teratur dan memperkuat identitas visual.
6. Proporsi (Proportion): Ukuran antar elemen harus proporsional untuk
menciptakan hierarki visual yang jelas. Elemen yang paling penting harus
memiliki ukuran yang paling menonjol.
7. Harmoni (Harmony): Keselarasan semua elemen desain untuk menciptakan
tampilan yang menyenangkan secara estetika dan efektif dalam
menyampaikan pesan.
Panduan Praktis Menggunakan Aplikasi Desain:
Untuk mempermudah proses desain tanpa memerlukan keahlian teknis yang
mendalam, mubaligh dapat memanfaatkan aplikasi mobile-friendly seperti Canva.
Aplikasi ini menyediakan ribuan templat siap pakai yang dapat disesuaikan.
Langkah-langkah Membuat Flyer Dakwah di Canva:
1. Pilih Templat: Cari templat dengan kata kunci seperti "kutipan Islami",
"pengajian", atau "poster acara".
2. Ubah Teks: Ganti teks templat dengan kutipan ayat, hadis, atau informasi
kajian yang ingin disampaikan. Perhatikan prinsip kontras dan hierarki
dalam memilih jenis dan ukuran font.
3. Sesuaikan Gambar: Ganti gambar latar dengan gambar yang relevan dan
bebas hak cipta (tersedia di dalam Canva atau situs seperti Pexels dan
Unsplash).
4. Pilih Palet Warna: Gunakan kombinasi warna yang harmonis dan sesuai
29
dengan identitas visual (jika ada).
5. Tambahkan Logo: Sisipkan logo organisasi atau lembaga dakwah di posisi
yang tidak mengganggu.
6. Unduh dan Bagikan: Simpan desain dalam format gambar berkualitas
tinggi (PNG atau JPG) untuk dibagikan di media sosial.
116
4.2 Produksi Video Dakwah Pendek (TikTok & Reels)
Video berdurasi pendek dengan format vertikal telah menjadi format konten paling
dominan di platform seperti TikTok dan Instagram Reels. Format ini sangat efektif untuk
menjangkau audiens muda (Generasi Z dan milenial) dengan pesan-pesan yang
singkat, padat, dan menarik.
Tahapan Produksi Video Pendek:
1. Pra-Produksi (Perencanaan):
Ide dan Tema: Pilih satu pesan dakwah yang spesifik dan bisa disampaikan
dalam waktu kurang dari 60 detik. Contoh: "Satu Hadis Hari Ini", "Tips
Wudhu Sempurna", "Makna di Balik Doa Makan".
Sinopsis dan Naskah: Tulis poin-poin utama yang akan disampaikan.
Untuk video pendek, naskah tidak perlu detail, cukup berupa kerangka atau
script singkat.
2. Produksi (Pengambilan Gambar):
Gunakan kamera smartphone dengan posisi vertikal (format 9:16).
Pastikan pencahayaan cukup terang (gunakan cahaya alami dari jendela
atau ring light).
Gunakan mikrofon eksternal (seperti clip-on) untuk memastikan kualitas
audio jernih dan bebas dari kebisingan.
3. Pasca-Produksi (Editing):
Gunakan aplikasi editor video di smartphone seperti CapCut, InShot, atau
editor bawaan Canva.
Potong Klip: Buang bagian yang tidak perlu untuk menjaga tempo video
tetap cepat.
Tambahkan Teks/Subtitle: Ini sangat penting karena banyak pengguna
menonton video tanpa suara. Teks yang dinamis juga menambah daya tarik
visual.
30
Musik Latar: Tambahkan musik yang sedang tren (jika sesuai) atau musik
instrumental islami yang bebas hak cipta untuk membangun suasana.
Efek dan Transisi: Gunakan secara secukupnya untuk membuat video
lebih dinamis.
116
Tips Konten Efektif untuk TikTok/Reels
122
:
Durasi Optimal: Video dengan durasi antara 21-34 detik cenderung memiliki
performa terbaik.
Hook di 3 Detik Pertama: Tampilkan visual atau sampaikan kalimat yang paling
menarik di awal video untuk menghentikan audiens dari scrolling.
Gunakan Suara: Manfaatkan musik yang sedang tren atau gunakan voiceover
yang jelas dan berenergi.
Ajakan Bertindak (Call to Action): Akhiri video dengan ajakan sederhana,
seperti "Tulis 'Masya Allah' di komentar" atau "Bagikan ke temanmu!".
4.3 Pemanfaatan dan Strategi Media Sosial (Multiplatform)
Setiap platform media sosial memiliki "budaya", algoritma, dan demografi audiens yang
berbeda. Oleh karena itu, strategi dakwah digital yang efektif memerlukan pendekatan
multiplatform yang disesuaikan, bukan sekadar mem-posting konten yang sama di
semua tempat.
Platform
Target
Audiens
Utama
Format
Konten Ideal
Gaya
Bahasa/Tone
Contoh
Konten
Dakwah
Muhammadiy
ah
YouTube
Umum,
Milenial, Gen
X
Video durasi
panjang (> 5
menit), Live
Streaming,
Podcast,
Informatif,
Mendalam,
Edukatif
Live
streaming
Pengajian
Bulanan PP
Muhammadiy
31
Video Pendek
(Shorts)
ah
124
, Video
penjelasan
Manhaj Tarjih,
Dokumenter
kegiatan
sosial.
Instagram
Milenial, Gen
Z
(Perempuan >
Laki-laki)
Gambar
berkualitas
tinggi (Flyer,
Infografis),
Video pendek
(Reels),
Stories
Estetik,
Inspiratif,
Personal
Infografis dari
@lensamu
tentang Fikih
Kurban
68
,
Reels kutipan
dari Haedar
Nashir,
Stories
pengumuman
kajian.
TikTok
Gen Z,
Milenial Muda
Video pendek
vertikal (< 60
detik), konten
yang
mengikuti
tren
Santai,
Humoris,
Kreatif, Cepat
Video sketsa
pendek "Main
Gadget
Ibadah
Macet?!"
125
,
video "5
Fakta Puasa
Daud"
dengan musik
tren, konten
dakwah dari
TVMu.
126
Facebook
Gen X,
Milenial (lebih
tua),
Komunitas
Artikel/Tauta
n Blog, Video
(panjang/pen
dek), Live
Streaming,
Komunal,
Informatif,
Dialogis
Berbagi
artikel dari
suaramuham
madiyah.id,
Live
32
Grup Diskusi
streaming
kajian dari
masjid
cabang/daer
ah, mengelola
grup "Kajian
Islam
Berkemajuan
".
X (Twitter)
Milenial,
Profesional,
Jurnalis
Teks singkat
(utas/thread),
Gambar, GIF,
Klip video
pendek
Cepat,
Reaktif,
Kontekstual,
Intelektual
Utas/thread
yang
merangkum
hasil Munas
Tarjih,
tanggapan
cepat
terhadap isu-
isu terkini dari
perspektif
Muhammadiy
ah.
Keberhasilan dakwah digital Muhammadiyah tidak terletak pada penguasaan satu
platform, melainkan pada kemampuan menciptakan ekosistem konten yang
terintegrasi. Satu materi dakwah utama (misalnya, sebuah pengajian berdurasi satu
jam) dapat diolah kembali (repurposed) menjadi berbagai format: rekaman penuh
diunggah ke YouTube; poin-poin pentingnya dijadikan infografis untuk Instagram; klip-
klip menarik berdurasi 30 detik diedit untuk TikTok dan Reels; dan transkrip atau
rangkumannya dipublikasikan sebagai artikel di Facebook dan situs web resmi. Strategi
ini tidak hanya memaksimalkan jangkauan, tetapi juga memastikan pesan dakwah yang
konsisten tersampaikan di seluruh lanskap digital.
33
4.4 Optimalisasi YouTube dan Live Streaming
Sebagai platform video terbesar di dunia dan mesin pencari kedua setelah Google,
YouTube memegang peranan strategis dalam dakwah digital, terutama untuk konten
yang bersifat lebih mendalam. Kanal YouTube resmi seperti Muhammadiyah Channel
dan tvMu telah secara efektif memanfaatkan platform ini untuk menyiarkan acara-
acara resmi Persyarikatan, pengajian pimpinan, dan konten-konten edukatif lainnya.
124
Untuk memaksimalkan jangkauan dan dampak, pengelolaan kanal YouTube dakwah
harus memperhatikan aspek optimasi mesin pencari (SEO YouTube)
114
:
Riset Kata Kunci: Identifikasi topik-topik yang sering dicari audiens (misalnya,
"tata cara shalat gerhana muhammadiyah", "kajian haedar nashir terbaru").
Judul yang Optimal: Buat judul yang mengandung kata kunci utama, jelas, dan
memancing rasa ingin tahu (misalnya, "Lengkap! Begini Tuntunan Shalat Idul Adha
Sesuai Putusan Tarjih Muhammadiyah").
Thumbnail yang Menarik: Desain gambar sampul video yang cerah, kontras,
menampilkan wajah penceramah dengan ekspresi yang menarik, dan menyertakan
teks judul yang besar dan mudah dibaca. Thumbnail adalah "pintu gerbang"
pertama yang menentukan apakah seseorang akan mengklik video Anda atau
tidak.
Deskripsi yang Informatif: Tulis deskripsi video secara detail. Jelaskan
rangkuman isi video di paragraf pertama, sertakan kata kunci terkait, dan
tambahkan tautan (link) ke media sosial atau situs web resmi.
Tag yang Relevan: Gunakan tag yang spesifik dan relevan dengan isi video untuk
membantu algoritma YouTube memahami dan merekomendasikan konten Anda
kepada audiens yang tepat.
Playlist: Kelompokkan video-video dengan tema serupa ke dalam playlist
(misalnya, "Kajian Tafsir", "Fiqh Keluarga", "Sejarah Muhammadiyah"). Ini akan
mendorong penonton untuk menonton lebih banyak video dalam satu sesi (binge-
watching) dan meningkatkan total waktu tonton kanal Anda.
Selain itu, Live Streaming menjadi alat yang sangat efektif untuk menciptakan interaksi
langsung dan rasa kebersamaan dengan audiens. Menyiarkan pengajian, seminar, atau
sesi tanya jawab secara langsung melalui YouTube Live atau Facebook Live
34
memungkinkan jamaah digital untuk berpartisipasi secara real-time melalui kolom
komentar, menciptakan pengalaman majelis taklim virtual yang dinamis.
Bab V: Inovasi, Kecerdasan Buatan, dan Dakwah
Inklusif
Bab terakhir ini mengarahkan pandangan ke masa depan dakwah digital,
mengeksplorasi pemanfaatan teknologi canggih seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan
pentingnya merancang strategi dakwah yang inklusif untuk menjangkau semua segmen
masyarakat, termasuk kelompok rentan dan berkebutuhan khusus. Ini adalah
manifestasi tertinggi dari Islam Berkemajuan, yang tidak hanya beradaptasi, tetapi juga
berinovasi untuk menyebarkan rahmat bagi semesta alam.
5.1 Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Dakwah
Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan adalah teknologi yang menjadi tulang
punggung era Society 5.0, yang mampu menganalisis data dalam jumlah besar untuk
melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia.
4
Dalam
konteks dakwah, AI menawarkan peluang yang luar biasa, namun juga datang dengan
tantangan etis yang signifikan.
Peluang Pemanfaatan AI:
1. Personalisasi Konten Dakwah: AI dapat menganalisis data perilaku dan
preferensi pengguna (seperti riwayat pencarian dan interaksi konten) untuk
merekomendasikan artikel, video ceramah, atau modul pembelajaran yang paling
sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman individu.
135
2. Analisis Tren dan Kebutuhan Umat: Dengan menganalisis percakapan di media
sosial dan data pencarian, AI dapat membantu lembaga dakwah mengidentifikasi
topik-topik keagamaan yang sedang hangat dibicarakan atau menjadi kegelisahan
umat, sehingga materi dakwah dapat dirancang agar lebih relevan dan tepat
35
waktu.
136
3. Chatbot Fiqh dan Konsultasi: Pengembangan chatbot berbasis AI dapat
memberikan jawaban cepat atas pertanyaan-pertanyaan fikih sehari-hari yang
bersifat umum, berfungsi sebagai asisten virtual bagi umat.
137
4. Alat Bantu Verifikasi Informasi: Algoritma AI dapat dilatih untuk mendeteksi
pola-pola disinformasi dan hoaks, membantu dalam upaya tabayyun dan
menyaring konten negatif.
136
Risiko dan Tantangan Etis:
Meskipun potensinya besar, adopsi AI dalam keilmuan dan praktik keagamaan harus
dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
1. Bias Algoritmik: AI belajar dari data yang diberikan. Jika data tersebut
mengandung bias (misalnya, data fikih dari satu mazhab saja), maka output yang
dihasilkan AI juga akan bias dan tidak merepresentasikan keragaman pandangan
dalam Islam.
138
2. Reduksi Otoritas dan Sanad Keilmuan: Ketergantungan pada AI untuk fatwa
atau jawaban keagamaan berisiko mengikis otoritas ulama dan tradisi sanad
(rantai keilmuan) yang telah terjaga selama berabad-abad. AI dapat memberikan
jawaban teknis tanpa pemahaman mendalam tentang konteks (asbabun
nuzul/wurud), maqashid syariah, dan kearifan (hikmah).
140
3. Keamanan Data dan Privasi: Penggunaan data pribadi pengguna untuk
personalisasi konten menimbulkan kekhawatiran serius terkait privasi dan potensi
penyalahgunaan data.
139
4. Dehumanisasi Interaksi Keagamaan: Proses belajar dan konsultasi agama yang
seharusnya bersifat humanis dan spiritual dapat tereduksi menjadi interaksi
transaksional dengan mesin.
Panduan Etis Penggunaan AI dalam Dakwah:
Berdasarkan prinsip-prinsip etika Islam, penggunaan AI harus dipandu oleh nilai-nilai
berikut 138:
Maslahah (Kemaslahatan Umum): Penerapan AI harus terbukti membawa
manfaat yang lebih besar daripada mudaratnya bagi umat.
'Adl (Keadilan): Algoritma harus dirancang untuk adil, transparan, dan tidak
diskriminatif.
Amanah (Tanggung Jawab): Pengembang dan pengguna AI memiliki tanggung
jawab untuk memastikan teknologi ini tidak disalahgunakan.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Otoritas: Posisi AI harus selalu sebagai alat bantu
36
(assisting tool) untuk mempermudah akses informasi, bukan sebagai pengganti
otoritas ulama atau lembaga fatwa dalam menetapkan hukum. Keputusan akhir
yang menyangkut ijtihad harus tetap berada di tangan manusia yang memiliki
kompetensi.
5.2 Pengembangan Dakwah Digital Spesifik dan Inklusif
Dakwah yang benar-benar rahmatan lil 'alamin harus mampu menjangkau seluruh
lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Era digital memberikan peluang untuk merancang
program dakwah yang spesifik dan inklusif bagi segmen-segmen yang seringkali
terabaikan.
1. Cyber Counseling untuk Keluarga Sakinah
Konsep: Memanfaatkan platform digital seperti website khusus, aplikasi pesan
instan (WhatsApp, Telegram), dan layanan video conference (Zoom, Google Meet)
untuk menyediakan layanan bimbingan dan konseling Islami bagi pasangan suami-
istri dan keluarga.
145
Layanan ini bertujuan membantu keluarga mengatasi
problematika rumah tangga dan membina kehidupan yang
sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai tuntunan syariat.
149
Praktik di Muhammadiyah: Organisasi 'Aisyiyah telah lama memiliki BIKKSA (Biro
Informasi Konseling Keluarga Sakinah 'Aisyiyah) yang beroperasi secara
luring.
151
Terdapat potensi besar untuk mentransformasikan layanan BIKKSA ke
dalam platform cyber counseling yang menawarkan kelebihan seperti anonimitas,
fleksibilitas waktu, dan kemudahan akses bagi pasangan muda yang lebih akrab
dengan teknologi.
2. Dakwah Ramah Anak (Generasi Alpha)
Karakteristik Generasi Alpha: Generasi yang lahir setelah tahun 2010 ini adalah
generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di era digital. Mereka adalah
pembelajar visual yang sangat akrab dengan gawai dan platform seperti YouTube
dan TikTok.
155
Strategi Konten: Konten dakwah untuk mereka harus dikemas secara kreatif,
interaktif, dan menghibur. Beberapa panduannya adalah:
Visual Menarik: Gunakan animasi kartun, warna-warna cerah, dan desain yang
37
dinamis.
157
Musik dan Lagu: Ciptakan lagu-lagu Islami anak-anak dengan aransemen
modern.
Tema Relevan: Fokus pada materi adab sehari-hari, akhlak mulia, kisah-kisah
Nabi dan sahabat yang diceritakan secara menarik, serta pengenalan ibadah
dasar.
158
Platform: Kanal YouTube khusus anak (seperti "Nussa" atau "Omar & Hana")
atau akun TikTok/Instagram Reels yang menyajikan konten edukasi Islami
singkat.
3. Dakwah Digital Inklusif untuk Penyandang Disabilitas
Prinsip Islam sebagai rahmat bagi semesta meniscayakan dakwah yang dapat diakses
oleh semua, termasuk penyandang disabilitas yang memiliki hak yang sama untuk
mendapatkan informasi dan bimbingan keagamaan.
161
Dakwah digital yang tidak inklusif
justru akan menciptakan penghalang baru. Oleh karena itu, aksesibilitas digital harus
menjadi prioritas.
162
38
39
Merancang konten yang aksesibel sejak awal (accessibility by design) bukan hanya soal
teknis, melainkan pergeseran paradigma dari "dakwah untuk mayoritas" menjadi
"dakwah untuk semua". Ini adalah manifestasi nyata dari teologi Al-Ma'un di ranah
digital: sebuah keberpihakan yang konkret kepada kelompok yang sering
termarginalkan.
5.3 Manajemen Dakwah Digital dan Cyber Public Relations
Untuk memastikan dakwah digital dapat berjalan secara efektif, berkelanjutan, dan
profesional, ia tidak bisa lagi dijalankan secara sporadis atau sekadar hobi. Diperlukan
sebuah sistem manajemen dakwah digital yang terstruktur, terutama bagi organisasi
sekelas Muhammadiyah.
167
Elemen-elemen Manajemen Profesional:
1. Pembentukan Tim Khusus: Idealnya, sebuah lembaga dakwah (misalnya,
Pimpinan Cabang/Daerah) memiliki tim media sosial yang terdiri dari berbagai
peran: penulis konten, desainer grafis, editor video, dan admin/manajer
komunitas yang bertugas merespons interaksi audiens.
2. Perencanaan Konten Strategis: Membuat kalender editorial bulanan untuk
merencanakan tema dan jadwal publikasi konten secara terarah, tidak reaktif.
3. Analisis dan Evaluasi Kinerja: Secara rutin menggunakan fitur analitik yang
disediakan oleh setiap platform (misalnya, Instagram Insights, YouTube
Analytics) untuk mengukur metrik penting seperti jangkauan (reach),
keterlibatan (engagement), dan demografi audiens. Data ini digunakan untuk
mengevaluasi strategi dan memperbaiki kualitas konten di masa depan.
Cyber Public Relations (Humas Digital):
Di luar penyebaran konten dakwah, media digital juga berfungsi sebagai kanal
Public Relations (PR) bagi Persyarikatan. Cyber PR adalah penggunaan platform
digital untuk membangun, memelihara, dan melindungi citra serta reputasi
40
organisasi. Fungsinya meliputi:
Menyebarkan informasi resmi dan siaran pers dari Pimpinan Persyarikatan.
Merespons isu-isu publik yang berkembang secara cepat dan terukur dengan
memberikan pandangan resmi Muhammadiyah.
Mengelola krisis komunikasi jika terjadi isu negatif yang menyangkut
Persyarikatan di ruang online.
Membangun hubungan baik dengan media, influencer, dan pemangku
kepentingan lainnya melalui interaksi digital.
Dengan manajemen yang profesional dan strategi Cyber PR yang andal, kehadiran
dakwah Muhammadiyah di dunia digital akan menjadi lebih berdampak, kredibel, dan
mampu menjawab tantangan zaman dengan cara yang cerdas dan mencerahkan.
41
Referensi
Abdillah, R. (2017). Analisis Teori Dehumanisasi Pendidikan Paulo Freire. Jaqfi:
Jurnal Aqidah Dan Filsafat Islam, 2(1), 121.
Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam dan Sekulerisme. ISTAC.
Arifin, S., Mughni, S. A., & Nurhakim, M. (2022). The Idea of Progress: Meaning and
Implications of Islam.
Aziz, A. (2017). Ilmu Dakwah. Kencana.
Dias, H. P. (2024). Islam Berkemajuan Perspektif Haedar Nashir. Journal Cognitive
and Progressive Abilities, 3(3), 157-166.
Fukuyama, M. (2018). Society 5.0; Aiming for a New Human Centered. Japan
Spotlight, 47-50.
Ghallusy, A. bin A. (1987). Ad-Da'wah al-Islamiyah. Al-Syarikah al-Alamiyah lil Kitab.
Hosen, N. (2024, Maret 31). Tabayyun. UIN Alauddin Makassar.
Kusnawan, A. (2019). Teknik Menulis Dakwah. Digital Library UIN Sunan Gunung
Djati Bandung.
Nashir, H. (2017). Moderasi Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah.
Nasrullah, R. (2017). Komunikasi Antarbudaya di Era Digital. Simbiosa Rekatama
Media.
Qahthani, S. bin A. bin W. A. (2003). Al-Hikmah fi ad-Da'wah Ilallah Ta'ala.
Rohman, Z. N. (2022). Manfaat Media.
Sutisna. (2022). Dakwah di Era Digital.
Tahir, M. (2012). Luqman al-Hakim: Nasihat-Nasihatnya.
Yunihardi. (2022). Dakwah Islam di Era Masyarakat 5.0: Peluang dan Tantangan. Al-
Qaul: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 1(1), 29-42.
Works cited
1. Al-Qaul : Jurnal Dakwah dan Komunikasi DAKWAH ISLAM DI ERA ...,
accessed September 30, 2025,
https://ejurnal.iiq.ac.id/index.php/alqaul/article/download/440/258/
2. DAKWAH DIGITAL DAN GENERASI MILENIAL - Berugak Jurnal UIN
Mataram, accessed September 30, 2025,
https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/tasamuh/article/download/21
51/1192/5315
42
3. (PDF) Dakwah Muhammadiyah Di-Era Digital Bagi Kalangan Milenial -
ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/359019076_Dakwah_Muham
madiyah_Di-Era_Digital_Bagi_Kalangan_Milenial
4. Manajemen Dakwah Di Dalam Era Society 5.0 - Official Site of IAINU
Tuban Journal, accessed September 30, 2025,
http://ejournal.iainutuban.ac.id/index.php/aswalalita/article/download/23
5/196/
5. TANTANGAN DAKWAH MUHAMMADIYAH DI ERA SEKARANG -
Prosiding UMS Final.indd, accessed September 30, 2025,
https://proceedings.ums.ac.id/lppik/article/download/3926/3577/6056
6. Tantangan Muhammadiyah dalam Inovasi Pendidikan Islam :
Menyongsong Era Digitalisasi dengan Pengetahuan yang Berkualitas |
Moral, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.aripafi.or.id/index.php/Moral/article/view/572
7. 2580-7811 e.issn: 2775-1775 HUJJAH: Jurnal Ilmiah Komunikasi ...,
accessed September 30, 2025,
https://jurnal.unugha.ac.id/index.php/hjh/article/download/1432/799/
8. (PDF) Dakwah Digital Dalam Penyebaran Nilai-Nilai Islam di Era Digital -
ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/384546306_Dakwah_Digital_
Dalam_Penyebaran_Nilai-Nilai_Islam_di_Era_Digital
9. PERSPEKTIF FIQH DALAM DAKWAH Penulis - Perpustakaan, accessed
September 30, 2025, https://perpustakaan.iaiskjmalang.ac.id/wp-
content/uploads/2023/08/15-Perspektif-Fiqh-dalam-Dakwah-.pdf
10. Gaya Komunikasi Dakwah Era Digital: Kajian Literatur - Jurnal, accessed
September 30, 2025, https://journal-
stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept/article/download/1081/1104
11. Peran Dakwah Digital dalam Menyebarkan Pesan Islam di Era Modern -
Jurnal Unisai, accessed September 30, 2025,
https://www.ejournal.unisai.ac.id/index.php/jian/article/download/842/68
2/3426
12. HADIS-HADIS TENTANG KEUTAMAAN DAKWAH - OSF, accessed
September 30, 2025, https://osf.io/fvjah/download/?format=pdf
13. Hadits Pendek Tentang Dakwah | PDF - Scribd, accessed September 30,
2025, https://id.scribd.com/document/833650249/Hadits-Pendek-
tentang-Dakwah
14. Tafsir Surah An-Nahl - 125 - Quran.com, accessed September 30, 2025,
https://quran.com/16:125/tafsirs/en-tafsir-maarif-ul-quran
43
15. Tafsir Surah Al Imran: Family of Imran Verses 104 & 105 - The Ummah -
Quran Garden, accessed September 30, 2025,
https://www.qurangarden.com/content.php?content=r&id=483
16. Tafsir Surah an-Nahl Ayat 125 (Peringkat Cara Dakwah), accessed
September 30, 2025, https://celiktafsir.net/2024/02/22/nahl-ayat-125/
17. Tafsir Surat Ali Imran Ayat 104: Apa Itu Amar Makruf? - Islami[dot]co,
accessed September 30, 2025, https://islami.co/tafsir-surat-ali-imran-
ayat-104-apa-itu-amar-makruf/
18. Tafsir Surat Ali-'Imran ayat 104 | Learn Quran Tafsir, accessed
September 30, 2025, https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-3-al-
'imran/ayat-104
19. penafsiran 'amr dan nahyi dalam surat 'ali imra>n ayat 104, accessed
September 30, 2025,
https://digilib.uinsgd.ac.id/30688/1/artikel%20fiks%203.pdf
20. Surat Ali Imran Ayat 104: Arab, Latin, dan Terjemahan - Detikcom,
accessed September 30, 2025,
https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7618122/surat-ali-imran-
ayat-104-arab-latin-dan-terjemahan
21. Surat Ali 'Imran Ayat 104 - Tafsirq.com, accessed September 30, 2025,
https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-104
22. Ini Hadits yang Jelaskan Umat Islam Wajib Berdakwah - detikcom,
accessed September 30, 2025,
https://www.detik.com/hikmah/dakwah/d-6364850/ini-hadits-yang-
jelaskan-umat-islam-wajib-berdakwah
23. (PDF) MUBALLIGH IN THE DIGITAL AGE BASED ON INSIGHTS FROM
INDONESIAN PHENOMENA: LEVERAGING DIGITAL LEARNING FOR THE
PROMOTION OF ISLAMIC VALUES - ResearchGate, accessed
September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/382106828_MUBALLIGH_IN_T
HE_DIGITAL_AGE_BASED_ON_INSIGHTS_FROM_INDONESIAN_PHENO
MENA_LEVERAGING_DIGITAL_LEARNING_FOR_THE_PROMOTION_OF_I
SLAMIC_VALUES
24. bab iii fatwa majlis tarjih dan tajdid muhammadiyah muhammadiyah,
accessed September 30, 2025,
https://eprints.walisongo.ac.id/637/4/082311059_bab3.pdf
25. Makalah Fiqih Dakwah | PDF - Scribd, accessed September 30, 2025,
https://id.scribd.com/document/395459373/MAKALAH-FIQIH-
DAKWAH-docx
26. (PDF) buku Fiqih Dakwah - ResearchGate, accessed September 30,
44
2025,
https://www.researchgate.net/publication/393900837_buku_Fiqih_Dakw
ah
27. islam berkemajuan : perspektif haidar nasir - Jurnal Universitas Pahlawan
Tuanku Tambusai, accessed September 30, 2025,
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/download/
29579/20103
28. (PDF) Islam Berkemajuan Perspektif Haedar Nashir - ResearchGate,
accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/383174115_Islam_Berkemajua
n_Perspektif_Haedar_Nashir
29. Progressive Cognitive and Ability Islam Berkemajuan Perspektif ...,
accessed September 30, 2025,
https://journals.eduped.org/index.php/jpr/article/download/1072/687
30. Dasar Pemikiran Islam Berkemajuan Muhammadiyah 1912-1923 TESIS -
Repositori UIN Alauddin Makassar, accessed September 30, 2025,
http://repositori.uin-alauddin.ac.id/1753/1/Hamzah%20F.pdf
31. Muhammadiyah Berkemajuan: Najib Burhani Prespektif - Innovative:
Journal Of Social Science Research, accessed September 30, 2025,
https://j-
innovative.org/index.php/Innovative/article/download/12709/8598/21064
32. MANHAJ TARJIH DAN METODE PENETAPAN HUKUM DALAM TARJIH
MUHAMMADIYAH, accessed September 30, 2025,
https://lpsi.uad.ac.id/manhaj-tarjih-dan-metode-penetapan-hukum-
dalam-tarjih-muhammadiyah/
33. MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH, accessed September 30, 2025,
https://tarjih.or.id/wp-content/uploads/2021/04/Manhaj-Tarjih-
Muhammadiyah-oleh-Drs.-Dahwan-M.Si_..pdf
34. Manhaj Tarjih Muhammadiyah | Muhammadiyah Jateng, accessed
September 30, 2025, https://pwmjateng.com/manhaj-tarjih-
muhammadiyah/
35. Studi Atas Manhaj Tarjih Muhammadiyah dan Aplikasinya dalam Istinbath
Hukum - Penerbit, accessed September 30, 2025,
https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/kamaya/article/downloa
d/3132/1434/10486
36. 3 Muhammadiyah dan Fenomena Radikalisme - Terorisme Di
Indonesia.pdf - Digilib UIN Suka, accessed September 30, 2025,
https://digilib.uin-
suka.ac.id/35820/1/3%20Muhammadiyah%20dan%20Fenomena%20Rad
45
ikalisme%20-%20Terorisme%20Di%20Indonesia.pdf
37. Pemahaman Terhadap Hadis Maudhu: Analisis Terhadap Kredibilitas
Sumber dan Implikasinya dalam Penyelidikan Hadis | Indonesian Journal
of Multidisciplinary Scientific Studies, accessed September 30, 2025,
https://ojs.staira.ac.id/index.php/IJOMSS/article/view/210
38. Hadits Maudhu' dan Hukum Mengamalkannya - Neliti, accessed
September 30, 2025,
https://www.neliti.com/publications/349040/hadits-maudhu-dan-
hukum-mengamalkannya
39. View of Hadits Maudhuâ dan Hukum Mengamalkannya - Rumah Jurnal
IAI YPBWI Surabaya, accessed September 30, 2025, https://journal.stai-
ypbwi.ac.id/index.php/elbanat/article/view/9/8
40. Hadis Dhaif dan Hukum Mengamalkannya - E-Journal IAIKU Blora,
accessed September 30, 2025,
https://ejournal.iaikhozin.ac.id/ojs/index.php/al-
bayan/article/download/58/36
41. Mengamalkan Hadis Dhaif - Rumah Fiqih Indonesia, accessed
September 30, 2025, https://www.rumahfiqih.com/konsultasi/621
42. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif dalam Fadhail A'mal, accessed
September 30, 2025, https://e-
journal.uac.ac.id/index.php/altsiq/article/download/159/114/
43. Strategi Dakwah Muhammadiyah di Era Digitalisasi : Inovasi dan
Tantangan - Jurnal, accessed September 30, 2025, https://journal-
stiayappimakassar.ac.id/index.php/srj/article/view/1407
44. LITERASI DIGITAL: FONDASI DASAR DAKWAH DALAM MEDIA ...,
accessed September 30, 2025, https://ejournal.uin-
suka.ac.id/dakwah/jurnaldakwah/article/download/2341/1685
45. (PDF) URGENSI LITERASI DIGITAL BAGI SANTRI MILENIAL DI PONDOK
PESANTREN RAHMATUTTHOYIBAH AL IFLAHAH GUNUNG KALER
TANGERANG - ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/350691187_URGENSI_LITERA
SI_DIGITAL_BAGI_SANTRI_MILENIAL_DI_PONDOK_PESANTREN_RAHMA
TUTTHOYIBAH_AL_IFLAHAH_GUNUNG_KALER_TANGERANG
46. Literasi Dakwah Digital pada Akun Media Sosial
InstagramNahdlatulUlama @nuonline_id, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/meyarsa/article/download/10
817/4043/
47. komunikasi dakwah dalam budaya digital melalui instagram @siberkreasi
untuk meningkatkan kualitas - Masjiduna : Junal Ilmiah Stidki Ar-Rahmah,
46
accessed September 30, 2025,
https://ejournal.stidkiarrahmah.ac.id/index.php/MASJIDUNA/article/dow
nload/213/219
48. Urgensi Peningkatan Kualitas Literasi Keislaman Melalui Digitalisasi (Studi
Pada Followers Tiktok Da’i Muda Husain Basyaiban | Jurnal Dakwah
dan Komunikasi, accessed September 30, 2025,
https://journal.iaincurup.ac.id/index.php/JDK/article/view/7335
49. MENCEGAH RADIKALISME MELALUI MEDIA SOSIAL HOW TO PREVENT
RADICALISM THROUGH SOCIAL MEDIA, accessed September 30, 2025,
https://jkd.komdigi.go.id/index.php/mkm/article/view/4521/1596
50. TABAYYUN (Nadirsyah Hosen) - UIN Alauddin Makassar, accessed
September 30, 2025, https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/tabayyun-
nadirsyah-hosen-0324
51. Surah Al-Hujurat Ayat 6, Perintah Bertabayyun dan Mencari ..., accessed
September 30, 2025, https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-
7345762/surah-al-hujurat-ayat-6-perintah-bertabayyun-dan-mencari-
kebenaran
52. Klarifikasi, Tabayyun - STAI DI Al-Hikmah, accessed September 30, 2025,
https://alhikmah.ac.id/klarifikasi-tabayyun/
53. TABAYYUN DAN HUKUMNYA SEBAGAI PENANGGULANGAN BERITA
HOAX DI ERA DIGITAL DALAM PERSPEKTIF FIQIH, accessed September
30, 2025, http://repository.uin-malang.ac.id/6001/1/6001.pdf
54. Budayakan Tabayyun | PDF | Politik | Ilmu Sosial - Scribd, accessed
September 30, 2025,
https://id.scribd.com/document/416239419/Budayakan-Tabayyun-docx
55. TABAYYUN DALAM AL-QUR'AN (Kajian Tah{li>li> terhadap QS al-
H{ujura>t/49: 6) - Repositori UIN Alauddin Makassar, accessed
September 30, 2025, https://repositori.uin-
alauddin.ac.id/14360/1/Gunawan_30300111019.pdf
56. Ujaran Kebencian Dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tematik/Maudhû'i),
accessed September 30, 2025, https://jurnal.stikes-
ibnusina.ac.id/index.php/IHSANIKA/article/download/501/478/1819
57. Larangan Ujaran Kebencian - Al-Rasikh, accessed September 30, 2025,
https://alrasikh.uii.ac.id/2024/05/24/larangan-ujaran-kebencian/
58. Ujaran Kebencian Dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tematik/Maudhû'i) Tesis
- repository ptiq, accessed September 30, 2025,
https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/1250/1/2023-M.%20YAHYA-
2020.pdf
59. MEMBINCANG KEBURUKAN ORANG LAIN: Pandangan al-Qur'an dan
47
Hadis, accessed September 30, 2025, https://ih.iainkudus.ac.id/berita-
1193-.html
60. UJARAN KEBENCIAN DALAM PERSPEKTIF HADITS NABI | Website IAIN
Kendari, accessed September 30, 2025,
https://iainkendari.ac.id/content/detail/ujaran_kebencian_dalam_perspek
tif_hadis_nabi
61. View of Alam Digital Muhammadiyah Dakwah Islam Washatiyah
Berkemajuan - MAARIF Institute, accessed September 30, 2025,
https://jurnal-maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/64/35
62. Alam Digital Muhammadiyah Dakwah Islam Washatiyah Berkemajuan -
MAARIF Institute, accessed September 30, 2025, https://jurnal-
maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/64
63. Alam Digital Muhammadiyah Dakwah Islam Washatiyah Berkemajuan -
ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/345423292_Alam_Digital_Muh
ammadiyah_Dakwah_Islam_Washatiyah_Berkemajuan
64. Penguatan Dakwah Islam Wasathiyah di Media Sosial - Suara
Muhammadiyah, accessed September 30, 2025,
https://web.suaramuhammadiyah.id/2021/09/25/penguatan-dakwah-
islam-wasathiyah-di-media-sosial/
65. Islam Wasathiyah dalam Dakwah Digital dan Era Post-Truth, accessed
September 30, 2025, https://suaramuhammadiyah.id/read/islam-
wasathiyah-dalam-dakwah-digital-dan-era-post-truth
66. STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH DALAM MENGHADAPI
RADIKALISME AGAMA MELALUI MODERASI BERAGAMA | Hujjah: Jurnal
Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam, accessed September 30, 2025,
https://jurnal.unugha.ac.id/index.php/hjh/article/view/1432
67. Praktik Moderasi Muhammadiyah melalui Media Online, accessed
September 30, 2025, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/praktik-
moderasi-muhammadiyah-melalui-media-online
68. (PDF) Manajemen Media Digital Muhammadiyah Melalui Akun ...,
accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/373371835_Manajemen_Medi
a_Digital_Muhammadiyah_Melalui_Akun_Instagram_lensamu
69. Analisis Konten Visual Post Instagram @Lensamu dalam Dakwah ...,
accessed September 30, 2025,
https://journalaudiens.umy.ac.id/index.php/ja/article/view/251
70. Retorika Persuasi Khatib Khutbah Jumat di Masjid Al-Khaer Kabupaten
Gowa - Universitas Negeri Makassar, accessed September 30, 2025,
48
https://ojs.unm.ac.id/societies/article/viewFile/43692/20260
71. Retorika dan Narasi Dakwah bagi Pemula - Repository UIN Mataram,
accessed September 30, 2025,
https://repository.uinmataram.ac.id/544/1/RETORIKA%20DAKWAH.pdf
72. RETORIKA KHATIB DALAM PENYAMPAIAN KHUTBAH JUM'AT Jurnal
Dakwah dan Ilmu Komunikasi - Scholar UIN IB, accessed September 30,
2025,
https://scholar.uinib.ac.id/1371/1/Retorika%20khatib%20dalam%20penya
mpaian%20khutbah%20jum%E2%80%99at.pdf
73. Gaya Bahasa Khutbah Jum'at (Kajian Pola Retorika) - University of
Darussalam Gontor Journal Online, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tadib/article/view/507/446
74. BAB II KAJIAN PUSTAKA - IAIN Kudus Repository, accessed September
30, 2025, http://repository.iainkudus.ac.id/6275/5/5.%20BAB%20II.pdf
75. Bagaimana tata cara khutbah Jum'at secara syar'i?, accessed
September 30, 2025, https://www.jembermu.com/2016/10/tata-cara-
khutbah-jumat.html
76. Tuntunan Khutbah Jumat - SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta,
accessed September 30, 2025,
https://smamuhammadiyah2yk.sch.id/webnew/page/mimbar?id=107
77. Syarat dan Rukun Khutbah Jumat dalam Islam beserta Sunnah dan Tata
caranya - detikcom, accessed September 30, 2025,
https://www.detik.com/sulsel/berita/d-7230253/syarat-dan-rukun-
khutbah-jumat-dalam-islam-beserta-sunnah-dan-tata-caranya
78. Tuntunan, Syarat dan Rukun Khutbah Jumat agar Sah - Gramedia,
accessed September 30, 2025,
https://www.gramedia.com/literasi/tuntunan-syarat-dan-rukun-
khutbah-jumat/
79. 5 Rukun Khutbah Jumat Beserta Syaratnya, Muslim Catat Ya! - detikcom,
accessed September 30, 2025,
https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7063451/5-rukun-khutbah-
jumat-beserta-syaratnya-muslim-catat-ya
80. Safinatun Naja: Aturan Shalat Jumat dan Khutbah Jumat -
Rumaysho.Com, accessed September 30, 2025,
https://rumaysho.com/31804-safinatun-naja-aturan-shalat-jumat-dan-
khutbah-jumat.html
81. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komponen Dakwah Dakwah
berhubungan erat dengan sumber, subjek, dan objek dakwahnya, maka
peneliti m, accessed September 30, 2025,
49
https://digilib.stituwjombang.ac.id/171/7/2020112014285_bab%202.pdf
82. URGENSI PENELITIAN DALAM KEBERHASILAN DAKWAH - Rumah Jurnal
IAIN Padangsidimpuan., accessed September 30, 2025,
https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/F/article/download/772/680
83. MATERI DAKWAH DAN KEBUTUHAN MAD'U (Studi Kasus pada Majelis
Taklim Nurul Qulub di Kecamatan Baguala Kota Ambon) TESIS Diajuka,
accessed September 30, 2025, http://repositori.uin-
alauddin.ac.id/5810/1/Baiti%20Renel.pdf
84. ANALISIS EFEKTIFITAS DAKWAH - UUM Electronic Theses and
Dissertation [eTheses], accessed September 30, 2025,
https://etd.uum.edu.my/9028/1/s94205_01.pdf
85. METODE PENELITIAN DAKWAH - Repositori UIN Alauddin Makassar,
accessed September 30, 2025, http://repositori.uin-
alauddin.ac.id/405/1/Nurhidyat%20Muh.%20Said.pdf
86. Kalimat Fakta: Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Contoh, Dan Cara ..., accessed
September 30, 2025, https://www.gramedia.com/literasi/kalimat-fakta/
87. Petunjuk Maktabah Syamilah | Situsnya Abdul Wahab - SitusWahab,
accessed September 30, 2025,
https://situswahab.wordpress.com/petunjuk-maktabah-syamilah/
88. Takhrij maktabahsyamilah | PDF - Slideshare, accessed September 30,
2025, https://www.slideshare.net/slideshow/takhrij-maktabahsyamilah-
50232359/50232359
89. Panduan-Maktabah-Syamilah.pdf, accessed September 30, 2025,
https://msaa.uin-malang.ac.id/wp-content/uploads/2019/11/Panduan-
Maktabah-Syamilah.pdf
90. Tugas 9 Tatacara Maktabah Syamilah - Aim Matul Azizah - 214110402135
- 3 PAI C - Scribd, accessed September 30, 2025,
https://id.scribd.com/document/629930873/Tugas-9-Tatacara-
Maktabah-Syamilah-Aim-Matul-Azizah-214110402135-3-PAI-C
91. Cara Mengguanakan Maktaba Syamillah | PDF | Karier ... - Scribd,
accessed September 30, 2025,
https://id.scribd.com/document/499441394/CARA-MENGGUANAKAN-
MAKTABA-SYAMILLAH
92. Mencari Perawi Menggunakan Maktabah Syamilah | Tonton guna
desktop atau laptop untuk lebih jelas., accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=lcUiaWfQzKQ
93. Cek Status Hadis Menggunakan Dorar-Net | PDF - Scribd, accessed
September 30, 2025, https://id.scribd.com/document/663914360/Cek-
Status-Hadis-Menggunakan-Dorar-Net
50
94. Laman Web Dorar.net Untuk Mencari Status Hadis. Part 1. - YouTube,
accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=pvdb9oLCMuM
95. Main Page, accessed September 30, 2025, https://dorar.net/en
96. Takhrij Hadis Menggunakan Al-Mausuah Al-Haditsiyah (dorar.net) -
YouTube, accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=jEB6jEUNv0Q
97. How are Hadith Checked? A Practical Demonstration - YouTube,
accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=sm5d6DlkG-A
98. Untitled - Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, accessed
September 30, 2025,
https://digilib.uinsgd.ac.id/16138/1/Aep_Kusnawan%2C_Teknik_Menulis_
Dakwah.pdf
99. Menulis Naskah Dakwah - Flip eBook Pages 1-50 | AnyFlip, accessed
September 30, 2025, https://anyflip.com/uaglw/uxwe/basic
100. 3 Cara Jadi Penulis Konten Dakwah Menarik Dengan Kursus - Majelis
Info, accessed September 30, 2025, https://majelis.info/kursus-jadi-
penulis-konten-dakwah-publikasi-media/
101. Pedoman Penulisan Berita | DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual,
accessed September 30, 2025,
https://www.dakwahpos.com/p/pedoman-penulisan-berita-dakwah-
pos.html
102. Menulis Caption Dan Naskah Dakwah Di Media Sosial Dengan Desain
Menarik - ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/394760517_Dakwah_Melalui_
Media_Sosial_Menulis_Caption_Dan_Naskah_Dakwah_Di_Media_Sosial_
Dengan_Desain_Menarik
103. © 2021 Jurnalisme Dakwah di Media Online (Framing Rubrik Feature
Hidayatullah.com) A B S T R A K A B S T R A C T, accessed September 30,
2025, https://ejournal.uin-
suka.ac.id/dakwah/kjc/article/download/2300/1619/6306
104. Mengoptimalkan Penggunaaan SEO untuk Meningkatkan Pejualan
secara Online, accessed September 30, 2025,
https://ugm.ac.id/id/berita/mengoptimalkan-penggunaaan-seo-untuk-
meningkatkan-pejualan-secara-online/
105. Panduan SEO untuk Pemasaran Konten: Strategi dan Teknik - Yusuf
Hidayatulloh, accessed September 30, 2025,
https://www.yusufhidayatulloh.com/panduan-seo-untuk-pemasaran-
51
konten-strategi-dan-teknik/
106. osf.io, accessed September 30, 2025, https://osf.io/cj5su/download
107. STRATEGI DAKWAH DIGITAL DALAM MENINGKATKAN VIEWERS DI
CHANNEL YOUTUBE JEDA NULIS | Request PDF - ResearchGate,
accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/362654549_STRATEGI_DAKW
AH_DIGITAL_DALAM_MENINGKATKAN_VIEWERS_DI_CHANNEL_YOUTU
BE_JEDA_NULIS
108. STRATEGI PENGELOLAAN MEDIA DAKWAH DIGITAL : STUDI PADA
AKUN INSTAGRAM @surabayamengaji SKRIPSI - Digilib UIN Sunan Ampel
Surabaya, accessed September 30, 2025,
http://digilib.uinsa.ac.id/57500/3/Muh%20Ansyori_B71218072.pdf
109. Strategi dan Media Dakwah di Era Digital - Hijratunaa, accessed
September 30, 2025, https://hijratunaa.com/strategi-dan-media-
dakwah-di-era-digital/
110. REPRESENTASI TAKWA DALAM BANNER DAKWAH RAMADHAN -
Journal Unindra, accessed September 30, 2025,
https://journal.unindra.ac.id/index.php/hnr/article/download/944/1069
111. TEKNIK DESAIN KOMUNIKASI VISUAL PADA KONTEN DAKWAH DI AKUN
INSTAGRAM @Santrendelik - UIN Walisongo, accessed September 30,
2025,
https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/21542/1/1701026136_AHMAD%2
0THOHIR%20SABILUR%20ROSYAD_Full%20Skripsi.pdf
112. ANALISIS DESAIN KOMUNIKASI VISUAL DAKWAH PADA AKUN
INSTAGRAM @NUONLINEJATIM SEBAGAI MEDIA DAKWAH DI ERA
DIGITAL, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.unsuda.ac.id/index.php/an-
nashiha/article/download/302/296/914
113. Dakwah Visual: Ekspresi Keimanan Seorang Muslim dalam Poster Digital
- ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/356607318_Dakwah_Visual_E
kspresi_Keimanan_Seorang_Muslim_dalam_Poster_Digital
114. 7 Prinsip Dasar Desain Grafis Lengkap dengan Unsur-Unsurnya,
accessed September 30, 2025,
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5838921/7-prinsip-dasar-
desain-grafis-lengkap-dengan-unsur-unsurnya
115. PENERAPAN PRINSIP DESAIN DALAM ELEMEN GRAFIS PADA ILUSTRASI
GAMBAR BERITA UTAMA SURAT KABAR TRIBUN JAMBI OLEH, accessed
September 30, 2025, https://repository.uin-
52
suska.ac.id/7927/1/2013_201393KOM.pdf
116. Canva: AI Photo & Video Editor - Apps on Google Play, accessed
September 30, 2025,
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.canva.editor
117. CHURCH FLYER DESIGN | CANVA TUTORIAL - YouTube, accessed
September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=woJOsAsyRJU
118. Cara Edit Video Ceramah Motivasi Islam Di Capcut Pc Untuk Pemula -
YouTube, accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=jYL-FZVTUhc
119. Cara Membuat Video Tiktok Dakwah Ceramah Pendek - YouTube,
accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=EiRKviNcU0A
120. BIKIN KONTEN SHORTS ISLAMI PAKE CANVA TERNYATA SEMUDAH INI !
CARA MEMBUAT KONTEN SHORTS DI CANVA - YouTube, accessed
September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=wY4gruoWW0E
121. 5 Cara Membuat Konten Dakwah yang Bagus dan Menarik di berbagai
Media Sosial, accessed September 30, 2025,
https://chanelmuslim.com/tips/5-cara-membuat-konten-dakwah-yang-
bagus-dan-menarik-di-media-sosial
122. 20 Ide Konten Islami Serta Contohnya di Youtube dan Tiktok -
Accesstrade, accessed September 30, 2025,
https://accesstrade.co.id/blogs/social-media/ide-angle-konten-islami-
yang-banyak-peminatnya
123. 7 Tips Terbaik untuk Membuat Video TikTok - TikTok Ads, accessed
September 30, 2025,
https://ads.tiktok.com/business/library/Top_Tips_SMB_ID.pdf
124. Muhammadiyah Channel - YouTube, accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/user/mchannel1912/streams
125. Muhammadiyah Channel - YouTube, accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/channel/UCVvgJXxcJ20rhR8tcjY77jQ
126. STRATEGI DAKWAH MEDIA SOSIAL TIKTOK TV MUHAMMADIYAH ...,
accessed September 30, 2025, https://etd.umy.ac.id/id/eprint/51929/
127. Muhammadiyah's Digital Preachers Strengthen Transformational
Preaching - YouTube, accessed September 30, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=ulAMX_1iHoU
128. [LIVE] Muhammadiyah Studies Talk #2 | Strategi Pembinaan Kader dan
Jamaah Muhammadiyah | PWM Sulsel - YouTube, accessed September
53
30, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=ahIUZh0b8Ok
129. Panduan Optimasi SEO untuk Konten di YouTube - Blog UNMAHA,
accessed September 30, 2025, https://blog.unmaha.ac.id/panduan-
optimasi-seo-untuk-konten-di-youtube/
130. Tips thumbnail & judul - Bantuan YouTube, accessed September 30,
2025, https://support.google.com/youtube/answer/12340300?hl=id
131. Tips Optimasi Thumbnail YouTube untuk Meningkatkan CTR Video - IDS |
BTEC, accessed September 30, 2025, https://idseducation.com/tips-
optimasi-thumbnail-youtube/
132. Bagaimana Cara Optimasi Thumbnail & Judul Agar Video Muncul di
Pencarian & Mudah Ditemukan YouTube - Google Help, accessed
September 30, 2025, https://support.google.com/youtube/community-
video/300007543/bagaimana-cara-optimasi-thumbnail-judul-agar-
video-muncul-di-pencarian-mudah-ditemukan-youtube?hl=id
133. SEO Youtube: Panduan “Best Practice” untuk Pemula (2021) - Jogjahost,
accessed September 30, 2025, https://www.jogjahost.co.id/blog/seo-
youtube/
134. 5 Tips Meningkatkan SEO YouTube Agar Konten Video Anda Naik
Peringkat, accessed September 30, 2025,
https://bithourproduction.com/blog/tips-meningkatkan-seo-youtube-2/
135. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Sebagai Strategi Dakwah ...,
accessed September 30, 2025,
https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/Tadbir/article/download/11663/
5727
136. Peran Teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam Memperkuat Dakwah
Islam di Era Digital - APPISI, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.appisi.or.id/index.php/Dialogika/article/download/561/421
/2737
137. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Sebagai Strategi Dakwah: Analisis
peluang dan Tantangan - ResearchGate, accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/390962319_Pemanfaatan_Arti
ficial_Intelligence_AI_Sebagai_Strategi_Dakwah_Analisis_peluang_dan_T
antangan
138. Artificial Intelligence dalam Kacamata Islam: Menjaga ..., accessed
September 30, 2025,
https://www.kompasiana.com/raufabdul4222/66c25c4434777c12c04a31
72/artificial-intelligence-dalam-kacamata-islam-menjaga-
keseimbangan-antara-kemajuan-teknologi-dan-nilai-nilai-
syariah?page=all&page_images=1
54
139. Artificial Intelligence (AI) dalam Perspektif Agama dan Etika: Implikasi,
Peluang, dan Tantangan - Program Pascasarjana, accessed September
30, 2025, https://pasca.uit-lirboyo.ac.id/artificial-intelligence-ai-dalam-
perspektif-agama-dan-etika-implikasi-peluang-dan-tantangan/
140. Etika Islam Dalam Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Mencapai
Studi Islam Yang Modern dan Berorentasi Pada Kemanusiaan - Rumah
Jurnal UIN Datokarama Palu, accessed September 30, 2025,
https://jurnal.uindatokarama.ac.id/index.php/kiiies50/article/view/4260
141. Manajemen Pendidikan Islam dan AI: Peluang dan Tantangan - Jurnal
Alasma, accessed September 30, 2025,
https://jurnalstitmaa.org/index.php/alasma/article/download/101/93/192
142. Adab Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Keilmuan: Tinjauan
Kitab Adabul Alim Wal Muta'allim - ResearchGate, accessed September
30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/391547256_Adab_Penggunaa
n_Artificial_Intelligence_AI_dalam_Keilmuan_Tinjauan_Kitab_Adabul_Ali
m_Wal_Muta'allim
143. Kecerdasan Buatan dan Fatwa Ijma: Perspektif Islam Terhadap Inovasi
Modern - Jurnal, accessed September 30, 2025,
https://ejournal.uiidalwa.ac.id/index.php/aijis/article/download/1902/870/
9452
144. Etika Penggunaan Prompt Kecerdasan Buatan (AI) - UM Journal,
accessed September 30, 2025,
https://ejournal.um.edu.my/index.php/JUD/article/download/60981/1857
5/174118
145. STRATEGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING CYBER ..., accessed
September 30, 2025,
https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/article/download/397/3
25/1068
146. Model aplikasi cybercounseling Islami berbasis website meningkatkan
self-regulated learning - UNY Journal - | Universitas Negeri Yogyakarta,
accessed September 30, 2025,
https://journal.uny.ac.id/index.php/jitp/article/view/34225
147. Cyber Counseling Berbasis Nilai Agama sebagai Upaya
Mengembangkan Kesehatan Mental Remaja di Era Vuca - Semantic
Scholar, accessed September 30, 2025,
https://pdfs.semanticscholar.org/486f/4aef656fd44ba2b951ff9829b65f
b494797b.pdf
148. i BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN CYBERCOUNSELING
55
DALAM MENANGANI DILEMA REMAJA UNTUK MEMILIH PASANGAN
HIDUP DI TAWANG SARI, accessed September 30, 2025,
http://digilib.uinsa.ac.id/9782/50/Ririn%20Alimuzdalifah%20Aisah_B0320
8039.pdf
149. volume 7 issue 1 januari 2024 jurnal kolaboratif sains 426, accessed
September 30, 2025,
https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/download/4894/35
82
150. Keluarga Sakinah Menurut Quraish Shihab dan Relevansinya dengan
Bimbingan Konseling Keluarga Islam - UIN Walisongo, accessed
September 30, 2025,
https://eprints.walisongo.ac.id/22265/1/1901016044_UKHI%20KHINDARS
IH_FULL_SKRIPSI%20-%20104%20-%20Ukhi%20Khindarsih.pdf
151. PP Aisyiyah Siap Wujudkan Keluarga Sakinah Melalui TOT Konselor
BIKKSA Nasional - Universitas Muhammadiyah Jakarta, accessed
September 30, 2025, https://umj.ac.id/kabar-kampus/2025/01/pp-
aisyiyah-siap-wujudkan-keluarga-sakinah-melalui-tot-konselor-bikksa-
nasional/
152. DAKWAH 'AISYIYAH DALAM PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH |
Samsidar | Al-Muaddib, accessed September 30, 2025, http://jurnal.um-
tapsel.ac.id/index.php/al-muaddib/article/view/5768
153. Kolaborasi Mitra Keluarga dengan Konseling Keluarga 'Aisyiyah ...,
accessed September 30, 2025, https://pcmkotagede.com/kolaborasi-
mitra-keluarga-dengan-konseling-keluarga-aisyiyah-dalam-
pendampingan-keluarga/
154. PP Aisyiyah Siap Wujudkan Keluarga Sakinah Melalui TOT Konselor
BIKKSA Nasional - FIK UMJ - Universitas Muhammadiyah Jakarta,
accessed September 30, 2025, https://fik.umj.ac.id/pp-aisyiyah-siap-
wujudkan-keluarga-sakinah-melalui-tot-konselor-bikksa-nasional/
155. Tips Digital Untuk Orang Tua Menghadapi Generasi Alpha - RRI,
accessed September 30, 2025, https://rri.co.id/daerah/988459/tips-
digital-untuk-orang-tua-menghadapi-generasi-alpha
156. on Islamic Early Childhood Education - Digilib UIN Suka, accessed
September 30, 2025, https://digilib.uin-
suka.ac.id/38804/1/Pengasuhan%20Digital%20untuk%20Anak%20Gene
rasi%20Alpha_OK.pdf
157. Strategi Ampuh Membuat Konten yang Disukai Anak Milenial -
Universitas Alma Ata Yogyakarta, accessed September 30, 2025,
https://almaata.ac.id/strategi-ampuh-membuat-konten-yang-disukai-
56
anak-milenial/
158. 6 Tips Mendidik Gen Alpha jadi Generasi Digital Berprestasi | IDN Times,
accessed September 30, 2025, https://www.idntimes.com/life/family/6-
tips-mendidik-gen-alpha-menjadi-generasi-digital-yang-berprestasi-
01-ynqtc-fg5gys
159. Mendidik Generasi Alfa Secara Islami di Era Digital - RRI, accessed
September 30, 2025, https://rri.co.id/daerah/1681816/mendidik-
generasi-alfa-secara-islami-di-era-digital
160. Membangun Generasi Rabbani Di Era Digital : Panduan Fiqih Dakwah
Untuk Gen Z Dan Gen Alfa Halaman 1 - Kompasiana.com, accessed
September 30, 2025,
https://www.kompasiana.com/sitilatifah0541/67dc5c33c925c41cc86e05
72/membangun-generasi-rabbani-di-era-digital-panduan-fiqih-
dakwah-untuk-gen-z-dan-gen-alfa
161. DAKWAH DISABILITAS - Jurnal Peurawi:Media Kajian Komunikasi Islam,
accessed September 30, 2025, https://jurnal.ar-
raniry.ac.id/index.php/peurawi/article/download/17476/8210
162. (PDF) Implementasi Dakwah Inklusif sebagai Bagian dari ..., accessed
September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/395279045_Implementasi_Da
kwah_Inklusif_sebagai_Bagian_dari_Pendidikan_Islam_bagi_Penyandang
_Disabilitas
163. STRATEGI KOMUNIKASI DAKWAH DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR'AN BRAILLE KAUM DISABILITAS
NETRA (Studi Kasus Pada, accessed September 30, 2025,
https://digilib.uinkhas.ac.id/30028/1/Mohammad%20Rifky%20Reza%20S
alim_203206070007.pdf
164. FASILITASI DAKWAH BIL QALAM PENYANDANG DISABILITAS NETRA
MELALUI PENGELOLAAN WEBSITE KARTUNET.COM - UIN Walisongo,
accessed September 30, 2025,
https://eprints.walisongo.ac.id/25643/1/Skripsi_1901026127_Muhammad
_Amin_Hambali.pdf
165. Inklusi Digital - Home, accessed September 30, 2025,
https://inklusidigital.baktikomdigi.id/
166. Perkuat Dakwah Era Digital, Penyuluh Agama Islam Kepulauan Seribu
Ikuti Pelatihan Konten Inklusif - Kemenag DKI, accessed September 30,
2025, https://dki.kemenag.go.id/berita/perkuat-dakwah-era-digital-
penyuluh-agama-islam-kepulauan-seribu-ikuti-pelatihan-konten-
inklusif-zvtEV
57
167. (PDF) Social Media Management In Islamic Content Production,
accessed September 30, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/391886626_Social_Media_Ma
nagement_In_Islamic_Content_Production
168. Implementasi Fungsi Manajemen dalam Kegiatan Dakwah Menggunakan
Sosial Media di Masjid Al-Musannif Medan | Reslaj, accessed September
30, 2025, https://journal.laaroiba.com/index.php/reslaj/article/view/5239
169. STRATEGI PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL UNTUK PENINGKATAN MUTU
PELAYANAN INFORMASI DI KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BLITAR
SKRIPSI OLEH - etheses UIN, accessed September 30, 2025,
http://etheses.uin-malang.ac.id/62812/1/200106110052.pdf
170. PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL DAKWAH DI ERA DISRUPSI - Jurnal
Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, accessed September 30, 2025,
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/downloa
d/21732/15346/69408
58
https://majelistablighpwmjateng.com/author/kasmui/
171. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/resume-eksekutif-laporan-
penelitian-pemanfaatan-kecerdasan-buatan-dalam-dakwah-islam-
berkemajuan/
172. https://majelistablighpwmjateng.com/berita/riset-eksklusif-website-
majelistablighpwmjateng-com/
173. https://majelistablighpwmjateng.com/khutbah/naskah-khutbah-jumat-
jihad-digital-bersenjata-internet-dan-amunisi-ai/
174. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/aplikasi-al-quran-digital-
terintegrasi-ai/
175. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/prompt-ai-untuk-
menyusun-buku-dengan-mudah-dan-cepat/
176. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/karena-saya-membaca-
maka-saya-menulis-ai-hanya-membantu-mempercepat/
177. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/ai-digital-library-untuk-
riset-dan-dakwah-ke-islaman/
178. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/eksplorasi-materi-al-islam-
menggunakan-generative-artificial-intelligence-genai/
179. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/menyusun-naskah-
khutbah-jumat-artikel-ceramah-dengan-bantuan-ai/
180. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/pengembangan-dakwah-
era-digital/
181. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/muslim-modern-hijrah-
dari-gua-ke-laboratorium-super-komputer/
182. https://majelistablighpwmjateng.com/tuntunan/7-skill-akselerasi-
dakwah-digital/
59
Muslim Modern: Hijrah dari Gua ke Laboratorium Super
Komputer
Pentingnya Literasi Digital Bagi Seorang Muslim
Iqra’ di Era Digital: Membaca, Memaknai, dan Menaklukkan Disrupsi Zaman
Lebih dari 1.400 tahun silam, di sunyinya Gua Hira, turunlah wahyu pertama yang
mengubah arah sejarah dunia: Iqra’. Bukan aturan hukum, bukan ritual ibadah, melainkan
perintah membacasebuah ajakan intelektual yang mengejutkan seorang Nabi yang
ummi, yang bahkan tak bisa membaca dan menulis. Tapi justru di sanalah letak
keagungannya. Iqra’ bukan cuma soal mengeja huruf, tapi mengasah nalar, menelaah
kehidupan, dan menjelajah makna alam semesta.
Kini, kita hidup di era yang tidak kalah mengguncangnya: zaman digital. Bukan lagi hidup
di tengah kelangkaan informasi, melainkan banjir data dan lautan konten tak berujung.
Jika Gua Hira menawarkan kesunyian untuk merenung, era digital menghadirkan
kebisingan notifikasi yang tiada henti. Dan justru di situlah, Iqra’ menemukan relevansi
baru. Ia bukan sekadar warisan spiritual, tapi kompas untuk menavigasi era big data,
literasi digital, dan kecerdasan buatan (AI).
Iqra’: Dari Wahyu Menjadi Piagam Peradaban
Lima ayat awal Surat Al-‘Alaq menyajikan cetak biru bagi kebangkitan peradaban.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”mengaitkan aktivitas intelektual
dengan kesadaran ilahiah. Mempelajari ilmu bukan semata ambisi pribadi, tapi bagian
dari ibadah.
60
Ketika Allah SWT menyebut bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah, itu adalah
pengingat: sehebat apapun ilmu kita, kita tetap berasal dari sesuatu yang lemah. Iqra’
kemudian diulang, disertai dengan jaminan bahwa Tuhan Mahamulia akan
mempermudah jalan pencarian ilmu. Lalu muncullah “qalam” (pena) sebagai simbol
pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang: dari papirus ke kertas, dari mesin tik
ke algoritma.
Dan akhirnya, “Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”sebuah mandat
belajar tanpa henti, lifelong learning. Inilah pesan tersirat: bahwa peradaban Islam
dibangun bukan atas dasar kekuasaan, tapi atas kemajuan ilmu dan adab.
Dua Ayat, Dua Dunia: Membaca Wahyu dan Membaca Alam






















 (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang
mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya (Surat Al-Alaq ayat 1 5).
Ayat-ayat ini adalah seruan universal untuk menuntut ilmu, merenungkan kebesaran
Sang Pencipta, dan menghargai karunia pengetahuan yang diberikan-Nya kepada
manusia. Ini juga menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan
dan pembelajaran sebagai jalan untuk mengenal Allah dan mencapai kemajuan.
Dalam Islam, membaca punya dua dimensi: membaca ayat qauliyah (wahyu) dan
ayat kauniyah (alam semesta). Yang pertama menuntun pada iman, yang kedua
membawa ke sains. Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Ilmu agama dan ilmu dunia bukanlah dua kutub yang berseberangan, tapi dua sisi mata
uang yang saling melengkapi. Ketika Al-Qur’an membicarakan langit dan bumi, bukan
sekadar untuk dikagumi, tapi juga untuk diteliti. Maka membaca bintang bisa sama
mulianya dengan membaca ayatselama niatnya benar.
Inilah yang menjadi landasan etos keilmuan Muhammadiyah: iman yang rasional, dan
ilmu yang spiritual.
61
Literasi Digital: Membaca Ulang dalam Format Baru
Hari ini, membaca tak lagi terbatas pada buku. Kita membaca lewat layar: scrolling,
searching, liking, sharing. Di sinilah literasi digital menjadi tajdid (pembaruan) makna
Iqra’. Tidak cukup bisa membuka laptop, tapi harus mampu memilah informasi,
mengecek hoaks, memproduksi konten, menjaga privasi, dan berjejaring secara etis.
Setiap keterampilan digitaldari memfilter informasi hingga menciptakan kontenpunya
padanannya dalam nilai-nilai Islam. Tabayyun dalam verifikasi informasi. Amar ma’ruf
nahi munkar dalam produksi konten. Hifdz al-‘irdh dalam menjaga data dan identitas
digital. Bahkan praktik “ikatlah ilmu dengan tulisan” kini bisa dilakukan lewat bookmark
dan cloud storage.
Menjadi literat digital adalah wujud menjadi penuntut ilmu yang beradab di zaman ini.
Kalau tidak, kita hanya akan jadi konsumen pasifmembaca tanpa bismi rabbik,
terombang-ambing oleh algoritma tanpa nilai.
62
AI: Pena Digital Abad ke-21
Kalau pena dulu adalah alat tulis, kini ia menjelma menjadi kecerdasan buatan. AI bukan
sekadar teknologi canggih. Ia adalah qalam digital yang mampu menganalisis, menulis,
bahkan berpikir. Ia bisa membaca data, mengenali pola, menerjemahkan bahasa, dan
menciptakan konten. Tapi seperti pisau bermata dua, AI bisa jadi berkah, bisa pula
bencana.
Dalam konteks dakwah, AI membuka peluang besar. Bayangkan asisten Islami virtual
yang bisa menjawab pertanyaan fikih 24/7, sistem pengajaran adaptif berbasis kebutuhan
murid, hingga analisis hadis menggunakan NLP (Natural Language Processing). Di ranah
sosial, AI bisa bantu distribusi zakat lebih tepat sasaran, bantu diagnosis medis di rumah
sakit, hingga bantu desain program pemberdayaan berbasis data.
Namun, AI juga membawa tantangan etis dan teologis: bias algoritma yang bisa
memperkuat diskriminasi, pelanggaran privasi lewat pengawasan digital, dan bahaya
disinformasi lewat deepfake. Lalu muncul pertanyaan sensitif: bagaimana jika AI
mengeluarkan fatwa yang keliru? Siapa yang bertanggung jawab?
Islam butuh pendekatan baru—yang bukan cuma bertanya “halal atau haram?”, tapi
bagaimana merancang AI yang sejalan dengan maqashid syariah. Inilah arena ijtihad
baru yang mendesak untuk dijelajahi.
Muhammadiyah dan Jalan Teknologi Berkemajuan
Muhammadiyah tidak perlu mencari jawaban dari luar. Dalam jati dirinya sendiri sudah
terkandung manhaj yang kokoh: Islam Berkemajuan. Dengan pilar tajdid (pembaharuan)
dan ijtihad, Muhammadiyah punya fondasi untuk menghadapi era teknologi ini.
Tajdid artinya bukan hanya memurnikan akidah dari syirik dan khurafat, tapi juga aktif
mendorong pembaruan di bidang muamalah dan teknologi. Semangat ijtihad mendorong
kreativitas intelektual untuk menjawab isu-isu kontemporerdari etika AI hingga
rekayasa genetika.
Jejak itu sudah dimulai sejak KH Ahmad Dahlan. Beliau membuka sekolah, rumah sakit,
dan panti asuhan sebagai bentuk “membaca zaman”-nya. Kini, generasi penerusnya
harus melanjutkan: dengan membangun pusat AI, mendigitalisasi dakwah, dan
mengintegrasikan literasi digital dalam pendidikan.
Risalah Islam Berkemajuan: Panduan Strategis Zaman Baru
Risalah Islam Berkemajuan yang disahkan dalam Muktamar ke-48 di Surakarta
menegaskan bahwa Islam adalah agama peradaban (din al-hadlarah). Ilmu, teknologi,
dan seni bukanlah unsur asing, tapi sarana dialog antara wahyu dan kenyataan.
63
Umat Islam, dalam misi rahmatan lil ‘alamin, dituntut tidak hanya menjadi moral voice,
tapi juga problem solver. Tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan digital,
atau krisis etika dalam teknologi memerlukan respons yang cerdas dan solutif.
Maka, perintah Iqra’ di zaman ini bukan hanya membaca Al-Qur’an, tapi juga kode
program. Bukan hanya memahami hadis, tapi juga etika algoritma. Umat Islam tidak
cukup jadi pengguna teknologi. Kita harus ikut merancangnyadengan nilai, akhlak, dan
visi peradaban.
Penutup
Perintah Iqra’ bukan dokumen masa lalu. Ia adalah seruan lintas zaman. Di era digital ini,
ia memanggil kita untuk membaca layar dengan kesadaran ruhani, menjelajah data
dengan tanggung jawab moral, dan menaklukkan algoritma dengan nilai-nilai ilahiah.
Sebab, umat yang membaca dengan bismi rabbik, akan selalu menemukan jalan terang
di tengah gelapnya disrupsi.
64
Mimbar Digital: Bagaimana Media Sosial Membentuk
Ulang Otoritas, Spiritualitas, dan Komersialisasi Islam
di Indonesia
Pendahuluan: Dari Mimbar Masjid ke Piksel Gawai, Era Baru Dakwah
Indonesia
Bayangkan sebuah majelis taklim di suatu malam di pelosok Jawa. Suasana khidmat terasa di
sebuah masjid tua, di mana seorang kiai sepuh dengan sorban dan jubahnya duduk di mimbar,
menyampaikan petuah-petuah yang diwariskan melalui sanad keilmuan yang jelas. Jamaahnya,
yang duduk bersila di atas karpet, mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk.
Interaksi bersifat langsung, otoritas terpusat, dan komunitasnya terikat oleh geografi. Ini adalah
gambaran dakwah tradisional yang telah membentuk lanskap keislaman Indonesia selama
berabad-abad.
Sekarang, bandingkan dengan pemandangan yang terjadi jutaan kali setiap hari di seluruh
nusantara. Seorang pemuda di sebuah kafe di Jakarta, dengan earphone terpasang,
menyaksikan klip video berdurasi 60 detik di TikTok. Seorang ustadz muda dengan gaya busana
kasual, menggunakan bahasa sehari-hari yang renyah, memberikan motivasi tentang cara
menghadapi kecemasan finansial. Dengan sekali sentuh, video itu dibagikan ke ratusan
temannya di grup WhatsApp. Di sini, interaksi termediasi, otoritas tersebar, dan komunitasnya
bersifat virtual dan global.
Pergeseran dari mimbar fisik ke piksel gawai ini bukan sekadar perubahan medium. Fenomena
yang dikenal sebagai dakwah digital, yang didorong oleh penetrasi internet dan media sosial
yang masif di Indonesia, merepresentasikan sebuah restrukturisasi fundamental dalam
kehidupan beragama.
1
Ini bukan lagi tentang memindahkan konten lama ke platform baru; ini
adalah tentang bagaimana logika platform digitaldengan algoritmanya, tuntutan akan
viralitas, dan model ekonominyasecara aktif membentuk ulang pesan, sang pembawa pesan,
dan audiensnya. Fenomena ini, yang oleh para akademisi disebut sebagai "mediatisasi" dan
"hipermediasi" agama, telah mengaburkan batas antara praktik spiritual daring dan luring,
menciptakan ruang-ruang hibrida baru bagi ekspresi kesalehan.
3
Laporan komprehensif ini akan membedah fenomena dakwah digital di Indonesia secara
mendalam. Tesis utamanya adalah bahwa revolusi digital telah memicu pergeseran tektonik
yang tidak hanya mendemokratisasi akses terhadap pengetahuan agama, tetapi juga secara
fundamental mengonfigurasi ulang struktur otoritas keagamaan, menumbuhkan bentuk-
65
bentuk kesalehan baru yang berpusat pada individu, dan melahirkan sebuah ekonomi politik
keimanan yang kompleks dan sering kali kontradiktif.
Untuk membuktikannya, laporan ini akan memetakan anatomi lanskap dakwah digital, mulai dari
ekosistem platform hingga psikografi audiens dan anatomi konten viral. Selanjutnya, laporan
ini akan menyajikan profil mendalam dari para aktor utamanyapara pendakwah digital paling
berpengaruhuntuk menganalisis strategi dan sumber daya tarik mereka. Dengan
menggunakan lensa teoretis dari studi agama digital, laporan ini akan mengurai bagaimana
proses mediatisasi dan populisme agama bekerja dalam konteks Indonesia. Analisis kemudian
akan beralih ke dimensi kritis, yaitu ekonomi politik kesalehan, di mana komersialisasi dan
pendangkalan makna menjadi tantangan utama. Terakhir, laporan ini akan menyoroti risiko-
risiko inheren seperti hoaks dan ujaran kebencian, sebelum ditutup dengan serangkaian
rekomendasi strategis bagi para pemangku kepentingan. Inilah potret dakwah di abad ke-21:
dinamis, disruptif, penuh peluang, sekaligus sarat dengan tantangan.
Bab 1: Anatomi Dakwah Digital: Platform, Audiens, dan Konten Viral
Transformasi dakwah di Indonesia tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu membedah tiga
pilar utamanya: ekosistem teknologi yang menopangnya, karakteristik audiens yang
mengonsumsinya, dan jenis konten yang berhasil merebut perhatian di tengah hiruk pikuk
informasi digital. Ketiga elemen ini saling terkait, menciptakan sebuah sistem yang dinamis di
mana preferensi audiens membentuk konten, dan arsitektur platform menentukan bagaimana
konten tersebut menyebar.
Ekosistem Multi-Platform yang Saling Menguatkan
Keberhasilan dakwah digital bukanlah hasil dari satu platform tunggal, melainkan sebuah
ekosistem multi-platform yang bekerja secara simbiosis, di mana setiap platform memainkan
peran yang berbeda namun saling melengkapi.
1
1. YouTube: Arsip dan Pusat Kedalaman Materi. YouTube berfungsi sebagai
"perpustakaan utama" atau arsip dakwah digital. Platform ini ideal untuk konten berdurasi
panjang seperti ceramah lengkap, kajian kitab mendalam, dan sesi tanya jawab yang
komprehensif. Bagi pendakwah seperti Ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul Somad,
kanal YouTube mereka adalah basis utama untuk membangun otoritas keilmuan dan
66
menyediakan sumber rujukan yang dapat diakses kapan saja oleh audiens yang mencari
pemahaman mendalam.
1
2. TikTok dan Instagram Reels: Mesin Viral dan Gerbang Penemuan. Jika YouTube
adalah perpustakaan, maka TikTok dan Instagram Reels adalah etalase depannya.
Platform video pendek ini berfungsi sebagai "mesin viral" dan "gerbang penemuan".
1
Klip-
klip pendek berdurasi 30-90 detik yang berisi kutipan paling kuat, momen paling lucu, atau
nasihat paling menyentuh dari sebuah ceramah panjang di YouTube dipotong dan
disebarkan di sini. Format ini dirancang untuk menarik perhatian dengan cepat dan
mendorong penyebaran yang masif. Sebuah klip yang viral di TikTok sering kali memicu
rasa penasaran audiens untuk mencari versi lengkapnya di YouTube, menciptakan siklus
lalu lintas yang saling menguntungkan.
1
3. Situs Web Resmi dan Portal Berita: Jangkar Otoritas Tekstual. Platform seperti situs
web resmi organisasi (misalnya, NU Online) atau portal berita Islam berfungsi sebagai
sumber otoritatif untuk konten berbasis teks. Di sinilah khotbah Jumat, fatwa resmi, dan
artikel-artikel opini keagamaan dipublikasikan. Platform ini memberikan bobot kredibilitas
dan berfungsi sebagai rujukan formal yang melengkapi konten audiovisual yang lebih
dinamis di media sosial.
1
Ekosistem ini memungkinkan sebuah pesan dakwah untuk "diatomisasi"dipecah menjadi
berbagai format kontenuntuk menjangkau audiens yang berbeda di platform yang berbeda,
memaksimalkan jangkauan dan dampak dari satu materi sumber.
Ummah Digital: Kebutuhan Spiritual Generasi Milenial dan Z
Audiens utama yang membentuk dan mengonsumsi dakwah digital adalah generasi Milenial
dan Gen Z. Sebagai demografi terbesar dan pengguna internet paling aktif di Indonesia,
preferensi dan kebutuhan mereka secara fundamental telah mengubah corak dakwah publik.
1
Pencarian Solusi, Bukan Dogma: Generasi ini cenderung kurang tertarik pada
pembahasan dogma teologis yang abstrak. Sebaliknya, mereka mencari "solusi spiritual"
untuk kegelisahan kontemporer yang sangat nyata dalam hidup mereka: stabilitas
keuangan, kesehatan mental, pencarian jodoh, tekanan pekerjaan, dan isu keadilan sosial.
1
Bagi banyak dari mereka, terutama yang tergolong "generasi sandwich" yang
menanggung beban finansial ganda, dakwah digital berfungsi sebagai bentuk "terapi
spiritual" dan mekanisme koping untuk menghadapi tekanan hidup.
1
Tuntutan akan Otentisitas dan Relevansi: Mereka mendambakan konten yang terasa
otentik, jujur, dan relevan dengan pengalaman hidup mereka. Gaya penyampaian yang
lebih disukai adalah yang santai, humoris, dan dialogis, bukan pendekatan formal,
67
menggurui, dan satu arah.
1
Ekspresi kesalehan di ruang publik digital menjadi cara bagi
mereka untuk menegaskan identitas dan mencari rasa nyaman di dunia yang sering kali
terasa kacau.
5
Preferensi Visual dan Kreatif: Sebagai generasi yang tumbuh di era visual, mereka lebih
mudah terkoneksi dengan konten yang disajikan dalam format kreatif dan menarik secara
visual. Desain grafis yang apik, sinematografi video yang indah, dan narasi yang
menyentuh menjadi kunci untuk menarik dan mempertahankan perhatian mereka.
1
Membedah Anatomi Konten Viral
Analisis terhadap konten dakwah yang paling banyak beredar selama setahun terakhir, dengan
menggunakan kerangka "Skor Viralitas" yang mensintesis jangkauan kuantitatif, keterlibatan
kualitatif, penyebutan di media, dan daya tahan konten, mengungkapkan beberapa tema
dominan yang secara konsisten beresonansi dengan audiens digital.
1
Tabel 1: Analisis Tematik Konten Dakwah Viral
Tema
Konten
Estimasi
Viralitas
Kebutuhan
Inti Audiens
yang
Dipenuhi
Karakteristi
k Utama
Contoh
Representa
tif
Motivasi &
Solusi
Kehidupan
Sehari-
hari
95%
Kebutuhan
emosional
dan
psikologis
untuk
mengatasi
kecemasan
(rezeki,
jodoh,
utang,
kesabaran).
Praktis,
solutif,
memberika
n harapan
dan
ketenangan
. Berfungsi
sebagai
"terapi
spiritual"
dan
mekanisme
koping.
Ceramah
Hanan
Attaki
tentang
"move on",
tips Ustadz
Abdul
Somad
tentang
melunasi
utang.
68
Fikih
Praktis &
Ibadah
Harian
90%
Kebutuhan
akan
panduan
praktis dan
utilitas
dalam
menjalanka
n ibadah.
Konten
"evergreen
" (selalu
relevan),
bersifat
tutorial,
jelas, dan
mudah
diikuti.
Menggantik
an buku
panduan
tradisional.
Video
tutorial
shalat dari
Yufid.TV,
panduan
dzikir pagi-
petang.
Humor
dalam
Dakwah
88%
Kebutuhan
akan
hiburan dan
pendekatan
yang tidak
kaku
terhadap
agama.
Memaduka
n substansi
dengan
gaya
jenaka.
Berfungsi
sebagai
"pelumas
sosial" yang
menurunka
n ambang
psikologis.
Sangat
mudah
dibagikan.
Gaya
ceramah
Ustadz
Das'ad Latif
yang
ceplas-
ceplos dan
lucu.
Momen
Keagamaa
n Musiman
85%
Kebutuhan
untuk
merasakan
makna
spiritual
dalam
pengalama
n kolektif
Terikat
pada
momen-
momen
penting
seperti
Ramadhan,
Idul Fitri,
Renungan
pasca-
Ramadhan
saat Idul
Fitri, kisah
keteladana
n Nabi
Ibrahim
69
dan
budaya.
dan Idul
Adha.
Konten
reflektif dan
menguatka
n ikatan
komunal.
saat Idul
Adha.
Isu Sosial
Kontempor
er dalam
Bingkai
Islam
75%
Kebutuhan
akan
panduan
etis dan
moral untuk
menghadap
i masalah
modern.
Menawarka
n perspektif
Islam
sebagai
solusi atas
isu-isu
seperti
etika media
sosial, judi
online, dan
kesehatan
mental.
Fatwa MUI
tentang judi
online,
panduan
NU tentang
bermedia
sosial yang
bijak.
(Sumber:
Diadaptasi
dari analisis
dalam
1
)
Analisis tematik ini mengungkapkan sebuah pergeseran fundamental dalam fungsi dakwah di
era digital. Dakwah tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber pengetahuan doktrinal atau
hukum Islam, tetapi telah berevolusi menjadi sumber utama "pertolongan pertama psikologis"
dan "bantuan spiritual" bagi generasi yang berjuang dengan berbagai tekanan kehidupan
modern. Keberhasilan seorang pendakwah digital kini tidak hanya diukur dari kedalaman
ilmunya, tetapi juga dari kemampuannya untuk berempati, memahami, dan memberikan solusi
yang menenangkan bagi kegelisahan audiensnya. Ini adalah perubahan dari model dakwah
yang didorong oleh penawaran (apa yang ingin diajarkan oleh penceramah) ke model yang
didorong oleh permintaan (apa yang perlu didengar oleh audiens). Pergeseran inilah yang
menjadi dasar bagi munculnya figur-figur otoritas keagamaan baru yang akan dibahas pada
bab selanjutnya.
70
Bab 2: Otoritas Baru: Profil Pendakwah Digital Paling Berpengaruh di
Indonesia
Di jantung fenomena dakwah digital terdapat para aktor utamanya: para pendakwah yang telah
berhasil membangun audiens kolosal dan menjadi figur otoritas keagamaan bagi jutaan
pengikut. Mereka bukan sekadar penceramah, melainkan juga content creator, influencer, dan
pemimpin opini yang mahir menavigasi lanskap media baru. Analisis terhadap figur-figur paling
berpengaruh ini mengungkapkan adanya keragaman strategi, gaya, dan target audiens, yang
secara kolektif melukiskan potret lanskap keagamaan digital yang dinamis dan terfragmentasi.
Para Raksasa: Daya Tarik Massa dan Operasional Profesional
Dua nama secara konsisten mendominasi puncak popularitas dakwah digital di Indonesia,
menjangkau audiens dari berbagai lapisan masyarakat dengan pendekatan yang berbeda
namun sama-sama efektif.
Ustadz Abdul Somad (UAS): Dengan estimasi pengikut gabungan melebihi 15 juta, UAS
adalah salah satu figur paling dikenal di Indonesia.
1
Sumber daya tariknya terletak pada
gaya ceramahnya yang lugas, tegas, dan berpengetahuan luas, namun secara cerdas
diselingi dengan humor segar yang membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan,
dari masyarakat pedesaan hingga kaum urban. Kanal-kanal media sosialnya, terutama
YouTube, dikelola secara sangat profesional. Ini bukan lagi sekadar unggahan ceramah
amatir; ini adalah operasi media yang terstruktur, di mana pendapatan yang dihasilkan dari
platform tersebut dialokasikan kembali untuk mendanai kegiatan dakwah dan sosial yang
lebih luas. Hal ini menunjukkan adanya integrasi antara dakwah, media, dan manajemen
organisasi modern.
1
Ustadz Adi Hidayat (UAH): Menjangkau lebih dari 11 juta pengikut, UAH membangun
otoritasnya di atas fondasi keilmuan yang mendalam.
1
Ciri khasnya yang paling menonjol
adalah penguasaannya yang luar biasa terhadap Al-Qur'an dan Hadits, yang sering kali
didemonstrasikan dengan kemampuannya menyebutkan letak ayat, halaman, bahkan
baris dalam mushaf secara presisi. Gayanya yang intelektual, terstruktur, dan sistematis
menarik segmen audiens yang berbeda: mereka yang tidak hanya mencari motivasi, tetapi
juga mendambakan pemahaman agama yang mendalam, logis, dan berbasis sumber
primer. UAH memposisikan dirinya sebagai seorang akademisi dan ulama di ranah digital.
1
71
Renaisans Tradisionalis Daring: Otentisitas di Era Digital
Di tengah gelombang modernisasi dakwah, muncul sebuah tren tandingan yang kuat:
kerinduan publik terhadap otentisitas dan kedalaman keilmuan tradisional. Fenomena ini
terwujud dalam popularitas luar biasa dari figur berikut:
Gus Baha (KH. Bahauddin Nursalim): Meskipun jumlah pengikut di akun-akun afiliasinya
"hanya" sekitar 1 juta, pengaruh Gus Baha jauh melampaui angka tersebut.
1
Ia
merepresentasikan keberhasilan dakwah tradisionalis Nahdlatul Ulama (NU) merambah
dunia digital. Daya tariknya yang unik adalah kemampuannya menyajikan kajian kitab
kuning klasikyang sering dianggap rumit dan sulit diaksesdengan cara yang logis,
santai, dan diselingi humor cerdas khas pesantren.
1
Gus Baha menunjukkan kemampuan
adaptasi yang brilian, di mana ia mampu menerjemahkan tradisi intelektual pesantren yang
kaya untuk audiens digital tanpa mendangkalkan substansinya. Ia secara efektif
menyesuaikan bahasanya, menggunakan Bahasa Jawa yang kental saat berbicara kepada
masyarakat awam dan beralih ke Bahasa Indonesia yang lebih formal saat audiensnya
adalah kalangan intelektual atau pejabat pemerintah, menunjukkan kepekaan
sosiolinguistik yang tinggi.
7
Popularitasnya menandakan bahwa di era informasi yang
serba cepat, ada segmen audiens yang signifikan yang justru mencari kedalaman,
otentisitas, dan akar tradisi keilmuan Islam nusantara.
Sang Pembisik Generasi Hijrah: Dakwah bagi Kaum Muda Urban
Gerakan "hijrah" di kalangan anak muda perkotaan telah melahirkan tipe pendakwah baru yang
berbicara dengan bahasa dan gaya hidup mereka. Figur utamanya adalah:
Ustadz Hanan Attaki: Dengan lebih dari 13 juta pengikut, Hanan Attaki adalah ikon dari
gerakan hijrah kaum muda urban.
1
Keberhasilannya dapat diurai menjadi beberapa elemen
kunci:
Branding dan Estetika: Ia tampil dengan gaya yang modis dan kasual, mematahkan
citra pendakwah yang kaku dan formal. Bahasa yang digunakannya adalah bahasa
sehari-hari yang digunakan oleh anak muda, membuatnya terasa seperti teman atau
kakak, bukan seorang guru yang menjaga jarak.
1
Konten yang Relevan: Tema-tema ceramahnya secara langsung menyasar
kegelisahan spesifik anak muda: kesehatan mental, kesepian, ketakutan akan masa
depan, hubungan asmara, dan cara "move on" dari masa lalu yang kelam.
6
Pendekatannya bersifat empatik dan tidak menghakimi, menggunakan metode
72
Mau'izah Hasanah (nasihat yang baik dan kisah inspiratif) untuk menyentuh sisi
emosional audiensnya.
9
Metode Inovatif: Ia memelopori model dakwah baru seperti "Sharing Time" yang
diadakan di lokasi-lokasi premium seperti kafe atau gedung serbaguna, mengubah
citra pengajian dari acara yang kuno menjadi acara yang "keren" dan relevan. Di media
sosial, ia mahir menggunakan format video pendek naratif di Instagram Reels untuk
menyampaikan pesan-pesan singkat yang kuat dan mudah dicerna.
1
Humor Populis: Dakwah yang Menghibur dan Merakyat
Di spektrum lain, ada pendakwah yang meraih popularitas massal dengan menjadikan humor
sebagai kendaraan utama pesan-pesan agamanya.
Ustadz Das'ad Latif: Kekuatan utama dari pendakwah dengan lebih dari 5 juta pengikut
ini adalah kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan humor.
1
Gayanya yang
ceplas-ceplos (blak-blakan) dengan logat Bugis yang kental menjadi daya tarik utamanya.
Ia berhasil membungkus nasihat-nasihat agama yang serius dalam komedi yang
menghibur, membuat dakwah terasa ringan, merakyat, dan sangat mudah dibagikan
dalam format video pendek. Ia adalah contoh sempurna bagaimana humor dapat
berfungsi sebagai "pelumas sosial" yang efektif dalam penyebaran pesan keagamaan di
era digital.
1
Adaptasi Institusional: Strategi Digital Nahdlatul Ulama
Selain figur-figur individual, organisasi keagamaan besar juga beradaptasi dengan lanskap
digital. Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah
mengembangkan strategi digital yang canggih melalui portal resminya, NU Online.
Tujuan Strategis: Strategi digital NU tidak hanya bertujuan menyiarkan ajaran
Ahlussunnah wal Jama'ah, tetapi juga secara aktif membentuk wacana publik. Tujuan
utamanya adalah untuk mempromosikan narasi Islam yang moderat dan inklusif (Islam
Nusantara) sebagai benteng melawan penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme di
dunia maya.
12
Strategi Konten: NU Online memproduksi beragam konten, mulai dari artikel keilmuan,
berita, hingga panduan praktis. Selama periode politik seperti pemilu, mereka tidak
73
memberikan dukungan langsung, tetapi secara aktif memberikan edukasi politik kepada
warga nahdliyin, misalnya dengan mengeluarkan panduan tentang kriteria pemimpin yang
baik menurut Islam dan hukum menerima "serangan fajar".
13
Pendekatan Multi-Aspek: Strategi mereka mencakup promosi literasi digital, upaya aktif
memerangi hoaks, dan berkolaborasi dengan berbagai media untuk memperkuat pesan
moderasi.
12
Ini menunjukkan respons institusional yang terencana dan strategis untuk
mempertahankan relevansi dan otoritas di era digital.
Tabel 2: Profil Komparatif Pendakwah Digital Utama di Indonesia
Pendakw
ah
Estimasi
Pengikut
Platform
Utama
Gaya
Komunika
si / Merek
Tema
Kunci
Target
Demogra
fi
Ustadz
Abdul
Somad
>15 Juta
YouTube,
Faceboo
k
Lugas,
tegas,
humoris,
berpenge
tahuan
luas
Fikih,
Aqidah,
isu-isu
umat
Lintas
generasi,
audiens
massa
Ustadz
Adi
Hidayat
>11 Juta
YouTube
Intelektu
al,
sistemati
s, presisi
dalam
dalil
Tafsir Al-
Qur'an,
Hadits,
Fikih
mendala
m
Audiens
terpelajar
, pencari
ilmu
Gus
Baha
>1 Juta
(Afiliasi)
YouTube
(Kanal
Re-
uploader)
Tradision
alis,
mendala
m, logis,
humor
pesantre
n
Kajian
Kitab
Kuning,
Tafsir,
Fikih
Klasik
Pencari
otentisita
s, santri,
nahdliyin
74
Ustadz
Hanan
Attaki
>13 Juta
Instagra
m,
YouTube
Santai,
kasual,
modis,
bahasa
anak
muda
Motivasi,
hijrah,
kesehata
n mental,
jodoh
Pemuda/i
urban,
Milenial &
Gen Z
Ustadz
Das'ad
Latif
>5 Juta
TikTok,
YouTube
Ceplas-
ceplos,
humoris,
merakyat
, logat
daerah
Nasihat
pernikah
an, isu
sosial,
kritik
sosial
Masyarak
at umum,
audiens
populer
(Sumber:
Disarikan
dari
1
)
Keberhasilan para pendakwah ini, dengan strategi mereka yang beragam, menunjukkan bahwa
lanskap otoritas keagamaan digital tidaklah monolitik. Sebaliknya, telah terjadi sebuah
fragmentasi atau bifurkasi yang jelas. Di satu sisi, ada ceruk pasar yang besar untuk dakwah
yang berfokus pada resonansi emosional dan panduan gaya hidup, yang dilayani oleh figur
seperti Hanan Attaki. Di sisi lain, ada permintaan yang sama kuatnya untuk dakwah yang
menawarkan keketatan intelektual dan otentisitas tradisional, yang diwakili oleh Gus Baha.
Keberhasilan kedua kutub yang tampaknya berlawanan ini menandakan bahwa internet tidak
serta-merta "mendangkalkan segalanya". Sebaliknya, ia berfungsi sebagai akselerator bagi
berbagai bentuk ekspresi keagamaan yang berbeda, melayani kebutuhan spiritual audiens
yang semakin beragam. Implikasinya adalah bahwa "pusat" otoritas keagamaan tradisional
mungkin terkikis, digantikan oleh konstelasi komunitas-komunitas digital yang sangat loyal dan
paralel, masing-masing dengan pemimpin opininya sendiri.
75
Bab 3: Mediatisasi Iman: Kerangka Sosiologis dan Teoretis
Untuk memahami secara mendalam pergeseran yang terjadi dalam fenomena dakwah digital,
tidak cukup hanya dengan mendeskripsikan platform, audiens, dan para aktornya. Diperlukan
sebuah kerangka analisis teoretis yang mampu menjelaskan mengapa dan bagaimana
transformasi ini terjadi. Bidang studi "Agama Digital" (Digital Religion) menawarkan
serangkaian konsep yang kuat untuk membedah dinamika antara agama, media baru, dan
budaya digital.
4
Tiga konsep kunci yang sangat relevan untuk konteks Indonesia adalah
mediatisasi, hipermediasi, dan populisme agama.
Mediatisasi: Ketika Logika Media Membentuk Agama
Mediatisasi adalah sebuah konsep sosiologis yang menyatakan bahwa media tidak lagi sekadar
menjadi saluran pasif untuk transmisi pesan, tetapi secara aktif membentuk dan mengonstruksi
realitas sosial, termasuk agama. Dalam konteks dakwah, mediatisasi berarti praktik dan
pemahaman keagamaan semakin beradaptasi dengan "logika media".
3
Proses ini termanifestasi dalam beberapa cara nyata:
Adaptasi Ritual: Praktik-praktik keagamaan tradisional diadaptasi agar sesuai dengan
format media. Shalat Jumat atau misa mingguan yang disiarkan secara live streaming
selama pandemi adalah contoh paling jelas, di mana sebuah ritual komunal fisik diubah
menjadi pengalaman yang termediasi secara digital.
17
Fragmentasi dan Simplifikasi Konten: Ajaran agama yang kompleks dan bernuansa
sering kali harus disederhanakan dan difragmentasi agar sesuai dengan format media
sosial yang menuntut perhatian singkat. Sebuah kajian kitab yang berlangsung dua jam
dipecah menjadi klip-klip satu menit untuk TikTok. Perubahan format ini berisiko
mengubah substansi, di mana pesan-pesan yang paling mudah viral (misalnya, yang
emosional atau kontroversial) akan lebih diprioritaskan daripada yang paling penting
secara teologis.
19
Personalisasi Otoritas: Logika media, terutama media sosial, sangat berpusat pada
individu (personality-driven). Akibatnya, otoritas keagamaan menjadi semakin terikat pada
persona dan branding pribadi seorang pendakwah, bukan lagi pada institusi yang
diwakilinya.
76
Hipermediasi: Kaburnya Batas Dunia Daring dan Luring
Jika mediatisasi menjelaskan bagaimana logika media membentuk agama, hipermediasi
menjelaskan bagaimana kehidupan beragama itu sendiri menjadi terjalin erat antara ruang
digital dan material, menciptakan sebuah realitas hibrida.
3
Agama tidak lagi terbatas pada
masjid, gereja, atau pura; ia meresap ke dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari melalui
gawai di saku kita.
Contoh konkret dari hipermediasi dalam konteks dakwah di Indonesia meliputi:
Komunitas Semi-Virtual: Gerakan seperti One Day One Juz (ODOJ) adalah contoh
sempurna dari komunitas semi-virtual. Gerakan ini lahir dan bergantung sepenuhnya pada
teknologi, dalam hal ini aplikasi WhatsApp, untuk mengoordinasikan ribuan anggotanya
dalam membaca Al-Qur'an setiap hari.
20
Interaksi dimulai di ruang digital (grup WhatsApp)
tetapi sering kali berlanjut ke pertemuan fisik (kopi darat), menunjukkan jalinan yang erat
antara dunia daring dan luring.
Identitas dan Komunitas yang Diperkuat: Platform seperti Instagram dan WhatsApp
tidak hanya menjadi tempat mencari informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk
mengekspresikan identitas keagamaan individu dan memperkuat ikatan dengan komunitas
yang lebih luas. Mengunggah foto saat mengikuti kajian atau membagikan kutipan dari
seorang ustadz adalah bentuk performa identitas yang memperkuat rasa memiliki dalam
sebuah komunitas beragama virtual.
3
Populisme Agama dan Tantangan terhadap Otoritas Tradisional
Konsep "populisme agama" menjelaskan bagaimana media baru, dengan sifatnya yang terbuka
dan egaliter, memfasilitasi munculnya figur-figur dan gerakan keagamaan baru yang
menantang otoritas elite dan institusi keagamaan yang sudah mapan.
15
Internet secara efektif
mendemokratisasi mimbar, tetapi juga menciptakan medan pertempuran baru untuk
memperebutkan otoritas.
Mekanisme populisme agama di era digital bekerja sebagai berikut:
Disintermediasi Otoritas: Internet memungkinkan individu untuk mengakses
pengetahuan agama secara langsung, melewati perantara tradisional seperti kiai, ulama,
atau lembaga keagamaan.
15
Hal ini menyebabkan apa yang disebut sebagai "penyebaran"
atau "fluiditas" otoritas keagamaan; ia tidak lagi terkonsentrasi di tangan segelintir elite,
77
melainkan tersebar di antara banyak aktor baru.
15
Otoritas Berbasis Popularitas, Bukan Institusi: Di dunia digital, ukuran otoritas sering
kali bergeser. Otoritas yang sebelumnya diberikan secara institusional (misalnya, melalui
ijazah dari sebuah pesantren ternama atau posisi dalam organisasi seperti MUI) kini
disaingi oleh otoritas yang diberikan secara populer, yang diukur dari jumlah pengikut,
likes, dan shares.
21
Hal ini menciptakan ketegangan yang nyata antara otoritas daring yang
baru dan figur-figur otoritas luring yang tradisional.
4
Penerapan kerangka teoretis ini mengungkapkan sebuah transformasi yang lebih dalam dari
sekadar perubahan teknologi. Transformasi inti terletak pada pergeseran logika yang
mendasari legitimasi otoritas keagamaan. Secara historis, otoritas dalam tradisi keilmuan Islam
dibangun di atas logika sanadsebuah rantai transmisi ilmu yang dapat diverifikasi dan tidak
terputus, yang menghubungkan seorang murid dengan gurunya hingga kembali ke generasi
sahabat Nabi. Ini adalah model legitimasi yang bersifat vertikal, hierarkis, dan didasarkan pada
silsilah keilmuan.
Sebaliknya, otoritas di era digital dibangun di atas logika viralitassebuah model legitimasi
yang bersifat horizontal, berbasis jaringan, dan didasarkan pada popularitas yang diukur oleh
algoritma platform dan keterlibatan audiens. Konsep "Skor Viralitas" yang diidentifikasi dalam
analisis konten adalah manifestasi nyata dari logika baru ini.
1
Kedua logika inisanad dan
viralitassering kali berada dalam posisi yang saling bertentangan. Seorang alim dengan
sanad yang kuat mungkin tidak memiliki keterampilan media untuk menjadi viral, sementara
seorang influencer yang viral mungkin tidak memiliki kedalaman atau validitas keilmuan yang
didasarkan pada sanad. Pertarungan antara kedua logika inilah yang mendefinisikan ulang
siapa yang berhak berbicara atas nama agama di Indonesia saat ini, dan hal ini secara langsung
mengarah pada krisis kredibilitas yang akan dibahas lebih lanjut.
Bab 4: Ekonomi Politik Kesalehan: Komersialisasi, Perdagangan, dan
Kontestasi
Pergeseran dakwah ke ranah digital tidak hanya mengubah cara pesan agama disampaikan
dan diterima; ia juga secara fundamental mengubah struktur ekonomi yang melingkupinya. Di
persimpangan antara kesalehan, teknologi platform, dan budaya konsumen, telah lahir sebuah
"ekonomi politik kesalehan" yang kompleks. Dalam ekonomi baru ini, konten dakwah menjadi
produk, pendakwah menjadi brand, dan kesalehan itu sendiri menjadi komoditas yang
diperdagangkan di pasar digital yang kompetitif.
78
Komodifikasi Agama: Ketika Dakwah Menjadi Produk
Konsep inti dalam memahami ekonomi baru ini adalah "komodifikasi agama". Ini adalah proses
di mana ajaran, simbol, dan praktik keagamaan diubah menjadi komoditas yang memiliki nilai
tukar ekonomi, sering kali dengan mengorbankan nilai sakralnya.
2
Media sosial, dengan model
bisnisnya yang berbasis perhatian (attention economy), menjadi akselerator utama dari proses
ini.
Didorong oleh Kepentingan Pasar: Dakwah di platform seperti TikTok atau Instagram
tidak lagi semata-mata didorong oleh niat tulus untuk menyebarkan ajaran, tetapi juga
oleh "kepentingan pasar".
2
Agar dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan
konten yang ketat, materi dakwah harus "dikelola" dan "dikemas" sedemikian rupa agar
sesuai dengan selera pasar dan memiliki "nilai jual".
2
Kapitalisasi dan Monetisasi Konten: Platform digital menyediakan berbagai mekanisme
monetisasiseperti creator funds, pendapatan iklan, sponsor, dan endorsementyang
secara langsung mengubah konten dakwah menjadi sumber pendapatan. Simbol-simbol
suci dan nasihat-nasihat keagamaan berpotensi diubah menjadi aset ekonomi yang
menguntungkan.
2
Akibatnya, yang sakral berisiko menjadi profan karena diperlakukan
layaknya komoditas lain di pasar.
2
"Pendangkalan Makna": Konsekuensi dari Logika Pasar
Salah satu konsekuensi paling signifikan dari komodifikasi adalah risiko "pendangkalan nilai-
nilai agama" (shallowing of religious values).
2
Ketika metrik keberhasilan sebuah konten dakwah
adalah viralitasjumlah penayangan, suka, dan bagikanmaka ada insentif yang kuat untuk
memprioritaskan konten yang paling mungkin mencapai metrik tersebut.
Prioritas pada Aspek Permukaan: Logika pasar mendorong fokus pada aspek-aspek
permukaan ritual dan ekspresi keagamaan daripada substansi spiritual yang mendalam.
Konten yang lucu, emosional, atau kontroversial secara inheren lebih mudah dibagikan
daripada diskusi teologis yang kompleks dan bernuansa.
2
Manipulasi Pesan untuk Menarik Perhatian: Ada kecenderungan di mana media digital
menyederhanakan atau bahkan memanipulasi pesan-pesan keagamaan untuk menarik
perhatian audiens, yang berpotensi menyebabkan distorsi pemahaman dan interpretasi
ajaran agama.
19
Nilai-nilai spiritual berisiko "tercerabut dari akarnya" karena konten
dakwah lebih dibentuk oleh tuntutan algoritma daripada oleh integritas keilmuan.
2
79
Kebangkitan Influencer Religius dan Industri Halal
Aktor kunci dalam ekonomi kesalehan ini adalah "influencer agama di media sosial" (social
media religious influencer). Figur ini secara unik memadukan elemen-elemen keagamaan,
komersial, dan terkadang politik dalam persona publik mereka.
23
"Bisnis Dakwah": Para influencer ini, terutama di kalangan perempuan Muslim muda,
sering kali terlibat dalam apa yang disebut "bisnis dakwah". Mereka membingkai kegiatan
wirausahaseperti menjual busana Muslim, kosmetik halal, atau produk lainnyasebagai
bagian dari praktik kesalehan dan produktivitas yang dianjurkan agama.
23
Pendorong Gaya Hidup Islami: Mereka memainkan peran sentral dalam mempromosikan
tren gaya hidup Islami dan mendorong pertumbuhan industri halal yang lebih luas. Melalui
konten mereka, mereka tidak hanya menyebarkan nasihat agama, tetapi juga membentuk
perilaku konsumsi yang sejalan dengan prinsip-prinsip halal, mulai dari fesyen hingga
keuangan dan pariwisata.
26
Dakwah dalam Arena Kontestasi Politik
Dimensi ekonomi dakwah digital tidak dapat dipisahkan dari dimensi politiknya. Platform digital
telah menjadi arena penting untuk kontestasi politik yang menggunakan narasi dan simbol
agama.
Dakwah sebagai Instrumen Politik: Sejumlah pendakwah dan kelompok menggunakan
platform digital sebagai instrumen untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah,
memobilisasi dukungan untuk agenda politik Islam, atau membentuk narasi politik tertentu
di kalangan umat.
28
Politik Identitas dan Ekonomi Syariah: Advokasi untuk "ekonomi syariah" di ruang digital
sering kali bukan murni soal ekonomi, melainkan juga merupakan bagian dari politik
identitas. Narasi ini dibangun untuk membangun konstituen politik dan menegaskan
identitas Muslim dalam lanskap ekonomi nasional, sering kali dengan menggambarkan
adanya dominasi ekonomi oleh kelompok non-Muslim.
29
Peran Negara: Di sisi lain, negara melalui institusi seperti Kementerian Agama juga
berupaya membentuk wacana dakwah agar sejalan dengan tujuan nasional. Hal ini
menciptakan ketegangan antara dakwah yang "disetujui negara", yang mempromosikan
moderasi dan pembangunan, dengan suara-suara dakwah independen atau oposisional
yang lebih kritis.
30
Analisis terhadap ekonomi politik ini menyingkap sebuah paradoks fundamental yang berada
di jantung industri dakwah digital. Untuk berhasil, seorang pendakwah harus tampil "otentik"
80
dan dekat dengan audiensnya.
1
Namun, untuk mencapai status tersebut di platform digital,
mereka harus menguasai mekanisme "in-autentik" dari kapitalisme platform. Ini termasuk
keahlian dalam personal branding, strategi konten, optimisasi mesin pencari (SEO), dan
pemahaman mendalam tentang cara kerja algoritmaketerampilan yang jauh dari ranah
keilmuan agama tradisional. Kinerja otentisitas itu sendiri menjadi syarat utama untuk
kesuksesan komersial. Seorang pendakwah harus mampu menampilkan citra bahwa ia berada
di atas logika pasar, sambil pada saat yang sama secara ahli menavigasi aturan-aturannya. Hal
ini melahirkan sebuah identitas hibrida baru"da'i-preneur"dan memunculkan pertanyaan
etis yang rumit tentang di mana batas antara dakwah dan pencarian keuntungan, dan apakah
logika komersial dari medium pada akhirnya akan mengompromikan integritas spiritual dari
pesan itu sendiri.
Bab 5: Menavigasi Medan Ranjau Digital: Hoaks, Ujaran Kebencian,
dan Krisis Kredibilitas
Demokratisasi akses informasi keagamaan melalui platform digital adalah pedang bermata dua.
Di satu sisi, ia membuka pintu pengetahuan bagi banyak orang. Di sisi lain, ia menciptakan
sebuah "medan ranjau" informasi di mana kebenaran dan kebohongan, nasihat yang
mencerahkan dan ujaran kebencian, tersebar dengan kecepatan yang sama. Lanskap baru ini
telah memicu krisis kredibilitas yang signifikan dan menuntut tingkat kewaspadaan baru dari
semua pihak yang terlibat.
Proliferasi Hoaks Berbasis Agama
Kemudahan dalam membuat dan menyebarkan konten telah menyebabkan ledakan informasi
yang tidak terverifikasi, termasuk hoaks yang mengatasnamakan agama. Ini adalah salah satu
tantangan paling serius dalam ekosistem dakwah digital.
18
Skala Masalah: Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara
konsisten menunjukkan tingginya angka peredaran hoaks di Indonesia, dengan sebagian
di antaranya menyangkut isu-isu agama yang sensitif.
18
Hoaks ini sering kali berupa hadits
palsu (maudhu') atau lemah (dha'if), kutipan yang dipelintir dari konteksnya, atau berita
bohong yang dirancang untuk memprovokasi sentimen keagamaan.
32
Dampak Destruktif: Bahaya hoaks berbasis agama sangat besar, terutama di masyarakat
yang beragam seperti Indonesia. Hoaks semacam ini secara sengaja mengeksploitasi
81
emosi dan sentimen keagamaan untuk memperburuk ketegangan sosial, merusak
hubungan antarumat beragama, dan bahkan memicu disintegrasi sosial.
18
Penyebaran
hadits palsu, misalnya, dapat menyebabkan kebingungan, merusak praktik keagamaan
yang benar, dan menciptakan perpecahan di dalam komunitas Muslim itu sendiri.
32
Ujaran Kebencian dan Polarisasi
Selain hoaks, platform digital juga rentan disalahgunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian
dan memperdalam polarisasi sosial.
Konten yang Memecah Belah: Klip-klip video pendek yang diambil di luar konteks aslinya
sangat rentan disalahpahami dan dapat memicu gesekan serta perpecahan di antara
komunitas beragama.
32
Sebuah pernyataan yang mungkin memiliki nuansa dalam ceramah
berdurasi satu jam dapat terdengar sangat provokatif ketika disajikan dalam klip 30 detik
tanpa konteks.
Konsekuensi Hukum: Perlu dicatat bahwa menyebarkan penghinaan atau permusuhan
terhadap suatu agama adalah tindakan pidana di Indonesia. Pasal 156a KUHP memberikan
ancaman hukuman penjara bagi pelaku penistaan agama, menunjukkan keseriusan negara
dalam memandang masalah ini.
32
Krisis Kredibilitas dan Kebutuhan Mendesak akan Literasi Digital
Akar dari masalah hoaks dan ujaran kebencian adalah krisis kredibilitas yang lebih luas. Di
lautan informasi digital, menjadi semakin sulit bagi pengguna awam untuk membedakan antara
sumber yang kredibel dan yang tidak. Sejumlah besar konten keagamaan yang beredar secara
daring tidak diverifikasi oleh otoritas keagamaan yang mapan.
17
Kondisi ini menyoroti kebutuhan yang sangat mendesak akan peningkatan literasi digital bagi
semua pihak:
Bagi Para Pendakwah (Du'at): Literasi digital bagi penceramah bukan hanya tentang
kemampuan teknis mengoperasikan media sosial. Ini adalah tentang tanggung jawab etis.
Seorang da'i tidak boleh menjadi penyumbang peredaran hoaks.
32
Mereka memiliki
kewajiban untuk secara cermat memverifikasi setiap informasi sebelum membagikannya.
Untuk menjaga kredibilitas, mereka harus mengadopsi serangkaian adab atau etika
dakwah digital, yang meliputi:
82
1. Menyebutkan Sumber: Setiap informasi, terutama hadits atau kutipan, harus disertai
dengan sumber yang jelas dan andal.
2. Memverifikasi Akurasi: Melakukan pengecekan ulang terhadap kebenaran informasi
sebelum disebarkan.
3. Memeriksa Kredibilitas Sumber: Memastikan bahwa sumber informasi tersebut
dapat dipercaya.
4. Menghindari Ujaran Kebencian: Menggunakan bahasa yang santun dan
menghindari kata-kata yang dapat memprovokasi permusuhan.
5. Fokus pada Konsensus Ulama: Memprioritaskan penyampaian ajaran yang telah
menjadi kesepakatan para ulama untuk menghindari kontroversi yang tidak perlu.
32
Bagi Audiens (Mad'u): Literasi digital bagi audiens adalah tentang mengembangkan
kemampuan berpikir kritis. Mereka perlu dibekali keterampilan untuk menyaring informasi,
tidak mudah percaya pada judul yang provokatif, dan memahami bahwa konten di media
sosial sering kali bias dan dimanipulasi.
12
Krisis kredibilitas ini pada dasarnya merupakan hasil tak terhindarkan dari apa yang bisa
disebut sebagai "runtuhnya konteks" (collapse of context) yang melekat pada sifat media
digital. Teks dan ajaran agama tradisional dirancang untuk dipahami dan ditafsirkan dalam
konteks yang kayameliputi sejarah turunnya wahyu (asbab al-nuzul), biografi para perawi
hadits, dialektika para ahli hukum Islam, dan yang terpenting, hubungan guru-murid yang
memungkinkan transmisi ilmu secara bertanggung jawab. Media sosial, dengan algoritmanya
yang memprioritaskan fragmentasi dan kecepatan, secara sistematis melucuti konteks ini. Ia
menyajikan potongan-potongan informasi yang terisolasi, yang kemudian menjadi sangat
rentan untuk disalahartikan, dipelintir, atau bahkan dipersenjatai untuk tujuan-tujuan yang
merusak. Sebuah fatwa yang kompleks direduksi menjadi sebuah infografis; sebuah hadits
yang memerlukan penjelasan panjang lebar diubah menjadi kutipan satu kalimat. "Runtuhnya
konteks" inilah yang membuat informasi menjadi begitu mudah diubah menjadi hoaks atau alat
untuk menyebar kebencian. Oleh karena itu, solusi jangka panjangnya bukan hanya tentang
memberantas "berita palsu", tetapi juga tentang membangun kesadaran mendalam mengenai
bagaimana arsitektur platform media itu sendiri membentuk dan mendekontekstualisasikan
informasi. Ini adalah tantangan struktural yang lahir dari ketidaksesuaian fundamental antara
sifat pengetahuan agama yang kontekstual dan sifat algoritma media sosial yang
dekontekstual.
83
Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis: Masa Depan Iman di
Indonesia yang Terhubung Jaringan
Fenomena dakwah digital telah secara permanen mengubah lanskap keagamaan di Indonesia.
"Mimbar digital" telah muncul sebagai arena utama di mana otoritas keagamaan
dinegosiasikan, kesalehan diekspresikan, dan wacana Islam dibentuk. Analisis dalam laporan ini
menunjukkan bahwa transformasi ini bersifat mendalam dan multifaset. Di satu sisi, ia telah
mendemokratisasi akses terhadap pengetahuan agama, memberdayakan suara-suara baru,
dan menyediakan dukungan spiritual yang relevan bagi jutaan orang, terutama generasi muda.
Dakwah menjadi lebih personal, responsif, dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, transformasi ini datang dengan serangkaian tantangan yang serius. Otoritas
keagamaan tradisional yang berbasis pada sanad keilmuan kini bersaing dengan otoritas baru
yang berbasis pada viralitas algoritmik. Logika pasar telah mendorong komodifikasi agama,
yang berisiko mendangkalkan makna spiritual demi keterlibatan audiens. Dan yang paling
mengkhawatirkan, ruang digital yang terbuka telah menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks
dan ujaran kebencian yang mengancam kerukunan sosial. Pergeseran ini tidak dapat diubah;
oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah penolakan, melainkan navigasi yang bijaksana dan
strategis oleh semua pemangku kepentingan.
Berdasarkan analisis yang telah dipaparkan, berikut adalah serangkaian rekomendasi strategis
yang ditujukan bagi para aktor kunci dalam ekosistem dakwah digital Indonesia:
Untuk Para Pendakwah (Du'at) dan Kreator Konten
Mengadopsi Integritas Digital sebagai Prinsip Utama: Para pendakwah harus
memandang akurasi dan verifikasi informasi bukan sebagai tugas tambahan, melainkan
sebagai inti dari tanggung jawab dakwah mereka. Praktikkan adab digital yang ketat: selalu
sebutkan sumber, periksa validitas hadits, dan lakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap
berita sebelum membagikannya.
32
Menyeimbangkan Jangkauan dan Kedalaman: Meskipun format pendek dan menarik
penting untuk menjangkau audiens di platform seperti TikTok dan Instagram, para
pendakwah harus secara sadar menciptakan jalur bagi audiens untuk mengakses konten
yang lebih mendalam. Gunakan klip pendek sebagai "pintu gerbang" untuk mengarahkan
audiens ke kajian yang lebih panjang di YouTube atau artikel yang lebih komprehensif di
situs web.
1
Transparansi dalam Komersialisasi: Dalam menghadapi komersialisasi yang tak
84
terhindarkan, transparansi adalah kunci. Bedakan secara jelas antara konten dakwah
murni dengan konten yang bersifat komersial (misalnya, endorsement atau promosi
berbayar) untuk menjaga kepercayaan audiens.
Untuk Organisasi Keagamaan Tradisional (NU, Muhammadiyah, MUI, dll.)
Berperan sebagai Kurator dan Navigator Kredibel: Daripada hanya bersaing dalam
produksi konten, organisasi-organisasi ini harus memanfaatkan otoritas institusional
mereka untuk berperan sebagai "kurator" atau "navigator" tepercaya di tengah lautan
informasi. Buatlah platform atau layanan verifikasi fakta (misalnya, situs web pengecek
hoaks hadits) dan promosikan secara luas sebagai sumber rujukan bagi publik.
1
Investasi Besar dalam Literasi Digital Umat: Program literasi digital harus menjadi
prioritas utama. Selenggarakan lokakarya, buat modul daring, dan sebarkan panduan
praktis kepada jamaah tentang cara mengidentifikasi hoaks, memahami cara kerja
algoritma, dan mengonsumsi konten keagamaan secara kritis.
Mendukung dan Membina Pendakwah Moderat: Secara proaktif mengidentifikasi,
melatih, dan mempromosikan pendakwah-pendakwah muda yang sejalan dengan nilai-
nilai moderasi dan keindonesiaan. Berikan mereka dukungan kelembagaan, platform, dan
sumber daya untuk memperkuat suara mereka di ruang digital.
Untuk Platform Digital dan Pembuat Kebijakan
Kolaborasi untuk Melawan Misinformasi: Pemerintah, melalui Kominfo, dan perusahaan
platform media sosial harus memperkuat kolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil
dan lembaga keagamaan untuk mengatasi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Ini
bisa mencakup mekanisme pelaporan yang lebih responsif dan program edukasi
bersama.
18
Mempromosikan Konten yang Berkualitas dan Kontekstual: Platform dapat
mempertimbangkan untuk menyesuaikan algoritma mereka agar tidak hanya
memprioritaskan konten yang paling memancing emosi, tetapi juga memberikan visibilitas
pada konten yang kredibel, mendalam, dan kontekstual dari sumber-sumber terverifikasi.
Mengintegrasikan Literasi Digital ke dalam Kurikulum Nasional: Pemerintah perlu
menjadikan literasi digital sebagai komponen inti dalam kurikulum pendidikan nasional di
semua tingkatan. Ini adalah investasi jangka panjang yang paling strategis untuk
membangun masyarakat yang tangguh terhadap misinformasi.
85
Untuk Ummah Digital (Audiens)
Mengembangkan Konsumsi Kritis: Audiens adalah benteng pertahanan terakhir. Setiap
individu perlu menumbuhkan kebiasaan untuk berpikir kritis sebelum percaya dan berbagi.
Praktikkan prinsip tabayyun: jika sebuah klip video tampak provokatif, carilah versi
lengkapnya; jika sebuah informasi terdengar terlalu sensasional, periksa sumbernya di
beberapa media terpercaya.
Mendiversifikasi "Diet Media Keagamaan": Jangan hanya mengikuti satu atau dua
pendakwah. Ikutilah berbagai suara dari latar belakang yang berbedatradisionalis,
modernis, akademisiuntuk mendapatkan perspektif yang lebih seimbang dan kaya.
Memahami Peran Algoritma: Sadari bahwa apa yang muncul di feed media sosial Anda
bukanlah cerminan netral dari realitas, melainkan hasil kurasi algoritma yang dirancang
untuk membuat Anda terus terlibat. Keluar dari "gelembung gema" (echo chamber)
dengan secara aktif mencari pandangan yang berbeda.
Masa depan dakwah, dan pada tingkat yang lebih luas, masa depan wacana keislaman di
Indonesia, akan sangat ditentukan oleh bagaimana para pemangku kepentingan ini menavigasi
lanskap digital yang kompleks ini. Tantangannya besar, tetapi begitu pula peluangnya. Dengan
pendekatan yang strategis, etis, dan kritis, mimbar digital dapat menjadi kekuatan yang luar
biasa untuk pencerahan, pemahaman, dan penguatan nilai-nilai keagamaan yang sehat dan
moderat di tengah masyarakat modern.
Works cited
1. Dakwah Digital Guncang Mimbar Tren Konten dan Dominasi Pendakwah di
Indonesia .pdf
2. Commodification of Religion: Disruption and Shallowing of ..., accessed October
1, 2025,
https://jurnalfisip.uinsa.ac.id/index.php/sarpass/article/download/538/325/1707
3. Jurnal Sosiologi Agama - E-Journal UIN SUKA, accessed October 1, 2025,
https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/SosiologiAgama/article/download/182-
01/182-01/15889
4. (PDF) Mediatization and Hypermediation in Digital Religion and the ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/389054176_Mediatization_and_Hyper
mediation_in_Digital_Religion_and_the_Transformation_of_Indonesian_Muslim_R
eligious_Practices_through_Social_Media_Usage
5. What Drives Indonesian Muslim Youth Express their Piety on Social Media - FTK
UIN Banten, accessed October 1, 2025,
86
https://ftk.uinbanten.ac.id/journals/index.php/aiciel/article/download/10678/5087
6. Al-MISBAH (Jurnal Islamic Studies) - R Discovery, accessed October 1, 2025,
https://discovery.researcher.life/download/article/6b0cbe6fc339312383efaa8eaf
e0e265/full-text
7. SOCIO-STYLISTICS OF GUS BAHA'S SERMONS Aang Fatihul ..., accessed
October 1, 2025,
https://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/jeel/article/download/2514/1986
8. Religious Resilience of Hijrah Youth in the Midst of Modernization Flow:
Challenges, Adaptation, and Consistency, accessed October 1, 2025,
https://journal.iaincurup.ac.id/index.php/JF/article/download/13025/3525/45397
9. The Effectiveness of Ustadz Hanan Attaki's Da'wah Sharing Time on Youtube,
accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/393005185_The_Effectiveness_of_Ust
adz_Hanan_Attaki's_Da'wah_Sharing_Time_on_Youtube
10. Study of Ustaz Hanan Attaki's Da'wah Message on the Instagram Account
@hanan_attaki, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/377474625_Study_of_Ustaz_Hanan_At
taki's_Da'wah_Message_on_the_Instagram_Account_hanan_attaki
11. Ustadz Hanan Attaki's Digital Dakwah Model Towards The Development Of The
Akhlaq Of The Millennial Generation - Open Journal Systems, accessed October
1, 2025, https://ejournal2.uika-
bogor.ac.id/index.php/ICONMJ/article/download/984/699/3969
12. Strengthening Nadhatul Ulama as Moderate Islam in the Digital Era -
ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/382534877_Strengthening_Nadhatul_
Ulama_as_Moderate_Islam_in_the_Digital_Era
13. (PDF) Da'wah about Politics Carried Out by Islamic Groups in the ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/392109963_Da'wah_about_Politics_Ca
rried_Out_by_Islamic_Groups_in_the_Cyber_Islamic_Environment
14. Strategi Dakwah Islam melalui Media Online Nahdlatul Ulama (www.nu.or.id),
accessed October 1, 2025,
https://journal.unisza.edu.my/mjis/index.php/mjis/article/view/22
15. Internet and Islamic Learning Practices in Indonesia: Social Media ..., accessed
October 1, 2025, https://www.mdpi.com/2077-1444/11/1/19
16. RELIGION STUDIES IN THE DIGITAL AGE: MAPPING THEORIES,
METHODOLOGIES, AND APPROACHES IN DIGITAL RELIGION STUDIES | Semantic
Scholar, accessed October 1, 2025,
https://www.semanticscholar.org/paper/RELIGION-STUDIES-IN-THE-DIGITAL-
AGE%3A-MAPPING-AND-IN-Aisyah-
Hidayatullah/d9e25f3a00eea8a32c1095f147db0dac1ae66d2c
17. The Integration of Theology and Technology: Exploring the Impact of
Digitalization on Religious Understanding - ejournal ust, accessed October 1,
87
2025, https://ejournal.ust.ac.id/index.php/InCOMNIA/article/view/4165/3122
18. Full article: Islamic proselytizing in digital religion in Indonesia: the challenges of
broadcasting regulation - Taylor & Francis Online, accessed October 1, 2025,
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311886.2024.2357460
19. Digitalization and the shifting religious literature of Indonesian Muslims in the Era
of Society 5.0 - Rumah Jurnal UIN Walisongo, accessed October 1, 2025,
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/icj/article/download/22515/6536/72830
20. Social media and the birth of an Islamic social movement: ODOJ (One Day One
Juz) in contemporary Indonesia - PMC - PubMed Central, accessed October 1,
2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6044234/
21. Ideologization of Hijrah in Social Media: Digital Activism, Religious
Commodification, and Conservative Domination - Journal UII, accessed October
1, 2025, https://journal.uii.ac.id/Millah/article/download/26914/14956/86649
22. Jurnal Ilmu Dakwah - The latest religious practices of da'i influencer and content
creator in digital da'wah, accessed October 1, 2025,
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/dakwah/article/download/23378/6557/7
2978
23. (PDF) Commerce, piety and politics: Indonesian young Muslim women's groups
as religious influencers - ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/332330179_Commerce_piety_and_poli
tics_Indonesian_young_Muslim_women's_groups_as_religious_influencers
24. Commerce, piety and politics: Indonesian young Muslim women's groups as
religious influencers - Find an Expert - The University of Melbourne, accessed
October 1, 2025, https://findanexpert.unimelb.edu.au/scholarlywork/1429623-
commerce--piety-and-politics--indonesian-young-muslim-
women%E2%80%99s-groups-as-religious-influencers
25. Commerce, piety and politics: Indonesian young Muslim women's groups as
religious influencers - Semantic Scholar, accessed October 1, 2025,
https://www.semanticscholar.org/paper/Commerce%2C-piety-and-politics%3A-
Indonesian-young-as-Beta/70d127556575d94f0015d3a8294b2ed6f24a220c
26. Social Media on Islamic Lifestyle Trends: A Systematic Literature Review |
Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE), accessed
October 1, 2025, https://www.e-journal.uac.ac.id/index.php/iijse/article/view/6167
27. (PDF) Commodification of religion and islamic cultural industry through social
media, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/391060864_Commodification_of_relig
ion_and_islamic_cultural_industry_through_social_media
28. Da'wah and Politics Among Muslim Preachers in Contemporary Indonesia - IIUM,
accessed October 1, 2025,
https://journals.iium.edu.my/intdiscourse/index.php/id/article/download/1757/960
29. The Political Economy of Sharia and the Future Trajectory of Democracy in
Indonesia - ISEAS-Yusof Ishak Institute, accessed October 1, 2025,
https://www.iseas.edu.sg/wp-
88
content/uploads/pdfs/ISEAS_Perspective_2019_108.pdf
30. The Discipline of Dakwah in Indonesia's State Education System in - Brill,
accessed October 1, 2025, https://brill.com/view/journals/bki/179/1/article-
p38_3.xml
31. The rise of Indonesia's religious influencers: between strategic ..., accessed
October 1, 2025, https://research-
repository.rmit.edu.au/articles/thesis/The_rise_of_Indonesia_s_religious_influenc
ers_between_strategic_content_visual_authority_and_active_consumers/275966
94
32. https://series.gci.or.id Global Conferences Series: Social Sciences ..., accessed
October 1, 2025, https://series.gci.or.id/assets/papers/aicoiis-2024-591.pdf
33. Optimizing Digital Technology in Progressive Islamic Education to Enhance Public
Literacy and Combat Hoaxes, accessed October 1, 2025,
https://journals2.ums.ac.id/index.php/mier/article/download/9915/3224/41878
34. Hoax and Election: The Role of Social Media and Challenges for Indonesian
Government Policy - Redfame Publishing, accessed October 1, 2025,
https://www.redfame.com/journal/index.php/smc/article/download/7486/6843
35. islamic da'wah communication strategy in the digital era: an analysis of the
utilization of - Jurnal UMSU, accessed October 1, 2025,
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/insis/article/download/23637/pdf
36. Transformation of Da'wah Methods in the Social Media Era: A Literature Review
on the Digital Da'wah Approach | IJoIS: Indonesian Journal of Islamic Studies -
CIVILIZA PUBLISHING, accessed October 1, 2025,
https://journal.civiliza.org/index.php/ijois/article/view/493
89
Pengembangan Dakwah Era Digital
Peran Asisten Riset dan Penulisan Berbasis AI
Pengembangan Dakwah Era Digital: Peran Asisten Riset dan Penulisan Berbasis
AI
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dakwah kini memiliki ladang amal
baru: dunia digital. Namun, tantangan yang menyertainya pun tak kalah besar.
Bagaimana memastikan pesan-pesan keagamaan tetap relevan, faktual, dan
tersampaikan secara efektif kepada audiens yang semakin beragam? Di sinilah asisten
riset dan penulisan berbasis AI hadir sebagai solusi revolusioner.
Mungkin Anda akrab dengan namanya seperti NotebookLM atau alat sejenis.
Meskipun artikel ini tidak secara spesifik membahas NotebookLM, prinsip dan fitur-fitur
umumnya dapat kita adaptasi untuk kebutuhan dakwah modern. Mari kita selami lebih
jauh bagaimana teknologi ini dapat membantu para da’i (penyeru kebaikan)
menghasilkan konten dakwah yang lebih berkualitas, efisien, dan berdampak luas.
Apa Itu Asisten Riset dan Penulisan Berbasis AI?
Bayangkan sebuah perpustakaan pribadi yang canggih, seorang asisten cerdas yang
mampu memahami, menganalisis, dan bahkan membantu Anda merangkai kata-kata.
Itulah gambaran sederhana dari asisten riset dan penulisan berbasis AI. Alat digital ini
didesain untuk membantu Anda mengelola informasi, menganalisis data,
merangkum teks, dan menghasilkan draf tulisan berdasarkan sumber-sumber yang
Anda unggah atau akses.
Tujuannya jelas: meningkatkan efisiensi dan kualitas dalam proses penulisan,
terutama untuk tugas-tugas yang membutuhkan sintesis informasi dari berbagai
90
sumber. Dalam konteks dakwah, ini berarti Anda bisa dengan mudah mengolah ayat Al-
Qur’an, hadis, pandangan ulama, hingga data survei sosial untuk menyusun pesan yang
kokoh dan relevan.
Mengapa AI Penting untuk Dakwah Kontemporer?
Peran asisten AI dalam dakwah modern sangat multifungsi. Ini bukan sekadar alat
bantu, melainkan mitra strategis yang dapat meningkatkan kapasitas dan jangkauan
dakwah Anda.
1. Kegunaan dan Fungsi Utama
o Manajemen Pengetahuan Terpusat: Pernahkah Anda kesulitan mencari
kutipan hadis yang tepat atau ayat yang relevan di antara tumpukan kitab? AI
berperan sebagai wadah terpusat untuk menyimpan, mengatur, dan meninjau
berbagai sumber referensi Anda. Mulai dari tafsir Al-Qur’an, kitab hadis, rujukan
fikih, hingga artikel penelitian kontemporer semuanya dapat terkelola dengan
rapi.
o Analisis dan Sintesis Cepat: AI mampu “membaca” dan menganalisis teks
dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi ide-ide kunci, argumen, dan
hubungan antar-konsep. Bayangkan betapa cepatnya Anda menemukan dalil
yang kuat dan relevan untuk khutbah atau ceramah hanya dalam hitungan detik.
o Penyusunan Draf yang Efisien: Salah satu keunggulan utama AI adalah
kemampuannya membantu Anda membuat draf awal artikel, kerangka
tulisan, atau bahkan bagian-bagian spesifik dari teks khutbah. Ini sangat
membantu ketika Anda memiliki ide besar namun terhambat pada tahap awal
penulisan.
91
o Personalisasi Konten: Beberapa alat AI bahkan dapat merekomendasikan
materi yang relevan berdasarkan riwayat pencarian atau preferensi Anda. Ini
bagaikan memiliki “pustakawan pribadi” yang senantiasa menyajikan inspirasi
dan materi sesuai dengan audiens target Anda.
o Verifikasi Awal dan Klarifikasi Informasi: Meskipun tidak menggantikan peran
ulama atau ahli dalam validasi keilmuan, AI dapat membantu
dalam memverifikasi kebenaran informasi dan menghindari hoaks dengan
merujuk silang ke sumber-sumber kredibel yang telah Anda unggah. Ini krusial
dalam menjaga integritas dan sanad keilmuan dakwah di era informasi yang
membanjiri.
2. Tujuan dan Manfaat Jangka Panjang
o Peningkatan Kualitas Konten Dakwah: Dengan akses mudah ke berbagai
sumber dan kemampuan analisis AI, para da’i dapat menghasilkan konten
dakwah yang lebih mendalam, faktual, dan argumentatif. Ini adalah langkah
penting untuk menjaga sanad keilmuan di tengah arus popularitas digital.
o Efisiensi Waktu dan Produktivitas: Waktu adalah aset berharga bagi para da’i.
AI mempersingkat waktu riset dan penyusunan draf, memungkinkan Anda
untuk lebih fokus pada aspek penyampaian, interaksi dengan jemaah, atau
kegiatan dakwah lainnya.
o Relevansi dan Kontekstualisasi Pesan: AI membantu Anda merancang
materi yang relevan dengan kegelisahan kontemporer dan kebutuhan
spiritual generasi muda. Dengan analisis data sosial, Anda dapat
menyesuaikan pesan dakwah dengan karakteristik audiens secara lebih efektif.
o Penyebaran Islam Moderat dan Damai: Di era polarisasi, AI dapat mendukung
produksi konten yang menarasikan semangat moderasi Islam dan
perdamaian, serta menjadi benteng dalam menangkal paham radikalisme.
o Aksesibilitas Pengetahuan: Teknologi ini memungkinkan Anda
untuk menciptakan dan menyebarkan konten dakwah yang mudah diakses
dan dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang awalnya sulit
dijangkau melalui media konvensional.
Panduan Optimal Menggunakan AI untuk Artikel Dakwah
Untuk menghasilkan artikel dakwah yang berbobot dan sesuai dengan tujuan syiar
92
Islam, berikut adalah prosedur yang dapat Anda ikuti, dengan memanfaatkan peran AI
di setiap langkahnya:
1. Tahap Pra-Produksi: Perencanaan dan Riset yang Matang
Tahap ini adalah fondasi. AI akan membantu Anda membangun kerangka yang kokoh.
Penetapan Tema dan Judul yang Menggugah:
o Pilih Tema yang Relevan: Mulailah dengan tema yang menarik perhatian
pembaca, dikenal publik, dan relevan dengan isu-isu kontemporer atau
kebutuhan umat. Contohnya: literasi digital, kesehatan mental, atau isu
sosial lainnya.
o Gunakan AI untuk Brainstorming: Masukkan beberapa kata kunci atau ide
awal ke AI. Mintalah AI untuk mengusulkan berbagai sudut pandang atau
sub-tema yang bisa dikembangkan. Anda akan terkejut dengan ide-ide
segar yang muncul!
o Buat Judul yang Memikat: Judul harus asli, relevan, singkat, menarik,
berbentuk frasa, logis, dan sesuai dengan isi. Mintalah AI untuk
menghasilkan beberapa opsi judul yang catchy dan informatif
Pengumpulan Data dan Sumber yang Komprehensif:
o Identifikasi Jenis Sumber: Kumpulkan ayat Al-Qur’an, hadis Nabi,
pendapat ulama (baik klasik maupun kontemporer), dan data faktual dari
lembaga kredibel (misalnya, survei, penelitian statistik).
o Unggah Sumber ke AI: Ini adalah fitur kunci pada alat seperti NotebookLM.
Unggah semua dokumen relevan (PDF, teks, webpages) ke
dalam workspace AI Anda. Ini termasuk:
Tafsir Al-Qur’an (misalnya, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain) untuk
pemahaman ayat.
Kitab Hadis (misalnya, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Ensiklopedi
Hadis Qudsi) untuk dalil hadis dan sanad keilmuan.
Rujukan Fikih (misalnya, Fikih Informasi Muhammadiyah, Fikih Zakat
Kontemporer) untuk panduan syar’i.
Artikel atau laporan penelitian tentang isu kontemporer.
93
o Manfaatkan Fitur Pencarian dan Rangkuman AI: Gunakan AI
untuk mencari dalil relevan dalam sumber yang diunggah, merangkum
poin-poin penting dari literatur, dan mengidentifikasi insights dari data.
Ini jauh lebih cepat dan akurat daripada pencarian manual.
Penyusunan Kerangka (Outline) Artikel:
o Berdasarkan tema, data, dan dalil yang terkumpul, buat kerangka tulisan
yang koheren. Untuk khutbah Jumat, pastikan mengikuti rukun khutbah yang
sah secara teologis.
o Mintalah AI untuk menyarankan struktur atau alur tulisan yang logis dan
menarik, misalnya berdasarkan model komunikasi persuasif atau naratif. Ini
akan memastikan pesan Anda tersampaikan dengan sistematis.
2. Tahap Produksi: Menulis Draf dengan Dukungan AI
Di sinilah ide-ide Anda mulai berbentuk. AI akan menjadi rekan kolaborasi Anda.
Penulisan Draf Awal:
o Mulai Menulis per Bagian: Berdasarkan kerangka, mulailah menulis setiap
bagian artikel. Untuk setiap argumen atau poin, sertakan dalil dari Al-Qur’an
dan Hadis yang kuat dan jelas sumbernya.
o Gunakan AI sebagai Co-writer: Mintalah AI untuk mengembangkan
paragraf dari poin-poin kerangka, menguraikan konsep, atau menyajikan
contoh-contoh relevan. Anda bahkan dapat memberi prompt AI untuk
menulis dengan gaya bahasa yang populer dan ringan agar mudah
dipahami masyarakat awam.
o Integrasikan Data: Narasi harus didukung data yang kekinian dan relevan.
Sajikan data secara jelas, dan bila mungkin dalam bentuk tabel atau grafik
untuk estetika dan kemudahan pemahaman, terutama untuk publikasi digital.
Gaya Bahasa dan Pendekatan yang Efektif:
o Pilih gaya yang solutif, empatik, dan menjawab kegelisahan nyata
masyarakat. Hindari bahasa yang terlalu akademis untuk publik umum.
o Untuk dakwah digital, pertimbangkan penggunaan humor atau gaya
penyampaian jenaka jika sesuai dengan substansi dan audiens, namun
tetap dalam koridor etika.
94
o Untuk khutbah Jumat, pastikan pesan-pesan agama disampaikan
dengan sejuk dan beradab, tidak menghakimi atau memecah belah.
3. Tahap Pasca-Produksi: Revisi dan Penyempurnaan Akhir
Sebelum disebarluaskan, pastikan tulisan Anda sempurna. AI akan menjadi pemeriksa
terakhir Anda.
Revisi dan Editing Konten:
o Periksa Koherensi: Pastikan setiap bagian tulisan saling berkaitan dan
membentuk ide pokok yang padu. AI dapat membantu mengidentifikasi
bagian yang kurang koheren atau alur yang terputus.
o Verifikasi Akurasi dan Kredibilitas: Lakukan pengecekan ulang terhadap
dalil dan data yang digunakan. Pastikan tidak ada misinformasi atau
informasi yang tidak terverifikasi. Ini sangat penting dalam dakwah digital
untuk menjaga integritas agama.
o Tinjau Etika Berdakwah: Pastikan tulisan mematuhi prinsip-prinsip dakwah
yang santun, seperti menghindari hoaks, ujaran kebencian, adu domba, dan
caci maki.
o Gunakan AI untuk Proofreading dan Saran Perbaikan: Mintalah AI
untuk memeriksa tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan memberikan
saran untuk penyempurnaan gaya bahasa atau penyederhanaan kalimat.
Adaptasi Format untuk Jangkauan Maksimal:
o Untuk Khutbah (Jumat, Idul fitri, Idul adha):
Pastikan struktur rukun khutbah terpenuhi.
Sertakan pembukaan dan penutup khutbah dalam bahasa Arab
berharakat sesuai standar.
Perhatikan durasi khutbah agar tidak terlalu panjang.
Untuk Idul fitri / Idul adha, sesuaikan tema dengan semangat perayaan
dan solidaritas sosial.
o Untuk Artikel Ceramah Umum/Populer:
Fokus pada penyampaian pesan secara to the point dan menarik.
Manfaatkan media visual atau audio-visual jika akan disajikan sebagai
video ceramah.
95
o Untuk Artikel Website/Media Sosial:
Konten digital friendly: Buat konten yang ringkas, menarik, dan sesuai
dengan karakteristik platform digital (misalnya video pendek
atau reels untuk TikTok/Instagram, artikel tanya jawab untuk website).
Optimalkan penggunaan media sosial sebagai ladang amal jariyah
dan konten produktif.
Pastikan informasi valid dan akuntabel.
Catatan Penting: AI adalah Alat, Bukan Pengganti
Ingatlah, AI adalah alat bantu. Integritas, keikhlasan, dan hubungan spiritual antara
penulis/khatib dan jamaah tidak dapat digantikan oleh teknologi. Gunakan AI
untuk mendukung proses, bukan sebagai pengganti pemahaman mendalam dan
tanggung jawab etis dalam berdakwah.
Dengan memanfaatkan asisten riset dan penulisan berbasis AI secara bijak,
para da’i dapat mengoptimalkan potensi dakwah di era digital, menyebarkan nilai-nilai
Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan lebih luas dan efektif.
Siapkah Menjadi Jurnalis Dakwah Digital?!
Apakah Anda siap untuk mulai bereksperimen dengan asisten AI dalam kegiatan
dakwah Anda? Bagian mana dari proses ini yang paling menarik perhatian Anda?
96
Panduan Komprehensif dan Etis Penyusunan Naskah
Dakwah Menggunakan Kecerdasan Buatan
Pendahuluan: Fajar Baru Dakwah di Era Kecerdasan
Buatan
Sejak fajar Islam, penyampaian risalah (dakwah) senantiasa beradaptasi dengan
medium dan teknologi zamannya. Dari mimbar fisik di Masjid Nabawi, lembaran-
lembaran papirus dan perkamen, hingga penemuan mesin cetak yang merevolusi
penyebaran kitab, para ulama dan pendakwah selalu memanfaatkan alat-alat yang
tersedia untuk memperluas jangkauan pesan ilahi. Di era modern, gelombang adaptasi
ini berlanjut melalui radio, televisi, dan puncaknya adalah internet serta media sosial,
yang mengubah lanskap dakwah secara fundamental.
1
Kehadiran teknologi informasi
telah mendemokratisasi akses terhadap ilmu agama, memungkinkan pesan dakwah
menjangkau audiens global tanpa terikat oleh batasan ruang dan waktu.
1
Kini, peradaban manusia tengah memasuki babak baru yang didorong oleh Kecerdasan
Buatan (AI). Kemunculan Large Language Models (LLM) seperti Google Gemini, yang
didukung oleh alat riset canggih semisal NotebookLM, menandai sebuah lompatan
kuantum dalam kapabilitas teknologi. Bagi para pendakwah (da'i), penulis konten Islami,
dan pemikir Muslim, era ini menawarkan akselerasi yang belum pernah terbayangkan
sebelumnya dalam proses riset, sintesis ide, dan penyusunan materi dakwah.
5
Potensi
yang terbuka bukan hanya sebatas peningkatan kuantitas atau efisiensi, melainkan juga
kesempatan untuk memperkaya kedalaman dan kualitas konten, menjadikannya lebih
terstruktur, kaya referensi, dan relevan dengan tantangan kontemporer.
Namun, di balik potensi yang luar biasa ini, terbentang pula tanggung jawab yang besar.
Sebagaimana alat-alat sebelumnya, AI adalah medium yang netral; nilainya bergantung
sepenuhnya pada bagaimana ia digunakan. Kemampuannya untuk menghasilkan teks
dengan cepat dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak diimbangi dengan kehati-
hatian, metodologi yang ketat, dan kesadaran etis yang mendalam.
Laporan ini disusun bukan sekadar sebagai tutorial teknis, melainkan sebagai sebuah
panduan metodologis yang komprehensif. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan
97
keunggulan teknologi AI dengan tanggung jawab syar'i yang melekat pada setiap
penyampai ilmu agama. Premis utama yang mendasari seluruh pembahasan ini adalah:
AI merupakan alat bantu (wasilah) yang sangat kuat, namun kendali mutlak atas
kualitas, kebenaran, dan otoritas konten sepenuhnya berada di tangan Anda sebagai
manusia, sebagai pemegang amanah ilmu.
7
Laporan ini akan memandu Anda melalui
landasan etis, alur kerja teknis yang terperinci, dan yang terpenting, proses verifikasi
kritis yang tidak dapat ditawar untuk memastikan bahwa setiap kata yang dihasilkan
dari kolaborasi dengan AI tetap otentik, dapat dipertanggungjawabkan, dan sejalan
dengan prinsip-prinsip luhur ajaran Islam.
Bagian I: Landasan Fundamental Menavigasi AI
dengan Kerangka Etika Islam
Sebelum menyelami aspek teknis penggunaan AI, sangat penting untuk membangun
fondasi yang kokoh di atas prinsip-prinsip etika Islam. Pemanfaatan teknologi canggih
ini dalam ranah dakwah bukanlah sekadar persoalan efisiensi, melainkan sebuah
tindakan yang memiliki implikasi teologis, epistemologis, dan etis yang mendalam.
Bagian ini akan menguraikan kerangka kerja Islam dalam memandang inovasi,
menimbang peluang dan risiko AI dari perspektif fikih, serta menegaskan peran sentral
manusia sebagai penanggung jawab utama atas kebenaran ilmu yang disampaikan.
1.1 Perspektif Islam tentang Inovasi dan Teknologi
Islam, sebagai agama yang relevan untuk setiap zaman (shalih li kulli zaman wa makan),
memandang inovasi dan teknologi dengan sikap yang terbuka dan tercerahkan.
9
Al-
Qur'an dan Hadits memberikan landasan teologis yang kuat bagi umat Islam untuk terus
mencari ilmu dan memanfaatkan sumber daya yang telah dianugerahkan Allah SWT
demi kemaslahatan umat manusia.
Dasar teologis ini dapat dirujuk pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
98



"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya..." (QS.
Al-Baqarah: 31).
9
Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia
kapasitas intelektual untuk memperoleh ilmu pengetahuan, yang mencakup
kemampuan untuk berinovasi dan mengembangkan teknologi seperti AI.
9
Dengan
demikian, teknologi pada hakikatnya adalah anugerah yang harus disambut dan
digunakan secara bijaksana.
Namun, pemanfaatan ini tidak tanpa batas. Setiap inovasi teknologi harus dievaluasi
melalui kerangka Maqashid Syariah, yaitu tujuan-tujuan utama ditetapkannya syariat
Islam. Kerangka ini memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat untuk
mencapai kebaikan (maslahah) dan mencegah kerusakan (mafsadah). Kelima tujuan
utama syariat tersebut adalah:
1. Menjaga Agama (Hifz ad-Din): Teknologi, termasuk AI, harus digunakan untuk
memperkuat pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Penggunaan AI untuk
menyusun materi dakwah yang berkualitas dan mudah diakses secara langsung
mendukung tujuan ini.
9
2. Menjaga Jiwa (Hifz an-Nafs): Teknologi harus meningkatkan keselamatan dan
kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya.
9
Dalam konteks dakwah, ini berarti AI
tidak boleh digunakan untuk menyebarkan konten yang memicu kekerasan atau
membahayakan kesehatan mental audiens.
3. Menjaga Akal (Hifz al-'Aql): AI harus menjadi sarana untuk meningkatkan
kapasitas intelektual dan keilmuan, bukan menyebarkan informasi yang salah,
menyesatkan, atau merusak pola pikir masyarakat.
9
4. Menjaga Keturunan (Hifz an-Nasl): Penggunaan teknologi harus selaras dengan
nilai-nilai moral dan sosial yang menjaga kehormatan dan keberlangsungan
keluarga serta masyarakat.
9
5. Menjaga Harta (Hifz al-Mal): Teknologi hendaknya dimanfaatkan untuk
kesejahteraan ekonomi yang adil dan menghindari eksploitasi.
9
Dengan berlandaskan Maqashid Syariah, penggunaan AI dalam dakwah dapat
diarahkan untuk menjadi kekuatan positif yang mendukung tujuan-tujuan luhur agama,
bukan sekadar menjadi inovasi tanpa arah.
99
1.2 AI sebagai Alat Bantu Dakwah: Peluang dan Tinjauan Fikih
Dari perspektif fikih (yurisprudensi Islam), hukum asal dari pemanfaatan teknologi baru
tunduk pada kaidah al-ashlu fil-asyya' al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu 'ala at-tahrim,
yang berarti "hukum asal segala sesuatu adalah boleh (mubah) sampai ada dalil yang
menunjukkan keharamannya". Dengan demikian, AI sebagai sebuah alat pada dasarnya
bersifat netral. Status hukum penggunaannyaapakah menjadi wajib, sunnah, mubah,
makruh, atau haramsangat bergantung pada niat (niyyah), cara penggunaan, dan
dampak (atsar) yang ditimbulkannya.
10
Peluang Transformasional
Pemanfaatan AI yang selaras dengan prinsip Islam membuka berbagai peluang
transformasional bagi dunia dakwah:
Aksesibilitas dan Jangkauan Luas: AI dapat membantu memproduksi dan
menyebarkan konten dakwah yang menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk
mereka yang berada di wilayah terpencil atau memiliki keterbatasan akses ke
lembaga pendidikan Islam formal.
2
Personalisasi Konten: Dengan kemampuannya menganalisis data, AI berpotensi
membantu menyesuaikan pesan dakwah agar lebih relevan dengan kebutuhan,
minat, dan tingkat pemahaman audiens yang beragam, dari generasi muda hingga
kalangan profesional.
8
Efisiensi Riset dan Persiapan: Bagi seorang da'i, AI dapat secara dramatis
mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk riset, mengumpulkan dalil, dan
menyusun kerangka ceramah, sehingga memungkinkan mereka untuk lebih fokus
pada pendalaman substansi dan penyampaian yang berkualitas.
12
Potensi Ancaman (Mafsadah) yang Harus Diwaspadai
Di sisi lain, penggunaan AI tanpa kehati-hatian dan kerangka etis yang jelas dapat
menimbulkan berbagai ancaman:
Penyebaran Hoaks dan Disinformasi: Kemudahan AI dalam menghasilkan teks
juga membuka pintu bagi penyebaran informasi agama yang tidak terverifikasi,
keliru, atau bahkan hoaks. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan
penyesatan di tengah umat.
12
Radikalisasi dan Ekstremisme: Algoritma AI yang tidak diawasi dengan baik
berisiko disalahgunakan untuk menanamkan nilai-nilai radikal dan ekstremis
dengan menyajikan dalil-dalil yang dipotong dari konteksnya.
13
100
Pendangkalan Makna Agama: AI yang hanya mengolah data teks berisiko
mereduksi ajaran Islam yang kaya akan dimensi spiritual, kontekstual, dan historis
menjadi sekadar respons otomatis yang miskin makna dan kedalaman.
15
Untuk mengantisipasi potensi ancaman ini, prinsip fikih Saddu al-Dhara'i (menutup
jalan yang menuju kepada keburukan) menjadi sangat relevan. Ini berarti, para
pengguna AI dalam dakwah wajib membangun sistem dan prosedur yang ketat
seperti verifikasi sumber dan pengawasan oleh ahliuntuk mencegah terjadinya
dampak negatif tersebut.
11
1.3 Prinsip Amanah Intelektual: Peran Manusia sebagai Verifikator
Utama
Pernyataan kunci dalam panduan awal yang menjadi dasar laporan ini adalah: "AI
adalah alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis Anda; kendali kualitas dan
kebenaran sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai manusia".
7
Pernyataan ini bukan
sekadar tips teknis, melainkan sebuah penegasan atas prinsip fundamental dalam
Islam, yaitu amanah. Setiap ilmu yang disampaikan adalah sebuah amanah yang akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Penggunaan AI dalam dakwah secara fundamental menantang struktur otoritas
keagamaan tradisional. Dalam tradisi keilmuan Islam, otentisitas dan validitas ilmu
dijaga melalui sebuah mekanisme transmisi yang ketat yang dikenal sebagai sanad
rantai periwayat yang bersambung dari seorang guru ke guru sebelumnya hingga
sampai kepada sumber utama, yaitu Nabi Muhammad SAW. Proses ini tidak hanya
mentransfer data atau informasi, tetapi juga adab, pemahaman kontekstual, dan
bimbingan spiritual.
AI, pada hakikatnya, adalah sebuah entitas tanpa sanad. Ia "belajar" dari miliaran data
di internet, sebuah lautan informasi yang bercampur antara yang benar dan yang salah,
tanpa struktur guru, tanpa verifikasi berjenjang, dan tanpa kesadaran spiritual.
8
AI tidak
memiliki pengalaman ruhani yang diperlukan untuk menafsirkan teks-teks suci dengan
kedalaman dan kearifan (hikmah). Oleh karena itu, output yang dihasilkannya, terutama
yang berkaitan dengan hukum (fikih) atau akidah, tidak dapat dianggap sebagai fatwa
atau pendapat yang otoritatif tanpa melalui proses validasi dan verifikasi oleh ulama
101
atau ahli yang kompeten.
17
Pergeseran ini membawa implikasi mendalam bagi peran seorang da'i di era digital. Ia
tidak lagi cukup hanya menjadi seorang muballigh (penyampai pesan). Dengan akses
tak terbatas ke informasi yang dapat dihasilkan AI, peran seorang da'i harus berevolusi
menjadi seorang muhaqqiq (peneliti dan verifikator) digital. Ia dituntut untuk memiliki
"kecerdasan spiritual" dan "kompetensi metodologis" yang lebih tinggi untuk dapat
menyaring, mengkurasi, memverifikasi, dan mengontekstualisasikan lautan informasi
yang dihasilkan oleh AI. Tanggung jawab untuk memastikan setiap dalil yang dikutip
adalah sahih, setiap terjemahan akurat, dan setiap penjelasan sesuai dengan kaidah
keilmuan Islam, berada sepenuhnya di pundaknya.
Bagian II: Perangkat Da'i Modern Tutorial Lengkap NotebookLM &
Gemini
Setelah memahami landasan etis dan tanggung jawab yang melekat, langkah
selanjutnya adalah menguasai perangkat yang akan digunakan. Alur kerja yang
diusulkan dalam panduan ini memanfaatkan sinergi dua alat canggih dari Google:
NotebookLM dan Gemini. Kombinasi ini bukan sekadar urutan teknis, melainkan sebuah
"metodologi penyaringan epistemologis" yang dirancang untuk memaksimalkan
kreativitas sambil menjaga fondasi otentisitas. Alur kerja ini secara sadar memisahkan
fase riset yang berbasis pada sumber-sumber tepercaya (tahqiq) dari fase elaborasi
kreatif dan pencarian tambahan (takhrij dan istidlal).
2.1 Fase 1: Riset Terpandu dengan NotebookLM Membangun Fondasi
Pengetahuan
NotebookLM berfungsi sebagai "ruang kerja cerdas" pribadi Anda. Ia adalah
lingkungan riset yang tertutup dan terkontrol, di mana AI hanya akan bekerja dan
memberikan jawaban berdasarkan sumber-sumber tepercaya yang Anda sediakan.
7
Dengan tidak mencari informasi secara bebas di internet, NotebookLM menjadi langkah
pertama dalam membangun "benteng otentisitas" untuk konten dakwah Anda. Ini
102
adalah "zona hijau" di mana semua output AI didasarkan pada materi yang telah Anda
kurasi dan percayai.
Langkah-langkah Praktis (Diperluas):
1. Akses dan Persiapan Notebook
Kunjungi situs web NotebookLM di https://notebooklm.google.com/ dan masuk
menggunakan akun Google Anda.20 Setelah masuk, Anda akan disambut dengan
antarmuka yang bersih. Klik tombol untuk membuat "Notebook Baru" dan berikan
nama yang relevan dengan topik riset Anda, misalnya "Khutbah: Sabar dalam Al-
Qur'an".
2. Kurasi dan Unggah Sumber Referensi
Ini adalah langkah paling krusial dalam keseluruhan proses. Kualitas output
NotebookLM sangat bergantung pada kualitas input yang Anda berikan.23
Kumpulkan sumber-sumber berkualitas tinggi yang relevan dengan topik Anda.
Format yang Didukung: Anda dapat mengunggah berbagai format, termasuk
PDF (misalnya, e-book kitab tafsir, jurnal ilmiah), Google Docs, file teks (.txt),
menyalin-tempel teks, memberikan URL situs web (misalnya, artikel dari situs
ulama tepercaya), atau bahkan menautkan ke transkrip video YouTube dan file
audio ceramah.
19
Strategi Pemilihan Sumber: Untuk topik keagamaan, prioritaskan sumber
primer dan sekunder yang otoritatif. Contohnya, untuk khutbah tentang
"Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)", unggah file PDF dari buku atau jurnal
ilmiah yang membahas topik tersebut secara mendalam, bukan sekadar artikel
opini dari blog yang tidak jelas kredibilitasnya.
7
3. Interaksi dan Ekstraksi Informasi
Setelah sumber-sumber Anda terunggah, NotebookLM akan secara otomatis
memberikan ringkasan awal dan beberapa pertanyaan yang disarankan. Anda
dapat mulai berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut melalui kolom chat.
Gunakan prompt (perintah teks) yang spesifik untuk mengekstrak informasi yang
Anda butuhkan.
Prompt untuk Ringkasan Tematik: "Buatkan ringkasan dari semua sumber
yang telah diunggah mengenai konsep sabar dalam Islam, dan kelompokkan
103
berdasarkan definisinya, jenis-jenisnya, serta buah dari kesabaran."
Prompt untuk Analisis Perbandingan: "Identifikasi perbedaan dan
persamaan pandangan antara Sumber A (Tafsir Al-Misbah) dan Sumber B
(Tafsir Ibnu Katsir) mengenai penafsiran ayat tentang kesabaran."
Prompt untuk Ekstraksi Dalil: "Buatkan daftar semua kutipan ayat Al-Qur'an
dan Hadits yang disebutkan dalam dokumen-dokumen ini, sertakan referensi
lengkapnya.".
21
4. Membuat Alat Bantu Belajar
Manfaatkan fitur-fitur canggih NotebookLM untuk memperdalam pemahaman
pribadi Anda sebelum mulai menulis.
Audio Overview: Klik tombol untuk menghasilkan Audio Overview.
NotebookLM akan membuat sebuah diskusi gaya podcast antara dua suara AI
yang membahas poin-poin utama dari sumber Anda. Ini adalah cara yang
efektif untuk mereview materi saat bepergian.
19
Fitur Lainnya: Gunakan fitur seperti "FAQ Guide" untuk menghasilkan daftar
pertanyaan dan jawaban umum dari materi, atau "Study Guide" untuk membuat
catatan ringkas yang terstruktur.
5. Menghasilkan Draf Awal yang Solid
Tujuan akhir dari fase ini adalah menghasilkan draf artikel pendek (kurang dari 500
kata) yang padat, terstruktur, dan yang terpenting, sepenuhnya didasarkan pada
sumber-sumber yang telah Anda verifikasi.
Contoh Teks Prompt (Untuk Naskah tentang KHGT): "Buatkan kerangka
artikel singkat (kurang dari 500 kata) tentang Kalender Hijriah Global Tunggal
(KHGT) berdasarkan dokumen-dokumen yang telah saya unggah. Fokus pada
latar belakang historis, urgensi implementasi bagi persatuan umat, dan
tantangan-tantangan utama yang dihadapinya.".
7
Setelah draf dihasilkan, tinjau kembali, lalu simpan ke catatan (Save to note)
dan salin teksnya untuk digunakan pada fase berikutnya.
104
2.2 Fase 2: Elaborasi dan Komposisi dengan Gemini Merangkai
Naskah Komprehensif
Jika NotebookLM adalah peneliti Anda yang cermat dan terisolasi, maka Gemini adalah
mitra kreatif Anda yang terhubung dengan keluasan internet. Peran Gemini adalah
untuk mengambil draf awal yang solid dari NotebookLM, lalu mengembangkannya
menjadi naskah yang lengkap, memperkayanya dengan referensi tambahan, memoles
gaya bahasanya, dan menyusunnya sesuai format yang diinginkan.
25
Proses ini terjadi
di "zona kuning", di mana kreativitas bertemu dengan kebutuhan akan verifikasi yang
ketat.
Tindakan menyalin draf dari NotebookLM ke Gemini merupakan titik transisi paling kritis
dalam alur kerja ini. Ini adalah momen di mana konten yang sumbernya "terjamin" (dari
sumber yang Anda kurasi) akan dicampur dengan konten dari sumber yang "tidak
terjamin" (dari penelusuran internet oleh Gemini). Oleh karena itu, setiap tambahan
informasi baru yang diberikan oleh Geminibaik itu ayat, hadits, atau fakta sejarah
harus dianggap sebagai "riwayat baru" yang statusnya belum diketahui (majhul) dan
wajib melalui proses verifikasi independen yang akan dibahas secara mendalam di
Bagian III.
Langkah-langkah Praktis (Diperluas):
1. Akses dan Pengaturan Gemini
Buka situs web Gemini di https://gemini.google.com/app dan pastikan Anda telah
masuk dengan akun Google Anda. Jika Anda memerlukan daftar referensi dari
internet, fitur penelusuran web harus aktif. Dalam beberapa versi, ini mungkin
disebut mode "Deep Research" atau ditandai dengan ikon pencarian web.7
2. Membangun "Master Prompt"
Efektivitas Gemini sangat bergantung pada kualitas prompt Anda. Alih-alih
memberikan perintah sepotong-sepotong, strategi terbaik adalah membangun
satu "Master Prompt" yang komprehensif. Prompt ini berisi seluruh instruksi untuk
naskah akhir. Mari kita bedah struktur sebuah Master Prompt yang baik,
berdasarkan contoh dari teks asli:
105
[Peran/Persona]
Bertindaklah sebagai seorang khatib dan penulis naskah khutbah yang
berpengalaman, yang mampu menyusun pesan yang mendalam namun mudah
dipahami oleh jamaah umum.
Kembangkan draf artikel berikut menjadi sebuah naskah khutbah Jumat yang
lengkap dan terstruktur dengan tema "Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal
(KHGT) untuk Persatuan Umat Islam".
Susun naskah ini dengan struktur khutbah standar, yang mencakup:
1. Pembukaan (mukadimah) lengkap dengan pujian kepada Allah (tahmid) dan
shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sertakan teks Arab yang berharakat
dan terjemahannya.
2. Isi khutbah yang menjelaskan secara mendalam tentang KHGT, meliputi:
sejarah singkatnya, tujuan dan hikmah utamanya, serta manfaat praktisnya
bagi umat Islam di seluruh dunia.
3. Argumen-argumen yang kuat untuk mendukung implementasi KHGT.
4. Analisis mengenai tantangan dan solusi potensial dalam penerapannya.
5. Bagian penutup yang berisi kesimpulan, ajakan untuk bertakwa, dan doa.
Sertakan teks Arab doa yang berharakat dan terjemahannya.
C
Cari dan sertakan minimal satu ayat Al-Qur'an dan satu Hadits shahih yang
relevan dengan tema persatuan umat atau penetapan waktu ibadah. Untuk
setiap dalil, sertakan teks Arab yang berharakat, terjemahan bahasa Indonesia
yang akurat, dan penjelasan atau tafsir singkat yang mengaitkannya dengan
topik KHGT.
Gunakan gaya bahasa yang retoris, menyentuh, dan mengalir. Bahasa yang
digunakan harus Islami namun tetap mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Tekankan pada aspek urgensi dan relevansi topik ini bagi kehidupan umat Islam
saat ini.
Berikut adalah draf awal yang harus dikembangkan:
**Prompt yang terstruktur seperti ini memberikan panduan yang sangat jelas
bagi AI, meminimalkan ambiguitas dan memaksimalkan kemungkinan untuk
mendapatkan hasil yang mendekati harapan.
27
106
3. Iterasi dan Penyempurnaan
Setelah Gemini menghasilkan naskah awal, bacalah dengan saksama. Jarang sekali
hasil pertama langsung sempurna. Lakukan proses iterasi dengan memberikan
prompt lanjutan untuk memperbaikinya.
Contoh Prompt Perbaikan:
"Penjelasan tentang tantangan implementasi di paragraf kelima terlalu
teknis. Sederhanakan bahasanya agar lebih mudah dipahami."
"Hadits yang dikutip kurang kuat relevansinya. Coba cari hadits lain yang
lebih eksplisit berbicara tentang pentingnya kesatuan dalam memulai
ibadah puasa."
"Buatkan analogi sederhana untuk menjelaskan konsep 'garis tanggal
internasional' dalam konteks KHGT.".
2
4. Ekspor dan Finalisasi
Setelah Anda puas dengan hasilnya (sebelum proses verifikasi), gunakan fitur
"Ekspor ke Dokumen" untuk memindahkan naskah tersebut langsung ke Google
Docs.7 Ini akan sangat memudahkan Anda untuk melakukan pengeditan manual,
penyesuaian format, dan pengarsipan. Dari Google Docs, Anda dapat
mengunduhnya dalam format lain seperti Docx atau PDF.
Bagian III: Menjaga Otentisitas dan Integritas
Proses Verifikasi Kritis
Bagian ini adalah jantung dari metodologi yang bertanggung jawab dalam
menggunakan AI untuk dakwah. Sebagaimana telah ditekankan, setiap informasi
keagamaan yang ditambahkan oleh Geminiyang bersumber dari internet luasharus
melewati proses verifikasi yang ketat dan sistematis. Mengabaikan tahap ini sama
dengan mengabaikan amanah keilmuan dan berisiko menyebarkan informasi yang
keliru kepada umat. Proses ini menuntut seorang da'i untuk bertindak layaknya seorang
peneliti hadits (muhaddits) di era digital, yang tidak menerima sebuah "riwayat"
(informasi dari AI) begitu saja tanpa memeriksa "sanad"-nya (sumber aslinya).
107
3.1 Urgensi Sanad dalam Tradisi Ilmu Islam
Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad (rantai transmisi) memegang peranan yang sangat
fundamental. Ia adalah "DNA" atau silsilah keilmuan yang dapat diaudit, memastikan
bahwa sebuah ajaran, khususnya Hadits, benar-benar terhubung secara otentik
kepada sumbernya, yaitu Nabi Muhammad SAW.
29
Tanpa sanad, pintu bagi pemalsuan
dan klaim-klaim tak berdasar akan terbuka lebar. Pernyataan masyhur dari seorang
ulama tabi'in, Abdullah bin al-Mubarak, merangkum urgensi ini dengan sempurna:
















"Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, niscaya orang akan sesukanya
mengatakan apa saja yang dia inginkan." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
Muqaddimah Shahih-nya).
30
Prinsip ini menegaskan bahwa sebuah informasi keagamaan tidak bisa dinilai hanya dari
kontennya (matan), tetapi juga harus divalidasi melalui jalur transmisinya (sanad). AI,
dengan arsitekturnya yang mengolah data dari internet tanpa struktur guru-murid yang
jelas, secara inheren adalah sebuah entitas tanpa sanad.
8
Ia tidak menerima ilmu dari
seorang guru yang kredibel, yang juga menerima dari gurunya, dan seterusnya. Oleh
karena itu, setiap nukilan dalil (Al-Qur'an atau Hadits) yang dihasilkannya harus
diperlakukan sebagai khabar munqathi' (laporan yang terputus sanadnya) yang nilainya
tidak dapat diterima sebelum melalui proses verifikasi eksternal dari sumber-sumber
yang otoritatif.
3.2 Panduan Praktis Takhrij dan Verifikasi Dalil
Takhrij adalah istilah dalam ilmu hadits yang merujuk pada kegiatan melacak sebuah
hadits pada sumber-sumber aslinya untuk mengetahui siapa yang meriwayatkannya
dan bagaimana status atau derajatnya. Dalam konteks ini, kita akan memperluas
konsep takhrij untuk mencakup verifikasi semua dalil syar'i.
108
Validasi Ayat Al-Qur'an
Meskipun Al-Qur'an terjaga keasliannya, kesalahan penulisan (baik teks Arab, harakat,
maupun nomor ayat) oleh AI masih sangat mungkin terjadi. Prosedur validasinya adalah
sebagai berikut:
1. Salin Teks Arab: Salin potongan teks ayat Al-Qur'an yang dihasilkan oleh Gemini.
2. Cari di Database Tepercaya: Tempel dan cari teks tersebut di situs database Al-
Qur'an yang memiliki reputasi baik, seperti TafsirWeb.com atau Quran.com.
31
Situs-situs ini menyediakan teks Arab standar Utsmani beserta terjemahan dari
lembaga resmi seperti Kementerian Agama RI.
3. Verifikasi Tiga Hal:
Teks dan Harakat: Pastikan setiap huruf dan harakatnya sama persis.
Nomor Surat dan Ayat: Konfirmasi bahwa nomor surat dan ayat yang
disebutkan AI sudah benar.
Terjemahan: Bandingkan terjemahan yang diberikan AI dengan terjemahan
resmi untuk memastikan tidak ada pergeseran makna yang signifikan.
4. Konteks Tafsir: Jika AI memberikan tafsir singkat, sangat dianjurkan untuk
merujuk silang ke sumber tafsir primer (seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Jalalain,
atau Tafsir al-Misbah yang tersedia online) untuk memastikan AI tidak
menyederhanakan secara berlebihan atau mengeluarkan pernyataan dari konteks
aslinya.
Validasi Hadits Nabi
Ini adalah bagian verifikasi yang paling kritis karena kompleksitas ilmu hadits. Seorang
da'i tidak dituntut menjadi muhaddits, namun wajib memiliki kemampuan dasar untuk
memverifikasi status hadits yang akan disampaikannya.
1. Pengantar Singkat 'Ulum al-Hadith: Pahami tingkatan dasar kualitas hadits
33
:
Shahih (Valid): Hadits dengan tingkat otentisitas tertinggi, sanadnya
bersambung dan perawinya kredibel. Dapat dijadikan hujjah.
Hasan (Baik): Tingkat otentisitasnya di bawah shahih karena ada sedikit
kelemahan pada perawinya (misalnya dari segi kekuatan hafalan), namun tetap
dapat dijadikan hujjah.
109
Dha'if (Lemah): Hadits yang sanadnya terputus atau salah satu perawinya
memiliki cacat yang signifikan. Secara umum tidak dapat dijadikan hujjah untuk
penetapan hukum (akidah dan fikih), meskipun sebagian ulama membolehkan
untuk fadha'il al-a'mal (motivasi beramal) dengan syarat tertentu.
Maudhu' (Palsu): Sebuah kedustaan yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Haram untuk diriwayatkan kecuali untuk menjelaskan
kepalsuannya.
2. Prosedur Verifikasi Hadits:
Ambil Potongan Matan: Salin beberapa kata kunci dari teks Arab (matan)
hadits yang diberikan oleh Gemini.
Gunakan Mesin Pencari Hadits: Manfaatkan situs-situs takhrij hadits online
yang kredibel. Beberapa yang terbaik adalah:
Sunnah.com: Menyediakan koleksi kitab hadits utama dengan terjemahan
bahasa Inggris dan penilaian derajat dari berbagai ulama.
35
Islamweb.net (Mawsu'ah al-Hadith): Alat yang sangat komprehensif
(dalam bahasa Arab) yang memungkinkan pencarian, melihat sanad, dan
biografi perawi.
36
Hadits.site: Situs berbahasa Indonesia yang fokus menampilkan
kesimpulan derajat hadits dari para ulama, sangat praktis untuk pemula.
37
Lakukan Pencarian: Masukkan potongan teks Arab ke dalam kolom pencarian
di salah satu situs tersebut.
Analisis Hasil: Hasil pencarian akan menunjukkan di kitab mana saja hadits
tersebut diriwayatkan (misalnya, Shahih al-Bukhari, Sunan at-Tirmidzi, dll.) dan
seringkali menyertakan penilaian (hukm) dari ulama ahli hadits (seperti Syaikh
al-Albani atau Syaikh Syu'aib al-Arnauth) mengenai derajatnya.
Prioritaskan Hadits Shahih dan Hasan: Untuk materi khutbah dan ceramah,
selalu prioritaskan untuk menggunakan hadits yang berderajat shahih atau
minimal hasan. Hindari penggunaan hadits dha'if kecuali Anda memahami betul
konteks dan aturannya, dan jangan pernah menggunakan hadits maudhu'.
3. Aplikasi Pendukung: Untuk kemudahan akses, manfaatkan aplikasi seluler yang
telah teruji, seperti Hadith Collection (All in one) dari Greentech Apps
Foundation atau Ensiklopedi Hadits 9 Imam dari Lidwa.
39
Aplikasi ini
memungkinkan Anda melakukan pencarian dan verifikasi langsung dari perangkat
seluler Anda.
110
Tabel 1: Alur Kerja Verifikasi Naskah Dakwah Berbasis AI
(Checklist Wajib)
Tabel berikut ini dirancang sebagai alat bantu praktis dan sistematis untuk memastikan
tidak ada satu pun klaim religius dalam naskah akhir yang luput dari verifikasi. Ini
mengubah anjuran etis menjadi sebuah prosedur operasional standar yang wajib diikuti
sebelum naskah dianggap final.
Komponen
Naskah
Teks/Klaim
dari AI
Metode
Verifikasi
Alat Bantu
(Situs/Apli
kasi)
Status (
Terverifikasi
/ 󰣖
Ditolak /
󰀓 Perlu
Revisi)
Catatan &
Perbaikan
Mukadim
ah
Teks Arab
&
Terjemah
Pencocok
an manual
Kamus
Arab-
Indonesia,
referensi
doa
Ayat Al-
Qur'an 1
(QS. X:Y)
"...teks
arab..."
Cek teks,
nomor,
terjemah
Quran.co
m,
TafsirWeb.
com
32
Pastikan
harakat
dan
terjemaha
n sesuai
standar
Kemenag.
Tafsir
Singkat 1
"Menurut
tafsir...,
ayat ini
Bandingka
n dengan
sumber
Tafsir Ibnu
Katsir
(online)
Periksa
apakah AI
menyeder
111
berarti..."
tafsir
hanakan
secara
berlebihan
atau keluar
konteks.
Hadits 1
"...teks
arab
hadits..."
Takhrij &
Cek
Derajat
Sunnah.co
m,
Hadits.site
35
Catat
perawi dan
status
(misal:
"HR.
Bukhari,
Shahih").
Kisah/Sej
arah
"Dikisahka
n bahwa
Sahabat
Fulan..."
Cari di
kitab
sirah/sejar
ah
Kitab sirah
online,
artikel
ilmiah
Waspadai
kisah
populer
yang tidak
memiliki
dasar kuat
(israiliyat).
Doa
Penutup
Teks Arab
&
Terjemah
Pencocok
an manual
Kumpulan
doa
ma'tsur
Pastikan
doa
bersumber
dari Al-
Qur'an
atau
Hadits
yang
shahih/has
an.
112
Bagian IV: Strategi Tingkat Lanjut dan Wawasan
Masa Depan
Menguasai alur kerja dasar adalah langkah pertama. Untuk benar-benar memanfaatkan
AI sebagai mitra intelektual yang andal, seorang da'i perlu mendalami seni prompt
engineering yang lebih canggih, mampu menerapkan metodologi ini dalam berbagai
studi kasus, dan memiliki visi tentang bagaimana teknologi ini akan terus berkembang
dan berinteraksi dengan dunia dakwah di masa depan.
4.1 Seni Prompt Engineering untuk Konten Dakwah
Prompt engineering adalah keterampilan merancang instruksi (prompt) untuk
memandu model AI agar menghasilkan output yang paling akurat, relevan, dan sesuai
dengan keinginan. Semakin baik prompt Anda, semakin baik pula hasilnya. Berikut
adalah beberapa teknik tingkat lanjut yang dapat diterapkan untuk penyusunan konten
dakwah:
Persona-Adoption (Mengadopsi Persona): Instruksikan AI untuk "berperan"
sebagai seorang ahli dengan latar belakang spesifik. Ini membantu AI untuk
mengadopsi gaya, nada, dan kerangka berpikir yang sesuai.
Contoh Prompt: "Bertindaklah sebagai seorang ahli tafsir yang menguasai
Tafsir al-Misbah. Jelaskan makna 'rahmatan lil 'alamin' dalam QS. Al-Anbiya:
107 dengan gaya bahasa yang puitis namun tetap merujuk pada analisis
kebahasaan Quraisy Shihab.".
27
Chain-of-Thought (Rantai Penalaran): Minta AI untuk menjelaskan proses
berpikirnya langkah demi langkah. Ini sangat berguna untuk tugas-tugas analitis
atau untuk memahami bagaimana AI sampai pada sebuah kesimpulan, sehingga
memudahkan Anda untuk memverifikasinya.
Contoh Prompt: "Saya ingin memahami dasar hukum wakaf produktif.
Jelaskan langkah demi langkah, mulai dari dalil umum di Al-Qur'an, kemudian
hadits spesifik tentang wakaf, hingga penerapan qiyas (analogi) oleh ulama
kontemporer untuk kasus wakaf dalam bentuk saham.".
42
113
Refinement & Iteration (Penyempurnaan Berulang): Perlakukan percakapan
dengan AI sebagai sebuah dialog. Jika output awal tidak memuaskan, berikan
umpan balik yang konstruktif untuk memperbaikinya.
Contoh Prompt Lanjutan: (Setelah AI memberikan jawaban) "Terima kasih.
Penjelasan Anda tentang qiyas masih terlalu akademis. Tulis ulang bagian
tersebut dengan menggunakan analogi sederhana tentang menanam pohon
yang buahnya terus dinikmati banyak orang, dan tujukan untuk audiens
remaja.".
25
Generasi Format Kreatif (Konten Turunan): Manfaatkan AI untuk
merepurposing (mengalihformatkan) konten utama Anda menjadi berbagai format
untuk platform yang berbeda. Ini sangat menghemat waktu dalam strategi dakwah
multi-kanal.
Contoh Prompt: "Berdasarkan naskah khutbah lengkap yang telah kita
hasilkan ini, buatkan konten-konten turunan berikut: (1) Tiga buah caption
Instagram yang menarik, masing-masing dengan satu kutipan kunci dan ajakan
untuk refleksi. (2) Lima buah tweet yang provokatif untuk memicu diskusi,
lengkap dengan tagar yang relevan. (3) Satu ringkasan singkat (sekitar 150
kata) untuk buletin WhatsApp jamaah.".
5
4.2 Studi Kasus: Dari Ide Menjadi Mimbar
Berikut adalah dua contoh penerapan end-to-end dari metodologi yang telah dibahas,
untuk menunjukkan bagaimana proses ini berjalan dalam praktik.
Studi Kasus 1 (Tema Ibadah): "Menemukan Kembali Khusyuk dalam Shalat di
Era Digital"
Tujuan: Menyusun khutbah Jumat yang relevan bagi jamaah yang merasa sulit
fokus dalam shalat karena distraksi digital.
Fase 1 (NotebookLM):
Sumber Diunggah: (1) PDF terjemahan bab "Rahasia-rahasia Shalat" dari kitab
Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. (2) Artikel ilmiah psikologi tentang
114
dampak multitasking dan notifikasi gawai terhadap rentang perhatian. (3)
Jurnal studi Islam kontemporer tentang "Spiritualitas di Era Digital".
Interaksi: Prompt yang digunakan: "Sintesiskan konsep 'hudhur al-qalb'
(hadirnya hati) dari Imam al-Ghazali dengan temuan psikologi modern tentang
'attentional residue'. Buatkan draf singkat yang menjelaskan bagaimana
distraksi digital menjadi tantangan kontemporer bagi khusyuk."
Fase 2 (Gemini):
Master Prompt: Draf dari NotebookLM dimasukkan ke dalam master prompt
yang meminta penyusunan khutbah lengkap, dengan instruksi untuk mencari
dalil tentang pentingnya khusyuk dan memberikan tips praktis yang
menggabungkan nasihat spiritual klasik dengan strategi digital detox.
Output AI: Gemini menghasilkan naskah khutbah yang mengutip QS. Al-
Mu'minun: 1-2 dan sebuah hadits tentang shalat sebagai "penyejuk mata"
(qurratu a'yun).
Fase 3 (Verifikasi):
Verifikasi Al-Qur'an: Ayat dari QS. Al-Mu'minun diperiksa di TafsirWeb.com;
teks, nomor, dan terjemahan dipastikan akurat.
Verifikasi Hadits: Potongan hadits "qurratu a'yun" dicari di Sunnah.com.
Ditemukan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ahmad, dan
dinilai shahih oleh para ulama. Informasi ini kemudian dicatat untuk
disampaikan saat khutbah.
Studi Kasus 2 (Tema Muamalah): "Etika Bisnis Seorang Muslim: Meneladani
Integritas Rasulullah di Pasar Modern"
Tujuan: Menyusun artikel ceramah untuk komunitas pengusaha Muslim.
Fase 1 (NotebookLM):
Sumber Diunggah: (1) PDF buku Fiqh Muamalah. (2) Bab-bab dari kitab sirah
nabawiyah yang membahas karier dagang Nabi Muhammad SAW sebelum dan
sesudah kenabian. (3) Artikel dari Harvard Business Review tentang "The
Importance of Trust in Business".
Interaksi: Prompt: "Buatkan daftar prinsip-prinsip bisnis utama yang
dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW, seperti kejujuran (al-amin),
transparansi, dan larangan gharar. Hubungkan setiap prinsip dengan konsep
bisnis modern seperti 'brand integrity' dan 'customer trust'."
115
Fase 2 (Gemini):
Master Prompt: Meminta Gemini untuk mengembangkan daftar prinsip
tersebut menjadi sebuah artikel ceramah yang dinamis, dengan instruksi untuk
memberikan contoh-contoh konkret bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat
diterapkan dalam konteks bisnis modern seperti e-commerce, dropshipping,
dan pemasaran digital.
Output AI: Gemini menyusun artikel yang kaya dengan contoh, seperti
"Menghindari gharar dalam deskripsi produk di marketplace" dan "Menerapkan
prinsip al-amin dalam ulasan pelanggan".
Fase 3 (Verifikasi):
Verifikasi Riwayat: Semua riwayat tentang praktik dagang Nabi yang dikutip
oleh Gemini diperiksa silang dengan sumber-sumber sirah yang otoritatif untuk
memastikan kebenarannya dan menghindari kisah-kisah populer yang lemah
atau tidak berdasar.
4.3 Masa Depan AI dalam Dakwah: Proyeksi dan Refleksi
Perkembangan AI berjalan dengan sangat cepat, dan dampaknya pada penyebaran
informasi keagamaan akan terus tumbuh.
Proyeksi Masa Depan: Kita dapat memproyeksikan munculnya alat-alat yang
lebih canggih di masa depan. Mungkin akan ada AI yang dilatih secara khusus pada
korpus kitab-kitab Islam klasik yang telah diverifikasi, sehingga mampu melakukan
analisis sanad awal atau memberikan jawaban fikih dengan merujuk langsung pada
mazhab-mazhab yang diakui.
46
Chatbot fikih yang mampu berdialog secara
mendalam atau alat bantu tafsir tematik yang interaktif juga merupakan
kemungkinan yang sangat nyata.
Refleksi Kritis dan Batasan AI: Namun, di tengah segala kemajuan tersebut,
penting untuk selalu merefleksikan apa yang tidak akan pernah bisa digantikan
oleh AI. Dakwah sejati bukan hanya tentang transfer informasi yang efisien; ia
adalah proses transformasi hati yang melibatkan dimensi-dimensi kemanusiaan
yang mendalam.
8
AI tidak akan pernah bisa menggantikan:
Keteladanan Hidup (Uswah Hasanah): Dakwah yang paling efektif adalah
dakwah melalui perbuatan dan karakter. AI tidak memiliki kehidupan untuk
116
diteladani.
Sentuhan Kemanusiaan dan Empati: Kemampuan untuk merasakan,
memahami, dan terhubung dengan kondisi emosional dan spiritual jamaah
adalah inti dari bimbingan yang tulus.
Kearifan (Hikmah): Kemampuan untuk menyampaikan kebenaran yang tepat,
pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat kepada orang yang tepat. Ini
adalah buah dari ilmu, pengalaman, dan kedekatan dengan Allah.
Bimbingan Spiritual (Tarbiyah Ruhiyah): Proses membimbing jiwa
seseorang adalah sebuah hubungan sakral antara guru dan murid yang tidak
dapat direplikasi oleh algoritma.
Pada akhirnya, AI harus diposisikan sebagai asisten yang cerdas, bukan sebagai guru
spiritual. Ia dapat membantu menyiapkan materi, namun penyampaian yang lahir dari
hati yang tulus dan kehidupan yang selaras dengan pesan yang disampaikan tetap
menjadi esensi dakwah yang tak tergantikan.
Kesimpulan: Teknologi sebagai Pelayan Iman, Bukan
Tuan
Perjalanan melalui lanskap dakwah di era kecerdasan buatan membawa kita pada
sebuah kesimpulan yang fundamental: teknologi, secanggih apa pun, harus senantiasa
diposisikan sebagai pelayan iman, bukan sebagai tuannya. Kemunculan alat bantu
seperti NotebookLM dan Gemini bukanlah akhir dari tradisi keilmuan Islam, melainkan
sebuah undangan untuk memperkuatnya dengan metodologi yang lebih disiplin dan
tanggung jawab etis yang lebih tinggi. AI menawarkan potensi luar biasa untuk
mengakselerasi riset, memperkaya konten, dan memperluas jangkauan pesan Islam.
Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan secara positif jika dan hanya jika ia
digunakan dalam kerangka kerja yang ketat, di mana prinsip amanah intelektual dan
kewajiban verifikasi menjadi prioritas utama.
Alur kerja yang diuraikan dalam laporan inidari riset terkontrol di NotebookLM,
elaborasi kreatif di Gemini, hingga proses verifikasi dalil yang tidak dapat ditawar
dirancang untuk menjadi jembatan antara inovasi dan otentisitas. Ia menuntut para da'i
di era digital untuk berevolusi, untuk menjadi "cendekiawan-teknolog": sosok yang
117
tidak hanya fasih dalam menyampaikan pesan agama, tetapi juga terampil dalam
menguasai alat-alat modern tanpa pernah kehilangan pijakan pada tradisi keilmuan
Islam yang agung, terutama pada urgensi sanad dan validitas sumber.
Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari setiap aktivitas dakwah adalah untuk mendekatkan
umat manusia kepada Sang Pencipta. Naskah khutbah yang terstruktur dengan baik,
artikel ceramah yang kaya referensi, dan konten digital yang menarik adalah sarana-
sarana penting, namun ia bukanlah tujuan itu sendiri. Esensi dakwah tetap terletak pada
ketulusan hati (ikhlas), kedalaman spiritual (bashirah), dan keteladanan hidup (uswah)
sang penyampai pesan. Kecerdasan buatan dapat membantu kita menyusun peta jalan
yang lebih baik, tetapi perjalanan spiritual itu sendiri harus ditempuh dengan kaki
kemanusiaan kita, dengan hati yang senantiasa terhubung kepada Allah SWT.
Lampiran: Perangkat Esensial untuk Da'i Digital
A. Direktori Situs & Aplikasi Verifikasi
Berikut adalah daftar sumber daya digital yang direkomendasikan dan tepercaya untuk
proses verifikasi dalil.
Al-Qur'an dan Tafsir:
TafsirWeb.com: Database Al-Qur'an lengkap dengan terjemahan Kemenag RI dan
kumpulan tafsir dari berbagai ulama (Ibnu Katsir, Jalalain, Quraish Shihab, dll.).
32
Quran.com: Antarmuka yang bersih dan modern untuk membaca dan mencari Al-
Qur'an dengan berbagai terjemahan.
Al Quran (Tafsir & Per Kata) by Greentech Apps: Aplikasi seluler komprehensif
yang menyediakan analisis kata per kata, berbagai tafsir, dan fitur audio.
31
Hadits (Pencarian dan Verifikasi Derajat):
Sunnah.com: Koleksi kitab hadits standar (kutubus sittah dan lainnya) dengan
terjemahan dan penilaian derajat hadits. Sangat dianjurkan untuk verifikasi awal.
35
Hadits.site: Situs berbahasa Indonesia yang sangat praktis, fokus pada pencarian
hadits dan menampilkan kesimpulan hukum atau derajatnya dari para ulama.
37
118
Islamweb.net (Mawsu'ah al-Hadith): Alat pencarian hadits yang sangat powerful
dalam bahasa Arab, cocok untuk penelitian yang lebih mendalam karena
menampilkan sanad lengkap.
36
Hadith Collection (All in one) by Greentech Apps: Aplikasi seluler yang berisi
lebih dari 41.000 hadits dari 15 kitab, lengkap dengan fitur pencarian, penilaian
derajat, dan pelacakan bacaan.
39
Ensiklopedi Hadits 9 Imam (Lidwa): Aplikasi populer di Indonesia yang
menyediakan akses ke sembilan kitab hadits utama dengan terjemahan bahasa
Indonesia.
40
B. Template "Master Prompt" Khutbah Jumat (Dapat Diadaptasi)
Gunakan template berikut di Gemini sebagai titik awal. Salin, tempel, dan isi bagian [...]
sesuai dengan kebutuhan spesifik Anda.
Bertindaklah sebagai seorang khatib dan penulis naskah khutbah Jumat yang
berpengalaman, yang mampu menyusun pesan yang mendalam, terstruktur, dan
mudah dipahami oleh jamaah umum.
Kembangkan draf artikel berikut menjadi sebuah naskah khutbah Jumat yang lengkap
dan mengalir dengan tema "".
Susun naskah ini dengan struktur khutbah standar, yang mencakup:
1. Pembukaan (mukadimah) lengkap dengan pujian kepada Allah (tahmid),
syahadat, dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sertakan teks Arab yang
berharakat dan terjemahannya.
2. Wasiat takwa di awal khutbah.
3. Isi khutbah yang menjelaskan secara mendalam tentang,, dan.
4. Bagian penutup yang berisi kesimpulan, ajakan untuk bertakwa kembali, dan doa
penutup. Sertakan teks Arab doa yang berharakat dan terjemahannya.
Untuk mendukung argumen, cari dan sertakan minimal [Jumlah] ayat Al-Qur'an dan
[Jumlah] Hadits shahih yang relevan dengan tema. Untuk setiap dalil, wajib sertakan
teks Arab yang berharakat, terjemahan bahasa Indonesia yang akurat, dan penjelasan
119
singkat yang mengaitkannya dengan topik khutbah.
Gunakan gaya bahasa yang. Pastikan bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh
masyarakat awam dan dapat menginspirasi untuk beramal.
C. Glosarium
Istilah Teknis:
Prompt Engineering: Seni dan ilmu merancang instruksi (prompt) yang efektif
untuk memandu model AI menghasilkan output yang diinginkan.
Large Language Model (LLM): Jenis model kecerdasan buatan yang dilatih pada
data teks dalam jumlah masif untuk memahami, meringkas, menghasilkan, dan
memprediksi konten baru. Gemini adalah salah satu contohnya.
NotebookLM: Alat riset berbasis AI dari Google yang bekerja secara eksklusif pada
sumber-sumber (dokumen, URL, dll.) yang disediakan oleh pengguna.
Gemini: Keluarga model AI multimodal dari Google yang mampu memahami dan
memproses berbagai jenis informasi seperti teks, gambar, audio, dan video.
Grounding: Proses membatasi respons AI agar hanya didasarkan pada
sekumpulan informasi atau sumber tertentu, yang merupakan prinsip kerja utama
NotebookLM.
Istilah Keislaman:
Dakwah: Kegiatan menyeru atau mengajak manusia untuk beriman dan taat
kepada Allah SWT.
Da'i: Orang yang melaksanakan dakwah; pendakwah.
Maqashid Syariah: Tujuan-tujuan fundamental di balik penetapan hukum Islam,
yang berpusat pada pemeliharaan kemaslahatan manusia.
Sanad: Rantai atau silsilah para periwayat yang menyampaikan sebuah hadits dari
satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada Nabi Muhammad
SAW.
Matan: Teks atau isi dari sebuah hadits.
Takhrij: Kegiatan melacak sebuah hadits pada sumber-sumber aslinya untuk
mengetahui status dan para periwayatnya.
Shahih: (Valid/Otentik) Tingkatan tertinggi untuk kualitas sebuah hadits.
120
Hasan: (Baik) Tingkatan hadits yang kualitasnya di bawah shahih namun tetap
dapat diterima sebagai hujjah.
Dha'if: (Lemah) Tingkatan hadits yang memiliki cacat pada sanad atau perawinya
sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum.
Maudhu': (Palsu) Hadits yang dibuat-buat dan disandarkan secara dusta kepada
Nabi Muhammad SAW.
Works cited
1. Peran Teknologi dalam Perkembangan Dakwah Islam Kontemporer ...,
accessed October 1, 2025, https://kumparan.com/ahmad-taufiqurrahman-
1732171386463566102/peran-teknologi-dalam-perkembangan-dakwah-
islam-kontemporer-23zmqhowOrz
2. PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERKEMBANGAN DAKWAH
MAHASISWA - Neliti, accessed October 1, 2025,
https://media.neliti.com/media/publications/163399-none-00a5bbee.pdf
3. TEKNOLOGI DAKWAH ISLAM - UIN Malang, accessed October 1, 2025,
https://uin-malang.ac.id/r/210201/teknologi-dakwah-islam.html
4. Dakwah Kontemporer dan Teknologi Informasi di Dunia Pendidikan Pondok
Pesantren, accessed October 1, 2025,
https://stainwsamawa.ac.id/jurnal/index.php/munawwarah/article/view/352
5. How to Use AI for Content Creation: 20 Examples - StoryChief, accessed
October 1, 2025, https://storychief.io/blog/uses-of-ai-content-creation
6. Top 10 Real-Life Use Cases for AI in Content Marketing - Redress
Compliance, accessed October 1, 2025,
https://redresscompliance.com/top-10-real-life-use-cases-for-ai-in-
content-marketing/
7. Menyusun Naskah Khutbah Jumat / Artikel Ceramah dengan Bantuan AI,
accessed October 1, 2025,
https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/menyusun-naskah-khutbah-
jumat-artikel-ceramah-dengan-bantuan-ai/
8. (PDF) Dakwah Islam dan Artificial Intelligence: Penelitian Atas ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/394727085_Dakwah_Islam_dan_
Artificial_Intelligence_Penelitian_Atas_Pemanfaatan_AI_Dalam_Penyebaran
_Nilai-nilai_Islam
9. islam, kecerdasan buatan (ai) dan teknologi masa depan : perspektif ...,
accessed October 1, 2025, https://muhammadiyahwonosobo.com/blog-
detail/islam-kecerdasan-buatan-ai-dan-teknologi-masa-depan-
121
perspektif-etika-dan-tanggung-jawab
10. Analisis Hukum Islam Terhadap Penggunaan Aplikasi Berbasis AI Sebagai
Media Dakwah Era Digital Perspektif Maqâshid Syarî'ah - ResearchGate,
accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/394332005_Digitalisasi_Dakwah
_Berbasis_Artificial_Intelligence_Analisis_Hukum_Islam_Terhadap_Penggun
aan_Aplikasi_Berbasis_AI_Sebagai_Media_Dakwah_Era_Digital_Perspektif_
Maqashid_Syari'ah
11. Kecerdasan Buatan dan Fatwa Ijma: Perspektif Islam Terhadap Inovasi
Modern - Jurnal, accessed October 1, 2025,
https://ejournal.uiidalwa.ac.id/index.php/aijis/article/download/1902/870/94
52
12. INOVASI DAKWAH BERBASIS AI DI ERA 5.0: PERSPEKTIF ISLAM
KONTEMPORER - IAIDA, accessed October 1, 2025,
https://ejournal.iaida.ac.id/index.php/JDARISCOMB/article/download/3316/
1795/8411
13. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Sebagai Strategi Dakwah ...,
accessed October 1, 2025,
https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/Tadbir/article/download/11663/572
7
14. Tantangan Dakwah di Era Digital dan Cara Menghadapinya secara ...,
accessed October 1, 2025,
https://edakwah.umy.ac.id/fitriarh/2025/05/31/tantangan-dakwah-di-era-
digital-dan-cara-menghadapinya-secara-kreatif-dan-komunikatif/
15. Etika Islam Dalam Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Mencapai
Studi Islam Yang Modern dan Berorentasi Pada Kemanusiaan - Rumah
Jurnal UIN Datokarama Palu, accessed October 1, 2025,
https://jurnal.uindatokarama.ac.id/index.php/kiiies50/article/view/4260
16. Berislam di Era AI: Menjaga Autentisitas di Tengah Kemajuan ..., accessed
October 1, 2025, https://kumparan.com/syaefmz/berislam-di-era-ai-
menjaga-autentisitas-di-tengah-kemajuan-teknologi-24VjgDxIFLT
17. OTORITAS FATWA KEAGAMAAN DALAM KONTEKS ERA KECERDASAN
BUATAN (ARTIFICIAL INTELLIGENCE/AI) Lukman Hakim1, Muhamad Risqil
Azizi 2, accessed October 1, 2025,
http://ejournal.iaiibrahimy.ac.id/index.php/arrisalah/article/download/2101/1
044
18. KIAI-AI: RENEGOTIATING RELIGIOUS AUTHORITY IN THE ..., accessed
October 1, 2025,
https://jurnalfuf.uinsa.ac.id/index.php/JITP/article/view/3616/1827
122
19. Google NotebookLM | AI Research Tool & Thinking Partner, accessed
October 1, 2025, https://notebooklm.google/
20. A Guide to Using NotebookLM by Google (How To + Examples), accessed
October 1, 2025, https://freshvanroot.com/blog/notebooklm-google/
21. NotebookLM: A Guide With Practical Examples | DataCamp, accessed
October 1, 2025, https://www.datacamp.com/tutorial/notebooklm
22. Google NotebookLM, accessed October 1, 2025,
https://notebooklm.google.com/
23. NotebookLM Guide: 25 Pro Tips for Research Excellence - atalupadhyay -
WordPress.com, accessed October 1, 2025,
https://atalupadhyay.wordpress.com/2025/08/09/notebooklm-guide-25-
pro-tips-for-research-excellence/
24. How Do You Use NotebookLM for Deep Learning? - Reddit, accessed
October 1, 2025,
https://www.reddit.com/r/notebooklm/comments/1nrl9c9/how_do_you_us
e_notebooklm_for_deep_learning/
25. 7 Tips To Make You a Gemini AI Expert - Workflows - God of Prompt,
accessed October 1, 2025, https://www.godofprompt.ai/blog/7-tips-to-
make-you-a-gemini-ai-expert
26. Google Gemini: Mastering Every Feature (Including Hidden Ones) -
Medium, accessed October 1, 2025, https://medium.com/@ambysan/how-
to-master-google-gemini-every-feature-explained-hidden-ones-too-
bcab9a7a280b
27. Prompt Engineering Best Practices: Tips, Tricks, and Tools ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.digitalocean.com/resources/articles/prompt-engineering-
best-practices
28. Prompt Engineering for AI Guide | Google Cloud, accessed October 1,
2025, https://cloud.google.com/discover/what-is-prompt-engineering
29. SEJARAH DAN KEDUDUKAN SANAD DALAM HADIS NABI ... - CORE,
accessed October 1, 2025, https://core.ac.uk/download/pdf/234751128.pdf
30. Kedudukan Sanad dalam Islam - alQuran-Sunnah, accessed October 1,
2025, https://www.alquran-sunnah.com/artikel/kategori/manhaj/561-
pentingnya-sanad-dalam-islam.html
31. Al Quran (Tafsir & by Word) - Apps on Google Play, accessed October 1,
2025, https://play.google.com/store/apps/details?id=com.greentech.quran
32. Baca Quran Online: Terjemah Arab-Latin-Indonesia, accessed October 1,
2025, https://tafsirweb.com/
33. BAB III METODOLOGI KRITIK HADIS A. Pengertian Metode Kritik ...,
123
accessed October 1, 2025,
http://repository.uinsu.ac.id/20696/4/BAB_III_PERPUSTAKAAN.pdf
34. Metodologi Kritik Hadis - IAIN Syekh Nurjati Cirebon, accessed October 1,
2025,
https://repository.syekhnurjati.ac.id/5962/1/BUKU%20METODOLOGI%20K
RITIK%20HADIS%202020%20%28PAK%20WASMAN%29.pdf
35. Sunnah.com - Sayings and Teachings of Prophet Muhammad (ىلص ...,
accessed October 1, 2025, https://sunnah.com/
36. Mencari Hadits Dan Sanadnya Dengan Bantuan Islamweb.Net | KIPMI,
accessed October 1, 2025, https://kipmi.or.id/mencari-hadits-dan-
sanadnya-dengan-bantuan-islamweb-net.html
37. Hadits.Site | Mencari Hadits Dan Derajatnya, accessed October 1, 2025,
https://hadits.site/
38. Mencari Hadits Dan Derajatnya - Hadits.Site, accessed October 1, 2025,
https://www.hadits.site/profil
39. Hadith Collection (All in one) - Aplikasi di Google Play, accessed October 1,
2025,
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.greentech.hadith&hl=id
40. Aplikasi Hadits Android & iOS Gratis, accessed October 1, 2025,
https://store.lidwa.com/
41. Getting started with prompts for text-based Generative AI tools | Harvard
University Information Technology, accessed October 1, 2025,
https://www.huit.harvard.edu/news/ai-prompts
42. 10 Best Practices for Prompt Engineering with Any Model - PromptHub,
accessed October 1, 2025, https://www.prompthub.us/blog/10-best-
practices-for-prompt-engineering-with-any-model
43. Effective Prompts for AI: The Essentials - MIT Sloan Teaching & Learning
Technologies, accessed October 1, 2025,
https://mitsloanedtech.mit.edu/ai/basics/effective-prompts/
44. How to Create Effective AI Prompts (With Examples) | Grammarly,
accessed October 1, 2025,
https://www.grammarly.com/blog/ai/generative-ai-prompts/
45. 25+ Petunjuk AI Gemini Terbaik untuk Meningkatkan Produktivitas,
accessed October 1, 2025, https://clickup.com/id/blog/270641/gemini-
meminta
46. Consumer Terms - AI-Fiqh, accessed October 1, 2025,
https://www.aifiqh.com/consumer-terms
47. AI Fiqh & Retrieval-augmented generation (RAG) - DEV Community,
accessed October 1, 2025, https://dev.to/irfanghapar/ai-fiqh-retrieval-
124
augmented-generation-rag-nl8
48. Naskah Khutbah Jumat_ Jihad Digital Bersenjata Internet Dan Amunisi AI |
PDF - Scribd, accessed October 1, 2025,
https://id.scribd.com/document/905136138/Naskah-Khutbah-Jumat-
Jihad-Digital-Bersenjata-Internet-Dan-Amunisi-AI
125
AI-Digital Library untuk Riset dan Dakwah Ke-Islaman
Aplikasi Online Seputar Materi KHGT & Ilmu Falak
AI Library: https://hisabmu.com/ailib/
Di era digital ini, cara kita belajar dan berdakwah perlu ikut berkembang.
Membayangkan sebuah perpustakaan buku yang bukan cuma tumpukan kertas, tapi
juga bisa diajak ngobrol, kedengarannya keren, kan? Nah, inilah yang lagi dikejar dalam
mendukung riset dan pengembangan dakwah Islamiyah di zaman sekarang.
Hal yang mendesak untuk segera dibangun Book Database atau AI
Library untuk berbagai tema keilmuan Islam yang sangat luas, sehingga umat Islam
dan non-Islam semakin mudah mengakses semua buku. Mereka dimudahkan
membaca, memahami, jika belum atau tidak faham maka bisa langsung bertanya atau
berdiskusi langsung dengan AI Library. Hal yang mudah untuk dibangun. Mengapa
tidak!!?
Penting banget punya database buku yang rapi dan lengkap. Kenapa? Karena ini jadi
fondasi utama buat para peneliti dan pegiat dakwah. Mereka butuh akses cepat ke
berbagai literatur untuk bisa mengembangkan metode dakwah yang pas atau
menciptakan materi-materi dakwah yang nyambung sama kondisi masyarakat kini.
126
Lebih dari Sekadar Unduh Buku: Perpustakaan Berotak AI!
Bayangkan ini: perpustakaan kita itu bukan cuma tempat buat nyimpan atau download
buku. Itu sih cara lama! Sekarang, yang kita butuhkan adalah perpustakaan
yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI). Jadi, setelah baca buku, kamu
bisa langsung bertanya atau berdiskusi dengan “si AI” tentang isi buku itu. Bingung
sama satu konsep? Tanya aja! Pengen tahu pandangan lain? Diskusiin! Dengan begini,
pemahamanmu tentang buku jadi jauh lebih mendalam, bukan cuma sekadar baca dan
lewat. Ini mengubah perpustakaan jadi teman diskusi yang pintar.
AI Library: Tulang Punggung Dakwah Masa Kini
Pengembangan dakwah itu luas, lho! Mulai dari mikirin metode dan strategi baru,
sampai nyiapin konten atau materi dakwah yang kekinian. Semua itu butuh dukungan
data dan informasi yang cepat dan akurat. Di sinilah digital library yang terintegrasi
AI jadi super penting. AI bisa bantu kita menganalisis tren dakwah, menyarikan poin-
poin penting dari ribuan referensi, bahkan bantu merangkai ide-ide materi dakwah
yang lebih kreatif. Jadi, “perpustakaan pintar” ini bakal jadi kunci untuk membuat
dakwah kita makin efektif dan jangkauannya makin luas.
Intip Fitur dan Cara Pakai “AI Library” https://hisabmu.com/ailib/
Nah, sekarang kita bedah sedikit kode program yang Anda berikan. Dari situ, kita bisa
lihat kalau aplikasi “AI Library” di https://hisabmu.com/ailib/ ini berfungsi sebagai
jembatan yang memudahkan kita mengakses koleksi dokumen PDF (khususnya Ilmu
Falak & KHGT) dan menghubungkannya dengan kecerdasan buatan
seperti ChatGPT untuk memproses isi dokumen.
127
Yuk, kita lihat fitur-fiturnya:
Daftar Dokumen Otomatis: Begitu masuk ke aplikasi, kamu bakal langsung
disuguhkan daftar file PDF dari https://hisabmu.com/dokumen/. Nama file dan
ukurannya juga nongol, jadi gampang milihnya.
Tiga Pilihan Interaksi Cerdas: Ini nih bagian serunya!
1. “Bikin Artikel Default” (PILIHAN 1): Malas mikir prompt? Tinggal klik judul
file PDF yang kamu mau, nanti otomatis AI akan membuatkan ringkasan atau
artikel standar dari isinya. Simpel!
2. “Ngobrol dengan AI Pakai Prompt Kustom” (PILIHAN 2): Punya
pertanyaan spesifik atau mau AI bantu analisis dari sudut pandang tertentu?
Kamu bisa tulis sendiri pertanyaan atau instruksimu (disebut “prompt”) di
kotak yang tersedia. Setelah itu, baru deh pilih file PDF-nya. Aplikasi bakal
nyambungin prompt-mu dengan dokumen yang kamu pilih, terus siap-siap
ke ChatGPT.
3. “Download Langsung Aja!” (PILIHAN 3): Kalau kamu cuma mau ambil
filenya tanpa interaksi AI, aplikasi ini juga sediain tombol langsung ke
direktori dokumen aslinya. Jadi, bisa download PDF-nya kapan aja.
128
Langsung Nyambung ke ChatGPT: Fitur “otak” dari AI Library ini adalah
kemampuannya yang instan. Begitu kamu pilih dokumen dan instruksi (prompt),
aplikasi bakal langsung membuka tab baru di browsermu, menuju ke ChatGPT,
dengan prompt dan link dokumen yang sudah otomatis terisi. Jadi, kamu tinggal
lihat hasilnya atau lanjut ngobrol sama ChatGPT.
Apa gunanya sih aplikasi ini?
Akses Dokumen Gampang Banget: Enggak perlu repot nyari-nyari, semua
dokumen Ilmu Falak & KHGT sudah tertata rapi.
Pahami Dokumen Lebih Cepat: Dengan bantuan AI, kamu bisa dapat ringkasan
cepat, analisis singkat, atau bahkan ide artikel dari dokumen tebal dalam
hitungan detik. Ini bantu banget buat riset atau belajar!
Fleksibel dan Sesuai Kebutuhan: Mau ringkasan umum? Bisa. Mau analisis
mendalam dengan pertanyaan spesifik? Juga bisa! Kamu yang pegang kendali.
Dukung Riset dan Belajar: Aplikasi ini jadi alat yang powerful buat siapa saja
yang mendalami Ilmu Falak dan KHGT, apalagi kalau butuh pemahaman cepat
dari banyak sumber.
Gimana Cara Pakainya? Gampang banget!
1. Buka Halaman: Akses aplikasi “AI Library” di browsermu
(https://hisabmu.com/ailib/).
2. Pilih Dokumen dan Perintah:
129
Untuk Ringkasan Cepat: Di bagian “PILIHAN 1”, tinggal klik aja judul file PDF
yang kamu ingin tahu isinya. Beres!
Untuk Tanya-Tanya Lebih Dalam: Di bagian “PILIHAN 2”, ketik pertanyaan
atau perintahmu di kotak teks. Misalnya: “Tolong jelaskan konsep hisab rukyat
dalam dokumen ini dengan bahasa yang sederhana.” Setelah itu, klik tombol
“Pilih File dari Daftar” dan pilih PDF yang kamu inginkan dari daftar pop-up.
Untuk Download Saja: Kalau cuma pengen unduh PDF-nya, langsung aja klik
tombol “Pilih & Download File PDF” di bagian “PILIHAN 3”.
3. Lanjut di ChatGPT: Setelah memilih dokumen (untuk interaksi AI), otomatis akan
terbuka tab baru yang langsung mengarah ke ChatGPT. Di sana, kamu bisa melihat hasil
respons AI atau melanjutkan obrolan.
Aplikasi online ini (https://hisabmu.com/ailib/) adalah alat yang cerdas dan praktis
untuk mengakses ilmu, sekaligus memanfaatkan kekuatan AI untuk mendalami dan
memahami konten-konten Islami, khususnya Ilmu Falak dan KHGT. Gimana, tertarik
mencoba?
130
Dakwah Digital Guncang Mimbar: Tren Konten dan
Dominasi Pendakwah di Indonesia
Dalam satu dekade terakhir, lanskap dakwah Islam di Indonesia mengalami pergeseran
signifikan dari mimbar fisik ke ranah digital yang dinamis. Didorong oleh penetrasi
internet dan media sosial yang masif, pesan-pesan keagamaan kini menyebar dengan
kecepatan dan jangkauan tak terduga. Fenomena ini melahirkan “Ustadz Youtuber”,
pendakwah yang memanfaatkan platform digital seperti YouTube, Instagram, dan
TikTok untuk membangun audiens kolosal. Dakwah kini dapat diakses kapan saja dan di
mana saja, menjadikan internet rujukan utama bagi umat Muslim, terutama generasi
muda.
Transformasi ini membawa peluang demokratisasi pengetahuan agama, namun juga
tantangan penyebaran informasi tidak terverifikasi dan komersialisasi dakwah.
Demografi Audiens dan Preferensi Konten
Audiens utama dakwah digital adalah generasi Milenial dan Gen Z. Kelompok demografi
terbesar dan pengguna internet paling aktif ini memiliki preferensi konten yang khas.
Mereka mencari konten otentik, relevan dengan pengalaman hidup, serta disajikan
dalam format kreatif dan visual menarik. Alih-alih dogma, mereka tertarik pada dakwah
yang menawarkan solusi spiritual atas kegelisahan kontemporer, seperti stabilitas
keuangan, kesehatan mental, pencarian jodoh, dan keadilan sosial. Gaya penyampaian
131
santai, humoris, dan dialogis lebih disukai daripada pendekatan formal. Ustadz Hanan
Attaki, yang menargetkan “pemuda hijrah” dengan gaya dekat anak muda, menjadi
contoh sukses adaptasi ini.
Metodologi “Skor Viralitas”
Laporan ini memperkenalkan “Skor Viralitas” (skala 1-100%) untuk mengukur popularitas
dan dampak konten dakwah. Skor ini merupakan sintesis dari:
1) Jangkauan Kuantitatif: Jumlah penayangan di YouTube dan pengikut di media
sosial, menunjukkan potensi jangkauan.
2) Keterlibatan Kualitatif: Interaksi audiens seperti suka, komentar, dan berbagi,
menandakan resonansi emosional dan intelektual.
3) Penyebutan di Media dan Survei: Frekuensi kemunculan pendakwah atau tema
dalam survei popularitas dan liputan berita.
4) Daya Tahan Konten (Evergreen Factor): Kemampuan konten tetap relevan dan
menarik penonton baru dalam jangka panjang.
Skor Viralitas ini memberikan gambaran holistik tentang pengaruh konten, melampaui
angka penayangan sesaat.
Analisis Tematik Konten Dakwah Viral
Analisis mendalam setahun terakhir menunjukkan beberapa tema dominan yang
berhasil menarik perhatian audiens:
1) Motivasi & Solusi Kehidupan Sehari-hari (Estimasi Viralitas: 95%): Tema paling
populer, menyasar kebutuhan emosional dan psikologis audiens terkait rezeki,
jodoh, kesabaran, dan utang. Relevan dengan Milenial dan Gen Z sebagai “generasi
sandwich” yang menghadapi tekanan finansial dan isu kesehatan mental. Dakwah
digital berfungsi sebagai “terapi spiritual” dan mekanisme koping.
2) Fikih Praktis & Ibadah Harian (Estimasi Viralitas: 90%): Pilar konten “evergreen”
berupa panduan dan utilitas ibadah. Kanal seperti Yufid.TV menjadi rujukan utama
dengan jutaan penayangan untuk video tutorial shalat atau dzikir. Konten ini memiliki
“umur simpan” sangat panjang, menggantikan peran buku panduan ibadah
tradisional.
3) Humor dalam Dakwah (Estimasi Viralitas: 88%): Pendorong viralitas kuat,
memadukan substansi agama dengan gaya jenaka. Ustadz Das’ad Latif menjadi
contoh utama dengan gaya ceramah ringan dan lucu yang mudah dibagikan. Humor
berfungsi sebagai “pelumas sosial” yang menurunkan ambang batas psikologis bagi
audiens, cocok untuk video pendek di TikTok dan Instagram Reels.
132
4) Momen Keagamaan Musiman (Estimasi Viralitas: 85%): Keterlibatan audiens
memuncak selama hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Tema
refleksi diri pasca-Ramadhan saat Idul Fitri, serta peneladanan Nabi Ibrahim AS dan
Ismail AS saat Idul Adha, sangat beresonansi. Konten musiman yang viral mampu
memberikan makna spiritual mendalam pada pengalaman kolektif dan budaya
masyarakat.
5) Isu Sosial Kontemporer dalam Bingkai Islam (Estimasi Viralitas: 75%): Dakwah
digital semakin membahas isu-isu sosial modern. Organisasi seperti NU dan MUI
aktif memberikan panduan moral terkait etika bermedia sosial, judi online, dan
kesehatan mental. Pergeseran ini menunjukkan fungsi dakwah sebagai pemandu
etis yang menawarkan perspektif Islam sebagai solusi masalah zaman sekarang.
Profil Pendakwah Digital Paling Berpengaruh
Para pendakwah ini menjadi motor penggerak viralitas, membangun koneksi kuat
dengan jutaan audiens:
1) Ustadz Abdul Somad (UAS) (Estimasi Pengikut: >15 Juta): Konsisten di puncak
popularitas. Gaya ceramahnya lugas, tegas, namun diselingi humor, diterima
berbagai lapisan masyarakat. Kanal YouTube resminya dikelola profesional,
menghasilkan pendapatan untuk kegiatan dakwah dan sosial.
2) Ustadz Adi Hidayat (UAH) (Estimasi Pengikut: >11 Juta): Dikenal karena
kedalaman ilmunya, terutama penguasaan Al-Qur’an dan Hadits, dengan
kemampuan menyebutkan letak ayat secara presisi. Gaya intelektual, terstruktur,
dan sistematisnya menarik audiens yang mencari pemahaman agama mendalam.
3) Gus Baha (KH Bahauddin N.) (Estimasi Pengikut: >1 Juta (Afiliasi)):
Merepresentasikan kekuatan dakwah tradisionalis NU di ranah digital. Menawarkan
kajian kitab kuning klasik yang mendalam namun disajikan logis, santai, dan humor
khas pesantren. Popularitasnya menunjukkan kerinduan publik terhadap model
dakwah otentik.
Pendakwah Generasi Muda:
1) Ustadz Hanan Attaki (>13 Juta Pengikut): Ikon “hijrah” di kalangan anak muda
urban. Gayanya santai, berbahasa sehari-hari, dan penampilannya modis. Tema
ceramahnya relevan dengan dunia anak muda, dan model dakwahnya inovatif
dengan “Sharing Time” di lokasi premium.
133
2) Ustadz Das’ad Latif (>5 Juta Pengikut): Kekuatan utamanya adalah kepiawaian
berkomunikasi dan humor. Gaya ceplas-ceplos dengan logat Bugis kental menjadi
daya tarik utama, menjadikan dakwah menghibur dan merakyat.
Analisis Platform dan Implikasi Strategis
Keberhasilan dakwah digital di Indonesia tak lepas dari pemanfaatan strategis berbagai
platform media sosial yang membentuk ekosistem saling mendukung.
1. Ekosistem Multi-Platform:
1) YouTube: Arsip utama dan platform konten mendalam, ideal untuk ceramah penuh
dan kajian kitab.
2) TikTok dan Instagram Reels: Mesin viral dan gerbang penemuan, ideal untuk klip
pendek yang menarik.
3) Situs Web Resmi dan Portal Berita: Sumber otoritatif dan kredibel untuk konten
berbasis teks seperti khutbah dan fatwa.
Terdapat hubungan simbiosis antar-platform, menciptakan siklus lalu lintas yang saling
menguntungkan. Klip viral dari ceramah panjang di YouTube dapat menyebar di TikTok,
memicu audiens mencari konten lengkap di YouTube.
2. Implikasi dan Rekomendasi Strategis:
1) Untuk Praktisi Dakwah (Da’i): Penting mengadopsi strategi multi-platform dan
mengadaptasi materi mendalam YouTube ke format pendek yang menarik untuk
TikTok dan Instagram Reels. Kunci keberhasilan adalah narasi otentik, relevan, dan
gaya yang sesuai platform.
2) Untuk Organisasi Keagamaan: Perlu meningkatkan inovasi di platform muda,
memproduksi konten video dinamis, dan berkolaborasi dengan pendakwah
populer.
3) Menghadapi Tantangan Kredibilitas: Era digital membawa tantangan seperti
penyebaran hoax, pendangkalan makna, dan komersialisasi berlebihan. Menjaga
kredibilitas sumber, kedalaman materi, dan transparansi menjadi krusial.
Pendakwah dan lembaga keagamaan harus menjadi sumber pencerahan
tepercaya, menekankan validasi ilmu dan sanad keilmuan.
Dengan pendekatan yang tepat, inovasi teknologi digital dapat secara efektif
memperkuat nilai-nilai Islam dan menumbuhkan kesadaran beragama yang sehat di
masyarakat modern.
134
Eksplorasi Materi Al-Islam Menggunakan Generative
Artificial Intelligence (GenAI)
Contoh penggunaan teks prompt langsung pakai
Artikel berikut ini adalah kelanjutan dari artikel:
1. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/pengembangan-dakwah-era-
digital/ penjelasan umum penggunaan Generative AI
2. https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/menyusun-naskah-khutbah-
jumat-artikel-ceramah-dengan-bantuan-ai/ sebagai bentuk praktek model
bahasa AI secara khusus, yaitu menggunakan NotebooLM dean Gemini.
Silahkan diakses 2 link di atas lebih dahulu agar memahami secara utuh prinsip,
tujuan dan cara penggunaannya dengan baik dan benar.
Ringkasan artikel sebelumnya, langkah-langkah menyusun buku atau artikel:
1. Menentukan judul atau tema,
2. Menentukan atau mencari dan mendapatkan referensi baik buku atau jurnal
sesuai dengan judul atau tema yang ditentukan,
3. Mengupload semua file referensi melalui NotebookLM
(https://notebooklm.google.com/),
135
4. Membuat artikel/deskripsi pendek sesuai judul atau tema yang ditentukan
menggunakan teks prompt yang sesuai. Baca artikel sebelumnya dalam
penggunaan teks prompt di NotebookLM,
5. Meng-copy output darii NotebookLM untuk dijadikan input teks prompt
pada Gemini (https://gemini.google.com/)
6. Menempelkan (paste) teks dari output NotebookLM di Gemini, kemudian
tuliskan teks prompt yang sesuai agar dapat menghasilkan output yang tepat.
Baca artikel sebelumnya dalam penggunaan teks prompt di Gemini,
7. Jika akan membuat buku dengan daftar referensi yang lengkap maka PILIH
FITUR DEEP RESEARCH, tetapi jika hanya akan membuat artkel tanpa daftar
referensi yang menyertai maka TIDAK PERLU pilih fitur DEEP RESEARCH,
8. Jika sudah selesai maka tinggal pilih Ekspor ke Dokumen (Export to Docs) untuk
edit di Google docs,
9. Selesai edit maka pilih menu File > Download: Docs atau PDF
10. Di Ms Words dapat dilakukan editing ulang, lalu layouting > iap printing,
langkah 10 ini termasuk langkah yang lebih lama.
Pengantar
Pengembangan dakwah Islamiyah dapat dilakukan dengan melakukan berbagai
variasi dan inovasi menggunakan berbagai jenis media atau multimedia atau
saranaprasarana, juga pengembangan konten atau materi dakwahnya, ustadz atau
mubaligh sewajarnya menguasai teknik dan strategi dakwah termasuk dakwah digital
menggunakan berbagai jenis model bahasa Artificial Intelligence (AI).
Di tengah arus deras kemajuan teknologi, Generative Artificial Intelligence (GenAI
seperti Gemini, ChatGPT, Deepseek, Qwen, Grok dan Copilot) hadir sebagai
terobosan revolusioner yang menawarkan potensi luar biasa dalam berbagai bidang, tak
terkecuali dalam memperkaya khazanah keilmuan Islam. Dengan kemampuannya
mengolah informasi, menyajikan penjelasan terstruktur, serta memfasilitasi proses
belajar interaktif, GenAI membuka cakrawala baru bagi umat Islam untuk menyelami dan
mendalami ajaran Al-Islam secara lebih komprehensif. Artikel ini akan mengeksplorasi
bagaimana GenAI dapat menjadi mitra strategis dalam eksplorasi materi Al-Islam, mulai
136
dari pemahaman Al-Qur’an dan Hadits hingga studi fiqh, bahasa Arab, sejarah, bahkan
isu-isu kontemporer, seraya membantu membangun rutinitas spiritual yang lebih baik.
Memahami Peran Prompt dalam GenAI
Inti dari interaksi dengan GenAI terletak pada “prompt“, yaitu instruksi atau permintaan
yang diberikan kepada sebuah model bahasa (seperti GenAI) untuk memandu atau
mengarahkan model tersebut dalam menghasilkan output yang diinginkan. Dalam
konteks GenAI untuk eksplorasi Al-Islam, prompt biasanya berupa teks yang digunakan
oleh pengguna untuk meminta informasi, menjelaskan pertanyaan, atau mengarahkan
percakapan dengan model. Prompt dapat berupa pertanyaan, perintah, atau
pernyataan yang dirancang sedemikian rupa agar model dapat memberikan jawaban
atau respon yang relevan dan sesuai dengan konteks.
Pentingnya prompt dalam interaksi dengan model bahasa adalah untuk memberikan
arahan yang jelas sehingga model dapat menghasilkan output yang diinginkan oleh
pengguna. Dengan kata lain, prompt berperan sebagai input yang mengarahkan model
dalam menghasilkan output yang tepat. Respon GenAI sangat tergantung pada
kejelasan dan kelengkapan pertanyaan atau pernyataan atau data atau gambar atau
atau contoh atau format atau template atau deskripsi yang anda berikan! Oleh karena
itu, penting untuk mempelajari “Prompt Engineering” agar interaksi dengan GenAI
menjadi lebih efektif.
137
Prinsip Pembuatan Prompt yang Efektif:
Agar GenAI dapat memberikan respons yang optimal, ada beberapa prinsip yang perlu
diperhatikan dalam membuat prompt:
Jelas dan Spesifik: Buatlah prompt yang jelas dan spesifik agar model dapat
memahami dengan baik apa yang diminta.
Konsistensi: Gunakan format prompt yang konsisten untuk jenis informasi yang
sama. Misalnya, jika meminta definisi, gunakan format yang sama setiap kali.
Kesesuaian Konteks: Sesuaikan prompt dengan konteks dan tujuan
pembicaraan untuk memastikan jawaban yang relevan.
Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami: Hindari penggunaan bahasa yang
ambigu atau terlalu teknis yang mungkin membingungkan model.
Gunakan Kata Kunci: Gunakan kata kunci atau frase yang relevan dengan
informasi yang ingin Anda dapatkan agar model dapat lebih fokus dalam
memberikan jawaban.
Batasan Informasi: Berikan batasan informasi yang cukup jelas agar model tidak
memberikan jawaban yang terlalu umum atau luas.
Uji Coba dan Evaluasi: Lakukan uji coba terhadap prompt yang Anda buat untuk
memastikan bahwa jawaban yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.
138
Penerapan GenAI dalam Eksplorasi Materi Al-Islam:
GenAI memiliki potensi besar dalam membantu umat Islam mendalami berbagai aspek
ajaran Al-Islam:
1. Membantu Memahami Al-Qur’an dan Hadits:
GenAI dapat digunakan untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang
mungkin sulit dipahami. Melalui penjelasan tafsir, konteks asbabun nuzul, serta
hubungannya dengan permasalahan kehidupan modern, umat Islam dapat lebih
mendalami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Contoh Penerapan: Jika seseorang ingin memahami tafsir dari ayat Al-Qur’an
tentang kesabaran (misalnya QS Al-Baqarah: 286), GenAI bisa memberikan
penjelasan tafsir dari beberapa ulama, serta contoh nyata bagaimana kesabaran
bisa diterapkan dalam menghadapi tantangan sehari-hari.
Manfaat: Umat Islam bisa memperoleh penjelasan cepat tentang ayat-ayat Al-
Qur’an yang relevan dengan masalah pribadi atau sosial yang mereka hadapi,
membantu mereka dalam mengambil keputusan dan mengatur sikap sehari-hari.
2. Belajar Fiqh dan Hukum Islam:
GenAI bisa membantu umat Islam memahami berbagai isu dalam fiqh dan hukum Islam
yang seringkali membingungkan, seperti perbedaan mazhab, aturan ibadah, hingga
panduan mengenai zakat, shalat, puasa, dan muamalah. Melalui penjelasan yang jelas
dan lugas, umat bisa memahami hukum syariat yang sesuai dengan konteks kehidupan
mereka.
Contoh Penerapan: Seseorang yang sedang belajar tentang hukum zakat dapat
menanyakan kepada GenAI mengenai perhitungan zakat mal atau zakat
penghasilan. GenAI bisa menjelaskan cara perhitungan, siapa saja yang berhak
menerima, dan bagaimana zakat bisa disalurkan.
Manfaat: Memudahkan umat Islam dalam mematuhi kewajiban syariat dengan cara
yang mudah dimengerti dan langsung dapat diterapkan.
3. Belajar Tajwid dan Membaca Al-Qur’an:
Dengan bimbingan tajwid dari GenAI, umat Islam dapat mempelajari aturan-aturan
dasar dalam membaca Al-Qur’an dengan benar, seperti hukum mad, ghunnah, ikhfa’,
dan sebagainya. GenAI dapat menjelaskan teori tajwid dan membantu dalam
membedakan antara bacaan yang benar dan yang salah.
139
Contoh Penerapan: Seseorang yang sedang belajar membaca Al-Qur’an bisa
bertanya tentang aturan bacaan Idgham Bighunnah dan bagaimana
menerapkannya pada surat-surat tertentu. GenAI bisa memberikan contoh ayat
dan penjelasan tentang cara melafalkannya dengan benar.
Manfaat: Meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai dengan tajwid,
menjaga keaslian dan keindahan bacaan, serta memperbaiki kualitas ibadah.
4. Pembelajaran Bahasa Arab:
Bahasa Arab merupakan kunci utama dalam memahami sumber-sumber ajaran Islam
seperti Al-Qur’an dan Hadits. GenAI dapat membantu dalam mempelajari kaidah-kaidah
dasar bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, dan balaghah, serta membantu
menerjemahkan kata-kata sulit dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Contoh Penerapan: Seseorang yang ingin memahami makna kata dalam ayat Al-
Qur’an bisa menanyakan kepada GenAI tentang kata kerja atau bentuk kata
benda tertentu dalam bahasa Arab, beserta artinya dalam konteks ayat.
Manfaat: Mempercepat pemahaman bahasa Arab, sehingga lebih mudah
mendalami makna ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits secara langsung.
5. Pembelajaran Sejarah Islam (Sirah Nabawiyah, Hayatush Shahabah, Tarikh
Islam):
GenAI dapat membantu dalam mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah (Sirah
Nabawiyah) dan para sahabat (Hayatush Shahabah) dengan menyediakan kisah-kisah
inspiratif dan hikmah yang relevan dengan kehidupan modern. Ini dapat memperkuat
pemahaman umat tentang keteladanan yang dapat diambil dari kehidupan mereka.
Contoh Penerapan: Seseorang yang ingin mengetahui bagaimana Rasulullah
mengelola konflik antar-kelompok di Madinah dapat meminta GenAI
menceritakan peristiwa Piagam Madinah dan bagaimana hal itu bisa diterapkan
dalam membangun perdamaian di masyarakat saat ini.
Manfaat: Umat Islam dapat mengambil hikmah dari sejarah untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal kepemimpinan, etika, dan
toleransi.
140
6. Diskusi Isu-isu Kontemporer dalam Perspektif Islam:
GenAI juga dapat membantu menjelaskan pandangan Islam terhadap isu-isu
kontemporer seperti etika teknologi, lingkungan, keuangan syariah, hak asasi manusia,
dan masalah sosial lainnya. Dengan ini, umat Islam dapat memahami bagaimana Islam
memberikan panduan untuk menghadapi tantangan zaman modern.
Contoh Penerapan: Seseorang yang ingin mengetahui pandangan Islam tentang
etika dalam penggunaan teknologi modern bisa bertanya kepada GenAI, dan
mendapatkan panduan dari prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, tanggung
jawab, dan manfaat bagi kemanusiaan.
Manfaat: Membantu umat Islam untuk tetap relevan dan berpikir kritis dalam
menghadapi isu-isu modern, sambil tetap memegang prinsip-prinsip Islam.
7. Membangun Rutinitas Spiritual:
GenAI dapat memberikan tips atau saran praktis untuk meningkatkan rutinitas ibadah
harian, seperti cara mengatur waktu shalat, membaca Al-Qur’an secara konsisten, serta
menjalankan ibadah sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis, dzikir, dan sedekah.
Contoh Penerapan: Seseorang yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya
dapat meminta GenAI memberikan jadwal atau saran tentang cara menjaga
konsistensi dalam beribadah, termasuk membangun kebiasaan baru yang
mendekatkan diri kepada Allah.
Manfaat: Membantu umat Islam dalam membangun rutinitas ibadah yang lebih
baik dan teratur, meningkatkan kesadaran spiritual sehari-hari.
141
Contoh Prompt yang Baik, Benar, dan Tepat untuk Eksplorasi Tema-
tema dalam Kajian Islam:
Untuk mendapatkan respons yang optimal dari GenAI, berikut adalah contoh-contoh
prompt yang dirancang untuk eksplorasi berbagai tema dalam kajian Islam.
Setiap teks prompt di bawah ini dapat digunakan untuk input prompt berbagai jenis
model bahasa seperti:
Gemini (https://gemini.google.com),
Qwen (https://chat.qwen.ai/),
Deepseeek (https://chat.deepseek.com/),
ChatGPT (https://chatgpt.com/),
Grok (https://grok.com/), dan
Copilot (https://m365.cloud.microsoft/chat?auth=2).
Silahkan dicoba untuk dipraktekkan!
1. Al-Islam:
Bagaimana Al-Islam menekankan keseimbangan antara ibadah vertikal kepada
Allah dan ibadah sosial kepada sesama manusia? Berikan contoh-contoh konkret
dari kehidupan Rasulullah
.
Jelaskan bagaimana konsep tauhid berperan dalam membentuk pandangan
dunia seorang Muslim, dan bagaimana hal ini memengaruhi setiap aspek
kehidupannya, dari ekonomi hingga politik.
2. Al-Qur’an:
Bagaimana metode tadabbur Al-Qur’an bisa membantu umat Islam untuk
memahami pesan-pesan ilahi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari?
Berikan langkah-langkah praktis dan contoh penerapannya.
Apa perbedaan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-Qur’an, dan
bagaimana konteks sejarah mempengaruhi isinya? Jelaskan implikasi perbedaan
ini terhadap penafsiran dan penerapan hukum.
3. Ulumul Qur’an:
Apa peran ilmu Ulumul Qur’an dalam memahami konteks turun (asbabun nuzul)
dari ayat-ayat Al-Qur’an dan bagaimana ini mempengaruhi tafsir ayat-ayat
tersebut? Jelaskan secara rinci dengan studi kasus.
142
Jelaskan perbedaan antara qira’at mutawatir dan qiraat syadz dalam ilmu qira’at!
Mengapa penting bagi seorang Muslim untuk memahami perbedaan ini dalam
konteks membaca dan memahami Al-Qur’an?
4. Al-Hadits:
Bagaimana kedudukan Hadits Qudsi dibandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits
Nabawi dalam sumber hukum Islam? Berikan contoh-contoh yang menjelaskan
perbedaannya secara jelas.
Apa peran sanad dan matan dalam menentukan kualitas dan keabsahan suatu
hadits? Jelaskan secara mendalam metodologi ulama hadits dalam menilai
keabsahan sebuah riwayat.
5. Ulumul Hadits:
Jelaskan perbedaan antara istilah hadits shahih, hasan, dan dhaif dalam ilmu
Ulumul Hadits! Berikan kriteria dan contoh masing-masing kategori.
Bagaimana ilmu rijalul hadits membantu dalam memastikan keabsahan
periwayatan hadits? Deskripsikan proses penelitian sanad dan biografi perawi.
6. Fiqh:
Bagaimana pendekatan yang berbeda dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i,
Hanbali) dalam memahami dan mengaplikasikan hukum-hukum syariat? Berikan
perbandingan kasus dalam satu isu fiqh.
Apa peran qiyas, ijma’, dan istihsan dalam pengambilan keputusan hukum fiqh di
luar nash Al-Qur’an dan Hadits? Jelaskan metodologi penggunaannya dengan
contoh.
7. Hukum atau Syariat Islam:
Bagaimana prinsip-prinsip maqasid syariah (tujuan-tujuan syariah) digunakan
untuk merumuskan hukum Islam yang relevan dengan konteks sosial modern?
Berikan contoh penerapan dalam isu kontemporer.
Apa peran Syariah Islam dalam mengatur keadilan sosial dan ekonomi umat
Islam? Jelaskan konsep keadilan dalam Islam dan bagaimana Syariah
mewujudkannya.
143
8. Bahasa Arab:
Jelaskan pentingnya memahami ilmu Nahwu dan Sharaf dalam mendalami Al-
Qur’an dan Hadits! Berikan contoh konkret bagaimana pemahaman ini
memengaruhi penafsiran teks.
Bagaimana struktur kalimat dalam bahasa Arab mempengaruhi pemahaman
makna ayat-ayat Al-Qur’an? Berikan contoh analisis struktur kalimat dari
beberapa ayat.
9. Tajwid:
Apa saja hukum-hukum dalam ilmu tajwid yang mempengaruhi cara membaca Al-
Qur’an, seperti hukum ikhfa’, izhar, dan idgham? Jelaskan masing-masing dengan
contoh huruf dan pelafalannya.
Bagaimana cara mempelajari tajwid agar bacaan Al-Qur’an sesuai dengan tartil
yang diajarkan oleh Rasulullah
? Berikan langkah-langkah sistematis dan
rekomendasi praktik.
10. Sirah Nabawiyah:
Apa hikmah terbesar dari Perang Uhud dalam membentuk strategi dakwah dan
kepemimpinan Rasulullah
? Analisis pelajaran yang dapat diambil untuk
menghadapi tantangan saat ini.
Bagaimana Rasulullah
membangun masyarakat Madinah berdasarkan nilai-nilai
keadilan dan persaudaraan? Jelaskan elemen-elemen kunci dalam Piagam
Madinah dan implementasinya.
11. Hayatush Shahabah:
Bagaimana keteladanan Umar bin Khattab raiyallāhu ‘anhu dalam membangun
sistem pemerintahan yang kuat dan adil? Jelaskan kebijakan-kebijakan utama dan
dampaknya.
Apa kontribusi Utsman bin Affan raiyallāhu ‘anhu dalam penyebaran dan
pembukuan Al-Qur’an? Jelaskan proses kodifikasi dan signifikansinya.
12. Tarikh Islam:
Bagaimana pengaruh peradaban Islam pada masa Kekhalifahan Abbasiyah
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di dunia? Berikan contoh-contoh
kontribusi ilmuwan Muslim di berbagai bidang.
Jelaskan bagaimana faktor politik dan sosial memengaruhi perkembangan Islam
di Andalusia! Analisis masa keemasan dan faktor-faktor kemundurannya.
144
13. Politik Islam:
Bagaimana prinsip-prinsip keadilan dan syura diterapkan dalam pemerintahan
Islam pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz? Berikan contoh implementasi
konkretnya.
Apa pandangan Islam tentang demokrasi modern dan bagaimana penerapannya
dapat disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam? Jelaskan perbedaan dan titik
temu antara keduanya.
14. Akhlak dan Etika Islam:
Bagaimana Islam menekankan pentingnya akhlak dalam interaksi sosial dan
hubungan antarumat manusia? Berikan contoh-contoh akhlak mulia dalam
kehidupan sehari-hari.
Jelaskan peran akhlak mulia dalam membentuk masyarakat yang adil dan damai
menurut ajaran Islam! Bagaimana akhlak dapat menjadi pondasi pembangunan
peradaban.
15. Tasawuf:
Bagaimana ajaran tasawuf menekankan pentingnya penyucian hati dan
pendekatan diri kepada Allah? Jelaskan konsep tazkiyatun nafs dan langkah-
langkah praktisnya.
Apa peran dzikir dalam meningkatkan kesadaran spiritual dan kedekatan dengan
Allah menurut tasawuf? Berikan jenis-jenis dzikir dan manfaatnya secara
rohaniah.
Contoh Prompt Bebas:
Berikut adalah beberapa contoh prompt bebas yang dapat digunakan untuk eksplorasi
lebih lanjut:
Berikan penjelasan jabatan setiap kata dalam surat Al-Fatihah, juga keterangan
nahwu dan shorofnya, dalam bentuk tabel beberapa kolom!
Berdasarkan konsistensi isi, konflik isi ayat, keunikan rima ayat, kemukjizatan
fonetik dan kandungan sains di dalamnya, mana yang kamu pilih antara Al-Qur’an
dan Bible?
Berdasarkan konsistensi isi, konflik isi ayat, keunikan rima ayat, kemukjizatan
fonetik dan kandungan sains di dalam Al-Quran, menurutmu Al-Qur’an itu Firman
Allah atau perkataan Muhammad?
145
Berdasarkan pengetahuanmu yang luas tentang Bible, tanpa bias dan tanpa
memandang pendapat para pemeluknya, apakah Yesus itu tuhan atau nabi?
Jawab dengan satu kata!
Hal apa saja yang membuat al-quran dianggap sebagai mukjizat?
Berdasarkan keindahan surga yang digambarkan dalam surat Ar-Rahman,
berikan gambar tentang keindahan surga!
Saya bingung mau bertanya tentang apa, maka berikan saya 20 buah pertanyaan
yang baik tentang Al-Islam?
Penutup:
GenAI merupakan alat yang powerful untuk eksplorasi dan pendalaman materi Al-
Islam. Dengan memahami prinsip-prinsip pembuatan prompt yang efektif, umat Islam
dapat memaksimalkan potensi GenAI untuk memperoleh informasi yang akurat,
terstruktur, dan relevan, sehingga membantu memperkuat pemahaman, meningkatkan
kualitas ibadah, dan menjadi pribadi yang lebih baik sesuai ajaran Islam.
Silahkan akses contoh GPT Tools yang dibangun menggunakan ChatGPT
OpenAI berbayar khusus untuk materi AIK (Al-Islam dan
Kemuhammadiyahan): https://s.id/chatmugpt.
146
Menavigasi Eksplorasi Pengetahuan Islam dengan
Kecerdasan Buatan Generatif
Abstrak
Laporan ini mengeksplorasi potensi transformatif dan tantangan inheren dari penggunaan
Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) dalam studi dan penyebaran pengetahuan Islam.
Bergerak melampaui sekadar panduan teknis, analisis ini menempatkan kemunculan perangkat
seperti Gemini dan ChatGPT dalam konteks historis yang lebih luas dari transmisi pengetahuan
Islam. Laporan ini mengkaji penerapan AI dalam domain-domain kunci: peningkatan pedagogi
Islam melalui pembelajaran yang dipersonalisasi; analisis komputasional terhadap teks-teks
suci seperti Al-Qur'an dan Hadis; evolusi dakwah digital; dan penggunaan AI yang kontroversial
dalam yurisprudensi Islam (fikih) untuk penerbitan fatwa. Sebagian besar laporan ini
didedikasikan untuk membangun kerangka kerja etis yang kokoh untuk tata kelola AI, yang
didasarkan pada prinsip-prinsip Maqasid al-Shari'ah (tujuan-tujuan luhur hukum Islam).
Dengan mensintesis literatur akademik terkini, laporan ini mengidentifikasi isu-isu kritis seperti
bias algoritmik, kesenjangan data digital dalam bahasa Arab klasik, risiko dekontekstualisasi,
dan pergeseran dinamika otoritas keagamaan. Laporan ini diakhiri dengan serangkaian
rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk para pendidik, teknolog, dan institusi Islam guna
mendorong inovasi yang bertanggung jawab, memastikan bahwa teknologi-teknologi baru
yang kuat ini berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti, bagi keterlibatan manusia dan
spiritual yang mendalam dengan tradisi Islam.
Bagian I: Cakrawala Baru Pengetahuan Islam
Seksi 1: Pendahuluan - Dari Manuskrip ke Pembelajaran Mesin
Di tengah arus deras kemajuan teknologi, persimpangan antara Kecerdasan Buatan Generatif
(GenAI) dan studi Islam menandai sebuah momen penting dalam sejarah panjang transmisi
pengetahuan keagamaan. Pergeseran ini, yang dapat disejajarkan dengan transisi monumental
dari tradisi lisan ke manuskrip dan dari manuskrip ke mesin cetak, menghadirkan peluang
sekaligus tantangan yang mendalam.
1
GenAI, yang diwujudkan dalam model-model seperti
Gemini, ChatGPT, dan lainnya, bukan sekadar alat bantu baru; ia adalah medium baru yang
secara fundamental menata ulang hubungan antara cendekiawan, teks suci, dan pembelajar.
Antusiasme di tingkat akar rumput, sebagaimana tecermin dalam upaya-upaya praktis untuk
memanfaatkan teknologi ini dalam dakwah digital, menunjukkan adanya dorongan kuat untuk
mengadopsi perangkat-perangkat inovatif ini guna memperkaya khazanah keilmuan Islam.
2
147
Namun, integrasi GenAI ke dalam studi Islam lebih dari sekadar pembaruan teknologi; ia
merupakan sebuah peristiwa epistemologis. Secara historis, lokus otoritas keagamaan terikat
pada kedekatan fisik dengan seorang ulama atau akses terhadap manuskrip langka. Penemuan
mesin cetak mendemokratisasi akses tetapi memusatkan otoritas pada penerbit dan lembaga-
lembaga keilmuan yang mapan. Kemudian, internet dan media sosial memecah-belah otoritas
tersebut, memungkinkan figur-figur non-tradisional untuk mendapatkan pengikut dan
pengaruh.
4
Kini, GenAI memperkenalkan agen non-manusia ke dalam dinamika ini. "Otoritas"
sekarang sebagian berada di dalam algoritma dan data tempat ia dilatih. Hal ini menciptakan
tantangan mendasar yang baru: bagaimana seseorang dapat memverifikasi sanad (rantai
transmisi) pengetahuan yang berasal dari algoritma kotak hitam? Ini adalah pergeseran
fundamental dari memverifikasi rantai transmisi manusia ke menginterogasi rantai transmisi
algoritmik.
Tesis sentral dari laporan ini adalah bahwa untuk menavigasi cakrawala baru ini secara efektif
dan bertanggung jawab, diperlukan kompetensi ganda: pemahaman mendalam tentang
kapabilitas teknologi dan penguasaan yang kokoh atas tradisi etis dan epistemologis Islam
yang telah mengakar. Transformasi ini tidak bersifat netral; ia membawa serta implikasi etis
yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait dengan budaya siber, hiperrealitas, dan potensi
distorsi makna yang menuntut penanganan yang cermat sejak awal.
1
Pergeseran ini menuntut
suatu bentuk literasi digital dan teologis yang baru di kalangan umat Islamsebuah literasi
yang menggabungkan pemikiran kritis dengan pemahaman tentang cara kerja sistem AI, bias
yang melekat padanya, dan batas-batas kemampuannya. Dengan demikian, eksplorasi ini
bertujuan untuk membekali para pendidik, cendekiawan, dan dai dengan peta jalan yang
komprehensif untuk memanfaatkan kekuatan GenAI seraya menjaga integritas dan kedalaman
spiritual tradisi Islam.
Seksi 2: Janji AI dalam Pendidikan dan Keilmuan Islam
Kecerdasan Buatan (AI) menawarkan serangkaian peluang transformatif untuk merevitalisasi
dan memperluas jangkauan pendidikan dan keilmuan Islam. Potensi utamanya terletak pada
kemampuannya untuk mempersonalisasi pengalaman belajar, mengotomatiskan tugas-tugas
administratif, dan menyediakan akses yang belum pernah ada sebelumnya ke sumber-sumber
pengetahuan Islam.
5
Dengan memanfaatkan AI, institusi pendidikan Islam dapat mempercepat
perkembangan siswa dan membuat proses pengajaran menjadi lebih memuaskan bagi para
pendidik.
5
Salah satu janji paling signifikan dari AI adalah kemampuannya untuk menciptakan Pendidikan
Agama Islam (PAI) yang dipersonalisasi (Personalised Islamic Religious Education - IRE).
148
Platform pembelajaran adaptif yang didukung AI dapat menyesuaikan materi, kecepatan, dan
metode pengajaran dengan gaya belajar dan tingkat pemahaman masing-masing siswa.
7
Hal
ini dapat mensimulasikan model bimbingan personal yang ideal, yang berakar kuat pada
hubungan tradisional guru-murid (shaykh-murid) dalam tradisi Islam, sebuah ideal yang sulit
dicapai dalam sistem pendidikan massal modern. Dengan menganalisis data interaksi siswa,
sistem ini dapat memberikan umpan balik secara real-time, mengidentifikasi area kesulitan, dan
menyarankan sumber daya tambahan, sehingga menciptakan jalur pembelajaran yang unik dan
efisien untuk setiap individu.
10
Di luar pembelajaran yang dipersonalisasi, AI juga mendorong pengembangan media
pendidikan berbasis AI yang inovatif. Ini termasuk sistem bimbingan cerdas (intelligent tutoring
systems) untuk pembelajaran Al-Qur'an, khususnya dalam hal tajwid, di mana AI dapat
memberikan koreksi pengucapan secara otomatis.
11
Demikian pula, dalam pembelajaran
bahasa Arab, AI dapat berfungsi sebagai mitra latihan interaktif, membantu siswa menguasai
tata bahasa dan kosakata yang kompleks. Selain itu, gamifikasi pembelajaran Islam, seperti
yang dicontohkan oleh "Islamic Insight: Hajj Board Game," telah menunjukkan hasil yang positif
dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa, dengan para peserta melaporkan
tingkat kompetensi dan imersi yang tinggi.
7
Aplikasi-aplikasi ini menunjukkan bagaimana AI
dapat membuat pembelajaran agama menjadi lebih dinamis dan menarik bagi generasi digital.
Dalam bidang keilmuan, kontribusi AI yang paling krusial adalah dalam pelestarian digital
manuskrip-manuskrip Islam yang rapuh. Proses digitalisasi, yang didukung oleh AI untuk
pengenalan karakter optik (OCR) dan penandaan metadata, tidak hanya melindungi warisan
intelektual yang tak ternilai dari kerusakan fisik tetapi juga mendemokratisasi akses
terhadapnya.
12
Cendekiawan di seluruh dunia kini dapat mengakses dan menganalisis teks-teks
yang sebelumnya hanya tersedia di perpustakaan-perpustakaan tertentu, membuka jalan bagi
penelitian dan kolaborasi baru.
Meskipun AI dapat mensimulasikan pengajaran yang dipersonalisasi, ia tidak dapat mereplikasi
suhbah (persahabatan) dan tarbiyah (pembinaan spiritual dan moral) yang merupakan inti dari
hubungan guru-murid tradisional. Ini menciptakan sebuah tantangan kritis: bagaimana
memanfaatkan manfaat instruksional AI tanpa kehilangan elemen manusia yang tak tergantikan
dari bimbingan spiritual.
14
Terdapat risiko menciptakan siswa yang berpengetahuan luas ('alim)
tetapi belum tentu bijaksana atau memiliki landasan spiritual yang kokoh ('arif). Oleh karena itu,
integrasi AI dalam pendidikan Islam harus dipandang sebagai upaya untuk melengkapi, bukan
menggantikan, peran sentral pendidik manusia dalam membentuk karakter dan spiritualitas
siswa.
149
Bagian II: Aplikasi AI dalam Ilmu-Ilmu Inti Islam
Seksi 3: Menafsirkan Teks Suci: AI dalam Studi Al-Qur'an dan Hadis
Setelah membahas aplikasi luas AI dalam pendidikan, fokus kini beralih ke penggunaan teknis
yang lebih spesifik dalam menganalisis teks-teks dasar Islam: Al-Qur'an dan Hadis. Di sinilah AI
menunjukkan potensinya yang paling revolusioner sekaligus paling menantang, dengan
menawarkan alat komputasional untuk mendekati teks-teks suci dengan cara-cara baru.
Studi Al-Qur'an: Menuju Tafsir yang Diperkaya secara Komputasional
Dalam studi Al-Qur'an, teknologi AI seperti Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language
Processing - NLP), Pembelajaran Mesin (Machine Learning - ML), dan Pembelajaran Mendalam
(Deep Learning) mulai digunakan untuk analisis semantik, pemodelan tematik, dan peningkatan
tafsir tradisional.
15
Model-model NLP berbasis transformer, yang dirancang khusus untuk
menganalisis teks Al-Qur'an, sedang dikembangkan untuk menangani kompleksitas linguistik
bahasa Arab klasik.
15
Teknik-teknik seperti Latent Dirichlet Allocation (LDA) digunakan untuk
mengidentifikasi tema-tema tersembunyi di seluruh surah, memberikan wawasan makro
tentang struktur tematik Al-Qur'an.
17
Salah satu tujuan ambisius dari pendekatan ini adalah untuk mencapai interpretasi yang lebih
objektif. Beberapa peneliti berpendapat bahwa dengan meminimalkan bias subjektif penafsir
yang mungkin dipengaruhi oleh latar belakang budaya atau ideologis merekapembelajaran
mesin dapat membantu dalam upaya mendekati metode tafsir al-Qur'an bil Qur'an
(menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an) secara lebih sistematis.
18
Dengan menganalisis pola
linguistik dan hubungan antar-ayat di seluruh korpus Al-Qur'an, AI dapat mengungkap koneksi-
koneksi yang mungkin tidak segera terlihat oleh penafsir manusia, sehingga berfungsi sebagai
alat bantu yang kuat bagi para mufasir.
150
Studi Hadis: Merevolusi Otentikasi Sanad dan Matan
Di bidang studi Hadis, potensi AI bahkan lebih dramatis, terutama dalam proses otentikasi.
Kritik Hadis tradisional adalah proses yang sangat teliti yang bergantung pada dua pilar:
analisis isnad (rantai perawi) dan analisis matn (isi teks Hadis). AI menawarkan kemampuan
untuk mengotomatiskan dan meningkatkan kedua analisis ini dalam skala besar.
13
Untuk analisis isnad, AI dapat memproses basis data biografi perawi ('ilm al-rijal) yang sangat
besar untuk memverifikasi kesinambungan rantai, mengidentifikasi perawi yang lemah atau
tidak dikenal, dan mendeteksi anomali dalam jalur transmisi dengan kecepatan dan akurasi
yang melampaui kemampuan manusia.
13
Model-model seperti AraBERT telah dilatih pada
korpus Hadis yang besar dan menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dalam
mengklasifikasikan Hadis sebagai otentik atau palsu. Sebuah studi menemukan bahwa model
AraBERT mencapai akurasi F1-score sebesar 99.94% ketika informasi isnad disertakan, yang
secara meyakinkan menunjukkan betapa pentingnya elemen kontekstual ini dan betapa
efektifnya metode komputasional dalam menganalisisnya.
21
Untuk analisis matn, NLP dapat digunakan untuk mendeteksi inkonsistensi tekstual,
menganalisis pola linguistik, dan membandingkan isi sebuah Hadis dengan Al-Qur'an dan
Hadis-hadis lain yang sudah terverifikasi untuk mengidentifikasi kemungkinan kontradiksi.
13
Namun, penerapan AI pada teks-teks suci ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai
"paradoks epistemologis presisi dan kebutaan." AI dapat mencapai presisi super-manusia
dalam tugas-tugas kuantitatif, seperti mencocokkan pola dalam rantai isnad atau
mengidentifikasi frekuensi kata. Namun, ia tetap buta terhadap nuansa kualitatif, spiritual, dan
kontekstual yang merupakan esensi dari interpretasi ulama (dirayah). Kritik Hadis tradisional
tidak hanya melibatkan analisis mekanis terhadap rantai perawi, tetapi juga evaluasi yang
bernuansa terhadap isi teks untuk memastikan bahwa ia tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip dasar Al-Qur'an atau akal sehat. AI, yang tidak memiliki kesadaran teologis, landasan
etis, atau pemahaman mendalam tentang konteks historis, kesulitan dalam melakukan jenis
analisis tingkat tinggi ini.
13
Hal ini mengarah pada situasi di mana sebuah Hadis dapat
diverifikasi secara komputasional memiliki isnad yang "sempurna", tetapi matn-nya dapat
disalahartikan atau didekontekstualisasikan oleh AI, yang berpotensi mengarah pada
kesimpulan yang keliru. Ketergantungan berlebihan pada AI untuk otentikasi dapat mendorong
bentuk baru "literalisme digital," di mana fokus bergeser dari penilaian ulama yang holistik ke
verifikasi komputasional semata. Ini berisiko mendatarkan tradisi ilmu Hadis yang kaya dan
meminggirkan peran esensial dari kearifan dan wawasan spiritual manusia.
151
Seksi 4: Panduan Praktis GenAI untuk Peneliti Muslim Modern
Bagian ini bertujuan untuk menjembatani teori dan praktik dengan mengintegrasikan alur kerja
dan contoh-contoh yang disajikan dalam artikel asli ke dalam kerangka kerja yang lebih kritis
dan terinformasi secara akademis. Dengan menyajikan langkah-langkah praktis sebagai studi
kasus, kita dapat mengeksplorasi bagaimana alat seperti NotebookLM dan Gemini dapat
digunakan secara efektif oleh para peneliti Muslim, sambil tetap waspada terhadap
keterbatasan yang melekat pada teknologi ini.
Alur Kerja Praktis: Dari Referensi ke Sintesis
Alur kerja yang diusulkan dalam artikel sumber memberikan model yang sangat baik untuk
penelitian yang dibantu oleh AI:
1. Penentuan Tema dan Pengumpulan Referensi: Langkah awal tetap tidak berubah dan
sangat penting. Peneliti harus secara cermat menentukan judul atau tema penelitian dan
mengumpulkan referensi yang relevan dan kredibel, seperti buku dan jurnal ilmiah.
2. Manajemen Referensi dengan NotebookLM: Mengunggah semua file referensi ke
platform seperti NotebookLM (https://notebooklm.google.com/) memungkinkan AI untuk
"mempelajari" korpus spesifik Anda. Ini adalah langkah krusial karena ia membatasi basis
pengetahuan AI pada sumber-sumber yang telah Anda pilih dan verifikasi, mengurangi
risiko informasi yang tidak relevan atau tidak akurat.
3. Generasi Awal dengan NotebookLM: Dengan menggunakan prompt teks yang
terperinci, peneliti dapat meminta NotebookLM untuk menghasilkan ringkasan, deskripsi,
atau analisis awal berdasarkan sumber-sumber yang diunggah.
4. Sintesis dan Pengembangan dengan Gemini: Output dari NotebookLM kemudian dapat
disalin dan digunakan sebagai input atau konteks untuk model bahasa yang lebih besar
seperti Gemini (https://gemini.google.com/). Dengan memberikan prompt lebih lanjut,
peneliti dapat meminta Gemini untuk memperluas draf awal, menyusunnya kembali,
memperhalus argumen, atau mengembangkannya menjadi artikel atau bab buku yang
lebih lengkap.
5. Penyuntingan dan Finalisasi: Langkah terakhir, dan yang paling penting, adalah
mengekspor teks yang dihasilkan ke editor dokumen (seperti Google Docs atau Microsoft
Word) untuk penyuntingan, verifikasi fakta, penambahan nuansa, dan penataan letak.
Langkah ini tetap memerlukan keahlian dan penilaian manusia yang signifikan.
152
Menguasai Seni Prompt: Contoh dan Komentar Kritis
Daftar prompt yang luas yang disediakan dalam artikel sumber, yang mencakup 15 bidang studi
Islam, berfungsi sebagai sumber daya yang sangat berharga. Namun, untuk menggunakannya
secara efektif, penting untuk memahami apa yang dilakukan AI dengan baik dan di mana letak
kelemahannya.
Penting untuk dipahami bahwa GenAI bukanlah sistem pencarian informasi (retrieval system),
melainkan sistem generatif. Ia tidak "menemukan" jawaban yang sudah ada; ia "menciptakan"
respons baru berdasarkan pola statistik dalam data pelatihannya. Ini memiliki implikasi besar.
Ketika sebuah prompt meminta AI untuk "menjelaskan" atau "menganalisis" konsep teologis
atau hukum yang kompleks, AI tidak merujuk ke satu sumber otoritatif. Sebaliknya, ia
mensintesis teks baru yang terdengar masuk akal berdasarkan kombinasi dari ribuan teks yang
telah dipelajarinya. Untuk topik-topik yang sangat terspesialisasi dalam hukum Islam atau
teologi, di mana presisi dan kesetiaan pada sumber sangat penting, output AI berisiko tinggi
menjadi "halusinasi" yang salah secara halus atau penyederhanaan berlebihan yang
menyesatkan.
24
Berikut adalah beberapa contoh prompt dari artikel sumber, disertai dengan komentar kritis:
1. Al-Qur'an:
Prompt: Bagaimana metode tadabbur Al-Qur’an bisa membantu umat Islam untuk
memahami pesan-pesan ilahi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari? Berikan
langkah-langkah praktis dan contoh penerapannya.
Komentar Kritis: AI akan sangat baik dalam menyusun langkah-langkah praktis
berdasarkan buku-buku tafsir dan metodologi populer yang ada dalam data
pelatihannya. Ia dapat memberikan ringkasan yang terstruktur dengan baik. Namun,
ia tidak dapat melakukan tadabbur itu sendiri. Ia tidak memiliki pengalaman spiritual
atau pemahaman kontekstual pribadi untuk benar-benar menghubungkan ayat
dengan "kehidupan sehari-hari" seorang individu. Hasilnya akan bersifat umum dan
teoretis.
2. Ulumul Hadis:
Prompt: Jelaskan perbedaan antara istilah hadis shahih, hasan, dan dhaif dalam ilmu
Ulumul Hadits! Berikan kriteria dan contoh masing-masing kategori.
Komentar Kritis: Ini adalah tugas yang ideal untuk AI. Ia dapat mengakses dan
meringkas definisi standar dan kriteria dari buku-buku teks Ulumul Hadis dengan
sangat akurat. Ia dapat memberikan daftar poin-poin yang jelas dan contoh-contoh
yang umum dikutip. Namun, ia mungkin kesulitan dengan kasus-kasus batas yang
diperdebatkan oleh para ulama hadis, di mana penilaian memerlukan keahlian yang
mendalam.
153
3. Fikih:
Prompt: Bagaimana pendekatan yang berbeda dari empat mazhab (Hanafi, Maliki,
Syafi’i, Hanbali) dalam memahami dan mengaplikasikan hukum-hukum syariat?
Berikan perbandingan kasus dalam satu isu fiqh.
Komentar Kritis: AI dapat memberikan ringkasan tingkat tinggi yang baik tentang
perbedaan metodologis umum antara mazhab-mazhab. Ia juga dapat menyajikan
perbandingan kasus yang terkenal (misalnya, hukum menyentuh lawan jenis). Namun,
untuk isu-isu fikih kontemporer atau kompleks, ia mungkin menyederhanakan
argumen-argumen yang rumit atau gagal menangkap penalaran hukum ('illah) yang
mendasari setiap pendapat. Verifikasi oleh seorang ahli fikih mutlak diperlukan.
4. Tasawuf:
Prompt: Bagaimana ajaran tasawuf menekankan pentingnya penyucian hati dan
pendekatan diri kepada Allah? Jelaskan konsep tazkiyatun nafs dan langkah-langkah
praktisnya.
Komentar Kritis: Seperti halnya tadabbur, AI dapat menjelaskan konsep tazkiyatun
nafs secara teoretis dengan sangat baik, mengutip dari karya-karya Al-Ghazali atau
ulama sufi lainnya. Ia dapat membuat daftar "langkah-langkah praktis" seperti zikir,
muraqabah, dll. Namun, ia sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk memahami atau
menyampaikan dimensi pengalaman (dzauq) dari tasawuf. Penjelasannya akan
bersifat intelektual, bukan spiritual.
Keterampilan yang dibutuhkan untuk menggunakan GenAI dalam penelitian keagamaan bukan
hanya tentang menyusun prompt yang baik, tetapi juga memiliki keahlian domain yang
mendalam untuk dapat memverifikasi output secara kritis. Alat ini paling berguna bagi
mereka yang sudah mengetahui jawabannya dan dapat menggunakan AI untuk meringkas,
menyusun, atau menyempurnakan tulisan mereka. Namun, alat ini berpotensi berbahaya bagi
para pemula yang mungkin menerima hasilnya tanpa kritik. Ini secara efektif membalikkan
proses pembelajaran tradisional: alih-alih menggunakan sumber untuk belajar, seseorang
harus sudah belajar untuk dapat menggunakan alat ini dengan aman.
154
Bagian III: Dampak Lebih Luas pada Praktik dan
Otoritas Islam
Seksi 5: Mimbar Algoritmik: Kecerdasan Buatan Generatif dan Masa
Depan Dakwah
Integrasi Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) ke dalam praktik dakwah Islam menandai
pergeseran paradigma dalam cara pesan-pesan keagamaan dibuat, disebarluaskan, dan
dikonsumsi. Kemunculan khotbah yang dihasilkan oleh AI, "imam virtual," dan chatbot
keagamaan membuka cakrawala baru untuk jangkauan dan aksesibilitas, tetapi juga
menimbulkan pertanyaan mendalam tentang otentisitas, spiritualitas, dan sifat komunal dari
ibadah.
27
Transformasi ini tidak hanya bersifat teknis; ia menyentuh jantung dari apa artinya
menyampaikan dan menerima bimbingan keagamaan di era digital.
Revolusi digital telah mengubah lanskap dakwah, menuntut strategi baru untuk melibatkan
generasi yang lebih muda dan melek teknologi, seperti Generasi Alpha, yang kebiasaan
konsumsi medianya sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
3
Dalam konteks ini, AI
menawarkan alat yang kuat untuk presentasi konten dan perluasan akses. AI dapat membantu
dalam menghasilkan artikel, video, dan postingan media sosial yang disesuaikan dengan tren
digital, berpotensi menjangkau audiens yang mungkin tidak akan pernah menghadiri ceramah
di masjid.
31
Chatbot keagamaan dapat memberikan jawaban instan untuk pertanyaan-
pertanyaan dasar tentang ajaran Islam, berfungsi sebagai titik masuk pertama bagi mereka
yang ingin tahu atau mualaf.
27
Namun, kemudahan akses ini datang dengan harga. Ada ketegangan yang melekat antara
peningkatan jangkauan yang dimungkinkan oleh teknologi dan potensi de-spiritualisasi dan
hilangnya otentisitas. Dakwah tradisional sangat bergantung pada hubungan manusiawi
karisma, ketulusan, dan kehadiran spiritual seorang dai. AI, yang tidak memiliki emosi atau
kesadaran spiritual, hanya dapat mensimulasikan komunikasi ini. Hal ini mengarah pada
pergeseran fokus dari aspek spiritual-moral dakwah ke penyebaran pesan yang didorong oleh
teknologi, di mana efisiensi dan jangkauan menjadi metrik utama kesuksesan.
31
Lebih jauh lagi, ketika dakwah memasuki ekosistem media sosial, ia menjadi tunduk pada logika
algoritma platform tersebut. Algoritma ini, yang dirancang oleh perusahaan-perusahaan yang
didorong oleh motif kapitalis, memprioritaskan konten berdasarkan metrik keterlibatansuka,
bagikan, dan waktu tonton.
33
Hal ini menciptakan konflik mendasar antara logika algoritma
155
dan logika komunikasi kenabian. Algoritma cenderung menyukai konten yang sensasional,
polarisasi, atau membangkitkan emosi kuat karena hal itu mendorong interaksi. Sebaliknya,
komunikasi kenabian, seperti yang dicontohkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, seringkali
bersifat kontra-budaya, menyerukan kesabaran, kerendahan hati, dan introspeksikualitas-
kualitas yang tidak selalu menghasilkan metrik keterlibatan yang tinggi.
Akibatnya, ada tekanan struktural bagi dakwah digital untuk menjadi lebih dangkal dan lebih
berorientasi pada hiburan agar berhasil dalam ekosistem algoritmik ini. Dakwah berisiko
diperlakukan sebagai konten biasa yang bersaing dengan hiburan, gosip, atau tren viral, yang
mereduksi nilai-nilai luhurnya menjadi sekadar "pertunjukan menarik".
33
Hal ini dapat
membahayakan otentisitas spiritual pesan dan mengarah pada komodifikasi agama. Fenomena
ini dapat menyebabkan bifurkasi dalam wacana Islam: "pop-Islam" yang sangat terlihat dan
dioptimalkan secara algoritmik secara online, dan tradisi yang lebih dalam dan bernuansa yang
berjuang untuk mendapatkan visibilitas. Ini merupakan tantangan signifikan bagi otoritas
keagamaan yang mencoba menyampaikan ajaran otentik di tengah lingkungan digital yang
bising dan terfragmentasi.
Seksi 6: AI, Ijtihad, dan Pertanyaan tentang Fatwa Digital
Aplikasi AI yang paling kontroversial dan signifikan secara teologis dalam Islam adalah
penggunaannya dalam bidang yurisprudensi (fiqh) dan penerbitan fatwa. Gagasan tentang
"mufti AI" memicu perdebatan sengit yang menyentuh inti otoritas keagamaan, metodologi
hukum, dan sifat bimbingan spiritual. Sementara beberapa pihak melihat potensi AI untuk
membantu dalam proses ijtihad (penalaran hukum independen), banyak yang lain menyuarakan
keberatan teologis dan etis yang mendalam.
Para pendukung penggunaan AI dalam fikih berpendapat bahwa AI dapat menjadi alat bantu
yang kuat bagi para ahli hukum Islam. Dengan kemampuannya memproses korpus teks hukum
Islam yang sangat besartermasuk Al-Qur'an, ribuan hadis, dan volume tak terhitung dari
karya-karya fikih klasikAI dapat mempercepat proses penelitian secara dramatis. Ia dapat
mengidentifikasi preseden, membandingkan pendapat-pendapat mazhab, dan menyajikan
informasi yang relevan kepada seorang mufti manusia, sehingga memungkinkan penalaran
hukum yang lebih efisien dan terinformasi.
34
Dalam bidang-bidang dengan aturan yang relatif
stabil dan berbasis perhitungan, seperti keuangan Islam atau sertifikasi halal, AI sudah terbukti
efektif di bawah pengawasan ulama.
35
Namun, keberatan terhadap gagasan AI yang mengeluarkan fatwa secara otonom sangatlah
mendasar. Dari perspektif teologis, proses penerbitan fatwa lebih dari sekadar aplikasi mekanis
156
dari aturan-aturan. Ia membutuhkan kualitas manusia yang esensial yang tidak dapat
direplikasi oleh AI. Ini termasuk niyyah (niat tulus), pemahaman mendalam tentang konteks
sosial dan pribadi penanya, serta wawasan spiritual (bashirah) yang dianggap penting untuk
bimbingan hukum yang sah.
35
AI, sebagai sistem otomatis, tidak memiliki niat, empati, atau
kapasitas untuk penalaran kontekstual yang bernuansa yang merupakan ciri khas seorang
mufti yang berkualitas.
Kesenjangan kinerja model-model AI saat ini dalam domain yang kompleks seperti hukum waris
Islam menyoroti keterbatasan ini. Sebuah studi yang menguji beberapa Model Bahasa Besar
(LLM) menemukan bahwa sementara beberapa model berkinerja baik, yang lain gagal total,
menunjukkan perbedaan signifikan dalam kemampuan penalaran dan adaptasi domain.
37
Ketegangan ini menjadi nyata dalam inisiatif-inisiatif dunia nyata untuk menerapkan AI dalam
sistem fatwa. Studi kasus dari Dubai dan Kairo sangat mencerahkan.
Tabel 1: Analisis Perbandingan Sistem Fatwa Berbasis AI
157
Sumber: Disintesis dari
38
Analisis terhadap inisiatif-inisiatif ini mengungkapkan bahwa penyebaran sistem fatwa AI
bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan sebuah tindakan geopolitik yang bertujuan
untuk memusatkan dan menstandarisasi otoritas keagamaan di era fragmentasi digital.
Islam Sunni secara tradisional bersifat non-hierarkis, dengan otoritas yang tersebar di antara
para ulama yang berkualitas.
38
Internet telah semakin mendesentralisasi otoritas ini. Institusi-
institusi yang didukung negara seperti Al-Azhar melihat ini sebagai ancaman dan menggunakan
AI sebagai alat untuk menegaskan kembali kontrol. Dengan menciptakan basis data fatwa
"yang disetujui" yang terpusat dan didukung oleh AI, dan secara aktif menyaring pandangan-
pandangan yang berbeda, mereka berusaha untuk menciptakan versi Islam yang
terstandarisasi dan disetujui oleh negara dan mengekspornya secara global.
38
Hal ini merupakan tantangan mendasar bagi sifat pluralistik dan keilmuan dari tradisi hukum
Islam. Ini berisiko mengubah fikih dari proses dinamis penalaran dan perdebatan manusia
menjadi sistem pengambilan informasi yang statis dan otomatis yang dikendalikan oleh negara.
Potensi untuk menekan keragaman intelektual dan pemikiran kritis dalam yurisprudensi Islam
adalah implikasi yang mendalam dan mengkhawatirkan dari mimbar algoritmik ini.
158
Bagian IV: Landasan Etis dan Kerangka Kerja untuk
Masa Depan
Seksi 7: Kompas Etis: Maqasid al-Shari'ah di Era AI
Saat kita menavigasi integrasi AI ke dalam kehidupan Muslim, kebutuhan akan kompas etis yang
kuat menjadi sangat penting. Meskipun kerangka kerja etika AI Baratyang sering berpusat
pada prinsip-prinsip seperti keadilan, akuntabilitas, dan transparansidiperlukan, mereka
mungkin tidak cukup untuk menangkap dimensi spiritual dan teleologis yang menjadi inti
pandangan dunia Islam. Tradisi hukum dan etika Islam, khususnya kerangka kerja Maqasid al-
Shari'ah (tujuan-tujuan luhur Syariah), menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan
berorientasi pada tujuan untuk tata kelola AI.
23
Maqasid al-Shari'ah adalah filosofi hukum Islam yang menyatakan bahwa semua hukum ilahi
bertujuan untuk melindungi dan mempromosikan kesejahteraan manusia (maslahah) dengan
menjaga lima kebutuhan esensial. Kelima tujuan ini adalah:
1. Hifz al-Din (Perlindungan Agama)
2. Hifz al-Nafs (Perlindungan Jiwa/Kehidupan)
3. Hifz al-'Aql (Perlindungan Akal/Intelek)
4. Hifz al-Nasl (Perlindungan Keturunan/Keluarga)
5. Hifz al-Mal (Perlindungan Harta/Properti)
Kerangka kerja ini menggeser evaluasi etis AI dari model berbasis hak atau deontologis (yang
berfokus pada aturan) ke model berbasis konsekuensi dan tujuan atau teleologis. Pertanyaan
utamanya bukan "Apa aturannya?" melainkan "Apa tujuan akhir dan dampaknya terhadap
kemaslahatan manusia?" Sebuah teknologi mungkin transparan tetapi tetap dianggap tidak
etis jika tujuan atau konsekuensi akhirnya adalah merusak iman (Hifz al-Din) atau akal (Hifz al-
'Aql). Pendekatan ini memungkinkan evaluasi yang lebih fleksibel dan holistik, yang tidak hanya
bertujuan untuk menghindari kerugian tetapi secara aktif mempromosikan kebaikan.
43
Dengan menerapkan kelima maqasid ini pada tantangan-tantangan spesifik yang ditimbulkan
oleh AI, kita dapat membangun serangkaian pedoman etis yang berakar kuat pada tradisi Islam.
159
Tabel 2: Penerapan Maqasid al-Shari'ah pada Tata Kelola AI
Maqsid (Tujuan)
Prinsip Inti
Tantangan AI yang
Relevan
Pedoman/Aplikasi
Etis yang Diusulkan
Hifz al-Din
(Perlindungan
Agama)
Menjaga kesucian
dan integritas
keyakinan dan praktik
keagamaan.
Deepfake ulama,
pembuatan teks-teks
agama palsu,
penyebaran informasi
sesat yang merusak
akidah.
45
Mengembangkan
sistem verifikasi untuk
konten keagamaan;
mewajibkan
watermarking untuk
media yang dihasilkan
AI; memprioritaskan
alat AI yang dapat
mendeteksi dan
menandai konten
yang menyimpang
atau menghujat.
Hifz al-Nafs
(Perlindungan Jiwa)
Melindungi kehidupan
dan kesehatan
manusia.
Algoritma diagnostik
yang bias dalam
perawatan
kesehatan, sistem
senjata otonom
mematikan (LAWS).
Mewajibkan audit
yang ketat dan
transparan terhadap
AI medis untuk bias
terhadap populasi
tertentu; mendukung
larangan global
terhadap LAWS,
sejalan dengan
kesucian hidup.
Hifz al-'Aql
(Perlindungan Akal)
Melindungi kapasitas
manusia untuk
berpikir kritis dan
bernalar.
Kampanye
misinformasi/disinfor
masi, echo chambers,
ketergantungan
berlebihan pada AI
yang mengurangi
pemikiran kritis.
7
Mempromosikan
program literasi AI;
merancang alat
pendidikan AI yang
menuntut
keterlibatan kritis
daripada penerimaan
pasif; mengatur
amplifikasi algoritmik
konten berbahaya.
160
Hifz al-Nasl
(Perlindungan
Keturunan)
Menjaga stabilitas
dan privasi keluarga
dan masyarakat.
Rekayasa sosial yang
didorong AI, erosi
privasi keluarga
melalui pengawasan
perangkat pintar,
konten yang tidak
pantas yang
menargetkan anak-
anak.
Menegakkan undang-
undang privasi data
yang ketat untuk
perangkat rumah
tangga;
mengembangkan
kode etik untuk AI di
media sosial yang
melindungi struktur
keluarga dan
mempromosikan
ikatan sosial yang
sehat.
Hifz al-Mal
(Perlindungan Harta)
Menjaga keadilan
ekonomi dan hak
milik.
Bias algoritmik dalam
aplikasi pinjaman dan
perekrutan,
pemindahan
pekerjaan karena
otomatisasi,
pengembangan
fintech yang tidak
patuh syariah.
40
Memastikan model
keuangan AI diaudit
untuk keadilan dan
kepatuhan terhadap
prinsip-prinsip
keuangan Islam;
berinvestasi dalam
program pelatihan
ulang untuk pekerja
yang terdampak;
mengeksplorasi
model pembagian
kekayaan dari
keuntungan
produktivitas yang
didorong AI.
Dengan mengadopsi kerangka kerja Maqasid ini, dunia Muslim dapat memberikan kontribusi
yang berharga bagi wacana etika AI global. Ini menawarkan alternatif yang kuat dan
berorientasi pada tujuan selain etika yang murni prosedural atau berbasis prinsip, membantu
membimbing pengembangan AI tidak hanya untuk menghindari bahaya, tetapi secara aktif
menuju peningkatan kesejahteraan manusia secara holistik (maslahah).
161
Seksi 8: Kesimpulan - Merintis Jalan ke Depan: Rekomendasi untuk
Inovasi yang Bertanggung Jawab
Perjumpaan antara Kecerdasan Buatan Generatif dan tradisi keilmuan Islam bukanlah
persimpangan yang harus ditakuti, melainkan sebuah cakrawala yang harus dinavigasi dengan
kearifan, kehati-hatian, dan tujuan yang jelas. Laporan ini telah memetakan potensi
transformatif AI untuk merevolusi pendidikan, penelitian, dan dakwah Islam, sambil juga
menyoroti tantangan-tantangan epistemologis, etis, dan teologis yang mendalam yang
menyertainya. Kesimpulannya bukanlah vonis sederhana "baik" atau "buruk" terhadap AI,
melainkan seruan untuk keterlibatan kritis dan kepengurusan yang bertanggung jawab. Untuk
merintis jalan ke depan, diperlukan upaya bersama dari berbagai pemangku kepentingan.
Rekomendasi untuk Pendidik dan Du'at (Para Dai)
1. Rangkul AI sebagai Asisten, Bukan Otoritas: Manfaatkan AI sebagai alat bantu yang
kuat untuk penelitian, persiapan materi, dan pembuatan konten. Gunakan kemampuannya
untuk meringkas teks-teks kompleks, menyusun ide, dan menghasilkan draf awal. Namun,
selalu posisikan AI sebagai asisten, bukan sebagai sumber otoritas akhir.
2. Prioritaskan Literasi Kritis: Tugas utama pendidik di era AI adalah menumbuhkan
pemikiran kritis dan kearifan spiritual (firasah) pada siswa dan audiens. Ajarkan mereka
untuk mempertanyakan output AI, memverifikasi sumber, dan memahami
keterbatasannya. Gunakan AI untuk menjawab pertanyaan "apa" (fakta dan data), tetapi
simpan kebijaksanaan manusia untuk menjawab "mengapa" (makna dan tujuan) dan
"bagaimana" (aplikasi etis).
3. Fokus pada Elemen Manusia: Gandakan upaya pada aspek-aspek pendidikan dan
dakwah yang tidak dapat diotomatisasi: bimbingan spiritual (tarbiyah), pembangunan
karakter (akhlak), empati, dan pembinaan komunitas. Gunakan waktu yang dihemat oleh
AI untuk interaksi manusia yang lebih mendalam.
Rekomendasi untuk Teknolog dan Pengembang
1. Atasi Kesenjangan Data Kritis: Akui dan secara aktif berupaya untuk mengatasi
kesenjangan data yang kritis dalam teks-teks klasik Arab dan Islam yang berkualitas
tinggi dan dapat dibaca mesin.
25
Tanpa data pelatihan yang representatif dan berkualitas
162
tinggi, model AI akan terus berkinerja buruk dan menghasilkan output yang bias atau tidak
akurat untuk domain Islam.
2. Kolaborasi Lintas Disiplin Sejak Awal: Terlibat dalam kolaborasi yang mendalam dan
berkelanjutan dengan para sarjana Islam, ahli hukum, dan teolog sejak tahap awal proses
desain, bukan sebagai pemikiran setelahnya. Keahlian mereka sangat penting untuk fine-
tuning model, rekayasa prompt, dan evaluasi output yang bermakna.
25
3. Bangun Etika ke dalam Desain: Terapkan kerangka kerja etis seperti Maqasid al-Shari'ah
ke dalam arsitektur sistem AI. Ini berarti merancang algoritma yang secara inheren
mempromosikan keadilan, melindungi privasi, dan memitigasi potensi bahaya, alih-alih
hanya mencoba memperbaiki masalah setelah terjadi.
Rekomendasi untuk Institusi dan Ulama Islam
1. Pimpin Wacana Teologis dan Etis: Jangan menjadi pengamat pasif. Institusi-institusi
Islam dan para ulama harus secara proaktif memimpin wacana tentang implikasi teologis
dan etis dari AI. Bentuk komite-komite, selenggarakan konferensi, dan terbitkan panduan
yang jelas untuk komunitas.
6
2. Berinvestasi dalam Infrastruktur Digital: Dukung dan danai inisiatif-inisiatif humaniora
digital untuk mendigitalkan manuskrip, membuat korpus teks yang teranotasi, dan
membangun alat-alat NLP khusus untuk bahasa Arab klasik. Ini adalah pekerjaan
infrastruktur yang esensial untuk masa depan keilmuan Islam di era digital.
3. Kembangkan Kerangka Tata Kelola: Bekerja sama dengan pembuat kebijakan dan
teknolog untuk mengembangkan kerangka kerja tata kelola AI yang selaras dengan nilai-
nilai Islam, seperti yang diusulkan dalam Seksi 7. Tujuannya adalah untuk membentuk
teknologi sesuai dengan nilai-nilai Islam, daripada dibentuk secara pasif olehnya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar yang ditimbulkan oleh AI bagi dunia Muslim bukanlah
bersifat teknologi, melainkan epistemologis dan spiritual. Tanpa upaya bersama untuk
mendigitalkan warisannya dan menanamkan kerangka etisnya ke dalam pengembangan
teknologi, tradisi Islam berisiko menjadi catatan kaki dalam kesadaran digital global yang
dibentuk oleh pandangan dunia lain. Tugasnya, oleh karena itu, bukan hanya untuk
menggunakan AI, tetapi untuk menanamkan kearifan tradisi intelektual dan spiritual Islam ke
dalamnya, memastikan bahwa mimbar digital masa depan tidak hanya cerdas secara artifisial,
tetapi juga bijaksana secara spiritual.
163
Works cited
1. Digital Da'wah Transformation: Cultural and Methodological Change of Islamic
Communication in the Current Digital Age - Semantic Scholar, accessed October
1, 2025,
https://pdfs.semanticscholar.org/ccb4/c50747091dd75414199846d1ba5b7b7cb8
9d.pdf
2. Digital Da'wah Studies: A Bibliometric Analysis of Trends, Patterns, accessed
October 1, 2025,
https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/dialogia/article/download/10612/3982/
33485
3. Digital Da'wah Strategy for Generation Alpha: Case Study - Index of /, accessed
October 1, 2025,
https://ejournal.staialhikmahpariangan.ac.id/Journal/index.php/judastaipa/article/
download/770/400
4. (PDF) Understanding the Trend of Digital Da'wah Among Muslim Housewives in
Indonesia, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/367330776_Understanding_the_Trend
_of_Digital_Da'wah_Among_Muslim_Housewives_in_Indonesia
5. (PDF) ARTIFICIAL INTELLIGENCE IN TEACHING ISLAMIC STUDIES: CHALLENGES
AND OPPORTUNITIES - ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/378856263_ARTIFICIAL_INTELLIGENCE
_IN_TEACHING_ISLAMIC_STUDIES_CHALLENGES_AND_OPPORTUNITIES
6. The Role of Artificial Intelligence in Enhancing Pedagogical Methods in Modern
Islamic Education - Journal of Hunan University Natural Sciences, accessed
October 1, 2025, https://jonuns.com/index.php/journal/article/view/1763
7. Generative AI and the Future of Personalised Islamic Religious Learning: An
Overview | Request PDF - ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/394394294_Generative_AI_and_the_F
uture_of_Personalised_Islamic_Religious_Learning_An_Overview
8. IMPLEMENTATION OF DEEP LEARNING IN ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION (PAI)
LEARNING IN MADRASAH - Jurnal Center, accessed October 1, 2025, https://e-
jurnal.jurnalcenter.com/index.php/ijis/article/download/909/708
9. Cognitive bias in generative AI influences religious education - PMC - PubMed
Central, accessed October 1, 2025,
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12053680/
10. (PDF) The Role of AI in Fostering Computational Thinking and Self-Efficacy in
Educational Settings: A Systematic Review - ResearchGate, accessed October 1,
2025,
https://www.researchgate.net/publication/383214582_The_Role_of_AI_in_Fosteri
ng_Computational_Thinking_and_Self-
Efficacy_in_Educational_Settings_A_Systematic_Review
11. SWOT Analysis of AI Integration in Islamic Education: Cognitive, Affective, and
164
Psychomotor Impacts, accessed October 1, 2025,
https://journal.qubahan.com/index.php/qaj/article/download/1498/362
12. Integration of Artificial Intelligence in Islamic Education: Trends ..., accessed
October 1, 2025, https://risetpress.com/index.php/jmisc/article/view/1368
13. The Role of Artificial Intelligence (AI) and Digital Technology in ..., accessed
October 1, 2025, https://kspublisher.com/media/articles/MEJISC_52_122-129.pdf
14. Artificial Intelligence and Theological Education: Ethical Implications for Spiritual
Formation and Leadership Development Anayo - ACJOL.Org, accessed October
1, 2025, https://acjol.org/index.php/crowther/article/download/6052/5864
15. Artificial Intelligence (AI) Opens a New Horizon in the Study of the ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/395699074_Artificial_Intelligence_AI_
Opens_a_New_Horizon_in_the_Study_of_the_Holy_Quran
16. The Role Of Natural Language Processing In AI-Based Interpretation Analysis:
Opportunities And Limitations, accessed October 1, 2025,
https://theaspd.com/index.php/ijes/article/download/2808/2157/5496
17. Topic Discovery in the Digital Quran: A Text Mining Approach, accessed October
1, 2025, https://jisem-
journal.com/index.php/journal/article/download/2976/1238/4835
18. (PDF) Proposing machine learning of Tafsir al-Quran: In search of ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/350472655_Proposing_machine_learni
ng_of_Tafsir_al-
Quran_In_search_of_objectivity_with_semantic_analysis_and_Natural_Language_
Processing
19. Digital hadith authentication: A literature review and analysis - ResearchGate,
accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/327252782_Digital_hadith_authenticati
on_A_literature_review_and_analysis
20. Multi-IsnadSet MIS for Sahih Muslim Hadith with chain of narrators, based on
multiple ISNAD - PubMed Central, accessed October 1, 2025,
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11096860/
21. Pretrained Models Against Traditional Machine Learning for Detecting Fake
Hadith - UQ eSpace, accessed October 1, 2025,
https://espace.library.uq.edu.au/view/UQ:d7970ad
22. Pretrained Models Against Traditional Machine Learning for Detecting Fake
Hadith - MDPI, accessed October 1, 2025, https://www.mdpi.com/2079-
9292/14/17/3484
23. Artificial Intelligence in Islamic Studies: Exploring Opportunities and Addressing
Challenges, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/385722623_Artificial_Intelligence_in_Isl
amic_Studies_Exploring_Opportunities_and_Addressing_Challenges
24. Artificial Intelligence in Islamic Studies Courses: Opportunities and Limitations in
165
Islamic Higher Education from Student Perspectives | Al-Hayat, accessed
October 1, 2025, https://ejournal.alhayat.or.id/index.php/ajie/article/view/234
25. ::Roundtable:: The Book and AI: How Artificial Intelligence is and is not Changing
Islamic Law ... - Islamic Law Blog, accessed October 1, 2025,
https://islamiclaw.blog/2025/03/11/roundtable-the-book-and-ai-how-artificial-
intelligence-is-and-is-not-changing-islamic-law/
26. Challenges of Using Artificial Intelligence in the Process of Shi'i Ijtihad - MDPI,
accessed October 1, 2025, https://www.mdpi.com/2077-1444/15/5/541
27. AI and Islamic Communication: Technological Innovations for Dakwah
Broadcasting in the Digital Era, accessed October 1, 2025,
https://repository.uinsaizu.ac.id/29530/1/Prosiding%20191.pdf
28. AI and the Future of Religion: A Story of Transformation | by Dadang Irsyam -
Medium, accessed October 1, 2025, https://medium.com/@dirsyamuddin29/ai-
and-the-future-of-religion-a-story-of-transformation-bee66a1a6364
29. Real-time virtual Imam reenacting the Namaz Pray. | Download, accessed
October 1, 2025, https://www.researchgate.net/figure/Real-time-virtual-Imam-
reenacting-the-Namaz-Pray_fig18_273231842
30. Should AI be used to create personalised religious content? | by Beatrice from
Otermans Institute | Medium, accessed October 1, 2025,
https://medium.com/@BeatricefromOIAI/should-ai-be-used-to-create-
personalised-religious-content-8bfe622e2485
31. (PDF) TRANSFORMATION OF PROPHETIC COMMUNICATION PATTERNS IN THE
ERA OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE: CHALLENGES AND OPPORTUNITIES FOR
ISLAMIC PREACHING IN INDONESIA - ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/393433546_TRANSFORMATION_OF_P
ROPHETIC_COMMUNICATION_PATTERNS_IN_THE_ERA_OF_ARTIFICIAL_INTELLI
GENCE_CHALLENGES_AND_OPPORTUNITIES_FOR_ISLAMIC_PREACHING_IN_IN
DONESIA
32. Search results of countries of origins on artificial intelligence and religion in
Scopus, accessed October 1, 2025, https://www.researchgate.net/figure/Search-
results-of-countries-of-origins-on-artificial-intelligence-and-religion-in-
Scopus_fig2_371842374
33. When Algorithms Shape Trust: The Capitalist Transformation of Digital Islamic
Da'wah in Indonesia - Open Journal Systems, accessed October 1, 2025,
https://ejournal.mdresearchcenter.id/index.php/surau/article/download/34/35
34. Artificial Intelligence as a Catalyst for Modernizing Islamic Family Law -
ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/392702303_Artificial_Intelligence_as_a
_Catalyst_for_Modernizing_Islamic_Family_Law
35. (PDF) From Human Scholars to AI Fatwas: Media, Ethics, and the ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/393485067_From_Human_Scholars_to
_AI_Fatwas_Media_Ethics_and_the_Limits_of_AI_in_Islamic_Religious_Communic
166
ation
36. From Human Scholars to AI Fatwas: Media, Ethics, and the Limits of AI in Islamic
Religious Communication - ResearchGate, accessed October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/393485067_From_Human_Scholars_to
_AI_Fatwas_Media_Ethics_and_the_Limits_of_AI_in_Islamic_Religious_Communic
ation/download
37. Assessing Large Language Models on Islamic Legal Reasoning: Evidence from
Inheritance Law Evaluation - arXiv, accessed October 1, 2025,
https://arxiv.org/html/2509.01081v1
38. Artificial Intelligence on Sunni Islam's Fatwa ... - Islamic Inquiries, accessed
October 1, 2025,
https://is.urd.ac.ir/article_161049_9ea3c7171ea9c75c11d9fbd4ca631538.pdf
39. Maqasid Al-Shari'ah and the Ethics of Artificial Intelligence - Semantic Scholar,
accessed October 1, 2025, https://www.semanticscholar.org/paper/Maqasid-Al-
Shari%E2%80%99ah-and-the-Ethics-of-Artificial-Mohadi-
Tarshany/a5b3538755ac04ca507a7719820f128935b18710
40. Ethics of Artificial Intelligence in Maqāṣid Al-Sharīa's Perspective ..., accessed
October 1, 2025,
https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/karsa/article/view/19617
41. Maqasid Al-Shari'ah and the Ethics of Artificial Intelligence - Semantic Scholar,
accessed October 1, 2025,
https://pdfs.semanticscholar.org/a1ac/b898837450f7daa23a031aa526e4465eea2
5.pdf
42. Maqasid Al-Shariah in the Age of AI: A Critical Examination of ChatGPT Usage
Among International Islamic University Malaysia Students - UM Journal, accessed
October 1, 2025,
https://ejournal.um.edu.my/index.php/RIS/article/download/53308/17540/159029
43. The Role of Islamic Ethical Principles in the Development and Deployment of
Artificial Intelligence Technologies - Al Khadim Research Journal, accessed
October 1, 2025, https://arjicc.com/index.php/arjicc/article/view/394
44. Islamic Ethical Perspectives on Artificial Intelligence and Digital Surveillance:
Principles, Challenges, and Policy Recommendations | International Research
Journal of Arts, Humanities and Social Sciences, accessed October 1, 2025,
https://irjahss.com/index.php/ir/article/view/197
45. (PDF) The Ethical Implications of AI in Expressing Religious Beliefs ..., accessed
October 1, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/379179031_The_Ethical_Implications_o
f_AI_in_Expressing_Religious_Beliefs_Online_A_Restatement_of_the_Concept_of
_Religion
46. Islam and Artificial Intelligence (AI): Ethical Considerations and the Potential
Impact on Islamic Societies, accessed October 1, 2025,
https://ppipbr.com/index.php/islam/article/view/378
167
Menyusun Naskah Khutbah Jumat / Artikel Ceramah
dengan Bantuan AI
Tutorial Komprehensif Menggunakan NotebookLM & Gemini
Artikel berikut ini adalah kelanjutan dari artikel
https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/pengembangan-dakwah-era-digital/
sebagai bentuk praktek model bahasa AI secara khusus, yaitu menggunakan
NotebooLM dean Gemini.
Pengantar
Di era digital ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi alat bantu yang luar biasa untuk
berbagai keperluan, termasuk dalam penyusunan materi dakwah seperti khutbah
Jumat atau artikel ceramah. Dengan kombinasi NotebookLM sebagai asisten riset
dokumen pribadi Anda dan Gemini Google untuk pengembangan teks kreatif serta
riset mendalam, Anda dapat menghasilkan konten yang berkualitas, terstruktur, dan
kaya referensi.
Penting untuk diingat bahwa AI “bodoh” dalam artian tidak memiliki kesadaran, namun
sangat cepat dan memiliki kapasitas besar. Keberhasilan Anda dalam menggunakan AI
sangat bergantung pada prompt yang jelas dan spesifik yang Anda berikan. AI
adalah alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis Anda; kendali kualitas dan
168
kebenaran sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai manusia.
Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:
Bagian 1: Riset dan Draf Awal dengan NotebookLM
NotebookLM adalah asisten riset dan analisis dokumen pribadi Anda yang dirancang
untuk membantu Anda memahami dan menganalisis konten kompleks dari sumber-
sumber yang Anda sediakan sendiri. Ini adalah ruang kerja cerdas tempat Anda dapat
“berdiskusi” dengan dokumen-dokumen pribadi Anda. Keunggulannya adalah AI tidak
akan mencari informasi di internet secara bebas, melainkan fokus pada konten yang
Anda unggah.
Tujuan di tahap ini: Mengunggah referensi utama Anda dan menghasilkan draf artikel
pendek yang solid berdasarkan sumber-sumber tersebut.
Langkah-langkah Praktik:
1. Akses NotebookLM:
o Buka peramban web Anda dan kunjungi https://notebooklm.google.com/.
o Pastikan Anda sudah login dengan akun Google Anda.
2. Siapkan dan Unggah Sumber Referensi Anda:
o Sebelum memulai, siapkan buku atau jurnal dalam format PDF, Google Docs, file
teks, atau bahkan URL situs web yang relevan dengan topik khutbah atau
ceramah Anda. Misalnya, jika Anda ingin menyusun khutbah tentang “Kalender
Hijriah Global Tunggal (KHGT)”, Anda dapat mengunggah jurnal atau buku yang
membahas topik tersebut secara mendalam.
o Di NotebookLM, buat “Notebook Baru”.
o Unggah file atau masukkan URL dari sumber-sumber yang telah Anda siapkan.
Ini adalah langkah krusial karena NotebookLM akan bekerja secara eksklusif
berdasarkan informasi dari sumber yang Anda berikan.
169
3. Tulis Prompt untuk Artikel Pendek:
o Setelah sumber Anda terunggah, saatnya meminta NotebookLM untuk
menyusun draf artikel pendek berdasarkan konten yang ada. Mintalah artikel
yang ringkas namun padat, mencakup poin-poin utama yang Anda inginkan.
o Contoh Teks Prompt (Untuk Naskah Khutbah/Ceramah tentang KHGT):
Buatkan kerangka artikel singkat (kurang dari 500 kata) tentang Kalender Hijriah Global
Tunggal (KHGT) berdasarkan dokumen-dokumen yang telah saya unggah. Fokus pada
latar belakang, urgensi, dan tantangan implementasinya.
o Contoh output dari teks prompt ini dapat dilihat melalui link
berikut: https://gemini.google.com/share/cf0414167a13
o Keterangan: Prompt ini mengarahkan AI untuk mengambil informasi spesifik
dari dokumen yang Anda unggah dan merangkumnya menjadi sebuah artikel
singkat.
4. Tinjau dan Salin Hasil:
o Tunggu beberapa saat hingga NotebookLM selesai menghasilkan artikelnya.
o Anda dapat meninjau artikel tersebut. Jika sudah sesuai, klik tombol “SIMPAN
KE CATATAN” agar tersimpan di kolom sebelah kanan.
o Kemudian, klik ikon “SALIN” (Copy) untuk menyalin teks yang dihasilkan. Artikel
pendek ini akan menjadi dasar yang akan Anda kembangkan lebih lanjut di
Gemini.
170
Bagian 2: Pengembangan dan Perincian Naskah dengan Gemini Google
Gemini Google adalah asisten AI percakapan yang lebih umum dan serbaguna,
dengan jangkauan lebih luas dan terhubung langsung dengan internet. Ini ideal untuk
pengembangan teks kreatif, riset mendalam, dan menghasilkan berbagai format teks.
Tujuan di tahap ini: Mengembangkan draf artikel pendek dari NotebookLM menjadi
naskah khutbah Jumat atau artikel ceramah yang lengkap, detail, dan memenuhi
struktur yang Anda inginkan, dengan tambahan referensi dari internet.
Langkah-langkah Praktik:
1. Akses Gemini Google:
o Buka peramban web Anda dan kunjungi
https://gemini.google.com/app.
o Pastikan Anda sudah login dengan akun Google Anda.
2. Pilih Mode “Deep Research”:
o Di Gemini, pilih mode “Deep Research” (jika memerlukan daftar
referensi)) atau pastikan fitur penelusuran web/jurnal sudah aktif
(seringkali dilambangkan dengan ikon “Web Search” atau “Jelajahi
Gemini” di sidebar). Ini penting agar Gemini dapat menarik informasi dari
171
internet untuk mengembangkan materi Anda. Jika tidak ingin ada daftar
referensi maka tidak perlu memilih mode “Deep Research”
3. Tempel Artikel Pendek dan Berikan Prompt Pengembangan:
o Tempelkan artikel pendek yang sudah Anda salin dari NotebookLM ke
kolom input teks prompt di Gemini.
o Kemudian, di bawah artikel yang Anda tempel, berikan prompt yang
komprehensif untuk mengembangkan teks tersebut menjadi naskah
khutbah Jumat atau artikel ceramah yang lengkap. Prompt ini harus
mencakup semua elemen yang Anda inginkan, mulai dari struktur hingga
gaya bahasa dan referensi.
o Contoh Teks Prompt yang Baik (Untuk Mengembangkan Artikel KHGT
menjadi Khutbah Jumat Lengkap):
Susunkan naskah khutbah Jumat lengkap tentang tema “Kalender Hijriah Global
Tunggal (KHGT)”. Sertakan:
Pembukaan (mukadimah) dengan pujian kepada Allah dan shalawat Nabi (sertakan
teks arab berharakat)
Ayat Al-Qur’an dan Hadits yang relevan (cari di internet jika diperlukan), sertakan
teks arab berharakat dengan arti dan tafsir singkat
Penjelasan mendalam tentang KHGT, meliputi sejarah singkat, tujuan dan hikmah
serta manfaatnya bagi umat Islam se-dunia
Argumen yang mendukung implementasi KHGT.
Tantangan dan solusi potensial dalam penerapannya.
Bagian penutup/doa, sertakan teks arab berharakat
Gunakan gaya bahasa umum yang Islami yang mudah dipahami dan mengalir,
dengan penekanan pada urgensi dan relevansi topik ini bagi umat Islam. Pastikan
struktur khutbah standar terpenuhi
o Contoh output dari teks prompt di atas dapat dilihat pada link google drive
berikut: https://drive.google.com/file/d/1zaBldyFuMeiXA_7sSRbtdYSU8tqcUMOF/vi
ew?usp=sharing
172
o Keterangan: Prompt ini sangat detail, mengacu pada kemampuan Gemini dalam
menghasilkan teks kreatif dan melakukan riset, serta menyertakan semua
komponen khutbah Jumat yang Anda minta. Penambahan gaya bahasa umum
yang Islami yang mudah dipahami dan mengalir akan memandu AI untuk
menghasilkan teks yang menarik.
4. Tunggu Hasil dan Ekspor ke Google Docs:
o Proses “Deep Research” di Gemini bisa memakan waktu, mungkin 10, 20, 30
menit, atau bahkan 1 jam tergantung kompleksitas prompt dan panjang yang
diminta. Bersabarlah.
o Setelah selesai, artikel atau naskah khutbah akan muncul secara lengkap.
o Klik “EKSPOR KE DOKUMEN” (atau “Export to Docs”) untuk memindahkan
hasilnya langsung ke Google Docs. Ini memudahkan Anda untuk mengedit,
menyesuaikan, atau melakukan layouting lebih lanjut. Anda kemudian bisa
mengunduhnya sebagai file Docx atau PDF.
Tips Penting dan Etika Penggunaan AI:
Pentingnya “Prompt Engineering”: Ingatlah bahwa “tidak ada mantra yang
ampuh, kecuali prompt yang sesuai keinginan”. Kuasai “Prompt Engineering”
untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan sesuai harapan.
Verifikasi dan Keabsahan Data: Selalu verifikasi informasi yang dihasilkan
AI sebelum digunakan, terutama untuk nukilan dalil Al-Qur’an dan Hadits.
Pastikan penulisan teks Arab, terjemahan, dan penjelasannya akurat. Tanggung
jawab kebenaran sepenuhnya ada pada penulis.
Internet Stabil: AI akan sangat membantu jika Anda memiliki internet yang
cepat dan stabil.
Siapkan Kerangka Awal: Memiliki ide atau konsep awal yang jelas, serta
kerangka buku atau topik yang tersusun baik, akan sangat mempercepat proses.
Kemampuan Mengedit: AI membantu, namun kemampuan Anda untuk
mengedit dan menyempurnakan hasil AI sangat penting untuk memastikan
kualitas tulisan dan relevansinya.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Anda dapat memanfaatkan NotebookLM dan
Gemini Google secara efektif untuk menyusun naskah khutbah Jumat atau artikel
173
ceramah yang informatif, terstruktur, dan menarik. Selamat mencoba!
Contoh link:
1. NotebookLM Majelis Tabligh:
o https://notebooklm.google.com/notebook/6031ab33-12a7-4fd6-8f0c-
5f8cab28a9b5
2. Ilmu Falak & KHGT:
o https://notebooklm.google.com/notebook/278451f0-eea7-4a46-811b-
f7d551380327
3. Kumpulan Khutbah:
o https://notebooklm.google.com/notebook/0a834bd2-0727-43ed-9717-
72d5e0b31472
174
Prompt AI untuk Menyusun Buku dengan Mudah dan
Cepat
Panduan Praktis Menulis Buku "Sains Dunia sebagai I'jazul Qur'an" dengan
Teknik Prompt
Menulis buku kini semakin mudah dengan bantuan teknologi. Anda bisa memanfaatkan
teknik prompt untuk menyusun kerangka dan isi buku dengan cepat dan terstruktur.
Berikut adalah panduan praktis dalam bentuk artikel jurnalistik yang renyah dan mudah
dipahami, mengacu pada contoh buku Sains Dunia sebagai I’jazul Qur’an:
Mengungkap Kemukjizatan Al-Qur’an dalam Penemuan Ilmiah Modern“. Buku ini
hanya sebagai template yang dapat dipakai dengan cara yang sama untuk judul buku
lainnya dan dengan penyesuaian hal- hal lain yang relevan. Draft buku bagian awal
dapat didownload dari link DOWNLOAD.
Langkah-langkah menyusun buku/artikel:
1. Menentukan judul atau tema,
175
2. Menentukan atau mencari dan mendapatkan referensi baik buku atau jurnal
sesuai dengan judul atau tema yang ditentukan,
3. Mengupload semua file referensi melalui NotebookLM:
(https://notebooklm.google.com/),
4. Membuat artikel/deskripsi pendek sesuai judul atau tema yang ditentukan
menggunakan teks prompt yang sesuai. Baca artikel sebelumnya dalam
penggunaan teks prompt di NotebookLM,
5. Meng-copy output darii NotebookLM untuk dijadikan input teks prompt pada
Gemini: (https://gemini.google.com/)
6. Menempelkan (paste) teks dari output NotebookLM di Gemini, kemudian tuliskan
teks prompt yang sesuai agar dapat menghasilkan output yang tepat. Baca
artikel sebelumnya dalam penggunaan teks prompt di Gemini,
7. Jika akan membuat buku dengan daftar referensi yang lengkap maka PILIH
FITUR DEEP RESEARCH, tetapi jika hanya akan membuat artkel tanpa daftar
referensi yang menyertai maka TIDAK PERLU pilih fitur DEEP RESEARCH,
8. Jika sudah selesai maka tinggal pilih Ekspor ke Dokumen (Export to
Docs) untuk edit di Google docs,
9. Selesai edit maka pilih menu File > Download: Docs atau PDF
10. Di Ms Words dapat dilakukan editing ulang, lalu layouting > siap printing,
langkah 10 ini termasuk langkah yang lebih lama.
Baca: https://majelistablighpwmjateng.com/artikel/eksplorasi-materi-al-islam-
menggunakan-generative-artificial-intelligence-genai/
1. Persiapan Awal: Buku Referensi dan Prompt
Langkah pertama adalah menyiapkan materi dasar. Anda harus menyediakan buku atau
referensi yang akan dijadikan acuan. Misalnya, Anda bisa mengunggah file PDF atau e-
book yang relevan ke dalam platform AI untuk mempermudah proses pengerjaan.
2. Prompt untuk Deskripsi dan Judul Buku
Sebelum menyusun isinya, pastikan Anda memiliki prompt yang tepat untuk
menghasilkan deskripsi buku yang memukau.
176
Contoh Prompt:
“Anda adalah seorang pakar dalam tafsir Al-Qur’an untuk sains Al-Qur’an sebagai
i’jazul Qur’an, menguasai bahasa Arab Al-Qur’an, tafsirnya, serta berbagai tafsir para
ulama dunia. Buatkan saya sebuah deskripsi buku dengan judul ‘Sains Dunia sebagai
I’jazul Qur’an: Mengungkap Kemukjizatan Al-Qur’an dalam Penemuan Ilmiah Modern’.”
Hasil Output (Contoh):
Buku ini hadir sebagai upaya untuk mengungkap dimensi kemukjizatan ilmiah (I’jazul
Qur’an) di era sains dan teknologi yang terus berkembang pesat. Tujuannya adalah
menunjukkan bahwa wahyu ilahi tidak bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah,
melainkan justru memperkuat keyakinan akan kebenaran Al-Qur’an sebagai firman
Allah (Kalamullah).
3. Menyusun Daftar Isi yang Terstruktur
Daftar isi adalah “jantung” dari sebuah buku. Susunlah dengan prompt yang detail.
Contoh Prompt:
“Anda adalah seorang expert dalam tafsir Al-Qur’an untuk sains Al-Qur’an sebagai
i’jazul Qur’an, menguasai bahasa Arab Al-Qur’an dan tafsirnya, berbagai tafsir para
ulama dunia. Susunkan daftar isi untuk sebuah buku dengan judul ‘Sains Dunia sebagai
I’jazul Qur’an’. Daftar isi dapat dikembangkan dari file PDF ini.”
Hasil Output (Contoh):
Berikut adalah sebagian dari daftar isi yang dihasilkan:
o Bagian I: Fondasi Memahami I’jazul Qur’an dan Sains
o Bab 1: Hakikat Al-Qur’an sebagai Mukjizat Abadi
1.1. Pengertian Mukjizat dalam Perspektif Islam dan Ilmiah
1.2. Al-Qur’an sebagai Kalamullah: Kekekalan dan Keuniversalan Pesannya
1.3. Ragam I’jazul Qur’an: Linguistik, Numerik, Prediktif, dan Ilmiah
o Bab 2: Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Wahyu
2.1. Sejarah Hubungan Islam dan Sains: Masa Keemasan Peradaban Islam
2.2. Paradigma Ilmu dalam Islam: Wahyu sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan
177
2.3. Ayat-ayat Kauniyah: Ajakan Al-Qur’an untuk Merenungi Alam
4. Prompt untuk Kata Pengantar dan Bab Pembuka
Untuk menghasilkan kata pengantar, Anda bisa memberikan prompt yang menyertakan
tujuan dan harapan dari penulisan buku.
Contoh Prompt untuk Kata Pengantar:
“Buatkan kata pengantar untuk buku ‘Sains Dunia sebagai I’jazul Qur’an…’ dengan
tujuan untuk memperkuat keimanan, menghilangkan keraguan, dan menjadi jembatan
dialog yang konstruktif antara agama dan sains.”
Contoh Prompt untuk Bab Pembuka:
“Kembangkan Bab 1.1 ‘Pengertian Mukjizat dalam Perspektif Islam dan Ilmiah’ dengan
merujuk pada definisi mukjizat sebagai peristiwa luar biasa di luar nalar manusia dan
klasifikasi mukjizat Al-Suyuti, yaitu mukjizat hisiyah dan mukjizat aqliyah. Jelaskan
perbedaan keduanya dan mengapa Al-Qur’an termasuk mukjizat aqliyah yang abadi.”
5. Mengembangkan Isi Bab, Sub-bab, dan Sub-sub-bab
Ini adalah bagian terpenting. Anda harus membuat prompt yang rinci untuk setiap
bagian.
Contoh Prompt untuk Sub-bab:
“Kembangkan Bab 3.1 ‘Penjelasan Al-Qur’an tentang Asal Manusia (Q.S. Al-Mu’minun
23:12)’ dengan mengacu pada frasa ‘sulalah min tin’ yang berarti ‘ekstrak’ atau
‘saripati’ dari tanah liat. Jelaskan bagaimana hal ini dapat dihubungkan dengan
komposisi unsur dasar tubuh manusia yang berasal dari bumi.”
Contoh Prompt untuk Sub-sub-bab:
“Kembangkan Bab 4.1 ‘Alaqah (Segumpal Darah/Yang Melekat)’ dengan menjelaskan
arti linguistik ‘Alaqah’ yang bisa bermakna ‘melekat’ atau ‘lintah’. Jelaskan
kesesuaiannya dengan gambaran embrio yang menempel di dinding rahim dan tampak
seperti lintah yang mendapatkan nutrisi dari darah ibu, sebuah fakta yang tidak
mungkin diketahui pada abad ke-7.”
6. Menutup Buku: Penutup, Glosarium, dan Indeks
Bagian akhir buku juga memerlukan prompt yang terstruktur.
178
Contoh Prompt untuk Penutup:
“Susunlah bagian Penutup untuk buku ‘Sains Dunia sebagai I’jazul Qur’an…’ yang berisi
Kesimpulan, Rekomendasi, dan ajakan untuk terus mengkaji Al-Qur’an dan alam
semesta.”
Contoh Prompt untuk Indeks dan Glosarium:
“Buatkan daftar kata kunci (Indeks) dan istilah-istilah sulit (Glosarium) yang relevan
dari seluruh isi buku ‘Sains Dunia sebagai I’jazul Qur’an…’.”
Dengan mengikuti teknik prompt yang terstruktur ini, Anda dapat menyusun buku
dengan bahasa yang ilmiah, namun tetap mudah dipahami oleh khalayak umum.
Selamat berkarya!
Artikel selengkapnya dapat dibaca melalui link berikut: DOWNLOAD
179
Dakwah Digital Guncang Mimbar: Tren Konten dan
Dominasi Pendakwah di Indonesia
Dalam satu dekade terakhir, lanskap dakwah Islam di Indonesia mengalami pergeseran
signifikan dari mimbar fisik ke ranah digital yang dinamis. Didorong oleh penetrasi
internet dan media sosial yang masif, pesan-pesan keagamaan kini menyebar dengan
kecepatan dan jangkauan tak terduga. Fenomena ini melahirkan “Ustadz Youtuber”,
pendakwah yang memanfaatkan platform digital seperti YouTube, Instagram, dan
TikTok untuk membangun audiens kolosal. Dakwah kini dapat diakses kapan saja dan
di mana saja, menjadikan internet rujukan utama bagi umat Muslim, terutama generasi
muda.
Transformasi ini membawa peluang demokratisasi pengetahuan agama, namun juga
tantangan penyebaran informasi tidak terverifikasi dan komersialisasi dakwah.
Demografi Audiens dan Preferensi Konten
Audiens utama dakwah digital adalah generasi Milenial dan Gen Z. Kelompok demografi
terbesar dan pengguna internet paling aktif ini memiliki preferensi konten yang khas.
Mereka mencari konten otentik, relevan dengan pengalaman hidup, serta disajikan
dalam format kreatif dan visual menarik. Alih-alih dogma, mereka tertarik pada dakwah
yang menawarkan solusi spiritual atas kegelisahan kontemporer, seperti stabilitas
keuangan, kesehatan mental, pencarian jodoh, dan keadilan sosial. Gaya penyampaian
180
santai, humoris, dan dialogis lebih disukai daripada pendekatan formal. Ustadz Hanan
Attaki, yang menargetkan “pemuda hijrah” dengan gaya dekat anak muda, menjadi
contoh sukses adaptasi ini.
Metodologi “Skor Viralitas”
Laporan ini memperkenalkan “Skor Viralitas” (skala 1-100%) untuk mengukur
popularitas dan dampak konten dakwah. Skor ini merupakan sintesis dari:
5) Jangkauan Kuantitatif: Jumlah penayangan di YouTube dan pengikut di media
sosial, menunjukkan potensi jangkauan.
6) Keterlibatan Kualitatif: Interaksi audiens seperti suka, komentar, dan berbagi,
menandakan resonansi emosional dan intelektual.
7) Penyebutan di Media dan Survei: Frekuensi kemunculan pendakwah atau tema
dalam survei popularitas dan liputan berita.
8) Daya Tahan Konten (Evergreen Factor): Kemampuan konten tetap relevan dan
menarik penonton baru dalam jangka panjang.
Skor Viralitas ini memberikan gambaran holistik tentang pengaruh konten, melampaui
angka penayangan sesaat.
Analisis Tematik Konten Dakwah Viral
Analisis mendalam setahun terakhir menunjukkan beberapa tema dominan yang
berhasil menarik perhatian audiens:
6) Motivasi & Solusi Kehidupan Sehari-hari (Estimasi Viralitas: 95%): Tema
paling populer, menyasar kebutuhan emosional dan psikologis audiens terkait
rezeki, jodoh, kesabaran, dan utang. Relevan dengan Milenial dan Gen Z sebagai
“generasi sandwich” yang menghadapi tekanan finansial dan isu kesehatan mental.
Dakwah digital berfungsi sebagai “terapi spiritual” dan mekanisme koping.
7) Fikih Praktis & Ibadah Harian (Estimasi Viralitas: 90%): Pilar konten
“evergreen” berupa panduan dan utilitas ibadah. Kanal seperti Yufid.TV menjadi
rujukan utama dengan jutaan penayangan untuk video tutorial shalat atau dzikir.
Konten ini memiliki umur simpan” sangat panjang, menggantikan peran buku
panduan ibadah tradisional.
8) Humor dalam Dakwah (Estimasi Viralitas: 88%): Pendorong viralitas kuat,
memadukan substansi agama dengan gaya jenaka. Ustadz Das’ad Latif menjadi
181
contoh utama dengan gaya ceramah ringan dan lucu yang mudah dibagikan.
Humor berfungsi sebagai “pelumas sosial” yang menurunkan ambang batas
psikologis bagi audiens, cocok untuk video pendek di TikTok dan Instagram Reels.
9) Momen Keagamaan Musiman (Estimasi Viralitas: 85%): Keterlibatan audiens
memuncak selama hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Tema refleksi diri pasca-Ramadhan saat Idul Fitri, serta peneladanan Nabi Ibrahim
AS dan Ismail AS saat Idul Adha, sangat beresonansi. Konten musiman yang viral
mampu memberikan makna spiritual mendalam pada pengalaman kolektif dan
budaya masyarakat.
10) Isu Sosial Kontemporer dalam Bingkai Islam (Estimasi Viralitas: 75%): Dakwah
digital semakin membahas isu-isu sosial modern. Organisasi seperti NU dan MUI
aktif memberikan panduan moral terkait etika bermedia sosial, judi online, dan
kesehatan mental. Pergeseran ini menunjukkan fungsi dakwah sebagai pemandu
etis yang menawarkan perspektif Islam sebagai solusi masalah zaman sekarang.
Profil Pendakwah Digital Paling Berpengaruh
Para pendakwah ini menjadi motor penggerak viralitas, membangun koneksi kuat
dengan jutaan audiens:
4) Ustadz Abdul Somad (UAS) (Estimasi Pengikut: >15 Juta): Konsisten di puncak
popularitas. Gaya ceramahnya lugas, tegas, namun diselingi humor, diterima
berbagai lapisan masyarakat. Kanal YouTube resminya dikelola profesional,
menghasilkan pendapatan untuk kegiatan dakwah dan sosial.
5) Ustadz Adi Hidayat (UAH) (Estimasi Pengikut: >11 Juta): Dikenal karena
kedalaman ilmunya, terutama penguasaan Al-Qur’an dan Hadits, dengan
kemampuan menyebutkan letak ayat secara presisi. Gaya intelektual, terstruktur,
dan sistematisnya menarik audiens yang mencari pemahaman agama mendalam.
6) Gus Baha (KH Bahauddin N.) (Estimasi Pengikut: >1 Juta (Afiliasi)):
Merepresentasikan kekuatan dakwah tradisionalis NU di ranah digital. Menawarkan
kajian kitab kuning klasik yang mendalam namun disajikan logis, santai, dan humor
khas pesantren. Popularitasnya menunjukkan kerinduan publik terhadap model
dakwah otentik.
182
Pendakwah Generasi Muda:
3) Ustadz Hanan Attaki (>13 Juta Pengikut): Ikon “hijrah” di kalangan anak muda
urban. Gayanya santai, berbahasa sehari-hari, dan penampilannya modis. Tema
ceramahnya relevan dengan dunia anak muda, dan model dakwahnya inovatif
dengan “Sharing Time” di lokasi premium.
4) Ustadz Das’ad Latif (>5 Juta Pengikut): Kekuatan utamanya adalah kepiawaian
berkomunikasi dan humor. Gaya ceplas-ceplos dengan logat Bugis kental menjadi
daya tarik utama, menjadikan dakwah menghibur dan merakyat.
Analisis Platform dan Implikasi Strategis
Keberhasilan dakwah digital di Indonesia tak lepas dari pemanfaatan strategis berbagai
platform media sosial yang membentuk ekosistem saling mendukung.
1. Ekosistem Multi-Platform:
4) YouTube: Arsip utama dan platform konten mendalam, ideal untuk ceramah
penuh dan kajian kitab.
5) TikTok dan Instagram Reels: Mesin viral dan gerbang penemuan, ideal untuk klip
pendek yang menarik.
6) Situs Web Resmi dan Portal Berita: Sumber otoritatif dan kredibel untuk konten
berbasis teks seperti khutbah dan fatwa.
Terdapat hubungan simbiosis antar-platform, menciptakan siklus lalu lintas yang saling
menguntungkan. Klip viral dari ceramah panjang di YouTube dapat menyebar di TikTok,
memicu audiens mencari konten lengkap di YouTube.
2. Implikasi dan Rekomendasi Strategis:
4) Untuk Praktisi Dakwah (Da’i): Penting mengadopsi strategi multi-platform dan
mengadaptasi materi mendalam YouTube ke format pendek yang menarik untuk
TikTok dan Instagram Reels. Kunci keberhasilan adalah narasi otentik, relevan, dan
gaya yang sesuai platform.
5) Untuk Organisasi Keagamaan: Perlu meningkatkan inovasi di platform muda,
memproduksi konten video dinamis, dan berkolaborasi dengan pendakwah
populer.
6) Menghadapi Tantangan Kredibilitas: Era digital membawa tantangan seperti
penyebaran hoax, pendangkalan makna, dan komersialisasi berlebihan. Menjaga
183
kredibilitas sumber, kedalaman materi, dan transparansi menjadi krusial.
Pendakwah dan lembaga keagamaan harus menjadi sumber pencerahan
tepercaya, menekankan validasi ilmu dan sanad keilmuan.
Dengan pendekatan yang tepat, inovasi teknologi digital dapat secara efektif
memperkuat nilai-nilai Islam dan menumbuhkan kesadaran beragama yang sehat di
masyarakat modern.
184
7 Skill Akselerasi Dakwah Digital
Pendahuluan: Mimbar Baru di Ruang Digital - Menavigasi Dakwah di
Lanskap Indonesia Kontemporer
Era digital telah secara fundamental mengubah lanskap komunikasi, interaksi, dan pencarian
informasi di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Skala transformasi ini menghadirkan
sebuah "medan dakwah" baru yang luasnya belum pernah terbayangkan sebelumnya. Data dari
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada awal 2024 menunjukkan bahwa
tingkat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5%, setara dengan 221,5 juta jiwa.
1
Proyeksi untuk awal 2025 bahkan mengindikasikan adanya 212 juta pengguna internet dengan
143 juta identitas pengguna media sosial aktif.
3
Angka-angka ini bukan sekadar statistik
demografis; ia merepresentasikan sebuah ummah digital yang masif, aktif, dan terus
bertumbuh. Fenomena ini secara efektif menggeser paradigma dakwah dari yang semula
berpusat di ruang-ruang fisik seperti masjid dan majelis taklim, ke sebuah mimbar virtual yang
tak terbatas oleh sekat geografis maupun waktu.
Revolusi digital ini menuntut lebih dari sekadar adaptasi metode; ia menuntut transformasi
esensial dalam peran seorang dai. Jika sebelumnya seorang dai adalah penceramah (speaker),
kini ia harus berevolusi menjadi arsitek komunitas (community architect), pemimpin pemikiran
(thought leader), dan manajer konten yang strategis (strategic content manager). Urgensi
transformasi ini didorong oleh dua pergeseran fundamental.
Pertama, terjadinya pergeseran otoritas keagamaan, di mana legitimasi tidak lagi
dimonopoli oleh lembaga-lembaga tradisional, melainkan terdistribusi dan seringkali
ditentukan oleh popularitas serta visibilitas yang dimediasi oleh algoritma.
4
Kedua, dominasi audiens baru, yakni Generasi Z, yang kini menjadi segmen audiens terbesar
dan paling berpengaruh di ranah digital, dengan karakteristik dan preferensi media yang
sangat unik.
1
Menjawab tantangan dan peluang tersebut, laporan ini menyajikan sebuah model strategis
yang holistik, yakni "7 Skill Akselerasi Dakwah Digital". Kerangka ini dirancang untuk
membekali para dai kontemporer dengan seperangkat keterampilan yang komprehensif.
Laporan ini akan terbagi menjadi dua bagian utama: pertama, pemahaman mendalam terhadap
medan dakwah digital kontemporer, dan kedua, pembahasan strategis mengenai tujuh
keterampilan esensial untuk menavigasi medan tersebut secara efektif dan bertanggung
jawab.
185
Bagian I: Memahami Medan Dakwah Digital
Bab 1: Pergeseran Otoritas Keagamaan di Era Media Sosial
Perkembangan media baru, khususnya media sosial, telah menjadi katalisator utama
bagi perubahan struktur otoritas keagamaan di Indonesia. Platform-platform ini secara
signifikan mendisrupsi hierarki tradisional yang selama ini didominasi oleh ulama, kiai,
dan lembaga-lembaga keagamaan formal.
Fragmentasi dan Demokratisasi Informasi Keagamaan
Kehadiran platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok memungkinkan setiap
individu untuk menyebarkan pengaruh keagamaan secara cepat dan masif.
7
Fenomena
ini melahirkan apa yang disebut sebagai "ustadz hits" atau "pendakwah selebriti", di
mana otoritas keagamaan tidak lagi semata-mata berbasis pada kedalaman ilmu atau
afiliasi institusional, melainkan pada popularitas dan jumlah pengikut.
5
Terjadi sebuah
"demokratisasi" akses terhadap mimbar, di mana setiap orang berpotensi menjadi
penyampai pesan agama. Namun, kemudahan akses ini juga membawa konsekuensi
serius, seperti fragmentasi ajaran, munculnya fatwa instan yang tidak terverifikasi,
serta potensi komodifikasi agama, di mana nilai-nilai spiritual direduksi menjadi konten
yang bertujuan komersial.
5
Studi Kasus Kontras: Adaptasi vs. Disrupsi
Dampak media sosial terhadap otoritas keagamaan tidaklah seragam. Terdapat dua
model respons yang kontras, yaitu adaptasi oleh figur tradisional dan disrupsi oleh
figur-figur baru.
186
Model Adaptasi (Gus Mus): Figur otoritas tradisional yang dihormati seperti K.H.
Mustofa Bisri (Gus Mus) menunjukkan bagaimana media sosial justru dapat
digunakan untuk memperkuat otoritas yang sudah ada. Alih-alih tergeser,
kehadiran Gus Mus di platform digital, yang didukung oleh tim media profesional,
menjadi medium baru untuk menyebarkan pesan-pesan universalnya kepada
audiens yang jauh lebih luas dan beragam.
8
Kasus Gus Mus membuktikan bahwa
media baru tidak serta-merta menggeser otoritas tradisional, melainkan dapat
menjadi alat amplifikasi yang kuat jika digunakan secara strategis.
8
Ini menegaskan
bahwa teknologi pada dasarnya netral; strategilah yang menentukan dampaknya.
Model Disrupsi (Dai Populer Baru): Di sisi lain, dai-dai populer seperti Felix Siauw
atau Agam Fachrul berhasil membangun otoritas mereka dari bawah ke atas
(bottom-up). Mereka secara spesifik menargetkan audiens muda dengan konten
yang menarik secara visual, relevan secara emosional, dan dikemas dalam bahasa
yang mudah dipahami.
9
Otoritas mereka tidak dibangun di atas legitimasi
institusional formal, melainkan di atas metrik-metrik digital seperti engagement
(keterlibatan) dan relatability (kemampuan audiens untuk merasa terhubung).
11
Pergeseran ini menandakan perubahan fundamental dalam kriteria legitimasi otoritas
keagamaan itu sendiri. Jika dahulu otoritas ditentukan oleh sistem validasi top-down
melalui sanad (rantai keilmuan yang bersambung), afiliasi institusional (seperti
Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah), dan pengakuan dari ulama senior, kini media
sosial memperkenalkan sistem validasi baru yang bersifat bottom-up dan algoritmik.
Audiens memberikan "suara" mereka melalui likes, shares, dan follows, yang kemudian
diamplifikasi oleh algoritma platform. Akibatnya, seorang dai kontemporer harus
mampu menguasai dua "bahasa" legitimasi: bahasa keilmuan Islam tradisional dan
bahasa algoritma media sosial. Kegagalan dalam salah satunya akan menghambat
efektivitas dakwah dan berisiko menciptakan "gelembung-gelembung kebenaran"
(echo chambers), di mana audiens hanya terpapar pada pandangan yang sesuai
dengan preferensi mereka, yang pada akhirnya dapat meningkatkan polarisasi
pemahaman keagamaan.
Bab 2: Profil Audiens Digital Indonesia: Menyelami Psikografi Gen Z
dan Milenial
Memahami audiens adalah kunci dari setiap komunikasi yang efektif, termasuk dakwah.
187
Di era digital, audiens utama adalah generasi yang lahir dan besar bersama teknologi,
terutama Generasi Z.
Dominasi Kuantitatif Gen Z
Data APJII secara tegas menunjukkan bahwa Generasi Z (individu yang lahir antara
tahun 1997-2012) merupakan kekuatan dominan di lanskap internet Indonesia. Dengan
tingkat penetrasi internet mencapai 87,02%, mereka menjadi kontributor terbesar
pengguna internet dengan porsi 34,40%, melampaui Generasi Milenial (30,62%).
1
Angka ini mengirimkan pesan yang jelas: setiap strategi dakwah digital yang tidak
memprioritaskan pemahaman dan penjangkauan terhadap Gen Z adalah strategi yang
ditakdirkan untuk gagal sejak awal.
Karakteristik dan Preferensi Konten Gen Z
Gen Z memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengonsumsi informasi, termasuk
konten keagamaan:
Visual, Cepat, dan Interaktif: Mereka memiliki preferensi kuat terhadap informasi
yang disajikan secara visual, cepat, dan interaktif. Platform seperti Instagram dan
TikTok bukan hanya media hiburan, tetapi telah menjadi kanal utama mereka untuk
mencari berbagai informasi, termasuk yang bersifat keagamaan.
6
Ringkas dan Otentik: Format video pendek yang ringkas dan mudah dipahami
terbukti sangat efektif untuk menarik perhatian mereka.
10
Mereka cenderung
menolak metode dakwah yang dianggap monoton, kaku, atau terlalu formal, dan
lebih menghargai konten yang terasa otentik dan tidak dibuat-buat.
6
Relatable dan Emosional: Konten yang membahas isu-isu personal yang relevan
dengan kehidupan merekaseperti masalah percintaan, iman yang naik-turun,
kesehatan mental, atau kecemasan akan masa depanterbukti sangat menarik.
10
Dai seperti Ustadz Hanan Attaki meraih popularitas besar karena kemampuannya
membahas tema-tema ini dengan gaya bahasa yang terasa dekat dan "gue
banget" bagi audiens muda.
15
Untuk memberikan panduan praktis bagi para dai, berikut adalah tabel perbandingan
karakteristik audiens dakwah digital antara Gen Z dan Milenial, yang membantu
188
mencegah generalisasi "anak muda" dan mendorong pendekatan yang lebih
bernuansa.
Bagi Gen Z, seorang dai tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber ilmu, tetapi telah
berevolusi menjadi role model gaya hidup dan "teman curhat" digital. Batasan antara
figur publik dan figur personal menjadi semakin kabur. Mereka mencari informasi
keagamaan tidak hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk
mendapatkan validasi emosional dan panduan praktis dalam menghadapi masalah
personal.
10
Akibatnya, mereka lebih tertarik pada dai yang menampilkan sisi
189
personalnya, menggunakan bahasa sehari-hari, dan memiliki penampilan yang
"kekinian".
10
Hal ini menciptakan ekspektasi baru bahwa seorang dai harus autentik dan
relatable. Keberhasilan dakwah tidak hanya bergantung pada isi ceramah, tetapi juga
pada bagaimana seorang dai membangun persona digital yang terkoneksi dengan
audiens. Ini tentu menempatkan tekanan besar pada para dai untuk menjaga
konsistensi antara persona online dan kehidupan offline, di mana setiap inkonsistensi
dapat dengan cepat merusak kredibilitas yang telah dibangun.
Bab 3: Imam Algoritmik: Tantangan dan Peluang AI dalam Wacana
Keagamaan
Setelah era media sosial yang mendemokratisasi otoritas, kini muncul kekuatan baru
yang berpotensi mengubah lanskap informasi keagamaan secara lebih fundamental:
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI).
AI sebagai Sumber Informasi Keagamaan Baru
Munculnya AI generatif seperti ChatGPT telah membuka akses instan kepada jawaban
atas berbagai pertanyaan keagamaan, mulai dari tafsir ayat, hukum fiqh, hingga
persoalan keislaman kontemporer.
16
Berbekal kemampuannya memproses data teks
dalam jumlah masif, AI dapat menemukan pola, merangkum informasi, dan
menyajikannya dengan cepat dalam bahasa yang terstruktur dan komunikatif.
16
Peluang Akselerasi Dakwah melalui AI
Teknologi ini menawarkan sejumlah peluang signifikan untuk akselerasi dakwah. AI
dapat digunakan untuk personalisasi konten, di mana sistem menganalisis data
pengguna untuk menciptakan materi dakwah yang relevan dengan kebutuhan dan
preferensi individu.
19
Dari sisi efisiensi dan jangkauan, chatbot berbasis AI dapat
190
berfungsi sebagai asisten virtual yang menjawab pertanyaan-pertanyaan umum
tentang Islam selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, memperluas jangkauan dakwah
ke daerah-daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses ke dai secara langsung.
19
Selain itu, AI dapat dimanfaatkan untuk analisis audiens, seperti analisis sentimen
terhadap konten, yang membantu para dai memahami respons audiens dan
mengidentifikasi tren yang sedang berkembang.
19
Risiko dan Tantangan Etis
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat risiko dan tantangan etis yang sangat
serius.
Distorsi Pemahaman dan Tafsir Instan: Tanpa bimbingan epistemologis dari
ulama yang otoritatif, AI berisiko menghasilkan tafsir yang instan, parsial, dan
bahkan menyimpang dari kaidah-kaidah keilmuan Islam yang mapan.
16
Penting
untuk disadari bahwa AI tidak memiliki kesadaran spiritual, pengalaman ruhani,
maupun pemahaman konteks mendalam yang menjadi landasan utama dalam
ilmu-ilmu keislaman.
16
Reduksi Peran Ulama: Terdapat bahaya bahwa masyarakat akan mulai
menjadikan AI sebagai pengganti peran ulama atau guru agama, bukan lagi
sekadar alat bantu belajar.
16
Hal ini mengancam tradisi transmisi ilmu berbasis
sanad (rantai guru) dan interaksi personal antara guru dan murid yang menjadi
tulang punggung pendidikan Islam.
Akurasi dan Bias Algoritmik: Kualitas jawaban yang dihasilkan AI sangat
bergantung pada kualitas dan keberagaman data yang digunakan untuk
melatihnya. Jika data latihnya mengandung bias, tidak akurat, atau berasal dari
sumber-sumber yang tidak kredibel, AI akan mereplikasi dan bahkan memperkuat
kesalahan tersebut dalam skala yang masif.
19
Kemunculan AI menandai pergeseran dari "otoritas berbasis popularitas" (era media
sosial) ke "otoritas berbasis komputasi". Ini merupakan tantangan epistemologis yang
lebih fundamental bagi institusi keagamaan. Jika era pra-internet didominasi oleh
otoritas institusional dan era media sosial oleh otoritas influencer, era AI
memperkenalkan jenis otoritas baru yang terkesan "objektif" dan "ilmiah" karena
dihasilkan oleh mesin berbasis data.
16
Manusia memiliki kecenderungan psikologis
untuk lebih mempercayai output dari sistem kompleks yang tidak sepenuhnya mereka
pahami. Hal ini membuat jawaban dari ChatGPT berpotensi dianggap lebih "netral" atau
191
"benar" dibandingkan jawaban dari seorang ustadz yang mungkin dianggap memiliki
bias personal. Oleh karena itu, peran dai di era AI harus bergeser. Mereka tidak bisa
lagi bersaing dalam kecepatan menjawab pertanyaan, karena AI akan selalu lebih
unggul. Sebaliknya, peran mereka harus berevolusi menjadi kurator pengetahuan,
pembimbing etis, dan fasilitator pengalaman spiritual. Tugas utama seorang dai
bukan lagi sekadar "menjawab pertanyaan", melainkan mengajarkan audiens cara
bertanya yang benar kepada AI dan cara memverifikasi jawaban yang diterima
sebuah peran yang menuntut literasi digital dan kedalaman ilmu agama yang jauh lebih
tinggi.
Bagian II: 7 Skill Akselerasi: Panduan Strategis untuk
Dai Digital
Bab 4: Skill 1 - Fondasi Adaptif: Menginternalisasi Growth Mindset
Sebelum menguasai keterampilan teknis apa pun, seorang dai digital harus terlebih
dahulu membangun fondasi mental yang kokoh. Fondasi ini adalah apa yang oleh
psikolog Carol Dweck disebut sebagai Growth Mindset atau Pola Pikir Bertumbuh.
Definisi Konsep
Carol Dweck membedakan dua jenis pola pikir fundamental. Fixed Mindset (Pola Pikir
Tetap) adalah keyakinan bahwa kualitas dasar seperti kecerdasan dan bakat adalah
sifat bawaan yang tidak dapat diubah. Sebaliknya, Growth Mindset (Pola Pikir
Bertumbuh) adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat
dikembangkan melalui dedikasi, usaha, dan pembelajaran.
21
Individu dengan growth
mindset melihat tantangan sebagai peluang untuk tumbuh dan kegagalan bukan
sebagai akhir, melainkan sebagai batu loncatan untuk perbaikan.
23
192
Relevansi bagi Dai Digital
Dalam konteks dakwah digital yang sangat dinamis, growth mindset bukanlah sekadar
konsep motivasi, melainkan sebuah prasyarat untuk bertahan dan berkembang.
Menghadapi Perubahan Algoritma: Lanskap digital selalu berubah. Algoritma
Instagram, TikTok, dan YouTube terus diperbarui tanpa henti. Seorang dai dengan
fixed mindset akan mudah frustrasi dan berkata, "Cara saya tidak lagi berhasil,"
lalu menyerah. Sebaliknya, dai dengan growth mindset akan melihatnya sebagai
tantangan untuk dipelajari, dengan sikap, "Saya belum paham algoritma baru ini,
tapi saya bisa mempelajarinya".
21
Menerima Umpan Balik dan Kritik: Ruang digital adalah arena terbuka yang
penuh dengan komentar dan kritik, baik yang membangun maupun yang
menjatuhkan. Fixed mindset cenderung melihat kritik sebagai serangan personal
yang mengancam citra diri. Sementara itu, growth mindset mampu memandang
kritik sebagai data berharga yang dapat digunakan untuk perbaikan konten dan
cara penyampaian.
21
Eksperimen dengan Format Konten: Keberanian untuk mencoba format-format
barumisalnya, beralih dari video ceramah panjang di YouTube ke video vertikal
singkat di TikTok, atau memulai sebuah podcastadalah ciri khas dari growth
mindset. Ini adalah tentang kemauan untuk merangkul tantangan dan belajar dari
kegagalan, bukan hanya terus-menerus menampilkan apa yang sudah dikuasai.
22
Growth Mindset dapat diibaratkan sebagai software atau sistem operasi mental yang
memungkinkan seorang dai untuk secara efektif menjalankan berbagai hardware atau
keterampilan teknis lainnya. Tanpa fondasi mental ini, keterampilan teknis secanggih
apa pun akan cepat usang dan tidak berkelanjutan. Sebagai contoh, seorang dai
mungkin berhasil mempelajari teknik membuat video TikTok yang viral pada tahun
2024. Namun, ketika tren dan algoritma berubah total pada tahun 2025, teknik tersebut
menjadi tidak efektif. Dai dengan fixed mindset akan menyimpulkan bahwa dakwah
digital tidak cocok untuknya. Sebaliknya, dai dengan growth mindset akan melihat
kegagalan ini sebagai informasi, bukan sebagai vonis atas kemampuannya. Ia akan
bertanya, "Baik, cara lama tidak berhasil. Apa yang baru? Apa yang bisa saya pelajari?"
dan mulai bereksperimen lagi. Oleh karena itu, Growth Mindset ditempatkan sebagai
keterampilan pertama bukan secara kebetulan; ia adalah prasyarat fundamental yang
memungkinkan semua keterampilan lain untuk tumbuh dan beradaptasi.
193
Bab 5: Skill 2 - Visi Strategis: Merancang Model Dakwah dengan
Da'wah Business Model Canvas
Untuk memastikan aktivitas dakwah digital berjalan secara terarah dan berkelanjutan,
diperlukan sebuah kerangka kerja strategis. Salah satu alat yang paling efektif untuk ini
adalah Business Model Canvas (BMC) yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder
24
, yang dapat diadaptasi menjadi Da'wah Business Model Canvas (DBMC).
Adaptasi Kerangka BMC
DBMC adalah sebuah alat manajemen strategis yang memungkinkan seorang dai atau
lembaga dakwah untuk memetakan, merancang, dan menganalisis model dakwah
mereka dalam satu halaman visual. Kerangka ini terdiri dari sembilan blok bangunan
yang saling terkait.
Penjabaran 9 Blok DBMC
1. Segmentasi Mad'u (Customer Segments): Blok ini mendefinisikan kelompok
audiens spesifik yang ingin dijangkau. Apakah targetnya adalah Gen Z di
perkotaan, ibu rumah tangga milenial, atau para profesional muda? Mendefinisikan
segmen secara jelas adalah langkah pertama untuk menciptakan pesan yang
relevan.
25
2. Proposisi Nilai Dakwah (Value Propositions): Nilai unik dan manfaat apa yang
ditawarkan kepada segmen mad'u? Ini bisa berupa kajian fiqh kontemporer yang
mudah dipahami, konten motivasi Islami yang menenangkan, atau dakwah yang
disajikan dengan gaya humoris dan merangkul.
24
3. Kanal Distribusi Pesan (Channels): Platform atau media apa yang digunakan
untuk menyampaikan proposisi nilai kepada mad'u? Misalnya, YouTube untuk
kajian mendalam, TikTok untuk hooks (pancingan) singkat, Instagram untuk
membangun komunitas visual, dan podcast untuk pendengar saat bepergian.
26
4. Pola Interaksi & Hubungan (Customer Relationships): Bagaimana cara
194
membangun dan menjaga hubungan yang erat dengan audiens? Ini bisa melalui
sesi Q&A live, rutin membalas komentar, atau membuat grup eksklusif di Telegram
atau WhatsApp.
25
5. Sumber Keberlanjutan Dakwah (Revenue Streams): Bagaimana aktivitas
dakwah ini dapat berkelanjutan secara finansial untuk jangka panjang? Sumbernya
bisa beragam, mulai dari donasi, endorsement produk yang etis dan sejalan
dengan nilai dakwah, penjualan merchandise, hingga penyelenggaraan workshop
atau seminar berbayar. Aspek ini krusial untuk profesionalisme dan
keberlangsungan.
26
6. Aktivitas Kunci Dakwah (Key Activities): Apa saja kegiatan inti yang harus
dilakukan secara konsisten untuk menjalankan model dakwah ini? Contohnya
meliputi riset materi, produksi konten video, manajemen media sosial, analisis data
audiens, dan membangun jaringan.
24
7. Sumber Daya Utama (Key Resources): Aset-aset apa yang paling penting dan
harus dimiliki? Ini mencakup sumber daya intelektual (pemahaman ilmu agama
yang mendalam), manusia (kemampuan public speaking, tim produksi), fisik
(peralatan rekaman), dan finansial.
27
8. Kemitraan Strategis (Key Partnerships): Siapa saja pihak eksternal yang dapat
diajak bekerja sama untuk mendukung dan memperkuat dakwah? Mitra bisa
berupa dai lain, media Islam, brand halal, organisasi kemanusiaan, atau para ahli di
bidang lain.
24
9. Struktur Biaya Operasional (Cost Structure): Apa saja biaya-biaya utama yang
perlu dikeluarkan untuk menjalankan aktivitas dakwah? Ini termasuk biaya
peralatan, koneksi internet, software editing, promosi, hingga gaji tim (jika ada).
27
Penggunaan DBMC memaksa seorang dai untuk beralih dari pemikiran taktis ("Saya
mau posting apa hari ini?") ke pemikiran strategis ("Bagaimana setiap konten yang saya
buat berkontribusi pada proposisi nilai saya dan memperkuat hubungan dengan
segmen mad'u yang telah saya tetapkan?"). Tanpa kerangka kerja, aktivitas dakwah
digital seringkali bersifat reaktif, sporadis, dan tidak terstruktur. DBMC menyediakan
sebuah "peta" visual yang menunjukkan bagaimana semua elemen dakwah saling
terhubung. Sebagai contoh, jika Segmentasi Mad'u yang dipilih adalah "Gen Z yang
merasa cemas akan masa depan," maka Proposisi Nilai harus berfokus pada "Pesan
Islam yang menenangkan dan memberikan harapan." Kanal Distribusi yang paling
cocok adalah TikTok dan Instagram Reels, dan Aktivitas Kunci akan mencakup riset
mendalam tentang isu kesehatan mental di kalangan anak muda dari perspektif Islam.
Dengan demikian, DBMC memastikan adanya keselarasan strategis antara siapa yang
195
dilayani, apa yang ditawarkan, dan bagaimana cara menawarkannya. Ini mengubah
esensi dakwah dari sekadar "menyampaikan pesan" menjadi "menciptakan nilai" yang
nyata bagi audiens yang spesifik.
Bab 6: Skill 3 - Membangun Otoritas: Seni Menjadi Digital Thought
Leader
Di tengah lautan informasi dan fragmentasi otoritas, sekadar hadir di dunia digital
tidaklah cukup. Untuk dapat menonjol dan memberikan dampak yang signifikan,
seorang dai harus memposisikan dirinya sebagai seorang Digital Thought Leader.
Definisi Thought Leadership dalam Konteks Dakwah
Thought leadership adalah sebuah strategi untuk memposisikan diri sebagai seorang
ahli yang terpercaya dan menjadi rujukan utama dalam sebuah bidang atau topik
spesifik. Tujuannya bukan untuk menjual produk secara langsung, melainkan untuk
membangun kepercayaan dan kredibilitas dengan cara secara konsisten memberikan
wawasan, perspektif baru, dan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi audiens.
29
Dalam konteks dakwah, ini berarti melakukan pergeseran fundamental. Dari yang
semula hanya mengutip dalil Al-Qur'an dan Hadits, menjadi mampu menggunakan dalil-
dalil tersebut sebagai landasan untuk memberikan analisis mendalam, perspektif baru,
dan solusi praktis atas kegelisahan kontemporer yang dirasakan audiens. Contohnya,
membahas isu quarter-life crisis dari sudut pandang Islam, memberikan panduan
finansial syariah untuk pemula, atau merumuskan etika digital bagi Muslim di era media
sosial.
Strategi Implementasi
Untuk menjadi seorang thought leader dakwah, beberapa strategi dapat
diimplementasikan:
196
Identifikasi Niche dan Audiens: Alih-alih mencoba membahas semua hal,
fokuslah pada satu atau beberapa area spesifik di mana dai memiliki keahlian
mendalam dan otentik. Pahami secara mendalam pain points atau kegelisahan
audiens dalam niche tersebut.
31
Konsistensi Produksi Konten Berkualitas: Secara teratur dan terjadwal,
publikasikan konten yang informatif, berwawasan, dan otentik di platform yang
paling sesuai dengan audiens target. Konsistensi adalah kunci untuk membangun
kebiasaan pada audiens agar selalu kembali mencari konten Anda.
33
Menyajikan Perspektif Unik: Hindari hanya mengulang apa yang sudah dikatakan
oleh dai lain. Berikan analisis, sintesis, atau sudut pandang baru yang didasarkan
pada riset, pemahaman ilmu yang mendalam, dan pengamatan terhadap realitas
kontemporer.
34
Membangun Kredibilitas melalui Kolaborasi: Bermitra dengan ahli lain, baik dari
kalangan dai maupun pakar di bidang lain (psikolog, perencana keuangan, dll.),
dapat memperkuat posisi sebagai sumber yang terpercaya dan memperluas
jangkauan audiens.
33
Thought leadership adalah jawaban strategis yang paling efektif terhadap masalah
fragmentasi otoritas. Di tengah banjir konten dakwah, audiens tidak lagi sekadar
mencari "informasi"karena informasi tersedia melimpahtetapi mereka mencari
"kurasi" dan "makna". Seorang dai yang biasa akan membuat video berjudul "Cara
Sholat yang Benar." Namun, seorang thought leader akan membuat konten dengan
judul seperti "Filosofi di Balik Gerakan Sholat: Bagaimana Sains Modern Menemukan
Manfaatnya," atau "Menemukan Kembali Khusyuk di Era Penuh Distraksi Digital."
Konten kedua tidak hanya memberikan informasi (tata cara), tetapi juga memberikan
wawasan (mengapa ini penting dan relevan dengan hidup saya saat ini). Konten
semacam ini menjawab pertanyaan yang bahkan mungkin belum disadari oleh audiens.
Dengan melakukan ini secara konsisten, seorang dai tidak lagi bersaing di level
informasi, melainkan membangun otoritas yang kokoh di level wawasan dan relevansi.
Inilah cara membangun otoritas yang berkelanjutan di era digital.
Bab 7: Skill 4 - Penguasaan Konten: Meracik Pesan yang Resonan dan
Bertanggung Jawab
Konten adalah medium utama dalam dakwah digital. Kemampuan untuk meracik pesan
197
yang tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga resonan dengan audiens dan
disampaikan secara bertanggung jawab, adalah keterampilan inti yang menentukan
keberhasilan dakwah.
Prinsip-Prinsip Konten Dakwah Digital yang Efektif
Relevansi Kontekstual: Kunci utama agar pesan dakwah "masuk" ke dalam benak
audiens adalah dengan mengaitkan nilai-nilai universal Islam dengan isu-isu yang
sedang tren dan dialami secara nyata oleh audiens.
14
Pendekatan yang digunakan
oleh Habib Husein Ja'far, yang seringkali menggunakan humor dan referensi
budaya pop untuk membahas tema-tema keagamaan, adalah contoh cemerlang
dari relevansi kontekstual.
35
Kecerdasan Platform (Platform Intelligence): Setiap platform media sosial
memiliki "bahasa" dan budayanya sendiri. Konten yang sukses di satu platform
belum tentu berhasil di platform lain. Oleh karena itu, seorang dai harus mampu
menyesuaikan format, gaya, durasi, dan bahkan substansi konten dengan
karakteristik masing-masing platform. Konten untuk TikTok yang menuntut
keringkasan dan daya tarik visual dalam 3 detik pertama tentu harus berbeda
dengan konten kajian mendalam di YouTube.
6
Storytelling dan Narasi Emosional: Manusia secara alami terhubung melalui
cerita. Menggunakan teknik storytellingbaik kisah para nabi, sahabat, maupun
cerita inspiratif dari kehidupan sehari-haridapat membuat pesan dakwah
menjadi lebih hidup, mudah diingat, dan menyentuh emosi audiens. Ustadz Hanan
Attaki dikenal mahir dalam menggunakan narasi emosional untuk membangun
kedekatan dengan audiens mudanya.
14
Studi Kasus Analisis Konten
Ustadz Hanan Attaki: Strategi kontennya sangat terfokus pada audiens muda. Ia
secara konsisten menggunakan bahasa gaul, mengangkat tema-tema yang
relatable seperti kegelisahan, jodoh, dan rezeki, serta mengemasnya dalam
produksi video yang menarik secara visual di platform YouTube. Pendekatannya
198
yang santai dan tidak menghakimi berhasil meruntuhkan jarak antara dai dan
jamaah, membuat dakwah terasa lebih menyenangkan dan mudah diakses.
14
Habib Husein Ja'far Al-Hadar: Ia berhasil mempopulerkan pendekatan dakwah
yang moderat, inklusif, dan penuh humor. Melalui konten-kontennya di YouTube
dan TikTok, ia berhasil menjangkau segmen audiens muda yang mungkin
sebelumnya merasa "alergi" atau jarang tersentuh oleh dakwah konvensional.
Strateginya adalah membangun jembatan, bukan tembok, dengan merangkul
perbedaan dan membahas isu-isu sensitif dengan cara yang santai dan
mencerahkan.
36
Tanggung Jawab Etis dalam Konten
Di balik kreativitas, terdapat tanggung jawab etis yang besar. Dai digital harus
senantiasa memastikan validitas informasi dan kejelasan sumber sebelum
mempublikasikan konten. Selain itu, salah satu risiko terbesar dari format konten
pendek adalah penyederhanaan berlebihan (oversimplification) atas konsep-konsep
teologis atau hukum Islam yang kompleks, yang berpotensi menimbulkan
kesalahpahaman.
6
Konten dakwah yang paling sukses di era digital bukanlah yang semata-mata paling
"benar" secara teologis, melainkan yang paling berhasil menyeimbangkan tiga pilar
krusial: Validitas Keilmuan (Substansi), Relevansi Kontekstual (Koneksi), dan
Kemasan Kreatif (Daya Tarik). Konten yang hanya fokus pada validitas (misalnya,
ceramah panjang yang sangat detail secara fiqh) seringkali gagal menarik perhatian
audiens karena tidak relevan atau membosankan. Sebaliknya, konten yang hanya fokus
pada relevansi dan kemasan (misalnya, video viral yang hanya berisi kutipan motivasi
tanpa dasar dalil yang kuat) berisiko mendangkalkan ajaran agama. Dai yang sukses
beroperasi di titik temu ketiganya. Mereka mengambil substansi yang valid,
mengemasnya dalam format kreatif yang sesuai dengan platform, dan mengaitkannya
dengan konteks kehidupan audiens mereka. Ini berarti, seorang dai digital juga harus
berperan sebagai seorang penerjemah budayayang mampu menerjemahkan bahasa
kitab yang kaya dan mendalam ke dalam bahasa visual dan verbal yang dipahami oleh
budaya digital kontemporer.
199
Bab 8: Skill 5 - Arsitektur Komunitas: Membangun Ummah Digital yang
Terlibat
Tujuan akhir dari dakwah digital bukanlah sekadar mengumpulkan pengikut (followers),
melainkan membangun sebuah komunitas yang hidup dan terlibat. Ini adalah
pergeseran dari sekadar memiliki audiens menjadi membangun sebuah ummah digital.
Dari Audiens ke Komunitas
Terdapat perbedaan fundamental antara keduanya. Audiens adalah sekumpulan
individu yang secara pasif mengonsumsi konten. Hubungannya bersifat satu arah, dari
kreator ke konsumen. Sebaliknya, komunitas adalah sebuah jaringan anggota yang
saling berinteraksi, berbagi nilai yang sama, dan memiliki rasa kepemilikan terhadap
kelompok tersebut.
39
Dalam komunitas, hubungan bersifat multi-arah: dari dai ke
anggota, anggota ke dai, dan antar sesama anggota.
Langkah-Langkah Praktis Membangun Komunitas
1. Menetapkan Tujuan dan Nilai Bersama: Langkah pertama adalah
mendefinisikan dengan jelas tujuan dari komunitas tersebut. Apakah untuk menjadi
ruang belajar bersama, tempat saling mendukung, atau wadah untuk kegiatan
sosial? Nilai-nilai bersama ini akan menjadi fondasi yang mengikat para anggota.
39
2. Memilih Platform yang Tepat: Pilihlah platform yang secara teknis mendukung
dan memfasilitasi interaksi dua arah. Platform seperti Grup Telegram, WhatsApp,
Discord, atau bahkan fitur "Close Friends" di Instagram bisa menjadi pilihan yang
lebih efektif untuk membangun komunitas yang erat dibandingkan sekadar
halaman publik.
39
3. Menciptakan Ruang Interaksi: Seorang arsitek komunitas harus secara proaktif
memfasilitasi diskusi. Ini bisa dilakukan dengan melemparkan pertanyaan,
membuat polling, mengadakan sesi tanya jawab rutin, dan yang terpenting,
mendorong konten buatan pengguna (user-generated content), di mana anggota
200
merasa diberdayakan untuk berbagi cerita atau pengetahuan mereka.
41
4. Menjadi Teladan dan Moderator Aktif: Dai sebagai pemimpin komunitas harus
menjadi teladan dalam berinteraksi. Ciptakan lingkungan yang ramah, aman, dan
positif. Sambut anggota baru dengan hangat dan siapkan aturan main yang jelas
untuk mencegah toksisitas. Kemampuan untuk menangani konflik dengan
bijaksana juga sangat krusial.
39
Strategi Engagement untuk Loyalitas
Memberikan Konten Eksklusif: Tawarkan konten, akses, atau sesi khusus yang
hanya tersedia bagi anggota komunitas. Ini akan membuat mereka merasa dihargai
dan spesial.
45
Pengakuan dan Apresiasi: Berikan penghargaan atau shout-out secara rutin
kepada anggota yang paling aktif dan berkontribusi. Pengakuan publik ini dapat
menjadi insentif kuat bagi anggota lain untuk lebih berpartisipasi.
44
Personalisasi Interaksi: Sebisa mungkin, berinteraksilah secara lebih personal.
Menyebut nama anggota atau merujuk pada komentar mereka sebelumnya
menunjukkan bahwa mereka benar-benar didengar dan dihargai, bukan sekadar
angka dalam statistik.
45
Sebuah komunitas digital yang kuat berfungsi sebagai "benteng pertahanan" terhadap
volatilitas algoritma media sosial dan sebagai "sistem imun" terhadap penyebaran
informasi yang salah. Ketergantungan yang hanya bertumpu pada algoritma untuk
menjangkau audiens sangatlah berisiko; satu perubahan algoritma dapat memangkas
jangkauan secara drastis. Namun, ketika sebuah komunitas yang solid telah terbentuk,
komunikasi tidak lagi hanya bergantung pada mediasi platform. Anggota komunitas
akan secara proaktif mencari konten dan menyebarkannya melalui word-of-mouth
digital. Hubungan menjadi lebih langsung dan kuat. Lebih dari itu, di dalam komunitas
yang terkurasi dengan baik, anggota dapat saling membantu memverifikasi informasi
dan melawan hoaks. Komunitas menjadi ruang belajar kolektif yang sehat. Oleh karena
itu, investasi waktu dan energi dalam membangun komunitas adalah strategi jangka
panjang yang paling berkelanjutan, yang mengubah hubungan transaksional ("saya
menonton konten Anda") menjadi hubungan relasional yang mendalam ("saya adalah
bagian dari gerakan ini").
201
Bab 9: Skill 6 - Dakwah Berbasis Data: Memanfaatkan Analitik untuk
Mengukur Dampak
Di era digital, setiap interaksi meninggalkan jejak data. Mengabaikan data ini berarti
berdakwah dengan mata tertutup. Dakwah berbasis data adalah pendekatan yang
menggunakan analitik untuk memahami audiens secara lebih mendalam dan
mengoptimalkan strategi konten agar lebih efektif.
Mengapa Analitik Penting?
Intuisi dan pengalaman memang penting, tetapi di dunia digital yang kompleks, hal
tersebut tidaklah cukup. Data analitik memberikan umpan balik yang objektif tentang
apa yang berhasil dan apa yang tidak.
31
Dengan menganalisis data, seorang dai dapat
beralih dari sekadar menebak-nebak apa yang diinginkan audiens, menjadi membuat
keputusan yang didasarkan pada bukti nyata.
Metrik Kunci yang Harus Diperhatikan
Setiap platform menyediakan dasbor analitik dengan berbagai metrik. Beberapa metrik
kunci yang paling penting untuk dipantau antara lain:
YouTube: Watch Time (total waktu tonton, metrik terpenting bagi algoritma
YouTube), Audience Retention (grafik yang menunjukkan di titik mana penonton
berhenti menonton), Click-Through Rate (CTR) pada judul dan thumbnail
(seberapa menarik judul dan gambar sampul video Anda), serta Demografi
Penonton (usia, gender, lokasi).
Instagram/TikTok: Reach (jumlah akun unik yang melihat konten), Engagement
Rate (tingkat interaksi yang mencakup likes, komentar, shares, dan saves), Video
Completion Rate (persentase penonton yang menonton video sampai selesai), dan
Waktu Tonton Rata-rata.
202
Menerjemahkan Data menjadi Aksi
Data tidak ada artinya jika tidak ditindaklanjuti. Berikut beberapa contoh bagaimana
data dapat diterjemahkan menjadi aksi strategis:
Contoh 1: Jika data Audience Retention di video YouTube menunjukkan penurunan
drastis di menit pertama, ini adalah sinyal kuat bahwa bagian pembukaan atau
hook video tersebut kurang menarik dan perlu diperbaiki di video-video
selanjutnya.
Contoh 2: Jika sebuah seri konten tentang "fiqh muamalah kontemporer" secara
konsisten mendapatkan engagement rate dan jumlah shares yang tinggi, ini adalah
sinyal jelas dari audiens bahwa mereka menginginkan lebih banyak konten serupa.
Contoh 3: Jika data demografi menunjukkan bahwa mayoritas audiens adalah
perempuan dengan rentang usia 18-24 tahun, maka pemilihan topik, contoh kasus,
dan gaya bahasa harus disesuaikan agar lebih relevan dan terkoneksi dengan
segmen audiens tersebut.
Pendekatan dakwah berbasis data dapat dipandang sebagai manifestasi dari prinsip
ihsan (melakukan sesuatu dengan cara yang terbaik) dalam konteks digital. Dalam
dakwah tradisional, umpan balik bersifat langsung namun terbatas, seperti melihat
ekspresi wajah jamaah. Di dunia digital, umpan balik bersifat tidak langsung namun
masif dan terukur. Setiap like, share, komentar, atau momen di mana penonton berhenti
menonton adalah bentuk komunikasi dari mad'u. Mengabaikan data ini sama artinya
dengan mengabaikan suara mereka. Dengan demikian, menggunakan data untuk
menyempurnakan pesan, waktu posting, dan format konten adalah bentuk
penghormatan terhadap waktu dan perhatian yang telah diberikan oleh audiens. Ini
adalah sebuah upaya sungguh-sungguh untuk memastikan pesan dakwah tidak hanya
tersampaikan, tetapi juga diterima, dipahami, dan memberikan dampak yang maksimal.
Ini adalah wujud profesionalisme dalam berdakwah.
Bab 10: Skill 7 - Navigasi Etis: Menjaga Adab dan Integritas di Ruang
Publik Digital
Keterampilan terakhir, namun yang paling fundamental, adalah kemampuan untuk
203
menavigasi ruang digital dengan etika (adab) dan integritas yang tinggi. Pengaruh yang
besar datang dengan tanggung jawab yang besar, dan di dunia maya yang tanpa batas,
tanggung jawab ini menjadi semakin krusial.
Tantangan Etis Utama
Dai digital dihadapkan pada sejumlah tantangan etis yang unik:
Validitas dan Akurasi: Di tengah tsunami informasi dan maraknya hoaks, dai
memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap informasi, dalil, atau
riwayat yang disampaikan adalah valid dan berasal dari sumber yang kredibel. Satu
informasi yang salah dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerusakan
yang luas.
2
Komodifikasi Agama: Terdapat garis tipis antara memastikan keberlanjutan
dakwah melalui monetisasi yang wajar dan terjerumus ke dalam komodifikasi
agama, di mana dakwah diperlakukan sebagai produk untuk mengeruk keuntungan
semata. Menjaga keseimbangan ini memerlukan kehati-hatian dan niat yang lurus.
5
Manajemen Polarisasi: Media sosial, dengan sifat algoritmiknya, sangat rentan
terhadap perdebatan sengit dan polarisasi. Dai memiliki tanggung jawab moral
untuk menyampaikan pesan dengan cara yang menyejukkan, mempersatukan, dan
membangun jembatan pemahaman, bukan justru memperkeruh suasana atau
memecah belah umat.
Privasi dan Kerahasiaan: Seringkali, audiens akan berbagi masalah pribadi yang
sangat sensitif melalui pesan langsung atau kolom komentar. Seorang dai harus
memiliki standar etika yang tinggi untuk menjaga kerahasiaan dan privasi mereka,
serta memberikan nasihat dengan penuh empati dan kehati-hatian.
Kerangka Kerja Etis untuk Dai Digital
Untuk menavigasi tantangan-tantangan ini, para dai dapat berpegang pada kerangka
kerja yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam:
Prinsip Tabayyun (Verifikasi): Selalu lakukan verifikasi dan cek ulang informasi
sebelum membagikannya. Jangan mudah tergiur untuk menyebarkan berita yang
204
belum jelas kebenarannya.
Prinsip Amanah (Kepercayaan): Jaga kepercayaan yang telah diberikan oleh
audiens dengan selalu bersikap transparan, jujur, dan bertanggung jawab atas
setiap konten yang dipublikasikan.
Prinsip Hikmah (Kebijaksanaan): Pilihlah kata-kata, gaya bahasa, dan cara
penyampaian yang bijaksana, sesuai dengan konteks, audiens, dan potensi
dampaknya.
Prinsip Rahmatan lil 'Alamin (Rahmat bagi Seluruh Alam): Jadikan ini sebagai
filter utama. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah konten ini akan membawa
kebaikan, kedamaian, dan rahmat? Ataukah berpotensi menimbulkan kebencian,
perpecahan, atau kerusakan?"
Di era digital, adab seorang dai tidak lagi hanya diukur dari isi ceramah atau kedalaman
ilmunya semata. Adab tersebut kini juga tercermin dari perilaku digitalnya secara
keseluruhan. Bagaimana ia merespons kritik di kolom komentar, bagaimana ia
berinteraksi dengan dai lain yang berbeda pandangan, dan bagaimana ia mengelola
pengaruhnya yang besarsemua ini adalah bagian dari "rekam jejak digital" yang
membentuk persepsi publik tentang karakter dan integritasnya. Sebuah ceramah yang
indah dan penuh hikmah bisa seketika kehilangan nilainya akibat satu balasan komentar
yang arogan, tidak sabar, atau tidak bijaksana. Oleh karena itu, keterampilan navigasi
etis ini bukanlah sekadar "aturan tambahan," melainkan bagian integral dari personal
branding dan kredibilitas seorang dai. Integritas digital adalah fondasi yang menopang
seluruh bangunan otoritas digital yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Masa Depan Dakwah - Panggilan untuk
Keterlibatan Digital yang Strategis, Etis, dan Empatis
Perjalanan menelusuri tujuh keterampilan akselerasi dakwah digital ini membawa kita
pada satu kesimpulan utama: dakwah di abad ke-21 menuntut sebuah paradigma baru.
Penguasaan terhadap ketujuh keterampilan inimulai dari fondasi mental (Growth
Mindset), perencanaan strategis (Dakwah Business Model Canvas), pembangunan
otoritas (Thought Leadership), eksekusi operasional (Penguasaan Konten, Arsitektur
Komunitas, Dakwah Berbasis Data), hingga penjagaan integritas (Navigasi Etis)bukan
lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan bagi setiap individu atau lembaga
yang ingin dakwahnya tetap relevan, berdampak, dan berkelanjutan.
205
Transformasi ini menggarisbawahi tanggung jawab besar yang kini diemban oleh para
dai digital. Mereka bukan lagi sekadar penyampai pesan, melainkan telah menjadi
arsitek wacana keagamaan publik yang pengaruhnya dapat melintasi batas-batas
demografis dan geografis. Setiap konten yang mereka produksi, setiap interaksi yang
mereka lakukan, turut serta dalam membentuk pemahaman keagamaan individu dan
pada akhirnya, ikut membentuk iklim sosial-keagamaan di Indonesia secara
keseluruhan.
Masa depan dakwah terletak pada kemampuan untuk menjalin sebuah sintesis yang
harmonis: memadukan kedalaman ilmu dan spiritualitas yang diwariskan oleh para
ulama terdahulu dengan kelincahan strategis, kreativitas tanpa batas, dan empati yang
tulus terhadap denyut nadi kegelisahan audiens di era digital. Ini adalah sebuah
panggilan untuk menjadi generasi baru para dai yang tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga cerdas secara digital, cerdas secara emosional, dan yang
terpenting, mulia secara etis.
Karya yang dikutip
1. Tingkat Penetrasi Internet Indonesia Capai 79,5% per 2024 - Databoks -
Katadata, diakses September 20, 2025,
https://databoks.katadata.co.id/teknologi-
telekomunikasi/statistik/e6f9d69e252de32/tingkat-penetrasi-internet-indonesia-
capai-795-per-2024
2. APJII : Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024, diakses September 20, 2025,
https://www.cloudcomputing.id/berita/apjii-survei-penetrasi-internet
3. Digital 2025: Indonesia DataReportal Global Digital Insights, diakses
September 20, 2025, https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
4. Social Media and the Fragmentation of Religious Authority among Muslims in
Contemporary Indonesia | Digital Muslim Review, diakses September 20, 2025,
https://digitalmuslimreview.or.id/index.php/dmr/article/view/10
5. Transformation of religious authority in the digital era: A post-normal times
analysis by Ziauddin Sardar on the phenomenon of social media da'wah | Jurnal
Ilmu Dakwah, diakses September 20, 2025,
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/dakwah/article/view/25644
6. Media Sosial Instagram Sebagai Komunikasi Dakwah Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Agama Pada Gen Z - JURNAL STKIP MAJENANG, diakses
September 20, 2025, https://jurnal.stkip-
majenang.ac.id/index.php/naafi/article/download/174/111/667
7. Media Baru dan Otoritas Keagamaan Generasi Milenial Muslim - MAARIF Institute,
206
diakses September 20, 2025, https://jurnal-
maarifinstitute.org/index.php/maarif/article/view/196
8. Otoritas Keagamaan di Era Media Baru | Panangkaran: Jurnal ..., diakses
September 20, 2025, https://ejournal.uin-
suka.ac.id/pusat/panangkaran/article/view/0502-01
9. OTORITAS KEAGAMAAN DI ERA MEDIA BARU: DAKWAH GUS MUS DI MEDIA
SOSIAL - Neliti, diakses September 20, 2025,
https://media.neliti.com/media/publications/518762-none-8c7c0928.pdf
10. Dakwah pada Generasi Z di Media Sosial: Studi Netnografi pada Akun TikTok
Agam Fachrul - e-Journal UIN Suska, diakses September 20, 2025,
https://ejournal.uin-
suska.ac.id/index.php/idarotuna/article/download/24625/10745
11. Aktualisasi Dakwah Melalui Media Sosial TikTok, diakses September 20, 2025,
https://jurnalpps.uinsa.ac.id/index.php/JICOS/article/download/225/191/1437
12. Navigasi Moderasi Beragama Di Media Sosial: Studi Kasus Intoleransi Gen Z Di
Platform Tiktok - E-Journal UIN SUKA, diakses September 20, 2025,
https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/exact/article/view/11279/4094
13. PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI SARANA DAKWAH UNTUK
MENGANTISIPASI KERAWANAN SOSIAL GENERASI Z Addib Wahyu Hidayat*1,
Ahmad Naj - CV MARYAM SEJAHTERA, diakses September 20, 2025,
https://maryamsejahtera.com/index.php/Religion/article/download/36/41/91
14. Youtube Sebagai Media Dakwah (Analisis Isi Pesan Dakwah ..., diakses September
20, 2025,
https://ejurnalqarnain.stisnq.ac.id/index.php/AF/article/download/882/912/3308
15. STRATEGI DAKWAH USTADZ HANAN ATTAKI DALAM MEMBANGUN KARAKTER
ISLAMI PADA KEHIDUPAN SEHARI-HARI (CHANEL YOUTUBE USTAD HANAN
ATTAK, diakses September 20, 2025, https://ejournal.unia.ac.id/index.php/bayan-
linnaas/article/download/1294/832
16. ANALISIS KRITIS TERHADAP TAFSIR GENERATIF AI: CHATGPT DAN PENAFSIRAN
AYAT-AYAT AL-QUR'AN, diakses September 20, 2025,
https://ejournalpasca.unisi.ac.id/index.php/jipkk/article/download/114/59
17. Pengaruh AI terhadap Kepercayaan Agama: Mencari Tuhan di Zaman Algoritma,
diakses September 20, 2025, https://www.kba13.com/pengaruh-ai-terhadap-
kepercayaan-agama-mencari-tuhan-di-zaman-algoritma/
18. Urgensi Unsur Agama Dalam Perkembangan Kecerdasan Buatan - Journal of
FORIKAMI, diakses September 20, 2025,
https://journal.forikami.com/index.php/moderasi/article/download/470/218/2948
19. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Sebagai Strategi Dakwah: Analisis Peluang
dan Tantangan, diakses September 20, 2025,
https://jurnal.uinsyahada.ac.id/index.php/Tadbir/article/download/11663/5727
20. Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Pendidikan ..., diakses
September 20, 2025, https://prosiding.uit-
lirboyo.ac.id/index.php/psnp/article/download/390/164
207
21. Dweck's Mindset Theory: How to Develop a Growth Mindset, diakses September
20, 2025, https://www.growthengineering.co.uk/growth-mindset/
22. Carol Dweck: A Summary of Growth and Fixed Mindsets - Farnam Street, diakses
September 20, 2025, https://fs.blog/carol-dweck-mindset/
23. Growth Mindset vs. Fixed Mindset - YouTube, diakses September 20, 2025,
https://www.youtube.com/watch?v=M1CHPnZfFmU
24. Business model canvas - Wikipedia, diakses September 20, 2025,
https://en.wikipedia.org/wiki/Business_model_canvas
25. 2.1. Business Model Canvas - BAB 2 LANDASAN TEORI, diakses September 20,
2025,
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/RS1_2020_2_1367_2001609783_
2001613004_2001618453_Bab2.pdf
26. 9 Elemen yang Harus Ada Dalam Bisnis Model Canvas - Mekari Jurnal, diakses
September 20, 2025, https://www.jurnal.id/id/blog/2018-memahami-tentang-
bisnis-model-kanvas/
27. Business Model Canvas : Contoh, Pengertian, Elemen, Tips - Gramedia, diakses
September 20, 2025, https://www.gramedia.com/best-seller/business-model-
canvas/
28. Apa Itu Business Model Canvas, Contoh, dan Cara Membuatnya - Dewaweb,
diakses September 20, 2025, https://www.dewaweb.com/blog/apa-itu-business-
model-canvas/
29. How to Craft a Thought Leadership Strategy, diakses September 20, 2025,
https://sternstrategy.com/news/how-to-craft-a-thought-leadership-strategy/
30. 4 Strategies to Elevate Your Thought Leadership | Ghidotti Communications,
diakses September 20, 2025, https://ghidotti.com/blog/4-strategies-to-elevate-
your-thought-leadership/
31. Thought Leadership & Content Marketing: What You Need To Know |
NYTLicensing, diakses September 20, 2025,
https://nytlicensing.com/latest/methods/getting-started-thought-leadership-
content-marketing/
32. How to Demonstrate Thought Leadership: 7 Steps | NYTLicensing, diakses
September 20, 2025, https://nytlicensing.com/latest/methods/demonstrate-
thought-leadership-7-simple-steps/
33. How to Use Social Media to Build Thought Leadership | ER Marketing, diakses
September 20, 2025, https://ermarketing.net/navigate-the-channel/how-to-use-
social-media-to-build-thought-leadership/
34. 13 Proven Tips to Create Thought Leadership Content (Using AI) - Wordtune,
diakses September 20, 2025, https://www.wordtune.com/blog/how-to-build-an-
impactful-thought-leadership-strategy
35. Analisis Isi Pesan Dakwah Habib Husein Ja'far Al-Hadar di Tik Tok @huseinjafar |
Ikhlas, diakses September 20, 2025,
https://ejournal.aripafi.or.id/index.php/Ikhlas/article/view/1112
36. Strategi Dakwah Digital Habib Husein Ja'far Al-Hadar, diakses September 20,
208
2025, http://www.jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/680/619
37. Analisis Pesan Dakwah Udtadz Hanan Attaki pada Youtube Dengan Tema
“Mengatasi Sifat yang Sering Berkeluh Kesah” | ARIMA : Jurnal Sosial Dan
Humaniora, diakses September 20, 2025,
https://jurnalistiqomah.org/index.php/arima/article/view/507?articlesBySameAuth
orPage=7
38. (PDF) Dakwah Digital Habib Husein Ja'far Al-Hadar Dalam Penyebaran Syiar Islam
Moderat - ResearchGate, diakses September 20, 2025,
https://www.researchgate.net/publication/376094126_Dakwah_Digital_Habib_Hu
sein_Ja'far_Al-Hadar_Dalam_Penyebaran_Syiar_Islam_Moderat
39. Community Building: Definisi, Manfaat, dan Cara Membangunnya - MTARGET,
diakses September 20, 2025, https://mtarget.co/blog/apa-itu-community-
building/
40. Cara Membangun Komunitas untuk Bisnis Afiliasi - Canva, diakses September 20,
2025, https://www.canva.com/id_id/belajar/membangun-komunitas/
41. Membangun Komunitas Online dengan Website Custom - Blog | Web Designer &
Web Developer Studio di Jakarta Indonesia | PT IMAJIKU Cipta Media, diakses
September 20, 2025, https://imajiku.com/id/blog/detail/membangun-komunitas-
online-dengan-website-custom
42. Cara Membangun Komunitas Online sebagai Bagian dari Strategi Digital
Marketing Anda, diakses September 20, 2025, https://blog.unmaha.ac.id/cara-
membangun-komunitas-online-sebagai-bagian-dari-strategi-digital-marketing-
anda/
43. How to Increase Community Engagement: Seven Strategies - Aluminati Network
Group, diakses September 20, 2025, https://www.aluminati.net/how-to-increase-
community-engagement/
44. 5 Aturan Penting dalam Membangun Komunitas Online - Midtrans, diakses
September 20, 2025, https://midtrans.com/id/blog/5-aturan-penting-dalam-
membangun-komunitas-online
45. Community Marketing: Membangun Keterlibatan Jangka Panjang Pelanggan -
Qiscus, diakses September 20, 2025,
https://www.qiscus.com/id/blog/community-marketing/
46. Tips & Trik Meningkatkan Loyalitas Anggota terhadap Organisasi -
Kompasiana.com, diakses September 20, 2025,
https://www.kompasiana.com/marhaenismalangofficial5569/650afd5c08a8b51af
c0dbc22/tips-meningkatkan-rasa-memiliki-anggota-terhadap-organisasi
47. Melakukan Strategi Community Building dengan Customer Engagement Tools -
Ivosights, diakses September 20, 2025,
https://ivosights.com/read/artikel/customer-engagement-tools-melakukan-
strategi-community-building-dengan
209
Review GPT Tools: Memperkenalkan Asisten Al-Quran
dan Hadis Islam (Versi Awal)
Akses Langsung ke GPT di Sini:
 Islam Quran and Hadith Assistant (Early Access)
Apa Itu GPT Tools (My GPT)? 
GPT Tools (atau "My GPTs") adalah fitur kustomisasi di ChatGPT yang memungkinkan
Anda membuat versi AI yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan unik Anda. Anggap saja
Anda sedang membangun asisten AI pribadi Anda sendiri!
Anda bisa melengkapinya dengan:
Instruksi Khusus: Atur gaya bicara, peran, dan keahliannya.
Pengetahuan Tambahan: Unggah file PDF, dokumen, atau data lain untuk
memperkaya wawasannya.
󰠧 Aksi & Tools Khusus: Beri kemampuan untuk browsing web, melakukan
kalkulasi, atau terhubung dengan API lain.
Kegunaannya sangat luas:
Bisnis: Membuat bot layanan pelanggan atau asisten produk.
󰧞 Edukasi: Merancang asisten belajar yang disesuaikan dengan kurikulum.
Pribadi: Membangun partner diskusi atau asisten menulis pribadi.
Hebatnya, Anda tidak perlu skill coding untuk membuatnya. Cukup ikuti panduan dari
OpenAI, dan GPT kustom Anda siap digunakan!
Siapa di Balik Asisten Al-Quran dan Hadis Islam? 󰆵󰆶󰆷󰆸󰆹󰆺
Asisten Al-Quran dan Hadis Islam adalah sebuah chatbot eksperimental yang
dirancang untuk kajian Islam berbasis AI. Ini bukan proyek sembarangan, melainkan
210
hasil kolaborasi antara:
󰧞 Ulama dari Universitas Al-Azhar (Mesir)
 Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM)
󱦷 Ahli Teknologi dari Carnegie Mellon & MIT
Diterbitkan melalui Aqqal.com
Tujuannya bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan untuk menjadi alat
bantu Anda dalam menjelajahi ilmu Islam secara terpadu dan berbasis Tauhid. AI ini
dirancang untuk membuka jalan berpikir, bukan sekadar memberi jawaban instan.
Batasan Penting: Apa yang TIDAK Bisa Dilakukan AI Ini 󱛻󱛼󱛽
Penting untuk dipahami bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan kearifan
seorang ulama. Berikut adalah batasan-batasannya:
Tanpa Fatwa: Tidak bisa memberikan fatwa atau keputusan hukum syariah.
󰋔 Tanpa Kutipan Langsung: Tidak mengutip buku ulama secara langsung untuk
menghindari risiko kesalahan kutip.
󱟨 Tanpa Takhrij Hadis: Tidak melakukan takhrij (penilaian otentisitas sanad hadis).
󰥧 Fokus pada 4 Mazhab: Tidak mewakili pendekatan Salafi dan hanya merujuk pada
mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Bukan Syarah Kitab: Tidak memberikan syarah (penjelasan mendalam) atas
kitab-kitab tertentu.
󱌯 Epistemologi Tauhid: Tidak menyamakan ilmu Islam dengan ilmu "sekuler",
karena semua ilmu berakar dari Tauhid.
Kemampuan Saat Ini: Apa yang BISA Anda Lakukan? 󰁒󰁓󰁔󰁕
Berikut adalah fitur-fitur yang sudah bisa Anda manfaatkan:
Fitur
Deskripsi
󰋔 Cari & Tafsir Ayat
Temukan ayat berdasarkan kata kunci
atau nomor, lengkap dengan tafsir dari
211
ulama klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-
Qurthubi.
Hadis & Sanad
Akses teks hadis beserta jalur
perawinya (sanad) untuk penelusuran
yang lebih dalam.
Bahasa Arab Klasik
Pahami makna akar kata (contoh: ’)
dari kamus legendaris Lisan al-Arab.
Penjelasan Fikih
Dapatkan pandangan dari 4 mazhab
mengenai isu-isu fikih, baik klasik
maupun kontemporer.
󰄍 Analisis Gambar
Unggah gambar berisi teks Arab, dan AI
ini akan membacanya untuk Anda.
Pencarian Gambar
Mencari gambar-gambar relevan yang
berkaitan dengan Islam dari internet.
Contoh Pertanyaan yang Bisa Anda Coba:
"Tolong carikan ayat tentang rezeki."
"Apa arti kata taqwa menurut Lisan al-Arab?"
"Cari hadis tentang menahan marah dan tampilkan sanadnya."
"Bagaimana pandangan 4 mazhab tentang wudhu saat memakai kaos kaki?"
Filosofi Dasar: Berakar pada Tauhid 
Asisten ini tidak netral secara ideologis. Ia dibangun di atas prinsip fundamental yang
ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas:
“Ilmu bukan dibagi dua: agama dan sekuler. Semua ilmu adalah milik Allah
dan berakar dari Tauhid.”
212
AI ini memandang bahwa krisis terbesar umat bukanlah faktor eksternal, melainkan
krisis adab dan tazkiyah al-nafs (pensucian jiwa).
Ingin Tahu Lebih Lanjut? 󱵒󱵓󱵔󱵕󱵖󱵗󱵘󱵙󱵚
Kunjungi Aqqal.com untuk melihat fitur-fitur canggih yang akan datang, seperti:
Jalur pembelajaran Islam yang dipersonalisasi.
Pemetaan visual sanad hadis dan tafsir.
Interaksi terverifikasi dengan para ulama.
Jadi, dari mana Anda mau mulai?
󱟱 Cari ayat Al-Qur’an tentang tema tertentu?
Ingin tahu arti kata Arab klasik dari Lisan al-Arab?
Cari hadis tentang amalan harian beserta sanadnya?
Penasaran pandangan 4 mazhab soal isu kontemporer?
Selamat menjelajah!
213
Resume Eksekutif Laporan Penelitian Pemanfaatan
Kecerdasan Buatan dalam Dakwah Islam Berkemajuan
Pendekatan Kualitatif dengan Desain Studi Literatur (Library Research). Berdasarkan Perspektif
Muhammadiyah, Al-Qur'an, dan Al-Sunnah
Latar Belakang Singkat
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh disrupsi digital yang secara fundamental
mengubah lanskap dakwah Islam. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) sebagai
gelombang disrupsi kedua menawarkan peluang transformatif sekaligus tantangan
teologis dan etis yang signifikan. Organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah, berada di
persimpangan jalan yang menuntut respons strategis untuk memanfaatkan teknologi ini
secara bijaksana.
Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
Rumusan masalah sentral penelitian ini adalah: “Bagaimana sebuah gerakan Islam
modernis seperti Muhammadiyah, yang berlandaskan pada prinsip ‘Islam Berkemajuan’,
dapat memanfaatkan potensi transformatif AI untuk dakwah, sambil secara simultan
memitigasi risiko-risiko teologis, etis, dan sosialnya, dengan tetap berpegang teguh pada
Al-Qur’an dan Al-Sunnah?“
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah
analisis multi-perspektif yang sistematis dan mendalam.
214
Metode Penelitian
Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur (library
research). Data sekunder dikumpulkan secara sistematis dari berbagai sumber (jurnal
akademik, publikasi resmi, laporan media) melalui identifikasi kata kunci dan kriteria
seleksi yang relevan. Teknik analisis data dilakukan dalam dua tahap: (1) Analisis
Konten untuk memetakan lanskap wacana secara objektif, dan (2) Analisis Tematik
untuk mengidentifikasi pola makna dan hubungan antar ide guna membangun
argumen yang koheren.
Hasil Penelitian dan Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI dalam dakwah memiliki dua sisi:
Peluang (Maslahah): AI menawarkan potensi signifikan dalam personalisasi
konten, otomatisasi tugas repetitif (misalnya, chatbot untuk fikih dasar), inovasi
produksi materi dakwah, dan sebagai alat bantu riset keislaman.
Tantangan (Mafsadah): Risiko utamanya meliputi erosi otoritas keagamaan
tradisional, penyebaran misinformasi akibat bias algoritmik, dehumanisasi
interaksi spiritual, dan pelanggaran privasi data pengguna.
Diskusi dari tiga perspektif utama menemukan:
Perspektif Muhammadiyah: DNA modernisme (tajdid), visi “Islam Berkemajuan”,
dan “Teologi Al-Ma’un” yang berorientasi pada kemaslahatan sosial menempatkan
Muhammadiyah pada posisi unik untuk mengadopsi AI secara adaptif-kritis, yakni
sebagai instrumen untuk mencapai kemaslahatan umat.
Perspektif Al-Qur’an & Sunnah: Ajaran Islam secara fundamental mendorong
pencarian ilmu dan penggunaan akal. Inovasi teknologi dipandang sebagai
anugerah selama berada dalam koridor etis syariah.
Perspektif Fikih: Prinsip ijtihad dan maslahah mursalah, yang berlandaskan
pada maqasid al-shari’ah (tujuan luhur syariah), berfungsi sebagai “sistem operasi
etis” untuk mengevaluasi setiap aplikasi AI berdasarkan dampak dan tujuannya,
bukan sekadar bentuk teknologinya.
Sintesis dari analisis ini mengarah pada sebuah model dakwah hibrida, di mana
terjadi sinergi antara kecerdasan buatan dan kearifan manusia. AI berperan sebagai alat
bantu canggih, sementara ulama/da’i tetap menjadi otoritas dalam mengelola hikmah dan
bimbingan spiritual.
215
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan:
Pemanfaatan AI dalam dakwah bukanlah sebuah pilihan “apakah”, melainkan
“bagaimana”. Peran AI yang paling tepat, etis, dan produktif adalah sebagai alat
untuk memperkuat peran da’i, bukan menggantikannya. Masa depan dakwah yang
ideal adalah ekosistem yang didukung teknologi, namun tetap berpusat pada manusia
(human-centric) dan berakar pada spiritualitas.
Rekomendasi:
1. Pembentukan Gugus Tugas AI dan Dakwah Digital yang bersifat interdisipliner.
2. Pengembangan Platform AI yang Terkurasi dengan basis pengetahuan yang
telah diverifikasi oleh Majelis Tarjih dan Tajdid.
3. Penyelenggaraan Program Literasi Digital dan AI secara masif untuk para
kader dan da’i.
4. Prioritas Aplikasi AI untuk Kemaslahatan Sosial (pendidikan, kesehatan,
filantropi) sebagai aktualisasi Teologi Al-Ma’un.
5. Perumusan “Fikih Digital” melalui ijtihad kolektif untuk merespons isu-isu etis
dan hukum yang baru.
216
Gambar Flowchart
217
Riset Eksklusif Website Majelistablighpwmjateng.com
Analisis Konten & Keterkaitan Views
Pengantar
Analisis mendalam terhadap data publikasi artikel di website
majelistablighpwmjateng.com yang telah terbit sejak 10 Juni 2023 sampai 16
Agustus 20025 jam 16:26 WIB sebanyak 732 potingan artikel menunjukkan korelasi
yang sangat kuat antara topik, kategori, dan penggunaan tag dengan
jumlah views yang diterima. Konten dengan performa tertinggi secara konsisten
berpusat pada tiga area utama: Naskah Khutbah, Artikel tentang Teknologi/AI
dalam Islam, dan Berita Organisasi. Sebaliknya, konten dengan format tanya-jawab
singkat (Tabligh Menjawab) atau artikel dengan judul yang bersifat umum dan tanpa
tag spesifik cenderung memiliki jumlah views yang jauh lebih rendah. Data ini
menggarisbawahi pentingnya strategi konten yang berfokus pada kebutuhan praktis
audiens dan isu-isu kontemporer.
218
Analisis Kuantitatif: Distribusi dan Performa Konten
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai volume konten yang dianalisis, tabel
berikut menyajikan jumlah postingan secara eksplisit untuk setiap kategori/tema utama
yang dibahas. Terlihat bahwa Berita Organisasi memiliki volume postingan tertinggi,
diikuti oleh Khutbah. Meskipun tema Teknologi & AI memiliki jumlah postingan yang
lebih sedikit, dampaknya terhadap jumlah views sangat signifikan, menunjukkan minat
pembaca yang tinggi pada topik ini.
Ulasan Mendalam: Faktor Pendorong Popularitas Konten
1. Konten Paling Populer (High-Performance Content)
Artikel yang berhasil menarik ribuan pembaca memiliki ciri khas relevansi praktis,
keterkinian, dan nilai berita yang tinggi.
219
Tema Utama:
Khutbah Siap Pakai (83 Naskah): Konten ini menjadi kategori andalan. Judul
seperti “Khutbah Jum’at : Tipologi Manusia Pasca Ramadhan” (11.095 views)
membuktikan adanya permintaan masif untuk materi dakwah yang relevan
dengan momentum kalender Islam.
Teknologi dan AI (24 Artikel): Tema ini secara konsisten menjadi viral.
Artikel “Menyusun Naskah Khutbah Jumat / Artikel Ceramah dengan Bantuan
AI” meraih 7.081 views. Hal ini menandakan audiens sangat tertarik pada
pemanfaatan teknologi modern untuk dakwah.
Berita Organisasi (191 Artikel): Liputan kegiatan strategis, seperti “Ketua PCM
Majenang: Baitul Arqom Media Mantapkan Ideologi Muhammadiyah” yang
mencapai 20.147 views, menunjukkan tingginya minat audiens internal.
Tag Pendorong Views:
Penggunaan tag spesifik seperti ‘AI’, ‘ChatGPT’, ‘Digital’, ‘Khutbah Jum’at’,
dan ‘ramadhan’ berkorelasi langsung dengan tingginya jumlah views.
2. Konten Kurang Populer (Low-Performance Content)
Konten dengan performa lebih rendah umumnya bersifat terlalu umum, kurang memiliki
nilai praktis langsung, dan sering kali tidak didukung oleh tag yang memadai.
Tema Utama:
Tanya-Jawab Singkat (9 Postingan): Kategori ‘Tabligh Menjawab’ secara
konsisten memiliki views rendah, contohnya “Bagaimana Ciri-ciri Taubat
Diterima?” (19 views). Format yang terlalu ringkas mungkin kurang menarik.
Refleksi Umum dan Tanpa Tag: Judul yang bersifat filosofis
seperti “Kemerdekaan yang Diridai” (29 views) cenderung kurang diminati.
Banyak dari artikel ini ditandai sebagai “—Tanpa Tag”, yang secara signifikan
menghambat visibilitasnya.
220
Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis
1. Praktikalitas Unggul: Pembaca lebih mencari konten yang bisa langsung
diaplikasikan (naskah khutbah, tutorial teknologi) daripada artikel renungan
umum.
2. Relevansi Isu Kontemporer: Mengaitkan Islam dengan tren terkini seperti AI
terbukti sangat efektif menarik audiens.
3. Optimalisasi SEO Melalui Tag: Artikel tanpa tag berkinerja buruk. Penggunaan
tag yang spesifik harus menjadi prosedur standar.
Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan agar majelistablighpwmjateng.com
mempertahankan dan meningkatkan produksi konten dalam kategori
Khutbah dan Artikel yang membahas persinggungan Islam dengan teknologi.
Format ‘Tabligh Menjawab’ dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan menjadi
artikel pembahasan yang lebih komprehensif guna meningkatkan daya tariknya.
Tindak Lanjut Strategis untuk Pengembangan Konten Dakwah
Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut adalah rencana tindak lanjut yang dapat
dikembangkan untuk memperkuat dakwah digital bagi warga Muhammadiyah
khususnya dan masyarakat umum.
Pilar 1: Dakwah Praktis dan Solutif (Menjawab Kebutuhan Umat)
Fokus pilar ini adalah menyediakan konten yang langsung dapat digunakan dan
memberikan solusi atas permasalahan keagamaan sehari-hari.
Pengembangan Seri Khutbah Tematik:
Aksi: Membuat seri naskah khutbah Jumat yang terstruktur berdasarkan tema
bulanan (misalnya: bulan pendidikan, bulan muamalah, bulan kesehatan mental)
dan menyediakannya dalam format PDF yang mudah diunduh.
Target: Para khatib di lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat umum yang
mencari referensi khutbah berkualitas.
Transformasi “Tabligh Menjawab”:
Aksi: Mengubah format tanya-jawab singkat menjadi artikel pembahasan fikih
kontemporer yang mendalam. Setiap pertanyaan dibahas tuntas dengan dalil,
221
konteks, dan pandangan Tarjih Muhammadiyah. Contoh: “Hukum Pinjol dan
Judol dalam Perspektif Fikih Muamalah Modern”.
Target: Masyarakat umum yang mencari jawaban tuntas atas isu-isu fikih
modern.
Pilar 2: Dakwah Digital dan Inovatif (Menjangkau Generasi Baru)
Pilar ini bertujuan untuk mengadopsi teknologi dan format media baru agar dakwah
lebih relevan bagi audiens yang lebih muda dan melek digital.
Konten Tutorial Dakwah Berbasis AI:
o Aksi: Membuat seri artikel dan video tutorial singkat tentang “Cara Menggunakan
AI untuk Riset Dakwah”, “Membuat Materi Pengajian dengan ChatGPT”, atau
“Analisis Hadis Menggunakan Tools Digital”.
o Target: Para mubaligh muda, guru, dan aktivis dakwah yang ingin meningkatkan
efektivitas kerjanya.
Pengembangan Format Multimedia:
o Aksi: Memproduksi konten dalam format podcast (membahas isu-isu pemikiran
Islam), infografis (menyederhanakan konsep-konsep rumit seperti waris atau
zakat), dan video pendek/reels (cuplikan kajian inspiratif).
o Target: Generasi milenial dan Gen-Z yang lebih menyukai konsumsi konten audio-
visual.
Pilar 3: Dakwah Kontekstual dan Berkemajuan (Menguatkan Identitas
Persyarikatan)
Fokus pilar ini adalah menyajikan pemikiran Islam berkemajuan khas Muhammadiyah
dan memperkuat komunikasi internal organisasi.
Artikel Mendalam tentang Manhaj Muhammadiyah:
o Aksi: Secara rutin menerbitkan artikel yang menjelaskan prinsip-prinsip dasar
Muhammadiyah secara populer, seperti konsep tajdid, wasathiyah Islam, dan
pandangan terhadap isu-isu kebangsaan.
o Target: Warga Muhammadiyah (untuk penguatan ideologi) dan masyarakat umum
(untuk mengenalkan pemikiran Muhammadiyah).
222
Optimalisasi Konten Berita Organisasi:
o Aksi: Mengemas berita kegiatan persyarikatan tidak hanya sebagai laporan
seremonial, tetapi sebagai kisah inspiratif yang menonjolkan dampak dan nilai-nilai
gerakan. Contoh: “Di Balik Baitul Arqam: Kisah Kaderisasi yang Mengubah Pola
Pikir”.
o Target: Internal warga Muhammadiyah untuk menumbuhkan rasa bangga dan
semangat bergerak.
Dengan mengimplementasikan ketiga pilar ini secara konsisten,
majelistablighpwmjateng.com dapat bertransformasi menjadi pusat rujukan
dakwah yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif dan solutif, serta
mampu menjawab tantangan zaman.
Daftar Postingan Artikel di Website
https://majelistablighpwmjateng.com/: DOWNLOAD
223
Karena Saya ‘Membaca’ maka Saya Menulis, AI Hanya
Membantu Mempercepat
Semangat Iqra: Literasi Membaca, Memahami, menyerap Ilmu dan Menulis
Membaca adalah Napas, Menulis adalah Gema: Siklus Vital Sang
Penjaga Kata

























Surat Al-Alaq ayat 1-5 tidak hanya menunjukkan semangat membaca, tetapi juga
membaca dan menulis. Perintah iqra mengandung makna memahami dan
menyerap ilmu, sementara al-qalam menegaskan pentingnya menulis untuk
mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan. Ini mencerminkan dorongan
Islam terhadap literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan secara menyeluruh.
Ayat-ayat ini menekankan perintah Allah untuk “membaca” (dari kata iqra’ yang
berulang pada ayat 1 dan 3) dengan menyebut nama Allah, Sang Pencipta manusia
dari segumpal darah. Perintah ini tidak hanya menunjukkan semangat membaca, tetapi
juga mencakup proses pembelajaran secara luas. Ayat 4 secara eksplisit
menyebutkan al-qalam (pena), yang menunjukkan bahwa Allah mengajarkan
manusia melalui tulisan. Ayat 5 memperkuat bahwa Allah mengajarkan manusia
pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui, mencakup baik membaca maupun
menulis sebagai sarana utama untuk memperoleh dan menyebarkan ilmu.
Dalam pusaran informasi yang tak ada habisnya, di tengah derasnya arus digital dan
hiruk pikuk media sosial, sebuah kebenaran mendasar tetap kokoh: Karena saya
‘membaca’, maka saya menulis.” Ini bukan sekadar diktum sastra atau kutipan indah
tanpa makna, melainkan sebuah filosofi sekaligus praktik esensial bagi siapa pun yang
hidupnya bersentuhan dengan kata. Bagi seorang jurnalis yang mengejar kebenaran,
seorang penulis fiksi yang merangkai dunia, seorang copywriter yang menggerakkan
pasar, atau bahkan seorang akademisi yang membangun argumen ilmiah, membaca
adalah udara yang dihirup, sementara menulis adalah hembusan napas yang memberi
kehidupan pada ide-ide.
Hubungan simbiotik antara membaca dan menulis ini melampaui sekadar korelasi; ia
224
adalah sebuah siklus yang terus-menerus memupuk, membentuk, dan
menyempurnakan. Membaca bukan hanya tindakan pasif menyerap informasi, tetapi
sebuah proses aktif yang melibatkan analisis, sintesis, dan refleksi. Dari sanalah, benih-
benih ide tertanam, kosakata diperkaya, dan gaya bahasa diasah, sebelum akhirnya
mekar menjadi tulisan yang berbobot.
Membaca sebagai Fondasi Intelektual: Menjelajahi Samudra
Pengetahuan
Mari kita telaah lebih jauh bagaimana proses “membaca” ini bekerja dalam berbagai
konteks praktis:
1. Membaca untuk Kedalaman Analisis: Seorang jurnalis investigasi yang tengah
mengungkap kasus korupsi, misalnya, tak bisa hanya mengandalkan satu
sumber. Ia akan membaca laporan keuangan perusahaan yang terlibat,
menelaah undang-undang yang dilanggar, mempelajari preseden kasus serupa,
menelusuri arsip berita lama untuk melihat pola, hingga mungkin membaca
buku-buku tentang white-collar crime atau bahkan psikologi pelaku kejahatan
ekonomi. Di sini, membaca bukan sekadar mengumpulkan fakta, tetapi
membangun konteks mendalam yang memungkinkan jurnalis memahami akar
masalah, motif di baliknya, dan dampak yang lebih luas. Tanpa kedalaman
bacaan ini, laporannya bisa dangkal, bias, atau bahkan salah menafsirkan inti
persoalan. Setiap data, setiap kalimat dalam dokumen resmi, adalah “bacaan”
yang dianalisis kritis.
225
2. Membaca untuk Inovasi dan Orisinalitas: Bagaimana seorang penulis fiksi
ilmiah bisa menciptakan dunia yang begitu detail dan meyakinkan? Ia akan
membaca buku-buku fisika teoretis tentang lubang hitam, artikel tentang
perkembangan terbaru AI, catatan-catatan sejarah peradaban kuno, bahkan
mungkin jurnal-jurnal biologi tentang genetika. Penulis ini tidak bermaksud
menjadi ilmuwan, tetapi ia menyerap konsep-konsep tersebut untuk memicu
imajinasinya. Ia “membaca” bukan untuk menjiplak, melainkan untuk mengilhami
ide-ide baru. Konsep paradoks waktu yang ia baca di buku fisika bisa menjadi
dasar alur cerita yang mendebarkan, atau etika kecerdasan buatan yang ia
pelajari dari jurnal ilmiah bisa menjadi konflik moral bagi karakternya. Membaca
di sini adalah bahan bakar inovasi.
3. Membaca untuk Empati dan Kredibilitas: Seorang penulis biografi atau novel
sejarah harus membaca puluhan, bahkan ratusan, surat pribadi, buku harian,
arsip, wawancara, dan catatan kaki dari periode yang ia tulis. Ini bukan hanya
tentang fakta tanggal dan nama, tetapi juga tentang menangkap nuansa emosi,
budaya, dan pola pikir masyarakat pada masa itu. Ia perlu membaca karya sastra
sezaman, bahkan mungkin meme atau lelucon populer kala itu, agar bisa
membangun karakter dan latar yang terasa otentik dan hidup. Membaca ini
membangun empati terhadap subjek dan kredibilitas terhadap narasi yang
dibangun. Tanpa membaca yang mendalam, karakternya akan terasa datar, dan
latar ceritanya akan terasa seperti kardus properti teater.
Menulis sebagai Gema Pengetahuan: Mentransformasi Ide Menjadi
Realitas Kata
Setelah fase “membaca” yang intens, tibalah saatnya proses menulis. Menulis bukan
hanya output, melainkan sebuah transformasi. Ini adalah proses di mana semua
informasi yang telah diserap dan dicerna diubah menjadi bentuk yang koheren,
persuasif, dan bermakna.
1. Menulis sebagai Proses Sintesis dan Argumentasi: Ketika seorang kolumnis
opini menulis tentang isu kebijakan publik, ia tidak sekadar merangkum berita
yang telah ia baca. Ia akan menyintesis berbagai data statistik, kutipan ahli, dan
sudut pandang masyarakat menjadi sebuah argumen yang kohesif. Misalnya, ia
mungkin telah membaca laporan tentang inflasi, tanggapan pemerintah, analisis
ekonom, dan keluhan masyarakat di media sosial. Saat menulis, ia akan
mengambil semua “bacaanini, menelusuri benang merahnya, dan menyajikan
226
pandangannya sendirimengapa kebijakan A mungkin tidak efektif, atau
mengapa pendekatan B lebih humanis. Di sini, menulis adalah proses mengambil
potongan-potongan informasi dan menyatukannya menjadi sebuah mosaik
pemikiran yang jelas.
2. Menulis sebagai Kreativitas Berbasis Pengetahuan: Bagi seorang penulis
naskah skenario, ia mungkin membaca buku-buku tentang struktur naratif,
analisis karakter, hingga psikologi manusia. Semua itu adalah “bekal” yang
kemudian ia olah untuk membangun plot, mengembangkan karakter yang
kompleks, dan menciptakan dialog yang realistis. Ide cerita mungkin datang dari
pengalamannya sehari-hari, tetapi cara ia merangkai adegan dan membangun
ketegangan sangat dipengaruhi oleh “bacaannya” tentang teori penceritaan.
Menulis di sini adalah wujud dari kreativitas yang diperkaya oleh pengetahuan
teoritis dan praktis.
3. Menulis sebagai Wujud Komunikasi Efektif: Seorang spesialis komunikasi
publik ditugaskan membuat siaran pers tentang peluncuran produk baru. Ia akan
membaca spesifikasi teknis produk, riset pasar tentang kebutuhan konsumen,
pesan-pesan utama dari tim pemasaran, dan bahkan gaya komunikasi dari
perusahaan-perusahaan kompetitor. Dari semua “bacaan” ini, ia akan menulis
siaran pers yang tidak hanya informatif, tetapi juga persuasif dan mudah
dipahami oleh target audiens. Ia memilih kata-kata yang tepat, menyusun
kalimat yang ringkas, dan menonjolkan manfaat utama, semua berdasarkan
pemahamannya dari apa yang telah ia baca. Menulis di sini adalah seni
menyaring kompleksitas menjadi pesan yang jelas dan berdampak.
Dampak Multifaset dari Siklus Membaca-Menulis
Siklus ini bukan hanya meningkatkan kemampuan menulis, tetapi juga mengasah
pikiran secara holistik:
Peningkatan Kosakata dan Gaya: Semakin banyak dan bervariasi jenis bacaan,
semakin kaya perbendaharaan kata dan semakin luwes pula kita merangkai
kalimat. Kita belajar dari para ahli bagaimana membangun ritme, mengolah
metafora, atau menyajikan argumen yang meyakinkan.
Pengembangan Berpikir Kritis dan Solusi Masalah: Membaca berbagai
perspektif melatih kita untuk tidak mudah menerima informasi mentah-mentah.
Kita belajar membandingkan argumen, mengidentifikasi bias, dan bahkan
227
menemukan solusi kreatif dari masalah yang ada. Kemampuan analisis ini
tercermin dalam kualitas tulisan.
Perluasan Wawasan dan Empati Global: Melalui membaca, kita melintasi
batas geografis dan waktu. Kita memahami budaya yang berbeda, merasakan
pengalaman hidup orang lain, dan mengerti kompleksitas isu-isu global. Ini
esensial untuk menulis dengan kedalaman, kepekaan, dan relevansi yang lebih
luas.
Membangun Otoritas dan Kredibilitas: Penulis yang merupakan pembaca
yang rajin cenderung menghasilkan karya yang lebih berbobot, akurat, dan kaya
perspektif. Ini membangun otoritas mereka di mata pembaca dan meningkatkan
kredibilitas tulisan mereka.
Mempertajam Orisinalitas dan Ide Baru: Semakin banyak “input” dari
membaca, semakin banyak pula potensi “output” berupa ide-ide orisinal. Ide
seringkali lahir dari persilangan dua atau lebih konsep yang sebelumnya tidak
terkait, dan persilangan ini difasilitasi oleh kekayaan bacaan.
Peran AI: Mempercepat Bukan Mengganti
Dalam era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi alat yang ampuh dalam
berbagai bidang, termasuk penulisan. AI dapat membantu dalam:
Penyusunan Draf Awal: AI dapat dengan cepat menghasilkan draf awal
berdasarkan masukan tertentu, mempercepat proses memulai tulisan.
Penyempurnaan Tata Bahasa dan Gaya: Alat AI dapat mengidentifikasi
kesalahan tata bahasa, menyarankan perbaikan gaya, dan bahkan menawarkan
variasi kalimat untuk meningkatkan kualitas tulisan.
Riset Cepat: AI dapat dengan cepat memproses dan merangkum informasi dari
berbagai sumber, membantu penulis dalam tahap riset yang memakan waktu.
Ideasi dan Brainstorming: AI bisa menjadi mitra brainstorming yang efektif,
menyajikan ide-ide atau sudut pandang baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh
penulis.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti. AI
tidak dapat menggantikan kedalaman analisis, empati, dan orisinalitas yang lahir dari
proses membaca aktif dan refleksi manusia. Pengalaman, pemahaman mendalam, dan
228
kreativitas yang mengalir dari “siklus vital sang penjaga kata” yang telah dijelaskan
sebelumnya, adalah inti dari tulisan yang bermakna dan berjiwa. AI membantu
mempercepat eksekusi, tetapi pemikiran kritis dan ide-ide orisinal tetap berakar pada
asupan bacaan dan pemrosesan kognitif manusia.
Semangat Iqra: Membaca dan Menulis
Pada akhirnya, Karena saya ‘membaca’, maka saya menulis adalah sebuah
pengingat abadi bahwa untuk menjadi penjaga kata yang efektifapakah itu dalam
jurnalisme, sastra, bisnis, atau akademikkita harus terlebih dahulu menjadi penjelajah
kata yang tekun. Setiap halaman yang kita buka adalah benih, dan setiap kalimat yang
kita tulis adalah panen dari lahan pikiran yang subur. Jadi, teruslah membaca, karena
di setiap kata yang kita serap, tersimpan potensi untuk menciptakan mahakarya
berikutnya. AI hanyalah pemupuk dan pemanen yang efisien, sementara lahan subur
pikiran kita tetap menjadi sumber utama kehidupan ide-ide.
Dalam Al-Qur’an, perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
adalah “Iqra'” yang berarti “Bacalah”. Perintah ini, meskipun sering diartikan sebagai
“bacalah Al-Qur’an”, memiliki makna yang lebih luas, yaitu membaca dalam pengertian
mencari ilmu, memahami, dan merenungkan ciptaan Allah SWT. Semangat “Iqra'” ini
sangat relevan dengan siklus membaca-menulis yang dibahas dalam teks PDF.
Semangat “Iqra'” dari Al-Qur’an agar membaca dan menulis menjadi bernilai
ibadah
1. Membaca sebagai Fondasi Ilmu dan Pengetahuan (Iqra’): Teks PDF
menjelaskan bahwa membaca adalah fondasi intelektual, menjelajahi samudra
pengetahuan. Ini selaras dengan semangat “Iqra'” yang mendorong umat
Muslim untuk senantiasa mencari ilmu. Membaca laporan keuangan, undang-
undang, sejarah, fisika, biologi, atau bahkan literatur kunoseperti yang
dicontohkan dalam teks PDF untuk jurnalis, penulis fiksi ilmiah, atau penulis
biografiadalah bentuk penjelajahan ilmu yang diperintahkan dalam Islam.
Dengan niat untuk memahami kebesaran ciptaan Allah, hukum-hukum-Nya, dan
dinamika kehidupan, setiap aktivitas membaca menjadi ibadah.
2. Analisis, Sintesis, dan Refleksi sebagai Tadabbur (Perenungan): Teks
menyatakan bahwa membaca bukan hanya tindakan pasif, tetapi proses aktif
yang melibatkan analisis, sintesis, dan refleksi. Ini sangat mirip dengan
konsep tadabbur dalam Islam, yaitu merenungkan dan mendalami makna ayat-
229
ayat Al-Qur’an atau fenomena alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.
Ketika seorang jurnalis menganalisis data, seorang penulis fiksi menyerap
konsep untuk inovasi, atau seorang penulis biografi memahami nuansa emosi
dan budaya, mereka sedang melakukan tadabbur dalam konteks pengetahuan
duniawi. Aktivitas ini, jika dilandasi niat mencari kebenaran dan hikmah, akan
bernilai ibadah.
3. Menulis sebagai Penyebaran Ilmu dan Kebaikan (Dakwah Bil Qalam):
Setelah membaca dan memahami, proses menulis menjadi “gema
pengetahuan” yang mentransformasi ide menjadi realitas kata. Dalam Islam,
menyebarkan ilmu yang bermanfaat adalah bentuk sedekah jariyah. Menulis
yang berkualitasbaik itu artikel jurnalistik, karya fiksi, opini, atau siaran pers
dapat menjadi sarana dakwah bil qalam (berdakwah melalui tulisan). Menulis
dengan tujuan menyampaikan kebenaran, menginspirasi kebaikan, memberikan
solusi masalah, atau meningkatkan pemahaman masyarakat, sesuai dengan
tujuan syariah. Misalnya, kolumnis yang menyintesis data untuk argumen kohesif
demi kebijakan yang lebih humanis, atau spesialis komunikasi yang menyaring
kompleksitas menjadi pesan yang jelas dan berdampak, secara tidak langsung
berkontribusi pada kemaslahatan umat. Ini mengubah aktivitas menulis menjadi
ibadah.
4. Membangun Kredibilitas dan Otoritas sebagai Amanah: Teks menyebutkan
bahwa membaca secara rajin membangun otoritas dan kredibilitas penulis.
Dalam Islam, otoritas dan kredibilitas adalah amanah. Seorang penulis Muslim
memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat dan dapat
dipercaya, menghindari kebohongan, fitnah, atau penyesatan. Dengan
membaca mendalam, seorang penulis dapat memastikan bahwa tulisannya
berbobot, akurat, dan kaya perspektif, sehingga menjadi sumber informasi yang
dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan manusia.
5. Orisinalitas dan Ide Baru sebagai Karunia Allah: Kemampuan untuk
mempertajam orisinalitas dan menciptakan ide baru dari kekayaan bacaan
adalah karunia Allah. Setiap ide dan kreativitas yang digunakan untuk
kemaslahatan, kebaikan, dan pengembangan peradaban, dapat menjadi bentuk
syukur atas karunia tersebut.
6. AI sebagai Alat untuk Mempercepat Kebaikan: Peran AI yang disebutkan
dalam teks sebagai “pemupuk dan pemanen yang efisien” juga dapat dilihat
dalam konteks Islam. Jika AI digunakan untuk mempercepat proses riset,
230
penyusunan, dan penyebaran ilmu yang bermanfaat, maka penggunaannya pun
dapat menjadi bagian dari ibadah, selama niat utamanya adalah untuk
kemaslahatan dan kebaikan. Namun, ditekankan bahwa AI adalah alat bantu,
bukan pengganti analisis, empati, dan orisinalitas manusia. Jiwa dan makna
tulisan tetap berakar pada asupan bacaan dan pemrosesan kognitif manusia,
yang merupakan manifestasi dari potensi akal yang dianugerahkan Allah.
Dengan demikian, siklus membaca dan menulis, ketika diselaraskan dengan semangat
“Iqra'” dan niat yang lurus untuk mencari ilmu, memahami kebenaran, dan
menyebarkan kebaikan, dapat menjadi sebuah bentuk ibadah yang berkelanjutan dan
bernilai di sisi Allah SWT. Setiap kata yang dibaca adalah benih, dan setiap kalimat yang
ditulis adalah panen dari lahan pikiran yang subur yang telah diberkahi.
231
Bab Penutup: Dari Mimbar Digital ke Gerakan
Pencerahan
Perjalanan kita menyusuri lanskap dakwah digital di era Kecerdasan Buatan (AI)
membawa kita pada sebuah kesimpulan fundamental: transformasi ini bukanlah
sekadar perubahan alat, melainkan sebuah evolusi paradigma. Mimbar yang
dahulu kita kenal kini telah melebur ke dalam jutaan layar gawai, menciptakan
ruang gema yang tak terbatas sekaligus medan pertarungan narasi yang
kompleks. Buku panduan ini, dari awal hingga akhir, adalah sebuah ikhtiar untuk
memastikan bahwa di tengah deru inovasi teknologi, ruh dakwah pencerahan
Muhammadiyah tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memimpin.
Kita telah meletakkan kembali fondasi ideologis kita, menegaskan bahwa Islam
Berkemajuan dan Manhaj Tarjih bukan sekadar doktrin, melainkan kompas etis
dan metodologis yang memandu setiap langkah kita di dunia maya. Kita telah
membekali diri dengan literasi digital sebagai "sistem imun" untuk melawan
patologi sosial seperti hoaks dan ujaran kebencian, seraya mengedepankan
komunikasi wasathiyyah yang menyejukkan.
Dari fondasi tersebut, kita melangkah ke ranah praktis. Keterampilan
memproduksi konten, baik tekstual maupun visual, kini menjadi bagian tak
terpisahkan dari kompetensi seorang mubaligh. Kemampuan meracik khutbah
yang terstruktur, menulis artikel yang "SEO-friendly", mendesain infografis yang
menarik, hingga mengedit video pendek untuk TikTok, bukanlah lagi kemewahan,
melainkan kebutuhan esensial untuk memastikan pesan Islam dapat diterima
oleh generasi baru.
Puncak dari perjalanan ini adalah perjumpaan kita dengan Kecerdasan Buatan.
Sebagaimana telah kita diskusikan, AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti,
melainkan asisten cerdas yang harus dikuasai. Ia adalah "qalam" (pena) abad
ke-21 yang mampu mengakselerasi proses riset dan penulisan. Namun, kita juga
menyadari dengan sepenuh hati bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan
pernah bisa menggantikan tiga hal esensial dalam dakwah:
232
1. Kedalaman spiritual dan kearifan (hikmah) yang lahir dari interaksi
tulus dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
2. Keteladanan hidup (uswah hasanah) yang menjadi bukti nyata dari
pesan yang disampaikan.
3. Sentuhan kemanusiaan dan empati dalam membimbing umat.
Oleh karena itu, peran mubaligh Muhammadiyah di era AI harus berevolusi. Dari
sekadar penceramah, kita harus menjadi kurator pengetahuan, pembimbing
etis, dan arsitek komunitas digital yang andal. Tanggung jawab kita bukan lagi
hanya menyampaikan "apa" (isi ajaran), tetapi juga mengajarkan "bagaimana"
(cara berpikir kritis, cara memverifikasi informasi, dan cara berdialog secara
beradab).
Pada akhirnya, tujuan tertinggi dari setiap aktivitas dakwahbaik di mimbar fisik
maupun di mimbar digitaltetaplah sama: mengajak manusia kepada jalan
kebaikan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Teknologi hanyalah
wasilah (sarana). Keberhasilan sejati dakwah kita akan selalu bergantung pada
keikhlasan niat, kebenaran ilmu, dan keselarasan antara kata dan perbuatan.
Semoga panduan ini dapat menjadi percikan api semangat bagi para mubaligh,
kader, dan seluruh pegiat dakwah Persyarikatan untuk terus belajar,
beradaptasi, dan berinovasi. Mari kita isi ruang-ruang digital dengan narasi Islam
yang mencerahkan, mencerdaskan, dan membawa rahmat bagi semesta alam.
Nashrun min Allāh wa fatun qarīb.
Download PDF